Zombie

Zombie
25: Pasar


__ADS_3

Nanda tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Oh, sudah lama sekali tubuh tidak menyentuh kasur, membuat sosok wanita berambut panjang enggan untuk meninggalkan lapisan empuk yang membuatnya menjadi malas. Namun sayang, ia sudah terbangun. Bukan hal baik untuk terus tidur ketika mendengar suara ketukan pintu di luar.


"Nda, kamu sudah bangun?" Erica bertanya, mengetuk beberapa kali lapisan kayu pintu kamar Nanda.


"Ya," Nanda menjawab serak. Alis terpaut, lalu beberapa detik, gumpalan air masuk ke dalam mulut. Terminum dengan segera dan memberi dahaga. Dingin dan menyegarkan hingga membuat mata yang semula berat, kini cerah. Oh, tidak perlu repot mengambil air, dengan kemampuan ini, ia tidak perlu bangun hanya untuk mencari minum. Ah, benar-benar kemampuan yang membuat malas.


"Ada apa Te?" Nanda bangkit berdiri. Ia melangkah menuju pintu dan membuka, menatap wanita berambut pendek yang lebih tinggi.


"Sudah jam 8, kamu tidak mau sarapan?"


Nanda menguap. "Tente tidak memasak? Bukankah kita ada bahan?"


Erica mendengus. "Tidak ada teflon dan piring."


"Ha? Di mobil pick-up kan banyak," mereka tinggal mengambil peralatan memasak di mobil, kenapa repot-repot mengatakan tidak ada? Tidak mungkin dicuri kan? Alis Nanda terpaut, tidak menyukai pemikiran terakhir.


Erica menghela napas. "Aku lupa memberitahumu, kemarin saat kau tidur, Ken, Bobi dan Genta membawa anak-anak pergi ke pasar."


"Lalu?"


"Mereka membawa semua piring dan perlengkapan makanan untuk ditukar dengan makanan karena takut kita tidak bisa makan karena kehabisan makanan."


"... ." Nanda kehilangan kata-katanya selama beberapa detik. "Sebentar, maksud Tante ... semuanya?"


Erica mengangguk.


"Semuanya?! Semua alat masak ditukar?!"


"Jangan lebay," wanita itu menghela napas seraya menjetik kening Nanda--sukses membuat perempuan itu ber-Aw dan mengusap kening yang tidak sakit. Sepasang hazel melirik ke dapur, menemukan beberapa tumpukan makanan yang bertambah ...


Tidakkah mereka tahu bahwa Pangkalan memberikan mereka hak istimewa? Jadi, untuk apa semua makanan ini bila tidak bisa dimasak ...


"Mereka kurang untuk diajari sepertinya," Nanda menggerutu. Jengkel mendapati sarapan enak terancam kandas. Oh, siapapun tahu bahwa makanan kantin yang geratisan, dijamin tidak seenak masakan buatan Erica! "Aku pergi ke pasar dulu, siapa tahu ada yang bertukar piring dan alat memasak," ujarnya lalu masuk ke dalam kamar dan meraih jaket yang tersemat. Tidak perlu mandi, di zaman zombie merajalela, mandi setiap hari bukan lagi kewajiban. Malah sesuatu yang mewah mengingat air bersih yang jarang.


"Tidak sarapan?"


"Kalau Tante mau tunggu, tidak apa-apa, tapi kalau sudah lapar, lebih baik Tante dan anak-anak sarapan dulu," Nanda berjongkok, memasang sepasang sepatu kesayangan yang kusam dan kotor. Antara makanan enak dan tidak enak, Nanda lebih bersabar untuk menunggu makanan enak. Lagipula, tubuh tidak selamah itu untuk tidak kuat beraktivitas meski tidak makan. "Oh ya Te, minta beberapa bungkus mie instan dan beras di sana."


"Benar-benar mau diambil lagi?" Erica mengambil beberapa bungkus mie instan, menyerahkan kepada Nanda.


"Iyalah, memang kita mau makan pakai apa nanti?" Nanda cemberut, menaruh semua mie ke dalam kantung pelastik yang berada di dalam saku jaket. "Kenapa kemarin Tante tidak langsung menukarnya lagi?"


"Lupa."


Alis Nanda terangkat. "Tumben."


Erica menghela napas. Mengambil kunci rumah dan berjongkok di sebelah Nanda. Ia juga memasang sepatu. "Ken dan Bobi menemukan keluarganya saat kembali dari pasar, jadi mereka membawa mereka ke sini untuk mengobrol. Karena terlalu ramai, tanpa sadara yah ... jadi lupa."


Keluarga Bobi dan Ken ...


"Jadi sekarang mereka tinggal dengan keluarga mereka?" Nanda menebak dan seperti yang ia kira, Erica mengangguk.


"Genta ikut dengan Ken," tambahnya. "Jadi anak-anak sekarang sendirian di rumah sebelah."


Hanya ada dua kamar Pada setiap rumah, Anak-anak terdiri dari 5 orang. Namun mendengarnya membuat alis Nanda mengernyit. "Rinrin tidur dengan yang lain? Kenapa tidak tidur dengan Tante? Rinrin satu-satunya anak perempuan!"


Erica bangkit berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang tubuh. "Dia tidur duluan, jadi kubiarkan dulu untuk sementara tidur di sana, malam ini dia baru akan pindah," jelasnya.

__ADS_1


Nanda menghela napas. Bangkit berdiri dan meraih mie instan yang berada di lantai. "Benar mau sarapan di kantin?" walau Dimas mengatakan geratis untuk makan di kantin selama 3 hari pertama untuk semua pendatang baru, Nanda sudah bisa membayangkan rasa yang tidak terlalu enak.


"Anak-anak masih masa pertumbuhan," tidak peduli apapun, mereka tetap harus sarapan. Lagipula lidah mereka tidak boleh dimanja. Nanda yakin itu yang dimaksud Erica. Tentenya benar-benar ingin membuat para kurcaci menjadi anak-anak yang gemuk. Tidak pilih-pilih makanan. "Jangan lupa ambil sayuran bila melihat ada yang menjual," tambahnya.


Nanda tertawa, mendadak teringat bahwa mereka belum pernah memakan sayuran entah sudah berapa bulan. "Okay boss! Serahkan semua kepadaku!" ucapnya semangat, lalu melangkah ke luar dan mengambil arah berlawanan dari langkah yang Erica pilih.


.


.


.


Letak Pasar, berada tepat di dekat Gerbang Pangkalan. Alasan kenapa dibangun di tempat itu, karena kebanyakan yang baru memasuki pangkalan akan langsung menukar barang mereka dengan beberapa hal atau langsung ingin menjualnya dengan hal lain. Banyak barang dan makanan dijual, tetapi senjata adalah barang yang paling banyak diminati. Semua stand yang menjual senjata, dijamin ramai oleh pembeli yang menawar harga tertinggi.


Deretan mobil, tenda atau bahkan hanya selembar kain yang dibentangkan, tersusun. Suasana selayaknya sebuah pasar tradisonal. Ramai dengan pedagang dan pembeli, saling tawar menawar dengan beberapa tentara yang berkeliaran agar tidak adanya kekacauan. Tanah masih agak becek, tetapi siapa yang mempedulikan kondisi yang cenderung kotor? Semua orang hampir tidak bisa mandi setiap hari, sedikit kotor seperti ini bukan masalah.


Nanda menoleh ke kanan dan ke kiri, menatap kesibukan di sekitar dengan penuh minat. Sesekali ia menjulurkan kepala, menatap barang-barang yang dijajalkan. Ketika ia melihat salah satu pelanggan mengeluarkan sebuah kristal putih transparan seukuran kacang merah ... Nanda teringat bahwa banyaknya pengguna kekuatan sudah menyadari manfaat dari nukleus zombie.


Nukleus semacam energi yang terkristalkan, berada di dalam tubuh zombie, lebih tepatnya, di dalam otak zombie. Karena itu adalah energi, nukleus bisa dimanfaatkan oleh para pengguna kekuatan sebagai cadangan energi selayaknya sebuah powerbank. Bila mereka sudah mulai kelelahan menggunakan kemampuan mereka di tengah pertempuran, nukleus secara instan akan mengembalikan energi mereka.


Sayangnya, nukleus adalah benda habis pakai. Ketika menyerap energinya sampai habis, nukleus akan mengembun dan menghilang. Nukleus sendiri juga hanya ada di tubuh zombie level, jadi lumayan sulit untuk mendapatkannya. Warna pada nukleus umumnya mewakili jumlah energi yang dimiliki. Semakin gelap warna, semakin besar energi yang terkandung.


Putih, biru pucat, biru, biru tua, lalu hitam ... di kehidupan sebelumnya, Nanda hanya pernah sekali melihat nukleus hitam dan ukurannya hanya sekecil beras. Namun, meski sangat kecil, keberadaan Nukleus Hitam diincar hampir oleh semua pengguna kekuatan karena menyimpan sejumlah besar energi. Sayangnya, hanya orang yang mampu mengalahkan zombie level 5 yang bisa mengambil nukleus hitam. Konon, semakin besar nukleus hitam, semakin tinggi level zombie.


"Adek cantik, ada yang mau dibeli dek? Atau kalo gak punya nukleus, barter pakek mienya juga gak apa."


Lamunan Nanda buyar. Sepasang hazel fokus menatap toko di depannya. Pria paru baya itu kurus dan kotor, terlihat berharap ketika memandang beberapa bungkus mie instan yang berada di tangan Nanda. Nanda langsung bereaksi. Tersenyum ramah dan menyadari bahwa bagian tempat ia berhenti adalah peralatan memasak.


"Pak, saya ambil ini, ini, ini dan ini, berapa?" tanya Nanda seraya menunjuk wajan, teflon, spatulan, centong sup dan beberapa barang lainnya. Ia menunjuk dengan ringan, seolah tidak takut merasa rugi sama sekali. Tindakan itu membuat mata sang penjual cerah. Ia menghitung mie yang berada di tangan Nanda, lalu menyebutkan 6 bungkus mie instan.


"... ."


"Tidak, Pak, saya titip dulu barang-barang ini, nanti saya kembali untuk mengambilnya," Nanda menolak. Memang merepotkan membawa belanjaan ketika ia sendiri ingin pergi berkeliling, tetapi di rumah tidak ada siapapun, memangnya siapa yang akan menerima barang kiriman? Jadi, wanita dengan wajah menipu itu hanya tersenyum ramah, menolak halus dan memilih opsi untuk menitip.


Melanjutkan untuk melihat sekeliling, beberapa penjual tidak henti berteriak hanya guna menggaet minat pembeli. Nanda bersenandung, mencari-cari orang yang menjual sayuran dan buah. Di sini, terdapat kebun, tidak mungkin tidak ada yang menjual--oh!


Sepasang hazel cerah, Nanda tidak bisa menahan senyuman ketika sepatu beralaskan lumpur melangkah mendekati sebuah kios. Kios itu agak sepi, terdapat beberapa buah tomat, seikat bayam dan tiga sawi putih. Seorang pembeli terlihat masih tawar menawar dengan penjual, memprotes harga sawi putih yang menurutnya mahal.


"Benar-benar tidak kurang? satu tomat dan satu sawi putih seharga tiga kristal putih?" wanita itu mengkerutkan alis, terlihat sangat marah dengan harga yang mahal. Nanda yang mendegarnya meringis. Oh, memang mahal, tetapi bila mengingat sayuran segar cenderung langka ... yah, harga itu termasuk wajar.


"Nyonya, saya menanamnya memerlukan energi, tidak mudah untuk mempertahankan agar cepat tumbuh dan berkualitas seperti ini. Anda bisa melihatnya sendiri bahwa sayuran yang saya jual, semuanya berkualitas baik. Harga yang saya berikan bukan harga yang mahal sama sekali," sosok pemuda yang terlihat seperti awal 20an itu berujar ramah, mencoba agar wanita itu lebih sedikit pengertian. Ia tidak marah sama sekali, sebaliknya tetap sopan dan tersenyum, seolah bukan hanya sekali dua kali pelanggan mengeluh prihal harga yang dipasangnya.


Wanita itu berdecak, terlihat masih tidak terima dengan harga yang diberikan, tetapi memilih menyerah dan menyerahkan tiga kristal putih. Pria muda itu tersenyum lebih lebar, menerima uang dan dengan senang hati membungkus menyerahkan sawi dan tomat ke dalam tas yang dibawa wanita tersebut.


"Nona, Anda tertarik dengan sayuran saya?" Pria muda itu memandang Nanda, memberikan senyuman ramah.


Nanda tersenyum lima jari. "Ya, aku ingin mengambil semuanya, berapa?" tanyanya. Oh, ia tidak kekurangan nukleus sama sekali. Selama membunuh zombie sendiri, Nanda juga sekaligus memanen nukleus, jadi mereka tidak kekurangan sama sekali.


Pria muda itu terlihat tidak terkejut. Ia masih mempertahankan senyuman dan bahkan tertawa kecil. "Oh, untuk dua sawi, seikat kangkung dan 3 tomat, semuanya 10 nukleus putih, itu sudah termasuk diskon."


"Ah? Benarkah?" Nanda menatap curiga. "Kenapa aku merasa tidak mendapat diskon sama sekali?"


"Nona, satu sawi harganya satu nukleus, tomat harganya dua nukeus dan bayam seharga 3 nukleus, bila ditotalkan, seharusnya semuanya 11 nukleus putih."


Alis Nanda terangkat. "Kenapa bayam harganya lebih mahal? Setahuku, bayam tumbuh lebih cepat."


"Nona cantik, bayam memang tumbuh lebih cepat, tetapi Anda tidak mungkin ingin memakan hanya satu tangkai bayam. Jumlah yang harus saya buat tumbuh lebih banyak, itu sebabnya harganya lebih tinggi," jelasnya. "Lagipula, seikat bayam ini jumlahnya lebih banyak."

__ADS_1


Sepasang hazel menatap ikatan bayam. Yah ... ini tidak tebal. Hanya diikat dan mungkin beratnya hanya sekilo. Tetapi untuk hari-hari yang menyedihkan ini ... Nanda bisa mengerti bahwa ini bisa dikategorikan sebagai banyak. Sayangnya, bila sudah masuk ke dalam perut 5 anak kecil itu, seikat bayam jelas bukan apa-apa.


"Nona cantik, saya yakin anda tidak akan merugi. Harga yang saya berikan tidak mahal sama sekali. Terlebih sayuran segar sangat bagus untuk kulit, ini investasi jangka panjang untuk kecantikan Anda. Oh, saya yakin pacar Anda akan semakin menyukai Anda."


Nanda terkekeh. "Mulutmu manis sekali," ujarnya geli. "Oke, aku ambil semua," setujunya lalu merogoh saku jaket. Nanda diam-diam mengambil nukleus yang berada di dalam ruangannya dan menaruh 11 nukleus putih transparan ke atas meja. "Nah, berikan aku tas untuk menaruh belanjaan."


"Anggap saja tas adalah bonus," pemuda itu memasukkan semua sayuran ke dalam tas kain, lalu mengembalikan satu nukleus ke tangan Nanda.


Nanda menyeringai. "Tidak rugi?"


"Anda tidak menawar sama sekali, kenapa saya harus rugi?"


Nanda terkekeh dan menerima tas, juga nukleus yang diberikan. Oh, penjual ini sangat menyenangkan! Tidak mau menunda jalan-jalannya, Nanda kembali berkeliling. Ia diam-diam memasukkan nukleus ke dalam ruangannya kembali dan mengeluarkan beberapa sayuran tambahan yang langsung ditempatkan ke dalam tas. Pada akhirnya, ia bisa mengeluarkan sayuran tanpa harus membuat curiga siapapun.


"Kak!"


Nanda menoleh, sepasang hazel menemukan sosok Ken yang berlari mendekati.


"Ken!" wajah Nanda mendadak cerah. "Bagus, bantu Kakak bawa barang-barang!"


"Eh?"


"Kenapa eh? Sini-sini," tanpa sungkan sama sekali, sosok wanita menyeret pemuda di dekatnya. Memanfaatkan orang yang dikenal sebagai kuli dadakan. Mereka kembali ke stand tempat Nanda membeli perlengkapan memasak, memaksa Ken untuk membawa perlengkapan logam tersebut.


"Karena kamu terlalu pintar untuk menjual semua perlengkapan memasak, sekarang kamu harus bertanggung jawab membawanya kembali," Nanda menyeringai, ucapannya sukses membuat Ken tertawa canggung. "Oh ya, kau bertemu keluargamu?"


Ken tersenyum. "Um."


"Bagaimana keadaan mereka?"


"Mereka sehat semua Kak," Ken tidak henti menyeringai, jelas merasa bahagia dengan keberadaan keluarganya. "Mereka tinggal di tenda, makanya nanti aku mau ikut kelompok tentara bayaran ke luar Pangkalan agar bisa dapat nukleus untuk sewa rumah."


Ke luar pangkalan ...


Mendadak, senyuman yang mengembang di wajah pemuda itu menghilang. Ken terlihat gugup, menelan liur paksa dan dengan canggung, menatap Nanda. "Kak ... aku ... aku mau minta maaf," ujarnya lirih. "Aku mau menetap di sini, sama keluargaku ... jadi ... Kak, maaf. Aku tidak ikut Kakak ke Pangkalan 1."


Menghela napas, Nanda mengkulum senyuman. "Tidak ada paksaan kamu ikut kakak dan tidak ada yang akan menghalangimu bila kamu mau menetap dengan keluargamu," Nanda menepuk ringan punggung Ken. "Semua orang memiliki keputusan mereka masing-masing, jangan terlalu dianggap beban, okay?"


Ken membuka, lalu menutup mulutnya. Tidak ada suara apapun yang keluar saat rasa bersalah seolah bergemuruh di dada. Oh, selama perjalanan, Nanda sudah sangat banyak menolong. Mau berbagi makanan dengannya dan bahkan masih mau mengajarinya untuk bertahan hidup. Pada akhirnya, ia tidak bisa melakukan apapun untuk membalas kebaikan Nanda ...


"Terima kasih Kak," setelah meyakinkan dirinya sendiri, pada akhirnya kata-kata itu keluar. "Maaf Kak, aku sudah banyak nyusahin Kakak, aku juga ... uh ... ."


"Pfftt--Kamu cowok tapi kok malah nangis?!"


"Siapa yang nangis?!" Ken melotot. Ia tidak menangis! Matanya hanya terkena debu!


Nanda tertawa "Oh ya, Bobi juga bertemu keluarganya kan?" Ken cemberut, tetapi mengangguk menanggapi pertanyaan Nanda. "Terus Genta?"


Ekspresi wajah Ken berubah mendengar nama Genta. Mendadak, kesedihan seolah memukulnya. "Genta ... Ibunya Genta meninggal."


Nanda terdiam. Berita duka yang mendadak ia dengar membuatnya tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Sekarang Genta tinggal di rumah keluarganya Bobi ... ," Ken menunduk menatap banyak benda logam yang sedang ia bawa. "Genta anak yatim dan dia juga anak tunggal, yang dia punya cuma Ibunya, jadi sekarang ... ," helaan napas terlontar, Ken tidak tahu harus mengatakan apa.


"Jadi sekarang, dia cuma punya kalian berdua sebagai sahabatnya," Nanda menambahkan, tersenyum menatap Ken yang muram. "Setiap yang hidup, pasti akan mati. Dia pasti bersedih, tetapi tidak selamanya akan bersedih. Nah, sudah antar barang-barang ini, kamu pergi ke tempat Genta dan hibur dia, biar sedihnya tidak terlalu lama."


Ken tersenyum mendengarnya. Tanpa kata-kata, ia mengangguk dengan ucapan yang baru saja Nanda lontarkan.

__ADS_1


__ADS_2