
Belajar dari hari pertama sekolah, Nanda mendapati moodnya jatuh ke dalam titik terendah. Alasannya? Mudah.
Mendadak, ia merasa menjadi seorang nenek-nenek reot.
Sungguh, Nanda benar-benar ingin menangis rasanya. Seluruh tubuh sakit, tetapi ia tidak bisa menunjukkan bahwa setiap pergerakan nyaris membuatnya meringis. Tubuh ini jelas tidak terbiasa dengan olahraga dan remaja ini, harus memaksa tubuhnya untuk lebih kuat di masa depan.
Karena itulah Nanda harus menggeretakkan gigi, menahan pegal pada setiap sendi dan tetap melakukan olahraga pagi. Bertingkah seperti biasa hingga akhirnya sampai ke sekolah dengan senyuman secerah matahari tetapi hati berlinang air mata.
"Aneh, tulisan lo balik lagi ke lama," Yulis membeo, melirik ke tulisan Nanda yang tidak lagi merusak pemandangan. "Kemaren tangan lo sakit ya? Sekarang udah mendingan?"
Nanda sungguh ingin curhat.
Oh, haruskah ia jujur mengatakan bahwa tangannya kemarin baik-baik saja dan sekarang tangannya terasa perih dan berdenyut sakit karena tidak berhenti berlatih menulis plus belajar?!
"Ciyeee ... Yulis khawatir ya?" Nanda menyeringai menggoda, sukses mendapat cibiran dari teman sebangkunya.
"Hilih! Rugi banget gue ngawatirin lo!"
"Aawww~ co cwiitnya sahabatku ini. Ayo sini, sini, muah, muah dulu!"
Yulis merinding. Langsung berteriak horror hingga sukses membuat Nanda tertawa. Beruntung, guru sedang sakit hingga jam pelajaran menjadi kosong. Selain larangan murid untuk keluar dari kelas, seisi kelas merasa bebas. Membuat keributan kecil di dalam ruangan penuh dengan remaja yang bersemangat.
"Eh, btw, Ratu ngajakin anak-anak sekelas ke partynya malem minggu ntar," Yulis memegang ponselnya, acuh tak acuh mengscrolling beberapa pesan group penuh gosip. "Lo liat deh di group, anak-anak kelas lain pada ribut pengen diundang."
Ratu yang mana? Ini sudah ada nama Raja, pakek ada nama Ratu segala.
Nanda merasa tidak nyaman. Luna sudah menjadi saingannya, nama Ratu membuat ia refleks menyandingkan dengan Raja. Meski tahu kalau Raja memang populer dan ia sudah menyerah prihal perasaannya, remaja gemuk tidak bisa menyangka bahwa ia masih bisa merasakan sakit.
Oh, tenang ... tenang ... patah hati memang gak mudah disembuhin.
Nanda diam-diam mencoba menghibur dirinya sendiri dan fokus dengan apa yang dibicarakan Yulis.
"Males buka hp, sini ah, pakek hpmu aja!"
Yulis tidak keberatan. Remaja cantik memberikan ponselnya, jemari lentik menunjuk ke arah layar.
"Liat deh, noh si Agus sampe lebay banget bilang mau pindah ke kelas kita cuma karna kelas kita sama kelas si Ratu doang yang diundang tanpa pakek undangan."
Diundang tanpa memakai undangan, Nanda mulai berpikir bahwa si Ratu ini, akan membawa absen kelas untuk memastikan tidak ada penyusup.
"Ketahuan banget tujuannya. Pasti deh ngincer si Raja," Yulis mencibir. "Tahu Raja bakal nolak, makanya pkek alesan ngundang kita sekelas."
Oh!!!
Sekarang, Nanda benar-benar ingat. Ratu adalah salah satu primadona di sekolah, selain Yulis. Ratu memiliki darah blesteran. Bukan hanya cantik bak model, gadis itu juga pintar dan kaya. Sayangnya, selayaknya namanya, Ratu terlahir dengan sifat angkuh dan sombong. Dalam motonya, ia akan mendapatkan apapun yang ia inginkan.
Yah ... apapun itu. Objek ini termasuk Raja, yang sedang jatuh hati dengan Luna.
Nanda menelan liur paksa. Ia ingat bahwa Ratu kerap membully Luna. Namun karena akhir-akhir ini Luna akrab dengan Yulis, gadis itu tidak berani untuk bertindak gegabah.
Meski sombong, Ratu tidak bodoh. Yulis disukai baik perempuan maupun laki-laki di banyak kelas, perempuan itu juga memiliki kesan baik di depan guru. Bila Yulis sudah buka suara, melindungi Luna karena dibully Ratu, kemungkinan besar Ratu akan dijauhi oleh banyak orang. Orang tua Ratu memang kaya, tetapi bukan ia satu-satunya yang kaya di sekolah ini.
Namun, perasaan sombong Ratu tidak mungkin bertahan lama.
"Kamu mau ikut ke partnya?" tanya Nanda.
"Gak ah, males. Akrab aja kagak."
Sama seperti ingatannya, Yulis juga tidak datang ke acara itu. Hal ini membuat Nanda agak tidak nyaman. Bila ingatannya sesuai dengan apa yang akan terjadi ...
kemungkinan besar penyebaran virus memang akan menimpa bumi?
"Alex bakal ngikut?"
"Ho.oh."
"Loh? Itu pesta disuruh bawa pasangan loh, ntar si Alex bakal bawa cewek lain gimana hayoooo."
Yulis mendengus. "Paling yang dibawanya si Luna," ujarnya sombong. "Lagian itu gak wajib bawa pasangan--udah ah! Lo nulis lagi sana! Ini catetan mau dipinjem Alex juga."
Nanda cemberut. "Pilih kasih banget. Giliran si bebeb Al Al dibolehin minjem lama-lama."
Gadis itu menyeringai. "Napa lo? Cemburu ya?"
"Ya iyalah cemburu!" Tanpa ragu, Nanda mengakui. "Ini yang deket denganmu dari zaman zigot sebenernya siapa?! Mentang-mentang ada cowok baru, aku dibuang gitu aja?! Tega banget kamu lakuin aku kayak gini! Aku tuh gak bisa diginiin Lis! Gak bisa!"
"Stop. Ndut. Berenti. Lo kalo gak mau nyalin, mending ni catetan--"
"Eeehhh! Jangan diambil--gak! Gak! Sayang, jangan marah, Yulis cantik, pinjem catetannya--"
"Ya udah, cepetan salin! Lo bacot lagi, gue--"
__ADS_1
"Iyaaa! Iyaaaaa! Ini aku salin! Ini aku saliinnn!"
Nanda panik luar biasa. Cepat-cepat bungkan dan melanjutkan kegiatan menyalin catatan Yulis. Hal itu membuat Yulis tertawa. Gadis cantik kembali menyandarkan punggung ke kursi, bermain dengan samrtphonenya seraya membuka sosial media.
.
.
.
Pesta ulang tahu Ratu, menjadi buah bibir sesentro sekolah.
Oh, seperti yang diperkirakan Nanda, ia bisa mendengar hampir semua orang membiacarakan tentang pesta yang akan dibuat Ratu. Bahkan ketika ia ke kantin dan jajan Yogurt, Bibi Kantin juga terlihat mengobrol dan bercanda dengan adik kelas prihal Pesta ulang tahun Ratu.
"Gue denger, acaranya di hotel bintang 5! Tiap yang dateng, bakal dapet kamar dan bisa nginep satu malam geratis!"
"Eh eh, kalo gak salah, bakal ngundang artis dan band-band terkenal juga kan?"
"Iisshhh! Iri banget gue sama temen sekelas Kak Ratu dan kelas 12-D! Mereka bisa dateng gitu aja!"
"Liat kagak kelas 12-A? Rame banget! Mereka pengen dapet undangan dari Ratu!"
Nanda cemberut. Ratu, Ratu, dan Ratu. Ini baru beberapa jam dari pemberitahuan, tetapi semua orang berisik prihal pesta. Jelas, informasi menyebar dengan cepat. Seperti air bah yang tumpah ruah dari bendungan dan menggegerkan warga.
"Ganesha, kamu sekelas kan ama Ratu?" Nanda buka suara, menatap Ganesha yang duduk berhadapan dengannya.
Sosok yang dipanggil mengangkat pandangan, menatap Nanda selama beberapa detik, lalu kembali menunduk dan membaca.
Remaja gendut tidak peduli. Mau ia dikacangi atau tidak, toh Ganesha mendengarkan. "Kamu ikut gak ke pestanya? Kalian kan sekelas gitu, pasti akrab kan? Kalo ke pestanya, boleh nitip cemilan di sana gak? Cemilan di sana pasti enak-enak deh."
"Ha?" kali ini, Ganesha kembali menatap Nanda. Alis remaja itu terpaut, menatap lawan bicara yang tidak henti sok akrab. "Kalo segitunya mau ngikut, ya lo pegi aja ke Ratu."
Ratu. Ratu. Ratu. Semua orang dengan berisik membicarakan prihal pesta yang akan dibuat itu. Sungguh, sangat mengganggu. Apa istimewahnya pesta ulang tahu dari nenek sihir itu? Ganesha benar-benar bingung dan risih dengan semangat aneh semua orang.
"Gak ah, ngapain ngikut? Aku cuma pengen cemilan di sana," Nanda mendengus, tetapi beberapa detik kemudian, menyeringai. "Kamu kan kurus tuh, pasti gak tertarik kan sama cemilan di sana? Nah, makanya aku nanya. Ganesha ke sana gak? Kalo ke sana, aku mau nitip cemilan di sana."
"... ."
Ganesha benar-benar merasa luar biasa melihat perubahan ekspresi yang cepat dan celoteh perempuan di depannya.
Bukan pestanya, Nanda lebih tertarik dengan cemilannya.
Mau tidak mau Ganesha mendengus geli. "Kayak yakin bakal dapet undangan aja."
"Oh?"
Sepasang mata hitam menyipit curiga. "Ganesha, jangan bilang kamu gak tahu kalo aku dari kelas 12-D?"
Pemuda itu menyeringai, mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Gak tahu tuh."
"TEGAAA!"
"Ehem! Nanda!" Rini menyela, melotot menatap remaja gemuk yang berisik. "Kalo mau pacaran, jangan di perpustakaan!"
"Bu!" Nanda protes, menatap Bu Rini dengan pandangan teraniaya. "Ganesha tega banget Bu! Masa' dia gak tahu kelas Nanda? Nanda aja tahu kelasnya!"
Ganesha memutar bola matanya, sementara Bu Rini tidak tahu harus tertawa atau tetap memperingatkan Nanda. Di ruangan besar ini, hanya ada mereka bertiga, tanpa orang keempat, membuat Nanda lebih leluasa berlaku seenaknya.
Pada akhrinya, ruangan yang biasa tenang, kini agak berisik. Namun anehnya, Ganesha merasa tidak keberatan sama sekali. Entah bagaimana, senyuman remaja itu terlihat sangat lucu. Terlebih ketika tersenyum, pipi itu cenderung semakin bulat, dengan sepasang mata menyipit imut. Membuat tangan Ganesha gatal ingin mencubit pipi yang terlihat lembut itu.
Oh, sepertinya ... untuk lebih akrab dengan Nanda, bukanlah ide yang buruk?
.
.
.
Melangkah dengan pasti di lorong kelas, beberapa siswa sisiwi yang mengenakan seragam putih abu-abu terlihat ceria. Mereka menenteng tas mereka, keluar dari kelas dengan santai seraya mengobrol bebas.
Semua mata pelajaran hari ini telah selesai. Banyak yang merasa lega. Namun ketika keluar dari kelas, suara teriakan dan beberapa kegiatan ekstra kulikuler di lapangan dengan mudah terlihat. Umumnya, kelas selesai pada jam 3, tetapi sekolah mewajibkan eskul untuk anak kelas 1 dan 2 dan mewajibkan les tambahan untuk anak kelas 3. Hal itu yang membuat pintu gerbang sekokah baru akan dibuka ketika jam 5 sore--mencegah para murid lebih lama untuk bersantai diluar rumah.
Namun tidak semua ingin langsung pulang ke rumah. Beberapa anak kelas 3 akan berlari ke lapangan, menyapa dan memberi semangat kepada junior mereka yang rajin.
"Nda, lo gak mau ngintip anak-anak di kelas?" tanya Siti seraya menatap beberapa teman sekelas mereka yang menghampiri para junior.
"Gak ah, aku mau langsung pulang aja," Nanda langsung menolak. Ia dan Siti beda kelas, tetapi satu eskul. Bila bukan karena eskul itu wajib, Nanda dijamin tidak ingin memasuki eskul apapun.
"Ish! Gak seru lo ah! Sekarang kan lagi hot topic pestanya Ratu, gak pengen denger anak-anak rapat?"
Nanda terdiam selama beberapa detik. Ia masuk ke dalam group jurnalis. Bekerja bersama para junior yang hidungnya tajam mencium gosip. Namun untungnya, semua berita yang dibuat pada koran sekolah setiap minggu adalah karya yang bersifat informatif untuk anak-anak SMA.
__ADS_1
Namun ...
Alis Nanda terpaut. Ia teringat apa yang terjadi setelah pesta itu. Bagaimanapun, kejadiannya memang tidak melibatkan dirinya, tetapi ... tetap saja. Efek sampingnya tetap akan mengenainya.
"Nda! Ikut kagak lo?!" Siti kesal. Nanda mendadak diam hingga membuatnya agak khawatir.
"Gak ah, gak ikut," Nanda menjawab. Ia menelan liur paksa, mencoba menganalisa apa yang terjadi. Dulu, ia setuju untuk ikut. Tetapi sekarang, ia menolak permintaan Siti. Sukses membuat gadis itu cemberut, tetapi tidak lebih memaksa kembali.
Perasaan Nanda tidak nyaman. Namun ia hanya bisa tersenyum, melambai ke arah Siti yang pergi lalu bergegas melewati lorong kelas dengan agak terburu-buru.
Jantungnya berdegub kencang, keringat dingin menetas, tanpa sadar, Nanda menautkan alisnya.
Apakah hal ini akan menimbulkan efek kupuk-kupu? Saat itu ia hanya bercanda, mengizinkan salah satu junior jurnalis menggantikannya karena Nanda malas ke pesta. Ia bahkan pergi ke kelas Ratu sambil membawa juniornya. Lalu dengan nada ramah yang sok akrab, bilang bahwa ia ingin digantikan dengan juniornya untuk menghadiri pesta.
Nanda masih sangat ingat ketika ia melakukannya di kelas Ratu. Perempuan itu, bersama 4 temannya, mendengus dan menatap jijik ke arahnya.
"Ya udah, bagus sih kalo bukan lo yang dateng ntar."
5 orang itu tidak mengejek, tetapi nada dan tingkah mereka jelas merendahkannya. Hal itu membuat Nanda marah. Wajahnya seperti ditampar. Keberadaannya pada pesta, seolah-olah dapat membuat suasana mewah dan elegan di sana, jadi dipenuhi dengan bau bangkai yang penuh keburukan.
Karena marah, Nanda menghasut juniorny. Memaksa ia mencari berita jelek atau sesuatu yang kurang dari pesta ulang tahun itu, tetapi ... Nanda tidak pernah mengira, hasutan dari kemarahannya akan membuat junior itu benar-benar nekat memposting pada mading sekolah.
Nah, sekarang, ia tidak akan menyapa Ratu, tidak juga akan menghasut. Lalu untuk hari senin nanti ... apa yang akan terjadi?
Bugh!
"Och!"
Nanda refleks merintih dan menyeimbangkan tubuhnya begitu ia menabrak sesuatu. Alisnya mengernyit, menatap sosok jangkung yang begitu saja lewat dan membuatnya tertabrak.
Eh?
Jantung Nanda terasa mencelos begitu menyadari bahwa Raja lah yang ia tabrak. Pemuda tinggi itu terlihat kaget, tetapi jelas menyadari bahwa keduanya hanya tertabrak dengan ringan.
"Ja, kalo jalan, tolong idupin klakson dong sebelum numbur," Nanda cemberut--mencoba mati-matian meredam suara detak jantung yang menggila.
Raja yang mendengarnya tersenyum geli. "Iya ... ntar sekalian gue pasang lampu sen biar lengkap."
"Nanda gak papa?" suara lembut anak perempuan mengalihkan perhatian Nanda. Dengan cepat, sosok mungil terlihat di matanya. Menatap Nanda dengan khawatir.
Oh, tentu saja. Si Yulis sedang berduaan dengan Alex, Luna, 100% akan dilempar ke Raja untuk diasuh. Sungguh, mengetahui hal ini membuat Nanda ingin tertawa miris. Umur berapa sih sebenarnya si Luna sampai-sampai harus ada yang ngejagain?
"Gak apa kok Lun," ujarnya santai. "Oh ya, kalian ikut acara Ratu?"
Mendengar kata Ratu, alis Luna terajut. Jelas terganggu dengan nama yang sedang menjadi bahan pembicaraan semua orang.
"Entah, liat aja ntar," Raja menjawab santai. "Lo ikut?"
"Gak."
"Kenapa?"
"Males aja," Nanda mengangkat bahunya. Tidak mau mencari alasan apapun. "Ya udah, aku pulang duluan yak!"
"Eh? Nanda mau pulang? Gak mau bareng?" Luna buru-buru menyela. Agak kaget dengan sosok yang ingin langsung pergi begitu saja.
"Gak dulu deh, aku lagi diet," Nanda nyengir. "Jalan kaki dari sini ke rumah, lumayan bakar kalori."
Sosok cantik berbando menggigit bibir bawahnya, terlihat ragu, tapi tetap kukuh menyuarakan pikirannya. "Luna punya tante dokter kecantikan, mau Luna tanyain obat untuk diet?"
Nanda tertawa, mendadak agak miris mendengarnya. "Makasih Lun, tapi gak. Aku mau diet tuk kesehatan soalnya, bukan tuk maksa biar cantik."
"Eh? Ah! Bukan gitu! Nanda udah cantik kok, Luna cuma--"
"Santai nak, santai!" Nanda tertawa. Geli melihat kepanikan gadis itu. "Dah ah, aku pulang dulu."
Raja menghela napas. Tersenyum ke arah Luna, menepuk lembut kepala remaja itu seolah mencoba menghiburnya lalu menoleh ke arah Nanda.
Tindakan sederhana itu sukses membuat Nanda tersenyum kaku. Perasaan tidak nyaman mencengkram paru-parunya.
"Ya udah, hati-hati di jalan, Nanda."
"Yup!" senyuman lima jari merekah, Nanda tidak menunda waktu kembali. Berjalan cepat menuju gerbang sekolah, meninggalkan sepasang insan yang sukses membuat dada terasa bergemuruh.
Santai Nanda ... santai ...
Nanda mati-matian menghibur dirinya sendiri. Mencoba melupakan adegan sederhana yang terus membayangi pikirannya. Itu menyakitkan. Sangat. Namun karena sadar akan perasaan ini ... Nanda semakin ingin menghindari Raja dan Luna.
Menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar, remaja gemuk menggelengkan kepala.
Nanda, kamu jelek dan gemuk, Raja gak akan suka kamu!
__ADS_1
Nanda tidak henti mengutuk dirinya sendiri. Mencoba menampar kesadaran diri agar tidak ada sedikitpun harapan. Namun, cara ini jelas berhasil. Logika menguasai perasaannya. Memberikan perasaan aman dari sakit yang melukai.
Oh, Ananda ... jalanmu masih panjang. Lebih baik fokus dengan dirimu sendiri dan melihat ... apakah masa depan yang akan datang, benar-benar sesuai dengan ingatan terakhirnya.