
Suasana yang semula gelap, kini dipenuhi oleh cahaya panas dari api-api yang menyala. Orang-orang yang semula tenang, berkumpul. Berkerumun dengan senjata masing-masing dan tidak henti melepaskan tembakan ke berbagai arah yang berbeda. Dengan pencahayaan yang tidak terlalu bagus, 3 sosok yang bergerak dengan cepat berulang kali lolos dari tembakan dan serangan yang dilontarkan. Semua orang panik, gelisah, diredam ke dalam ketegangan. Sebaliknya, ketiga zombie yang menjadi target justru terlihat bersenang-senang.
Menghindari setiap tembakan, lalu dengan gesit hanya melukai beberapa orang. Mereka terlihat tidak tertarik untuk menculik atau membunuh salah satu manusia, ketiganya hanya berlari dan berlari. Terkadang berhenti, membuat fokus orang-orang beralih lalu kembali berlari. Menggoda menusia untuk saling menembak atau bahkan membuat mereka salah sasaran dan nyaris melukai rekan mereka sendiri.
" ... ."
Tidakkah para zombie ini sangat kekanakan?
Nanda dan Ganesha yang sampai di lokasi, mendapati bahwa ketiga zombie merupakan 3 remaja pria. Mereka terlihat seperti anak lelaki berusia 13 atau 14 tahun, dengan pakaian compang-camping dan kulit kelabu. Mulut busuk mereka menyeringai, terlihat tertawa dengan reaksi bingung dan panik setiap manusia, bersenang-senang menghindari setiap tembakan seolah-olah para manusia tengah mengajak mereka bermain 'tangkap aku'.
Nanda, dengan mudah bisa menyembunyikan energi kehidupannya agar tidak bocor. Energi kehidupan adalah 'panas' yang dirasakan para zombie dari darah yang mengalir. Namun ritme ini tidak berbanding lurus dengan detak jantung para pengguna kekuatan. Suhu tubuh pengguna kekuatan memang cenderung lebih rendah, hal ini menjadi pertahanan alami tubuh untuk menghindar dari 'sensor' para zombie.
Dari mulut Ganesha, akhirnya Nanda melakukan eksperimen dengan dirinya sendiri. Suhu tubuhnya tetap, tetapi ia mencoba menyembunyikan pernapasannya. Hal ini berhasil. Zombie level atas atau bahkan Ganesha sendiri, tidak merasakan panas kehidupan Nanda. Namun bila ia terluka, dengan mudah penciuman yang tajam akan merasakan manis dari energi yang bocor.
Karena itulah, ketika Nanda dan Ganesha muncul, ketiga zombie tidak menyadari keberadaan mereka sama sekali. Atau mungkin, tidak tertarik sama sekali. Yah ... zombie memang seperti itu. Mereka tidak tertarik dengan apapun kecuali dengan makhluk hidup. Namun entah bagaimana, ketiga zombie kecil ini terlihat berbeda.
Dari sudut manapun Nanda melihatnya, mereka ... mereka terlihat lebih hidup.
"Jangan bunuh mereka," Nanda berbisik, meminta Ganesha untuk membirkan ketiga zombie pergi. Ganesha menjawab dengan mengusap kepala Nanda, lalu pergi tanpa mengatakan sepatah kata apapun.
Sangat jarang bisa menemukan zombie yang mengerti kesenangan dan memiliki emosi. Entah bagaimana, Nanda benar-benar tidak ingin ketiga zombie kecil ini mati. Mereka tidak terlihat seperti zombie yang lain. Ketiganya sangat konyol dan lucu, Terlebih, ada kemungkinan besar bahwa ketiganya akan 'sama' seperti Ganesha. Perlahan memiliki akal sehat lalu ... tidak memangsa orang lagi.
Ganesha datang dan membantu beberapa orang dengan cepat. Kilat yang mendadak muncul berkerlap-kerlip di tangah kegelapan. Dengan sengaja, pria tinggi dengan kulit pucat itu akan membuat petir bertegangan tinggi, selalu menempatkannya nyaris mengenai para zombie kecil. Hal itu membuat suasana berbalik menjadi tidak menguntungkan ketiga zombie.
Ketiganya seolah tidak dapat bergerak. Selalu dikejutkan dengan keberadaan petir yang mendadak muncul. Entah sengaja atau tidak, setiap kilatan tajam dengan cahaya terang yang menyilaukan pengelihatan, akan selalu nyaris mengenai mereka ketika mereka hendak menyerang manusia lain.
Hal itu membuat ketiganya menggeram marah. Kali ini, para zombie tidak lagi menyerang orang lain, ketiganya menyerang Ganesha dengan brutal. Namun setiap kali mencoba mendekat, akan ada petir bertegangan tinggi yang akan nyaris membakar mereka. Bahkan ketika salah satu dari mereka berhasil mendekati pria bertopeng setengah itu, mereka akan langsung ditarik dan dilempar ke dinding seolah-olah badan mereka adalah sebuah bola lempar.
Pria ini terlalu kuat. Ketiga zombie menyadari hal itu. Bagaimanapun, diantara makanan atau kehidupan, ketiganya tidak bodoh untuk langsung memilih kehidupan. Lagipula, orang yang mereka serang jelas adalah zombie yang berlevel lebih tinggi. Jadi, setelah berulang kali gagal dan hampir menjadi daging panggang, ketiga zombie akhirnya menyerah dan melarikan diri keluar dari Mall.
"... ."
Hening.
Semua pasang mata menatap takjub kepada sosok tinggi yang berdiri kokoh itu. Hanya seorang diri, pria bertopeng ini bisa melawan tiga zombie level 4 sekaligus. Meski ketiga zombie tidak mati dan justru melarikan diri, hal ini juga merupakan hasil yang luar biasa. Coba lihat tubuh itu! Pria ini bahkan tidak mengeluarkan keringat setetespun!
Tubuh tegap berlapis kaos berlengan pendek dan bercelana hitam panjang terlihat sangat berbeda. Sepasang kakinya berlapis bot tentara, kokoh dan pasti menopang tubuh. Meski ditutupi oleh kaos hitam berlengan pendek, kedua lengan putih pucat masih memaparkan beberapa otot yang terbentuk. Terlihat seperti sepasang capit penuh kekuatan yang mampu menghancurkan apapun. Terlebih dengan topeng setengah wajah yang memiliki sepasang tanduk, citra itu justru membentuk sosok yang kuat dan mengesankan bagi siapapun yang melihatnya.
Meski mereka tahu Ganesha kuat, melihat langsung pria ini dengan mudah mengusir zombie kelas atas tetap saja ... memberikan kesan yang mendalam.
"Sayang!"
Suasana menakjubkan itu pecah begitu suara melengking seorang wanita menusuk pendengaran. Nanda, dengan girang dan mulut yang tidak bisa berhenti tersenyum, langsung berlari dan melompat ke pelukan suaminya. Sepasang hazel itu cerah, menatap rakus pria sempurna yang secara refleks, menangkap dan langsung menggendongnya.
"Sayang, kau sangat keren! Sangat, sangat, sangat keren! Aku semakin mencintaimu, kau tahu? Tidak ada pria yang lebih keren dan tampan selain kamu!" tanpa malu sedikipun, Nanda memuji habis-habisan suaminya. Ia memeluk leher Ganesha, menghujaninya dengan ciuman pada bagian pipi dan hidung.
Ganesha terkekeh. "Kau menyukainya?"
"Sangat!"
__ADS_1
"Kalau begitu, aku akan menjadi lebih tampan."
Wajah Nanda langsung memucat. "Tidak!"
"Kenapa?"
Ekspresi Nanda berubah serius. Ia menatap suaminya dengan sungguh-sungguh. "Sayang, bila kau menjadi lebih tampan dan lebih keren, bagaimana bila banyak orang yang menyukaimu? Bila mereka mengerumunimu, aku akan sangat kerepotan! Apakah kau tega melihatku harus cemburu setiap saat?"
"... ."
Bisakah mereka menyimpan ucapan-ucapan itu hanya untuk berdua?
Semua orang yang menonton adegan sepasang suami-istri ini benar-benar dibuat kesal. Obrolan yang seolah mengumbar kemesraan seperti itu sangat menyebalkan untuk didengar. Hampir semua orang di sini adalah jomblo, okay? Terlebih sangat susah untuk mencari pasangan di situasi seperti ini, kenapa mereka harus menonton acara lovy-dovy pasangan konyol ini? Apakah mereka berdua mau pamer?
Nanda terkikik, turun dari gendongan Ganesha dan menggandeng suaminya dengan senyuman lebar. Namun baru saja mereka hendak berbalik dan berjalan, mereka melihat Raja yang berjalan mendekat. Pria jangkung berkulit tan itu menatap Ganesha, hanya sedikit melirik Nanda, mengkerutkan alis, tetapi kembali menatap pria bertopeng.
"Ganesha, kau bisa mengalahkan zombie level 5?" tanya Raja to the point.
"Ya," Ganesha menjawab tanpa ragu.
"Kalau begitu, bisakah kau membantuku untuk berlatih?"
Eh?
Nanda melongo mendengarnya. Sepasang hazel membola, menatap tidak percaya apa yang baru saja Raja katakan. Bagaimanapun, Raja terlihat sebagai orang yang arogan. Ia memiliki harga diri seorang pemimpin dan terlihat tidak ingin mengakui dirinya lebih lemah. Namun, Nanda tidak mengatakan apapun. Nanda bungkam, menyembunyikan keterkejutan di wajahnya dalam hitungan detik. Bagaimanapun, ia mengerti kenapa Raja sampai rela meminta hal ini dan mengesampingkan gengsinya.
Raja adalah seorang pemimpin. Sudah menjadi kewajibannya untuk melindungi anggota kelompok dan pria ini, memang selalu teropsesi dengan kekuatan. Terlebih dengan dunia yang sudah jatuh ke dalam titik nyaris primitif, kekuatan menjadi satu-satunya hal yang menjamin segalanya. Bukan hanya prihal untuk keselamatan nyawa, tetapi juga menjadi tolak ukur status sosial di mata semua orang.
"Aku tahu," Raja mengangguk, tidak menyerah sedikitpun. "Karenanya, bagian untuk mencari kru dan juga nahkoda kapal, biar aku yang mengurusnya. Anggap itu adalah bayaran karena sudah melatih."
Menemukan Kru dan juga nahkoda kapal ...
Hal itu terdengar sangat menggoda. Nanda tidak bisa menyangkal bahwa tawaran Raja sangat baik. Bagaimanapun, sangat sulit untuk mengumpulkan orang-orang yang terbiasa mengemudikan kapal. Terlebih mereka jelas akan membawa rombongan melintasi lautan, diperlukan tenaga ahli profesional yang terbiasa mengemudikan sebuah kapal besar.
Mereka sudah membahas hal ini sebelumnya. Memberitahukan lokasi yang dituju akan melintasi lautan. Namun mereka murni hanya bertugas mengantar, tidak akan membantu untuk mengumpulkan atau memikirkan bagaimana cara menyebrangi laut lepas. Jadi, bagian ini adalah bagian Nanda dan Ganesha karena tidak peduli membayar berapapun, Raja tetap menggelengkan kepala prihal membantu menyebrangi lautan.
Ini adalah hal yang sulit, semua orang tahu itu. Alasan Raja menolak juga cukup masuk akal. Ia tidak yakin benar-benar bisa mengumpulkan orang-orang dan menemukan kapal yang cocok. Bagaimanapun, sudah hampir setahun sejak virus menyebar, kapal mana yang masih bagus untuk digunakan?
Ganesha terdiam selama beberapa detik. Kali ini, ia tidak langsung menolak. Sebagai gantinya, sepasang iris gelap melirik singkat wanita di sebelahnya. Nanda hanya berkedip ketika Ganesha memandang, lalu keduanya sama-sama menatap Raja.
"Hanya itu?"
Alis Raja terpaut. Menyadari bahwa pria bertopeng ini tidak puas hanya dengan penawarannya. "Apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin meminjam salah satu anggota kelompokmu."
"Siapa?" Raja tidak langsung setuju. Penawarannya sudah sangat besar, ia tidak mau sampai kesepakatan ini jadi berat sebelah. "Untuk apa meminjam anggota kelompokku?"
"Ifa," Ganesha menyebut nama salah satu bawahan Raja tanpa ragu. "Aku hanya ingin menggunakan kemampuan ruangnya, bukankah dia bisa membuat makanan menjadi segar?" Kemampuan ruang Ifa yang unik, tidak menjadi rahasia di kelompok itu. Jadi, bukan hal yang aneh bila Ganesha mengetahui kemampuan Ifa bahkan ketika pria ini baru satu malam menginap di kelompok Raja.
__ADS_1
"Tidak bisa," pria itu menolak. Kemampuan Ifa sangat berharga untuk kelompok mereka, tetapi sayangnya itu terbatas. Ifa cenderung lemah menggunakan kemampuannya, membuat ia hanya bisa menampung paling banyak 2kg bahan makanan untuk diubah. Sekarang, Ganesha menginginkan kemampuan Ifa, hal itu dengan tegas ditolak oleh sang pemimpin.
"Kenapa?" Nanda menyela. Sepasang hazel yang bulat mengerjap polos. "Kita akan membayar setiap kali menggunakan kemampuan Kak Ifa," tambah Nanda.
Raja tidak langsung menjawab Nanda. Sebaliknya, ia menatap perempuan berkuncir yang berdiri di sebelah Ganesha. Sosok itu ramping, menggunakan celana jins panjang dan jaket besar yang mencapai paha. Tubuh kecilnya tenggelam di dalam jaket yang kebesaran, memberikan kesan mungil dan kekanak-kanakan. Terlihat polos dan lugu, tetapi jelas licik dan penuh perhitungan.
"Ifa sudah cukup kelelahan menggunakan kemampuannya untuk kelompok, dia tidak bisa menggunakan kemampuannya untuk orang lain," jelas Raja. Nadanya datar, menegaskan bahwa kedua orang ini bukanlah anggota kelompok dan merupakan orang lain.
"Itu sebabnya kami membayar," Nanda cemberut. Bibirnya mengerucut sebal. "Kami membayar dengan nukleus, jadi Kak Ifa tidak akan kelelahan kan?"
Nukleus memang baik untuk pengguna kemampuan. Itu adalah enrgi yang terkristalkan, selayaknya nutrisi yang mampu langsung diserap tubuh dan memberikan efek yang terlihat oleh mata telanjang.
"Kalau begitu, katakan itu kepada Ifa."
"Bila Kak Ifa setuju, Kakak akan setuju?" Nanda melemparkan pertanyaan penting ini. Ia sejujurnya ingin bernegosiasi dengan Ifa, tetapi akan percuma bila Ifa setuju tetapi Raja tidak setuju. Bagaimanapun, Raja adalah pemimpin yang agak keras kepala ...
"Bila aku setuju, apakau kau akan setuju mengajariku?" kali ini, Raja menatap Ganesha. Ia melontarkan kalimat yang sama dengan Nanda, meminta persetujuan pria yang sedikit lebih tinggi darinya.
Sosok bertopeng, tanpa ragu mengangguk. "Aku setuju," ujarnya. "Tetapi untuk mencari kru dan nahkoda kapal, kau tetap harus melakukannya."
Raja mengkatup rapatkan mulutnya mendekar kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Ganesha. "Kau meminta dua kondisi."
"Kondisi kedua tidak termasuk hitungan," Ganesha menyangkal. "Itu keputusan Ifa, kami hanya menyewa jasanya dan membayar sesuai dengan tenaga yang diberikannya."
Raja tidak bisa menyangkal. Apa yang pria ini katakan memang benar. Mereka akan membayar Ifa sesuai dengan tenaga yang diberikannya, hal ini jelas keadaan timbal-balik yang menguntungkan. Ini tidak akan masuk ke dalam hitungan 'pembayaran pelatihan'.
"Oke, tetapi biarkan aku dan beberapa anggotaku berlatih."
"Aku hanya akan menerima 4 orang. Kau dan juga tiga anggotamu, siapa tiga orang itu terserah kau."
Raja mengernyitkan alis. "Apakah kau menjamin bahwa kami akan bisa membunuh zombie level 5?"
"Tidak," Ganesha menjawab tegas. "Tetapi kujamin kalian akan lebih kuat, setidaknya, masing-masing dari kalian mampu untuk membunuh level 4."
"Berapa lama waktumu untuk melatih kami agar bisa membunuh level 4?"
Ganesha mengerjap, lalu sebuah seringai merekah di bibirnya. Untuk beberapa alasan, Raja agak merinding melihat seringai di bibir pucat si pemilik topeng. "1 bulan." jawabnya tegas. Nada itu penuh kepercayaan diri, tidak ragu sama sekali dengan perkiraan waktu yang diberikan. "Tidak akan lebih ataupun kurang."
Sepasang iris menatap pria bertopeng itu selama beberapa detik, lalu pada akhirnya mengangguk. "Oke," setujunya. "Pegang kata-katamu."
Ganesha tidak mengatakan apapun. Ia hanya mengangguk ringan, membiarkan Raja tidak berbasa-basi kembali dan meninggalkan sepasang suami istri tanpa menoleh ke belakang. Oh, masih banyak yang harus ia urus. Mereka masih harus membersihkan isi Mall dan memastikan, tidak akan ada seorangpun anggota kelompok yang tertinggal atau bahkan menghilang.
Tidak ada yang mau memperhatikan bisnis Boss dan juga pria bertopeng. Saat zombie level 4 berhasil dikalahkan, semua orang sudah mulai menyebar kembali dan buru-buru mengumpulkan bahan. Jadi, ketika kedua belah pihak mengambil kesepakatan, selain Nanda yang sejak tadi menempel dengan Ganesha, tidak ada seorangpun yang tahu.
"Bagaimana caramu mengajar mereka?" Nanda mendongak, menatap bingung suaminya. Ia tidak pernah melihat Ganesha mengajar. Baik ketika pria ini sebagai manusia, atau bahkan zombie. Jadi, dari mana sikap penuh kepercayaan diri itu?
"Sangat mudah," Ganesha tersenyum, mengusap helai rambut hitam istrinya dengan lembut. "Potensi setiap makhluk hidup, akan langsung keluar disaat mereka merasakan krisis antara hidup dan mati, jadi, membuat mereka menjadi kuat bukan sesuatu yang sulit."
"... ." Nanda kehilangan kata-katanya. Oh, sejak kapan suaminya beralih dari zombie menjadi guru iblis? Apakah karena topeng yang sering dipakainya? Atau karena diam-diam suaminya cemburu dengan Raja? Nanda menelan liur paksa. Mendadak, ia merasa agak kasihan dengan kelompok yang akan dilatih Ganesha nanti.
__ADS_1
Namun, bagaimanapun, Nanda adalah Istri yang baik. Jadi ia mengangguk, tanpa pamrih mendukung suaminya. "Oke, asalkan mereka tidak benar-benar mati, tidak akan masalah."
Ganesha terkekeh. Ia tidak mengatakan apapun dan hanya mengusap kepala Nanda seraya kembali berjalan untuk menulusuri Mall besar ini dengan perlahan.