
Duduk di dalam Caravan, ruangan kecil dengan sofa yang saling berhadapan dan dibatasi oleh sebuah meja, menjadi tempat untuk berdiskusi. Terdapat sebuah peta di atas meja, terbentang di hadapan tiga pria dan satu wanita. Jalan yang tidak rata membuat beberapa guncangan pada mobil. Namun keempatnya masih tetap fokus berdiskusi, sudah terbiasa dengan suasana tidak kondusif seperti ini.
"Tempat ini yang paling aman untuk membuat persembunyian," Alfa menunjuk bagian peta, membuat tiga pasang mata yang berbeda memandangnya. Ia adalah pengguna kekuatan tanah, orang yang bertanggung jawab untuk mencari tempat teraman selama tim 'pemburu' mencari makanan dan mengorganisir beberapa orang yang kuat sebagai pelindung dan menjaga 'benteng sementara'.
"Menurut Putra, di sana sedikit zombie berkeliaran. Daerah terpencil yang aman. Tidak terlalu jauh dari desa, tetapi ketika Roro mengecek lokasi, daerah itu sulit untuk dilalui mobil. Tidak ada akses jalan ke sana. Mobil harus ditinggalkan dan mulai berjalan kaki."
Alis Raja terpaut. Mencari tempat aman selalu menjadi prioritas sebelum mereka melakukan pencarian bahan makanan. Bagaimanapun, bahan makanan mereka selalu tercekik, jarak Pangkalan terdekat masih sekitar dua atau tiga minggu lagi menurut kecepatan ini.
Menebang pohon dan membuka jalan? Tidak mungkin. Raja tidak mau mengambil resiko bawahannya kelelahan lalu mereka diserang zombie. Bagaimanapun, akan sangat merepotkan bila anak buahnya kehabisan energi hanya untuk membuat jalan yang akan mereka gunakan sekali pakai.
"Boss, sebaiknya kita membawa semua orang," Ifa buka suara. Ia satu-satunya perempuan di dalam rapat ini, tetapi tidak ada satupun yang meremehkannya. "Rombongan akan ikut masuk ke desa, tetapi kelompok akan berhenti di tempat yang jauh dari Mall."
"Terlalu berbahaya," Alfa tidak setuju. "Ini bukan desa kecil, jumlah zombienya tidak akan sedikit."
Alfa sangat tahu tolak ukur kelompoknya. Meski ia bertugas mengatur perlindungan untuk anggota yang lemah, tetapi kelompoknya jauh lebih lemah ketimbang kelompok Pemburu yang Raja pimpin. Mereka berempat, masing-masing memiliki tanggung jawab. Alfa bertugas melindungi kelompok lemah, Ifa sebagai pengatur kelompok-kelompok lemah dan distribusi makanan ke semua orang. Dwi tim logistik yang mengumpulkan nukleus dan hasil jarahan dan Raja adalah pemimpin untuk menyerang dan membersihkan zombie sebelum kelompok logistik bisa mengambil bahan makanan.
"Tapi kita tidak bisa pergi ke daerah itu, berjalan kaki sampai ke puncak bukit akan berbahaya. Beberapa orang tua pasti tidak tahan."
Alfa menghela napas. Mana yang lebih berbahaya? Berkemah di dekat desa atau berjalan kaki?
"Masuk ke dalam desa," Raja memutuskan, setuju dengan usulan Ifa. "Ganesha masuk ke dalam kelompokku, itu sudah lebih dari cukup. Nanti aku akan mengirim beberapa orang kepadamu," sang Boss menatap Alfa--menjelaskan pemikirannya.
Ifa ragu. "Itu ... Boss, Ganesha itu orang yang bertopeng kan? Dia benar-benar kuat?" Jujur saja, ia senang karena idenya dipilih, tetapi bukan berarti ia tidak merasa ragu. Ifa tahu keputusannya beresiko, tetapi bila mengambil orang-orang dari kelompok Bossnya ... apakah tidak apa-apa? Apakah mereka tidak akan kekurangan tenaga ketika menghadapi zombie nanti?
"Dia sangat kuat," Dwi yang sejak tadi diam, akhirnya buka suara. Ia bersandar di sofa, terkekeh seraya menggelengkan kepala. "Dia mengalahkan zombie Level 4 seorang diri," tambahnya.
Hanya kelompoknya dan kelompok Raja saja yang melihat kekuatan pria bertopeng. Jadi, ketika Dwi menjelaskan, ekspresi wajah Ifa dan Alfa sama-sama berubah.
Bisa Mengalahkan level 4 sendirian? Apakah orang ini monster?! Oh, mereka memang mendengar dari beberapa gosip orang-orang bahwa Ganesha sangat kuat, tetapi mendengar ucapan Dwi, membuat mereka tidak bisa menahan diri dari ngeri.
Bila mereka bisa sekuat itu ... betapa bagusnya, bukan?
"Lagipula, berjalan menuju bukit dengan jumlah orang yang banyak, akan menarik zombie. Percuma saja ke bukit, tempat itu akan langsung ramai oleh Zombie, jadi lebih baik ikut lalu berhenti di pinggir desa, dengan tambahan dari tim Boss, pekerjaanmu akan lebih ringan," Dwi menunjuk Alfa. Menjelaskan pemikirannya yang ia yakini, sejalan dengan pemikiran Raja.
Melihat ekspresi kedua rekan, seringai Dwi semakin mengembang. Ia bersedekap, menatap kedua pasang mata yang duduk di sebrang meja darinya. "Level mas-mas bertopeng itu sangat tinggi, jadi kalian tidak perlu khawatir. Benar kan Boss? Bila perlu, yang pergi cukup Boss dan mas-mas betopeng saja. Atau bahkan minta mas bertopeng saja yang pergi sendirian membasmi semua zombie--aduh!" Dwi mengaduh, refleks menutupi kepalanya yang kena jitak. "Kenapa menjitakku, Boss?!"
"Jangan berbicara omong kosong," Raja mendengus, lalu kembali menatap kedua orang bawahannya. "Aku akan memberitahu kelompok penyerang, beberapa akan segera ditugaskan untuk melindungi, kalian tidak perlu khawatir karena level Ganesha memang berada di atasku," jeda beberapa detik, Raja memperhatikan ekspresi wajah bawahannya satu persatu. "Masih ada saran atau keberatan?"
Boss sudah memutuskan dan berkata seperti itu, bagaimana mereka mau keberatan? Pada akhirnya satu masalah dipecahkan. Ifa kembali buka suara, kali ini membahas prihal beberapa bahan makanan yang berkurang dan hal-hal yang menjadi prioritas harus dimiliki ketika nanti dikumpulkan. Ada dua hal utama yang diprioritaskan. Makanan dan Obat-obatan.
Di kelompok ini ada 3 pengguna kekuatan ruang. Ifa, Dwi dan seorang pria tua. Pria tua itu bertugas sebagai penampung bahan makanan dan beberapa keperluan umum. Pria tua itu tidak mau mengurus hal-hal merepotkan, itu sebabnya logistik bagian umum adalah Ifa yang menjadi tanggung jawab dan Dwi yang lebih kuat dan mampu untuk bertarung membunuh zombie ikut ke dalam kelompok Raja ketika berburu.
Namun, kemampuan ruang Ifa memiliki karakteristik yang berbeda. Kemampuan Ruang milik Ifa, mampu membuat makanan apapun akan menjadi segar tidak peduli apakan daging atau makanan apapun itu sudah kadaluarsa atau bahkan membusuk, tetapi sayangnya, luas ruangan miliknya terbatas dan tidak bisa menampung terlalu lama bila tidak mau menghabiskan energinya. Hanya ketika ingin memasak, Ifa akan memasukkan semua bahan yang membusuk ke dalam ruangannya selama beberapa menit lalu mengeluarkannya kembali dalam keadaan segar.
Rapat selesai, keempat orang bangkit berdiri. Masing-masing memiliki hal yang harus diurus sesuai dengan hasil rapat singkat yang mereka lakukan. Itu sebabnya, mobil juga ikut berhenti, bersama rombongan yang akan diberikan arahan kepada masing-masing tanggung jawab.
Namun ketika Ifa hendak keluar dari Caravan, sepasang iris melirik ke arah horden biru yang tertutup. Di sana, tanpa suara sama sekali, wanita ini sangat tahu bahwa Istri Bossnya tengah tertidur, ataukah ... pura-pura tertidur sambil mendengarkan?
Mencibir, Ifa turun dari mobil. Memikirkan Luna membuatnya merasa jijik. Bagaimana tidak? Ketika semua orang bekerja dengan keras, berusaha agar besok masih bisa hidup, ia dengan santai berlindung di belakang Boss. Menikmati semua fasilitas yang susah payah semua orang raih.
Apa gunanya Luna? Wanita itu tidak kuat sama sekali dan tidak bisa bertarung. Wanita loyo itu bahkan sangat jarang keluar dari Caravan, bertingkah sok lemah dan penakut. Lebih parah, dengan perlakuan lembut Bossnya, Ifa yakin Luna tidak pernah tidur dengan Raja.
__ADS_1
Jujur saja, Ifa tidak akan merasa Luna sangat menyebalkan bila wanita itu masih mau bersosialisasi. Tidak masalah bila Luna tidak bisa bertarung. Yah ... banyak anggota kelompok ini yang tidak bisa bertarung dan memanfaatkan orang yang lebih kuat. Namun setidaknya mereka semua mau bekerja, atau minimal mencoba membantu satu sama lain karena merasa tidak nyaman bila tidak bekerja.
Tetapi Luna?
Ifa mendengus. Ia sungguh tidak mengerti apa yang disukai Bossnya dari Luna yang jelas-jelas tidak memiliki nilai apapun selain wajah. Oh, apakah hanya dengan mengangkang dan menunjukkan pesona wajahnya, ia juga bisa mendapatkan perlakuan seperti itu dari Boss? Hanya perlu menjadi seorang budak pemuas nafsu? Ifa bahkan ragu Bossnya benar-benar meniduri Luna karena selalu mendapati suasana tenang mobil tanpa pesona gairah.
Mendadak, Ifa merasa dirinya terlalu merendahkan visi Bossnya. Hal itu membuat ia menghela napas dan menggelengkan kepala. Memikirkan Luna hanya akan membuat sial.
"Kyaaaa! Ahahaha!"
"Cepat lari! Cepat Lari! Zombienya mengejar!"
"Graaawww! Siapa yang berhasil kutangkap, akan kumakan! Ah! Kutangkap kau!"
"Gyaaaa! Ampun! Ampun! Tolong! Tolong!" Gadis kecil yang berhasil ditangkap menjerit seraya memberontak. Perutnya digelitik oleh sosok yang berperan menjadi zombie, membuatnya tidak berhenti tertawa dan menjerit. Beberapa anak-anak yang lain mendengarnya langsung menyerbu pemeran zombie. Memeluk zombie dan bergantian menggelitiki.
"Aduh, aduh, Ahahahah! Kalian curang! Curang!"
Ifa berkedip. Menatap interaksi anak-anak bersama remaja perempuan yang terlihat bersih dan cantik. Keberadaannya seolah-olah tidak cocok dengan lingkungan ini. Senyuman remaja itu polos, tertawa bahagia lalu memasang ekspresi pura-pura marah.
Anak ini sama seperti Luna. Terlalu dilindungi, tetapi jelas lebih terbuka dengan orang lain, tetapi... di dunia yang kacau seperti sekarang, masih ada yang bisa tetap tertawa dengan riang seperti ini?
"Siapa yang menyuruh kalian keluar dari mobil?" menghampiri sosok yang masih asik sendiri, wanita tinggi itu menatap Nanda sekilas, lalu menatap anak-anak. Ketika mata keduanya bertemu, Ifa dengan mudah mengkonfirmasi dugaannya. Wajah itu cenderung imut dengan kedua pipi bulat kemerahan. Terlebih dengan sedikit lengkungan di bibir, remaja itu akan menunjukan sepasang lesung pipi yang indah.
Bila bukan karena perlindungan dari pria bertopeng yang sangat kuat, Ifa yakin anak cantik ini akan menjadi budak sex untuk para petinggi di Pangkalan. Oh, tentu saja Ifa langsung mengenali Nanda sebagai rekan pria bertopeng. Bagaimana tidak? Hanya dua orang tambahan yang masuk ke dalam kelompok. Pria bertopeng dan pasangannya, remaja yang penuh senyuman ini.
"Namamu Nanda? Bisa kita bicara?"
Nanda berkedip, sebelum akhirnya terkekeh. "Oh? bukankah kita sedang bicara, Kak."
Ifa hampir meledak mendengar tanggapan remaja itu. Namun sepasang iris memandang anak-anak lain yang terdiam. Memperhatikan obrolan mereka dan bahkan terkikik ketika mendengar apa yang Nanda ucapkan.
"Kenapa masih di sini? Cepat kembali ke mobil! Kalian benar-benar ingin dimakan zombie?!"
Tidak perlu perintah yang kedua kalinya, ketika kata-kata itu keluar, anak-anak langsung berlarian. Menggunakan kemampuan tercepat dan terbaik untuk segera masuk ke dalam mobil sebelum wanita galak itu lebih marah. Oh, mereka tahu kali ini rombongan berhenti hanya sebentar, tetapi mereka sangat bosan, okay? Tidak ada yang salah hanya untuk keluar dan bermain sebentar kan?
Nanda cemberut melihat wanita galak yang baru saja datang ini. "Kakak, aku tidak mengenalmu, aku bahkan tidak tahu siapa namamu, tetapi kau sudah tahu namaku--oh, aku tahu, aku sangat terkenal dan cantik, tetapi Kak, sebagai fens baru, tidak pantas rasanya untuk mengusir teman-teman kecilku yang imut. Kau benar-benar terlalu galak."
"... ."
Apakah anak ini mengalami masalah di otaknya?
Ifa benar-benar terpesona dengan ucapan narsis yang terlalu tinggi itu. Sukses membuatnya hampir lupa ingin mangatakan apa.
"Jadi? Apa yang ingin Kakak katakan? Eh, sebelum itu Kakak harus memberitahu nama Kakak dulu, jadi bila Kakak minta tanda tangan, aku bisa menuliskan nama Kakak juga. Ah, jangan khawatir, meski bukan artis, tetapi aku terkenal, jadi memiliki tanda tanganku adalah hal yang baik."
Nanda masih mengoceh dan Ifa terlalu terpesona. Sungguh, ia sangat kagum. Tangannya mendadak gatal, ingin membela kepala anak ini dan melihat ada apa di dalamnya. Apakah ada otak? Atau kacang hijau? Atau bahkan foto-fotonya sendiri sehingga anak ini terlahir memiliki kenarsisasan dan mulut super aneh hingga membuat merinding siapapun yang mendengar?
Sungguh, bila ada pistol di tangannya, Ifa yakin akan langsung menembak kepala Nanda untuk membungkam anak ini.
"Apakah kau pengguna kemampuan?" Ifa menyela--tidak mau membuat kupingnya tercemar dengan ucapan-ucapan Nanda yang membuat merinding.
__ADS_1
Nanda terdiam selama beberapa detik, berkedip sebelum akhirnya mengernyitkan alis. "Kakak, kau belum menyebutkan namamu."
"Aku Ifa, ketua kelompok logistik bagian non-penyerang," Ifa langsung memperkenalkan dirinya. Tidak mau berdebat dengan si kecil yang memiliki penyakit narsis. Beberapa detik kemudian, sepasang iris menatap ke arah hummer yang tidak terlalu jauh dari mereka. Sosok bertopeng ada di dalam. Bersandar malas pada kursi. "Sebentar lagi kami akan ke desa, kelompok akan pergi untuk mencari bahan. Suamimu akan ikut mengumpulkan bahan, apakah kau ikut dengan suamimu atau tidak?"
Nanda membuka mulut, hendak menjawab, tetapi Ifa kembali berbicara. Tidak membiarkan Nanda menyela sedikitpun.
"Kelompok terbagi menjadi dua, non tempur dan tempur. Bagian Tempur untuk bertarung dengan zombie dan non tempur adalah orang-orang yang tidak bergerak melawan zombie. Suamimu setuju untuk mengikuti bagian tempur, tetapi bukan berarti kau juga wajib untuk mengikutinya. Demi keselamatan, bila kau tidak bisa bertempur, aku sarankan untuk mengikuti kelompok Nontempur dan tidak memaksakan diri. Bila kau merasa bisa mengikuti suamimu dan menjaga diri, aku juga tidak akan menghalangimu."
"... ." Nanda melongo. Telihat linglung mendengar apa yang mulut itu katakan. Ifa mengatakan semua hal dalam satu tarikan napas. Kecepatan berbicaranya bahkan lebih baik ketimbang Nanda! Sungguh, benar-benar terlihat tidak berniat untuk menjelaskan apapun.
"Apakah kau mengerti atau aku harus mengulanginya kembali?" akhirnya Ifa selesai berbicara. Sepasang iris itu tegas, agak sombong dan dingin. Namun, dari kata-kata wanita itu, Nanda mengerti bahwa kelompok ini terbagi menjadi dua bagian. Pengaturan yang mempekerjakan semua orang sesuai dengan kemampuan. Oh, bahkan setelah dua kehidupan, Raja tidak mengubah sistem kelompok ini sama sekali.
Nanda berkedip. Sepasang hazel itu bersinar, dengan bibir yang melengkung membentuk senyuman. "Kakak bisa mengulanginya lagi? Hebat! Kalau gitu, coba ulangi lagi Kak!"
"... ."
Setan dari mana ini?
Ifa bersumpah ia nyaris ingin menghentikan salah satu teman untuk meminjam pistolnya.
"Bagian mana yang tidak dimengerti?" Ifa memilih bersabar. Oh, walau mereka bilang anak ini sadalah 'istri', sifat yang kekanakan dan ekspresi polos ini, lebih terlihat seperti bocah dibawah umur yang dipaksa untuk menikah. Menjadi 'peliharaan' orang bertopeng, Ifa masih lebih percaya ini.
Meski 'Peliharaan' biasanya tidak bertingkah super menyebalkan seperti ini.
Nanda terkikik. "Aku mengerti semua," ucapnya jujur, sukses membuat yang mendengar harus mengusap dada demi menjaga diri agar tidak membunuh orang lain. "Aku akan ikut suamiku mengumpulkan bahan," jawabnya.
Ifa menghela napas. "Mengumpulkan bahan sangat berbahaya," meski tidak suka, Ifa masih dengan berbaik hati megingatkan sosok ini. "Setiap orang bertanggung jawab dengan nyawa masing-masing. Terlebih sesuai dengan perjanjian, suamimu memang berkewajiban untuk membunuh zombie yang berlevel tinggi dan ... ."
Ifa mengkerutkan kening, menatap Nanda dari atas dan ke bawah, memperhatikan tubuh kecil yang terlihat lemah. "Itu tidak termasuk kamu. Jadi, tidak peduli apakah kamu akan ikut suamimu atau tidak, kau bisa ikut ke kelompok tempur atau non-tempur sesuai dengan kemampuanmu."
Ikut ke kelompok tempur atau non tempur? Alis Nanda terangkat mendengarnya. "Kakak merekrutku?"
"Tidak," Ifa langsung menyangkal. "Sesuai perjanjian, kalian berdua tidak akan ikut mengambil jatah makanan, jadi tentu saja aku tidak bisa merekrut. Aku hanya akan mengambil orang-orang yang bekerja dengan upah makanan. Hal itu juga termasuk anak-anak. Jadi, bila tidak bekerja, tidak akan mendapatkan makanan."
Nanda bingung. "Jadi, untuk apa bertanya denganku ingin memilih kelompok yang mana?"
"Tentu saja untuk mempersiapkan tempat," Ifa mengkerutkan kening. "Kau bisa berkeliaran sesukamu, tetapi tidak bisa mengganggu orang lain yang sedang bekerja. Aku di sini untuk memberitahumu beberapa hal sebelumnya tentang kelompok ini. Jadi, setidaknya, secara kasar kau mengetahui situasi di klompok ini dan tidak bertindak ceroboh. Oh, benar. Kau benar-benr ingin memilih kelompok tempur?"
".... ," apakah keberadaannya memang benar-benar mengganggu orang lain untuk bekerja? Sungguh, Nanda memilih untuk tidak mempertanyakannya. Ia benar-benar tahu apa yang akan dijawab wanita ini. "AKu bisa menjaga diriku sendiri Kak, tidak perlu khawatir."
Ifa mengangguk. Tidak lagi berdebat untuk mempertanyakan pilihannya. Setelah mengatakan apa yang ingin diucapkan, wanita bagian logistik itu pergi, meninggalkan Nanda yang langsung berlari masuk ke dalam hummer. Ganesha yang sedang berbaring malas di kursi, menoleh. Menatap istrinya yang terlihat bersemangat.
"Sayang, menurutmu, apakah kita harus dekat dengan Ifa? Kita bisa makan makanan segar setiap hari!" mata Nanda bersinar, wajahnya bersri-seri. Ia sudah mendengar tentang kemampuan ruang Ifa. Kemampuan itu sangat unik. Dapat membuat semua makanan menjadi segar. Entah sayur, daging atau apapun yang telah membusuk dan tidak layak dimakan, akan menjadi bahan yang pantas untuk dimakan dan terjamin kesegarannya.
Oh, benar-benar ... benar-benar kemampuan yang sangat luar biasa!
"Aku bisa mengcopynya," Ganesha menyarankan cara termudah, tetapi di luar harapan, Nanda menggelengkan kepala. "Kenapa?"
"NesNes belum naik level kan?"
Ganesha tidak bisa menyangkal. Ia memang belum naik level. Untuk mencopy kemampuan lain, karena zombie ini belum naik level, ia harus merelakan satu kemampuan untuk menghilang. Nanda tidak mau suaminya kehilangan satu kemampuan hanya untuk mempertahankan kemampuan yang tidak bisa dibawa untuk melindungi diri seperti ini. Lagipula, Ganesha adalah zombie, semua makanan yang masuk ke dalam mulutnya hanya terasa hambar.
__ADS_1
Jelas kemampu ini hanya untuk membuat Nanda merasa puas tanpa melibatkan suaminya. Sungguh, Nanda tidak mau hal itu. Ia ingin menikmatinya berdua, bukan seorang diri.
"Yah ... kita berdua harus sama-sama menaikkan level," Nanda menyeringai, tidak menyalahkan sosok zombie ini karena belum naik level. Oh, semakin tinggi level, akan semakin sulit untuk naik. Nanda mengerti itu karena ia sendiri juga merasakannya, Itu sebabnya ia tidak merasa marah atau terburu-buru sama sekali. Biarkan mereka selangkah demi selangkah menjadi lebih kuat, lalu biarkan mereka cukup berdua saja, saling mendukung satu sama lain dan menikmati waktu yang mengalir dengan lamban dan cepat.