Zombie

Zombie
37: Pertemuan Kembali


__ADS_3

Hiruk pikuk pada sebuah tenda berdengung bak suara lebah yang berkerumun. Semua orang mengobrol, meludahkan pikiran mereka masing-masing dan membentuk sebuah kelompok. Meja dan kursi kayu reot semuanya telah ditempati. Piring-piring berisi sisa makanan diambil oleh beberapa orang kurus yang berperan sebagai pelayan.


Ini adalah sebuah kantin. Satu-satunya kantin yang menyediakan makanan di pangkalan. Namun suasana ramai yang dipenuhi oleh pria-pria bertubuh kekar dan wanita berpakain minim membuat suasana kantin lebih terlihat seperti sebuah tempat berkumpulnya para mafia. Kebanyakan orang, akan memilih untuk membeli makanan dan tidak memakannya di tempat. Terlalu berbahaya, kantin adalah tempat para orang kuat berkumpul. Mereka yang lemah, hanya karena tidak enak dipandang, akan habis dipukuli atau bahkan dibunuh.


Benar-benar sombong, tidak ada kemanusiaan. Namun keadaan saat ini memang menjatuhkan moral. Mereka yang kuat berkuasa, sosok lemah hanya bisa tunduk dan patuh bila ingin tetap hidup.


"Udah denger belum? Katanya di pangkalan H, mereka berhasil buat obat penetral air," pria yang hanya memiliki satu mata bersuara, memulai topik di meja yang penuh dengan kacang-kacangan. Ini bisa dibilang sangat mewah mengingat jumlah makanan sudah langka, terlebih untuk kacang-kacang yang dianggap kelompok ini sebagai cemilan.


"Udah," temannya menanggapi. "Menurut lo, pangkalan bakal buat misi ke Pangkalan H?"


Tawa membahana terdengar. Tangan besar meraih salah satu perempuan, membuatnya duduk di atas pangkuan pria berwajah menyeramkan. "Ya iyalah! Pasti pangkalan bakalan langsung buat misi. Ntar kita ambil!" ujarnya lalu mulai meraba-raba tubuh wanita kurus yang duduk di pangkuan.


"Pangkalan H, katanya ceweknya cantik-cantik," salah satu pria menyeringai, menjilat bibirnya sendiri begitu membayangkan tubuh montok yang akan disentuh.


"Bukan ceweknya aja yang cantik Boss! Makanan di sana juga katanya lebih enak!"


Nanda mendengus. Ia melirik singkat ke arah kantin sebelum akhirnya kembali menatap ke depan. Obrolan orang-orang di kantin banyak yang tidak terlalu penting, tetapi beberapa hal sangat berguna meski cenderung simpang-siur. Seperti pangkalan H yang berhasil membuat pemurni air, atau pangkalan 1 AD yang menyambut pengguna kemampuan air, tanah dan tumbuhan sebagai jalan pintas untuk kemakmuran.


Berjalan beriringan dengan Ganesha, beberapa pria menatap lapar ke arah Nanda. Dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi dan tidak pendek, proporsi tubuh pas yang terbenam di dalam kaos yang bersih dan rapi. Juga wajah dengan pipi agak tembam hingga memberikan kesan kekanak-kanakan dan muda, Nanda sangat mencolok. Beberapa kata ambigu dan vulgar silih berganti terdengar, menyebutkan secara frontal fantasi mereka tentang tubuh berkulit putih dibalik pakaian.


Nanda mendengarnya dengan jelas, tetapi ekspresinya tidak berubah. Kedua tangan kecil memeluk sebelah lengan Ganesha, menegaskan bahwa ia bersama suaminya. Sosok pria tinggi, dengan tubuh tegap dan jelas memiliki atmosfer yang sulit didekat adalah prisai terbaik. Banyak orang tidak berani untuk macam-macam. Bukan orang biasa untuk tetap bersih dan terlihat sangat sehat di hari-hari seperti ini. Mereka jelas bukan hanya sekedar kaya, tetapi juga kuat.


Masuk ke dalam hummer, pada akhirnya Nanda hanya bisa bertahan di Pangkalan ini dalam semalam. Mereka mengembalikan kunci, mengendarai kendaraan roda empat dan dengan tegas meninggalkan Pangkalan kecil yang menyedihkan.


"Sayang, kau benar-benar tidak bisa memanggil zombie dari jarak jauh?" Nanda menghela napas, menyetir dan memandang kedua sisi jalan yang dipenuhi oleh pepohonan.


"Hanya zombie kecil," jawab Ganesha. "Zombie diatas level 3 hanya berjarak sekitar 100 meter."


Terakhir kali ia bertemu dengan Pamannya, Pamannya adalah zombie level 4, sekarang mungkin ... sudah masuk ke level 5? Ini sudah berbulan-bulan. Ia bahkan tidak yakin ini sudah tanggal berapa. Mungkinkah sudah masuk satu tahun setelah virus menyebar? Entahlah, konsep waktu sudah tidak terlihat lagi di matanya.


Namun mengingat kemampuan Ganesha yang tidak bisa dideteksi dan Ganesha sendiri tidak tahu levelnya, Nanda hanya bisa berharap bahwa Pamannya akan memiliki kesadaran sama seperti Ganesha dan bertemu dengan Erica ...


Oh, apakah Erica akan menerima pamannya yang bukan lagi manusia? Alis Nanda terpaut. Ia menyadari bahwa Erica lebih fokus dengan anak-anak, ia tidak lagi menunjukkan kesedihan, jelas telah menerima bahwa Tantenya tidak akan pernah bersama dengan pamannya kembali. Tetapi bila masih ada kesempatan ... apakah Erica mau mengambilnya?


Ia mungkin sudah meninggalkan Pangkalan 1 AD selama beberapa bulan, Nanda juga tidak yakin dengan situasi pasti di sana sekarang. Namun keluarga Wijaya pasti memperlakukan Erica dengan baik, terlebih Tantenya adalah pengguna kemampuan api yang kuat. Tantenya akan berinteraksi dengan banyak orang. Meski sulit untuk jatuh cinta kembali, tetapi bukan berarti tidak mungkin.


Tanpa sadar, alis Nanda mengernyit.


"Ada apa?" Ganesha menoleh, menyadari bahwa istrinya di dalam mood yang berbeda. Bila sedang memikirkan sesuatu, Nanda pasti akan lebih banyak diam.


"NesNes," Nanda menatap fokus ke depan, mengendarai hummer dengan kecepatan sedang. "Apakah kau sangat menyukaiku?"


"Ya," Ganesha tanpa ragu menjawab.


"Menurutmu ... ," Nanda ragu. Ia melirik ke Ganesha, lalu kembali menatap ke depan. "Apakah Paman masih menyukai Tante? Dia sudah menjadi zombie ... Tante juga adalah manusia, kulihat dia pelan-pelan sudah memulai kehidupannya yang baru ... ," jadi, apakah tindakannya benar? Untuk mempertemukan Tante dan Pamannya? Namun perlu berapa tahun agar mereka bisa 'bertemu dengan normal' dan terlihat 'setara'? Sekarang, ia bahkan selalu merasa was-was bahwa orang lain akan menemukan bahwa Ganesha adalah zombie.


"Aku tidak tahu," zombie pucat itu menjawab jujur. Ia menyadari kegelisahan manusia perempuan di sampingnya. "Ketika kesadaranku muncul, aku tidak mengingat apapun. Hanya ... ," alis pria itu terpaut. "Hanya insting untuk mencarimu."


Nanda terdiam. Sepasang hazel menyendu ketika teringat bahwa suaminya membentuk tim untuk mencarinya. Pria ini jelas khawatir, tidak sabar untuk menemukannya. Hal terakhir yang dipikirkan sebelum menjadi zombie pasti adalah bertemu Nanda ...


Lalu hal terakhir yang dipikirkan Pamannya? Ketika dengan kuat melarikan diri hingga berubah menjadi zombie ... apakah itu untuk bertemu dengan Erica? Ketika Pamannya yang sudah menjadi zombie bertemu dengan Erica di Pangkalan ... Nanda masih ingat ketika pria itu ingin menyerang Tantenya. Benar kehilangan kesadaran, tidak mengenal Tantenya sama sekali ...


"Ketika kami memiliki kesadaran, kami tidak memiliki ingatan apapun ketika kami masih manusia," Ganesha mendadak buka suara, memecahkan kesunyian di dalam mobil. Nanda melirik, menatap suaminya sebelum kembali memandang ke depan. "Jangan ragu. Kita akan menemukan pamanmu, membawanya, lalu ketika dia sudah memiliki kesadaran, tidak perlu menyebutkan masa lalunya."


Nanda menelan liur paksa. "Bagaimana bila ... dia bertemu dengan Tante?"


"Itu masalah nanti, apakah mereka akan langsung bertemu?"

__ADS_1


Tidak ...


"Bawa saja dia. Hanya satu, bukan masalah. Lagipula, aku memerlukan satu bawahan yang kuat bila keadaan mendesak," ujarnya santai seraya bersandar di kursi.


Nanda berkedip. Terkadang Ganesha tidak berbicara sama sekali, tetapi bila ia sudah banyak berbicara, hal-hal yang menjadi kekhawatirannya akan terdengar seperti omong kosong ...


Nanda terkekeh. "Sayang, semakin lama, aku semakin mencintaimu!" ujarnya senang lalu menambah kecepatan hummer. Ganesha tidak mengatakan apapun, tetapi bibir tipis yang pucat sedikit melengkung. Membentuk senyuman kecil dengan sepasang iris permata hitam yang berkilau indah.


.


.


.


Auman dan dentuman terdengar. Aroma busuk mengudara mencekik pernapasan. Semua orang yang mencoba mendekati sebuah mini market terlihat agresif, menyerang tanpa belas kasihan kepada sosok zombie yang mendekat. Tembakan silih berganti terdengar, bersama dengan tiga kemampuan yang terus menyerang mayat-mayat hidup berbau bangkai.


"Awas!"


DOR!


Tembakan berdentum, kepala zombie pecah meledakkan residu putih dan hitam menjijikan. Namun tidak ada yang berkomentar, mereka hanya melirik sekilas lalu kembali menyerang yang lain. Formasi yang dibuat terdiri dari 3 lapisan yang terstruktur. Sosok paling kuat berdiri sebagai tameng, menyerang paling agresif dan mengincar zombie terkuat, posisi tengah melindungi punggung posisi depan, sambil menyerang sisa zombie yang lolos dan posisi terakhir, bertugas memastikan punggung kedua posisi tetap aman.


Sisa pasukan yang tidak bisa ikut bertarung, bersembunyi di dalam mobil-mobil yang terparkir di luar. Jarak aman yang dibuat beberapa meter membuat mereka cenderung hanya menonton. Sementara beberapa yang lain bertugas memegang senjata dan melindungi orang-orang yang berada di dalam mobil.


Raja, dengan kemampuan membuat peluru sesuai dengan senjata yang dipegang, tidak pernah kehabisan peluru sama sekali. Dalam hitungan detik selongsong yang kosong akan terisi. Dengan akurasi tembakan yang tepat, sosok jangkung dengan rambut dipotong cepak itu terus menembaki kepala zombie. Ketika ia berhadapan dengan zombie level, tembakan akan berubah menjadi berkali-kali lipat dalam hitungan detik. Memecahkan cangkang zombie yang keras selayaknya baja yang dilubangi.


Wush!


Raja refleks menunduk saat mendengar hembusan angin dan niat membunuh yang kuat. Jantungnya mencelos, hanya beberapa cm, kepalanya akan terpenggal oleh sebuah tangan tajam yang kokoh dan berwarna kelabu. Pria jangkung langsung melangkah mundur, menjaga jarak dan menghujani dengan tembakan kepada sosok utuh berkulit kelabu.


"Aaagghh!" auman kemarahan menggema. Zombie-zombie yang semula tersebar, menyahut kemarahan pemimpin mereka. Tindakan semua zombie berlevel di bawahnya menjadi lebih agresif. Menyerang dengan membabi-buta seolah tengah melampiaskan amarah.


Raja harus menembak dalam jarak tertentu agar daya tembak menjadi meningkat. Namun pergerakan zombie yang lincah membuatnya benar-benar harus waspada. Jantung berdegup kencang, adrenalin meningkat. Ia tahu, semakin lama zombie level 4 tidak diselesaikan, semakin terkuras stamina yang ia miliki. Pria jangkung itu mengegretakkan gigi, tanpa sungkan mengambil keputusan. Ia berlari mendekat lalu tanpa ragu, mengarahkan kedua pistol di tangan ke arah yang sama dan melepaskan tembakan.


DOR!


Deg.


Jantung Raja mencelos. Jaraknya dengan zombie level 4 berada pada jangkauan serangan dan kepala yang menjadi sasaran ...


Tidak berlubang sama sekali.


"Awas Bos!" semua orang berteriak. Horror bukan main melihat pemimpin mereka akan merenggang nyawa. Namun tepat ketika mereka berpikir akan kehilangan seorang pemimpin, sebuah cahaya menghalangi pengelihatan, bersama dentuman yang membuat debu berterbangan.


Sadar dari keterkejutan, dalam persekian detik pria yang nyaris merenggang nyawa, langsung mengambil jarak. Auman kemarahan zombie level 4 terdengar. Sosok pria jangkung dengan setelan tentara mendadak muncul di tenga-tengah pertempuran. Tanpa ragu sama sekali, menyerang zombie level 4 dengan sambaran petir yang menyilaukan dan kuat.


Zombie, yang semula begitu lincah dan tak terkalahkan, kini hanya bisa mengaum kesakitan, tersetrum oleh momentum listrik bertenaga lebih dari 1000Volt. Kulit kelabu yang setebal besi, dengan mata telanjang, menghitam dan menjadi gosong, diiringi dengan suara yang tidak lagi terdengar dan tubuh yang terjatuh di atas tanah.


Hening.


Semua orang tercenga dengan momentum yang terlalu kuat ini. Zombie level 4 bukan perkara mudah, mengalahkannya hanya dalam hitungan detik, sosok pria bertopeng iblis yang mendadak muncul benar-benar membuat semua orang membeku syock. Tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Pria ini ... pria ini terlalu kuat.


"Jangan lengah!" Raja mendadak berteriak--menyadarkan rekan-rekannya yang teralihkan pikiran. "Bersihkan zombie yang tersisa!"


Semua orang, tanpa ragu kembali waspada. Pemimpin para zombie telah mati, kini semua zombie hanya bergerak melalui insting dan tidak sekuat sebelumnya. Para penyerang, tidak perlu memakan waktu lama, berhasil membunuh semua zombie setelah 3 jam penyerangan tanpa henti.

__ADS_1


"Siapa pria itu?"


"Dia ... dia terlalu kuat."


"Apakah orang-orang dari militer?"


"Bukankah jelas dari seragamnya?"


"Sssst! Diam! Boss mendekatinya!"


Semua orang yang semula berisik, mendadak diam saat melihat pria jangkung yang merupakan Boss kelompok ini, berjalan mendekati sosok bertopeng. Ketika kedua pria berdiri saling berhadapan, tinggi keduanya terlihat berbeda. Sosok bertopeng terlihat sedikit lebih tinggi, dengan aura misterius ketika ia hanya berdiri diam tanpa sedikitpun suara.


"Terima kasih sudah menolong kami," ucap Raja tulus. Pria ini bukan hanya menyelamatkan nyawanya, tetapi juga membantu kelompok mereka untuk menghadapi zombie level 4. Ia tidak bisa sembarangan menghadapi sosok yang lebih kuat. Sedikit menyinggung perasaannya, itu bukan sesuatu yang baik.


"Sama-sama!"


Entah muncul dari mana, sosok yang lebih pendek mendadak keluar dari belakang pria bertopeng. Perempuan berkuncir satu, dengan wajah mungil dan sepasang iris cokelat yang bulat itu tersenyum lebar, terlihat ceria dan imut, sangat kontras dengan pria bertopeng iblis merah di sampingnya.


Raja mengernyitkan alis. Menatap Nanda yang entah dari mana, muncul begitu saja. Oh, apakah karena semua orang terlalu fokus dengan pria bertopeng, gadis kecil ini jadi tidak terlihat? Nanda sebenarnya memiliki tinggi yang standar meski tidak mencapai 160cm, tetapi berdiri di samping Ganesha yang memiliki tinggi 190cm, ia hanya terlihat sangat mungil.


"Halo Kakak! Karena kami sudah membantu, hasil panennya dibagi rata, bagaimana?" ucap Nanda blak-blakan. Nadanya polos, dengan sepasang mata bulat berkerlap-kelip kekanakan. Terlebih dengan kaos hitam motif kelinci putih dan celana pendek selutut, Nanda benar-benar terlihat seperti remaja.


Raja menatap ke arah pria bertopeng, lalu menatap perempuan yang dengan manja, memeluk sebelah tangan pria di sampingnya. Keduanya jelas intim dan ketimbang pria bertopeng, perempuan ini terlihat lebih mudah untuk diajak berbicara meski terlalu ... terlalu ceria hingga membuat risih.


"Oke," Raja tanpa sungkan setuju. Bagaimanapun, tidak ada orang yang benar-benar baik mau menolong tanpa pamrih, terlebih di waktu seperti ini. "Berapa banyak yang kalian inginkan?"


Mata Nanda cerah. "Kami mau setengah!"


"Tidak," Raja refleks menolak. Alisnya mengernyit mendengar kata setengah bagian harus diberikan kepada dua orang ...


"Pelit," Nanda mengerucutkan bibirnya, lalu berdecak. "Bagaimana bila 1/3 saja? Setuju? Oke?"


"1/4," Raja mencoba bernegosiasi.


Nanda melotot. "Kok ditawar lagi?!"


Menghela napas, pria jangkung itu melirik pria bertopeng yang sedikitpun tidak mengeluarkan suara. "Kami memiliki kelompok dengan banyak orang, jumlah persediaan di minimarket juga belum tahu seberapa banyak," jelasnya sabar. "Kalian hanya berdua, sementara kami banyak orang, akan tidak adil bila kalian mendapatkan bagian yang ... terlalu banyak."


Mencoba membujuk dan memberikan alasan yang masuk akal, Raja jadi banyak berbicara. Oh, ini bukan alasan, ini kenyataan. Mereka terdiri dari beberapa puluh kepala yang ingin diberi makan, sementara mereka jelas hanya berdua. Lagipula, jelas-jelas mereka tidak meminta bantuan. Siapa yang mengira bahwa kedua orang ini sangat serakah?


"Kakak, kamu sendiri yang bertanya, mau berapa banyak? Giliran aku menjawabnya dengan jujur, Kakak menawar dan pada akhirnya yang memutuskan hasilnya? Astaga ... nyawamu hanya seharga 1/4 dari jumlah total persediaan di mini market ini?! Sangat murah! Bila tahu harga nyawamu semurah itu, kami tidak akan menolongmu!"


" ... ."


Dari mana munculnya iblis kecil ini ...


Semua orang tercenga dengan mulut kecil yang sangat tajam itu. Nadanya kekanakan, tetapi ucapannya sangat berani. Sungguh, tidak ada yang berani berbicara seperti itu tentang Boss, terlebih di hadapannya langsung ... bila bukan karena sosok kuat disampingnya, mereka semua yakin bahwa Boss akan langsung membunuh anak itu ditempat.


Melihat Raja yang terdiam dengan alis mengernyit dan bibir terkatup rapat membentuk garis lurus, Nanda hendak membuka mulutnya lagi. Namun, saat merasakan sentuhan di kepalanya, ia mendongak. Menatap sosok bertopeng yang dengan lembut mengusap kepalanya.


Sepasang mata bundar berkedip, sebelum akhirnya terkekeh dan langsung menghambur ke dalam pelukan pria yang lebih besar.


"Oke, lupakan. Aku cuma bercanda," ujarnya--sukses membuat beberapa orang yang mendengarnya melotot. Negosiasi serius seperti ini, dianggap bercanda?! Sungguh, mereka ingin mencekik iblis kecil ini! "Ambillah semua, kami tidak memerlukannya. Tetapi sebagai gantinya, Kakak, kami ingin bertanya beberapa informasi."


Raja kesal. Anak ini jelas bermain-main dengannya, membuat tangan sang pemimpin gatal ingin melubangi kepala itu dengan peluru. Namun begitu mendengar kata-kata terakhir, Raja tidak langsung menjanjikan. "Informasi apa?"


Mengerucutkan bibirnya, sosok berkuncir itu melotot. "Haruskah kita berbicara di sini? Kakak, di sini panas dan aku capek!"

__ADS_1


Raja terdiam selama beberapa detik. Menatap sosok perempuan yang bersikap lengket dan manja, lalu memandang sosok bertopeng. Pada akhirnya, ia mengangguk. "Oke, ikut aku."


__ADS_2