
Pagi ini bukan pagi yang biasa. Ganesha menyadari atmosfer sekolah yang berbeda, terlebih ketika ia melewati mading dan melihat keramaian. Langkah kaki pemuda itu terhenti, menatap ke arah dinding berlapis kerangka pelindung yang digembok.
Alis Ganesha terpaut. Wajah gadis itu menyeramkan, tetapi pemuda berjas itu tampan, terlihat familier ...
Ganesha merasa pernah melihat wajah itu, tetapi tidak bisa mengingatnya. Itu sebabnya ia berhenti melangkah, menatap fokus ke arah foto. Namun beberapa saat kemudian, suara marah terdengar membahana. Mendorong para penonton menjauh membuat jalan.
Ganesha mengerjap beberapa kali. Oh, sekarang ia ingat. Bukankah itu Raja? Teman sekelas Nanda?
Sudah mengetahui siapa orang di dalam foto, Ganesha tidak berminat lagi. Ia hendak pergi, tetapi sepasang iris menatap sosok yang familier. Berdiri lurus, tengah menelfon seseorang seraya menatap Raja.
Pacarnya, Ananda Sartika, memasang ekspresi yang berbeda.
Ia berdiri agak jauh dari kerumunan, senyumannya menghilang digantikan ekspresi serius. Hal itu terlihat menarik, membuat Ganesha memilih diam. Memperhatikan.
Nanda jarang memberikan ekspresi serius seperti itu. Biasanya ia selalu tersenyum, atau berujar konyol. Hanya ketika ia sedang belajar, sosok itu memberikan ekspresi seperti ini.
Sosok gemuk itu sekarang dihampiri remaja lain. Mereka terlihat melempar beberapa patah, lalu berpisah. Nanda kembali menelfon seseorang, berjalan keluar dari gedung dan berjalan menuju gerbang.
Ganesha dengan patuh mengikuti diam-diam. Penasaran dengan apa yang pacarnya lakukan.
Nanda berdiri di depan gerbang, memandang ke satu arah selama beberapa menit, lalu berbalik menuju pos satpam. Di sana, ia mengobrol beberapa patah kata, lalu Pak Bidin keluar sambil membawa perkakas.
Ganesha mengangkat alisnya ketika Nanda kembali ke luar dari pos satpam, berdiri di gerbang dan menyapa beberap orang seolah-olah ia adalah penjaga gerbang yang bertugas menyambut tamu.
Sebenarnya, apa yang dilakukan Nanda? Sungguh, Ganesha agak penasaran. Namun beberapa saat kemudian, gadis gemuk itu berlari. Menerkam salah satu teman sekelasnya seperti melihat mangsa yang baru menunjukkan diri dan membawa sosok itu ke ... halte?
hm?
Alis Ganesha terpaut. Ia memperhatikan pacarnya yang terlihat membujuk orang lain, lalu ... oh? Apakah baru saja pacarnya menghasut orang lain untuk bolos? Apa yang terjadi?
Ganesha Wijaya bukan orang bodoh. Ia memperhatikan perubahan sikap pacarnya yang murah senyum, menjadi serius ketika melihat mading. Lalu mendapati beberapa tindakan ulet nan praktis yang dilakukan Nanda ...
Pemuda kurus itu mengkulum senyumannya dan berbalik untuk kembali masuk ke gedung sekolah. Tanpa sadar, ia tidak bisa menahan senyuman pada sudut bibirnya ketika perasaan menggelitik seolah mencakar jantungnya dengan manja.
Kata siapa pacarnya hanya bisa tersenyum konyol dan bertingkah seolah putus urat malu? Coba lihat efisiensi pekerjaannya yang begitu tenang dan bisa diandalkan!
Sungguh, ada perasaan ingin 'pamer dan bangga' yang membuat jantung Ganesha menggebu tidak tertahankan. Ini pacarnya. Ini adalah pacarnya. Siapa lagi yang bisa memiliki pacar sehebat Nanda selain dirinya?
Untuk pertama kalinya, Ganesha merasakan debar aneh yang seolah menuntunnya ke sebuah perasaan baru yang tidak pernah ia kira. Ada kesombongan yang menggebu dan memuncak, seolah-olah berkata ...
Bukankah tidak buruk, memiliki pacar?
.
.
.
Salah satu kesialan sekolah ini untuk mengetahui sebuah peristiwa adalah kurangnya CCTV.
Kesadaran penggunaan CCTV jelas kurang bila mengingat CCTV hanya dipasang di ruang guru dan ruang kepala sekolah ... Okay, Nanda tidak ingin mengeluh. Ia juga tidak peduli. Masih duduk santai dan menghilangkan perasaan bersalah pada kehidupan sebelumnya karena mengira menjadi penyebab inti masalah keluarnya Luna dari sekolah.
Sekarang? Nanda benar-benar lega. Ia bahkan mencoba mengabaikan bahwa Raja dan beberapa orang dibawa ke ruang BK untuk diselidiki. Meski matanya tidak henti sesekali melirik ke arah ruang BK dimana pintu itu tertutup rapat atau tanpa sadar mencoba mendengarkan gosip terbaru hasil mengupig para murid yang menempelkan telinga ke pintu ...
Tidak! Tidak! Ia mencoba mengabaikan itu. Ia tidak tertarik. Ia tidak mau tahu!
"Lo sahabatan ama cewek itu ya?"
"Eh?"
"Lo gak fokus lagi," Ganesha mengingatkan, melirik singkat gadis yang duduk berhadapan dengannya lalu kembali menunduk memandang buku tebal berisi kumpulan soal. "Kalo emang khawatir, mending lo telfon aja temen lo itu."
Nanda kaku.
Sejak kapan ... sejak kapan Ganesha yang sangat formal dan bersikap kotak ini mendadak peduli dengan orang-orang sekitarnya? Okay, Ganesha tidak pernah kehilangan informasi, lagipula aneh bila ia tidak tahu gosip yang sedengan panas-panasnya ini, tetapi sejak kapan pemuda ini peduli di tengah kegiatan belajar mereka?
Satu minggu mengenal Ganesha, Nanda sudah bisa menebak beberapa hal prihal remaja sok dewasa ini.
Ganesha tipe orang yang mematuhi aturan. Ia sangat kaku dan serius, apalagi prihal disiplin waktu, Ganesha paling anti melanggarnya. Itu sebabnya pemuda ini kerap mengkerutkan alis atau merasa mudah jengkel bila Nanda mulai tidak fokus belajar.
Biasanya Ganesha akan memulai dengan ancaman, memelototinya agar serius atau menghela napas pasrah ketika Nanda mulai sesi cerewet dan mengoceh tanpa bisa mengerem mulutnya.
Tapi sekarang ...
__ADS_1
Helloo!!!! Bumi kepada alien! Apakah ini benar-benar Ganesha yang dikenalnya?! Sejak kapan pemuda ini memanfaatkan 15 menit waktu istirahat pertama dengan mengobrol dan bukan belajar?!
Nanda merasa terkena guncangan tornado mendapati Ganesha yang seperti ini.
"Apa?" Sadar Nanda terlalu diam, Ganesha mengangkat kepala, menatap remaja gemuk yang masih melongo syock memandang ke arahnya. Kepalanya jelas terlihat semberaut, wajah itu mendadak bego. Reaksi jelek yang diberika, mau tidak mau membuat Ganesha mengernyitkan alis.
Kenapa lagi ni anak?
Namun, beberapa menit kemudian, Ganesha seolah mengerti sesuatu. Remaja itu memutar bola matanya. "Tadi gue liat reaksi lo," ujarnya santai. "Gue gak pernah liat lo kayak gitu, keliatan banget lo peduli ama tu cewek ... dia sahabat lo kan? Lo pasti masi ngawatirin dia. Yah ... tenang aja, ada sekolah, itu jelas-jelas difitnah kayak gitu, gue yakin sekolah bisa adil."
Nanda kusut.
Baru kali ini Nanda melihat Ganesha menenangkan orang dan orang yang ditenangkannya adalah dirinya sendiri. Namun sayangnya, Ganesha jelas salah sasaran. Oh, sungguh, Nanda tidak tahu harus tertawa atau meringis ...
Bro, bebeb, sayang, aa'ku tercinta dan ternista. Dedek gak khawatir sama Luna sama sekali! Aku jelas cuma mau bales jasa Boss doang! Makanya kerjanya agak nanggung soalnya males ngurusin Luna!
Namun, Ganesha jelas tidak mengerti jeritan hatinya.
"Yah ... kan udah ada Yulis," Nanda tersenyum, lalu ia menyandarkan pungung ke kursi. Bersedekap dan menatap remaja di depannya. "BTW, apaan maksudnya ngeliat aku?"
Ganesha mengangkat alisnya melihat reaksi itu. "Gue ngikutin lo tadi," akunya. "Dan tindakan lo ... ."
Hmm?
"Keren."
"Ya?"
Apaan maksudnya keren?
Nanda benar-benar bingung. Namun ketika Ganesha mendapati ekspresi bertanya dari pacarnya, remaja itu mendengus, lalu kembali menunduk--tidak berniat menjelaskan atau bahkan menindak lanjuti ucapannya. Lagian, salah siapa ketika dipuji malah gak-ngeh?
"Kalo lo gak kawatir dan gak mau nelfon, mending lanjut lagi belajarnya. Soal di depan lo gak bakalan gerak tuk ngejawab dirinya sendiri."
"Kalo itu beneran bisa, aku yakin bakal ngejerit seneng," Nanda menanggapinya dengan serius. Namun Ganesha tidak lagi menanggapi, membuat Nanda mengurucurkan bibir lucu.
"Ngomong-ngomong, sayang, kamu beneran perhatian," Nanda menyeringai, kembali buka suara. Ia bertopang dagu dan mengedipkan mata menatap Ganesha. "Ngikutin aku, terus dengan nada khawatir tiba-tiba bilang kayak gitu ... ."
"Beneran so sweet~ Bebeb Ganesha udah belajar jadi pacar yang penuh perhatian dan penuh cinta, aku sebagai pacar percobaan pertama, jadi terharu dan penuh kasih sayang deh. Iiihhh gemecin deh, sini mau aku kasih hadiah apa? Permen? Chiki? Coklat? Ah tapi jangan keseringan gitu ah, keliatan banget ih posesifnya. Tapi ciyeeee diem-diem Nes Nes sayang jadi pose--Aw!"
Nanda refleks memegang dahinya yang mendadak disentil.
"Belajar!"
"Kenapa belajar?" Nanda cemberut, tetapi sukses mendapatkan pelototan dari lawan bicaranya. Akhirnya, sang remaja mengalah. Dengan patuh tidak menggoda pacarnya kembali dan hanya terkikik sambil kembali membaca soal.
Keheningan kembali tercipta, tetapi diam-diam, sesekali Nanda melirik. Memperhatikan ekspresi serius Ganesha yang fokus dengan soal yang tengah diisi. Pemuda itu menunduk, matanya bergerak mengikuti setiap kata yang tercetak di lembar kertas. Benar-benar terlihat sangat terisolasi dari dunia luar hingga siapapun, mungkin, tidak dapat mengganggunya.
Senyuman di bibir Nanda menghilang.
'Gue ngikutin lo tadi.'
Alis Nanda terpaut, perasaan tidak nyaman meraba. Oh, tidak ada orang yang suka diikuti ... dan itu termasuk Nanda. Tindakan Ganesha membuatnya kesal, tetapi pengakuannya yang jujur justru membuat ia merasa ... rumit.
Nanda bukan tipe yang mengabaikan sekitar, ia cenderung waspada dan hal ini yang membuatnya selalu mengetahui beberapa orang bila mereka menatap lama ke arahnya. Namun anehnya ... kenapa ia tidak menyadari Ganesha?
Satu minggu ke dunia yang damai ini membuatnya ... tumpul? Apakah karena terlalu damai dan alam bawah sadarnya yakin bahwa tidak mudah untuk kehilangan nyawa, ia jadi benar-benar santai?
Jemari gemuk terus menulis dan mengisi soal, tetapi otaknya terpecah untuk memikirkan alasan kenapa ia tidak menyadari Ganesha. Namun, beberapa detik kemudian, ia menyadari sesuatu.
Fokusnya membaca sangat kuat hingga tidak terganggu dengan dunia luar, seolah-olah mampu mengisolasi diri sendiri dari sekitarnya. Lalu ... tadi pagi, ia terlalu fokus untuk menyelesaikan beberapa hal tentang Luna. Oh, karena pikirannya teralihkan untuk mencegah beberapa kemungkinan buruk, mungkinkah itu sebabnya ia tidak sadar diikuti? Karena ia terlalu fokus?
RIIIIINNNGGGG
Pergerakan Nanda berhenti. Kepala terangkat, menatap Ganesha yang mengkerutkan alis. Suara bel berbunyi nyaring sesentro sekolah--menandakan jam istirahat pertama telah berakhir dan itu berarti, sudah waktunya mereka kembali ke kelas.
"Aku berhasil menyelesaikannya, Pak," Nanda nyengir, memamerkan beberapa soal fisika yang berhasil dijawab. "Kayaknya, ini tanda-tanda aku bakalan jadi genius deh."
Ganesha mendengus geli, tidak menanggapi dan memilih untuk membereskan meja. "Balik duluan sana, gue yang beresin," ujarnya ketika melihat Nanda hendak membantu.
Nanda tidak memaksa. Ia nyengir, mengucapkan terima kasih ke Ganesha, menyapa Bu Rini, lalu berjalan keluar dari Perpustakaan. Namun baru beberapa langkah keluar, sepasang hazel menemukan sosok jangkung di sisi lain lorong.
Nanda ragu sejenak.
__ADS_1
Raja berjalan menuju ke belokan kanan, ia jelas ingin kembali ke kelas. Sosok tampan itu terlihat lebih diam, dengan ekspresi dingin yang membuat Nanda ... merasa seperti melihat Boss masa lalunya yang kejam dan tanpa hati.
Uh ... Nanda gatal ingin menyapa, tetapi ia ragu. Bersikap sok akrab di situasi Raja yang seperti ini bukan hal yang baik. Terlalu dekat dengan Bossnya juga bukan sesuatu yang baik untuk perasaannya sendiri.
Namun tepat ketika Nanda hendak mengelak, memutuskan untuk mengambil jalan memutar, Raja melihatnya.
Ah ... terkutuklah badan gemuk ini.
Senyuman merekah, agak berlari, remaja gemuk menghampiri Raja yang berhenti berjalan dan jelas menunggunya.
"Gimana? Apa kata guru?" Nanda langsung bertanya to the point. Terlalu malas untuk berbasa-basi. Raja yang mendengarnya menghela napas, lalu kembali berjalan. Alis remaja tampan itu terpaut, terlihat kesal dan frustasi.
Oh, hanya perasaannya saja. Ini bukan Bossnya yang dingin dan tanpa hati.
"Gak jelas," ucap Raja--jelas menyuarakan ketidak puasannya dari nada yang cenderung berat. "Gak ada yang tahu siapa yang naro ntu foto di mading."
"Sekolah gak nyelidikin?"
"Nyelidikin," Ganesha menghela napas. "Bokap Luna dateng tadi, bilang mau ngebawa ini ke polisi. Yah ... bagus sih, pelakunya jadi cepetan ketangkep."
Nanda mengangguk, diam-diam mencoba mengingat. Yah ... bila ia tidak salah ingat, orang tua Luna melaporkan ini ke polisi, tetapi behubung ia sudah merasa bersalah dan takut duluan, ia tidak memperhatikan bahwa waktu berlalu begitu saja. Tahu-tahu, Luna sudah keluar dari sekolah. Entah apakah orang tua Luna benar-benar melapor polisi atau tidak. Apakah pelaku aslinya tertangkap atau tidak. Pastinya, ia tidak mengetahui kelanjutan kasus ini dan sudah lulus. Masuk Universitas di luar kota dan melanjutkan kehidupan.
"Oh ya Nan."
"Hm?"
"Ntar pulang bareng gue aja ya."
Eh?!
Jantung Nanda terasa mencelos mendengarnya. Otaknya mendadak beku--tidak mampu memikirkan apapun dan hanya bisa mendengar suara jantungnya yang menggila. Namun, di detik darahnya terasa berdesir, ucapan Raja selanjutnya sukses membuat wajahnya terasa tertampar.
"Kita pegi ke rumah Luna, bareng."
" ... ."
Oh. Iya, bener. Luna.
Nanda benar-benar ingin mengeluarkan kata-kata sarkas rasanya. Memukul kepalanya sendiri kenapa sempat lengah dan merasa Raja memiliki sedikit perasaan kepadanya.
"Uh ... sorry, kayaknya gak bisa deh Ja," Nanda menolak, sukses membuat Raja menoleh. Ekspersinya jelas terlihat tidak percaya dengan penolakan itu. Seolah-olah Nanda adalah teman yang tidak peduli dengan kesusahan temannya sendiri ...
TETAPI IA MEMANG BUKAN TEMAN LUNA!
Nanda benar-benar ingin memprotes tatapan itu.
"Kenapa? Yulis aja masi di rumah Luna dan rela bolos," tapi lo kok kayak gini?
Nanda nyaris bisa menebak kelanjutan ucapan yang tidak dikatakan Raja. Oh, sungguh, tatapan menuduh itu membuatnya tidak nyaman. Terlebih, Bossnya yang memandang seperti itu. Tetapi ia tidak mungking bilang bahwa ia tidak peduli kan? Bahwa ia tidak merasa Luna adalah teman dekatnya?
Bila Nanda berani mengatakan itu di saat seperti ini, ia yakin Raja akan langsung memblack listnya.
"Yah ... pokoknya gak bisa," Nanda menggelengkan kepalanya. Menolak menjawab kenapa dan menolak untuk ikut. "Titip salam aja ntuk Luna."
"Lo temennya bukan sih?"
Bukan.
Otak Nanda refleks menjawab, tetapi jelas masih sadar sikon untuk tidak memperkeruhnya. Mood Raja sudah jelek, ditambah penolakannya, remaja itu jelas akan lebih suka melampiaskan amarahnya.
Raja jelas bukan orang yang akan main tangan dengan perempuan, tetapi Nanda jelas tahu hal ini tidak akan berakhir begitu saja. Terutama pemuda kalem yang mendadak menjadi penuh emosi ... yah, mungkin ini kesempatannya?
"Terserah kamu Ja, mau ngomong gimana," Nanda menghela napas. Sepasang iris menatap Raja yang lebih tinggi. "Aku gak bisa pergi pokoknya. Titik, gak pakek koma. Bye."
Setelah kata-kata terakhir diucapkan, Nanda mempercepat langkah. Berjalan di depan dan meninggalkan Raja seorang diri di koridor. Meski ia sendiri merasa tidak nyaman karena tindakannya, tetapi ...
Bila seperti ini bisa membuat jarak dengannya dan Luna, kenapa tidak?
Nanda menepuk-nepuk pelan dadanya. Mencoba menghibur hatinya yang terasa sakit ketika membayangkan Raja akan mengabaikan atau bahkan menatapnya dengan tidak bersahabat.
Oh, sudahlah. Itu bukan benar-benar Bossnya. Lagipula ia dan Raja memang tidak akrab, tidak perlu dipikirkan. Sekarang, ia hanya perlu bertahan beberapa bulan lagi di sekolah ini sebelum benar-benar lepas dengan beberapa rencana kecil. Beruntung, kelas 3 tidak benar-benar menghabiskan waktu setahun di sekolah.
Nanda menghela napas. Bagaimanapun, ia cukup sabar untuk mencapai tujuan barunya.
__ADS_1