Zombie

Zombie
31: Nukleus Hitam


__ADS_3

Napas terengah-engah, aroma karat dan bangkai menyatu membentuk bau busuk yang memuakkan. Saat hamparan rerumputan luas yang semula indah kini hancur, siapapun tidak akan pernah bisa menikmati suasana.


Tanah merah berhamburan, beberapa ledakan dengan tekanan tinggi mengudara memekakan telinga, pepohonan di sekitar tumbang.


Sepasang pedang telah patah, terbengkalai menjadi tak berguna. Nanda hanya bisa memanfaatkan kemampuan air dan udara sebagai temeng dan penyerang.


"GRAAAOOO!"


Auman dengan tekanan udara yang membuat gravitasi terasa lebih berat menggetarkan sekitar. Sosok kucing besar dengan tubuh berbulu penuh otot menggelengkan kepala hingga serbuk tanah lepas dari tubuh. Namun pergerakan itu tidak memberikan Nanda beristirahat. Hanya beberapa detik, sosok loreng kembali bergerak menyerang. Setiap otot berkontraksi, sepasang iris emas fokus menatap sosok manusia.


Selayaknya pemburu dan mangsa, kucing besar tanpa ragu langsung melompat. Mengarahkan cakar besar, membuka mulut penuh taring, kembali menerkam mangsa yang begitu gigih bergerak.


Nanda berguling, menggunakan kemampuan angin untuk menambah kecepatan menghindar. Ia mati-matian ingin mencoba membuat harimau ini diam, tetapi sebelum es terbentuk, sosok besar dengan kuat bergerak dan menghancurkan es yang belum sempurna terkonsentrasi. Hal ini sangat merepotkan ketika menyadari bahwa waktu yang diperlukan untuk membentuk es terasa sangat lama.


Membentuk es yang kuat dan solid hanya memerlukan waktu beberapa detik, tetapi di dalam pertarungan , beberapa detik itu terasa sangta lama. Berulang kali, Harimau besar mengaum menghancurkan es. Cakar yang kuat dan kotor selalu mencoba mecabiknya. Bila bukan karena kecepatannya yang dibantu kekuatan angin mejadi lebih unggul, semua luka yang didapatkan akan menjadi lebih berat.


BRAK!


Berguling dan menghindari cakaran, pohon yang berada di belakang Nanda runtuh. Jatuh menghantam tanah dan mengepulkan debu. Namun wanita bertopeng menyeramkan ini tidak berhenti bergerak. Meski tubuh telah penuh dengan memar dan luka, itu semua tidak berarti apapun ketika adrenalinnya meningkat.


Zombi harimau sialan ini benar-benar kuat dengan kulit yang terlalu keras!


Nanda ingin menangis rasanya, sungguh ia sangat frustasi. Bila bukan karena kemampuan udara, Nanda yakin ia dengan mudah ditangkap. Selain lebih kuat, Harimau ini sialnya juga memiliki kecepatan yang baik. Nanda harus sekuat tenaga mendorong kemampuan udara untuk membantu ia menghindari setiap cengkraman dari kuku-kuku tajam.


Slash!


Air yang memadat dan mendidih menjadi bilah tajam, kembali memberikan goresan pada kulit harimau, menyebabkan cairan hitam keluar dan sosok kuat mengaum marah. Namun beberapa deitk kemudian sama seperti luka itu dengan cepat tercipta, dengan mata telanjang, luka kembali menutup dengan sendirinya.


Sialan!


Nanda tidak henti mengumpat di dalam hati. Ia merasa menjadi tikus yang dikejar kucing. Hanya bisa menghindar tanpa perlawanan yang berarti. Setiap serangannya hanya bisa memberikan goresan yang tidak dalam, tetapi bahkan goresan itu dalam hitungan detik akan menghilang. Kemampuan penyembuhan harimau sialan ini, benar-benar keterlalun!


Nanda menggeretakkan gigi. Ia sudah mencoba menyerang seluruh bagian di tubuh besar itu, tetapi ternayata kulit Harimau ini seperti tidak ada celah. Tidak ada bagian yang lembut sama sekali, bahkan kelopak mata sekalipun. Namun ini tidak membuat Nanda putus asa. Ada satu cara untuk mengalahkan harimau ini, di dalam kepalanya, ia memiliki 2 pilihan.


Pilihan pertama, tidak memiliki resiko. Yaitu membekukan Harimau dan melemparkannya dengan granat. Tentu saja, alasan untuk membekukan adalah agar Harimau tidak bisa menghindar. Namun sayangnya, kemampuan membekukannya terlalu lama. Berulang kali, Harimau itu bergerak dan ia tidak berhasil membuat Harimau ini cedera hanya untuk membuat pergerakannya lebih lambat.


Cara yang paling aman ini benar-benar tidak bisa dilakukan.


Harimau ini sangat keras kepala. Makhluk ini tidak melepaskannya sama sekali. Bila terus seperti ini, Nanda akan kehabisan energi dan cepat atau lambat, akan kehilangan nyawa ...


Tidak!


Sepasang hazel berubah dingin. Oh, meski cara ini sangat beresiko dan Nanda sendiri tidak pernah mencobanya, ia masih memiliki kesempatan untuk hidup. Setidaknya, ia memiliki kemungkinan untuk menang setelah melakukannya, lalu mendapatkan nukleus level 5 ...


Menggeretakkan gigi, Nanda tidak lagi menghindari serangan. Sebaliknya, ia justru berbalik, mendekati Harimau itu tepat ketika kedua cakar depan terangkat dan mulut bertaring penuh air liur membuka siap menerkam. Nanda, tanpa keraguan sedikitpun, mengulurkan tangannya, membiarkan tangan kiri masuk ke dalam mulut Harimau.


"Akh!"


Nanda bersumpah mendengar suara tulangnya yang patah! Kedua cakar besar menahannya, mulut dengan rahang yang kuat mencoba menarik lengannya. Namun, diantara kegilaan rasa sakit itu, Nanda langsung menggunakan kemampuan ruang. Mengambil geranat yang telah dilepaskan di dalam ruang, lalu memanfaatkan tangan yang masuk ke dalam mulut harimau, memasukkan benda seukuran telur itu ke dalam kerongkonan sang penyerang.


Dalam persekian detik, dirangsang oleh rasa sakit yang luar biasa, Nanda berhasil membuat lapisan es yang solid menutupi tubuhnya.


BUM!


Suara ledakan, diiringi dengan tekanan udara dan bumi yang bergetar, terjadi dalam persekian detik. Dunia di pandangan Nanda, berubah gelap. Tanah dan debu berterbangan, Namun Nanda tidak bisa menahan es yang melindunginya terlalu lama. Tepat beberapa detik bom meledak, lapisan dingin yang melindungi menghilang.


Bruk!


Nanda terbaring di atas tanah. Ia terbatuk beberapa kali. Debu dan aroma busuk masuk ke dalam mulut, menggaruk kerongkongan hingga ia tidak bisa berhenti batuk. Napasnya terasa sesak, tetapi memanfaatkan sisa energi yang dimiliki, udara berhembus dengan kuat, menerbangkan segala debu yang menghalangi pandangan dan pernapasan.


Tampat ini hancur, membentuk kubah yang berdiameter besar, penuh dengan potongan daging cincang berwarna hitam dan beraroma bangkai.


Nanda terengah-engah. Pandangannya tidak fokus. Kepalanya terasa kosong saat energi terkuras habis. Seluruh tubuhnya terasa dingin dan matirasa. Namun konsentrasi energi yang besar dan padat membuatnya teralihkan.


Energi itu seolah menggoda, memanggilnya untuk mendekat. Pikiran Nanda masih terasa kacau, tubuh yang terasa hancur, secara insting merangkak menuju sumber energi. Ia, bagaikan musafir di padang pasir. Haus akan air, gila saat menemukan sepercik kilau mirip seperti oasis. Lalu ketika tubuh penuh luka berhasil menemukan sebuah permata sekecil sebutir beras berwarna hitam, Nanda membeku.

__ADS_1


Perlu beberapa detik untuk wanita itu mencerna apa yang dipegangnya. Benda yang nyaris sekecil sebutir pasir dan bahkan hampir dikira sebagai kerikil jalanan ini ... nukleus level 5?


Nanda tertawa miris di dalam hati. Seluruh tubuhnya sakit, remuk redam. Terutama pada bagian lengan kiri yang kini menghilang, tidak henti mengeluarkan darah bak air yang mengucur deras. Oh, sialan! Harimau itu hanya memiliki nukleus hitam sekecil upil?!


Nanda benar-benar ingin mengumpat, tetapi ia masih dengan keras kepala merangkak keluar dari lubang. Tertatih-tatih, setiap langkah bagaikan tusukan seribu jarum ke seuruh tubuh. Gravitasi bumi seolah bertambah berkali-kali lipat, membuat tubuh bukan hanya sakit, tetapi juga sangat berat.


Nanda terbatuk. Akhirnya ia berhasil merangkak keluar dari lubang dan jatuh terbaring di atas rerumputan. Oh, ia menang. Ia mendapatkan nukleus hitam dan berhasil menyelamatkan nyawanya sendiri, tetapi sayangnya, bayaran untuk menang terlalu mahal. Lengan kirinya menghilang, sebagai ganti untuk mempertahankan nyawa.


Oh, tidak. Kehilangan satu tangan bukan apa-apa. Ia masih punya tangan yang lain, kehilangan satu tangan untuk membayar nyawanya, sudah menjadi hal yang baik.


Nanda memejamkan kedua mata. Tubuhnya tidak henti gemetar karena rasa sakit, terutama pada tangan kiri yang terputus dan mengeluarkan darah hitam ...


Sepasang hazel membola sempurna.


Tidak! TIDAK!!!


Panik bukan main, Nanda refleks mengeluarkan nukleus dan menyerap energinya. Ia berkonsentrasi. Mati-matian memanfaatkan kemampuan air untuk mengendalikan aliran darah yang berada di dalam tubuh. Ia dapat merasakan virus mulai menyebar, tetapi dengan kemampuan air, Nanda mengurung virus-virus itu, menggiringnya keluar dari lengan hingga darah hitam, tidak henti keluar begitu saja, mengalir bak air bah yang bocor dari dalam tubuh.


Nanda menggeretakkan gigi. Ia tidak henti mengeluarkan nukleus. Berbagai warna, ia keluarkan dan serap begitu saja. Hanya dalam beberapa detik, nukleus itu akan mengembun karena energi yang terserap, langsung digunakan tubuh untuk merangsang regenerasi. Sungguh, tidak pernah Nanda sangka bahwa kemmapuan airnya juga mampu untuk melakukan ini. Meski rasa sakit menusuk-nusuknya, memberikan denyut yang tak tertahankan dan ia bahkan tidak bisa bersuara saking sakitnya, tetapi Nanda mampu merasakan energi besar yang ia serap terkonsentrasi untuk memperbaiki tubuh, terutama ... lengannya yang menghilang.


Terengah-engah, keringat dingin membasahi pelipis. Wajah itu memucat, ia sedikitpun tidak mampu bergerak karena semua energi digunakan untuk menumbuhkan kembali lengan yang menghilang. Oh, entah sudah berapa nukleus yang diserap, semua nukleus putih dan biru sudah habis, hanya menyisakan beberapa nukleus biru muda dan biru tua.


Deg.


Sepasang hazel membola sempurna. Jantungnya terasa mencelos ketika ia mendapati sepasang kaki berlapis sepatu hitam militer berdiri tepat di sampingnya. Napas Nanda tertahan. Tidak percaya dengan apa yang matanya lihat.


Manusia kah?


Ataukah ... zombie?


Takut bukan main, tubuh itu gemetar. Oh, kemampuan anginnya masih berfungsi, bagaimana bisa orang ini tidak bisa dideteksi sama sekali?! Nanda mencoba melihat ke atas, tetapi cahaya matahari menghalangi pengelihatan. Ia hanya melihat bayang-bayang, tubuh kokoh yang tinggi dan mengenakan seragam militer compang-camping.


"Grrrr... ."


Suara geraman itu sukses membuat Nanda merinding.


Seluruh tubuh Nanda membeku kaku. Tekanan udara bersamaan geraman bernada rendah merangsang sekitarnya. Silih berganti, auman zombie terdengar saling sahut menyahut, memekakan telinga dan mampu membuat merinding siapapun. Lalu, suara-suara langkah kaki yang berlarian, terasa semakin mendekat.


Mati.


Nanda benar-benar merasa bahwa ia akan mati sekarang. Gerombolan zombie mulai mengelilinginya. Geraman-geraman itu keluar dari kerongkongan. Aroma busuk memenuhi udara. Nanda bersumpah, ia merasakan banyak zombie level 4 dan 5, sukses membuat napas Nanda terasa sesak bukan main.


Bahkan, hanya menghadapi satu zombie level 5, Nanda sudah mengorbankan lengannya. Apa lagi ... apa lagi--eh?


Nanda membeku. Auman para zombie kian intens, lalu melalui udara dan beberapa hal yang terlihat ... Nanda bersumpah melihat zombie-zombie level atas mendadak bergerak membunuh zombie-zombie level rendah di sekelilingnya. Mereka menggeram, dengan troganisir, langsung menggali nukleus dari dalam otak zombie yang dibunuh. Lalu ketika mereka berhasil mendapatkannya, sosok zombie level 5 langsung berlari mendekat, membuat Nanda gemetar ketakutan.


Namun, ternyata para zombie tidak menghampirinya, tetapi mendatangi zombie yang berdiri di dekatnya untuk menyerahkan nukleus yang mereka ambil ...


Apa?


Nanda bingung bukan main. Mendadak, ia dikelilingi oleh banyak zombie, lalu ia menonton peristiwa aneh bahwa zombie menyerang sesama zombie dan ... dan mereka menyerahkan semua nukleus kepada zombie yang lain? Bagaimana mungkin ...


Ah?


Mendadak, Nanda merasakan sesuatu yang keras dan agak lengket berada di telapak tangannya. Namun, sebelum ia sempat mengira-ngira apa yang berada di genggaman, dengan jelas Nanda melihat sosok zombie di dekatnya berjongkok. Nanda takut bukan main. Ia nyaris menjerit dan hendak bergerak menghindar, tetapi mendadak, ia menyadari bahwa sosok itu, menaruh semua nukleus yang ia terima dari para zombie, ke tangan kanannya hingga membentuk gunung kecil ...


Benda yang berada di tangan kanannya adalah nukleus? Zombie ini ... zombie ini memberikannya nukleus?


Meski masih ketakutan, pikiran Nanda cukup jernih untuk menyadari benda yang menumpuk bak gunung kecil dan bahkan menenggelamkan tangannya memang nukleus. Benda keras ini masih berlumuran darah hitam, membuat Nanda tidak tahu harus melakukan apa dengan nukleus yang diberikan oleh zombie laki-laki yang membelakangi cahaya matahari. Apakah ia harus menggunakannya? Ataukah ... ataukah ia hanya perlu membiarkannya di tangannya?


"Aggh ... ?"


Nanda mengerjap. Zombie itu mengeluarkan suara dari tenggorokan, rendah, tetapi entah bagaimana tidak mengancam. Meski ia masih tidak bisa melihat wajah zombie itu dengan jelas, tetapi Nanda merasa bahwa zombie ini sedang bertanya kepadanya? Oh, mampukan zombie berkomunikasi?! Nanda sungguh tidak tahu bagaimana cara untuk bereaksi.


Mendadak, Nanda merasakan tangannya ringan. Sepasang hazel melihat semua nukleus yang berada di tangannya terangkat ke udara lalu dicuci di dalam bola air ...

__ADS_1


Apa yang zombie ini lakukan?


Sungguh, Nanda penuh dengan tanda tanya. Ia hampir mati, dikelilingi zombie, lalu ... oh, harus bagaimana lagi ia harus menggambarkan perasaannya?


Seolah puas dengan nukleus yang bersih, sosok zombie kembali menaruh nukleus yang basah ke telapak tangan Nanda


Apa? Apa yang ingin kau lakukan?


Nanda hanya mampu diam dan zombie itu juga diam. Lingkungan mendadak hening, menciptakan ilusi aneh yang membuat jantung Nanda berdebar keras. Kali ini, hanya satu nukleus, sisa yang lain dibiarkan masih tergenang di dalam bola air yang melayang-layang.


Nanda takut untuk bergerak, ia hanya bisa diam dan berpura-pura mati. Namun zombie ini jelas tidak membiarkannya terus diam. Jemari kasar dan dingin membuat gerakan pada tangan Nanda, memainkan jemari Nanda dengan hati-hati hingga tangan Nanda membentuj kepalan dan membuat posisi menggenggam nukleus ...


Zombie ini adalah zombie pengguna kekuatan dan ... dan dia memintaku menyerap nukleus?


Dari balik topeng yang menyeramkan, Nanda mengernyitkan alis. Jantungnya tidak henti berdegup kencang. Jujur, ia masih takut. Bagaimana bila ia menyerap nukleus ini, zombie ini akan langsung menyerangnya? Atau jangan-jangan ia hanya ingin memberitahu bahwa zombie ini menitipkan nuklesu ke dalam ruang dimensinya?


Nanda merasa bahwa pilihan terakhir adalah kebenaran. Karena itu, ia langsung memasukkan nukleus yang berada di tangannya, ke dalam ruang dimensi.


Zombie itu tertegu. Jemari dingin dan kasar langsung membuka tangan Nanda dan mendapati nukleus yang diberikan menghilang. Ia langsung membolak-balik tangan Nanda. Gerakannya panik, membuat Nanda langsung mengetahui bahwa ia mencari nukleus yang dimasukkan ke dalam ruangannya.


"AARRGG!"


Jantung Nanda terasa mencelos. Zombie di sampingnya mendadak mengaum marah. Dari nada suaranya, jelas ada kemarahan. Tindakan ini bukan hanya membuat Nanda ketakutan, zombie di sekitarnya bahkan gemetar dan langsung menundukkan kepala--bertingkah selayaknya murid nakal yang dilemparkan masuk ke dalam ruang BK ...


Oh, apakah zombie ini ingin ia mengembalikan nukleus lagi?! Oke! Ia akan mengembalikannya! Ia akan segera mengembalikannya berkali-kali lipat!


Benda keras yang diletakkan di telapak tangannya menyadarkan Nanda dari ketakutan ekstream. Ia kaku, mendapati zombie itu kembali memberikan nukleus dan membuat gerakan agar Nanda menggenggam. Kali ini, Nanda sadar bahwa jawabannya salah.


Menela liur paksa dan agak ragu-ragu, Nanda menyerap nukleus. Lalu seperti insting, energi yang baru saja masuk langsung bergerak untuk menumbuhkan lengan kiri yang hilang ....


Kali ini benar kan? Kan?


Mendadak, Nanda benar-benar merasa seperti anak SD yang sedang ditanya guru untuk ke depan kelas. Menjawab pertanyaan dan takut bila memberikan jawaban salah. Namun jawaban salah anak SD dan dirinya jelas berbeda.


Anak SD jelas hanya akan mendapat ejekan, sementara ia ... mungkin ... mungkin ... ia akan kehilangan ... nyawanya?


"Agh!"


Nanda kaku. Tubuhnya gemetar, takut bahwa zombie ini bergerak menyerang. Namun anehnya geraman kali ini tidak agresif, lebih terdengar seperti ... bersemangat?


Bingung bukan main, Nanda membiarkan zombie itu membuka telapak tangan Nanda, lalu menaruh nukleus yang lain. Jelas ia bisa merasakan apakah nukleus sedang Nanda serap atau menghilang di udara ...


Zombie ini menyuruhnya untuk menyerap nukleus?


Sungguh, Nanda benar-benar dibuat bingung, tetapi mengingat ia memang membutuhkan nukleus, Nanda tidak merasa sungkan sama sekali. Ia langsung menyerap energi nukleus dan setiap nukleus menghilang, dengan dedikasi tinggi, zombie di sebelahnya akan mengisi dengan nukleus yang baru.


Pelan, tetapi pasti, tangan kirinya tumbuh sedikit demi sedikit. Entah berapa banyak nukleus yang Nanda serap, zombie-zombie di sekitarnya dengan setia akan membunuh jenisnya, mengambil nukleus dan memberikannya kepada Nanda.


Nanda ... entah bagaimana, untuk pertama kalinya, ia merasa bersalah dengan semua zombie yang terbunuh itu.


Merasakan bahwa tangan telah tumbuh dengan sempurna, juga seluruh luka di tubuhnya telah dipulihkan, Nanda menghela napas lega. Ia membuka kedua mata dan mendapati gambar hitam-putih selayaknya sebuah TV jadul ...


Eh? udah malam?


Nanda mengerjap beberapa kali. Ia memejamkan mata agar bisa menyerap energi dengan baik. Bukan hanya dari nukleus, tetapi juga dari sekitarnya ketika ia sendiri merasak banyak darah yang tumpah ... oke, darah juga merupakan cairan. Oh, selama banyak cairan disekitarnya, ia akan merasa lebih baik. Karena itu, ketika tangan kirinya telah utuh, Nanda tidak memerlukan nukleus kembali. Namun sekarang ... sepertinya ini tengah malam?


Agak meringis, Nanda mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk. Oh, kepalanya pusing sekali, seluruh tubuhnya lemas. Energinya memang penuh, tetapi fisiknya tidak bisa menanggung.


Mengernyit alis, Nanda bisa merasakan banyak zombie masih mengelilingi. Sosok berpakain tentara juga masih berjongkok di sebelahnya ...


"Agh?"


Nanda menoleh, pandangannya agak kabur. Namun, ketika sepasang hazel akhirnya fokus menatap wajah tampan dengan hidung mancung dan ukiran rahang yang tegas, tubuh itu kaku seketika.


Nanda menahan napas.

__ADS_1


"Ganes--"


Sebelum kalimat itu selesai, pandangan Nanda, mendadak berubah menjadi gelap.


__ADS_2