Zombie

Zombie
17: 5 Anak Kecil


__ADS_3

Geraman terdengar, bersamaan dengan aroma busuk yang mengudara. Teriakan demi teriakan silih berganti memekakan telinga, tetapi tidak akan ada yang sempat untuk menolong yang lain ketika untuk melindungi diri sendiri pun begitu sulit. Kekacauan, ketika salah satu zombie yang paling kuat berhasil masuk membuat para manusia dilanda ketakutan ekstream. Kematian berada di depan mata, rasa sakit tidak berarti apapun ketika keinginan bertahan hidup terpacu memompa jantung.


Erica, yang dilanda kepanikan, dengan membabi buta melemparkan banyak bola api. Membakar para zombie hingga mereka menjadi sehitam arang dan tak berbentuk. Namun tindakannya terlihat tidak berarti dengan jumlah zombie yang terlalu banyak. Para pengguna kemampuan yang lain melakukan hal serupa. Berpacu dengan kematian dan mencoba menyelamatkan nyawa kecil mereka yang berharga.


"Tolong!"


"Akh! Kumohon, tolong aku!"


"Jangan ... jangan mendekat ... jangan ... ."


"Ah, ah! Sakit! Tolong selamatkan aku! Tolong!"


Teriakan kian lama kian beragam. Orang-orang yang mencoba mencari pertolongan semakin intens melolong. Terutama, sosok-sosok yang bersembunyi pada bagian dalam gerbang. Erica tidak bisa tinggal diam. Meski napasnya mulai tidak beraturan dan kepala terasa pusing, ia tetap bergerak. Melemparkan bola api dan berlari menuju gerbang untuk menyelamatkan orang-orang.


Sekilas, ia terlihat angkuh dan dingin. Tidak banyak bicara dan menyendiri. Namun diam-diam, Erica kerap memperhatikan sekitarnya. Terutama anak-anak dan orang tua. Bagaimanapun, meski menyedihkan, pangkalan ini memiliki banyak kehidupan. Erica tidak bisa begitu saja menutup mata. Karenanya, tanpa ragu ia melangkah memasuki gerbang dan mulai menyerang banyak zombie yang berkeliaran di sekitarnya.


"Huwaaaaaaa!" tangisan melengking terdengar. Erica refleks menoleh, memandang ke arah suara kekanakan yang memekakkan telinga. 5 sosok anak kecil, saling menempel dan membentuk kelompok. Salah satu diantara mereka menangis, sementara yang lain memegang tongkat kayu ketika para zombie yang bergerak kaku mencoba mendekati mereka.


Wanita berambut pendek itu langsung berlari mendekati para anak kecil. Melemparkan bola api, lalu berdiri tepat di depan kelima bocah kurus dan kumal. Tindakan heroik itu sukses membuat kelima pasang mata tertegu. Menatap kagum kepada sosok wanita yang berlari melindungi mereka.


"Jangan jauh-jauh dari Tante," ucap Erica, seraya melemparkan bola api kepada banyak zombie. Anak-anak kecil itu menurut. Menahan takut dan merapatkan tubuh kepada Erica. Tindakan itu menghalangi langkahnya, tetapi wanita itu tidak memprotes. Berjalan secara perlahan menuju ke sebuah bangunan satu lantai.


Penjara. Terlihat menyedihkan memang, tetapi tempat yang paling aman adalah ini. Tanpa ragu Erica memasukinya bersama kelima anak, menutup pintu dan memandang deretan jeruji besi yang kosong. Bagian dalam penjara sebenarnya luas, tetapi banyaknya jeruji besi hingga hanya menyisakan lorong panjang selebar 2 meter membuat tempat ini terlihat sempit. Terlebih cahaya remang-remang dan udara pengap di dalamnya, menambah kesan suram tentang sebuah tempat pengurungan.


Erica membuat api, membakar sebuah kayu dan membuat penerangan jauh lebih baik. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan ruangan ini memang kosong dan aman. Setelah beberapa menit berjalan dengan perlahan ke bagian dalam Penjara hingga sampai ke ujung jalan buntu, barulah Erica merasa benar-benar yakin tempat ini aman.


Sosok wanita cantik itu menunduk, menatap anak-anak kecil yang masih gemetar ketakutan dan menahan isak tangis. Ia, dengan lembut berjongkok hingga tingginya setara dengan para anak kecil yang berhasil diselamatkan. "Kalian tunggu di sini," ujarnya. "Jangan berisik, Tante gak bakalan lama keluar."


"Kakak ... ."


"Gak, Kakak, jangan ... jangan pegi."


"Tetep di sini Kak, di sini aja ... "


"Jangan pegi ... ."


Rengekan dari kelima anak kecil itu terdengar. Semuanya menahan tangis, menyuarakan penolakan mereka akan keputusan sang pahlawan. Bagaimana bila zombie itu berhasil masuk? Apa yang harus mereka lakukan bila zombie berhasil masuk dan Kakak ini tidak ada di sekitar mereka? Kelima anak kecil mulai gemetar kembali. Tangan mereka yang kotor mencengkram baju Erica, takut bahwa sosok itu akan pergi meninggalkan mereka.


Erica menghela napas. Sebagai seorang wanita, ia selalu bersikap lembut dengan anak-anak. Terlebih ... anaknya sendiri, yang baru berusia 4 tahun, meninggal pada hari pertama virus menyebar. Hal itu selalu menjadi penyesalannya. Karena itu juga, ia paling tidak bisa melihat anak-anak kecil menderita. Terutama mental mereka yang kini telah berubah. Tidak lagi seceria dulu dan harus bisa mengerti dan dewasa sebelum waktunya.


"Di sini aman, tenang aja," Erica mencoba membujuk. Mengusap kepala para anak kecil yang lepek. Tubuh kecil mereka terlalu kurus hingga terlihat hanya tulang dan kulit. Hal ini membuat hatinya semakin terasa tidak nyaman. "Tante cuma bentar keluar, gak bakalan lama. Di luar, banyak monster-monster, nah, Tante mau nyari temen Tante untuk ngebantu Tante ngelawan monster-monster itu, soalnya Tante gak bakalan kuat ngelawan mereka. Kalian liat sendiri kan? Di luar, monster-monsternya ada banyak."


Para anak kecil itu terlihat ragu, reaksi itu membuat Erica mengkulum senyumannya.


"Kalian di sini gak boleh berisik oke? Tante minta kalian ngelakuin sebuah misi."


"Misi?"


"Misi apa Kak?"


"Kalian semua, tolong ngejagain pintu," Erica menunjuk pintu besi yang tertutup rapat. "Nah, tugas kalian, gak bolehin pintu kebuka sampe Tante ngedor dan manggil kalian untuk ngebukain pintu, oke? Bahkan kalo ada orang lain ngedor, kalian gak boleh ngebukainnya."


Anak-anak kecil itu masih terlihat ragu, tetapi pada akhirnya, mereka berkompromi dan mengangguk. Sikap mencoba mengerti itu membuat Erica agak sedih. Anak kecil, pada usia mereka, seharusnya bersikap egois. Tidak mengerti apa itu diplomasi dan memerlukan usaha keras untuk membujuk atau mengalihkan perhatian mereka. Tetapi anak-anak di depannya tidak seperti itu. Mereka tidak mengerti, tetapi mencoba mengerti. Mereka sangat patuh dan penurut seolah takut kesalahan kecil, akan membuat mereka mendapatkan hukuman.


Menghela napas, Erica tidak menunda waktu kembali. Ia melemparkan beberapa kata, lalu keluar dari penjara, menutup pintu dan kembali berteriak dari luar agar anak-anak menjaga pintu agar selalu tertutup. Suara kekanakan  mereka kompak menyahut, memberitahukan bahwa mereka mengerti. Melepaskan kekhawatirannya, wanita berambut pendek itu tanpa ragu mulai melemparkan banyak bola api begitu beberapa zombie mendekatinya. Ada yang tanpa ragu berlari dan menghindar, tetapi lebih banyak yang berjalan dengan kaku.


Aroma besi karat, diiringi dengan tangisan dan teriakan menggema di udara. Hal itu membuat Erica mengkatup rapatkan mulutnya. Tubuhnya menegang ketika sepasang iris menyadari banyaknya adegan berdarah dan kanibalisme di sekitarnya. Namun, diantara semua kekacauan itu, entah bagaimana Erica mendapati firasat buruk ketika matanya menyapu seorang zombie yang membungkuk seorang diri memakan tubuh seorang anak kecil.


Zombie itu adalah seorang pria. Bertubuh tinggi kekar, dengan pakaian tentara yang compang-camping. Seandainya ia tidak menggeram dan kulitnya bukan keabu-abuan, semua orang akan mengira dirinya adalah manusia biasa. Namun, seolah menyadari tatapan Erica, sosok itu menoleh. Menatap langsung ke sepasang mata yang memandangnya.


Deg.


Dapat Erica rasakan jantungnya terasa melompat. Sakit luar biasa *** dada. Matanya panas, pernapasan terasa sulit saat wajah yang sangat ia kenali, kini terpampang dalam wujud yang berbeda. Itu suaminya. Sosok pria yang ia nikahi dengan sepenuh cinta. Pria yang akan tersenyum dan selalu tertawa bersamanya. Sosok yang menghabiskan waktu hanya untuk menghujaninya dengan berbagai kebahagiaan.


Bohong ....


Seluruh tubuh Erica terasa lemas. Ia tidak mampu lagi berkonsentrasi dengan pertarungan. Fokusnya jatuh kepada tubuh Zombie yang menatap langsung ke arahnya. Seluruh dunia, seolah hanya ada sosok bertubuh tinggi itu dan dirinya.


Di detik itu Erica menyadari bahwa Zombie di depannya adalah suaminya sendiri, di detik itu juga rasa bersalah seolah menghujamnya.


Ia tidak bisa menjaga buah hati mereka. Sosok mungil yang menjadi pelengkap kebahagiaan mereka meninggal pada hari pertama virus zombie menyebar. Ia lengah, membiarkan sosok mungil tidak berdosa mati di makan Zombie. Sungguh, apa yang harus ia katakan kepada suaminya? Bagaimana ia bisa menanggung rasa malu karena tidak bisa melindungi darah dagingnya sendiri? Erica berulang kali membayangkan pertemuannya dengan sosok yang ia cintai, tetapi sungguh, sungguh ia tidak bisa menyangka bahwa pertemuan mereka ...


"AWAS!"


Tubuh itu terdorong, jatuh terjerambat di atas tanah. Di detik yang sama, suara bantingan benda tajam diiringi geraman terdengar. Erica tidak tahu apa yang terjadi. Otaknya terasa lumpuh, lamban untuk memproses. Sosok yang jatuh gemetar, dengan linglung menumpukan kedua tangan ke ats tanah sebelum berbalik, memandang dua sosok berbeda saling melemparkan serangan.


Namun fokus Erica bukanlah sosok asing serba hitam, melainkan pria zombie yang terlihat begitu kuat. Mengayunkan lengannya yang kekar, membengkokan sebilah pedang yang mencoba membelahnya. Pria berambut cepak dengan ekspresi bringas menggeram, memamerkan sederet gigi penuh dengan warna merah darah dan air liur yang menetes--memberitahukan bahwa ...

__ADS_1


suaminya bukan lagi manusia.


Pandangan Erica menggelap. Pikirannya kosong. Semua tenaga dan ketangguhan yang semula dijunjung, kini menguap begitu saja.


Kini, semuanya menghilang ...


Harapannya untuk bertemu dengan suaminya, membujuk pria itu atau bahkan hanya sekedar untuk melihat ekspresi kecewanya karena gagal menjaga batita lucu mereka ... oh, sekarang, apa yang harus ia lakukan? Erica tidak mampu memikirkan apapun. Ia hanya bisa terdiam, duduk mematung di atas tanah kotor dan menatap tanpa nyawa ke pertarungan sangit di depannya.


.


.


.


Napas Nanda mulai terasa berat, ia menggeretakkan gigi, membuang pedangnya dan mengeluarkan pistol. Tembakan demi tembakan diarahkan kepada sosok kekar yang menggeram. Sayangnya, peluru yang dilepaskan tidak langsung menyakiti zombie yang mengamuk itu, sebaliknya, tindakan Nanda justru membuat sosok berpakaian tentara mengaum marah.


Sungguh, tidak pernah Nanda sangka bahwa lawan pertamanya, untuk zombie yang kuat ini, adalah suami Tantenya sendiri. Kulit kelabu itu begitu tebal, perlu tembakan jarak dekat dan beberapa peluru untuk membuat kepalanya hancur. Namun Nanda tidak bisa melakukannya. Sungguh, ia tahu bahwa sosok ini bukan lagi manusia, tidak memiliki akal dan bahkan tanpa ragu akan membunuh dan memakan tubuhnya. Tetapi tetap saja ... setiap kali ia berniat untuk menyerang kepalanya, menusuk titik vital zombie yang berlevel tinggi ini, keraguan akan menghantam Nanda.


Wajah itu adalah wajah keluarganya, Om yang baik, kerap tersenyum dan tertawa bila mereka bertemu. Setiap goresan dan penyerang yang ia lakukan, entah bagaimana seperti menyerang tubuhnya sendiri. Sakit tak tertahankan. Mengiris jantungnya untuk setiap luka yang ia torehkan.


"TANTE!" Nanda berteriak. Ia tidak bisa membunuh Pamannya ... meski ia tahu bahwa sosok itu tidak lagi mengenalinya sebagai keluarga, Nanda tetap tidak bisa melakukannya. Tangannya gemetar, setiap tindakannya justru hanya menguras stamina. "TANTE! KABUR!"


Nanda kembali berteriak. Ia melepaskan helmnya--takut bahwa Erica tidak mengenalinya. Namun, meski ia telah berteriak, di sela setiap serangan yang dilakukan Pamannya, wanita itu tidak merasakan pergerakan lain dari tempat Tantenya berada. Nanda tidak bisa menahan diri, melirik dan menemukan sosok itu hanya diam. Mematung dan menatap kosong ke arahnya seolah-olah ia adalah manekin ...


Tante ...


"Ugh!" Sosok berambut panjang menghindari serangan. Nyaris terkena cakaran saat sosok berseragam melihatnya sempat lengah. Sesak luar biasa mencengkram paru-parunya. Oh, ketimbang ia ... ketimbang dirinya yang syock mendapati Pamannya berubah menjadi zombie, Erica jelas adalah pihak yang jauh lebih terpukul. Zombie ini suaminya sendiri, sosok yang ia cintai. Pria yang menghabiskan hidup bersamanya. Bagaimana mungkin Erica tidak terguncang?


Menggeretakkan gigi, Nanda kembali mengeluarkan sepasang pistol. Kali ini, tanpa ragu ia berlari mendekati Zombie bertubuh besar. Dari segi kekuatan, jelas Nanda lebih unggul. Zombie ini level empat. Namun Pamannya adalah seorang tentara elit, sosok yang telah menempa tubuhnya dengan banyak pembunuhan dan pertarungan bahkan ketika ia masihlah manusia. Apa lagi ketika sosok ini menjadi zombie ...


Dor! Dor!


Tembakan demi tembakan jarak dekat dilemparkan. Dua titik tumpu menjadi fokus. Membungkuk dan mengambil banyak pistol dari beberapa mayat tentara, Nanda menembaki kedua lutut Pamannya. Membuat sosok itu terjatuh dan sulit untuk berdiri hingga mengaum marah. Beberapa zombie di sekitar Nanda turut bergerak. Menyerang Nanda dengan membabi buta. Namun ketimbang Pamannya, zombie-zombie lain yang menyerangnya jauh lebih mudah untuk ditangani.


Wanita berkuncir itu tanpa ampun menembaki kepala zombie yang mendekat, lalu menembaki kembali kaki Pamannya sampai hancur. Dengan ini, Pamannya tidak mungkin mengejar atau bahkan menyerang. Tidak ingin membuang waktu, Nanda kembali berlari mendekati Tantenya yang masih duduk di atas tanah.


Sosok, yang semula tangguh, kini terlihat kosong. Melamun dengan sepasang iris yang mati tanpa cahaya. Nanda menelan liur paksa, menekan perasaan sesak di dadanya dan tanpa ragu mengkaitkan kedua tangan Erica ke lehernya. Meski Erica jelas lebih tinggi dari pada Nanda, tetapi tubuh seorang Pengguna Kekuatan memang jauh lebih kuat. Hal itu membuatnya lebih mudah untuk menggendong Erica di punggungnya lalu mulai berlari menuju gerbang seraya terus menembaki beberapa kepala Zombie yang mendekat dan mencoba menyerang.


"Turun! Turun!"


Nanda menghentikan langkahnya ketika sosok yang berada di punggungnya mendadak bereaksi. Memberontak dan tidak henti mencoba turun. Nanda terpaksa melepaskan Tantenya, menatap wanita berambut pendek yang dengan panik langsung berlari, mencoba kembali memasuki tempat yang akan mereka tinggalkan.


"TANTE!" Nanda refleks meraih lengan Erica. Sepasang iris hazel memerah dengan tingkah yang membahayakan itu. "Apa-apaan! Di sana bahaya!" Apakah Tantenya mencoba menyusul Pamannya? Sudah tidak peduli lagi dengan nyawanya sendiri?! Nanda benar-banar dibuat marah. Ia sungguh tidak akan ragu membuat Tantenya pingsan bila memang itu tujuannya.


"Ada anak-anak di sana!"


"Eh?"


"Gue ngurung anak-anak di penjara--goblok! Jangan ngelamun! Cepet bantuin ke sana! Ah--Ada mobil, bawa mobil!"


Nanda linglung. Ia tidak bisa memproses perubahan emosi Tantenya tetapi tubuh perempuan itu lebih dulu bergerak. Mengikuti sosok wanita berambut pendek yang berlari masuk ke dalam mobil, ikut masuk ke dalamnya dan memandang sosok wanita yang seolah-olah, tidak pernah terkena pukulan keras dari keberadaan suaminya. Namun, Nanda tidak bodoh untuk terus lola mencerna. Keadaan mereka tidak memungkinkan untuk berpikir lebih. Tindakan menyelamatkan nyawa, menjadi hal yang utama.


Tanpa berkata-kata kembali, mobil pick up melaju menabrak banyak zombie, memberikan guncangan kuat ketika banyak tubuh yang terlindas. Warna merah dan hitam bersatu, menciptakan aroma bangkai dan besi karat yang begitu mencekik tenggorokan. Laju mobil yang tidak mulus hanya beberapa detik, tidak sampai semenit dan kendaraan roda empat berhenti.


Nanda dan Erica telah sampai di depan pintu penjara, menabrak beberapa zombie yang berkerumun dan menghalangi pintu, lalu keluar dari dalam mobil. Erica tanpa ragu berlari mendekati pintu yang masih tertutup sementara Nanda tidak henti melepaskan beberapa peluru kepada Zombie yang kelaparan. Oh, sial. Kegigihan mereka benar-benar membuat Nanda geram. Tanpa ragu Nanda membuang pistolnya yang kehabisan peluru, lalu mulai menggunakan kemampuan air.


Gumpalan air yang mendidih sudah cukup untuk membuat kulit melepuh. Suhu air yang dengan mudah dimanipulasi menjadi sangat panas, kini menjadi peluru. Dilemparkan berulang kali, menembus tengkorak zombie, menghancurkan otak yang membusuk dan membuat para kanibalis itu tidak mampu bergerak kembali.


"Nanda! Naik!"


Nanda nyaris menghela napas lega saat mendengar suara Erica. Ya, ia hanya nyaris. Tepat ketika Nanda berbalik, sepasang iris menemukan bagian depan mobil pick-up telah penuh. 5 anak kecil kurus, berhempit-hempitan duduk manis pada bagian depan mobil. Benar-benar ... tidak menyisakan ruang tempat untuknya duduk.


****!


Kali ini, Nanda benar-benar mengumpat di dalam hatinya. Sudah terlalu lelah fisik dan mental hanya dalam beberapa jam.


"Aku duduk di mana?!" Nanda tidak mampu menahan protes. Namun sebelum Erica menjawab, Nanda sudah melompat. Naik ke bagian bak dan duduk di lapisan besi itu. "Jalan!" Teriaknya seraya mulai menembaki kepala beberapa zombie yang mencoba ikut menumpang naik.


Pada akhirnya Nanda tidak bisa duduk dengan lega. Ia tidak bisa bersandar bila tidak ingin kepalanya terbentur karena jalan mobil yang ugal-ugalan. Ia juga tidak bisa memejamkan mata bila tidak mau diserang zombie yang mencoba memanjat naik mobil. Oh, sungguh ... benar-benar tidak bisa membuatnya rileks.


Belum sampai 1 minggu Nanda terbangun dari tidur panjangnya, sekarang waktunya untuk memeras tenaga yang ditabungnya selama 3 minggu tertidur hingga kering.


.


.


.

__ADS_1


Nanda benar-benar merasa setengah mati.


Berhasil keluar dari pangkalan, bukan berarti mereka selamat. Zombie-zombie dengan liar mengejar. Meski mereka tidak lincah dan pergerakan begitu kaku, tetapi dengan jumlah yang banyak, bukan sesuatu yang mudah untuk ditangani. Hal itu memacu adrenalinnya, menguras tenaga hingga pada titik dimana ia tidak bisa merasakan apapun di tubuhnya kembali. Ketika akhirnya berhasil keluar dari gerombolan zombie, syaraf tegang Nanda tidak langsung merileks. Mereka menukar mobil pick-up menjadi mobil Avanza biasa yang kebetulan memiliki cukup bensin, lalu melanjutkan perjalanan.


Barulah ketika sampai ke area vila yang cenderung sepi dan banyak pepohonan, Nanda bisa sedikit bersantai dan beristirahat.


"Jadi, siapa nama kalian?" Nanda tidak menoleh ke belakang sama sekali. Tubuhnya lemas, bahkan satu jaripun sangat berat untuk diangkat. Sejujurnya, membuka mulut untuk berbicara sudah membuatnya sangat malas. Namun ia tidak berani melonggarkan kewaspadaan. Erica harus menyupir, tugas berjaga jelas berada di pundaknya.


"Aku Karin Kak."


"Namaku Galih."


"Kalau aku Monta, Kak."


"Raga."


"Umh ... namaku Leo."


Ada anak perempuan?


Nanda kaget. Ia benar-benar ingin menoleh ke belakang dan melihat yang mana anak perempuan. Ia pikir, semuanya adalah anak lelaki bila dilihat dari rambut mereka yang semuanya pendek dan pakaian yang ... oh, oke, ia tidak memperhatikan apakah pakaian yang digunakan untuk perempuan atau lelaki, tetapi yang pasti, tidak ada yang menggunakan rok. Namun rasa malas untuk bergerak jauh lebih kuat ketimbang rasa pensaran, membuat Nanda masih duduk bersandar di kursi seraya menatap ke depan. Ia lelah dan perlu banyak istirahat, okey.


"Namaku Nanda, kalian bisa memanggilku Kak Nanda dan yang sedang menyupir itu namanya Kak Erica," dengan nada yang ramah, Nanda memperkenalkan dirinya dan Erica. Samar, ia bisa mendengar suara bisikan para anak kecil menggumamkan namanya dan nama Erica, seolah sedang berlatih dan takut salah menyebutkan nama.


Nanda mengkulumkan senyumannya, melirik singkat ke arah kaca dan menatap wajah-wajah tirus dan kotor mereka. "Kalian masih ingat usia kalian?" tanya Nanda kembali. Anak-anak itu, dengan tidak kompak mengatakan 'ingat'. Lalu beberapa pertanyaan dan obrolan ringan mengalun di atas mobil, menyapu keheningan dan suasana tidak mengenakkan pasca ketegangan hidup dan mati.


Anak-anak ini seharusnya menangis, gemetar ketakutan dan mengalami trauma. Hal pertama yang terucap dari mulut kecil mereka haruslah kedua orang tua atau keluarga terdekat mereka. Akan sangat sulit untuk menghibur dan membuat mereka tenang. Namun kelima anak kecil berbeda usia ini seolah belajar dari pengalaman. Tidak mengatakan merindukan siapapun, tidak mengatakan bahwa mereka takut. Meski jelas tubuh kecil itu gemetar dan terlihat akan hancur hanya dengan sentuhan ringan, mereka dengan keras kepala masih menanggapi setiap pertanyaan ringan yang Nanda ajukan.


Hampir sebulan dari pecahnya virus, anak-anak ini dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya. Merasakan penderitaan untuk bertahan hidup, belajar untuk menahan diri dan menelan rasa sakit baik secara fisik maupun mental. Pelan-pelan, nurani mereka juga akan terkikis, menciptakan pemikiran berbeda dimana bibit-bibit yang baru terbentuk ini akan menjadi seorang pejuang berdarah dingin.


Nanda menghela napas di dalam hati. Oh, ini baru sebulan ... tetapi mental mereka dipupuk dengan baik. Dipaksa untuk menerima penjarahan dunia yang kejam. Harus rela menyeret tubuh kecil mereka, menerima hujaman angin dingin dan panas kehidupan. Lepas dari buaian kasih sayang kerabat dan keluarga ...


Pemikiran apa yang mereka bentuk? Bagaimana caranya kerabat mereka mengatakan untuk tetap bertahan? Menyadari dari nada suara kelima anak-anak kecil ini, mereka jelas tidak bersikap rewel. Sangat patuh dan tidak mencoba berisik seolah takut bila sedikit saja keasalahan, mereka akan dibuag dan ditinggalkan ... ah, apakah ia dan Erica terlihat sekejam itu? Bila dipikir-pikir, mereka juga sangat diam ketika kedua orang dewasa sibuk memanggang dan memukul mundur zombie dengan cara yang mengerikan dan kejam ...


Nanda menelan liur paksa. Ia menjadi agak takut. Mental anak-anak yang dibawanya sangat mengerikan ...


"Ah, kita beristirahat di sana saja," Nanda berseru, menunjuk ke sebuah vila yang memiliki pagar berupa tembok yang tinggi. Erica tanpa suara setuju. Melajukan mobil menuju Vila mewah berlantai dua dan memberhentikan mobilnya di sana. Beberapa zombie yang tertarik dengan suara mobil berjalan terhuyung-huyung mendekat, tetapi dengan cepat dibakar dengan lemparan bola api.


"Aku akan masuk dan memeriksa dan kau menjaga anak-anak," ucap Nanda seraya turun dari mobil. Yah ... ia sudah cukup beristirahat, energinya cukup untuk bertarung. Di depan Erica yang sadar, Nanda hanya menggunakan kemampuan airnya--tidak berniat mengekspose kemampuan ruang dan udara. Namun ... uh, saat bertarung, bukankah ia sempat mengeluarkan beberapa senjata? Apakah Erica menyadarinya?


Nanda menggelengkan kepala, melangkah menuju jeruji besi yang merupakan gerbang Vila ini. Gerbang tertutup, tetapi beruntung hanya terkunci dan tidak digembok. Tanpa ragu wanita berkuncir satu melenggang masuk, lalu mendapati halaman rumah besar dalam keadaan sangat berantakan. Tanah terlempar ke mana-mana, beberapa tanaman di dalam pot jatuh dan pecah. Baru beberapa langkah sosok itu masuk, suara gong-gongan anjing sukses membuatnya waspada.


Seekor Retriever berlari ke arahnya. Namun anjing berbulu emas itu penuh dengan noda darah, beberapa bagian lukanya busuk, dengan sepasang mata merah menyala. Mulutnya terbuka, menyucurkan air liur berbau bangkai yang kental dan memuakkan.


Hewan Zombie.


Nanda langsung menyadarinya saat bau busuk bersamaan dengan sosok anjing berlari dengan cepat menuju ke arahnya. Tanpa menunda, kemampuan air digunakan. Melemparkan peluru air dengan suhu ekstream hingga membuat kepala anjing berlubang dan meleleh. Tanpa sempat untuk menyerang, Retriever itu langsung terjatuh, mati dan tidak kembali bergerak.


Tidak mau berlama-lama, Nanda kembali melangkah. Kali ini, ia mengelilingi taman yang besar, mendapati bahwa hanya anjing itu saja yang menjadi ancaman dan hanya ada satu gerbang untuk keluar dan masuk. Puas, sosok itu masuk ke dalam Vila besar berlantai dua. Kondisi Vila tidak terlalu bagus. Terlihat beberapa tengkorak dan noda hitam bekas darah. Pintu ganda juga tidak terkunci dan terbuka begitu saja. Mengernyitkan alis, Nanda masuk dan memeriksa setiap ruangan. Nanda tidak henti memeriksa berulang kali. Bahkan membuka setiap lemari dan beberapa hal karena takut terdapat ancaman tersembunyi.


Selain beberapa kerangka dan Anjing Zombie, tidak ada ancaman apapun.


Mungkin, anjing zombie itu yang membersihkan rumah ini. Dilihat dari banyaknya kerangka, Anjing itu jelas menjadi pelaku utama pemilik rumah merenggang nyawa. Hal itu membuat Nanda menghela napas. Ia kembali ke depan, mendorong pagar dan mempersilahkan mobil untuk masuk. Ketika mobil masuk, tanpa ragu Nanda menutup gerbang dan menguncinya dengan gembok yang ia temukan.


"Semuanya sudah aman," ucap Nanda seraya menatap Erica dan kelima kurcaci yang turun dari mobil. "Tetapi kita semua harus--" jeda beberapa detik, Nanda agak ragu menatap kelima anak kecil, tetapi pada akhirnya ia menggelengkan kepala di dalam hati. Tidak ... anak-anak ini harus belajar. Mental mereka kuat. Selama dibimbing dengan benar ... tidak akan menjadi ancaman. "Kita semua harus membersihkan Vila. Di dalam ... agak kotor."


Erica menyadari jeda aneh dari ucapan keponakannya. Sepasang iris gelap menatap Nanda, tetapi sosok itu hanya tersenyum ceria. Namun ketika kata-kata 'agak kotor' itu dimengerti, wanita itu tidak tahu harus mengutuk atau memukul keponakannya. Banyak kerangka dan beberapa bangkai hewan kecil di dalam, dengan aroma busuk yang membuat perut teraduk. Erica masih bisa mentolerir untuk membersihkannya, tetapi bagaimana dengan anak-anak?


Erica mengernyitkan alis, menatap Nanda yang tersenyum lima jari menghadap ke anak-anak kecil yang berbaris di depannya.


"Okay, karena di sini terlalu banyak mayat, kita harus menghormati mereka," Nanda menunjuk ke arah halaman. "Kalian berlima, bertugas membuat lubang yang sangat besar, di halaman, ada skop. Kalian bisa menggunakannya untuk menggali."


Kalima kurcaci kecil tidak bertanya apapun. Mereka berjalan menuju halaman, mulai mencari skop untuk menggali. Melihat tindakan itu, Erica menghela napas lega. Setidaknya Nanda tidak cukup gila untuk menyuruh anak-anak membantu mereka membersihkan mayat.


"Kenapa pakek bahasa baku?" Erica bertanya, melirik ke arah Nanda yang mulai mengumpulkan kerangka. Mereka menemukan pelastik besar, memasukkan mayat yang hampir tidak memiliki daging untuk dimasukkan ke dalam pelastik hitam. Selama di perjalanan dan tadi, Nanda selalu menggunakan bahasa baku. Telinga Erica merasa aneh mendengar keponakannya yang cerewet, dengan lancar menggunakan bahasa yang baku.


"Agar mereka dan Tante jadi terbiasa menggunakan bahasa baku," Nanda menjawab jujur, membungkuk untuk memasukkan tulang berwarna putih susu ke dalam kantung hitam. "Yah ... selama di pangkalan, tidak ada petugas yang menggunakan bahasa daerah, semuanya baku. Jadi, sudah pasti beberapa militer akan menetapkan bahasa baku untuk setiap pangkalan. Bagaimanapun, akan banyak orang dari berbagai daerah berkumpul di dalam satu tempat, tidak mungkin untuk membiasakan dengan banyak bahasa daerah. Jadi, lebih baik mulai dari sekarang untuk membiasakan diri."


Erica tidak kembali buka suara mendengarnya. Hal itu membuat ruangan besar yang berantakan menjadi sunyi. Hanya suara kantung dan benda diseret yang menjadi peneman kegiatan. Hal itu membuat Nanda merasa gatal ingin kembali berbicara. Namun saat ia melirik Tantenya ... sosok itu diam. Hening dan terlihat suram. Sepasang iris gelap terlihat begitu kesepian, menyimpan berbagai macam rasa sakit tanpa mau menyuarakannya.


Sepasang hazel menyendu. Teringat bahwa Pamannya telah menjadi zombie. Lalu ... bagaimana dengan sepupunya yang masih kecil? Ia tidak melihatnya bersama dengan Erica ...


Tanpa bertanya, Nanda sudah mengetahui jawabannya. Hal itu membuat dadanya terasa bergemuruh. Sesak luar biasa akan perasaan sedih yang mengiris. Oh, bagaimana dengan Papa dan Mamanya? Bagaimana dengan ... Ganesha? Nanda, pada awalnya sangat percaya diri dan yakin bahwa Ganesha akan baik-baik saja. Kepercayaan mutlak kepada kemampuan suaminya adalah yang utama. Ia, sedikitpun, tidak pernah meragukan sosok itu.


Namun entah bagaimana, kali ini, ia ... mulai merasa ragu. Kecemasan mengguncangnya, membuat tangan tanpa sadar gemetar ketika beberapa pemikiran negatif merasuk. Bagaimana bila ... Ganesha tidak selamat? Ketakutan yang luar biasa nyaris membuat Nanda ingin berbalik dan berlari ke luar, membawa mobil dan dengan gila mencari suaminya. Tetapi rasionalnya masih cukup mendominasi, membuatnya sedikit tenang dengan penghiburan bahwa sosok Ganesha, tidak mungkin memiliki kecelakaan. Ia mengenal Ganesha, sangat. Bertahun-tahun bersama, mengajarkannya tentang karakter dan kebiasaan pria itu.


Oh, NesNes tercintanya ... apa yang sedang dilakukannya sekarang?

__ADS_1


__ADS_2