
Nanda dan Ganesha digiring ke sebuah bangunan yang ramai. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya beberapa menit setelah mengendarai hummer. Itupun beberapa menit karena terhalang oleh beberapa kemacetan kecil orang-orang berlalu lalang.
Oh, di sini tidak ada aturan 'jalan kendaraan', jadi benar-benar menyusahkan membawa mobil. Bila tahu bahwa ia akan menahan diri untuk tidak menyentuh gas terlalu sering, Nanda memilih untuk berjalan kaki ketimbang menggunakan kendaraan. Terlalu lama, terlalu memakan banyak waktu. Entah bagaimana Nanda merasa tidak terlalu sabar. Hal ini membuatnya jauh lebih diam, dengan alis yang mengkerut.
Alasan kenapa bangunan besar ini sangat padat dengan orang-orang karena area ini merupakan pusat pekerjaan. Beberapa perintah dikeluarkan, bersama dengan bayaran yang akan didapat ketika berhasil melaksanakannya. Banyak kelompok-kelompok berkumpul, memilih tugas yang cocok. Entah di dalam Pangkalan atau di luar Pangkalan, tingkat kesulitan misi yang diberikan berbanding lurus dengan bayaran.
Lobi bangunan sebenarnya terbilang besar, tetapi ketika dipadati oleh lautan manusia, ruangan ini menjadi sangat sempit dan penuh sesak. Beberapa orang berdiam diri pada layar monitor raksasa yang menggulirkan beberapa tugas berbeda setiap beberapa detik, sementara di sisi lain, orang-orang mengantri pada meja informasi. Entah untuk menerima misi atau untuk memberitahukan bahwa mereka selesai dari misi dan siap untuk menebus hadiah.
Untungnya, kesibukan bak pasar tradisonal hanya terjadi pada lantai dasar. Begitu tiga orang menaiki tangga, kesibukan tidak separah di bawah. Setidaknya, di atas sini, jauh lebih tertata dengan banyak orang mengetik pada layar komputer.
Petugas yang mengantar menghampiri salah satu rekan. Terlihat menjelaskan. Beberapa kali, rekan yang lain mengernyitkan alis, menatap Ganesha dan Nanda, lalu kembali fokus melemparkan kata-kata. Tidak menunggu waktu lama, gaet yang baru datang, mengantar Nanda dan Ganesha ke lantai 3 dan mereka memasuki sebuah ruangan.
Di dalam ruangan kecil, hanya ada sebuah meja dan dua kursi, juga seseorang yang duduk di sana. Tersenyum ramah dan menyambut degan hangat. Sepasang suami-istri duduk di kursi begitu dipersilahkan. Pria tua yang terlihat ramah mengajukan beberapa pertanyaan yang bersifat pribadi. Terlihat santai tetapi jelas ini adalah introgasi.
"Jadi, Nona Nanda dan Tuan Ganesha ingin meminjam tentara bayaran dari pangkalan ini untuk kembali ke Pangkalan 1 AD?"
Nanda mengkulum senyuman, menggelengkan kepala. "Tidak, kami hanya ingin komunikasi dengan Pangkalan 1 AD. Untuk biaya, tentu saja bisa dinegosiasikan."
"Ah? Kalian tidak berniat kembali?" pria itu terlihat bingung mendengarnya.
Nanda tertawa kecil. "Tidak," ujarnya, lalu meraih sebelah tangan Ganesha. "Kami hanya ingin memberikan kabar."
Pria itu sekali lagi mengangguk, lalu meraih walkie-talkie, berbicara dengan orang yang berada dibaliknya. Nanda mendengarkan dengan cermat. Isi panggilan lebih kuarang menanyakan izin tentang menggunaan alat komunikasi Tentara. Setelah beberapa penjelasan, pada akhirnya ia mendapatkan izin.
"Perlu otoritas untuk menggunakan radio, bagaimanapun yang memilikinya hanya pimpinan," jelas pria itu. "Kalian berdua benar-benar dicari oleh keluarga Wijaya, tetapi tidak berniat bertemu dengan keluarga?" tanyanya lagi, ingin memastikan.
Nanda tersenyum, menggelengkan kepala. Ia dengan tegas menolak. Pria itu tidak bisa memaksa kembali. Ia menghela napas, lalu meminta sepasang suami istri untuk mengikutinya ke luar dari ruangan. Ketiganya menaiki tangga ke lantai 3, lalu memasuki ruangan yang berbeda. Di sana, beberapa tentara terlihat. Memegang radio dan sedang mengatur frekuensi.
Pria yang mengantar menghampiri penjaga, menjelaskan dengan ringkas. Tidak perlu berbasa-basi, ia langsung menurut. Menghubungi Pangkalan 1 AD. Setelah beberapa kode diberitahukan, radio diserahkan kepada Nanda dan Ganesha.
"Kau benar-benar berani kabur!" Nanda meringis. Belum mengatakan apapun tetapi sudah disembur. "Kau tahu betapa paniknya kami!? Nda, sekarang kami akan menjemputmu--"
"Ayah, tunggu!" Nanda menyela--panik mendengar kata dijemput. "Aku bersama Ganesha."
"... ," hening beberapa detik, jelas seseorang yang memegang radio merasa salah dengar. Beberapa saat kemudian, suara penuh keraguan terdengar. "Apa?"
"Aku bersama Ganesha," ulang Nanda. "Aku bertemu dengan Ganesha, tetapi kondisi kami tidak memungkinkan untuk kembali."
Untuk beberapa saat, tidak ada suara. Entah apa yang dilakukan pria yang memegang radio, Nanda tidak bisa menebak. Tetapi yang ia tahu, sosok Wijaya dipastikan penuh dengan emosi. Suara, yang kembali terdengar begitu serak dan dalam. "Biarkan aku berbicara dengannya."
Nanda agak ragu, tetapi pada akhirnya tetap menyerahkan radio kepada suaminya. Oh, biarkan mereka berkomunikasi. Bila zombie ini salah menjawab, Nanda tidak masalah untuk menjelaskan bahwa suaminya amnesia.
Ganesha menerima dan mulai menyapa. "Ayah."
"Kau benar-benar hidup?" ada nada ketidaksabaran dari pertanyaan itu. Seolah-olah pertanyaan ini hanya untuk mempertegas keyakinannya. Namun entah mengapa, nada itu lebih terdengar seperti sarkasme. Penuh emosi dengan suara rendah yang agak gemetar.
__ADS_1
"Ya."
"Bagaimana keadaanmu dan Nanda?"
"Baik dan sehat."
Helaan napas terdengar. "Kalian benar-benar tidak ingin kembali?"
"Tidak."
Hening. Ganesha benar-benar seperti robot dengan semua jawaban yang singkat, padat dan jelas. Hanya fokus untuk menjawab pertanyaan dengan satu kalimat tanpa bertele-tele. Yah ... benar-benar khas Ganesha, bahkan ketika kehilangan ingatan, kebiasaan ini jelas tidak hilang. Ajaibnya, suami zombienya ini benar-benar bisa menyesuaikan diri untuk menjawab.
"Kau benar-benar ... tidak ada kata-kata lain yang ingin kau katakan?"
Apakah kau tidak merindukan keluargamu? Apakah kau tahu betapa paniknya mereka mencari?! Nanda dalam hitungan detik, memikirkan apa yang Mertuanya ingin teriakkan kepada putra bungsunya ini.
Ganesha berkedip. Ia bisa merasakan emosi yang menggebu-gebu dari suara pria yang berat. Sepasang iris gelap menatap Nanda, sementara wanita itu hanya tersenyum, mengangka kedua bahunya. Oh, biaskan Ganesha mengatakan apapun yang disukainya.
"Terima kasih," jeda beberapa detik. Alis Ganesha terpaut. "Sekarang tidak perlu mencari lagi."
Sayang, kau benar-benar memiliki kemampuan untuk membuat Ayah marah!
Nanda buru-buru mengambil radio dan mengalihkan pembicaraan sebelum Wijaya mengaum. "Ayah, aku dan Ganesha baik-baik saja, maaf sudah membuatmu dan juga keluarga khawatir. Beberapa hal tidak bisa dibicarakan di sini, tapi yakinlah, bila urusan kami sudah selesai, kami akan menghubungimu dan kembali."
Wijaya benar-benar akan meledak begitu mendengar ucapan putra bungsunya sendiri yang sangat tidak berbakti. Karena itu, panggilan langsung dialihkan. Kali ini, bukan lagi sang kepala keluarga, tetapi kakaknya, Bima Wijaya. Oh, entah berapa banyak orang yang berada di sana ... Nanda yakin keluarganya langsung mengambil alih Wijaya untuk menenangkan pria tua itu.
"Terima kasih Kak," Nanda tersenyum. Merasa bersyukur karena Bima lah yang berbicara, bukan Sinta. "Kak, bila Papa dan Mamaku menghubungi, tolong katakan aku baik-baik saja."
"Tentu."
Nanda agak ragu, tetapi pada akhirnya tetap mengajukan pertanyaan. "Kak, di mana Pangkalan tempat Papa dan Mama tinggal? Kenapa mereka tidak ke pangkalan 1 AD saja?"
Helaan napas terlontar. "Sangat jauh ... berada di negara tetangga. Ayahmu adalah peneliti di sana, negara tetangga mengambilnya. Kami tidak berhasil melakukan negosiasi untuk mendapatkan kembali Ayahmu, tetapi yakinlah, mereka memperlakukan kedua orang tuamu dengan baik."
Nanda menelan liur paksa. Negara lain menginginkan Papanya dan Papanya diperlakukan dengan baik ...
Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Papanya akan diperebutkan. Ia tahu bahwa Riko Arjuna adalah seorang peneliti, jarang sekali pulang karena proyek penelitiannya, tetapi Nanda sendiri tidak merasa tertarik dengan proyek yang Arjuna kerjakan. Beberapa adalah rahasia, tidak bisa diucapkan dengan santai, karena itu Nanda cukup sadar diri untuk tidak bertanya-tanya.
Namun mengingat Arjuna sudah tidak pulang selama setahun setelah pernikahannya dengan Ganesha ... bahkan ketika musim kemarau panjang, pria itu juga tidak pulang hanya guna menjenguk Dewi, Nanda tidak bisa menahan diri dari terkejut. Ia tahu betapa gila Papa dan Mamanya suka bermesraan, bila perlu, Arjuna tidak akan sungkan melemparkan Nanda ke keluarga Wijaya agar bisa honeymoon dengan Mamanya.
"Kak, penelitian apa yang Papa lakukan?" Nanda tidak bisa menahan diri dari bertanya. Negara asing sangat mementingkan Arjuna, hingga rela menjemput Dewi karena Mama adalah istri yang sangat dicintai Papanya. Mereka bahkan tidak membiarkan negaranya sendiri mengambil Arjuna ...
Jeda beberapa detik. Bima tidak langsung menjawab. Hal ini membuat kecurigaan Nanda semakin kuat. "Yah ... bukan sesuatu yang bisa dibicarakan di sini."
Alis Nanda terpaut, tetapi ia masih mengangguk patuh, wanita itu tidak kembali bertanya. Mereka mengobrol beberapa patah kata kembali, lalu dengan terburu-buru mengakhiri komunikasi. Setelah berterima kasih kepada pihak tentara, Nanda dan Ganesha kembali ke lantai dasar.
__ADS_1
Kali ini, mengambil kunci kamar. Mumpung Ganesha sudah mendapatkan hak untuk menerima ruangan kamar geratis selama seminggu, Nanda ingin berada di pangkalan ini selama beberapa hari lagi. Bagaimanapun, ia benar-benar merasa kekurangan banyak informasi.
Kamar geratisan yang didapatkan Ganesha tidak bisa dibilang layak. Ini jelas hanya sebuah kamar, dengan sebuah kamar mandi. Ditambah debu berterbangan dan bau apek yang mencekik. Nanda nyaris terkena asma begitu membuka pintu. Beruntung, suaminya serba bisa. Setelah masuk dan menutup pintu, Ganesha langsung menggunakan kemampuan angin dan air untuk membersihkan ruangan.
Setelah mengganti seprai, Nanda langsung melemparkan dirinya ke atas kasur. "Sayang, tempat ini sangat miskin," keluhnya seraya membalik tubuh dan menatap Ganesha yang berdiri di dekat jendela. Sosok tinggi dengan postur tubuh tegap itu tidak membalas, hanya fokus menatap ke luar. Nanda tidak peduli, mulutnya masih bercelotah.
"Sayang, kau lihat orang-orang di luar? Mereka kurus sekali! Aku masih lebih berisi. Saranku, jangan memakan mereka. Mereka kotor dan pasti tidak sehat, Bebeb NesNes memang lebih baik meminum darahku saja, jauh lebih sehat, bergisi dan lezat."
Benar-benar menganggap dirinya adalah makanan yang berkualitas tinggi, Nanda merasa agak bangga. "Jangan memakan manusia lain, oke? NesNes cukup meminum darahku."
Kali ini Ganesha menoleh, menatap Nanda yang tidak henti berceloteh rancu. Ia berkedip beberapa kali, sebelum akhirnya berjalan mendekati kasur dan duduk tepat di samping Nanda. Tangan yang pucat terulur, dengan lembut jemari lentik menyingkirkan poni yang menutupi kening sang wanita.
"Lapar?" tanyanya lembut.
Nanda berkedip. Ia menatap wajah tampan suaminya sebelum akhirnya terkekeh. Perasaan hangat seolah memeluk hati, memberikan kebahagiaan yang menyenangkan. "Sayang, aku tidak lapar," jawabnya. "Hey, aku memikirkan sesuatu," ujarnya seraya bangkit dan duduk di atas kasur.
Ganesha diam, mendengarkan.
"Aku tahu tujuan kita. Setelah kita menemukan paman, kita akan pergi ke pangkalan dimana Papaku berada. Papa adalah seorang peneliti ... yah, aku tahu. Beberapa Pangkalan pasti sedang melakukan riset tentang membuat Anti-Virus, tetapi Papaku bisa sampai diperebutkan oleh negara ... bukankah berarti Papa memegang peran penting? Aku curiga bahwa Papa adalah orang pertama yang akan mengembangkan anti-virus."
Nanda tanpa ragu mengatakan apa yang dipikirkan. Senyuman mengembang, sebelah tangan terulur, meraih wajah tampan yang bersuhu hangat dengan lembut. Nanda bisa merasakan tekstur keras dari kulit manusia ini, seolah ia memegang batu yang telah direbus, memberiksan sensasi hanya pada setiap jemari yang bersentuhan.
Tubuhnya jelas mengembangkan antivirus. Kemampuan untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh benar-benar kuat, Nanda bisa membayangkan akan banyak peneliti yang menginginkan tubuhnya sebagai bahan eksperimen. Karena itu, akan berbahaya bila orang lain mengetahuinya, tetapi bila ia bisa bertemu dengan Arjuna ...
"Ini hanya spekulasi tetapi sayang, aku benar-benar berharap kita menemukan cara yang terbaik untukmu," Nanda berbisik, mendekatkan wajahnya dan dengan lembut mencium pipi Ganesha. "Papaku mungkin ... yah, mungkin ... bisa mengembangkan obat untuk mengubahmu kembali menjadi manusia. Tetapi percayalah, meski kau tidak bisa menjadi manusia, aku tidak masalah sama sekali."
Sepasang hazel fokus menatap iris gelap suaminya. Senyuman mengembang, wajah tampan tanpa ekspresi itu balas menatap.
"Sayang ... ," Nanda berbisik, mengecup lembut bibir tipis yang tidak lembut. "Aku tidak akan meninggalkanmu. Sungguh, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tidak peduli apakah kau iblis atau malaikat, aku tidak ingin meninggalkanmu," bisiknya lembut, seolah-olah apa yang dikatakan lebih untuk dirinya sendiri, bukan untuk siapapun.
Ganesha tidak mengatakan apapun. Tangan besar dengan hati-hati merengkuh wajah mungil Nanda. Ibu jari mengusap lembut pipi putih kemerahan. Ekspresi wanita itu terlihat sedih dan bungsu Wijaya tidak tahan untuk tidak menghiburnya. Jadi ia menunduk, kembali mencium bibir lembut yang hangat.
Nanda memejamkan mata. Dadanya terasa bergemuruh oleh rasa sakit yang tak tertahankan. Ia tidak tahu apakah Ganesha yang menjadi zombie dan kehilangan ingatannya adalah yang terbaik atau justru yang terburuk. Namun yang ia tahu, suaminya tidak bisa merasakan makanan manis atau pedas, harus menderita menahan dingin yang akan menyakiti tubuh, selalu menahan diri agar tidak menyerang manusia lain dan menekan sifat haus darah ...
Jantung Nanda berdegup kencang. Kecupan demi kecupan membasahi bibir, memberikan sensasi terbakar yang membuatnya merasa menginginkan lebih. Jemari kecil mulai bergerak liar, *** rambut hitam yang halus sementara bibir yang keras mulai bermain liar. Masuk ke dalam mulutnya, memberikan sensasi aneh saat daging tak bertulang dengan rakus seolah mencoba menelannya.
Nanda dapat merasakan tubuhnya memanas. Tubuh kecil terdorong, terbaring di atas kasur dan bibir yang keras tidak henti mengejar bibirnya. **** dan mengurung mangsa yang masih terus ingin ditaklukkan. Nanda tidak ingin bermain pasif. Kedua tangan memeluk leher yang keras, membiarkan bibir dan lidah yang liat leluasa bermain dan menjarah dengan sombong. Namun tepat ketika ia merasakan jemari hangat *** pinggulnya dan memberikan sensasi sengatan listrik, Nanda langsung mendorong Ganesha sekuat tenaga.
"Uhuk! Uhuk!"
Darah hitam dimuntahkan. Mengotori kasur dan juga pakaiannya sendiri. Baik Nanda maupun Ganesha sama-sama membeku. Kaku dengan reaksi tubuh yang dipaksa berubah menjadi dingin dengan realita menampar wajah. Kulit dan juga air liur Ganesha mengandung virus. Tubuh Nanda mengandung antivirus. Bila keduanya bergabung, entah berapa banyak darah hitam yang akan Nanda muntahkan ...
"... ."
Nanda bersumpah ia benar-benar harus bertemu dengan Papanya. Ini bukan lagi masalah Ganesha, ini adalah masalah kesejahteraannya di atas ranjang! Siapa yang tahan untuk tidak memakan pria tampan ini?! Oh, mereka jelas saling jauh cinta, sudah menikah, suasana intim khasmaran yang lovely-dovy, tetapi ... tetapi ...
__ADS_1
Nanda tidak tahu apakah ia ingin tertawa atau menangis.
Ini sungguh tragis.