
Ruangan yang didominasi dengan warna kelabu terlihat berantakan. Debu-debu berterbangan, dengan meja, kursi dan lemari yang sudah reot. Jendela tidak memiliki penutup, menyebabkan cahaya matahari yang bersinar di luar sana, dengan mudah masuk dan menerangi ruangan. Warna hijau daun dan hembusan angin menyusup, memberikan sedikit kesejukan dari ruangan yang terlihat suram dan menyeramkan.
Satu-satunya hal yang rapi dan menarik dari ruangan sedang ini adalah sebuah kasur berukuran king size yang menempel pada sisi dinding kelabu. Kasur empuk berlapis seprai, terdapat sosok wanita terbaring dengan selimut yang menutupi hingga mencapai dada. Sosok itu tertidur, terlihat tenang dengan pernapasan yang teratur. Naik-turun, ritme dada yang bergerak menarik oksigen terlihat sangat menarik bagi sepasang iris hitam.
Berdiri di samping kasur, pria jangkung dengan kulit putih pucat memperhatikan sosok wanita yang berbaring. Wajah tampan yang terukir tegas, dengan rambut hitam cepak memancarkan sosok maskulin yang menggoda. Terlebih dengan pakaian tentara yang melekat di tubuh, compang-camping dan kotor, memberikan kesan liar dan kuat untuk seorang pria.
Namun sayangnya, meski sosok rupawan memiliki wajah tanpa ekspresi, sepasang mata hitam yang penasaran tidak menyembunyikan kepolosan. Berkedip beberapa kali, memperhatikan setiap detail pergerakan manusia seolah menonton hal-hal yang begitu menarik.
Ia sudah berdiri di sisi kasur, tidak bergerak sedikitpun bak patung, hanya berkedip. Sudah dua hari seperti ini, pria itu dengan setia tetap menonton. Menunggu sepasang hazel yang bulat dan indah untuk terbuka. Aroma kehidupan dan suhu hangat yang terpancar dari tubuh manusia di depannya sangat menarik ... begitu menggoda untuk digigit dan dicicipi, tetapi entah bagaimana, menonton manusia ini terasa jauh lebih menarik.
Berhasil melihat dan mendapatkan manusia yang sejak lama diikutinya, zombie ini merasa sangat puas. Sejak pertama kali melihatnya berkeliaran pada malam berbadai, Ganesha tahu bahwa manusia perempuan ini lah yang dicarinya. Ia ingin mendekati manusia ini, membuatnya tersenyum atau merasa senang. Apapun itu, agar manusia ini bahagia dan mau berada di sisinya.
Sejak ia terbangun dan membuka kedua mata, Ganesha mendapati bahwa ia tidak bisa mengingat apapun, ia tidak mengetahui apapun. Ia hanya mengandalkan insting. Berjalan-jalan di kota dengan tubuh yang terasa kaku dan sulit digerakkan. Ia merasa harus mencari sesuatu, menemukan sesuatu.
Insting seorang zombie adalah menemukan kehangatan dari kehidupan, lalu memakannya untuk mendapatkan kehangatan itu di dalam diri mereka sendiri. Mereka ingin memiliki kehangatan juga, mereka tidak menyukai kulit mereka yang terasa dingin dan tubuh yang kaku. Mereka merasa ... kehangatan, dari warna merah berdarah juga bisa membuat mereka merasa nyaman dan terhindar dari dingin.
Namun Ganesha berbeda. Insting untuk menemukan sesuatu jauh lebih kuat ketimbang insitng untuk mengambil kehangatan. Itu sebabnya, ia tidak tertarik untuk mendekati atau bahkan memakan warna merah yang memancarkan panas itu. Ia hanya makan ketika ia merasa tidak mampu untuk bergerak kembali.
Ia sangat bingung mencari hal lain, sesuatu yang sangat dinantikannya. Bila memikirkan hal itu, Ganesha akan merasa sangat bersemangat. Karena itu, ia terus berjalan. Berjalan dan berjalan melewati berbagai zombie dan kehidupan kehangatan. Hingga tanpa sadar ia menyadari bahwa tubuhnya lama-lama terasa ringan dan semakin ringan. Tidak kaku kembali dan terasa sangat kuat. Rasanya ia bisa memerintahkan apapun kepada rekannya. Ia bisa memiliki apapun.
Hal ini membuatnya merasa sangat senang, tetapi sayangnya apa yang dicarinya masih belum ditemukan ...
Namun, pada malam itu, ia menemukan kehangatan yang bergerak lincah. Ditengah kekacauan dari angin kencang dan hujan deras yang mengguyur, sosok kehangatan itu seolah bersinar. Bercahaya redup di dalam kegelapan dan dengan indah memotong kepala banyak rekannnya.
Mata Ganesha bersinar. Ia tahu, kehangatan itulah yang dicarinya selama ini.
Karena itu, diam-diam Ganesha mengikuti kehangata kecil ini. Sosoknya yang mungil dan sangat aktif begitu menarik. Oh, sepertinya manusia perempuan ini suka membunuh rekannya? Sepasang iris gelap berkedip, tanpa ragu memerintahkan banyak zombie untuk mengerumuni kehangatan kecil agar bisa bermain. Ia tidak peduli apakah rekannya mati. Selama kehangata kecil merasa senang, itu cukup bagus.
Manusia perempuan yang ia ikuti, selalu bersama dengan manusia-manusia yang lain. Ganesha tahu, dari pengalamannya bertemu dengan para manusia, manusia memang suka sekali membentuk kelompok. Tetapi sayangnya, mereka tidak suka bila zombie mendekat. Bila zombie mendekat, hanya dua hal yang dilakukan oleh manusia.
Membunuh zombie, atau melarikan diri.
Karena itu Ganesha memilih untuk bersembunyi. Ia memperhatikan kehangatan kecil, memandanginya dari jauh dan menikmati setiap detail kehidupan yang dilakukan oleh manusia perempuan itu. Ia tidak akan mengganggu. Selama manusia itu senang, Ganesha merasa sangat puas dan bangga.
Namun kelompok manusia itu meninggalkan pabrik. Ganesha tahu, berbeda dengan kehangatan kecil, manusia di sekitarnya pasti takut dengan zombie, jadi ia melindungi perjalanan mereka. Memerintahkan semua zombie yang ingin mendekat, lebih baik menjauh.
Sayangnya, perintah itu tidak termasuk kelompok manusia yang lain. Jadi, ketika kedua kelompok bertemu di dalam pertempuran, Ganesha hendak memerintahkan mereka untuk pergi, tetapi begitu melihat kehangatan kecilnya tidak ikut bertarung ...
Apakah sebaiknya diam saja?
Akhirnya Ganesha memilih diam, menonton manusia perempuan dengan penuh minat.
Kehangatan kecil selalu memancarkan aroma kehidupan yang sangat kuat. Itu lebih kuat dan menarik, terutama untuk para zombie yang menyukai kehangatan. Semakin kuat kehangatan yang dipancarkan, semakin baik efek kehangatan yang didapat para zombie bila memakannya. Namun entah bagaimana, kehangatan kehidupan yang kuat selalu tidak bisa dideteksi oleh para bawahan lemah ...
Ah? Manusia perempuan ikut kelompok manusia yang lebih banyak?
Ganesha kesal. Ia ingin melarang manusia perempuan ikut kelompok itu karena di sana, terlalu banyak manusia. Kenapa manusia suka sekali berkelompok? Semakin banyak jumlah mereka, semakin mudah mereka mengumpulkan kehangatan, hal itu akan mengundang banyak zombie.
__ADS_1
Ganesha tidak suka itu.
Karenanya ia tetap mengikut manusia perempuan. Memastikan tidak ada zombie yang berani mendekat. Tetapi Ganesha takut bahwa manusia perempuan akan bosan ... jadi sesekali ia akan meminta satu bawahannya mendekat. Namun ketika mendapati bahwa kehangatan kecilnya sepertinya tidak tertarik untuk bermain ... Ganeshan tidak lagi mengirimkan zombie.
Lalu kelompok itu sampai ke sebuah Pangkalan.
Ganesha sangat tidak menyukai perasaan ketika tidak bisa melihat kehangatan kecil. Karenanya, ia dengan mudah menyusup masuk ke dalam Pangkalan. Tidak ada yang menyadari keberadaannya sama sekali. Hal ini membuatnya senang. Toh, ia sangat berhati-hati agar tidak terlihat oleh para manusia. Secara fisik, ia terlihat seperti manusia, jadi tidak ada yang menganggap keberadaannya aneh ketika mereka melihatnya.
Ganesha terbiasa untuk berpura-pura bertingkah seperti manusia. Ia hanya cukup untuk tidak bersuara, mengedipkan mata beberapa kali dan membuat beberapa gerakan halus.
Bagaimanapun, manusia tidak bisa seperti zombie yang bahkan bisa bertahan untuk tidak bergerak selama lebih dari beberapa hari. Namun, berkerumun di tengah manusia sangat tidak menyenangkan. Kehangatan darah mereka tidak seindah milik manusia perempuannya. Beruntung, kehangatan kecil tidak lama berada di dalam kelompok ini. Kehangatan kecil keluar dari tembok, menuju ke suatu tempat yang Ganesha tidak ketahui. Oh, sekali lagi, dengan terburu-buru berlari, zombie ini mengikuti kehangatan kecilnya yang suka sekali berkeliaran ke sana ke mari.
Namun, Ganesha menemukan sepasang hazel berkilau dan fokus menatap ke satu arah. Oh! Apa yang dilihat manusia Perempuan? Sepasang mata hitam mengerjap, lalu mencari tahu arah pandang kehangatan kecilnya. Saat menemukan seekor ayam ...
Apakah manusia perempuan ingin bermain dengannya? Tidak ingin bermain dengan rekannya lagi?
Jadi, Ganesha hanya diam. Memperhatikan karena ayam-ayam itu memang berlarian mendekati gerombolan manusia. Namun anehnya, kehangatan kecil tidak ikut bermain ... ia hanya menonton, sama seperti sebelumnya. Ini ... ini agak aneh. Ada apa dengan manusia perempuan? Kenapa tidak seaktif sebelumnya? Apakah minat kehangata kecil ini mulai berkurang? Ataukah ... ataukah seperti kata rekannya, setiap kehangatan pasti akan menjadi dingin dan tidak bergerak lagi?
Ganesha mendadak dilanda rasa takut. Cemas luar biasa membuat dadanya terasa sakit sekali. Namun ketika ia mendapati manusia perempuan ternyata keluar dari gerombolan manusia dan diam-diam mengambil bangkai ayam ... eh? Tunggu! Apa yang dilakukan manusia perempuan? Kahangatan kecilnya aktif sekali ... terlihat sangat hidup, terlihat sangat indah dan ... oh? Sepertinya sangat senang?
Kehangata kecil suka ayam?
Mendadak mendapatkan pencerahan, tanpa sungkan Ganesha langsung berbalik. Menggiring sekelompok ayam agar berlari mendekati kelompok manusia. Namun diluar perkiraannya, sekelompok ayam justru membuat kelompok manusia kewalahan hingga melarikan diri ... oh, kehangata kecil bahkan tidak kembali untuk mengambil sisa bangkai lagi?
Ganeshan kikuk. Uh ... jumlahnya terlalu banyak? Kehangatan kecil cukup memerlukan sedikit? Tetapi apakah menusia perempuannya tidak akan bosan dengan jenis yang sama? Ganesha menemukan beberapa jenis yang berbeda di kedalaman hutan, siapa tahu ... kehangatan kecil ingin bermain dengan mereka?
Oh, ia selalu memperhatikan. Melihat hewan mana yang akan membuat manusia perempuan tertarik untuk bermain, tetapi, satupun tidak ada yang menumbuhkan minat manusia kecilnya untuk bermain. Sebaliknya, kelompok manusia ini justru berlari lebih cepat ketimbang biasanya. Itu membuat Ganesha agak marah. Kenapa mereka terburu-buru sekali? Manusia kecilnya belum menemukan mainan yang bagus!
Namun, saat mendapati bahwa kelompok manusia sepertinya ingin masuk ke dalam lapisan dinding yang tinggi ...
Ganeshan menyadari. Sepertinya ini adalah tempat yang dituju manusia perempuan? Namun Ganesha tidak bisa ikut masuk ... di dalamnya lebih banyak manusia ketimbang Pangkalan sebelumnya. Belum lagi, lebih banyak manusia yang memiliki kehangatan. Insting Ganesha berteriak untuk tidak masuk. Di dalam sana, berbeda. Para manusia sepertinya jauh lebih sensitif dengan jenisnya ketimbang yang lain. Itu sebabnya, ia lebih memilih untuk menunggu di luar.
Bukankah Manusia Perempuannya suka sekali ke luar? Berlarian dan tidak bisa diam di tempat yang sama terlalu lama?
Itu sebabnya, Ganesha memilih untuk menunggu. Ia berdiri di pintu gerbang tempat kelompok manusia masuk. Tidak bergerak, tersembunyi di bawah bayang-bayang pohon. Entah berapa lama ia berdiri, Ganesha tidak tahu. Ketika langit berubah menjadi terang ke gelap atau gelap ke terang, pergantian itu sudah terjadi berkali-kali.
Ganesha tetap tidak bergerak. Berdiri di tempat dengan sepasang mata hitam yang fokus menatap pintu dingin yang tertutup. Setiap kali pintu terbuka, ia akan penuh harap mencari siapa yang keluar. Namun ketika menyadari tidak ada kehangatan kecil, ia akan mengkerutkan kening.
Kenapa kali ini ... kehangata kecil begitu lama untuk bermain ke luar? Ganesha ragu-ragu. Ia ingin masuk dan melihat kehangatan kecilnya, tetapi ... instingnya mengatakan, bukan sesuatu yang baik untuk mandekati dinding, apa lagi masuk ke dalamnya. Namun ia benar-benar ingin melihat kehangata kecil. Keberadaannya bagaikan candu. Sesuatu yang terasa tidak boleh untuk lepas dari pengelihatan. Bila tidak melihat kehangatan kecil ia merasa gelisah. Perasaan tidak nyaman ini menumpuk dan menumpuk membuat sang zombie tidak tahan.
Pada akhirnya, Ganesha memilih untuk melihat. Namun ia tidak akan memilih pintu untuk masuk ... ia akan mengelilingi dinding ini. Melihat bagian mana ia bisa menerobos. Siapa tahu, kehangata kecil juga ingin melihatnya? Namun Ganesha tidak menyangka ia akan mencium aroma kehangatan kecilnya ... oh! Jejak ini menunjukkan bahwa kehangatan kecil sudah ke luar dari dinding?!
Ganesha sangat bersemangat. Ia sudah lama sekali tidak melihat kehangatan kecil. Ia tidak sabar untuk menemukan dan melihat kehangatan kecilnya! Tanpa sungkan, kaki berlapis sepatu tentara berlari mengikuti jejak aroma manusia perempuan. Namun, ketika ia akhirnya mencium aroma darah ... dan itu masih merupakan aroma dari kehangatan kecilnya ...
Ganesha tahu manusia perempuannya dalam masalah.
Ganesha langsung berteriak. Menyuarakan kepanikan dan kemarahannya. Beberapa zombie di sekitar membalas aumannya--mencoba menenangkan. Kemarahan yang dilepaskan membuat para zombie ketakutan akan tekanan yang terasa menyiksa mereka. Mereka, bagaimanapun, tunduk dengan yang terkuat. Tidak ada sedikitpun keraguan untuk mematuhi semua hal yang diinginkan yang terkuat. Bahkan ketika pemimpin ingin mereka mati, para zombie tidak akan melawan dan dengan patuh menunggu eksekusi.
__ADS_1
Karena itu, ketika menyadari bahwa darah yang terendus bukan dari rasnya ... Ganesha sangat panik. Ia kembali berlarian menuju aroma yang semakin lama, semakin kuat. Hingga pada akhirnya, sebuah ledakan besar yang menggetarkan bumi membuatnya kaku.
Tidak ...
Kenapa aroma darah semakin pekat?
Ganesha takut. Ia sangat takut. Ketika sampai ke tempat di mana kehangata kecilnya berada ... ia akhirnya menemukan sosok yang selama ini ingin dilihatnya. Namun, keadaan manusia perempuan ini sangat ... sangat berbeda dari ingatannya.
Sosok itu terbaring, penuh dengan cairan merah. Meski Ganesha menyadari bahwa kehangatan kecil masih hangat ... ia juga menyadari bahwa suhunya berbeda. Kehangatan kecil sepertinya mulai ... mulai mendingin? Apakah kehangatan kecil benar-benar akan menjadi dingin dan tidak akan bergerak lagi? Rasa sakit luar biasa seolah menghantamnya.
Ganesha tidak mengerti kenapa ia sangat tertarik dengan kehangatan kecil ini, ia selalu mengawasinya dari jauh. Berpikir, mungkin ... karena ia ingin memakan kehangat kecil? Namun ketika kehangatan kecil berlumuran darah ... terbaring tidak berdaya ... Ia tahu ia tidak mau itu terjadi ... ia tidak mau kehangatan kecilnya menjadi dingin ...
Tanpa sadar, kaki Ganesha mendekati kehangatan kecil. Ia ingin mendekatinya ... ia selalu ingin lebih dekat, tetapi takut membuat kehangatan kecil berlari. Namun sekarang ... ketika ia mendekat, kehangatan kecil ini akan menjadi di--eh?
Ganesha mengerjap. Mendadak ia menyadari energi dari tangan kanan kehangatan kecil, masuk ke dalam tubuh kehangatan kecil. Energi itu terus menerus muncul dan menghilang, masuk ke dalam tubuh kehangatan kecil dan sepertinya ... membantu tubuh kehangatan kecil? Oh? Apakah batu berwarna-warni itu akan membantu kehangatan kecilnya untuk tetap hangat?
Tanpa ragu Ganesha memberikan banyak batu kepada kehangatan kecilnya. Untungnya, itu berhasil. Kehangatan kecil semakin sehat. Ganesha benar-benar merasa senang! Namun kenapa kehangatan kecil tidur lagi? Ganesha agak bingung, tetapi manusia memang slelau seperti ini. Mereka akan menyempatkan diri untuk tidur? Tetapi tidur di sini pasti tidak nyaman ...
Karenanya, tanpa sungkan Ganeshan membawa kehangatan kecil ke suatu tempat yang lebih nyaman. Itu adalah pertama kalinya ia memegang kehangatan kecil. Ia menggendongnya dengan hati-hati, takut bahwa tindakannya, akan melukai kehangatan kecilnya yang berharga.
Oh, manusia sangat rapuh ... kulit mereka sangat tipis. Hal ini membuat Ganesha jauh lebih berhati-hati. Karena itu, ia mencari-cari tempat yang disebut rumah, Di sana, biasanya terdapat sesuatu yang lembut. Terlihat sangat cocok untuk alas manusia perempuan ini?
Karena itulah sekarang Ganesha dan manusia perempuan berada di sini.
Namun Ganeshan hanya diam di tempat. Berdiri di samping kasur dan tanpa bosan, memandang kehangatan kecil yang terbaring di depannya. Ia tidak lagi khawatir, tidak lagi merasa cemas dan panik. Manusia Perempuan ini secara perlahan semakin lama, semakin terlihat sehat. Energi perlahan-lahan masuk ke dalam tubuhnya, membuat sosok rapuh ini pasti akan ... akan terbangun?
Ganesha kaku.
Kelopak mata itu mulai bergerak-gerak. Tindakan itu menandakan bahwa manusia perempuan akan segera bangun ... ah, apakah ia harus pergi? Bersembunyi kembali? Tetapi sebelumnya, manusia perempuan sudah melihatnya ... dan manusia perempuan terlihat tidak takut?
Bila manusia perempuan takut, ia akan diam-diam mengikuti, tetapi bila tidak takut, Ganesha tanpa sungkan akan mengikuti di samping kehangatan kecilnya.
Oh, Ganesha benar-benar berharap reaksi manusia perempuan adalah yang terkahir.
Ganesha tetap diam bak patung di tempat. Menunggu hingga sepasang kelopak mata itu, secara bertahap terbuka. Sepasang hazel yang bulat, pada awalnya terlihat tidak fokus. Kebingungan dengan alis yang mengernyit dan bibir yang agak mengerucut. Ekspresi ketika kehangatan kecil sadar benar-benar menarik dan membuat hatinya tergelitik.
Namun ketika sepasang hazel memandang ke arahnya ... tubuh kehangatan kecil kaku. Sepasang mata cokelat itu membola--menampilkan ekspresi yang sangat lucu ...
"Ganesha?"
Ganesha mengerjap. Tidak bergerak sedikitpun begitu mendengar suara kehangatan kecil. Hal pertama yang ia sadari adalah, kehangatan kecilnya ... tidak takut dengannya? Oh, bukankah itu bagus? Berarti ia tidak perlu bersembunyi lagi!
Sepasang mata cokelat itu berkilau. Terlihat sangat indah ketika genangan air mulai menumpuk. Ekspresi yang terbentuk terlihat berbeda ketimbang biasanya. Ganesha tidak mengerti kenapa manusia perempuan mendadak memandangnya seperti itu. Ketika manusia perempuan langsung bergerak cepat menerkamnya, Ganesha membeku. Kaget bukan main mendapati speasang tangan kecil dan lembut melingkari lehernya. Tubuh yang hangat dan wangi, menempel pada tubuhnya yang dingin dan keras ...
Ganesha bingung bukan main, tetapi pada akhirnya, ia hanya diam dan memejamkan kedua mata.
Oh, ini sangat nyaman ... kehangatan kecil memeluknya, menyalurkan kehangatan dan kelembutan yang tidak pernah ia sangka. Aroma yang menyenangkan memenuhi indarnya, memberikan perasaan bahwa kehangatan kecilnya akan selalu berada di sisinya. Pemikiran ini membuat ia senang. Yah ... mau bagaimanapun, ia sangat menyukai kehangatan kecilnya dan tidak mau berada di jarak yang jauh dengan manusia perempuan ini.
__ADS_1