Zombie

Zombie
16: Penyelamatan


__ADS_3

Derum mobil terdengar di sepanjang jalan tertutup pepohonan rimbun. Deretan mobil-mobil berjalan bak kereta api, memadati tanah lembab dan membentuk jejak roda yang saling tumpang tindih. Dengan sebuah truk besar diantara 8 mobil yang melaju cepat, rombongan manusia yang selamat dari virus terlihat menarik minat para Zombie. Membuat mayat-mayat berjalan itu dengan kaku mencoba mendekat guna menarik kesenangan dari daging segar yang bergerak.


Namun sayang, sebelum makhluk busuk itu mampu menyentuh permukaan besi yang kokoh, kepala mereka akan hancur terlihat dahulu. Entah menjadi berlubang, atau tetap utuh dimana tubuh dan kepala tidak lagi saling menempel.


"Boss, di depan ada pertarungan."


Seorang remaja yang terlihat berusia 15 tahun berucap. Duduk di bangku co-pilot seraya menyipit menatap ke depan. Mobilnya, merupakan mobil pemimpin, berjalan di depan sekali diantara para rombongan. Sosok pemuda itu lalu berbalik, menatap pria yang dipanggil Boss.


"Dua kelompok, masing-masing kurang dari 10 anggota, semuanya manusia biasa tanpa kemampuan," tambahnya, memberikan analisa terakhir setelah melihat apa yang terjadi beberapa mil di depan mereka. Kemampuannya untuk meliat jauh memang sangat baik. Terlebih pada siang hari, hal itu memudahkan kelompok besar ini untuk menghindari bahaya dan menemukan tempat bagus untuk menetap.


"Lewati," satu kata terucap. Pria yang duduk pada bagian belakang mobil menyandarkan punggung ke kursi, menatap bosan ke luar jendela. Jelas, tidak terlalu tertarik dengan laporan yang diberikan anak buahnya. Namun, wanita mungil dengan rambut dipotong sebahu itu gelisah. Menatap ke arah Raja yang masih terlihat santai.


"Yakin gak apa?" Luna menggigit bibir bawahnya. Jelas tahu apa maksud dari 'pertarungan'. Oh, sudah beberapa minggu melihat banyak kematian dan sifat binatang manusia, Luna menyadari bahwa hal yang berbahaya selain Zombie adalah keserakahan manusia. "Bukannya lebih baik belok aja? Kita cari jalan yang agak ... memutar?"


Pertarungan yang dimaksudkan bukanlah pertarungan antara zombie dan manusia. Pertarungan itu adalah dua kelompok manusia yang akan saling membunuh hanya untuk beberapa hal sederhana. Baik memperebutkan makanan, atau bahkan ingin merampok beberapa hal bagus dari sisi lawan. Kegiatan yang sungguh, hanya akan semakin menekan populasi manusia hanya karena alasan konyol.


"Gak perlu," Raja menoleh. Tersenyum menatap Luna yang gelisah di sebelahnya. Tangan besar bergerak, mengusap kepala wanita itu dengan lembut. "Kita kuat, mereka gak bakal berani sama kita. Lo gak perlu kawatirin apapun, oke?"


Luna kaku mendapatkan sentuhan itu, tetapi ia tidak menghindar. Reaksi itu membuat Raja sangat puas. Ia mencondongkan tubuhnya mendekati tubuh sang wanita, lalu dengan berani mencium telinga yang tersembunyi pada helai hitam Luna. Tindakan yang semakin intim membuat wanita itu tanpa sadar menahan napas. Namun beruntung, Raja tidak berniat untuk berbuat lebih. Ia hanya tersenyum, mengusap pipi lembut Luna lalu kembali memalingkan wajah untuk menatap ke luar jendela.


Luna menghela napas lega. Alis lembut itu terajut, tetapi pada akhirnya ia mengikuti tindakan Raja. Memandang ke luar jendela dan memperhatikan seretan pohon dengan beberapa zombie yang mengintip keluar dari persembunyiannya.


Putra, sebagai satu-satunya sosok termuda dan menjadi kemampuan melihat jauh, memalingkan wajah. Boss sudah membuat keputusan, lebih baik ia bungkam dan berkonsentrasi. Keselamatan kelompok menjadi tanggung jawabnya dan ia, tidak boleh bermalas-malasan!


"Ah! Ada orang!" mendadak, Putra berseru. Menatap tidak percaya ke arah depan. "Dia dikejar zombie--Boss! Dia kuat!" Putra tidak bisa menahan decak kagumnya, menatap ke depan dengan sepasang iris yang berbinar. "Satu orang, perempuan, dan dia bukan kemampuan tapi bisa menghadapi banyak zombie!"


Deskripsi itu membuat Raja tertarik. Sang pemimpin menatap ke depan dengan penuh minat. "Seberapa jauh?"


"Tidak terlalu jauh," jawab Putra. Dengan kecepana mobil yang konstan, cepat atau lambat mereka yang tidak memiliki kemampuan melihat jauh akan bisa melihat perempuan luar biasa itu! Lalu benar saja, tidak sampai semenit, orang-orang di dalam mobil melihat sosok perempuan yang terlihat bertarung seorang diri melawan zombie.


Sosok kurus, dengan rambut di kuncir satu berantakan itu tidak henti mengayunkan tongkat baseballnya. Ia bergerak dengan lincah. Menghindari cakaran dan gigitan zombie, memukul kepala-kepala yang berada di jangkauannya. Menyebabkan kepala yang menjadi korban, hancur hanya dalam sekali ayunan. Oh, entah seberapa kuat tangan kecil yang terlihat kurus itu, semua orang yang berada di dalam mobil tanpa sadar terpana. Memelankan laju kendaraan, terpesona dengan apa yang menjadi tontonan mereka.


Kurang dari satu menit, lebih dari 10 zombie sosok berkuncir satu itu hadapi sendiri. Tindakan itu membuat sang perempuan menghela napas. Menurunkan tongkatnya ke tanah dan dengan sebelah tangan, mengelap keringat dengan punggung tangan. Jelas, terlihat kelelahan.


Menyadari keberadaan orang lain, kepala itu menoleh, menatap konvoi mobil yang jelas masih berjarak cukup jauh darinya. Namun sosok itu tidak peduli. Tersenyum lebar dengan sepasang iris yang cerah seraya mengayun-ayunkan kedua tangannya ke udara. Seolah takut tidak dapat dilihat, perempuan itu melompat-lompat--memberikan citra konyol dan polos yang sangat bertentangan dengan tindakan haus darahnya.


"Dek, kayaknya dia lebih kecil dari lo," supir yang sejak tadi diam, akhirnya buka suara. Terpana melihat aksi mencri perhatian dari objek yang mereka tonton. Putra cemberut. Ucapan itu terdengar seperti ejekan. Ada perempuan yang lebih muda darinya, tidak memiliki kemampuan tetapi jelas, jauh lebih kuat ... oh, bagaimana ia bisa tidak merasa bahwa sedang disindir?!


Tidak mau menanggung perasaan sakit hati, Putra menoleh ke belakang, mencari dukungan dari Bossnya dengan cara mengalihkan perhatian. "Boss, bagaimana? Kita mendekatinya atau tidak?"


Raja menyeringai, jelas mengabaikan tatapan meminta bantuan anak buahnya. "Bawa dia."


Putra memasang ekspresi kecewa, tetapi David acuh tak acuh. Tidak ada yang pernah menyangkal atau mempertanyakan keputusan Bossnya. Karena itu, dengan percaya diri menambah kecepatan, David membawa mobil mereka mendekati sosok kurus yang kotor dan kumal.


"Halo kakak-kakak!" suara jernih seorang remaja terdengar. Lembut dan kekanakan ketika menyapa mereka yang berada di dalam mobil. Terlebih wajah mungil yang penuh debu dan noda hitam itu memamerkan senyuman lebar, dengan sepasang mata bulat yang begitu cerah. Penyambutan hangat yang dilakukannya membuat orang-orang di dalam mobil tercenga.


Entah kenapa mereka jadi teringat dengan beberapa SPG yang kerap menawarkan selebaran.


"Halo," Putra, sebagai yang termuda dan berada di posisi tepat di samping jendela yang terbuka, mau tidak mau harus menjadi seorang duta bicara. Apalagi bukankah mereka terlihat ... seumuran? "Ada apa? Apakah ada yang bisa kami bantu?" Putra tanpa sadar meniru keceriaannya, membuat nadanya terdengar seperti ... costumer service berdedikasi tinggi.


Nanda, yang tengah berekting menjadi remaja ceria, tercenga. Ketika kaca mobil diturunkan, kedua kenalan yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dilihatnya, mendadak muncul. Hal pertama yang paling dikenalinya adalah Raja, lalu beberapa detik kemudian, wanita yang duduk di sampingnya menjadi orang yang kedua yang dikenalinya. Teman semasa SMA-nya, sosok cantik yang digilai Raja. Luna.


Namun sedikitpun ia tidak menunjukkan kekagetannya di permukaan. Ekspresinya tetap sama. Terlihat ramah dengan seringai konyol yang mengembang.


"Itu ... Kak, Nda boleh numpang? Nda kepisah dari kelompok, takutnya mereka udah duluan pulang ke pangkalan, makanya ... boleh numpang ke pangkalan?" tanyanya. Oh, bila ada tumpangan, kenapa ia harus capek-capek berjalan dan dikejar zombie coba. Meski ada Raja dan Luna ... tetapi kapalang basah. Nanda bukan tipe orang yang ragu-ragu ketika ia sudah bertindak. Lagipula, keduanya jelas tidak mengenalinya.


Putra mengangkat alisnya begitu mendengar permintaan Nanda. "Pangkalan mana?"


"Pangkalan di Mall Bintang."

__ADS_1


Hening.


Begitu jawaban itu dilontarkan, suasana mendadak berbeda. Nanda, menyadari bahwa orang-orang di dalam mobil terlihat aneh. Terutama Luna yang mengkerutkan kening dan terlihat ingin mengatakan sesuatu. Namun saat ini ia sedang berbicara dengan remaja di depannya. Sosok itu canggung, menggaruk pipinya dan terlihat ragu.


"Pangkalan ... yang berada di Mall Bintang?"


Nanda mengangguk tanpa ragu. Masih memasang ekspresi polos dan idiot.


"Kemarin, kami dengar ... Pangkalan di Mall Bintang diserang oleh banyak Zombie. Kemungkinan ada Zombie level atas yang membuat penyerangan di sana dan--"


Nanda tidak mampu mendengarnya kembali. Dunianya seolah goyah, begitu informasi itu terdengar. Hal pertama yang pikirannya terakkan terus menerus adalah: ERICA!!!


Meski Nanda bersembunyi dari Erica, tetapi ia bukan orang berdarah dingin yang bisa dengan mudah mengabaikan kerabat. Bagaimanapun, Erica masih keluarganya dan sosok itu, sangat baik baginya.


"Bisakah kau mengantarkan Nda ke sana?" nada suara perempuan itu bergetar, jelas mengalami pukulan mendengar berita yang baru didengarnya. "Kumohon, antar Nda ke sana, nanti, Nda bakal membayarnya."


Putra menelan liur paksa mendengar permohonan itu. Ia sangat ingin menyetujuinya, tetapi sebagai seorang pengguna kemampuan yang sudah melihat banyak kematian, ia sangat sadar resiko yang akan diambil kelompoknya bila pergi ke tempat itu. Karenanya, dengan canggung ia menoleh ke belakang, melihat bagaimana Bossnya akan menanggapi.


"Kita tidak bisa ke sana," Raja buka suara. Nadanya dingin, jelas tidak memiliki belas kasihan sama sekali. "Aku tidak bisa mengambil resiko ke dalam kelompokku."


Nanda tidak bisa menahan diri dari perasaan kecewa. Suara Boss yang dikenalnya sangat familier, menggelitik dan membuatnya merasakan kerinduan. Sudah bertahun-tahun, bukan sesuatu yang aneh bila ia merasa agak merindukan sosok ini. Tetapi apa yang dikatakan Raja sukses membuatnya merasa dingin. Penolakan itu sangat rasional, Nanda bisa mengerti. Tetapi tetap saja ... ia kecewa.


"Oke," tidak kembali membujuk, Nanda menganggukkan kepala. Senyuman kembali mengembang di bibirnya. "Kalau begitu, selamat tinggal Kakak-kakak!" ujarnya lalu berbalik dan berlari memasuki hutan. Tindakan itu membuat Putra dan beberapa orang di dalam mobil tercenga.


"DEK!" Luna tidak bisa menahan diri dari memanggill. Ia refleks membuka pintu mobil, memandang punggung yang menjauh dengan panik dan kembali berteriak. "Dek! Jangan ke sana! Di sana bahaya--"


"Luna, masuk mobil," Raja mengkerutkan alisnya. Jelas agak kesal dengan tindakan Luna dan juga anak kecil yang berlari ke dalam hutan. "Lo gak perlu ngawatirin orang yang gak takut mati."


Luna membuka, lalu menutup mulutnya. Ia ingin menyangkal, tetapi tatapan tajam Raja membuatnya bungkam. Pada akhirnya, dengan petuh Luna kembali masuk ke dalam mobil, menoleh dan menatap sedih ke arah hutan. Anak perempuan itu memang kuat, tetapi ... bukankah ia masih anak-anak? Seberapa jarang Luna berhasil menemukan anak-anak yang masih hidup? Jumlah manusia semakin menipis dan bila anak-anak yang menjadi penerus mereka tidak dilindungi ...


Luna menunduk. Perasaan sesak menindih dadanya.


.


.


.


Laju motor berkecepatan tinggi membela jalan sempit. Sosok pengendara berjaket hitam dan helm gelap, dengan lincah menghindari beberapa zombie yang mencoba menggapai. Motor ninja dengan suara derum teredam terlihat berlawanan dengan tubuh kecil nan kurus yang membawanya. Namun, tidak ada yang peduli, tidak ada yang sempat memperhatikan pengendara motor yang tengah dilanda panik.


Mall Bintang diserang.


Nanda tidak pernah mengingat detail kecil. Bagaimanapun, bukan sekali dua kali terdengar di telinganya bahwa sebuah pangkalan kecil, akan diserang oleh segerombolan zombie. Terlebih telah bertahun-tahun berlalu prihal ia yang kembali ke masa lalu, banyak hal yang ia lupakan. Namun, jantungnya tidak bisa berhenti melompat ketika mendengar kabar buruk itu. Adrenalinnya meningkat tajam begitu menyadari bahwa kerabat dekatnya, berkemungkinan masih berada di pangkalan.


Erica dalam bahaya.


Nanda ke luar pangkalan dan mengikuti sebuah kelompok kecil untuk mencari makanan. Alasannya ke luar jelas hanya untuk menemukan lebih banyak manusia dan mencari informasi prihal Yulis dan anaknya. Namun siapa yang akan menyangka bahwa kelompoknya akan dirampok setelah satu hari satu malam mencari bahan makanan? Mau tidak mau pertempuran terjadi. Di dalam situasi itulah Nanda menyelinap kabur.


Tetapi ketika menemukan rombongan Raja ... kelompok Bossnya yang benar-benar diluar ekpentasi, tujuan pertama Nanda adalah menemukan Yulis. Diantara gerombolan itu, ada harapan kecil bahwa Yulis berada di dalamnya. Namun ia baru melontarkan beberapa patah kata, Nanda harus diseret kembali dengan berita baru yang diterimanya. Pada akhirnya, ia lebih baik memilih Erica yang jelas di mana keberadaannya ketimbang Yulis yang masih simpang siur.


Laju motor diperlambat hingga pada akhirnya benar-benar berhenti tepat ketika sepasang hazel menemukan banyak zombie mulai banyak berkeliaran. Padahal jelas, ia baru saja memasuki pinggir kota, tetapi aktivitas zombie jelas terlihat. Berkerumun, seolah tidak menyadari keberadaannya, berjalan dengan kaku menuju ke satu tempat.


Alis Nanda terpaut. Ia tahu, zombie-zombie ini dikendalikan oleh zombie yang lebih kuat. Bila tidak, kenapa mereka berjalan dengan santai padahal jelas ia berada di tengah-tengah dan dalam jangkauan mereka? Masalahnya, ini belum sampai satu bulan dan keberadaan zombie yang lebih kuat mulai muncul ...


Perasaan Nanda tidak nyaman. Wanita itu kembali melajukan motornya, tanpa ragu membawa kendaraan roda dua meluncur diantara para zombie. Bergerak lincah menghindari mereka. Tindakan ini jauh lebih hemat tenaga. Namun menyadari keberadaan zombie semakin lama semakin padat, firasatnya semakin buruk. Jantungnya tidak henti berdetak cepat, membuat darahnya berdesir mengalirkan perasaan cemas dan sesak yang mencengkram.


Tepat ketika Nanda akan sampai ke tujuan, wanita itu memilih untuk menghentikan laju motornya. Bukan karena ia kehabisan bensin, itu lebih karena beberapa zombie yang dengan lincah, menyadari keberadaannya dan mulai menyerang dengan agresif. Tanpa ragu, Nanda menggunakan kemampuan angin dan airnya, membela zombie dengan mudah dan membuat mereka kehilangan kendali akan beberapa zombie level rendah yang mereka kuasai.


Namun, karena penemuan itu, Nanda menjadi lebih waspada. Zombie-zombie yang kehilangan kendali juga menyadari keberadaannya. Masalahnya, ia berada di tengah-tengah keberadaan lautan zombie, benar-benar tidak menguntungkan ketika ia harus menghemat kemampuannya dan harus mengendalkan kemampuan fisik untuk terus menebas kepala-kepala zombie yang berada di jangkauan serang. Tidak kuat, tetapi sangat merepotkan hingga membuatnya berkeringat agak lelah.

__ADS_1


Geram dengan pengerumunan ini, Nanda tanpa ragu memasuki sebuah bangunan tinggi dan memblokir pintu masuk dengan menutup pintu besi. Entah bangunan ini bekas apa, Nanda tidak terlalu memperhatikan dan hanya memilih secara acak.


Ini adalah sebuah rumah ... atau mungkin sebuah kos-kosan? Nanda mengerjap, menatap ruangan gelap tertutup yang begitu berantakan. Pada pandangan pertama, dengan meja dan kursi yang berantakan, juga beberapa mayat dengan tubuh tidak lengkap terkapar membusuk di lantai, Nanda mengira bahwa ini lebih terlihat kos-kosan ... atau kantor? Entahlah.


Terlalu malas untuk mengira-ngira, wanita itu berjalan meniki tangga yang berada di sudut ruangan. Suara geraman dan auman para mayat hidup di luar sana terdengar, menyeramkan dan buas. Namun Nanda tidak peduli. Ia dengan santai berjalan terus menerus menaiki tangga. Berhenti sejenak di lantai 2, menatap suasana di sana, lalu kembali naik. Hal itu terus berlaku hingga ia berhenti di lantai 6.


Nanda terdiam. Di depannya terdapat sebuah pintu besi yang tertutup rapat. Namun, Nanda yakin di balik pintu besi ini, terdapat lapangan kecil untuk jemuran. Benar-benar view yang bagus bila ia ingin mencari seseorang. Lagipula, jaraknya sekarang dengan Mall Bintang terbilang dekat ...


DARK!


Tanpa ragu sama sekali, Nanda menghancurkan gembok yang terkait pada pintu besi, membuatnya dengan leluasa membuka pintu dan cahaya matahari yang menyilaukan langsung membutakan matanya. Nanda mengerjap beberapa kali, menyipit sebelum akhinya membiasakan diri dengan cahaya yang tiba-tiba menyerang retina matanya.


Sebuah lapangan kecil terpampang dengan sebuah tali jemuran yang bergerak-gerak gelisah tertiup angin, Nanda menemukan bahwa tebakannya benar. Kaki jenjang melangkah, memasuki lapangan kecil berlapis semen seraya menatap sekeliling dengan penuh minat. Banyak bangunan di sekitar tempat ini. Pada bagian belakang bangunan, banyak bangunan-bangunan lain yang memiliki jarak dekat dan tinggi berbeda.


Nanda mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya tanpa mengatakan apapun, mulai melompat dari satu bangunan ke bangunan yang lain. Pergerakannya lues, tubuhnya seolah-olah seringan angin. Menapaki setiap pijakan dengan lancar tanpa kehilangan keseimbangan. Sekilas, ia benar-benar terlihat seperti ninja, terlebih dengan pakaian serba hitam dan penampilan yang misterius.


Menggunakan cara melompat dari satu atap ke atap yang lain, memang lebih baik. Terlebih melihat padatnya zombie yang bergerak dengan liar di bawah sana. Menggeram dan menghantarkan aroma bangkai yang mencekik. Namun, ketika tubuh itu semakin lama semakin dekat dengan bangunan tinggi yang menjulang ... Nanda mendapati langkah kakinya semakin melambat hingga pada akhirnya benar-benar berhenti.


Sepasang hazel yang bulat membiaskan suasana di depannya. Dimana bangunan kokoh, tinggi dan terlihat sombong itu, dengan putus asa menyerang segerombolan zombie. Beberapa tentara dan juga banyak pengguna kemampuan, menyerang mati-matian ke arah zombie yang mendekat. Ini, seperti air bah zombie, atau semut-semut yang mencoba mengerumuni gula dengan putus asa ...


Mata itu menyipit, memandang beberapa penyerang dengan fokus. Sedikitpun, ia tidak berniat untuk menolong. Oh, bila mendadak Nanda muncul, ia akan sangat mencolok. Menjadi sosok heroik dan terkenal dimana-mana bukanlah niatnya. Membantu Mall juga bukan pilihan. Bagimanapun, memilih pusat kota sebagai sebuah pangkalan sekecil itu benar-benar keputusan yang sangat gegabah ... yah, Nanda tidak peduli. Ia hanya peduli dengan kearabatnya, Erica. Bila wanita itu berhasil Nanda temukan, ia akan langsung melompat turun. Membantu Erica dan membawanya ke tempat aman. Namun bila tidak ada Erica ... well, bukankah ia bisa memperhatikan dan menunggu sampai Erica muncul dengan sendirinya? Siapa tahu Erica ternyata keluar bersama kelompok kecil untuk mencari beberapa barang--


Ah!


Nanda melotot. Baru saja ia berpikir bahwa Erica tidak ada, sosok wanita berambut pendek itu mendadak muncul. Melompat keluar menggantikan pengguna kekuatan lain dan terlihat bergerak menembaki kepala-kepala zombie. Sosok wanita yang bersih tetapi muncul dengan tangguh seperti itu sangat mencolok. Terlebih dengan ekspresi dingin yang tecetak di wajah cantik itu, membuat Nanda ingin memberikan dua jempol kepada tantenya.


Oh! Benar-benar keren!


Rasa khawatir Nanda menguap. Ia memilih duduk bersilah di atas atap sebuah toko, mengeluarkan kacang dan mulai menonton sambil makan. Ini sangat menarik. Kapan lagi ia bisa menonton adegan horror dan action sekeren ini? Nanda mulai berpikir ngaco, tetapi tetap setia duduk manis sambil makan kacang.


Bila Tantenya memerlukan bantuan, Nanda dengan berbaik hati akan membantu. Bagaimanapun, level Erica pasti tidak setinggi itu--Oh! Tantenya pengguna kekuatan! Sepasang hazel berbinar. Senang karena anggota keluarganya yang kuat, ternyata juga memiliki kemampuan.


Sosok itu berdiri tangguh, melemparkan beberapa bola api yang membakar para zombie hingga merusak otak mereka. Tindakan itu mau tidak mau membuat Nanda terdiam. Sepasang mata bulat di balik helm yang tertutup menatap fokus, sebelum teralihkan untuk menunduk memandang jemarinya.


Bukankah ia ... juga harus berlatih? Seiring waktu, zombie akan semakin kuat. Sekarang, ia boleh jadi sombong, tetapi tidak akan ada yang bisa menebak bahwa akan ada yang lebih kuat darinya. Bagaimanapun, musuh manusia kelak bukan hanya Zombie, tetapi juga hewan dan tanaman mutan.


Sebagian besar hewan dan tumbuhan mutan memang tidak berbahaya bagi manusia dan bahkan sangat bermanfaat sebagai bahan makanan, tetapi tanaman dan hewan karnivora yang bermutasi karena virus ... akan jauh lebih kuat dari zombie. Agresif dan haus akan darah. Menyerang tanpa pandang bulu hingga zombie sekalipun, juga akan menjadi makanan mereka.


Bangkit berdiri, Nanda menyimpan kacangnya ke dalam ruang dan menepuk-nepuk pantatnya. Ia, dengan enteng berjalan ke pinggir atap, menunduk dan menemukan banyak segerombolan zombie yang tidak menyadari keberadaannya.


Tinggi bangunan ini lebih dari 5 meter, suhu tubuhnya yang cenderung rendah jelas tidak terdeteksi oleh zombie yang sensitif akan panas kehidupan. Karenanya, dengan gampang Nanda melirik ke bawah, menggunakan kemampuan angin dan dengan membabi buta memanen banyak kepala. Namun, Nanda sangat tidak puas. Kemampuannya sangat tidak praktis. Ia harus membuat satu bilah angin untuk memotong kepala zombie, lalu angin yang dipadatkan akan menghilang.


Berulang kali, Nanda mencoba membuat bilah anginnya padat lebih lama. Mencoba memanen kepala zombie tanpa harus kehilangan bilah angin. Tetapi batas maksimalnya hanya membelah 3 kepala zombie dan setelah itu, Nanda mulai berkeringat dingin dengan napas yang terengah-engah lelah. Wajah dibalik helm itu jelas terlihat memucat karena kehabisan energi.


Nanda bukan seorang Masokis yang menikmati untuk disiksa. Begitu mendapati tubuhnya mulai kelelahan, ia berhenti. Kembali duduk di atas atap seraya menonton pertarungan yang berada di depan sana. Oh, ia hanya bisa menggunakan kemampuannya berturut-turut sampai batas waktu 1 jam ...


Benar-benar terlalu singkat.


Nanda cemberut. Mendadak, ia iri melihat Erica yang mampu menggunakan kemampuannya lebih dari 1 jam. Sosok wanita itu memang terlihat kelelahan, tetapi jelas ia dengan keras kepala tidak berhenti. Stamina yang dimiliki tantenya benar-benar besar! Nanda kembali memberikan dua jempol.


DONG!


Tersentak, Nanda refleks langsung menoleh ke arah gerbang yang semula kokoh berdiri. Di sana, tempat yang semula paling banyak manusia melakukan perlawanan, kini dipenuhi dengan darah merah dan para zombie yang berpesta pora memakan tubuh. Namun, diantara zombie-zombie lain yang bersikap rakus, ada satu zombie yang terlihat sangat mencolok.


Sosoknya berdiri, berjalan dengan tenang dan memasuki pangkalan melalui gerbang yang baru saja runtuh. Anehnya, para zombie lain tidak mengikuti. Hanya zombie itu saja yang memasuki area pangkalan. Namun beberapa detik ketika sosok itu memasuki gerbang, suara teriakan manusia terdengar bersamaan dengan sebuah auman yang memekakan telinga.


Nanda tidak bisa lagi duduk manis di tempatnya. Para zombie yang semula enggan untuk masuk, langsung berlarian memasuki gerbang yang runtuh. Hal itu membuat sang wanita mengeluarkan sepasang pedang, lalu melompat dari gedung. Tepat ketika kaki menapaki tanah, ayunan pedang dilakukan bersamaan dengan potongan kepala zombie yang jatuh ke bumi.


Nanda tidak tinggal diam. Sosok berhelm langsung berlari menuju Erica, seraya memotong semua zombie yang mencoba menghalanginya. Sosoknya yang hitam dan menyelinap diantara zombie, tidak diketahui sama sekali. Semua orang tengah panik, berlarian bak semut yang kehilangan jalurnya. Hal itu membuat sosok misterius, semakin mempercepat langkah kakinya.

__ADS_1


Oh, Nanda tidak berniat menolong yang lain, ia hanya ingin ... menolong Tantenya.


__ADS_2