Zombie

Zombie
44: Lomba Lari


__ADS_3

Langit gelap membentang luas, memamerkan secercah cahaya titik-titik kecil yang bertebaran. Suhu udara menurun, bayang-bayang gelap memeluk. Hening yang tercipta pada dini hari yang tidak pernah mengundang kedamaian membuat beberapa orang sangat waspada. Dengan pencahayaan seminim mungkin, semua orang yang berkeliling di dekat dinding tanah harus terbiasa dengan semua pergerakan dan suara-suara yang tercipta sekecil mungkin.


Namun, perhatian semua orang hampir teralihkan dengan suara derum mobil yang memecah keheningan. Sebuah kendaran roda empat melaju pelan, mendekati dinding lalu benar-benar berhenti di depannya. Salah satu pengguna kemampuan langsung melompat ke luar dari balik dinding, memasang wajah galak dengan sebuah laras panjang yang terpegang di tangan.


"Maaf, kami sangat terlambat," menurunkan kaca jendela, suara perempuan yang agak kekanakan terdengar dengan jelas. Sang penjaga berjalan mendekat, menemukan wajah seorang perempuan yang dikenali. Ia duduk di posisi pengemudi, dengan seorang pria bertopeng iblis yang duduk di posisi copilot.


Penjaga itu mengenali Ganesha. Bagaimana tidak? Kemampuan tempur Ganesha sangat terkenal di kelompok kecil ini dan lagi, topeng iblisnya adalah ciri khas yang tidak sulit untuk dikenali. Karena itu, pria yang semula sangat waspada, langsung melonggarkan syaraf tegangnya. Ia berbalik, melambai dan memberikan aba-aba untuk membuka tembok tanah yang terlihat kokoh ini.


"Kalian panen banyak?" tanya pria itu. Ekspresi wajahnya yang semula sangar, kini terlihat lebih bersahabat. Lagipula, dengan senyuman Nanda, itu sudah memberikan kesan ramah.


"iya dong!" Nanda tersenyum lebar, terlihat sangat bangga dengan dirinya sendiri. "Kami memiliki banyak hasil panen! Nanti, kalau kakak tertarik, kakak bisa menukar beberapa barang dengan nukleus."


"Oh! Kau akan berjualan?" Penjaga itu jelas terkejut, tetapi juga bersemangat. Ia baru saja ikut dengan kelompok Ganesha dan pembagian nukleus hari ini terbilang banyak.


Nanda terkekeh. "Ya," jawabnya tegas. Lalu dinding tanah runtuh, membentuk lubang untuk sebuah mobil masuk. Penjaga itu tidak kembali menunda Nanda. Meminta agar sang gadis masuk dan beristirahat dengan baik. Nanda berterima kasih sebelum akhirnya kembali menjalankan mobil dan masuk ke dalam dinding tanah.


Tepat ketika masuk, hummer itu memilih untuk parkir di dekat dinding. Nanda tidak mau repot-repot memilih tempat yang jauh. Jadi, ketika mesin akhirnya mati, wanita berkuncir itu keluar dari kendaraan roda empat dan merenggangkan tubuh. Ia menguap, matanya basah karena rasa kantuk yang menerjang.


Ganesha tidak tinggal diam. Meski suasana di balik tembok sangat tenang karena semua orang masih tertidur dan hanya menyisakan beberapa orang yang sibuk berpatroli, pria bertopeng itu dengan ekspresi serius, mendirikan tenda di samping mobilnya. Ia tahu, istrinya sangat kelelahan. Tidur di dalam mobil bukan pilihan yang baik, karena itu ia membangun tenda agar wanitanya bisa berbaring dan mendapatkan kualitas tidur yang baik.


Ganesha membangun tenda seorang diri dengan sangat terampil. Karena mereka tidak selalu menemukan rumah, mereka kerap tidur di tenda--atau tepatnya hanya Nanda yang tertidur. Itu sebabnya Ganesha mampu membangun tenda bahkan tanpa bantuan siapapun setelah mencoba membangunnya beberapa kali selama mereka melakukan perjalanan.


Ketika tenda sudah dibangun, Nanda tanpa sungkan masuk ke dalamnya. Ia langsung membentangkan kasur lipat dan berbaring di atasnya. Dalam hitungan detik, wanita berjaket itu tertidur begitu tubuhnya menyentuh kasur.


Ganesha menghela napas. Ikut masuk lalu membenarkan posisi berbaring Nanda. Ia mengeluarkan selimut, menyelimuti istirnya lalu membungkuk untuk mengecup lembut kening, hidung, lalu bibir wanitanya. Setelah puas, pria bertopeng iblis itu duduk di samping Nanda. Sepasang iris menatap wajah tertidur itu, menikmati setiap momentum ketika Nanda berhenti berbicara dan terlelap ke dalam alam mimpi yang damai.


Nanda begitu kelelahan. Alasannya bukan karena mereka selesai menjarah isi kota, tetapi lebih karena wanita ini dengan keras kepala memasukkan banyak darah miliknya ke dalam botol.


Bagaimanapun, mereka akan berada di dalam kelompok Raja, karena itu Nanda memasukkan darahnya ke dalam botol dan menyimpan ke dalam ruang dimensinya sendiri. Oh, ia tidak mungkin melupakan makanan suaminya. Menggigit Nanda untuk makan tidak mungkin dilakukan di dalam hummer. Jadi Nanda memilih untuk memasukkan darahnya ke dalam botol dan menyimpan di ruang dimensi. Bagaimanapun, ruang dimensinya sangat khas, darahnya masih akan dalam keadaan segar dan mengandung sejumlah energi yang dibutuhkan zombie ketika dikeluarkan nanti.


Jadi, tidak peduli bagaimana Ganesha meminta Nanda untuk berhenti, wanita itu tidak berhenti sama sekali. Memasukkan darah sebanyak mungkin ke dalam botol-botol kaca, Nanda berjaga-jaga untuk makanan Ganesha agar cukup untuk setahun. Yah ... sedia payung sebelum hujan, ia tidak mau sampai ada orang lain yang menyadari bahwa suaminya adalah zombie. Hal itu akan sangat berbahaya mengingat permusuhan manusia akan ras yang selama ini memangsa mereka.


Sepasang iris gelap menyendu. Suhu tubuh Ganesha beberapa derajat lebih tinggi dari Nanda ketika ia dalam keadaan kenyang. Hal ini sangat memuaskan, tetapi juga membuatnya tidak nyaman. Ia menyakiti Nanda. Setiap kali menghisap darah, ia akan menggigit dan melukai istrinya. Tidak hanya itu, ia juga membuat Nanda muntah darah karena virus yang berada di dalam air liurnya. Ganesha sungguh kecewa, kecewa dengan dirinya sendiri yang dengan trampil selalu menyakiti istrinya.


Namun di sisi lain, ia merasakan kesenangan yang aneh. Ia hanya menghisap darah Nanda. Hanya Nanda dan bukan manusia lain. Darah Nanda berada di tubuhnya, menyatu dengan setiap sel yang berada di tubuhnya, menjadi energi yang memberikan kehidupan untuknya. Kepuasan ini memberikan kesengan yang membuat Ganesha merasa mendominasi. Seolah-olah memperjelas bahwa Nanda hanyalah miliknya ...


Perasaan ini sangat kontradiktif hingga membuat Ganesha bingung.


Merasakan ada seseorang yang berjalan mendekat, ia menoleh menatap ke luar. Cahaya yang dipantulkan oleh dinding tenda menandakan bahwa matahari sudah bersinar. Ia juga meraskan beberapa orang sudah mulai banyak terbangun dan beraktifitas. Namun, istrinya jelas masih kelelahan. Karena itu, tanpa ragu Ganesha keluar dari tenda lalu menemukan Raja yang berdiri di depan tendanya.


Ganesha menutup pintu dan mencegah mata orang lain melihat istrinya yang tertidur. Ia tahu kenapa Raja menghampirinya. Perjanjian mereka masih berlaku. Karena itu, tanpa mau mengganggu tidur istrinya, Ganesha menghampiri Raja, membuka pintu hummer dan mulai memberikan beberapa hal yang diinginkan pria itu bersamaan dengan nukleus yang begitu saja masuk ke dalam kantongnya.


Dalam hitungan menit, hummer yang semula penuh sesak, langsung terlihat nyaris kosong. Hanya menyisakan beberapa makanan yang memang dipisahkan Nanda pada bagian bagasi mobil. Dwi yang memindahkan beberapa makanan dan barang, menghela napas berat. Oh, seandainya Ganesha membawa mobil yang lebih besar, keduanya pasti juga akan mengembalikan mobil yang berisi penuh.


"Semuanya dibeli?" seorang pria berlari tergopoh-gopoh mendekati hummer, menatap panik ke arah hummer dimana bagian isinya hampir ... kosong. "Aku terlambat?" ucapnya kecewa.


Dwi tertawa, menepuk bahu rekannya. "Sorry, sobat, semuanya sudah dibeli Boss untuk kelompok kita."


Pria itu menggerutu. "Kenapa membeli semuanya? Tidakkah menyisakan sesuatu untukku?"


"Ahahaha yah, sabar saja. Nanti saat kau sampai ke pangkalan atau Ganesha mengumpulkan sesuatu lagi, ingat saja untuk datang lebih awal."

__ADS_1


Pria itu berdecak, membuat Dwi sangat puas untuk tertawa. Pada akhirnya keduanya pergi. Bagaimanapun ia masih harus menemukan Ifa untuk menyerahkan beberapa bahan untuk di data wanita itu dan merubahnya menjadi fres. Urusan makanan, bukan Dwi yang memegang. Ia hanya bertugas menyimpan beberapa hal seperti obat-obatan dan senjata.


Melihat tidak ada orang lagi yang akan mendekat, Ganesha kembali memasuki tenda. Sepasang iris menemukan Nanda masih terlelap tidur di posisi yang berbeda. Dadanya naik-turun dengan konstan, memberitahukan pernapasan ringan bagi wanita itu.


Ganesha tersenyum kecil. Ia berbalik, menutup pintu dan memastikan tidak akan ada orang lagi yang mengganggu atau mencarinya.


.


.


.


"Kita menunda satu hari?"


"Ya," Raja menjawab bergitu saja. Kedua sosok yang duduk berhadapan tengah menikmati sarapan. Satu sosok wanita mungil yang terlihat cantik sementara sosok pria berkulit tan yang menemaninya tampan dan elegan. "Jangan khawatir, hanya menunda satu hari, tidak akan berbahaya," tambahnya.


Luna tidak khawatir sama sekali. Bukankah mereka sudah memiliki pria bertopeng? Pria itu sangat kuat kan? Mengingat pria bertopeng, sepasang mata yang bulat refleks menatap ke luar jendela. Iris gelap menatap orang-orang yang sudah keluar dari mobil dan memulai aktivitas mereka. Dari lapisan tipis transparan ini, ia selalu memperhatikan semua orang secara diam-diam. Memandang mereka yang bekerja atau melakukan sesuatu dengan wajah kotor penuh peluh.


"Luna," Luna refleks mengalihkan pandangan ke depan begitu Raja memanggilnya. Sepasang mata saling memandang, Sebelah tangan terulur, meraih tangan yang lebih kecil dan menggenggamnya dengan lembut. "Aku tidak bermaksud menunda waktu," ujarnya lembut. "Kita akan menemukan orang tuamu."


Luna memaksakan senyumannya. Ia tidak mengatakan apapun, hanya tersenyum lembut dan mengangguk. Mendapati reaksi itu, Raja menghela napas lega. Setidaknya, wanita ini tersenyum. Mereka memang bertunangan dan belum menikah, alasan kenapa mereka kembali ke negara ini karena ingin bertemu beberapa kerabat Raja. Namun siapa yang menyangka virus akan menyebar? Mereka terjebak, Banyak orang yang meninggal, seiring waktu semua orang mulai berubah.


Namun sayangnya, Raja tidak berubah sama sekali.


Luna menarik tangannya ketika merasa sudah cukup. Ia kembali, seolah-olah berkonsentrasi untuk sarapan. Hal itu membuat Raja mengkatup rapatkan mulutnya hingga membentuk garis lurus. Namun pria itu tidak mengatakan apapun, atau bahkan menunjukkan kemarahannya. Ia hanya mengernyitkan alis, tetapi pada akhirnya menghela napas.


Luna kembali melanjutkan sarapannya yang belum selesai, sementara Raja hanya memandang wanita mungil yang bermandikan cahaya matahari pagi itu dengan kagum. Sosok mungil dengan rambut yang sudah memanjang melewati bahu duduk dengan punggung yang lurus. Wajah mungilnya dibingkai oleh helai gelap rambutnya yang lembut, sepasang mata dengan bulu mata yang melengkung terlihat tebal, membentuk lengkungan seolah-olah sosok indah itu mengenakan eyeliner. Bibir penuh berwarna merah muda pucat menutup, dengan sebelah pipi yang agak mengelembung karena mengunyah makanan. Pergerakannya lamban, anggun dan tenang. Sangat menyenangkan untuk ditonton.


Sepasang iris gelap menyendu, menatap lembut sosok wanita yang begitu rupawan. Tanpa sadar, bibir tipis itu melengkung membentuk senyuman. Terukir indah pada wajah tampan yang biasanya memancarkan ekspresi tidak bersahabat.


.


.


.


Dinding tanah setinggi 3 meter terbentuk, menjulang melindungi orang-orang yang berada di dalam cincin dinding yang aman. Beberapa zombie yang terlhat bergerak mendekati dinding akan langsung ditembak mati, mencegah adanya penumpukan zombie sekaligus memudarkan aroma manusia dengan darah-darah zombie yang mendekat.


Srak!


Mobil-mobil yang berada dibalik tembok terparkir dengan tidak teratur. Selama masih ada ruang, dimanapun bebas untuk memarkirkan kendaraannya. Orang-orang dewasa keluar hilir mudik. Entah membentuk grup untuk bergosip atau sekedar tidur siang dibawah bayang-bayang pohon yang rimbun. Bagaimanapun, ini adalah jam bebas. Tidak ada kegiatan wajib kecuali pada orang-orang yang sedang shift menjaga. Sinar matahari terik di atas kepala, membuat beberapa orang menjadi malas untuk keluar dari tempat berteduh mereka.


"Cepat! Cepat!"


"Ayo! Ayo!"


"Awas hati-hati! Ada Tante Galak!"


"Sedikit lagi! Sedikit lagi! Cepat susul! Susul!"


Teriakan-teriakan penuh antusiasme silih berganti terdengar. Anak-anak dengan tubuh kurus, fokus menatap ke dua sosok kecil yang berlarian dengan lincah. Beberapa orang dewasa turut bergabung, ikut berteriak dan bertepuk tangan mengikuti kesenangan saat kedua talenta saling kejar mengejar melewati beberapa mobil yang terparkir.

__ADS_1


"Ayo! Ayo! Sedikit lagi sampai Finish!" Nanda ikut berteriak. Terkena virus antusiasme sekitarnya. Ia tertawa, bertepuk tangan guna semakin memerihakan pagi yang menyenangkan.


Kedua anak lelaki yang menjadi pusat perhatian terbakar oleh teriakan semua orang. Wajah mereka penuh peluh, tubuh kurus terbakar matahari basah oleh keringat. Namun, meski paru-paru seolah diperas, mereka tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah. Sepasang kaki terus mengayuh, berusaha menjadi yang terdepan dan tidak ada yang mau mengalah. Mereka saling susul menyusul, kian membuat teriakan antusias kepada masing-masing pemain.


"YAK!"


"AAAH!"


"FINISH!"


Teriakan dan tepukan semua orang membahana saat keduanya mencapai garis finish. Nanda berseru, tertawa ketika melihat kedua anak lelaki kurus yang langsung terjatuh di atas tanah dengan tubuh yang kelelahan. Napas keduanya memburu, dengan dada naik-turun dengan cepat.


"Yak, juara satu hari ini adalah Ade," Nanda tersenyum, memberikan sebuah kantong kepada sosok kurus bernama Ade. "Dan juara dua, Marlan," ucapnya seraya menaruh kantung di atas tubuh kecil Marlan yang terbaring di samping Ade.


"Makasih Kak," Ade merubah posisi berbaringnya menjadi duduk. Meraih kantung pelastik hitam yang berlubang-lubang dengan sepasang mata hitam yang berbinar. Senyumannya mengembang, terlihat sangat puas meski peluh masih menempel di wajah dan napasnya masih belum normal.


"Liat aja De! Ntar gue bakal ngalahin lo!" Marlan melotot marah, menatap rakus ke arah kantung yang dipegang Ade. Namun tidak lupa, jemari kurusnya mencengkram erat kantung pelastik yang diberikan Nanda dengan posesif seolah takut akan ada orang lain yang mencurinya.


Menunduk menatap hasil perlombaan ini, alis Marlan terpaut dengan wajah tertekuk, jelas tidak puas. Namun anak kecil berusia 9 tahun itu dengan keras kepala mengangkat kepala, menatap Nanda dan memaksakan senyuman. "Makasih Kak," ucapnya, tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada sosok yang memberikan hadiah.


Nanda terkekeh. "Sama-sama," ujarnya tulus, lalu mengangkat kepala dan menatap beberapa anak kecil yang mengerumuni dua juara mereka. "Nah anak-anak! Perlombaan selesai, kita lanjutkan perlombaan selanjutnya 3 hari kemudian, setuju?!"


"SETUJU!" Teriakan anak-anak membahana, dengan kompak menyuarakan persetujuan mereka. Bahkan, sebisa mungkin berteriak agar perlombaan ini tidak berakhir dan tidak terputus.


"Masih ingat peraturannya?"


"INGAT!"


"Coba katakan!"


"Yang tercepat dia yang menang! Tidak boleh berkelahi ketika berlari! Setelah berlari tidak boleh saling memukul! Yang paling lambat, hanya mendapatkan satu biskuit! Siapa yang melanggar, tidak boleh ikut berlomba lagi!"


"Pintar!" puji Nanda, senang. "Oke, sekarang acara selesai, kalian istirahat dulu," ujarnya lalu menepuk kepala anak kecil yang paling dekat dan berjalan menuju ke sebuah hummer yang berada tidak jauh dari garis finish yang menjadi acara.


Anak-anak dengan penuh semangat langsung berlarian menuju ke keluarga mereka masing-masing seraya memegang kantung. Wajah semua anak berseri-seri. Tidak peduli apakah menjadi juara atau tidak, mereka semua merasa senang dengan apa yang mereka hasilkan.


Sudah dua minggu Nanda berada di kelompok ini dan ia mulai membuat lomba lari untuk anak-anak. Melihat anak-anak yang begitu kurus dan kurang gizi sementara di dalam ruangannya, berlimpah ruah dengan berbagai makanan, Nanda tidak tahan untuk tetap diam. Namun sayangnya, ia tahu memberikan mereka terus menerus secara suka rela, bukan sesuatu yang baik. Mereka akan terbiasa untuk meminta-minta, lalu perlahan mulai tidak menghargai kebaikannya.


Karena itu, Nanda mulai membuat lomba dan berapa banyak makanan yang mereka dapat, itu adalah hasil jerih payah mereka sendiri. Lomba ini juga melatih kebugaran fisik dan mental mereka, jadi tidak peduli bagaimana melihatnya, hal ini sesuatu yang bagus untuk dunia yang tidak lagi mengenal kata keadilan dan mementingkan keegoisan masing-masing.


"Senang?" Ganesha yang dalam posisi berbaring di kursi, menoleh ke samping. Sosok yang mengenakan topeng setengah wajah merubah posisi menjadi duduk. Sebelah tangan terulur mengusap kepala Nanda dengan lembut.


Nanda terkekeh. Meraih jemari suaminya yang keras dan mengarahkan ke sisi wajahnya. Ia menikmati suhu tinggi yang terasa meredam hatinya kedalam kehangatan. Oh, dunia mungkin telah menjadi bias, dingin dengan satu sama lain, selalu menimbulkan percikan kompetisi ingin menjadi yang terbaik demi sebuah kelangsungan hidup yang nyaman, tetapi bagi Nanda, kompetisi menjadi puncak kejayaan bukan sesuatu yang penting.


Terpenting dan menjadi satu-satunya kenyamanan adalah keberadaan Ganesha, sosok suami yang akan selalu berdiri di sisinya, memberikan perasaan bahwa ... tidak peduli bagaimana dunia memandangmu. Entah kau akan menjadi iblis atau malaikat di mata dunia, ia tahu Ganesha akan tetap menggenggam tangannya dan memberikan senyuman yang mampu membuat Nanda melupakan semua hal selain pria yang begitu memukau ini.


"Sayang, kau memang priaku yang terbaik!"


Ganesha tidak mengerti kenapa Nanda mendadak mengatakan hal itu, tetapi ia langsung bereaksi. Mencondongkan tubuh mendekati sang wanita, lalu mengecup pipi dan telinganya.


"Dan kau adalah wanitaku yang terbaik," bisiknya lembut diiringi senyuman yang merekah di wajah bertopeng itu.

__ADS_1


__ADS_2