
Badai terjadi lebih dari 3 minggu. Hujan deras disertai angin kencang yang menerpa, membuat tanah di sekitar menjadi becek dan lembab, beruntung tidak banjir sama sekali hingga membuat kelompok yang terdiri dari 2 wanita, 3 pemuda dan 5 anak-anak dengan aman keluar dari gedung pabrik.
"Woah ... benar-benar kacau," Ken menoleh ke luar jendela. Ia duduk di mobil pick-up tepat di sebelah Nanda yang mengemudi. Sepasan iris gelap memandang keadaan luar yang mengenaskan dengan tidak percaya. Bagaimana tidak? Setelah badai, keadaan dunia luar sangat berantakan!
Mereka sudah 3 minggu lebih terkurung di dalam pabrik, jadi keadaan dunia luar yang sangat berbeda membuat mata Ken merasa luar biasa.
Banyak pepohonan tumbang di jalan, rumah-rumah tidak utuh dan jalanan begitu kotor dengan berbagai macam benda dan mayat ... oh, bukan mayat, tetapi zombie. Ya, banyak zombie yang terlihat telah menjadi bangkai tidak bergerak. Tergeletak dengan kepala hancur dan tubuh yang nyaris mencair karena pembusukan. Pemandangan mengerikan sekaligus aneh ini membuat Ken tidak berani untuk membuka jendela. Takut bahwa aroma tidak sedap akan mencemari udara di dalam mobil.
"Jangan terlalu cepat, Te," Nanda memperingatkan dengan Walkie-Talkie. Hummer di depannya bergoyang-goyang di jalan beraspal. Melindas beberapa benda yang menghalangi perjalanannya dengan mudah. Bagaimanapun, jalan besar yang dipilih masih menjadi alternatif utama menuju Pangkalan 2 AD.
"Bahkan zombie banyak yang menjadi korban karena badai," Ken masih menatap ke luar jendela, kagum dengan kehancuran yang disebabkan oleh badai yang terjadi.
"Yah ... seleksi alam. Kebanyakan yang mati pasti zombie tanpa level," Nanda mengangkat kedua bahu, tidak terlalu peduli dengan banyaknya zombie yang menjadi korban. Bagaimanapun, ini merupakan seleksi alam. Salah satu alasan mengapa zombie secara bertahap, akan semakin kuat dan kuat hingga tidak menyisakan zombie yang lemah sama sekali.
"Iya sih ... mereka terlalu mudah hancur," Ken setuju. "Tapi aneh ya ... tidak banjir sama sekali, padahal seharusnya, daerah ini banjir."
"Yah ... mungkin gorong-gorong airnya tidak tersumbat?"
Ken benar-benar tidak yakin mendengarnya, tetapi memilih untuk tidak melanjutkan topik ini. Bagaimanapun, tidak banjir adalah hal yang baik. Mereka jadi bisa bergerak dan tidak perlu terjebak karena air yang menggenang.
Jantung Nanda mencelos mendengar komentar santai Ken. Oh, secara logika, memang seharusnya banjir. Terlebih kekacauan yang disebabkan, akan berkemungkinan membuat gorong-gorong air tersumbat karena banyak benda asing yang masuk. Satu-satunya alasan kenapa tidak banjir hanyalah karena Nanda, setiap malam, selalu memanfaatkan air hujan untuk bermain dengan para zombie level atas. Ia akan memeras semua energinya, memanfaatkan air di sekitarnya hingga membuatnya merasakan kelelahan luar biasa.
Beruntung, badai tidak benar-benar terjadi selama berbulan-bulan. Bila memang seperti itu ... pola hidupnya yang aktif di malam hari dan tidur di siang hari akan sulit untuk diperbaiki. Bahkan saat ini, Nanda harus mengakui bahwa ia mulai agak mengantuk. Beruntung ada Ken, Genta dan Bobi. Ketiganya bisa mengemudi. Bila Nanda memang sudah tidak tahan, Ken yang duduk di sebelahnya akan berganti membawa mobil yang mengangkut bahan persediaan ini.
"Kak."
"Hmm?"
Ken agak ragu. Ia terdiam selama beberapa detik, tidak tahu apakah ingin mengatakan pikirannya atau tidak.
"Apa?" Nanda terkekeh, ia melirik ke samping dan kembali memandang ke depan. "Sudah ... tanya saja. Kalau penasaran atau ada yang mau ditanya, tanya saja," ujarnya seraya bergerak mematikan walkie-talkie. Mencegah percakapan mereka, akan didengar oleh hummer yang ada di depan sana.
"Umn ... tentang anak-anak itu," Ken melirik ke arah Nanda, mencoba memperhatikan perubahan ekspresi dari wanita berkuncir yang sedang menyupir. "Kakak tidak berencana mengangkat salah satu diantara mereka sebagai anak? Bagaimanapun mereka berlima adalah yatim piatuh ... kurasa akan baik bila ada yang mengangkat mereka sebagai anak."
"Entah," Nanda juga sempat memikirkan hal ini. Walau Erica berkata ingin mengadopsi kelima anak kecil dan ia sudah berjanji akan membantu Tantenya untuk merawat mereka, tetapi mengadopsi anak dengan hanya mencoba membantu itu dalam posisi yang ... berbeda. "Lihat situasi ke depan. Lagipula, Kakak masih harus minta izin dengan suami Kakak, tidak bisa asal mengadopsi hanya karena menyukai mereka."
"Oh, benar!" seolah menyadari sesuatu, Ken menepuk pahanya sendiri. Bukankah Kak Nanda sudah menikah? Pantas saja ia merasa seperti melupakan sesuatu! "Bagaimana keadaan Kak Ganesha?" tanyanya. Suami Kak Nanda sangat menyeramkan, berbanding terbalik dengan Nanda yang ceria dan menyenangkan.
Nanda mengkatup rapatkan mulutnya. Tanpa sadar, tangan yang memegang stir mengencang--nyaris ingin menghancurkan alat kemudi dalam hitungan detik.
"Aku ... tidak tahu."
__ADS_1
Sudah berbulan-bulan ia tidak melihat Ganesha, sudah berbulan-bulan juga ia tidak tahu kabar suaminya. Hal ini kerap membuat ia gelisah. Itu sebabnya, ketika Ken bertanya prihal Ganesha ... tanpa sadar Nanda merasakan sakit di jantungnya. Seolah sesuatu yang kosong telah direnggut. Membuat ia merasakan kesepian yang tak terkira menyakitkan. Menggaruk hatinya hingga menyebabkan luka bernanah.
"Ah, maaf," Ken cangung. Menggaruk belakang kepalanya saat rasa bersalah merayap mencubit hati. Bukankah pertanyaannya sangat bodoh sekali? Sekali lihat juga sudah tahu bahwa Nanda terpisah dari Ganesha, kenapa ia masih bertanya keadaan Ganesha? Meski Nanda selalu tersenyum, terlihat tidak pernah memiliki masalah apapun di dalam hidupnya, Nanda juga manusia. Ia memiliki hati. Ia pasti ... diam-diam sangat cemas dan merindukan suaminya. Merindukan keluarganya.
Sepasang iris menyendu, menatap ke luar jendela dengan perasaan sesak di dada.
Oh, Ken juga sangat merindukan keluarganya ...
Bagaimana keadaan Ayah dan Ibunya? Keadaan adik perempuannya? Ia, Bobi dan Genta sedang menikmati liburan di Vila Genta ketika virus menyebar. Siapa yang akan menyangka ketika mereka bangun, keadaan dunia luar sudah berubah? Mereka bertiga sangat ketakutan, zombie yang memakan manusia mengancam keselamatan mereka. Terlebih ketika mereka melihat banyak manusia berlarian menghindari zombie yang menyerang, lalu ... saat zombie itu memakan manusia hidup-hidup.
Itu adalah mimpi buruk terburuk yang pernah mereka lihat secara nyata. Ken masih ingat ketika seluruh tubuhnya terasa dingin dan ia tidak berhenti muntah melihat adegan itu. Ia bahkan tidak bisa tidur selama beberapa malam dan tidak bisa memakan apapun. Bobi dan Genta juga bernasip sama sepertinya. Syock luar biasa hingga mempengaruhi fisik mereka.
Namun mereka tetap harus hidup. Masih ada keluarga mereka di luar sana. Masih ada orang-orang yang mereka cintai di rumah mereka. Bagaimana nasip keluarga mereka ... mereka tidak tahu. Tetapi keinginan untuk bertemu dan harapan bahwa mereka akan baik-baik saja, membuat Ken memaksakan diri untuk menerima perubahan menakutkan di sekitarnya.
"Kita akan mengambil jalan memutar," setelah cukup lama hening yang membuat atmosfer terasa berat, Nanda kembali buka suara. Memecahkan keheningan yang tidak menyenangkan ini dan membuat Ken sadar dari lamunan. Tangan Nanda sudah beralih, kembali menghidupkan walkie-talkie. "Te, nanti kita cari bahan lagi, Te."
"Oke."
"Kita memutar lewat hutan Kak?" Ken penasaran, menoleh menatap Nanda.
"Yup," Nanda mengangguk. "Kita memutar lewat hutan ... yah, bila lancar, mungkin sekitar seminggu atau lebih bisa sampai di Pangkalan. Jadi harus cari banyak bahan sebelum pergi."
Bahan makanan yang mereka miliki sudah sangat menipis. Kemungkinan hanya cukup untuk makan sekitar dua atau tiga hari. Di dalam hutan, hanya ada tumbuhan dan bila beruntung, mereka bisa menemukan hewan untuk menjadi makanan segar. Genta, Bobi dan Ken adalah mahasiswa jurusan Biologi. Meski baru masuk semester 3, tetapi salah satu diantara mereka sudah cukup untuk menjadi ensiklopedia tumbuh-tumbuhan berjalan. Yah ... Bobi adalah ensiklopedia itu.
Nanda tidak menyangkal bahwa ia jadi lebih tergesah-gesah. Ia ingin segera sampai di Pangkalan 2 AD, menghubungi keluarganya dan mendapatkan kepastian hanya untuk menenangkan hati yang kian lama, semakin gelisah.
"Nda, di depan ada mini market," mendadak suara walkie-talkie terdengar bersamaan dengan kecepatan mobil hummer yang melambat. "Ada mobil tentara," tambahnya.
Tentara ...
Nanda menahan napas. Tanpa sadar punggungnya menjadi tegap begitu mendengar kata-kata terakhir Erica. Oh, Tentara. Pasukan militer yang mereka cari! Mengingat bahwa mertua dan kakak iparnya berpangkat tinggi di militer, akan mudah menghubungi keluarganya melalui mereka. Karena itu, tanpa ragu kedua mobil mendekati truck tentara. Namun siapa sangka, begitu mereka mendekat ... adegan pertempuranlah yang menyambut mereka.
"Te, Ken, Bobi, Genta, kalian bantu tentara, aku akan menjaga anak-anak," Nanda memberikan perintah seraya keluar dari mobil pick-up setelah berbicara di walkie-talkie. Ia tidak ingin mengekspose kemampuannya dan mereka semua mengerti. Karena itu, semua orang setuju. Keluar dari mobil dan bergerak membantu tentara untuk membunuh beberapa zombie yang menyerang. Sementara Nanda langsung masuk ke dalam hummer, memperhatikan aksi dari keempat orang yang telah meningkatkan kemampuan bertarungnya.
Nanda membuat pedang es yang sekeras permata sebagai senjata. Itu sangat dingin dan tidak akan pernah cair. Karena tidak mungkin untuk menyentuhnya secara langsung bila tidak mau mati beku, Genta, Bobi dan Ken akan menggunakan sarung tangan kulit yang sangat tebal untuk menggenggam pedang es itu.
Empat orang yang membantu tentara menghadapi beberapa zombie terlihat mencolok. Memang tidak semua adalah tentara, beberapa terlihat sebagai warga sipil yang jago memegang senjata api dan beberapa pengguna kekuatan. Jumlah zombie yang menyerang terbilang banyak, karenanya bantuan dari empat orang asing terbilang sangat menolong. Terlebih kemampuan api Erica yang menambah efisiensi kerja mereka.
"Woah ... mereka sangat kuat," Leo menatap kagum ke luar jendela. Anak-anak lain juga mengikuti. Terlihat tidak takut dengan adegan penuh darah di depannya. Baru kali ini mereka melihat sejumlah besar manusia menghadapi zombie, hal itu membuat mereka kagum. Bagaimanapun, ketika pertama kali bertemu dengan Nanda dan Erica, mereka tidak sempat memperhatikan sekitar. Hanya ketakutan, berpikir bagaimana caranya agar bisa tetap hidup. Namun sekarang, semua hal telah jauh berbeda.
"Kak, kapan kami bisa punya pedang es seperti Kak Genta, Kak Bobi dan Kak Ken?" Karin menoleh, menatap Nanda dengan penuh harap. Empat anak lelaki lainnya ikut mengalihkan perhatian, menatap sosok wanita dewasa yang telah menciptakan pedang es.
__ADS_1
Nanda tertawa. Mengusap kepala Karin dengan geli. "Tungg kalian menjadi kuat."
"Kapan kami bisa kuat?" tanya Raga.
"Hmm ... coba kita lihat?" Nanda menyeringai. "Bila kalian berlatih dengan baik, lama-lama kalian akan menjadi kuat bahkan sebelum kalian dewasa."
"Benarkah?"
Nanda mengangguk. "Yup, tentu saja."
Sepasang mata para kurcaci berkilau penuh kesenangan begitu mendengarnya. Oh, tanpa harus menunggu mereka sebesar trio pemuda, mereka bisa menjadi kuat? Itu adalah kabar yang bagus! Anak-anak jadi semakin bersemangat. Mereka langsung memandang ke luar jendela kembali. Kali ini, mencoba memperhatikan setiap gerakan orang-orang dewasa di luar sana dan merekamnya dengan baik di dalam otak. Pembantaian di luar, merupakan bahan pelajaran untuk mereka.
Nanda menelan liur paksa melihat kelima kurcaci. Gawat ... sepertinya tanpa sadar ia membuat ... tentara anak-anak? Wanita berkuncir itu meringis di dalam hati. Ia hanya ingin membuat anak-anak ini menjadi lebih kuat agar bisa melindungi diri sendiri, tetapi tanpa sadar, mentalitas mereka benar-benar telah berubah ... ah, Erica benar-benar akan mengamuk. Bukankah ia berjanji tidak akan membentuk tentara anak-anak?
Menggelengkan kepala dan memilih untuk mengesampingkan hal itu, Nanda kembali menatap ke luar jendela. Tidak perlu waktu lama untuk menghadapi zombie-zombie yang didominasi oleh zombie level 1 dan 2. Kurang dari 3 jam yang membosankan, semua zombie telah dibasmi, menyisakan para tentara dan empat orang penolong.
Nanda, yang sejak tadi berdiam diri di dalam hummer, hanya menonton ketika Tante dan trio pemuda bersama-sama menghampiri salah satu pria tinggi yang mengenakan kaos hijau dan celana tentara. Pria itu berbicara dengan mereka, terlihat ramah. Erica dan trio pemuda menanggapinya dengan baik. Tidak perlu untuk menguping, secara garis besar, Nanda bisa memperkirakan apa yang mereka bicarakan. Toh dengan kemampuannya, ia tidak perlu keluar hanya untuk tahu isi dari percakapan mereka.
Setelah beberapa saat mengobrol, Tentara itu menoleh ke arah Hummer. Nanda berkedip, menampilkan ekspresi bingung dan polos di wajahnya yang cenderung babyface. Berbeda dengan kelompok lain, kelompok mereka cenderung bersih, dengan wajah-wajah yang menyegarkan. Meski pakaian masih terlihat agak kumal, tetapi karena jauh lebih bersih dan tentara ketimbang yang lain, kelompok mereka memang terlihat sangat ... mencolok.
Ken, Genta dan Bobi tersenyum lima jari memandang Nanda. Mereka membuat gerakan dengan tangannya, mengajak agar Nanda ke luar dari mobil dan bergabung dengan mereka. Tanpa sungkan Nanda keluar dari hummer, menghampiri seorang Tentara dan empat temannya.
"Halo," Nanda menyapa. Agak kikuk mengangguk ke arah tentara yang jauh lebih tinggi darinya.
Pria itu tersenyum, ia mengangguk. "Halo, nama saya Dimas Yudistira," ucapnya memperkenalkan diri. "Adek Nanda kan? Menantunya Pak Wijaya?"
Nanda tanpa sungkan mengangguk. Wijaya memang nama mertunya, nama itu juga ditaruh pada bagian belakang nama anak-anaknya. Sikembar Bima Wijaya dan Sinta Wijaya yang merupakan Kakak iparnya juga menyandang nama itu. Sama seperti suaminya, Ganesha Wijaya.
"Kak Dimas ini ... masih bawahannya Ayah?" tanya Nanda ragu.
Pria itu tertawa mendengarnya, tanpa sungkan mengangguk. "Bisa dibilang seperti itu, tetapi lebih tepatnya, saya berada di bawah asuhan langsung Pak Bima."
Nanda harus menahan diri agar tidak tertawa mendengar kata 'Pak Bima'. Oh, Kakak iparnya masih awal 30an, dipanggil bapak, benar-benar memberikan kesan tua.
"Gimana kabar Kak Bima?"
"Pak Bima baik-baik saja, semuanya aman," Dimas menenangkan. Lalu beberapa detik kemudian, ia menghela napas. "Militer mencari-cari Anda selama berbulan-bulan, sekarang akhirnya kami menemukanmu. Nanti, saya akan membuat laporan, tetapi pertama ... Dek Nanda tidak keberatan kan ikut dengan kami ke Pangkalan 2 AD?"
Nanda tidak menjawab, sebaliknya ia justru melempar Dimas dengan pertanyaan. Tanpa bisa menahan diri, jantungnya berdegup kencang. Menggebu-gebu dengan tidak sabar untuk mendengar suaranya sendiri. "Bisa aku menghubungi keluargaku?"
"Tentu," Dimas tanpa sungkan mengangguk. "Tetapi kami hanya bisa menghubungi di Pangkalan."
__ADS_1
"Tidak masalah."
Dimas menghela napas lega. Tidak sulit untuk membawa Nanda dan rombongannya ke pangkalan mereka. Setelah mengobrol selama beberapa saat, orang-orang yang bertugas mengumpulkan makanan selesai melakukan pekerjaan mereka. Lalu tanpa sungkan sama sekali, dengan diiringi sebuah truk tentara yang besar, konvoi kendaraan roda empat berlanjut. Kali ini, kelompok Nanda tidak terdiri dari dua mobil lagi, tetapi terdiri dari beberapa mobil dan truck besar yang menampung bahan bangunan dan makanan.