Zombie

Zombie
24: Pangkalan 2 AD


__ADS_3

Perjalanan dilakukan hanya perlu waktu 5 hari. Rombongan mobil yang panjang, melalui jalan alternative lain yang ditunjuk oleh tentara. Memang melalui hutan, tetapi entah bagaimana lebih cepat ketimbang dengan jalan yang Erica pikirkan. Perjalanan juga sangat mulus hingga membuat Nanda kebingungan. Beberapa orang kerap bercanda, mengatakan bahwa kelompok mereka pembawa kebruntungan sehingga hanya beberapa zombie kecil saja yang menyerang.


Ketika akhirnya rombongan sampai di Pangkalan, hal pertama yang menyambut mata mereka adalah sebuah tembok setinggi 5 meter yang menjulang mengintip dari rimbunnya pepohonan hijau. Tembok itu terlihat tebal dan kokoh, berwarna kelabu dan suram. Beberapa mobil terlihat mengantri pada gerbang besi yang tertutup rapat. Beberapa orang berpakaian militer, dengan senjata di tangan mereka, berdiri di depan gerbang. Menjaga keamanan dan selalu terlihat waspada pada setiap pergerakan kecil di sekitarnya.


Namun mereka tidak melalui pintu yang tengah dihadang oleh banyak pengantri. Mobil mereka melewati antrian, berjalan ke sisi lain tembok dan sampai di gerbang yang lain. Gerbang besi ini lebih besar, berwarna kelabu dengan beberapa tentara bersenjata yang mengawasi. Begitu melihat rombongan mobil yang mendekat, mereka langsung mengenali. Tanpa sungkan gerbang besi diangkat, mempersilahkan rombongan mobil untuk masuk.


Bagian dalam tembok, memamerkan sebuah halamn yang luas. Tanah merah berlumpur menjadi alas, membuat percikan air kotor menambah kesuraman kendaraan roda empat. Namun hal itu tidak menyurutkan antusiasme para kurcaci dan trio pemuda. Mereka keluar dari dalam mobil, menatap sekitarnya dengan cerah.


Bagian dalam Pangkalan 2 AD terlihat seperti pedesaan kecil. Pada bagian lain, terlihat beberapa tenda yang berdiri kokoh, juga beberapa pondok rumah-rumah kayu. Namun yang menarik, terdapat area perkebunan kecil. Semua hal dibuat berpetak-petak. Dipisahkan dan tertata dengan baik. Tidak ada kendaraan yang diperbolehkan untuk melaju, semua kendaraan terparkir di area khusus. Beruntung, posisi mereka cenderung menanjak, jadi dengan mudah melihat area bawah dimana hampir seluruh pangkalan yang besar terlihat.


Entah berapa hektar area ini, tetapi melihatnya tertata dengan baik dan penuh dengan manusia tanpa zombie, membuat semua orang merasa senang.


"Nah, kalian pertama harus membuat identitas dulu," Dimas mengintrupsi antusiasme dari ketiga pemuda, mengalihkan perhatian kelompok kecil ini. "Peraturan di sini, setiap pengunjung harus diperiksa apakah ada bekas gigitan zombie atau tidak. Tenang, kami hanya akan memeriksa tubuh apakah memiliki bekas luka atau tidak. Para dokter bekerja dengan cepat, mereka bisa melihat hasilnya dalam tiga puluh menit. Setelah membuat pemeriksaan, kalian harus membuat identitas."


"Identitas?" Ken membeo, bingung dengan kata terakhir. "Kita tidak memerlukan KTP?"


Dimas tertawa. "Oh, itu tidak berguna lagi. Memangnya seberapa banyak orang yang sempat menyelamatkan KTP mereka?"


Ken kikuk mendengarnya. Yah ... siapa yang mementingkan KTP ketika sedang dalam situasi hidup dan mati?


"Bawahanku akan mengantar kalian, dia juga akan menjelaskan beberapa peraturan," Dimas masih tersenyum ramah, mengisyaratkan seorang tentara untuk mendekat dan dengan patuh, pria itu mendekati kelompok mereka. "Kau tolong antar mereka ke area pemeriksaan dan pendaftaran, jelaskan juga beberapa peraturan."


Bawahan itu mengangguk, tetapi kemudian matanya memandang lima anak kecil yang berada di kelompok itu. Mendadak, bawahan berwajah seram dan kaku langsung bersikap ramah. Tanpa menunda waktu, kelompok itu kecuali Dimas dan Nanda, pergi menuju area pemeriksaan.


"Anak-anak sudah semakin jarang terlihat," Dimas menjelaskan, menatap Nanda yang sempat terlihat keheranan dengan tingkah beberapa tentara yang begitu ramah dan seolah-olah tidak pernah melihat anak kecil. "Yah ... ayo ikut denganku. Kita akan ke area tentara, jadi mohon maaf bila di sana akan cenderung kaku dan membosankan."


Nanda tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, yang penting aku bisa menghubungi Ayah."


Dimas mengangguk, tidak lagi berbasa-basi dan membawa Nanda ke satu-satunya bangunan bertingkat yang berada di area itu. Bangunan berwarna kelabu cenderung besar, monoton dan tidak indah sama sekali. Lebih mirip seperti sebuah bangunan yang belum selesai bila melihat dinding yang belum di cat atau lantai yang hanyalah ... lantai semen. Terlebih bangunan ini tidak memiliki lift, membuat Nanda dan Dimas harus menaiki tangga sama seperti yang lain.


Beruntung bangunan ini hanya mencapai 8 lantai. Bila lebih, Nanda tidak bisa membayangkan betapa lelahnya orang-orang akan bolak-balik mengirim file dari lantai dasar ke lantai atas.


Beberapa orang kerap menyapa Dimas, melirik ke arah Nanda dan sesekali menggoda anggota Tentara itu. Nanda hanya tersenyum, sementara Dimas tidak menanggapi lelucon temannya dan agak terburu-buru membawa tamunya ke lantai 3.


"Beberapa pemimpin ingin bertemu dengamu dulu sebelum kami menghubungkan saluran," Dimas berujar, terlihat agak meminta maaf karena menunda Nanda untuk menghubungi keluarganya. Namun wanita itu hanya tersenyum dan mengangguk. Membiarkan Dimas memimpin jalan dan membawanya ke sebuah pintu kayu yang tertutup.


Pria itu berhenti di depan pintu, sebelum akhirnya mengetuk. "Sir, Nona Nanda sudah di sini," ujarnya.


"Masuk."


Sebuah suara berat mengintrupsi. Dimas tanpa ragu membuka pintu, masuk dan juga mempersilahkan orang di belakangnya untuk mengikuti. Nanda tanpa sungkan masuk, mengamati sebuah ruangan yang mirip sebuah kantor seorang pimpinan.


Ruangan ini sederhana dan tidak terlalu besar. Terdapat satu set sofa dan meja untuk menyambut tamu, di sisi lain ada meja kantor dan juga sebuah lemari arsip yang penuh dengan file. Namun, suasananya yang terang dan rapi cukup untuk menyambut tamu. Terdapat dua orang pria tua duduk di sofa. Mereka melihat Nanda dan Dimas, bangkit berdiri dan tersenyum menatap Nanda.

__ADS_1


"Halo selamat siang, Nanda," salah satu pria dengan seragam biru mengulurkan tangan. Nanda refleks menjabat tangan pria itu, lalu bergantian menjabat tangan pria tua berseragam hijau lumut. "Bagaimana perjalanannya? Ah! Silahkan duduk dulu."


Nanda tersenyum kikuk seraya duduk di sofa, sepasang hazel menatap bergantian kepada kedua pria tua yang jelas berpangkat tinggi. Kemungkinan besar, kedua orang ini adalah pemiliki pangkalan. "Sebelumnya, terima kasih sudah menerima saya dan keluarga saya untuk berada di sini," ujarnya sopan.


"Oh, tidak masalah sama sekali, kebetulan rombongan Dimas juga harus kembali ke Pangkalan karena sudah selesai dengan misinya, jadi mereka juga sekalian membawamu," ucap pria berpakaian biru. "Benar, kami belum memperkenalkan diri. Saya Wira Admaja, dan ini wakil saya, Junaidi Admaja," pria tua berseragam biru memperkenalkan dirinya, bersama wakil yang jelas masih memiliki hubungan saudara. Selain gaya rambut dan warna pakaian, wajah kedua pria tua ini memang mirip ...


Kemungkinan memang saudara kembar.


Nanda hanya mengangguk, tersenyum dan tidak terlalu banyak bersuara.


"Sebelumnya, kita sudah pernah bertemu di pernikahan Nanda," Wira mengingatkan--meyakinkan bahwa ini bukanlah pertemuan pertama mereka. "Tetapi Nanda sepertinya lupa?"


"Maaf, terlalu banyak yang diundang ... tidak semuanya saya kenal, kebanyakan adalah teman-teman Ayah dan Kakak," Nanda tersenyum kikuk, terlihat salah tingkah mendengar kata-kata terakhir tetapi mengumpat di dalam hati. Hell! Pernikahannya setahun lebih yang lalu, para tamu yang diundang banyak, orang macam apa yang akan ingat orang yang hanya sekali bertemu dan beberapa detik menyapa tanpa pernah bertemu kembali setelahnya!?


Wira tertawa, terlihat tidak mempermasalahkan. Junaidi mempersilahkan Nanda untuk minum ketika seorang tentara masuk. Segelas teh hangat untuk menyambut tamu. Tanpa malu Nanda menyesap tehnya--yah ... sudah lama sekali ia tidak minum teh. Menyambut tamu dengan teh yang sudah jarang didapat benar-benar hidangan yang mewah ...


Pada akhirnya, beberapa basa-basi dilontarkan kedua pria tua. Mereka hanya mengobrolkan hal-hal tidak penting seperti masa lalu Mertuanya di medan perang atau tentang keadaan sekarang yang menyedihkan.


Nanda di sisi lain harus menahan diri untuk tidak berteriak bahwa kedua pria tua ini benar-benar menghalanginya untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Namun di sisi lain juga merasa beruntung karena mendapatkan beberapa informasi tambahan. Sayangnya, waktu yang digunakan kedua orang ini tidak tepat.


Oh, apakah mereka sangat menganggur hingga rela mengobrol dengannya untuk berbasa-basi?! Beruntung, keduanya sepertinya sadar diri. Melepaskan Nanda setelah sekitar dua jam full mengobrol, meminta Dimas kembali datang untuk menunjukkan jalan.


Akhirnya ...


Tempat ia akan menghubungi keluarga berada di lantai 8, membuat Nanda harus menaiki tangga. Dimas agak cemas, takut perempuan yang terlihat kurus itu tidak tahan untuk naik ke lantai 8. Namun Nanda hanya tertawa, mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Oh, apakah citranya benar-benar terlihat sangat lemah? Nanda tidak mau terlalu memikirkan dan hanya fokus untuk segera menghubungi keluarga.


Ketika mereka sampai di lantai 8, Dimas membawanya ke sebuah ruangan. Di sana, beberapa peralatan terpasang, bersama operator dan beberapa orang yang bertugas menjaga komunikasi. Kehadiran mereka membuat beberapa orang berhenti bekerja, menatap selama beberapa detik sebelum akhirnya mengabaikan. Seorang tentara mendekati Dimas dan Nanda, tersenyum ramah dan mengantar untuk mendekati sebuah radio.


"Ini sudah terhubung, Nona bisa langsung berbicara," ujarnya ramah. Sadar diri, kedua orang yang mengantar Nanda mulai menjaga jarak. Mereka membiarkan Nanda berbicara dengan bebas, tanpa melanggar privasi perempuan itu sama sekali.


"Nda?" suara seorang pria terdengar. Serak dan tidak terlalu jelas.


Nanda menelan liur paksa. "Ayah?"


"Nda? Itu benar kamu Nda?" suara itu berganti menjadi suara wanita, terdengar bersemangat. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Oh, kami mencarimu kemana-mana!"


Nanda merasa bersalah mendengarnya. Oh, mendadak ia bisa menebak bahwa Ayah dan Ibunya tengah berebut komunikator.


"Maaf, Ibu."


"Bagaimana keadaanmu di sana? Ibu dengar kau baik-baik saja, tetapi ibu tidak mempercayainya. Sekarang, setelah mendengar suaramu, Ibu baru percaya."


Nanda tertawa mendengarnya, tidak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


"Syukurlah kau baik-baik saja. Nda, cepat kembali, Ayah akan meminta pasukan di sana mengantarmu!"


"Itu ... ," Nanda tidak tahu harus mengatakan apa. Dengan jelas, ia bisa mendengar kekhawatiran mertuanya. Wanita itu terdengar sangat tidak sabar untuk melihatnya, tidak sabar untuk membawanya ke pangkalan dan melindunginya. Sosok itu benar-benar menganggap dirinya sendiri sebagai Ibu kandung Nanda, membuat mata Nanda, entah bagaimana terasa agak panas. "Bagaimana yang lain? Ayah, Ganesha, Kakak-Kakak juga Ibu? Kalian tidak apa-apa kan?"


"Di sini aman," Namun beberapa detik kemudian, terdengar helaan napas. Kali ini suara pria yang terdengar. "Yang terpenting, Nda istirahat, lalu ke sini dulu."


Nanda sudah bersiap untuk menanyakan berbagai macam hal kepada Wijaya, tetapi mendengar kata-kata terakhirnya, membuat ia urung. Pada akhirnya, Nanda hanya dengan patuh menjawab. Tidak terlalu banyak percakapan, mereka langsung mengakhiri panggilan. Yah ... seperti kata mertuanya, akan lebih baik bila ia sampai ke Pangkalan 1 AD. Di sana, ia akan bertemu dengan keluarga dan melampiaskan semua kerinduan.


Ia akan bertemu dengan Ganesha ...


Nanda tidak bisa menahan senyuman. Moodnya sangat bagus setelah mengakhiri percakapan. Ia berterima kasih dengan rekan-rekan di sana dan saat menuruni tangga, juga menyempatkan diri ke Kantor tempat si kembar berada untuk berterima kasih, setelah itu, Dimas baru mengajaknya untuk keluar dari kantor, menuju ke tempat ia akan beristirahat.


"Pangkalan 1 AD dengan Pangkalan ini agak jauh, jadi memerlukan beberapa persiapan sebelum berangkat," Dimas menjelaskan, berjalan diantara perumahan kayu yang tersusun dengan baik. Tidak ada halaman untuk setiap rumah kayu, apa lagi pagar pembatas. Rumah-rumah saling berdempetan, tetapi cukup untuk membuat blok perumahan yang rapi. "Itu sebabnya, kami menyediakan dua rumah untuk ditempati selama beberapa hari sampai persiapan selesai."


Langkah kaki Dimas berhenti. Ia tersenyum dan menunjuk rumah di belakangnya. "Ini adalah rumah Dek Nanda dan Erica, nah yang di sebelahnya rumah untuk anak-anak," ucapnya seraya menujuk kedua rumah yang bersebelahan.


Nanda mengkulum senyuman, mengangguk. "Terima kasih."


"Sama-sama," Dimas terkekeh, menyerahkan dua kunci kepada Nanda. "Nah, sekarang aku masih harus bertugas, silahkan istirahat dulu," ujarnya. Nanda mengangguk patuh, melambai ketika pria itu berjalan pergi dan tanpa menoleh kembali, langsung masuk ke salah satu rumah yang ditunjuk.


Rumah kayu itu hanya satu lantai, hanya terdiri dari 2 kamar, satu ruang tamu yang terhubung dengan dapur dan satu kamar mandi. Lantai ruang tamu sudah dilapisi oleh karpet tebal, masing-masing kamar diisi dengan kasur yang empuk dan yang terpenting, pada lemari dapur, Nanda menemukan beberapa makanan dan botol minuman. Bak kamar mandi juga penuh dengan air bersih.


Sekilas, mereka diperlakukan sama dengan yang lain, tetapi dari segi fasilitas yang dirasakan ... mereka dilayani dengan terlalu baik. Dari sikap ramah dan seolah mencari muka, dengan apa yang mereka lakukan sekarang, sangat terlihat bahwa tujuannya agar Pangkalan 1 memiliki hubungan yang lebih baik dengan Pangkalan 2. Tetapi mereka tidak mau ada keributan dengan mendadak memperlakukan kelompok tertentu secara istimewa, itu sebabnya ... dari luar, mereka diperlakukan setara dengan orang-orang yang baru saja datang.


Masalahnya adalah, apakah mendapatkan rumah ketika baru saja masuk merupakan fasilitas yang umumnya didapatkan oleh semua orang yang baru mendatangi pangkalan? Rumah ini jelas disewakan. Lihat saja tenda-tenda yang dibangun di salah satu blok pangkalan? Nanda yakin itu adalah area dimana para pengunjung yang tidak mampu membayar uang sewa, tinggal di sana.


Menguap, Nanda keluar dari kamar mandi dan langsung memasuki salah satu kamar. Ia berbaring di singel bed, menatap langit-langit kamar yang tinggi.


Beberapa hari ... Nanda masih harus menunggu beberapa hari untuk pergi ke Pangkalan 1 AD dan berkumpul dengan keluarganya. Hal ini membuat hatinya senang, menggebu-gebu dengan tidak sabar untuk meninggalkan pangkalan ini. Sebenarnya, ia bisa saja pergi sendiri, tetapi Pangkalan ini ingin mengantar dan mungkin, memang memiliki bebera bisnis dengan Mertuanya, jadi Nanda masih memilih untuk bersabar.


Namun ...


Ken, Genta dan Bobi memiliki keluarga mereka sendiri. Mereka pasti ingin mencari dan bertemu dengan keluarga mereka, entah trio pemuda itu akan mengikuti lagi atau tidak. Untuk Erica, Nanda sangat tahu bahwa Tantenya akan membawa para kurcaci. Erica sudah pasti akan ikut dengannya karena kemungkinan besar, Papa yang masih sepupu Erica, juga berada di Pangkalan 1 AD.


Lalu bagaimana dengan Yulis?


Sepasang hazel menyendu. Nanda membalik tubuh, menatap dinding kayu yang kecokelatan.


Ketika sampai di pangkalan itu, ia akan menyewa kelompok tentara bayaran untuk mencari Yulis. Semoga saja ... semoga saja sahabatnya tidak kenapa-napa. Ia sungguh tidak bisa bertingkah egois dengan bertindak sendiri lagi. Ketika ia bertemu dengan Ganesha, Nanda tahu suaminya tidak akan membiarkannya mengambil resiko. Ia juga tidak mau terus-menerus membuat suaminya khawatir.


Helaan napas terlontar, Nanda memejamkan kedua mata.


Ganesha ... apa yang sedang dilakukannya sekarang?

__ADS_1


__ADS_2