
Ruangan kecil yang terdiri dari sebuah meja dan sofa itu sempit. Namun melihat interior mini dimana terdapat bagian ruang tamu, dapur kecil dengan sebuah kasur yang tersembunyi dibalik tirai, Nanda tidak bisa menahan diri dari menatap sekelilingnya dengan mata yang berbinar cerah.
Caravan. Satu-satunya benda yang Nanda inginkan tetapi tidak berhasil diambil. Entah dari mana Raja mendapatkannya, hal yang ia idam-idamkan berhasil dimiliki oleh pria ini. Nanda tidak bisa dibilang miskin, tetapi ia juga orang yang sangat kaya. Membeli Caravan seperti membeli permen, ia tidak bisa melakukannya. Bahkan ketika berkeliling, wanita ini juga tidak melihatnya. Bila bukan karena Raja yang membawa mereka ke dalam mobil van panjang ini, Nanda benar-benar melupakan keinginannya untuk memiliki Caravan.
Bertingkah ndeso, Nanda tidak perduli kepalanya tidak henti menoleh ke kanan dan ke kiri, duduk dengan gelisah di sofa empuk dan terlihat tidak bisa diam. Toh, yang berbicara kali ini adalah Ganesha, tidak perlu ia memperhatikan sosok Boss kelompok yang berada satu ruangan dengannya.
"Sebelumnya, perkenalkan. Namaku Raja, ketua kelompok ini," Raja memperkenalkan diri dengan sopan. Benar-benar mengabaikan Nanda yang masih memperhatikan setiap interior di dalam van.
"Ganesha," Ganesha pada akhirnya berbicara. Suaranya berat dan jernih, membuat Raja mencoba mengingat-ingat apakah pernah mendengar suara ini ... "Dan dia istriku, Nanda."
Eh?
Kata-kata terakhir benar-benar membuat Raja terkejut. Ia refleks menatap anak kecil di samping pria brtopeng, Sosok putih berwajah mungil dengan rambut dikuncir satu. Anak ini terlihat masih remaja. Mungkin sekitar 17 atau 16 tahun. Tingkahnya yang tidak bisa diam dan terlalu menyebalkan juga jelas tidak dewasa sama sekali ...
Tetapi ternyata istrinya? Bukan adik atau 'mainan'nya?
Beruntung keheranan dan keterkejutan Raja jelas tidak terlihat di wajah tanpa ekspresi. Ia hanya terlihat melirik Nanda sekilas, lalu kembali menatap Ganesha. Nadanya tenang, berhadapan dengan pria yang sangat kuat, ia tidak bisa asal-asalan. Terlebih, sosok ini juga sudah menolongnya.
"Baik, Ganesha, Informasi apa yang kau inginkan?" tanyanya to the point.
"Informasi arah," jawab Ganesha langsung. "Kami memerlukan informasi pangkalan apa saja yang harus dilewati untuk sampai ke negara Z."
"... .," selama beberapa detik, Raja benar-benar tidak bisa menjawab. Ia agak kaget ternyata pria ini ingin pergi ke luar negri. Namun dengan minimnya akomodasi dan kacaunya dunia sekarang, hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Balum lagi tidak ada kapal ... bagaimana caranya mereka akan menyebrangi lautan? Namun Raja memilih untuk diam. Ia tidak akan mempertanyakan cara mereka.
"Ini agak sulit," jawab Raja jujur. "Berikan aku waktu untuk berdiskusi dengan bawahanku. Bila kami sanggup atau tidak untuk mencari informasinya kami akan memberitahu."
Ganesha mengangguk. Raja tidak bisa menjanjikan, tetapi setidaknya ia berusaha untuk membantu. Sejujurnya, ini agak memalukan. Mencari informasi dari para zombie adalah sebuah kesalahan. Zombie tidak mengerti bahasa manusia atau bahkan mengerti konsep 'nama tempat yang mereka tinggali', mereka hanya bisa menggambarkan secara sederhana lingkungan sekitarnya.
Itu sebabnya, ketika mereka memutuskan untuk pergi ke suatu tempat, bila bertemu dengan sebuah rombongan atau kelompok, hal pertama yang dipertanyakan adalah ... arah. Dengan menyebutkan nama Kota. Namun Nanda benar-benar tidak menyangka bahwa ia akan bertemu lagi dengan kelompok Bossnya. Melihat dari reaksi Raja, pria ini jelas tidak mengingat atau bahkan mengenalinya padahal mereka adalah teman sekelas dan sebelumnya sempat bertemu ...
Nama Nanda dan Ganesha sudah disebut, tetapi pria ini masih asing. Oh, terima kasih karena terlalu banyak nama Nanda dan Ganesha, Nanda harus menyadari bahwa nama mereka memang cenderung pasaran. Sekalipun Raja mengenalinya, pria ini sendiri juga pasti tidak yakin. Bagaimanapun, terakhir bertemu adalah saat SMA. Nanda masih gemuk dan jelek, Ganesha masih kurus dan hitam. Siapa yang bisa menyangka bahwa makhluk buruk rupa itu adalah mereka?
"Sementara untuk menunggu, bagaimana bila kalian bergabung dengan kelompok kami terlebih dahulu?" Raja menawarkan. Ia tidak mungkin melewatkan pengguna kemampuan yang kuat begitu saja.
"Kami menunggu di mobil kami sendiri," Ganesha menolak secara halus. "Kami akan mengikuti kelompokmu dari belakang sampai kalian memberikan kepastian," tambahnya.
"Oke," Raja tidak memaksa. Jawaban Ganesha sudah membuatnya merasa lebih dari cukup. Tidak bergabung dengan kelompoknya, tetapi mengikuti di belakang. Hal itu sudah menjamin keselamatan kelompoknya. "Kalau begitu, gunakan ini. Setelah mengumpulkan bahan, kami akan langsung pergi untuk mencari tempat yang aman," pria itu langsung menyerahkan sebuah walkie-talkie.
Ganesha menerimanya. Ia mengagguk lalu langsung bangkit berdiri. Raja juga ikut berdiri, menatap kedua sosok yang berjalan keluar dari Caravan. Hal ini membuat Nanda menghela napas kecewa. Ia enggan keluar ... Caravan adalah benda yang diinginkannya. Oh, dalam situasi seperti ini, rumah mobil adalah pilihan ternyaman dan terbaik untuk mereka berdua. Yah ... mereka tidak perlu membangun tenda ketika tidak menemukan rumah untuk beristirahat kan?
"Mau Caravan?" Ganesha bertanya tepat ketika keduanya telah masuk ke dalam hummer. Dengan lemah, Nanda mengangguk.
Tersenyum dibalik topeng, pria itu mengulurkan tangan dan mengusap kepala Nanda. "Nanti kita coba cari di jalan."
__ADS_1
Sekali lagi, Nanda hanya menganggukkan kepala.
.
.
.
Sebuah api unggun terbakar menjadi sumber cahaya tepat di tengah-tengah kerumunan. Lapangan luas yang dikelilingi oleh dinding tanah setinggi 2 meter, berisikan beberapa mobil dan trcuk yang terparkir acak. Orang-orang berkeliaran. Setelah berbaris mengantri mengambil makanan, mulai mencari tempat duduk terbaik untuk menikmati makan malam.
"Sst, coba lihat ke sana," salah satu pria yang duduk di sebatang pohon tumbang, menyenggol teman yang duduk di sebelahnya. Ia menunjuk ke arah salah satu hummer hitam dengan pandangan mata. Pria yang bertubuh lebih kecil melotot marah, sebelum akhirnya menoleh memandang ke arah yang ditunjuk.
Sepasang pria dan wanita duduk di dalam hummer. Sosok pria yang mengenakan topeng iblis menoleh, menatap wanita yang duduk di kemudi. Perempuan berkuncir satu itu terlihat berceloteh, dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. Namun melihat betapa bersih dan terawat tubuh keduanya, mau tidak mau membuat mereka yang kurus dan kelaparan, menghela napas iri.
"Tadi, aku ke sana tuk ngajak makan malam," teman yang menyenggol, berbisik kepada si kurus.
"Terus?" pria kurus tidak terlalu peduli. Memakan bubur dengan irisan ham dan butiran jagung dengan malas. Oh, mereka hanya bisa makan sehari sekali. Bila panen bagus, makan dua kali sehari sudah merupakan keberuntungan. Itu sebabnya, semangkuk bubur ini sangat berharga.
Mencondongkan diri ke samping, takut untuk didengar oleh yang lain, sosok itu kembali berbisik. "Si cewek nolak kan? Nah ... waktu kulihat mobilnya, ternyata mereka punya banyak makanan!"
Si kurus menoleh, menatap temannya dengan ekspresi aneh seolah baru saja melihat alien.
"Beneran kaya!" tidak menyadari tatapan temannya, ia terus berbicara dan melahap bubur dengan marah. "Setidaknya yah, mereka itu harus sedikit berbagi dengan yang lain kan? Secara, mereka kan ikut tim kita, apa salahnya berbagi? Makanan sebanyak itu, mereka berdua tidak mungkin menghabiskannya sendiri!"
Si tukang gosip kikuk. "Aku ... aku masih sayang nyawa."
"Bah!" mencibir, ia memakan buburnya dan menelan makanan yang terasa lembek. "Jangan macem-macem, mereka berdua orang kuat. Salah sedikit, bukan kepala zombie yang bolong, tapi kepalamu!"
"Eh, jangan disumpahin dong!"
Si kurus tidak peduli. "Makan makananmu! Mereka tamu Boss, bila mereka merasa tidak nyaman karena ucapanmu, kamu mau tanggung jawab?"
Nanda berkedip. Beberapa gosip dengan mudah ia dengar. Tidak peduli apakah kaca jendela mobil ditutup atau tidak, dalam jarak kecil seperti ini, semua obrolan orang-orang terdengar. Tentu saja, salah satu gosip tentang makanannya juga terdengar. Yah ... bukan Nanda ingin pamer, ia hanya tidak mau menderita memakan makanan yang diberikan oleh kelompok Raja.
Nanda dan Ganesha memiliki banyak makanan di dalam ruangan mereka, tidak perlu orang-orang Raja menyia-nyiakan makanan untuk berbagi dengan mereka. Itu sebabnya, untuk mencegah orang-orang itu mendekat dan mengantar makanan, Ganesha dengan sengaja menaruh beberapa makanan di kursi belakang agar terliha oleh orang-orang yang mendekati hummer.
Namun, menjadi tamu di dalam kelompok Raja dan memandang orang-orang ini, membuat Nanda merasa agak ... bernostalgia. Meski agak berbeda dengan apa yang berada diingatannya, tetapi kebiasaan untuk membangun dinding tanah ketika mereka beristirahat, menjadi salah satu hal yang tidak terlupakan.
Karena saat dinding tanah dibuat, itu adalah satu-satunya saat ketika mereka bisa sedikit bersantai dan menikmati makanan yang sudah mulai langka untuk dimiliki.
"Sayang, kau benar-benar yakin untuk mengikuti mereka?" Nanda menopang dagu dengan satu tangan, menatap ke luar jendela dimana sebuah api unggun menyala-nyala. Orang-orang membentuk kelompok kecil dan saling mengobrol sambil menikmati semangkuk makan malam yang berharga.
"Kau tidak mau bergabung dengan kelompok ini?" Ganesha balas melemparkan pertanyaan.
__ADS_1
"Bukan tidak mau," Nanda cemberut. Kali ini memalingkan wajah dan menatap suami bertopeng iblisnya. "Aku takut justru kau yang tidak nyaman," akunya jujur. Bagaimanapun, Ganesha bukan manusia. Berada dikelilingi oleh manusia yang menjadi makanan mereka untuk jangka waktu yang relatif tidak singkat, Nanda takut suaminya tidak akan merasa nyaman.
Beberapa jam yang lalu, Raja dan kelompoknya memanggil mereka. Ia membentangkan map di atas meja dan mulai menjelaskan arah dan posisi mereka sekarang. Satu persatu, ia memberitahukan kota-kota apa saja yang harus dilewati. Raja dan kelompoknya tidak tahu ada pangkalan apa saja yang akan mereka lewati untuk sampai ke Negara Z, tetapi mereka tahu pasti bahwa perjalanan akan memakan jangka waktu yang panjang. Belum lagi, mereka harus melintasi lautan ...
Setelah memberitahukan informasi yang diinginkan, Raja mengajukan sebuah kesepakatan. Mereka akan mengantar Ganesha dan Nanda hingga sampai ke tujuan, tetapi sebagai gantinya, Ganesha akan bekerja untuk melindungi kelompok. Yah ... tentu saja Ganesha dan Nanda tidak langsung setuju. Mereka saling bernegosiasi satu sama lain hingga pada akhirnya, membentuk kesepakatan bersama.
Ganesha dan Nanda setuju akan menjadi pihak yang menyerang zombie terkuat bila kelompok ini diserang zombie. Oh, bagaimanapun, kelompok Raja bisa dibilng adalah kelompok yang sangat bebas. Jumlah mereka tidak menentu. Setiap kali sampai ke sebuah pangkalan, kelompok Ganesha akan selalu mengurangi anggota atau bahkan mendapatkan anggota baru.
Mereka yang bergabung dengan kelompok Raja, adalah orang-orang yang mencari keluarga atau pangkalan terbaik. Itu sebabnya, bergabung dengan kelompok Raja bukan sesuatu yang mengikat. Mereka hanya perlu mematuhi aturan, lalu mereka bisa bergabung. Bila melanggar, mereka akan dibuang dan ditinggalkan oleh kelompok. Sederhana dan kasar, benar-benar khas Raja.
"Aku baik-baik saja," Ganesha mendadak bersuara, sukses membuyarkan lamunan Nanda. Sosok pucat itu mengulurkan sebelah tangan, dengan lembut mengusap kepala istrinya. Meski masih mengenakan topeng, Nanda bisa merasakan bahwa pria itu tersenyum.
Sepasang mata cokelat berkedip polos. "Sayang."
"Hm?"
"Apa sebaiknya topengmu diganti?" tanyanya serius. Ganesha tidak mengatakan apapun, tetapi jelas bagi Nanda bahwa pria itu bertanya 'kenapa?' hingga ia dengan sadar diri, menjelaskan. "Bagian mulut tertutup, NesNesku nanti susah makan."
Ganesha langsung mengerti. Topeng iblis miliknya menutupi seluruh wajah. Akan aneh bila ia tidak membuka topeng sama sekali untuk makan. Tentu saja, makan dalam definisi ini adalah makan darah seperti biasa dan juga makan makanan manusia agar terlihat seperti manusia.
"Aku ada topeng setengah wajah, tapi ... ," Nanda kusut. Ia terlihat sangat kesal ketika menyadari bentuk semua topeng yang dimiliki. Jujur saja, satu-satunya topeng jelek yang dimiliki hanya topeng iblis ini, sisa topeng yang dimiliki begitu elegan dan indah. Memberikan kesan misterius dan menawan bagi siapapun yang menggunakannya. Yah ... bagaimanapun, semua topeng setengah wajah yang dimiliki Nanda adalah topeng pesta. Terdapat berbagai macam ornamen yang menghiasinya. Baik bulu atau gliter warna-warni yang berkilau, semuanya seolah ingin mempertegas si pemakai adalah sosok yang lebih indah ketimbang topengnya sendiri.
Oh, alasan terbesar Nanda menyuruh Ganesha mengenakan topeng, karena wajah suaminya terlalu tampan! Untuk ukuran pria kuat, tampan dan terlihat 'kaya' ini, siapa yang tidak akan tergoda? Terlebih untuk lingkungan dengan nilai moral yang anjlok, Nanda tidak akan tahan membayangkan baik pria maupun wanita akan terpikat dengan suaminya dan mulai menggoda ...
Ganesha tentu saja tidak akan tergoda, tetapi para pelacur itu juga pasti tidak akan mudah menyerah dengan suaminya yang terlalu sempurna. Nanda tidak tahan dengan pemikiran itu. Sekarang ia mengerti kenapa Ganesha selalu mengikutinya bila sedang melakukan aktifitas club. Meski tahu Nanda tidak akan selingkuh, tetapi Ganesha tidak tahan untuk melihat beberapa orang akan mendekatinya dan dengan sengaja ingin menggoda.
Karena itu, Nanda ingin menyembunyikan penampilan suaminya yang luar biasa. Sama persis dengan Ganesha yang lebih suka Nanda berada di rumah saja tanpa kelayapan kemanapun ...
"... ," Ganesha tidak mengatakan apapun selama beberapa detik. Ia menatap wanita kecil di sampingnya. Ekspresi istrinya sangat kesal dan entah kenapa terlihat lucu. Tidak tahan, pria itu menurunkan jendela dan dengan kemampuan tanah, mengangkat sebidang tanah kecil, membentuk sebuah topeng setengah wajah yang sederhana berwarna cokelat kemerahan dengan sepasang tanduk iblis. Setiap proses pembentukan hanya dalam kedipan mata. Cepat dan efisien, memastikan tidak akan ada seorangpun yang menyadarinya.
Nanda berkedip menatap topeng tanah yang tiba-tiba saja sudah muncul di genggaman Ganesha.
"Bagaimana dengan ini?" tanya Ganesha. Sangat menyadari keposesifan istrinya, ia dengan sengaja membentuk topeng yang sederhana, tidak indah, terlihat monoton dan justru membuatnya terlihat iblis ketimbang topeng iblis yang dikenakannya saat ini.
"Sangat bagus!" Nanda terkikik senang. Tanpa sungkan, wanita itu mencondongkan diri ke arah sang pria, lalu kedua tangan terentang. Melepaskan topeng iblis dan menggantinya dengan topeng tanah. Jarak keduanya sangat dekat, cukup untuk menutupi Ganesha selama proses pergantian. Nanda juga tidak membiarkan wajah tampan itu terekspose lama. Jemarinya sangat lincah. Melepaskan ikatan, lalu kembali mengikat simpul.
"Ah, kenapa suamiku begitu tampan?" Nanda cemberut, mencium pipi dan bibir Ganesha sekilas. Ia terkikik, membuat sang suami tidak bisa menahan senyum.
Dengan lembut, tangan kekar bergerak. Meraih pinggul Nanda dan menariknya agar duduk di pangkuan sang suami. Nanda berkedip saat Ganesha membuat kursi menjadi lurus, membuat tubuh yang menempel dengan sang zombie, refleks menjadi terbaring tepat di atas pria itu.
"Tidurlah," bisik Ganesha seraya mengusap punggung Nanda. Ia dengan suka rela menjadi kasur dadakan. Tidak empuk, tetapi hangat. terlebih dengan kedua lengan yang mencoba menempatkannya dengan posisi yang baik, Nanda terkekeh kecil.
"Oke," tanpa ragu, Nanda memejamkan mata. Menyandarkan kepala ke dada bidang sang suami dan mulai mencoba untuk tidur di suasana yang masih penuh dengan hiruk pikuk kehidupan sebuah kelompok kecil.
__ADS_1