
Sebagai seorang pemimpin, pria tinggi dengan kulit tan terbakar matahari itu telah memastikan semuanya sesuai dengan rencana. Ia memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal, telah mengintruksikan beberapa bawahan untuk dipindahkan, juga berkomunikasi dengan Ganesha dengan perubahan rencana.
Semuanya berjalan dengan lancar. Tidak sampai satu jam, semua orang kembali ke mobil masing-masing dan melanjutkan perjalanan. Rombongan besar, yang membawa lebih dari satu mobil dengan satu truck adalah rombongan yang menarik minat para zombie. Banyaknya manusia, terlebih dengan suara bising kendaraan roda empat, semakin banyak zombie yang melangkah mendekat.
Ganesha tidak memerintahkan jenisnya untuk menjauh. Ia hanya diam, tutup mata dan pura-pura tidak melihat ketika banyak zombie yang perlahan mendekat dan mencoba menghadang. Kapanpun Ganeshan ingin mengendalikan, ia hanya tinggal mengendalikannya saja. Tidak sulit untuk mengatur para zombie yang levelnya di bawahnya. Itu sama halnya seperti ketika seseorang ingin menggerakkan tangan atau kaki. Sangat mudah dan tidak perlu perintah dua kali.
"Kau tidak menyukai Luna?" di dalam perjalanan, ketika Nanda sedang asik bersenandung seraya menyupir, Ganesha mendadak bertanya. Membuat Nanda yang bersenandung dan makan kacang hampir tersedak. Ia agak terbatuk, cepat-cepet memuntahkan kacang ke luar jendela, lalu meminum air yang langsung disediakan Ganesha.
"Sayang, kau hampir membuat kita kecelakaan" Nanda menggerutu. Beruntung mobil tidak oleng sama sekali karena ia yang tersedak. "Kenapa tiba-tiba bertanya?"
"Nda membenci Luna?" Ganesha kembali bertanya, seolah kejadian tersedak itu tidak pernah ada. Bukan salahnya bila ia menjadi agak penasaran. Luna, wanita mungil itu kembali menghampiri hummer mereka ketika mengetahui Nanda akan ikut Ganesha. Ia membujuk, seolah khawatir. Tetapi jelas tidak mempan. Wanita itu pada akhirnya menyerah dan kembali ke caravan. Berkumpul dengan kelompok non-tempur.
Alis Nanda terpaut dengan pertanyaan suaminya. "Tidak benci," jawabnya jujur. "Aku cuma ... bagaimana menjelaskannya? Agak waspada dengannya? Itu sebabnya aku tidak ingin terlalu dekat dengannya. Yah ... sudah bertahun-tahun sih, tapi ... well, aku tetap tidak mau terlalu dekat."
"Hmm?"
Nanda menghela napas, menatap ke depan dan menyandarkan punggung ke kursi. Sepasang iris terlihat fokus dengan jalan di depannya, tetapi pikiran wanita itu jelas tidak berada di tempatnya. "Yah ... sayang, dulu, ketika kita masih SMA, kita satu sekolah. Kau dan aku, juga Luna dan Raja."
"Sekolah?"
"Um," Nanda mengangguk. Mulai menceritakan awal mula ia mulai tidak nyaman dengan keberadaan Luna. "Aku, Luna dan Raja satu kelas--sebentar. Sayang, kau tahu kan maksudku dengan sekolah?"
Ganesha mengangguk. Sejak rajin menghisap darah Nanda, akalnya semakin baik. Beberapa hal, secara tidak bisa dijelaskan mampu ia pahami. Terlebih interaksi sosial yang kerap ia perhatikan dari ras manusia. Karena itu, dalam kurun waktu beberapa bulan, dari Zombie polos yang bahkan tidak mengerti berbicara, Ganesha perlahan mulai mengerti banyak hal dengan kecepatan yang terlihat oleh mata telanjang.
Nanda merass bangga, oh, suaminya memang jenius! Namun ia juga merasa sayang karena tidak bisa melihat suaminya yang polos dan imut lagi.
"Nah, kita berempat, satu sekolah. Saat itu, aku dan kamu sudah berpacaran. Waktu itu kami berteman cukup akrab. Lalu ada sebuah insiden yang melibatkan Luna dan Raja," alis Nanda terpaut. Agak bingung bagaimana menjelaskan bagian ini. "Inti dari insidennya, Luna dipermalukan. Raja waktu itu naksir Luna, jadi dia benar-benar marah--"
"Dipermalukan?"
"Ya," Nanda agak ragu. Ia menatap jalanan berbatu. "Sayang, kau ingin aku menceritakannya secara ringkas atau detail? Sebentar lagi kita sampai ke pinggir desa."
Ganesha menatap ke depan, menyadari bahwa kecepatan rombongan mulai melambat. "Malam ini, saat kita berburu harta karun?"
Nanda terkikik mendengar kata harta karun. Tanpa ragu setuju. Tepat ketika suara mereka jatuh, walkie-talkie berbunyi. Menyuarakan bahwa rombongan akan terpisah. Pada akhirnya dua kelompok mobil terbentuk. Satu truck dengan beberapa mobil berhenti, terparkir saling merapatkan sementara sisa yang lain memarkirkan diri di luar.
Orang-orang yang parkir bagian dalam ke luar. Membunuh zombie-zombie sementara para pengguna kemampuan tanah langsung membuat dinding tanah untuk membentuk zona berlindung. Satu jam kemudian, dinding setinggi 3 meter terbentuk. Cukup kokoh untuk menahan dari lingkungan luar penuh zombie.
Saat merasa cukup aman, kelompok yang berada di luar tembok kembali masuk ke mobil masing-masing. Memulai perjalanan untuk mengumpulkan bahan makanan di dalam desa yang berada di pinggir kota. Deru mobil terdengar, debu-debu berterbangan sepanjang roda berputar menginjak tanah kering. Suasana desa yang dimasuki sekelompok 5 mobil terlihat seperti kota mati.
__ADS_1
Setiap rumah rusak, usang, dengan banyaknya beberapa bagian yang terbuka. Mayat-mayat hidup dengan tubuh membusuk dan organ yang bahkan tidak lengkap, merayap keluar mendekati sumber suara dan kehidupan. Seandainya ada yang masih tidak tahan dengan film horror atau triller, Nanda yakin orang itu akan mati ketakutan bahkan sejak hari pertama virus menyebar.
Orang-orang di dalam mobil tidak tinggal diam ketika mobil mereka mulai dihalangi oleh segerombolan zombie yang berlari mendekat. Mereka mengeluarkan senjata dan kemampuan mereka, menghancurkan kepala zombie dan bahkan tanpa ragu ke luar dari mobil hanya untuk memanen nukleus dari kepala yang telah hancur dan berceceran di tanah ...
Nanda mengerucutkan bibir. Ia dan beberapa orang bagian logistik tidak keluar dari mobil. Segerombolan zombie adalah tugas orang-orang yang lebih kuat untuk menghadapinya, mereka yang tidak terlalu pandai bertarung masih cukup sadar diri untuk tidak merepotkan mereka yang sedang memanen kepala zombie.
Ganesha, tentu saja keluar dari mobil. Turut membantu dengan kemampuan petirnya yang telah terekspose. Oh, semua orang mengira zombie tingkat tinggi ini memiliki kemampuan petir. Hal ini membuat Nanda merasa sangat bosan. Ia menonton dari dalam mobil, memandang sekitar dimana mobil mereka nyaris dikepung oleh lebih dari 50 zombie.
Jumlah ini terbilang banyak, tetapi bukan apa-apa bagi Ganesha dan Raja. Mereka membawa sekitar 20 orang, dengan 5 orang yang tidak aktif dan sebagai logistik plus Nanda yang menganggur dan tidak melakukan apapun. Zombie yang menyerang mereka, kebanyakan adalah zombie level 1 dan dua, pergerakan mereka tidak selincah zombie level 3, itu sebabnya mereka berani untuk keluar dan menghadapi zombie secara langsung.
Mumpung semua zombie level rendah, lebih baik memanen uang. Ketika sampai di pangkalan, nukleus sudah menjadi sebuah mata uang secara global. Jadi, menghindari zombie-zombie ini benar-benar sebuah kerugian.
Sangat miskin.
Nanda menatap prihatin pada kelompok raja. Melihat kinerja kelompok ini, sekarang ia mengerti kenapa Raja dan kelompoknya dengan senang hati mau berjanji mengantar Nanda dan Ganesha. Yah ... bukan berarti kelompok ini lemah, tetapi mereka semua masih tahap pengembangan diri. Untuk rata-rata orang, kelompok ini termasuk kuat.
Bagaimana tidak? 14 orang, menghadapi lebih dari 50 zombie adalah hal yang luar biasa. Walau ia tahu kebanyakan adalah berkat kontribusi Ganesha dan Raja, tetapi tetap saja tim ini sangat kuat. Namun tidak semua zombie yang dihadapi adalah level 1 dan 2, zombie tanpa level masih lebih mendominasi. Jadi, lebih dari 50 zombie diselesaikan dan semuanya ... yah, tidak semuanya memiliki nukleus.
Setelah ini, nukleus yang bahkan tidak mencapai 30 butir, masih harus dibagi-bagi lagi untuk 14 orang ...
Oh, benar-benar miskin.
Setelah lebih dari dua jam bolak-balik menghadapi segerombolan zombie, orang-orang pada bagian logistik berlarian menggali kristal yang berada di otak zombie. Mereka semua melakukannya dengan terampil, jelas sudah terbiasa dan tidak lagi meresa jijik. Pergerakan mereka cepat, jadi tidak memerlukan waktu lama sampai lima orang bagian logistik kembali dan mobil melanjutkan perjalanan.
"Sayang, apakah kau tidak sakit hati melihat rekanmu dibunuh dan bahkan kau ikut membunuh mereka?" Nada bertanya, seraya menyupir. Bagaimanapun, sejak tahu suaminya adalah zombie, Nanda tidak lagi membunuh zombie. Sebagai gantinya, ia hanya berlatih dengan membunuh hewan-hewan zombie dan menggali nukleus mereka.
"Tidak," Ganesha menjawab tanpa ragu, sesuai dengan apa yang Nanda prediksi.
Zombie tidak memiliki perasaan sentimental dengan sesamanya. Mereka bergerak seperti robot, teprogram dengan baik untuk patuh dengan yang lebih kuat. Namun, tetap saja. Nanda akan merasa sedih dan agak tidak nyaman ketika melihat banyak zombie manusia yang kepalanya ditebas.
Bagaimanapun, suaminya adalah zombie, bila sampai zombie yang kepalanya hancur itu adalah Ganesha ... sungguh, membayangkannya membuat Nanda ketakutan bukan main. Karena itu, ia sangat ingin meningkatkan level Ganesha. Ia akan membuat suaminya menjadi sekuat mungkin hingga tidak ada yang bisa melukai kekasihnya ini. Ia juga akan menjadi lebih kuat, agar tidak ada satupun manusia, yang bisa menyentuh atau bahkan berani mengambil Ganesha dari sisinya.
"Gedung berada di depan, bersiaplah," suara walkie-talkie mendadak terdengar. Memberitahukan bahwa tujuan mereka sudah dekat. Karena itu, semua orang mulai waspada. Sungguh, tidak ada yang takut dengan zombie-zombie yang berkeliaran di sekitar mereka, yang mereka takutkan adalah zombie level tinggi yang diam-diam bersembunyi.
Bangunan besar satu lantai terlihat di mata mereka. Gedung besar berdinding beton itu lebih menyerupai sebuah gudang, ketimbang Mall kecil. Dengan halaman luas tempat parkir, terlihat banyak mobil-mobil rusak dan berdebu yang berserakan di lantai semen. Beberapa zombie menyelinap keluar. Satu persatu, berkumpul mendekati 5 mobil yang baru saja datang. Namun belum sampai beberapa meter mendekat, kepala mereka semua akan hancur. Tertembak peluru yang dilepaskan.
Semua orang keluar dari mobil yang sudah terparkir, termasuk Nanda yang memegang sebuah pistol. Sebelum berangkat, seorang pria dengan wajah penuh senyuman menyerahkan pistol dengan banyak peluru kepada Nanda. Ini untuk berjaga-jaga, toh mereka tidak kekurangan peluru. Kemampuan Raja adalah membuat peluru apapun dari senjata yang dipegangnya. Itu sebabnya, semua anggota kelompok Raja, tidak pernah kekurangan peluru di saku mereka.
"Dek, jangan jauh-jauh dari kami, oke?" Dwi mendekati Nanda. Refleks berdiri di depan Nanda dan mencoba bersikap protektif kepada sosok wanita yang terlihat lemah dan lembut ini. "Suamimu di depan, kami tidak selalu bisa melindungimu."
__ADS_1
Tidak ada yang mengatakan bahwa mereka harus melindungi Nanda, tetapi semua orang diam-diam tahu bahwa ia adalah istri si pria bertopeng yang sangat kuat. Akan menjadi masalah bila saat misi berlangsung, Nanda kenapa-kenapa. Tidak baik bila sampai pria bertopeng itu mengira bahwa kelompok mereka dengan sengaja tidak melindungi Nanda disaat pria bertopeng melakukan pekerjaannya kan?
Sungguh merepotkan. Mereka bahkan masih harus menjaga nyawa mereka, sekarang mereka harus melindungi orang yang terlihat sangat lemah ini. Oh, semua orang mengeluh diam-diam di dalam hati. Tidak mungkin juga meninggalkan Nanda di dalam mobil. Bagaimana bila ada zombie yang menyerang gadis ini ketika mereka berada di dalam Mall? Itu sebabnya tidak ada yang memprotes ketika Nanda turun dan ikut bergabung bersama mereka. Meski beberapa mata menatap kesal dan mencibir kepada perempuan yang terlihat lemah ini, mulut mereka tidak terbuka untuk mengejek.
Cukup untuk menghina di dalam hati, tidak perlu untuk mengucapkannya bila tidak mau mencari masalah.
20 orang secara perlahan memasuki Mall. Formasi yang dibentuk, masih sama seperti diingatan Nanda. Orang-orang terkuat berada di lingkaran paling luar sementara yang terlemah berada di lingkaran paling dalam. Selama ada zombie, lingkaran terluar akan bergerak melindungi orang-orang terlemah. Terutama, Dwi yang merupakan pengguna kemampuan ruang.
Pintu masuk Mall berupa pintu otomatis yang terbuat dari kaca, tetapi sekarang, kaca itu pecah, berhamburan menjadi butiran kristal di lantai yang berdebu. Beberapa mayat dan noda gelap terlihat. Suasana berantakan dan gelap pada bagian dalam Mall sudah cukup memberitahukan bahwa mereka bukanlah kelompok pertama yang ingin menjarah Mall.
Dor! Dor!
Suara tembakan mulai terdengar, memekakan telinga dan memecah keheningan. Jumlah zombie yang mengincar mereka tidak sebanyak di luar. Jelas, zombie-zombie ini sepertinya tidak berkerumun di Mall tetapi di desa. Hal ini mempermudah langkah para penjarah untuk masuk. Namun, meski hanya beberapa zombie yang mendekat, mereka masih tetap waspada dan tidak merubah formasi.
Bagian dalam Mall gelap, berantakan dan busuk. Seorang pengguna kemampuan api mulai membuat api sebagai sumber cahaya. Bagaimanapun, tidak ada listrik, bagaimana bisa Mall tanpa jendela ini akan terang? Satu-satunya sumber cahaya hanyalah pintu yang rusak dan api yang dibuat oleh pengguna kemampuan api.
Namun, Nanda dan Ganesha memandang semua hal dengan sangat jelas. Mata mereka bisa melihat di dalam kegelapan. Semakin gelap, semakin baik. Keadaan remang-remang justru terasa tidak terlalu menyenangkan.
Begitu mereka masuk, banyak jajaran lemari besi yang tersusun dengan baik, dibalik jajaran mesin kasir yang sudah berdebu dan rusak. 20 orang berjalan dengan pelan dan waspada pada bagian dalam Mall. Langit-langit Mall sangat tinggi, dindingnya kelabu dan berdebu. Beberapa barang berserakan berantakan di samping lemari besi yang berjajar membentuk lorong kecil yang panjang.
Suara tembakan yang besar, memantul di dinding beton yang besar, memberikan efek suara yang jauh lebih besar. Terlebih dengan pencahayaan yang cenderung minim, percikan api dari moncong pistol dengan mudah terlihat oleh mata telanjang. Setelah entah berapa menit orang-orang meludahkan peluru mereka, tidak ada lagi pergerakan zombie yang terlihat oleh mata.
Semua orang diam di tempat, tidak lagi bergerak dan mulai dengan serius menatap sekelilingnya. Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang membuat suara. Semua orang mempertajam indra mereka. Memastikan tidak ada gerakan di luar kelompok, mencoba mendengarkan apakah ada suara geraman ...
Raja menoleh ke belakang lalu mengangguk. Gerakan kecil ini adalah aba-aba bahwa mereka sudah boleh tersebar, tetapi tetap saja, semua orang tidak melonggarkan kewaspadaan. Dwi dan 4 anggota logistik langsung berpencar bersama beberapa orang kuat untuk mengumpulkan bahan-bahan, sementara sisanya menyebar sendiri-sendiri dengan senter di tangan masing-masing.
Nanda, tentu saja berjalan bersama Ganesha. Mereka tidak tertarik dengan barang-barang yang berada di Mall kecil ini. Semua hal yang lebih baik sudah berada di dalam ruang dimensi mereka, jadi keduanya murni hanya berjalan-jalan melewati lorong-lorong yang terbentuk dari lemari besar yang menjulang setinggi 2 meter.
Tidak ada yang berbicara diantara keduanya, tetapi dengan kedua tangan yang saling bergandengan, Nanda tidak berhenti untuk tersenyum. Lingkungan yang gelap, berdebu dan bau, tidak mempengaruhi mood Nanda yang bagus. Sejujurnya, ia bisa merasakan bahwa ada zombie level 4 di sini melalui udara, tetapi ia memilih untuk berpura-pura tidak tahu. Suaminya juga hanya diam, melihat-lihat sekeliling dibalik topeng iblis dan bersikap sangat santai seolah-olah mereka berjalan di Mall yang biasa, bukan Mall yang berantakan.
Berbelok dari kiri ke kanan, entah disengaja atau tidak disengaja, Ganesha menuntun Nanda ke tempat dimana mereka menghindari orang-orang. Suasana hening diantara keduanya terasa hangat dan nyaman. Dengan kedua tangan yang saling menggenggam dengan lembut, perasaan perbedaan suhu yang tidak terlalu kentara membuat mereka enggan untuk saling melepaskan.
Ketika merasa sudah cukup jauh dari orang-orang dan tidak mungkin untuk ditemukan, dua pasang kaki sama-sama menghentikan langkah kaki mereka. Secara bersamaan, wajah penuh senyuman saling memandang. Sepasang iris berbeda warna menatap, memancarkan kilau kehangatan yang lembut dan penuh dengan kerinduan. Tanpa mengatakan sepatah kata apapun, tanpa memberikan aba-aba, keduanya sama-sama saling mendekat. Membagi keintiman tubuh yang berbeda satu sama lain. Berciuman dengan panas, saling menyentuh dengan gairah yang menggebu.
Ketika akhirnya Nanda mendorong Ganesha menjauh dan memuntahkan seteguk darah hitam, barulah mereka berhenti dari kegilaan. Suasana panas hancur, napas keduanya terengah-engah. Namun, gangguan kali ini tidak terasa menyebalkan. Keduanya saling memandang, lalu tanpa bisa menahan diri, menertawakan satu sama lain.
Dor!
Suara tembakan memudarkan senyuman keduanya. Dalam hitungan detik, Nanda dan Ganesha menyadari suasana telah berubah. Satu tembakan memecah keheningan, lalu diiringi dengan tembakan yang lain. Keduanya tidak berdiam diri kembali. Berlari mendekati sumber suara dengan kcepatan yang tercepat.
__ADS_1
Zombie level 4 yang berada di ruangan ini sudah mulai bergerak dan jumlah mereka ... lebih dari satu.