Zombie

Zombie
22: Badai


__ADS_3

Suara guntur diiringi dengan kilat yang seolah membuat langit akan runtuh membahana. Mengganggu indra pendengaran dan pengelihatan. Angin kencang berhembus--seolah marah dan ingin melemparkan apapun yang dilaluinya. Air hujan bak tetesan jarum yang jatuh ke bumi dengan deras menabrak apapun yang dilalui, membasahi semua hal yang menghalangi jalan.


Tap. Tap. Tap.


Ringan tetapi cepat. Langkah kaki yang memecah air menjadi sebuah riak terlihat seperti bayangan. Bergerak dengan begitu mudah diantara semua kekacauan yang berada di sekitar. Sosok ramping mengenakan pakaian serba hitam menyatu dengan kegelapan, membuat ia nyaris tak terlihat ketika setiap pergerakan seolah hanya menyisakan bayang-bayang samar.


"Aaarrrgghhhh!"


Auman marah membahana diantara angin dan hujan yang menderai. Makhluk menyerupai manusia mengaum ke arah langit, sebelum akhirnya menatap sekeliling dengan kepala yang menoleh ke kanan dan ke kiri. Wanita yang hanya mengenakan gaun tidur berwarna cokelat itu nyaris telanjang. Pakaiannya compang-camping, memamerkan area kulit yang berwarna kelabu dan bernoda oleh beberapa gores yang mengeluarkan darah hitam.


Srak!


Goresan itu bertambah kembali. Kali ini lebih dalam dan berada di kedua lutut hingga membuat Zombie wanita langsung terjatuh di atas rumput. Cairan hitam mengalir keluar bak keran bocor, membuat auman marah Zombie wanita semakin mengenaskan. Beberapa zombie lain di sekitarnya ikut mengaum--seolah sangat marah ketika pemimpin mereka dilukai.


Seolah menjadi sebuah insting, para zombie yang semula menyebar, dengan panik berlarian mendekati zombie wanita. Mengelilingi dan membuat benteng pertahanan yang terbuat dari tubuh mereka sendiri. Hal ini tidak menghalangi Nanda untuk membunuh zombie wanita level 4, tetapi yang menjadi masalah adalah benteng zombie ini akan memberikan waktu zombie wanita untuk menyembuhkan semua luka yang berada di tubuhnya.


Nanda mengernyitkan alis. Di tengah badai dan angin kencang, tubuhnya tidak basah sema sekali. Dengan mudah, sosok yang cenderung kecil memanfaatkan angin kencang di sekitar, membuat putaran dan kekuatan angin semakin kuat hingga para zombie yang berada di sekitar zombie wanita tersapu rata. Hal itu membuat zombie wanita berteriak panik. Namun Nanda tidak peduli. Ia langsung menyerang zombie wanita dengan kemampuan air. Menghujaninya dengan peluru-peluru air yang memadat dan membuat setiap goresan dalam pada setiap kulit zombie.


Ini tidak cukup.


Napasnya secara bertahap menjadi agak berat. Bagaimanapun, kulit zombie level 4 sangat keras. Ia hanya bisa menyerang dengan sekuat tenaga untuk menggores setiap area sendi terus menerus untuk melemahkan pergerakan zombie, terutama leher. Namun zombie wanita seolah tahu tujuannya. Ia tidak henti menggerakkan kepalanya, mencoba menghindari peluru air meski beberapa goresan tetap mengenai kulitnya.


Nanda menggeretakkan gigi. Tanpa ragu menggunakan jarum-jarum es yang tipis dan padat. Mengganti peluru air panas, menjadi jarum tipis yang sangat keras dan dingin. Nanda juga tidak ragu membekukan zombie wanita. Mencegah pergerakannya dan berhasil membuat sosok itu tidak kembali bergerak.


Srak!


Jutaan jarum es meluncur secara bersamaan ke kepala zombie wanita yang tidak bisa bergerak. Lalu dalam hitungan persekian detik, jarum es yang melesat, menembus tubuh zombie wanita. lubang-lubang halus terbentuk, tetapi karena terlalu banyak ... dengan mudah tubuh yang tidak bergerak itu secara bertahap dibanjiri oleh cairan hitam yang tidak henti keluar mengalir dari balik kulit yang telah terlubangi sebelum akhirnya hancur seolah meleleh menjadi daging cincang.


"Haah ... ," Nanda menghela napas lega. Tepat ketika zombie level 4 telah kalah, zombie-zombie lain yang berada di sekitarnya seolah seperti kecoak tanpa kepala. Berjalan terhuyung-huyung dan tidak tentu arah. Nanda tersenyum geli. Moodnya sangat bagus setelah berhasil membunuh zombie wanita. Karena itu, ia langsung melambaikan tangan, memadatkan udara dan dengan mudah, memenggal banyak kepala zombie di sekitarnya.


Oh, seminggu lebih sudah badai ini terjadi. Angin kencang yang disertai hujan benar-benar terlihat berbahaya. Terutama pada malam hari yang cenderung gelap gulita tanpa ada pencahayaan apapun. Namun Nanda memiliki pengelihatan malam. Elemen kemampuannya adalah angin dan air. Badai kali ini benar-benar membuatnya penuh dengan energi. Buktinya, ia baru saja merasa kehabisan tenaga, dalam hitungan detik tenaganya seolah diisi kembali. Ia hanya perlu sedikit berdiam diri dan semua kelelahan tersapu bersih.


Menyadari situasi yang sangat menguntungkannya, Nanda tidak menyia-nyiakan sama sekali. Karenanya, selama badai, ia tanpa sungkan berlari keluar sendirian hanya untuk melatih kemampuan. Oh, Nanda berhasil mengalahkan zombie level 4, tetapi mengalahkan satu zombie level 4, ia memerlukan waktu lebih dari 2 jam. Itu cukup lama dan menguras kemampuan. Namun beruntung, situasi sekarang dengan mudah mengisi batrai energinya kembali.


Berlarian mengelilingi daerah sekitar di tengah badai, benar kata Erica. Daerah ini merupakan daerah perkebunan dan peternakan. Beberapa gudang yang menampung hasil panen terlihat, juga ada beberapa kandang bekas yang telah rusak. Namun sayangnya, sejauh ini lebih banyak zombie dan beberapa mobil bekas rusak yang terparkir asal-asalan. Oh, beruntung mereka memilih gedung pabrik yang berjarak cenderung jauh dari derah pertanian, bila tidak ... Nanda bisa membayangkan mereka akan bertemu dengan zombie wanita tadi.


Hendak kembali ke pabrik, Nanda dengan cepat mengganti pakaian dan menyelinap masuk ke dalam pabrik. Tanpa suara sama sekali, wanita berkuncir itu masuk ke dalam mobil pick-up dan berbaring. Energinya memang kembali terisi, tetapi secara fisik, Nanda merasa lelah. Karena itu, ketika ia berbaring dan menaruh kepala ke atas bantal, dengan mudah wanita itu jatuh ke dalam tidur yang tenang.


.


.


.


"Terus pukul!"

__ADS_1


"Awas hati-hati Lih!"


Nanda dan Erica menatap 8 orang berbeda ukuran tengah menghadapi beberapa zombie. Kelima kurcaci dan trio pemuda saling bekerja sama. Mencoba membasmi zombie level 1 yang sengaja Erica dan Nanda kirim. Hanya ada 2 zombie, tetapi karena keadaan angin kencang dan hujan, pergerakan para pemuda dan anak-anak itu terhalang.


"Perasaanku saja atau memang kamu sengaja, Nda?"


"Hm?" Nanda tidak menoleh, matanya masih memandang orang-orang yang bertarung di halaman pabrik. Bila terjadi kecelakaan, setidaknya ia bisa melakukan pencegahan lebih cepat.


"Kamu sengaja buat mereka latihan lebih keras," Erica menyandarkan punggung ke kursi, menatap dari lantai dua di balik jendela kaca. Dari ketinggian ini, mereka mengawasi tanpa membuat orang-orang di bawahnya merasa terganggu. Intensitas pelatihan semakin tinggi, terutama untuk di luar ruangan. Erica juga turut dibuat berlatih berkat Nanda. Namun ... "Kamu sendiri yang bilang, tidakĀ  membuat tentara anak."


Nanda menghela napas. "Te, aku cuma mau melatih fisik mereka, bukan mau merubah mereka menjadi super kuat dan bergabung ke tentara."


"Fisik mereka sudah cukup baik."


Nanda cemberut. "Te, perubahan suhu yang mendadak dan perubahan lingkungan yang ekstream, itu akan mempengaruhi fisik mereka. Bila fisik mereka tidak bisa mengibanginya ... ," Nanda menggelengkan kepala. Tidak mau mengucapkan kata-kata itu. "Bagaimanapun, mereka bukan pengguna kemampuan, akan berbahaya bila tubuh mereka tidak dipaksa untuk mulai beradaptasi dengan lingkungan."


Wanita berambut pendek itu menghela napas berat. Sejak menyadari bahwa perubahan cuaca sekarang cenderung ekstream dan sangat tidak wajar, terlebih intensitasnya seperti memaksa semua orang untuk bertahap mati, Entah untuk mati kepanasan karena dehidrasi atau mati kedinginan karena hyportemia. Erica menyadari bahwa Nanda mulai serius.


Ia secara ketat memastikan fisik setiap orang akan terbiasa dengan lingkungan. Baik dalam cuaca dingin maupun panas, mereka harus dapat menerimanya. Karena itu, tanpa ragu Nanda meminta para kurcaci dan trio pemuda selalu berlatih di luar dimana badai dan hujan deras tengah menerpa.


"Bagus sekali!" Nanda berseru, berterpuk tangan dari lantai dua ketika Zombie berhasil dikalahkan. Mereka memerlukan waktu kurang dari 30 menit. Main keroyokan seperti itu, seharusnya Zombie bisa dikalahkan kurang dari 10 menit, tetapi ketika para pemuda lebih mementingkan kurcaci kecil untuk menyerang dan bahkan secara halus mengajari mereka bagian mana saja yang lebih dulu untuk diserang, 30 menit adalah waktu tercepat yang didapat, murni untuk para anak kecil yang baru saja diajari oleh trio pemuda yang bersama mereka.


"Oke, semuanya sudah bekerja keras, sekarang waktunya masuk, mandi air hangat, lalu makan!" Nanda tersenyum, lalu bangkit berdiri dan berbalik untuk meninggalkan lantai dua. Sementara para anak kecil dan pemuda yang mendengarnya sama-sama menghela napas lega, sebelum akhirnya saling melemparkan tawa seraya masuk kembali ke dalam gedung pabrik dalam keadaan tubuh basah kuyup.


Semua orang merasa lelah, tetapi para kurcaci ini seolah tidak menyadarinya. Mereka saling mendorong, menjerit dan tertawa. Berlarian dan berlomba siapa duluan yang masuk ke dalam pabrik. Tawa anak kecil menggema di ruangan besar yang penuh dengan mesin dingin. Terdengar menyenangkan dan penuh dengan kebahagiaan. Hal itu memiliki dampak yang sangat menular, membuat siapapun yang mendengarnya, tidak bisa menahan senyum yang melengkung di kedua belahan bibir.


"Oke Kak Erica!" Empat anak dan tiga pemuda yang mengantri menjawab dengan serempak.


"Sini, sini, Kak, aku bantu," Ken melihat panci kotor yang dibawa Erica dan refleks bergerak untuk meraihnya. Ia tahu, Erica ingin mencucinya, jadi ia berinisatif membantu. Melihat Ken yang rajin, Bobi dan Genta merasa kesal. Oh, mereka juga ingin berguna!


"Ada yang lain Kak?" tanya Genta. "Misalnya cuci sayur atau sesuatu?"


"Bawa beberapa barang misalnya?" Bobi menambahkan. Mereka bertiga mulai menggunakan bahasa baku. Bagaimanapun, apa yang dikatakan Nanda memang masuk akal. Di Pangkalan, akan banyak orang dengan berbagai macam bahasa karena dari berbagai daerah, Pangkalan, sudah dipastikan akan memutuskan menggunakan bahasa Baku sebagai bahasa wajib untuk berkomunikasi, itu sebabnya, setidaknya, mereka harus terbiasa.


"Sejak kapan kita punya sayur?" si kecil Raga menyahut, mempertanyakan prihal tanaman hijau yang sudah sangat lama tidak mereka makan. Bagaimanapun, sayuran dan buah-buahan tidak mungkin untuk dimakan. Ketika ditemukan, kebanyakan mereka telah layu dan berjamur. Asal mengambil di alam liar juga tidak terjamin, itu sebabnya mereka belum pernah memakan sayur sama sekali.


"Oh, benar," Genta canggung, menggaruk pipinya dengan kikuk.


Erica tersenyum. "Nanti kita bisa makan sayur ketika sudah sampai di pangkalan."


"Kenapa harus makan sayur? Daging sudah cukup, itu enak," Karin cemberut. Ia tidak suka makan sayur. Oh, bukan hanya ia, tetapi anak-anak lain juga berpikir sama. Itu sebabnya mereka tidak masalah sema sekali dengan absennya keberadaan tanaman yang dimasak di dalam mangkuk mereka.


"Pfftt--ahaha, kalian anak-anak, tidak ada yang suka sayur?" Bobi tertawa, mengusap kepala Karin yang mulai memanjang hampir menyentuh bahu.


"Tidak suka," Monta menjawab jujur. Wajahnya serius, seolah menyatakan kedefalutan bahwa ia menganggap sayuran adalah musuh alami yang harus dihindari.

__ADS_1


"Kenapa tidak suka sayur?" Erica tersenyum, menyandarkan punggung di dinding dan bersedekap seraya menatap barisan. Ken sudah selesai mencuci, ia ikut bergabung dan mendengarkan kelompok kecil yang mulai membahas sayuran.


Leo mengerucutkan bibir. "Rasa sayuran ... tidak enak."


Tiga anak yang lainnya mengangguk setuju.


"Bagaimana bila sayurnya kakak masak menjadi enak?"


"Eh?" anak-anak terlihat bingung. Mereka saling pandang, jelas merasa kaget dengan pernyataan Erica yang akan membuat sayuran menjadi ... enak? Apakah memang bisa?


"Waah ... parah, selama ini yang kalian makan kan masakan Kak Erica, masa' tidak percaya dengan masakan Kak Erica?" Ken tertawa geli di dalam hati, tetapi ekspresinya dibuat seserius mungkin. Menatap keempat kurcaci yang tidak menyukai sayur dengan pandangan kecewa.


Bobi menyeringai. "Hayoo ... ngaku kalian. Masakan Kak Erica tidak enak ya?"


"Enak kok!"


"Masakan Kak Erica enak!"


Anak-anak buru-buru menjawab, panik dengan tuduhan yang dilontarkan oleh Bobi. Oh, masakan Kak Erica selalu enak, mereka menyukai masakan Kak Erica, itu sebabnya tidak pernah menyisakan makanan sama sekali.


"Sayuran yang dibuat Kak Erica pasti enak!"


"Oh ya?"


"IYA!"


Erica tertawa mendengar godaan dari trio pemuda dan kepanikan anak-anak kecil itu. Ia menggelengkan kepala dengan tidak percaya seraya memegang panci yang sudah bersih. "Yah ... nanti, ketika sampai di pangkalan, Kakak akan membuatnya. Kalian bisa mencicipinya dulu, apakah nanti akan enak atau tidak," ucapnya bijak.


"Ah, masakan Kak Erica sudah pasti enak," Ken terkekeh. Oh, tentu saja enak, bukankah Kak Erica adalah seorang Koki? Ia sudah terbiasa di dapur dan mengolah makanan di restoran kelas atas. Hasil dari keterampilan tangannya tidak bisa diremehkan.


Erica hanya mendengus geli dengan pujian itu.


"Oh ya Kak, Kak Nanda tidur lagi?" tanya Bobi tiba-tiba. Entah bagaimana, Nanda seringkali tertidur. Wanita berambut panjang itu hanya akan terbangun ketika mereka akan berlatih di luar pabrik sementara untuk menikmati sarapan, makan siang dan makan malam ... Nanda benar-benar tidak mau diganggu gugat. Ia bahkan membuat sebuah balok es pembatas agar tidak ada yang bisa mengganggu tidurnya.


Hal ini membuat semua orang merasa cemas. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nanda? Nanda tipe orang yang aktif dan tidak bisa diam, tetapi mendadak ...


"Ya," Erica mengangguk.


"Kak Nanda ... dia gak sakit kan?" Ken menelan liur paksa, tidak menyembunyikan kekhawatirannya. Sosok ceria dan mungil Nanda terlihat sangat rapuh.


"Tenang, dia sehat, malah sangat sehat," Erica menghela napas, merasa agak geli dengan kekhawatiran trio pemuda dan para anak kecil di sekitarnya. "Ini hanya ... mm ... seperti seseorang yang sudah kenyang, lalu merasa mengantuk," jelasnya. Namun sayangnya, tidak ada yang mengerti maksud Erica. Tetapi melihat wanita berambut pendek itu terlihat tidak mau menjelaskan apapun dan tidak khawatir ... yah ... mungkin Nanda memang tidak apa-apa?


Sebenarnya, kekhawatiran mereka sangat tidak perlu. Erica menyadari itu karena ia sendiri juga mengalaminya, tetapi tidak sampai separah Nanda. Kemampuan Erica adalah elemen. Ketika suhu udara cenderung kering atau tidak adanya kelembapan yang menghalangi api untuk membakar, ia akan merasa selalu bertenaga. Karena itu terkadang, ketika suhu terlalu panas, Erica cenderung merasa nyaman dan membuatnya agak mengantuk karena energi yang tidak henti seperti mengisinya.


Badai kali ini juga memancing Nanda. Kemampuan Nanda adalah air dan kali ini, banyak air yang berjatuhan. Anak itu jelas kelebihan energi, karenanya setiap malam akan keluar untuk melampiaskan energinya. Itu sebabnya, ketika kembali, Nanda harus mengistirahatkan fisik yang semalaman dibuat kelelahan. Namun tidurnya Nanda terlalu panjang. Badai secara konstan tetap mengamuk di luar sana. Energi yang diberikan tentu sangat berlimpah. Mau tidak mau bila tidak bisa melampiaskannya ... Nanda harus mengkonsumsinya sendiri untuk pengembangan fisiknya.

__ADS_1


Itu sebabnya tidak masalah bila Nanda tidur begitu lama. Ketika tengah malam, keponakannya akan makan. Bagaimanapun, fisik seorang pengguna kemampuan jauh lebih kuat ketimbang manusia biasa. Untuk tidak makan sama sekali juga bukan masalah selama mereka beristirahat dengan cukup. Terlebih ...


Entah bagaimana, Erica merasa bahwa Nanda sekarang, jauh lebih kuat dari sebelumnya.


__ADS_2