Zombie

Zombie
20: Perjalanan


__ADS_3

Derum suara mobil mengalun, memecah keheningan diantara rimbun pepohonan. Dua buah kendaraan roda empat melaju cepat, melewati belokan dan tanjakan jalan berbatu yang membuat mobil berguncang. Hummer yang memimpin jalan dihuni oleh 6 kepala, sementara mobil pick-up di belakangnya jutsru hanya dikendarai oleh seorang pengemudi. Namun, pada bagian bak mobil, terdapat banyak barang yang menggunung. Membuat benda-benda itu menonjol dibalik pelastik besar yang menutupi dan terikat menjadi satu.


Menatap sekitar, Nanda mengkerutkan alis, menyadari bahwa dibalik rimbun pepohonan, hari jelas menunjukkan tanda-tanda akan hujan. Gumpalan awan gelap menyatu, menutupi langit dan membuat suasana di sekitar menjadi lebih dingin dan suram. Tanpa ragu, tangan putih itu terulur, mengambil walkie-talkie yang langsung terhubung dengan hummer di depan.


"Te, berapa lama lagi dari jalan besar?" Nanda agak cemberut menatap jalan tidak rata dan banyaknya pepohonan yang hampir mengepung mobil mereka. Yah ... ini adalah 'jalan pintas' yang dikatakan Tantenya, karena itulah hummer yang menampung para kurcaci dan Tantenya memimpin di depan. Bila tahu jalannya akan seperti ini, Nanda lebih memilih jalan biasa. Oh, ayolah! Ia yang membawa bahan makanan di bak belakang! Dengan jalan kacau seperti ini, bagaimana bisa ia menjamin semua persediaan di belakan aman tanpa gangguan?!


Nanda benar-benar harus menahan amarah dan mengendalikan mobil dengan baik. Oh, sudah berapa kali ia hampir tertinggal? Beruntung, Tantenya tidak menghubungi hanya untuk mempercepat laju kendaraan. Bila sampai Tantenya benar-benar meminta untuk lebih mengebut dalam keadaan tanah seperti ini ...


Nanda bersumpah akan meminta Tantenyalah yang membawa mobil ini dan biarkan dia bersenang-seneng di dalam hummer yang lebih kuat dan tahan banting!


"Masih sekitar satu atau dua jam lagi," dari balik radio, suara Erica terdengar. Membalas pertanyaan yang diajukan Nanda dan sukses membuyarkan lamunannya. Namun, jawaban yang diberikan Tantenya membuat alis wanita berkuncir itu terpaut.


Satu atau dua jam lagi ...


"Ada desa atau tempat aman untuk berteduh?"


"Kenapa?"


"Akan ada badai," Nanda berujar jujur, melirik keadaan sekitar dimana angin terlihat tidak berhembus tetapi awan gelap bergulung-gulung di atas sana. "Coba cari gudang dengan pintu baja atau apapun ... yang penting kuat untuk menahan badai."


Dengan kemampuan angin, Nanda jauh lebih sensitif dengan sekitarnya. Terlebih dengan kecepatan dan arah angin, wanita itu dengan mudah menebak bahwa sebentar lagi pasti akan ada badai hujan. Yah ... bukan lah hal yang aneh. Setelah dilanda mendung selama hampir satu bulan penuh, lalu dilanda panas hampir satu bulan penuh, sekarang akan ada badai. Banyak orang mungkin mengira badai hanya terjadi selama beberapa hari, tetapi sayangnya, Nanda tidak berpikir demikian. Badai ini berkemungkinan akan terjadi selama beberapa minggu--atau mungkin bulan.


Cuaca ekstream jelas dipengaruhi oleh medan magnet bumi yang sudah mulai berubah. Atmosfer bumi yang mulai menipis menyebabkan gelombang cahaya matahari mempengaruhi permukaan tanah, membuat bukan hanya manusia, tetapi hampir seluruh makhluk hidup yang tidak bisa beradaptasi harus menerima nasip kematian.


Pada tahun pertama ini, seleksi alam akan mulai terjadi. Bahkan zombie pun akan turut menjadi korban--benar-benar tidak pilih kasih dengan apa yang bergerak di atas permukaan bumi.


Nanda menarik napas dalam lalu menghembuskannya. Sepasang hazel menatap ke depan, memandang sebuah hummer yang memimpin jalan. Laju kecepatan mobil di depannya agak melambat, jelas sosok yang mengemudikannya terlihat berpikir. Terlebih, ia juga belum mendengar jawaban dari Erica. Nanda juga tidak mendesak Tantenya, biarkan Erica berpikir dan mulai mengingat-ingat sekitar.


"Aku ingat ada gudang besar di daerah dermaga."


"Berhenti!"


Mobil yang ada di depan langsung berhenti. Menginjak rem dan membuat penghuni di dalamnya berteriak kesakitan karena berhenti mendadak. Nanda bisa mendengar keluhan dari beberapa anak karena menabrak dashbor atau kursi mobil.


"Ada apa?" Nada Erica dari balik Walkie-talkie terdengar jelek. Jelas jengkel dengan perintah mendadak keponakannya. Kenapa mendadak meminta berhenti?


"Tante merubah arah? Tante menggiring kita ke dermaga?"


"Tidak, aku belum mengubah arah, kita masih menuju ke arah jalan besar. Dari jalan besar, kita bisa belok ke jalan tol yang lain dan lebih cepat menuju dermaga."


Nanda menghela napas lega. "Kita tidak perlu ke dermaga."


"Kenapa?"


"Badainya besar," Nanda menggerutu, agak kesal kenapa Tantenya bertanya. "Tante mau kita tenggelam? Badai akan terjadi dalam jangka waktu lama, itu juga pasti akan mempengaruhi ombak laut."


Jeda beberapa detik, Erica tidak langsung menjawab. Ia sepertinya memikirkan sesuatu, lalu kembali mengajukan pertanyaan. "Dari mana kau tahu badainya akan lama?"


"Bukankah sebelumnya musim panas terlalu panjang? Lalu mendung terlalu lama hingga hampir satu bulan tanpa matahari? Juga kekeringan panjang lagi tanpa hujan selama hampir sebulan lebih juga? Lalu kenapa badai nanti tidak bisa untuk lebih lama?"


"... ."


Masuk akal. Erica tidak bisa membantah logika keponakannnya. Lagi pula, memang jauh lebih baik untuk berhati-hati. Cuaca sekarang tidak menentu, Erica tidak berani untuk lengah.

__ADS_1


"Aku mengerti."


"Jadi, Tante sudah memikirkan tempat apa yang cocok untuk kita bersembunyi?"


Erica terdiam selama beberapa detik. "Sebenarnya ... di jalan besar, ada beberapa gudang, tetapi aku tidak yakin."


"Kenapa?"


"Kebanyakan adalah gudang makanan. Pinggir jalan besar terdapat banyak perkebunan dan peternakan."


Kali ini, Nanda yang terdiam selama beberapa detik. Sekarang, ia mengerti kenapa Erica lebih memilih dermaga. Ada kemungkinan bahwa gudang di Dermaga adalah gudang untuk barang impor ekspor, tidak akan masalah bila mereka datang. Tetapi untuk gudang makanan ...


Itu akan menjadi godaan beberapa kelompok orang untuk menjarahnya, juga sangat berkemungkinan kecil gudang dalam keadaan baik. Pertempuran antara zombie dan manusia, atau bahkan manusia dengan manusia yang lainnya, memiliki kecenderungan untuk merusak sekitar. Itu termasuk ... gudang yang mereka perlukan untuk tempat berlindung.


Nanda menghela napas. "Kita coba lihat ke sana dulu," ujarnya. Erica setuju. Bagaimanapun, lebih baik mereka melihat keadaannya dulu, setelah itu baru mengambil keputusan. Yah ... yang lebih berbahaya bukanlah mereka akan bertemu zombie, tetapi bertemu dengan kelompok lain. Bahan makanan yang mereka miliki banyak, terlihat dengan mata telanjang di atas bak mobil. Terlebih mereka hanya beranggotakan 2 orang dewasa dan lima anak kecil. Benar-benar memancing beberapa kelompok orang, untuk menjarah. Kelompok kecil yang terlihat lemah, memiliki banyak makanan, terlihat tidak terlindungi. Oh, apa lagi yang kelompok lain tunggu selain menjarah?


Namun pada akhirnya, hujan dan angin kencang tetap menderu. Langit begitu gelap ketika kedua mobil ke luar dari hutan dan sampai pada jalan beraspal. Mereka kerap menemukan beberapa zombie yang keluar. Terhuyung-huyung melawan air dan hujan yang menerpa, lalu berakhir ditabrak dengan mengenaskan. Beberapa mobil di jalanan terparkir dengan asal-asalakan, bahkan banyak yang hancur dan rusak--menghalangi perjalanan mereka di tengah hujan dan angin kencang.


"Kenapa banyak orang yang ingin melewati jalan ini ... ," Nanda sangat ingin mengumpat. Kemampuan air dan anginnya sangat berguna untuk membersihkan jalan. Namun yang terlihat di mata Tantenya, Nanda hanya menggunakan kemampuan air untuk mendorong atau bahkan membelah beberapa mobil yang menghalangi jalan mereka.


Erica tertawa di balik walkie-talkie. "Karena mereka semua ingin sampai ke pangkalan 2 Angkatan Darat kan?"


Seminggu yang lalu mereka berhasil menangkap beberapa sinyal radio, pemberitahuan tentang beberapa nama pangkalan dan tempatnya. Lalu, Pangkalan 2 Angkatan Darat adalah tempat terdekat--atau lebih tepatnya, berjarak 2 kota. Oh, seandainya kereta masih berfungsi, hanya cukup beberapa jam untuk sampai ke sana.


"Yah ... katanya di sana lebih aman, tetapi perjalanan menuju ke sana seperti mengantarkan nyawa," ujarnya sarkas. Oh, benar-benar mengantar nyawa bila tidak mengingat bahwa melewati 2 kota--yah, Kota. Tempat ramai padat penduduk yang berarti ... harus melewati tempat di mana kemungkinan sejumlah besar zombie berkumpul.


"Itu sebabnya, sesuai saranmu, kita akan memutar."


Pangkalan 2 AD ... Pangkalan tempatnya pertama kali bertemu Ganesha di kehidupan sebelumnya. Tempat ia ... diselematkan oleh pria yang menjadi suaminya.


Nanda tidak bisa menahan senyuman di bibirnya. Sepasang hazel menyendu, menatap ke depan di mana jalanan gelap terpampang. "Oke, Tante, perhatikan sekitar dan jangan mengebut. Kita masih harus mencari tempat berlindung."


"Okay."


Nanda menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Suara air menabrak langit-langit mobil terdengar dengan jelas. Terlebih angin yang berhembus kencang, membuat beberapa benda berterbangan begitu saja. Jarak pandang di depanya tidak terlalu bagus, suasana cenderung gelap dan hanya cahaya dari lampu mobil yang menjadi penerang.


"Tante, aku matikan lampu," tanpa ragu, Nanda mematikan lampu mobilnya, langsung membuat kendaraan roda empat itu seolah menghilang di dalam kegelapan. Tindakan ini jelas membuat Erica dan beberapa kurcaci di dalam hummer terkejut.


"Kenapa?"


"Bersembunyi, Tante terus jalan saja, jangan khawatir, kemampuanku sensitif."


Nanda tidak mungkin bilang bahwa ia bisa melihat di dalam kegelapan kan? Lampu yang kecil dan bersinar justru membuat pengelihatan malamnya agak terganggu. Di matanya, semua hal terlihat sama. Perbedaan hanya pada warna mengingat pengelihatan malam membuat semua hal seperti menonton film hitam-putih. Tidak berwarna, tetapi jelas akan perbedaan setiap garis dan ketebalan gelap-terang pada setiap objek.


DAR!


Suara guntur terdengar bersamaan dengan kilat yang menyambar. Memekakan telinga, memannjang bak sebuah akar yang bersinar di langit dalam hitungan detik sebelum mendadak menghilang begitu saja. Namun kejutan cahaya dan suara di tengah kegelapan memberikan efek yang menakutkan. Membuat beberapa anak kecil di dalam hummer, refleks berteriak.


Tidak mau mengganggu konsentrasi Tantenya, terlebih keadaan sekarang cenderung berbahaya karena tidak adanya penerangan, Nanda tidak mengajak Erica mengobrol lagi. Ia diam, fokus menatap ke depan dan memperhatikan pergerakan di sekitar. Dengan hujan dan angin kencang, Nanda merembaskan kemampuannya dengan mudah. Mendadak, ia merasa indranya menjadi lebih sensitif beberapa kali lipat dan juga menjadi lebih kuat. Keberadaan air dan udara kencang di sekitarnya seperti energi aneh yang justru membuatnya ... nyaman.


Badai kali ini, entah bagaimana benar-benar terasa menguntungkannya.


Melaju dengan kecepatan sedang, mobil hummer di depan sana mulai menurunkan kecepatan, lalu secara perlahan mulai berbelok keluar dari jalan besar. Nanda dengan setia mengikuti, sadar bahwa Tantenya mulai memasuki perkebunan. Dalam hitungan detik, punggung wanita berkuncir menjadi tegak lurus. Sepasang iris hazel agak menyipit.

__ADS_1


Ia, dengan amat jelas merasakan banyak zombie di daerah ini. Mereka jelas belum memasuki daerah perkebunan dan baru melewati jalanan kecil yang berisi beberapa rumah, tetapi Nanda bisa mendeteksi beberapa zombie tertarik dengan suara yang diciptakan dari deru mobil mereka berdua. Berlari, mulai mencoba untuk menyusul keberadaan mereka. Terlebih hampir semua zombie yang mengejar merupakan zombie level 1 dan 2.


Sejujurnya, itu mudah untuk dihadapi, tetapi akan membuang-buang tenaga hanya untuk membunuh zombie yang tidak seberapa. Bagaimanapun, akan sangat mengkhawatirkan bila mereka mendadak bertemu dengan zombie yang levelnya lebih tinggi, bukan? Nanda lebih memilih untuk menyimpan energinya dan tidak membuang dengan sia-sia. Toh mereka tidak bisa mengejar.


"Bagaimana bila di depan?" suara Erica kembali terdengar. Nanda langsung fokus menatap ke depan, mendapati sebuah gedung besar di kejauhan. Gedung itu terlihat seperti gudang. Tidak terlalu besar, tetapi dari jauh, terlihat kokoh.


"Gudang bekas apa?"


"Aku tidak tahu, aku belum pernah masuk melalui daerah ini."


Nanda tidak bertanya lagi. Ia agak mempercepat laju kendaraannya hingga melewati hummer yang sebelumnya memimpin. "Kuperiksa dulu, Tante tunggu di sini. Bila sudah aman, aku akan meberitahu."


"Okay," wanita itu langsung setuju. Ia tahu bahwa Nanda, memang jauh lebih kuat darinya. "Hati-hati."


Nanda tidak mengatakan apapun kembali. Ia mempercepat laju mobilnya hingga mengeluarkan suara deru. Tepat ketika ia semakin dekat dengan pintu pagar yang tertutup, Nanda memelankan mobil dan benar-benar berhenti ketika sampai tepat pada jeruji besi yang tertutup.


Tangan-tangan busuk keriput melambai-lambai ke arah mobil. Suara geraman keluar dari tenggorokan diiringi dengan wajah jelek dan beberapa bagian tubuh yang memiliki belatung. Nanda mengangkat alis dan kepala para zombie, terpotong dengan mudah seolah mereka terbuat dari jelly.


Memanfaatkan keadaan lingkungan yang sangat menguntungkan, Nanda tidak keluar dari mobil sama sekali. Membiarkan air dan udara bergabung untuk membuka gerbang yang sejak tadi tertutup, lalu ketika mobilnya masuk, Nanda kembali menutup gerbang besi dengan kemampuannya.


Sebuah gedung besar, dengan pintu baja terpampang. Nanda mencoba memindai area sekitar gedung dengan angin dan udara yang mengamuk di sekitarnya. Ia memerlukan sedikit waktu sebelum akhirnya mendapati tempat ini aman. Tidak ada zombie lain selain zombie yang baru saja ia hadapi. Sebaliknya, dari pergerakan udara, Nanda dengan mudah menyadari ada pergerakan di dalam gedung.


Gedung ini berpenghuni.


Dengan menebak dari keteraturan pergerakan dan adanya suara jantung yang berdegup, di dalam gudang adalah manusia. Namun, jumlah orang yang berada di dalam gedung tidak banyak. Hanya 3, tidak lebih dan kurang. Jumlah ini sangat sedikit untuk sebuah kelompok ...


"Sudah aman, tetapi di dalam gudang, ada orang," Nanda memberitahu Erica, lalu dengan kemampuannya, kembali membuka jeruji besi yang semula tertutup agar mobil hummer dapat masuk ke dalam halaman. "Masuk, lalu cepat tutup pintu gerbangnya."


Nanda ingat bahwa ada beberapa zombie level 1 dan 2 yang mengejar mereka. Akan bermasalah bila Erica masih di luar. Sekarang sedang badai, kekuatan api Erica akan padam begitu saja begitu dikeluarkan.


Erica menurut. Ia membawa hummer masuk ke dalam halaman, lalu ke luar dan menutup gerbang. Tidak lupa, wanita itu menguncinya, lalu kembali masuk ke dalam hummer. Nanda menghela napas menatap setiap proses. Ia keluar dari dalam mobil, lalu dengan sengaja membuat tubuhnya basah.


Berjalan di tanah yang becek dan berlumpur, Nanda mengabaikan tubuhnya yang akan kotor. Ia dengan pasti mendekati pintu ganda yang terbuat dari baja. Itu kokoh dan kuat. Terlebih gedung ini sepertinya terbuat dari beton. Dindingnya terlihat sangat tebal.


Benar-benar tempat persembunyian yang aman.


Dong! Dong!


Mencoba mendorong pintu, Nanda menyadari bahwa pintu ini di tahan dari dalam. Itu sebabnya ia mengedor pintu. Sengaja dengan suara kuat agar tidak teredam angin badai di sekitarnya.


"Permisi! Apakah ada orang di dalam?!" Nanda berteriak. Suaranya kekanakan, sangat feminim dan menyenangkan untuk di dengar. Tidak peduli apakah orang-orang di dalam jahat atau baik, mendengar suara perempuan sudah dipastikan akan membuat orang lain beranggapan pemilik suara ini cenderung lemah dan tidak berbahaya. Oh, siapa yang akan waspada dengan orang yang seperti itu?


"Eh? Suara cewek!"


"Ssstt ... jangan langsung dibuka, goblok!"


"Apaan, itu suara cewek. Tega bener lo buat cewek di luar hujan-hujan gini! Gak gentle lo jadi cowok!"


"... ."


Nanda kehilangan kata-kata. Bagaimanapun, pendengarannya termasuk tajam, terlebih hanya untuk mendengar di balik lapisan besi dalam jarak yang cenderung dekat seperti ini. Percakapan ketiga orang itu terdengar dengan jelas. Namun yang membuat Nanda merasa ingin tertawa adalah kenyataan pemilik suara itu.


Astaga ... bukankah ini Ken, Bobi dan Genta? Mereka bertemu lagi?

__ADS_1


__ADS_2