Zombie

Zombie
15: Berita


__ADS_3

Deretan orang mengantri terlihat, berbaris rapi dan agak berisik dengan obrolan yang berbeda. Meski antrian panjang, tidak ada yang berani berbuat ulah dengan menyerobot antrian bila melihat beberapa tentara bersenjata berlalu-lalang. Menatap tajam nan mengancam seolah sedikit saja kesalahan, kepala mereka akan bocor.


Nanda, yang sekian menit ikut berbaris diantara para pria lusuh bertubuh kurus, terlihat terlalu mencolok. Terlebih sebelah tangannya menenteng tongkat baseball penuh dengan noda gelap berbau busuk, membuat orang-orang di barisan depan dan belakang berkeringat dingin--mencoba menjaga jarak. Oh, gadis ini jelas tidak boleh di provokasi. Senjata yang dipegang sudah menjadi saksi bisu keganasannya!


Karena itu, Nanda benar-benar merasa adem ayem. Tidak ada pelecehan meski ia perempuan seorang diri. Sayangnya, keamanan seperti ini membuatnya bosan ...


Tidak ada kah hiburan di sini?


Nanda mulai menatap sekelilingnya, mencoba mencari sesuatu yang mampu menarik minatnya. Tidak ada Tv, radio untung-untungan. Jadi, ketika sepasang hazel sibuk berkeliaran menatap apapun yang mungkin saja menghibur, Nanda membeku.


Di sudut sana, diantara keramaian yang bising, sosok wanita tinggi dengan rambut dipotong pendek selayaknya laki-laki terlihat berdiri di sebuah sisi area yang ramai. Tempat itu untuk pekerjaan di luar tembok. Sosoknya yang cantik dan jelas jauh lebih bersih ketimbang orang lain membuatnya sangat berbeda. Banyak pasang mata menatap. Sosoknya terlalu mencolok. Namun sayangnya, Nanda sangat mengenal orang itu.


Itu tantenya yang lebih tua 2 tahun. Sosok menawan dari pihak Ayahnya. Lebih dari itu, Erica merupakan salah satu anggota clubnya, jadi hal yang wajar bila Erica terlihat baik-baik saja meski dunia telah hancur seperti ini.


Nanda menelan liur paksa. Memalingkan wajah dan pura-pura tidak mengenali. Oh, bukannya Nanda tidak ingin bertemu dengan Erica, tetapi tidak tepat untuk sekarang. Ia menyembunyikan kemampuannya dan akan mereporkan untuk bertarung hanya mengandalkan fisik. Lagipula, Erica jelas baik-baik saja. Bila kondisinya tidak sedang terburu-buru dan ingin bebas bergerak, ia pasti akan bertingkah bak monyet lepas. Melompat-lompat senang, bertingkah manja dan dengan mata berbinar meminta Erica memasak.


Ya, Erica adalah seorang koki, tetapi sayangnya, kelebihan itu tidak bisa dilakukan di kondisi ini untuk sementara waktu.


Menyusutkan lehernya, Nanda mencoba menghilangkan hawa keberadaannya. Oh, beruntung, jaraknya dan Erica terbilang jauh dan wanita itu, jelas tidak menyadari keberadaan Nanda. Hal itu membuatnya diam-diam menghela napas lega.


Mengantri entah untuk berapa lama, akhirnya giliran Nanda untuk duduk dan mendapatkan pelayanan. Ia agak bersemangat, sudah tidak sabar menyewa sebuah kamar, tidur dan makan di dalamnya tanpa seorangpun mengganggu.


Namun, ketika ia mendapati harga sewa sehari ... Nanda benar-benar ingin mengumpat.


KENAPA MAHAL SEKALI?!


Hasil pertukaran poin yang ia lakukan, dengan mengorbankan beberapa bungkus mie dan obat-obatan, mendapatkan 139 poin. Sementara untuk menyewa satu kamar tunggal, bukan apartemen apa lagi rumah, biayanya 50 poin perhari ...


Dengan kata lain ia hanya bisa menerima 2 hari.


Nanda sakit hati. Ternyata ia terlalu meremehkan prihal poin. Bagaimanapun, ini belum mencapai taraf bahwa makanan sangat langka. Buktinya, pangkalan tidak mewajibkan biaya masuk dengan makanan. Bahkan masih menyediakan makan geratis selama 2 hari ...


Pada akhirnya, dengan sangat enggan, Nanda menyetujuinya. Menyewa sebuah kamar, mendapatkan kunci nomor 348 dan harus mengembalikan kunci setelah 2 malam menginap. Oh, sudahlah. Mengeluh tidak akan menyelesaikan apapun.


Pasrah, wanita berpakaian kumal dan kotor berjalan menaiki tangga menuju lantai 5. Yah ... tidak ada listrik untuk lift. Membuat orang-orang yang berada di lantai 5 ke atas sudah pasti kewalahan menaiki tangga. Untungnya, fisik Nanda cukup mumpuni. Naik tangga dengan santai sampai ke lantai 5 tidak membuatnya terengah-engah tetapi membuat perutnya keroncongan lapar.


Sejak keluar dari hotel, ia belum makan apapun, okay? Makan juga merupakan sebuah kenikmatan! Itu sebabnya Nanda tidak bisa makan di asal tempat ketika ia lapar. Bahkan setelah 24 jam lebih dibuat kelaparan, Nanda masih cukup keras kepala untuk tidak ngacir ke kantin mendapatkan makanan geratis. Setidaknya, lokasi ia akan makan harus bersih, lagipula ia sudah menyewa ruang pribadi. Cukup untuknya makan mewah tanpa diketahui siapapun.


Berhenti di sebuah pintu kayu, Nanda diam-diam menahan letupan kegembirannya. Ia langsung membuka pintu dengan kunci, masuk, dan tanpa menoleh lagi, kembali mengunci pintu lalu berlari mendekati kasur--


ugh!


Alis Nanda terpaut. Ruangan berbau debu dan apek, jelas tidak pernah dibersihkan. Oh, inikah harga 50 poin?! Mendengus jengkel, Nanda membuka jendela lebar-lebar dan membiarkan ruangan kecil dengan hanya satu kasur singel bed mendapatkan udara bersih.


Wanita kumal itu tidak menganggur. Ia menaruh ranselnya lalu dengan kemampuan angin, menerbangkan semua debu keluar dari jendela. Ia juga menerbangkan seprai, menjemurnya di jendela agar mendaparkan angin sepoi-sepoi meski diluar sudah gelap dan tidak ada matahari.


Yah ... satu-satunta hal baik dari pangkalan ini adalah ruangan mendapatkan listrik sehingga ia bisa menghidupkan lampu. Oh, meski Nanda bisa melihat di dalam kegelapan, tempat yang terang juga merupakan hal yang baik kan?


Tidak menunda waktu terpentingnya, ia mencuci tangan dengan kemampuan air, lalu mengeluarkan beberapa makanan hangat dari dalam ruangnya.


Nanda benar-benar ingin menangis rasanya.


Walau ruangannya tidak bisa menaruh makhluk hidup selain dirinya sendiri, tetapi kemampuan untuk mengeluarkan benda dalam keadaan utuh sama persis seperti ketika dimasukkan itu benar-benar beruntung! Coba lihat soto ini? Ia membelinya sudah bertahun-tahun yang lalu tetapi ketika dikeluarkan, ini masih hangat seolah-olah ia baru membelinya beberapa menit lalu!


Ah, hasil dari menimbun makanan dan bertahan untuk tidak memakannya selama bertahun-tahun akhirnya terbalas. Oh, sungguh, Nanda sangat puas. Ia makan dengan kenyang dan menepuk-nepuk perut buncitnya seraya bersendawa.


Ah, seandainya Ganesha ada di sini dan melihatnya bertingkah seperti ini, Nanda yakin pria itu akan mendengus geli, menepuk perutnya dengan lembut dan berkata 'kapan anak kita lahir?'

__ADS_1


Senyuman di bibir Nanda menghilang. Mendadak ... ia merasa sangat merindukan Ganesha. Oh, apa yang dilakukan pria itu sekarang? Mencarinya? Atau mencari Istri baru? Ganesha sangat tampan, banyak wanita yang mengincarnya. Beruntung, Ganesha cukup buta dan bertanggung jawab untuk selalu menganggap Nanda kekasihnya sehingga ia sangat setia. Namun ia sudah menghilang selama 3 minggu ... terlebih dengan suasana kacau seperti ini, apa suaminya masih dengan putus asa mencari?


Nanda ingat ketika ia melakukan haiking dan tersesat selama lebih dari sebulan di tengah hutan, Ganesha adalah orang pertama yang panik luar biasa. Mengerahkan segala hal untuk mencarinya. Padahal, Nanda cukup bersenang-senang. Ia menemukan desa kecil, mendapatkan pengalam baru dengan suku pedalaman tanpa tahu bahwa orang-orang di luar sana dengan putus asa kehilangannya.


Pada akhirnya ketika Nanda ditemukan dan sadar bahwa semua orang mencari ... selama hampir setahun ia dilarang untuk pergi haiking kembali dan Ganesha mengawasinya dengan ketat. Membawanya ke sana ke mari dan tidak membiarkan Nanda lepas dari pandangannya kecuali saat ia dipulangkan ke rumah.


Oh, bila mengingat saat-saat itu, Nanda sangat ingin tertawa. Terutama ketika Ganesha melamarnya. Sangat tidak romantis seperti ketika ia mengajak untuk berpacaran ketika mereka masih di bangku SMA.


Pria itu dengan santai bertanya apakah saat wisuda, Nanda ingin bertunangan dulu atau langsung menikah? Saat itu Nanda sedang menulis skripsi jadi ia dengan santai menjawab lebih baik bertunangan dulu. Ia belum siap menikah.


Hasilnya?


Pagi hari ia wisuda, malamnya berlangsung pesta pertunangan ...


Saat itu Nanda hanya melongo bego. Semuanya terjadi begitu cepat dan mendadak. Tindakan Ganesha begitu santai. Datang ke rumah dengan keluarga besar, lalu mengutarakan niatnya dengan wajah serius ...


Benar-benar tidak romantis, tetapi entah kenapa Nanda tidak bisa berhenti tersenyum.


Ah, sekarang, bila mengenangnya, ia jadi sangat ingin bertemu Ganesha. Mencium bibirnya dengan rakus lalu tertawa dan memeluknya dengan erat. Berbisik menggoda wajah serius itu dan membuat prianya gila dengan semua kata-kata semberono dan vulgarnya.


Oh, apa yang dilakukan Ganesha sekarang?


Nanda menghela napas berat.


Ia ... sangat merindukan kekasihnya.


.


.


.


Butir cairan hitam mengudara, sebelum akhirnya potongan kepala terbang dan jatuh dengan bunyi 'buk' ke atas tanah diiringi tubuh kaku yang turut kehilangan keseimbangannya.


Sekelompok penyerang berjumlah lebih dari 10 orang bergerak, menembak dan juga beberapa menggunakan pedang dan tongkat besi untuk memukul mundur zombie.


Suara pertempuran bergema di depan sebuah mini market yang terlihat bobrok tetapi jelas belum dijarah. Hal ini meningkatkan semangat juang sekelompok orang-orang. Mereka melawan rasa takut dan dengan keinginan bertahan hidup, membunuh makhluk kanibal yang menjadi penghalang.


Tidak semua orang yang melawan zombie selamat. Satu atau dua orang lengah, tergigit dan menjadi santapan para zombie. Rekan yang gugur tidak mati disia-siakan. Kematian mereka menarik minat zombie, mengalihkan perhatian sehingga mereka yang hidup, lebih mudah untuk membunuh makhluk kanibal itu.


Dor!


Suara tembakan nyaring terdengar tetapi menjadi alarm bahwa pembantaian berakhir. Zombie dengan bagian kepala berlubang menjadi zombie terakhir yang dihadapi.


Memasukkan kembali pistol ke dalam sarungnya, sosok tinggi yang mengenakan pakaian serba hitam itu terlihat sangat mencolok. Tubuhnya berbalut kaos hitam berlengan pendek. Otot pada tangan terlihat kuat dan kencang, dengan kulit kecoklatan terbakar matahari. Wajah tampan itu tegas, tanpa ekspresi dengan sepasang iris setajam elang, menatap semua orang yang berhasil selamat.


Tidak ada yang berbicara. Sosok jangkung yang terlihat sebagai pemimpin memberikan aba-aba melalui gerakan suara dan semua orang mengerti.


Membiarkan sang Pemimpin berjalan di depan, sosok jangkung dengan mudah mendorong terbuka lapisan pintu kaca yang berdebu. Tindakan itu membuat beberapa sosok yang tersembunyi diantara rak-rak mulai bergerak. Berjalan kaku ke arahnya.


Dor!


Lubang pada bagian kepala terbentuk. Para zombie yang bergerak kini jatuh kaku di atas lantai berdebu dengan genangan darah hitam yang mengalir. Aroma busuk kembali mengudara, tetapi semua orang sudah terbiasa. Mereka masuk ke dalam Mini Market satu persatu, menatap sekitarnya dengan waspada, lalu ketika Pemimpin mengangguk, tidak ada yang menunda untuk menjarah semua hal di dalam mini market berlantai 2 ini.


"Ahahaha harini beneran panen!"


"Eh, liat nih! Dah lama banget gue gak makan wafer ini!"

__ADS_1


Sosok yang berada di kedua pria itu melotot. "Diem! Konsen ambil aja, jangan buang-buang waktu!" peringatnya.


Kedua orang yang ditegur menurut, tetapi tidak memudarkan antusiasme keduanya. Oh, bukan hanya mereka, tetapi beberapa rekan juga sama bersemangatnya. Meski beberapa teman mereka gugur, tatapi tidak ada waktu untuk bermuram durja. Hukum rimba, dimana yang kuatlah yang bertahan, telah tertanam di dalam pikiran mereka sejak melihat monster kanibal itu.


"Boss, di lantai atas ada gudang," salah satu perempuan berjalan mendekat, berbisik ke arah sang pemimpin yang bergerak mengumpulkan beberapa makanan ke dalam ranselnya.


Sosok yang dipanggil Boss terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya buka suara. "Corin, Khoir, bawa Silvia ke lantai 2."


Sepasang kembar Corin dan Khoir yang hanya menonton seraya memandang sekitarnya, mengangguk. Tanpa ragu mendekati perempuan yang tadi berbicara dengan Boss mereka tentang gudang.


Sang Boss juga tidak menganggur. Ia berjalan di depan, memegang senjata dengan kedua tangan seraya berjalan tanpa suara menaiki anak-anak tangga. Suasana remang-remang dan debu yang melayang di udara membuat hidung gatal. Keempatnya menutup mulut dan hidung mereka dengan masker, tetapi hingga mereka sampai di lantai 2, tidak ada serangan apapun yang menimpa.


Semua orang tidak mengendurkan penjagaan mereka. Lantai 2 tidak ada pintu sama sekali, murni hanya sebuah ruangan besar, dengan beberapa tumpuk kotak yang berdebu.


Silvia bersemangat. Ia adalah kemampuan ruang dan dengan hati-hati, menyentuh dan memasukkan beberapa kotak makanan di depannya sementara ketiga yang lain, dengan kewaspadaan yang tinggi membentuk lingkaran, menjaga Silvia yang berada di tengah untuk melakukan tugasnya.


Ruang yang dimiliki perempuan itu terbatas, hanya 5x5m. Itu sebabnya ia hanya bisa menampung makanan, menumpuknya untuk anggota tim ketika mereka kembali ke pangkalan nanti.


Wush!


Panas dan dingin terasa. Sepasang kembar yang waspada, mengeluarkan kemampuan mereka. Corin langsung membekukan lantai, membuat beberapa zombie yang keluar hendak menyerang, jatuh terpeleset. Khoir tanpa ragu melemparkan bola api, membakar zombie dan dengan pengendaliannya, membuat zombie menjadi arang.


Sementara yang lain membersihkan Zombie, Silvia selesai memasukkan semua box makanan dan beberapa karung beras ke dalam ruangannya. Ia harus menyusun semua hal di dalam ruangannya dengan rapi agar bahan makanan yang akan didistribusikan ke anggota, bisa ditampung banyak.


Perlu waktu sekitar setengah jam bagi semua orang untuk mengambil semua hal di dalam Mini Market. Tidak ada yang ingin menunda waktu mengingat keberadaan mereka yang berkerumun akan menarik zombie liar yang berkeliaran. Begitu aba-aba dilakukan, semua orang langsung keluar dari gedung 2 lantai itu, tetapi baru saja mereka masuk ke dalam mobil dan truk mereka, 2 buah mobil asing terlihat melaju mendekat.


Raja Purnama tidak melakukan apapun. Ia sudah masuk ke dalam mobil dan membiarkan anak buahnya untuk tetap di luar--menyambut orang asing yang begitu saja menghentikan mobil mereka ke arah kelompoknya.


"Kayaknya bukan tentara," seorang wanita mungil, yang duduk tepat di samping Raja, menatap penasaran ke luar jendela. Rambutnya pendek sebahu, dengan wajah cantik dan kulit agak kecokelatan karena terbakar matahari. "Beneran gak apa nyapa mereka?"


Luna Violet menoleh menatap pria di sampingnya, jelas merasa khawatir. Hari-hari ketika zombie meledak dan mengancam nyawa, begitu banyak manusia yang bertingkah agresif. Bukan hanya membunuh zombie, bahkan ketika mengumpulkan makanan, beberapa kelompok lain turut menyerang dan mencoba menjarah mereka.


Raja tersenyum lembut, mengusap kepala wanita di sampingnya dan mencoba menenangkan. "Kita kuat, lo gak perlu kawatir."


Luna masih terlihat ragu, tetapi pada akhirnya mengangguk dan kembali menonton ke luar jendela. Di sana, kelompoknya dan si pendatang tengah mengobrol, entah membicarakan apa.


Si pendatang tidak turun dari mobil. Sosok supir menurunkan jendela, menunjuk-nunjuk ke arah baru saja mereka datang, sebelum akhirnya pergi setelah mereka bertukas beberapa kata.


Sosok yang menjadi duta bicara langsung berlari mendekati mobil Raja. Wajahnya terlihat pucat dan jelas tidak memiliki kabar yang baik.


"Ada apa?"


"Boss! Mereka baru saja dari arah kota, katanya di sana ada pangkalan militer yang sedang diserbu zombie!"


Raja dan Luna membeku mendengarnya. Namun sosok yang berbicara tidak memperhatikan, mulutnya dengan penuh semangat masih memberikan berita yang dimilikinya.


"Sebaiknya kita gak ke arah sana, di sana beneran kacau! Kemungkinan pangkalan bakal ancur, soalnya banyak zombie yang kuat juga nyerang!"


Raja mengkerutkan kening, tetapi pada akhirnya mengangguk. "Kita kembali ke markas dan pinta semua orang untuk langsung berkemas. Katakan, kita akan kembali berjalan."


Pria itu mengangguk. "Oke Boss!" ujarnya lalu berbalik dan mulai memberikan perintah.


Luna menelan liur paksa. "Kita baru aja nemuin tempat menetap yang bagus," lirihnya, teringat bahwa selama beberapa minggu, mereka selalu berpindah-pindah tempat. Ini sangat tidak menyenangkan, mengingat setiap perjalanan, mereka akan mendapatkan anggota baru, tetapi juga kehilangan banyak nyawa karena serangan zombie.


"Gak ada tempat menetap yang bagus kalo di sana kebih banyak sisi negatifnya, Lun."


Luna tidak mengatakan apapun kembali. Ia hanya diam, menghela napas lalu menatap khawatir ke luar jendela. Bila seperti ini terus ... manusia benar-benar akan punah.

__ADS_1


__ADS_2