Zombie

Zombie
21: Pengguna Kemampuan


__ADS_3

Karakter ketiga pemuda masih cukup jelas di dalam ingatan Nanda. Mereka semua adalah para Mahasiswa yang cenderung naif, penakut dan agak ceroboh. Bahkan dari pertengkaran kecil di balik pintu baja yang kokoh, Nanda mati-matian harus menahan tawa karena mereka yang saling mendorong satu sama lain.


"Bro, lo duluan yang buka pintu, Lo yang bilang kan kalo cowok tuh harus mengutamakan cewek."


"Eh? Kok gue?"


"Halah, pengecut kalian! Biar gue aja ah!"


"Eeehh tunggu! Tunggu! Waspada oi, jangan-jangan penipuan di luar!"


"Di luar ada cewek, bukan penipuan!"


Beberapa detik kemudian, Nanda mendengar suara sepatu yang melangkah mendekati pintu baja. "Siapa di luar? Kamu sendirian atau berkelompok?" Genta bertanya--suaranya agak besar. Menggema di dalam gedung, seolah takut bahwa orang yang berada di luar tidak bisa mendengar pertanyaan.


"Berkelompok, 2 orang dewasa dan lima anak kecil," Nanda menjawab dengan jujur. Toh di dalam adalah anak-anak klubnya sendiri. "Bisakah kalian membukakan pintu? Di luar ada banyak zombie dan sekarang sedang badai. Aku tahu itu kalian."


Suara Nanda cukup besar. Ia menggunakan suaranya yang biasa dan wanita ini cukup percaya diri untuk ketiga sekawan langsung mengenali suaranya meski hujan badai agak mengganggu pendengaran.


Jeda beberapa detik, tidak ada yang berbicara untuk sementara waktu sampai akhirnya, Nanda mendengar suara Genta kembali. "Itu ... Kak Nanda?" tebaknya ragu-ragu.


Nanda mengkulum senyuman. "Ya, ini aku," ujarnya. "Genta, buka pintunya! Kamu tega buat Kakak kedinginan di luar?!"


Dalam hitungan detik, terdengar keributan di balik pintu baja. Suara-suara benda berat bergesekan di atas tanah menajam, menusuk telinga. Namun Nanda hanya diam di tempat, menunggu hingga akhirnya, kedua pintu baja dibuka lebar-lebar dan memamerkan tiga kepala pemuda yang sangat ia kenal.


"KAK NANDA!" Ada kejutan dari suara ketiga pemuda. Wajah mereka berseri-seri, seolah melihat malaikat penolong yang turun dari langit. Tanpa ragu, ketiganya berlari mendekati sosok wanita yang lebih pendek dari mereka. Tiga Mahasiswa, yang hampir lebih dari sebulan lalu ia lihat, berubah menjadi lebih kurus dan berkulit hitam. Oh, begitu menyedihkan.


"Apaan? Haduh, lama gak ketemu, kalian makin jelek aja," Nanda berujar jenaka, berhasil membuat ketiganya melotot.


"Siapa yang jelek?! Ini bukti kekuatan Kak!"


"Jelek-jelek gini, kami kuat Kak!"


"Sorry bro, gue ganteng, lo aja yang jelek."


"Oy! Gak setia amat lo jadi kawan!"


Nanda tertawa melihat ketiganya mulai bertengkar. Oh, tidak peduli sesudah atau bahkan sebelum virus menyebar, sepertinya ketiganya akan tetap selalu ramai dan konyol. "Sudah ah. Pokoknya, kalian bertiga jelek, puas? Nah, aku mau masuk, kalian menyingkir dulu."


Tanpa membiarkan ketiga bereaksi, Nanda sudah menerobos hujan. Masuk ke dalam mobil pick-upya dan meraih walkie-talkie. "Te, masuk," ujarnya lalu mulai menginjak gas dan memasukkan mobil ke dalam bangunan. Dengan mudah, Nanda melihat beberapa mesin besar terpampang. Jelas, ini bukan gudang, ini ... pabrik bekas.


"Kalian di sini sudah lama?" Nanda ke luar dari mobil, menggunakan kemampuan air dan memeras semua air yang menempel pada tubuh. Dalam hitungan detik, ia kembali kering. Sukses membuat tiga pasang mata melotot tidak percaya.


Bagaimana bisa tubuh yang semula basah kuyup, mendadak kering?! Oh! Apakah yang mereka lihat ini adalah sihir?! Nanda juga orang-orang yang bisa melakukan keajaiban?!


Nanda menyeringai, menatap ke belakang bak yang dibajiri air dan melakukan hal yang serupa. Mengangkat semua lapisan air yang menggenang dan membuangnya ke tanah hingga membuat bahan makanan yang tertutup pelastik, kini kembali kering dan aman.


Mata ketiga mahasiswa mendadak cerah, wajah itu berseri-seri, seolah menonton sebuah pertunjukan sirkus yang luar biasa. Namun sebelum mereka buka suara, perhatikan ketiga pemuda beralih ke sebuah hummer yang ikut masuk ke dalam gedung.


"Bantu tutup pintunya lagi!" Nanda terkekeh, berjalan mendekati pintu besi dan menutup pintu. Ketiga pemuda tersentak. Mereka menurut. Berlari mendekati pintu dan membantu untuk menutup lapisan baja agar tidak mudah terbuka. Empat orang menahan pintu dengan beberapa barang berat yang didorong.


"Pintu keluar pabrik ada berapa? Cuma ini?" tanya Nanda seraya menatap sekeliling. Ruangan ini besar, dengan beberapa mesin kecil dan raksasa.

__ADS_1


"Kami juga baru sampai Kak, belum beneran kami cek," jawab Genta jujur.


"Lagian, sekarang terlalu gelap, paling gak kami dah nahan beberapa pintu biar gak bisa kebuka," Bobi menambahkan.


Benar. Satu-satunya pencahayaan mereka adalah dua lilin yang memancarkan cahaya redup. Bergoyang dan terlihat akan padam kapan saja ketika angin berhembus. Nanda nyaris lupa bahwa ia bisa melihat di dalam kegelapan, itu sebabnya ia agak terkejut ketika Bobi mengatakan prihal keadaan yang gelap.


Baru beberapa detik pemuda itu mengeluh prihal suasana yang gelap, sebuah bola api mendadak melayang. Memberikan pencahayaan yang jauh lebih baik ketimbang dua lilin nyaris padam yang ketiganya miliki. Keberadaan bola api yang mendadak muncul sukses membuat ketiga mahasiswa ketakutan.


"Sekarang sudah lebih terang," Erica berujar. Ia baru saja keluar dari hummer bersama lima kurcaci di belakangnya. "Mau keliling dan langsung ngecek, Nda?" tanyanya seraya menoleh memandang ke arah Nanda, mengabaikan tiga pasang mata yang memandang Erica dengan mata melotot tidak percaya


"Kak Erica?" Beo Genta.


"Kak Erica sama Kak Nanda?" Ken menelan liur paksa. "Itu ... dan mereka?" tanyanya begitu melihat kelima anak kecil yang berada di belakang wanita berambut pendek.


"Oh itu anak-anaknya Tante," Nanda menjawab enteng. Ia berjalan mendekati para kurcaci lalu mengusap kepala Raga. "Nah, kalian berlima kenalan sama kakak-kakak itu, dan akrab-akrab, Kakak dan Kak Erica mau patroli," ujarnya. Kelima kurcaci mengangguk patuh, menuruti apa yang dikatakan Nanda.


"Gue ikut Kak," Bobi langsung mengajukan diri--tidak tahan melihat dua perempuan harus berpatroli melindungi laki-laki. Oh, harga dirinya sebagai lelaki terasa sakit terinjak-injak bila ia hanya berdiam diri di sini dan membiarkan dua perempuan bekerja.


"Gak, kalian tetap di sini. Jagain anak-anak," Erica langsung menolak. Tegas tidak membiarkan salah satu dari ketiga pemuda mengikuti.


"Makin rame kan makin bagus Kak," Genta menyangkalnya. "Gue juga ikut Kak,"


"Eh? Jadi gue sendirian jagain mereka?" Ken menatap tidak percaya kepada kedua sohibnya. Ia refleks menunjuk diri sendiri dengan ekspresi 'are you sure?'. Hello! Ia bukan babysitter, okay!? Kenapa mereka begitu tega bersekongkol untuk menjadikan ia satu-satunya orang yang berada di zona aman sementara kedua temannya bersikap keren dengan berpatroli menjaga wilayah?!


Nanda tertawa. "Aku dan Tante saja cukup. Kalian bertiga baiknya jaga anak-anak, itu juga tugas penting."


"Tapi--"


"Sudahlah, jangan melawan," Nanda menyela. Tersenyum lima jari lalu merangkul Tante yang lebih tinggi darinya. "Kami pergi dulu, jaga anak-anak. Kalau sampai mereka kenapa-napa, burung kalian kusunat bersih!" ancamnya seraya membuat pose menggunting dengan jari--sukses membuat ketiga pemuda refleks memegang selangkangan mereka dengan wajah horror. 


Tertawa puas dengan reaksi yang diberikan ketiga junior, Nanda dan Erica mulai berjalan mengelilingi pabrik. Mereka berjalan terpisah dan saat itulah Nanda menggunakan kemampuan anginnya. Ia memindai daerah sekitar seraya menatap beberapa mesin besar yang beberapa meter lebih tinggi. Berdiri kokoh dan tertutup debu. Bila bukan karena senter kecil yang dibawa, Nanda yakin Erica akan curiga bahwa ia bisa melihat di dalam kegelapan.


Yah ... memamerkan kemampuan, terkadang bukan hal yang baik. Sejauh ini, ia hanya menunjukkan kemampuan air. Baik Erica maupun para kurcaci, hanya tahu bahwa ia memiliki kemampuan air.


Menghela napas seraya berjalan diantara dinding dan mesin-mesin tinggi, Nanda melihat beberapa pintu telah ditutup dan dihalangi oleh beberapa hal seperti meja atau benda-benda berat lainnya. Namun, Nanda merasa itu tidak cukup. Jadi ia dengan enteng mengeluarkan kemampuannya. menyegel pintu dengan lapisan es tebal yang dingin dan sekeras kristal.


Memanfaatkan keberadaan cuaca yang sedang badai, Nanda memejamkan mata dan membuat semua pintu disegel oleh lapisan es. Namun ia melakukannya dibalik pintu--membuat lapisan es transparan dan dingin tidak akan terlihat dari bagian dalam pabrik.


Merasa cukup berpatroli di lantai bawah, Nanda menaiki tangga besi dan berjalan menuju lantai 2. Tidak seperti lantai dasar, lantai dua hanya terdiri dari 3 ruangan berbeda yang masing-masing dinding hanya dilapisi oleh jendela kaca sehingga dengan mudah, dari luar melihat suasana ruangan yang merupakan sebuah ... lab.


Nanda terdiam selama beberapa detik, sebelum akhrnya dengan refleks menatap sekelilingnya. Setelah merasa aman, tanpa suara sama sekali ia memasuki lab. Menyentuh semua peralatan dan memasukkannya ke dalam dimensi ruang.


Setiap Pangkalan, secara bertahap akan mulai mencari para peneliti dan membuat lab mereka sendiri untuk melakukan penelitian. Nah, untuk membangun lab ... tentu saja memerlukan peralatan. Karena itu, tanpa sungkan Nanda mencuri semua peralatan di dalam Lab. Tidak meninggalkan apapun yang tersisa di ruangan. Meski ia tahu bahwa peralatan ini pasti tidak terlalu lengkap, tetapi suatu hari pasti berguna.


Puas menjarah, dengan perlahan dan tanpa suara, Nanda membekukan semua jendela luar pada Lab. Bagaimanapun, mencari aman memang lebih baik. Setelah itu, ia langsung turun ke lantai dasar dan kembali ke tempat dimana para kurcaci dan trio jelek berkumpul.


"Kalian sudah akrab?" Nanda tersenyum. Membuka bagian belakang hummer dan duduk di dalamnya. Sepasang hazel yang bulat menatap Ken yang sebelumnya tengah mengobrol dengan Galih dan Leo. Ketiganya duduk di lantai semen, membentangkan sebuah karpet pelastik sebagai alas di dekat hummer yang terparkir. Sementara sisanya, mengerumuni Erica yang sedang memasak. di dekat mobil pick-up. Yah ... dengan kemampuan api Erica, mereka tidak memerlukan kompor untuk memasak.


"Ah? Kakak dah kelar patroli?"


"Hu.um," Nanda mengangguk.

__ADS_1


Ken ragu-ragu. Ia menatap kedua anak kecil yang duduk di dekatnya, sebelum akhirnya menatap ke arah Nanda. "Itu ... Kak, boleh nanya gak?"


Alis Nanda terangkat. "Tanya apa?"


"Yang tadi ... ," Ken menatap Erica, lalu kembali menatap ke arah Nanda. "Kak Erica bisa buat api, lalu Kakak tadi ... itu, mendadak bisa kering. Emm ... itu ... itu apaan Kak? Kok Kakak sama Kak Erica bisa? Err ... bisa ajarin gue juga gak Kak?"


Nanda menyeringai. "Kamu mau belajar?"


Mata Ken cerah. "Iya Kak!"


"Benar mau?"


"IYA!"


"Itu sihir ajaib loh! Mana bisa diturunin ke orang lain! Kemampuan ini, cuma eksklusif untuk cewek-cewek cantik! Jadi, kamu harus ganti kelamin kalau mau punya kekuatan ini!" Nanda berujar serius. Mengangkat dagu dan menatap sombong ke arah Ken hingga sukses membuat wajah pemuda itu berubah jengkel.


"Kak, gue nanya serius loh, gak becanda ini!"


Nanda mengkulum senyumannya. "Lah? Aku juga serius kok. Kemampuan ini tidak bisa dipelajari."


Ken canggung. Pemuda itu menelan kekecewaannya mendengar apa yang Nanda katakan. Serius? Tidak bisa dipelajari? "Gimana ... gimana caranya biar bisa dapet kemampuan kayak gitu Kak? Masa' beneran harus ganti kelamin?"


Kali ini Nanda tidak langsung menjawab. Ia menatap Ken selama beberapa detik, terlihat mempertimbangkan sesuatu sebelum akhirnya kembali membuka mulut. "Ken, kamu tahu sendiri kan zombie di luar sana terjadi karena orang-orang tidak bisa bertahan melawan Virus?"


Ken mengangguk. Ia memang mencurigai hal itu. Sebagai seseorang yang lebih menyukai membaca buku komik ketimbang membaca buku pelajaran, Ken bisa menebak bahwa zombie ini disebabkan oleh Virus sama seperti di film-film yang ditontonnya atau komik online yang dibaca secara geratisan.


Nanda bertopang dagu dengan sebelah tangan. Membuat tubuh kecil cenderung condong ke depan. Namun, mobil hummer yang tinggi dan keberadaan Ken yang duduk di lantai masih membuat pemuda itu harus mendongak menatap sosok yang akan menjelaskan prihal kemampuan.


"Setiap manusia, memiliki kemampuan antibodi yang berbeda-beda. Dengan Virus zombie yang menyerang kekebalan tubuh, reaksi individu juga berbeda. Beberapa orang bisa menghalau virus sehingga mereka tetap akan menjadi manusia biasa, tetapi untuk mereka yang tertelan oleh virus dan tidak bisa mengendalikannya ... sebagian besar akan berubah menjadi Zombie, tetapi beberapa orang yang beruntung ... ."


Nanda tersenyum lima jari. Sebelah tangan yang bebas terangkat, lalu sebuah kristal cair transparan meliuk di udara. Bergerak berputar-putar bak ular sesuai dengan keinginan Nanda. Pemandangan itu membuat mata Ken refleks fokus ke air yang mendadak muncul dari udara kosong. "Terbangun tidak sebagai zombie, tetapi sebagai pemilik kekuatan sepertiku. Nah, Ken, sekarang kamu tahu dari mana kekuatan ini berasal?"


Ken menelan liur paksa. Oh, dengan kata lain, pemilik kekuatan adalah orang-orang yang sudah bercampur dengan virus zombie dan beruntung karena terbangun masih menjadi manusia? Ken sungguh tidak berani bertanya berapa persen kemungkinan manusia bisa terbangun sebagai pengguna kemampuan dan bukan zombie.


Mengingat betapa brutal, jelek dan busuknya zombie di luar sana ...


"Yah ... tetapi ini informasi umum, hampir semua orang yang pernah ke pangkalan mengetahuinya. Kenapa kalian bisa tidak tahu?" Nanda mengkerutkan kening. Informasi yang didapatnya memang lah hal yang umum, itu sebabnya ia agak heran dan geli dengan reaksi trio pemuda itu ketika melihat mereka tercenga seolah baru pertama kali melihat seorang pengguna kekuatan.


Para pengguna kemampuan lahir bersama dengan zombie yang menyerang, jadi para peneliti juga mulai menggila menyelidiki sebab akibat. Pada akhirnya, beberapa minggu kemudian diambil pengumuman prihal Pengguna Kekuatan pada semua Pangkalan.


Namun ternyata, trio ini memang murni tidak mengetahuinya. Namun, melihat bahwa ketiganya sudah bisa mencapai tempat ini dan meninggalkan daerah Vila dengan selamat, bukankah berarti mereka seharusnya pernah sekali atau beberapa kali bertemu dengan kelompok yang berbeda?


Ken kikuk. Ia terlihat tersipu begitu mendengar pertanyaan Nanda. "Yah ... Kakak tahu sendiri sekarang udah kacau banget. Kami udah ngeliat beberapa orang yang bisa ngelakuin hal ajaib, tapi gak berani nanya atau deket-deket ama kelompok lain, makanya ... kami beneran gak tahu soal ini."


Nanda menghela napas. Pantas saja ...


"Waspada memang hal yang penting, tetapi jangan sampai ketinggalan informasi hanya karena terlalu paranoid dengan orang lain. Bagaimanapun, informasi adalah hal terpenting yang pertama kali harus kalian ketahui sebelum bergerak," ujarnya seraya bangkit berdiri. Nanda merenggangkan tubuh, lalu tersenyum lima jari menatap Ken dan dua kurcaci. "Oke, Tante hampir selesai buat makan malam, ayo gabung sama mereka."


Ke dua kurcaci dengan semangat langsung berdiri dan berlari menuju kelompok Erica, sementara Ken masih merasa canggung. Pemuda itu secara bergantian menatap punggung Nanda yang menjauh, lalu kelompok kecil yang di dalam lingkaran hangat api unggun.


Hanya ada 2 orang pengguna kemampuan, 3 orang biasa dan lima anak kecil. Kelompok ini bisa dikatakan lemah dengan anggota yang memiliki kecenderungan untuk lebih banyak untuk dilindungi ketimbang melindungi. Pemikiran ini membuatnya merasa terganggu. Ia tidak ingin menjadi objek yang dilindungi itu, apa lagi dilindungi oleh perempuan. Hal itu terasa sangat ... sangat memalukan.

__ADS_1


Menggaruk belakang kepala yang tidak gatal, sosok pemuda bangkit berdiri dan menepuk-nepuk ringan bagian belakangnya. Ia menghela napas, menatap kelompok yang didominasi oleh suara tawa dan obrolan, lalu tanpa sungkan mendekat dan bergabung ke dalam lingkaran api unggun.


Ia akan berusaha lebih kuat di kelompok lemah ini ... agar bisa menjadi objek yang melindungi, tanpa harus dilindungi.


__ADS_2