Zombie

Zombie
10: Mading


__ADS_3

Pagi merambat membawa hawa dingin nan sejuk. Tanah masih terlihat lembab, dengan dedaunan basah tertutup embun.


Nanda, yang dengan santai berdiri di depan pagar rumahnya, mengenakan jaket sambil bermain ponsel. Menunggu si penjemput sambil membunuh waktu. Bagaimanapun, suasana pagi ini sangat menyenangkan. Beberapa tetangga yang keluar untuk memulai aktivitas kerap menyapanya, tersenyum dan mengajak mengobrol. Namun bila tidak ada yang menyapa, Nanda akan menunduk, kembali mengscrolling beberapa berita online yang tersedia geratis.


Papanya, malam tadi kembali pergi. Memesan penerbangan malam hingga membuat Mamanya, sekarang kelelahan karena harus seharian berkencan dengan suaminya, lalu pergi mengantar ke bandara sampai larut malam.


"Ternyata lo bangun pagi," ketika Ganesha datang dengan motor bebeknya, sosok itu berkomentar seraya menyerahkan helm kepada Nanda.


Nanda tersenyum bangga. "Woiya dong, sejak kapan aku bangun siang?" ujarnya seraya memakai helm dan duduk di belakang Ganesha.


"Ortu lo mana?" Ganesha tidak langsung pergi, sebaliknya, remaja itu justru menoleh ke belakang. Tidak sopan rasanya pergi tanpa pamit.


"Napa emangnya?"


"Ya pamitlah."


Nanda mendengus geli. "Gak usah pakek pamit-pamitan ah, pamit aja dari dalen ati."


Alis Ganesha terpaut. Hal itu membuat Nanda menghela napas. "Papaku udah pegi, Mama kecapean, jadi belum bangun."


"Pergi?"


"Ho.oh, makanya Mama kecapean sekarang."


Ganesha langsung merasa bersalah. Kecapekan? Oh, apakah ibunya terlalu lelah bekerja? Ia baru tahu bahwa Ibu Nanda adalah orang tua tunggal. Mengingat kembali ke foto-foto di dinding itu, sepertinya, Ayah Nanda pergi belum terlalu lama?


"Maaf," pemuda itu bergumam rendah. "Lo dan Ibu lo pasti kesepian."


Pantas saja Mamanya mengatur foto seperti itu ... bukankah untuk mengenang suaminya? Memamerkan bahwa semasa hidup suaminya, mereka adalah keluarga yang bahagia?


Nanda bingung. Ni anak kenapa mendadak minta maaf? Nada bicaranya juga mendadak aneh. "Gak juga, aku dah biasa, Mama apa lagi."


Melihat Ganesha tidak berbicara kembali tetapi masih tidak juga menjalankan motornya, Nanda tertawa lalu menepuk bahu pemuda itu. "Ayo Om Ojek! Kita jalan!"


"... ."


Ganesha tidak berkomentar apapun dan menjalankan motornya.


Selama di perjalanan, sama seperti kemarin, tidak ada yang mengobrol diantara mereka. Nanda sibuk memandang jalan, menikmati suasana damai kehidupan tanpa pembunuhan.


Udara pagi menerpanya, jalanan lumayan padat tetapi tidak macet. Hal itu membuat Nanda tenggelam di dalam pikirannya.


Ketika naik bus atau bahkan berjalan kaki, kewaspadaannya cenderung meningkat. Keramaian tidak membuatnya aman, itu sebabnya setiap kali pulang, Nanda cenderung lelah karena sarafnya yang tegang.


Namun, sudah seminggu berlalu dan ia sudah mulai terbiasa dengan lingkungan yang tentram ini. Meski masih agak risih bila harus berdesakan, setidaknya sampai sekarang, ia masih bisa mengendalikan refleksnya dengan baik.


Sementara Nanda memikirkan beberapa hal, di sisi lain, Ganesha merasa agak tidak nyaman. Nanda biasa sangat cerewet, tetapi kali ini benar-benar hening. Hal itu membuatnya merasa bersalah. Oh, seharusnya ia tidak membahas soal Papanya?


Seorang gadis akan lebih dekat dengan Ayahnya dan anak lelaki, akan dekat dengan ibunya.


Nanda jelas dekat dengan Ayahnya kan? Anak Perempuan ini selalu ceria, cerewet dan penuh senyuman. Tetapi mendadak ia lebih banyak diam. Tenggelam di dalam pikirannya dan pasti ... sangat merindukan Ayahnya. Kenangan apa yang muncul di pikiran Nanda?


Namun Nanda tidak berani menunjukkan kerinduan yang menyedihkan itu. Ia akan selalu tersenyum, menyembunyikan rasa sakit yang diderita agar tidak menemukan tatapan simpati atau bahkan kasihan dari siapapun.


Sungguh, Ganesha tidak tahu harus menggambarkan suasana hatinya seperti apa pagi ini. Ia terbiasa dengan Nanda yang cerewet dan ekspresif, bukan Nanda yang diam dan murung. Oh, bagaimana caranya agar ia mengembalikan Nanda yang dulu?


Sepasang insan, yang duduk mengendarai motor berdua, jelas berada di dalam frekuensi otak yang berbeda.


Saat Ganesha dan Nanda sampai di sekolah, tidak ada yang menyadari mereka berdua bersama selain Pak Bidin, satpam sekolah. Mau bagaimana lagi? Sekolah tengah dibakar oleh berita panas!


Ketika Nanda masuk ke kelasnya, beberapa teman yang sudah datang langsung manariknya dengan ekspresi tidak sabar.


"Lo ngaku. Sebenernya Grup Jurnalis tuh cewek-ceweknya ngebenci Luna kan?"


"Eh?" Nanda membeku. Otaknya terasa kosong. Mendadak, ia merasa melupakan sesuatu.


"Gue liat foto Luna kecebur di kolam nyebar di group pagi ini! Terus ntu foto juga ada di mading sekolah!"


Dalam hitungan detik, tubuhnya kaku, sangat mengetahui apa yang terjadi. Kejadian yang kemarin membuatnya gelisah, kini dimulai.


Oh! Pantas saja sejak di motor tadi, ponselnya tidak berhenti bergetar!


Tanpa mengatakan apapun, Nanda menaruh tasnya di meja dan berlari keluar kelas. Ia langsung menuju mading sekolah yang agak ramai. Beberapa siswa-siswi berkumpul, menatap menarik sebuah foto yang dicetak seukuran a4.


Sosok mungil nan cantik terlihat di sana. Duduk di pinggir kolam dengan seorang pemuda berjas yang terlihat mencoba membantunya berdiri. Rambut panjang sang gadis basah dan terlihat kusut, makeup yang dipakai luntur hingga membentuk wajah yang mengerikan. Gaun malam berwarna putih menjadi transparan, secara kasat mata membentuk bra dan CD berwarna merah yang dikenakan.


Selain kata memalukan dan menyedihkan, tidak ada lagi yang tersisa.


Alis Nanda terpaut. Bibirnya terkatup rapat. Gambar yang tidak baik ini jelas mengandung stigma negatif.


Meski menyedihkan, tetapi foto dimana tubuh itu terlihat 'telanjang' bukanlah sesuatu yang bisa dipamerkan di depan umum seperti ini. Bagaimanapun, itu bukan seni atau bahkan keindahan. Ini hanya hinaan dengan tujuan menjatuhkan.


"MINGGIR!"


Suara penuh emosi membahana--sukses membuat keributan yang tercipta semakin riuh. Namun, jantung Nanda terasa mencelos ketika mendengar suara itu. Ia hanya sempat menoleh dan mendapati ledakan rasa sakit menghantam jantungnya.


Wajah Raja memerah marah. Ia mendorong orang-orang yang menghalangi jalannya dan dengan membabibuta mencoba menarik gambar yang berada di jeruji besi mading.


Tindakan itu anarkis. Seperti hewan buas yang baru saja dilepaskan dari kandang. Penuh kemarahan hingga membuat orang-orang di sekitarnya takut.

__ADS_1


Nanda menarik napas panjang, lalu menghembuskannya. Sesak masih terasa, tetapi setidaknya ia masih berpikir dengan jernih. Kemarahan itu sangat mengganggunya. Oh, kamu sudah tahu ini akan terjadi dan tahu bagaimana reaksi Raja, kenapa masih merasa tidak nyaman?


Nanda tersenyum pahit. Boss yang dikenalnya selalu tenang, dingin, tidak berperasaan. Tetapi melihat wajah ini ... ah sudahlah.


Nanda meraih ponselnya, lalu langsung menelfon adik kelasnya.


"Waah ... tumben kakak nelfon pagi-pagi, ada apa kak?" suara seorang perempuan terdengar. Sangat ramah dan jelas terlihat senang.


"Kunci mading kamu yang megang kan?" Nanda tidak mau berbasa-basi, langsung ke poin utama ketika mendengar suara itu.


"Eh? Gak ada di Diana Kak, kunci masih dipegang anak OSIS."


Alis Nanda terpaut. "Ada di ketua OSIS?"


"Iya kak."


Nanda langsung mematikan telfon, lalu menelfon nomor Alex. Bagaimanapun, Alex mantan ketua OSIS. Ia masih memiliki hubungan baik dengan para juniornya.


Tidak perlu menunggu lama, telfon langsung diangkat.


"Apaan Ndut? Tumben banget pagi-pagi nelfon. Ni gue lagi di jalan nih."


"Minta ketua OSIS yang sekarang datengin aku."


"Ha?"


"Gak usah pakek nanya, aku ada urusan penting."


Hening beberapa detik. Alex tidak langsung menanggapi, lalu terdengar helaan napas. "Ya udah, gue telfon dia sekarang. Gue suruh ke kelas kita."


"Gak, suruh dia ke mading, hampiri aku. Suruh dia bawa kunci mading."


Alex benar-benar terdengar bingung mendengarnya, tetapi tidak bertanya dan lebih memilih menurut. Nanda tidak lagi menelfon, matanya fokus menatap Raja yang menggila.


Pria tampan itu mencoba merobek foto. Ia mencoba mencungkilnya, memerintahkan beberapa orang untuk mengambil tang atau sejenisnya. Beberapa orang membantu, tetapi sisanya menonton.


Tidak perlu waktu lama, seorang pemuda kurus berlari menghampirinya. Wajah pemuda itu pucat dan jelas terlihat panik.


"Kak, Kak Nanda--"


"Mana kuncinya?"


"Hilang Kak."


"Apa?" alis Nanda terpaut. Ia menatap serius ketua OSIS yang masih terlihat pucat. Keringat membasahi pelipisnya, benar-benar terlihat menyedihkan ketika dipadukan dengan tubuhnya yang kurus.


"Ilham gak tahu kapan ilangnya Kak. Harusnya harini emang jadwal Ilham ngasih kunci ke Diana, tapi tadi pas Kak Alex nelfon, Ilham baru nyadar kalo kunci gak ada di tas Ilham. Ilham dah nanya sama anak-anak lain, tapi gak ada yang liat."


Nanda mengangguk, membiarkan ketua OSIS berlari menuju ruang guru. Remaja gemuk itu juga tidak diam di tempat. Ia kembali berjalan menuju gerbang sekolah dan menelfon Alex lagi.


"Apaan lagi? Gue dah hampir sampe--"


"Putar balik Lex."


"Ha?"


"Jangan bawa Luna ke sekolah."


Jeda beberapa detik. Nanda yang sudah sampai di gerbang sekolah dapat melihat mobil Alex yang mendadak dipinggirkan dari jalan. Tidak lagi melaju menuju sekolah.


Suara lembut Luna terdengar. Jelas mempertanyakan kenapa Alex berhenti, tetapi sepupunya tidak menanggapi pertanyaan itu dan justru bertanya kepada orang yang menelfonnya.


"Kenapa?"


"Tahu kan foto Luna nyebar di WA?"


"Tahu," kata yang keluar terdengar setelah suara menggeretakkan gigi.


"Foto itu ditempel di mading."


".... ."


"Aku bakal nelfon Yulis. Ntar dia ke rumah Luna, ngibur Luna. Jujur aja kasih tahu kalo fotonya dah nyebar. Paling gak, tuk sementara dia gak perlu ke sekolah dulu sampe tenang. Masalah ini bakal diurus sama sekolah."


Tidak membiarkan Alex berkomentar apapun, Nanda terus berbicara. Nadanya tenang dan sabar. Diucapakan dengan tegas dan lugas. Ketika sosok gemuk selesai berbicara, Alex tidak buka suara sama sekali. Hening selama beberapa detik, sebelum sebuah tarikan napas terdengar.


"Gue ngerti," nada getir terdengar. Jelas menahan diri dari segala emosi yang berkecambuk. "Ndut, thanks. Gue titip masalah ini ke lo ya."


Nanda tertawa. "Oy, masalahnya di kasih ke sekolah lah! Mana mau aku nanggungnya! Ngerepotin tauk!"


"Tega banget lo jadi temen."


"Biarin, salah sendiri kenapa ngerepotin."


Alex pada akhirnya tertawa. "Temen emang ada tuk direpotin. Masa' lo gak tahu?"


"Oy!"


"Ahahaha ya udah, gue balik dulu ya," Alex menghela napas. Tersenyum getir menatap ke depan. "Sekali lagi, thanks banget."

__ADS_1


Nanda menghela napas. Tersenyum dan tanpa mengatakan apapun, mematikan telfon. Dengan jelas, ia melihat mobil Alex kembali bergerak. Berputar berlawanan arah dari jalan menuju sekolah.


Melihat hal itu, Nanda buru-buru berjalan ke pos satpam, menayap Pak Bidin yang sedang sarapan bubur ayam.


"Pak."


"Oh! Neng Nanda, kenapa Neng? Bentar, bentar, Bapak makan bubur, nanggung tinggal dikit," satpam sekolah memakan buburnya. Agak terburu-buru hingga warna putih bubur menempel di kumisnya yang tebal.


Nanda mengkulum senyumannya, dengan sabar menunggu hingga akhirnya sosok itu selesai hanya dalam dua suapan.


"Ada Obeng sama Tang gak, Pak?"


"Oh? Tuk apa neng?" Pak Bidin mengelap mulutnya dengan sapu tangan, lalu membuang sterofom ke dalam tong sampah.


"Tuk mading Pak, kuncinya ilang, jadi mau dibuka paksa," Nanda mengehela napas. "Bapak bisa sekalian bantuin bukanya gak Pak?"


"Kuncinya ilang lagi neng? Waduh ... Susah ini," Pak Bidin menggerutu, masuk ke dalam pos dan mencari-cari obeng dan tang, benar-benar tidak menyadari perubahan wajah Nanda.


"Hilang lagi?"


"Iya, dua minggu atau tiga minggu lalu, Den Ilham juga datengin bapak, nanyain kunci mading. Kunci kan ada dua tuh, yang satu udah diilangi ama den Ilham, kalo yang ini juga ilang, gak ada kunci lagi, kepaksa harus dibongkar kalo mau dibuka."


Alis Nanda terpuat, tetapi cepat-cepat ia merubah ekspresinya sebelum pria itu menyadarinya. "Waduh ... repot juga ya Pak," ujarnya.


"Iya Neng, ngerepotin banget," Pak Bidin setuju. "Neng Nanda mau ikut gak Neng?" tawarnya begitu menemukan beberapa perkakas dan telah menyusunnya di dalam box hitam.


Nanda nyengir. "Gak Pak, Nanda mau nunggu Mama Nanda, buku Nanda ketinggalan soalnya."


Pak Bidin mengangguk, tidak curiga sama sekali. "Ya udah, Bapak masuk duluan ya neng."


"Okay Pak!"


Tepat ketika sang Satpam berjalan pergi, Nanda buru-buru berjalan ke gerbang sekolah. Ia menatap sekitar, jelalatan memandang beberapa murid yang berjalan mendekati sekolah.


Beberapa orang yang mengenal Nanda menyapa, tersenyum ramah. Nanda menanggapinya, tetapi selalu mengalihkan pembicaraan agar mereka cepat-cepat ke kelas. Tidak ada yang menyadari hal itu hingga pada akhirnya, sekitar beberapa menit berlalu, sosok yang familier terlihat.


Nanda langsung menghampiri sosok itu. Cepat-cepat menarik tangannya dan berjalan berlawanan arah dari sekolah menuju halte bus.


"Ha? Oy, apaan sih Ndut," Yulis menggerutu, menarik lengannya yang ditarik-tarik. "Lo kesambet ya? Ngapain narik gue ke--"


"Mending kamu ke rumah Luna, Lis."


"Ha?"


"Foto yang disebarin di grup, ada di mading."


"Apa?" tubuh Yulis kaku selama beberapa detik, lalu beberapa detik kemudian, wajah itu memerah marah. "Apa-apaan! Siapa yang naro gambar Luna di sana?!"


"Gak tahu," Nanda menjawab tenang. "Nah, sekarang kamu puter balik, pergi ke rumah Luna dan hibur dia."


Meski Yulis di ambang batas kemarahan, tetapi ucapan Nanda sukses membuat remaja cantik itu mengkerutkan kening.


"Sekarang? Lo nyuruh gue bolos?"


"Ya ... ntar aku bilang ke guru kalo kamu demem, jadi gak masuk."


Yulis menggelengkan kepala. "Kenapa cuma gue? Kenapa gak kita berdua aja pegi?"


Nanda cemberut. "Siapa yang mau bohong ke guru dan bilang kalo kita berdua sakitnya bareng? Minta Raja yang bilang? Yakin si Raja bakal ada di kelas dan bukan di BK? Jelas-jelas dia juga ada di foto."


Yulis canggung. "Luna lagi sama Alex? Mereka gak di sekolah kan?"


"Lis, aku gak bakal nyuruh kamu ke rumah Luna kalo mereka ada di sekolah," Nanda berujar serius, sukses membuat Yulis tersenyum kikuk. "Udah, kamu gak perlu khawatirin apapun. Aku bakal bilang sama guru kalo kamu demem, soal Alex sama Luna, mereka kan sepupuan, guru juga pasti ngerti kenapa mereka gak masuk. Kamu gak perlu kawatir."


Yulis menghela napas. Pada akhirnya ia menurut. Berjalan ke halte dengan sukarela dan memasuki bus menuju rumah Luna.


Tanpa menunggu siapapun lagi, Nanda berbalik. Berjalan memasuki sekolah dan memikirkan segala hal dengan perlahan. Oh, semua hal yang dilakukan remaja itu, hanya kurang dari 30 menit. Benar-bener cepat dan efisien untuk sesuatu yang dilakukan secara spontan.


Segala lintasan yang terjadi, sekarang tidak ada hubungan dengan dirinya sama sekali. Dulu, Nanda menghasut Diana karena marah. Saat itu, ia sangat merasa bersalah saat melihat foto itu dan mengira itu adalah ulah Diana. Namun, gadis itu menyangkal. Mengatakan bahwa kunci mading hilang dan ia tidak melakukannya.


Sayangnya, Nanda tidak percaya dan karena itulah ia merasa bersalah dengan Luna. Terlebih sejak kejadian ini, Luna tidak mau ke sekolah lagi. Gadis itu keluar dari sekolah karena malu dan ia tidak pernah melihat Luna kembali.


Namun, saat ini berbeda.


Ia murni tidak terlibat sama sekali. Diana yang dipanggil ke BK juga baik kehidupan dulu ... mungkin tidak berbohong. Sekarang yang kehilangan kunci adalah ketua OSIS. Hanya dengan titik ini, bukankah sudah jelas pelakunya orang yang sama?


Nanda sampai di kelas. Ia langsung duduk di mejanya, masih tersenyum dan tertawa dengan teman-teman sekelas. Namun, hampir semua orang sudah mulai ribut prihal foto. Terlebih anak laki-laki yang berkomentar bahwa tubuh Luna sangat sexy. Pelecehan verbal yang dilakukan tanpa sadar itu ...


Nanda di dalam hati menghela napas.


Sejujurnya, Nanda bisa saja membantu mencari orang yang menempelkan foto itu ke mading. Ada beberapa spekulasi dan hanya dengan beberapa petunjuk lagi, Nanda yakin bisa mengetahui siapa pelakunya.


Namun sayangnya, Nanda tidak mau melakukannya.


Nanda bukan orang baik yang harus membantu semua orang, terlebih untuk cewek yang jelas-jelas saingan cintanya. Siapa yang rela benar-benar berhati malaikat bahkan untuk orang yang selalu tanpa sadar membuatmu tidak nyaman? Lagipula, ia dan Luna jelas-jelas tidak akrab.


Itu sebabnya, caranya barusan, hanya karena ia tidak tega melihat ekspresi Boss. Bila bukan karena ia tidak mau melihat Raja menghibur Luna di depan matanya sendiri, ia tidak akan mengusir Alex agar tidak ke sekolah. Ia juga tidak akan mengirim Yulis untuk menghibur Luna agar Raja lebih terkendali dan tenang.


Yah ... ia melakukan semua ini untuk dirinya sendiri. Ia ingin menjaga perasaannya, juga sekaligus sedikit membalas kebaikan Boss yang selama bertahun-tahun melindunginya. Ia tidak berniat menjadi orang ketiga atau bahkan berkhianat padahal jelas sudah punya pacar.

__ADS_1


Nanda kembali menghela napas di dalam hatinya. Oh, sungguh. Ia tidak suka perasaan terjerat seperti ini.


__ADS_2