
Hening merambat. Warna gelap berpadu secara bertahap menjadi biru terang. Suhu udara rendah, menunjukkan kehilangan kehangatan saat matahari belum jua benar-benar menampakkan wujudnya.
Sosok pria yang hanya mengenakan kaos dan celana jins itu berjalan seorang diri di kompleks perumahan yang sepi. Punggung membawa ransel besar, di tangan kanan dan kirinya juga memegang banyak kantung pelastik--oleh-oleh untuk anak dan istri tercinta.
Memikirkan istri dan anaknya, sosok beriris hitam dengan kulit seputih pualam tidak bisa menahan senyum. Wajah yang cenderung agak arab dengan hidung mancung itu mempercepat langkah kakinya.
Hanya beberapa orang terlihat baru memulai aktivitas. Mereka menoleh, memandang sosok jangkung dengan rambut kecokelatan itu dengan terpesona.
Hanya ada satu kata. Sangat tampan!
Mangabaikan tatapan dan sapaan para tetangga, Arjuna melangkah memasuki sebuah halaman dengan agak tergesa-gesa. Jantung sang pria berdebar keras, senyuman tidak henti merekah di bibirnya. Menarik napas panjang, pria brunette itu berteriak di depan pintu kayu yang masih tertutup.
"Sayang--"
"Papa?"
Baru satu kata terucap, sapaan di belakang membuat Arjuna bungkam. Refleks, pria itu berbalik, memandang sosok mungil dengan setelan trining pink berdiri di pintu pagar yang terbuka.
Anak perempuan itu bertubuh gemuk, dengan sepasang pipi chuby yang menggemaskan dan sepasang iris cokelat yang serupa dengan istrinya, Arjuna langsung mengenali sosok remaja malaikat kesayangannya ini.
"Nak?" Arjuna agak ragu. Anak perempuannya memiliki wajah agak kusam, berjerawat dan tidak pernah merawat diri. Meski begitu, ia masih menyayangi anaknya. Namun ...
Anak perempuan di depannya sangat lah berbeda. Terlalu imut! Wajah itu sangat mirip dengan Dewi versi gemuk dan mini, dengan kulit agak tan terbakar matahari. Namun sekilas, Arjuna benar-benar seperti melihat Dewi versi mungil!!!
"Sayang!" Arjuna tidak bisa menahan diri. Berjalan cepat menuju Nanda dan hendak memeluk dan mencium gadis kecilnya. "Akh!"
"Ah! Papa! Maaf, maaf, refleks!" Nanda panik. Ia melihat Papanya berlari mendekat dan hendak memeluk. Insting bertahan diri langsung aktif, membuat ia tanpa sadar meninju perut Ayahnya sendiri dengan sepenuh hati.
Beruntung, ia masihlah cenderung lemah. Jadi, tinju itu tidak akan terlalu sakit kan?
"Ugh ... Nak, tinjumu sangat akurat."
"Tentu," Nanda mengangguk bangga. "Bila ditambah kekuatan, Papa pasti gak bakalan bisa bangun."
"... ." Selama beberapa detik, Arjuna kehilangan kata-kata. Kenapa anaknya ini ... begitu ... begitu imut?! Coba lihat ekspresi bangga itu, sangat mirip dengan istrinya! Oh, Nanda benar-benar putrinya yang hebat!
Arjuna tidak bisa marah dengan anaknya, ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya marah kepada makhluk lucu ini. Ia tersenyum, mengusap kepala berhelai rambut panjang yang dikuncir satu dengan lembut. Berkat pukulan itu, ia sadar bahwa ini adalah anaknya yang ceria. Oh, bukankah ia harus membuat imej yang baik untuk putri cantiknya ini? Ehem. Tadi, ia hanya sedikit diluar karakter. Tidak baik memperlihatkan wajah konyol di depan anak semanis ini.
"Bagus sekali," Riko Arjuna memuji. "Anak Papa memang hebat, nanti mau sekalian belajar ilmu bela diri? Nanda ntar jadi bisa mukul orang jahat." Dan bahkan ke laki-laki buaya yang akan mendekati anak semata wayangnya!
"Beneran Pa?!" wajah Nanda cerah. Tubuh lemah ini akan mendapatkan pelatihan profesional!
Pria itu tersenyum geli. "Tentu," ujarnya. "Nah, ayo masuk dulu, Papa udah bawa banyak cemilan untuk Nanda."
Sepasang mata cokelat itu berbinar lebih terang. Seruan senang mengalun, dengan penuh semangat sosok kecil berlari mengambil beberapa bingkisan di lantai dan masuk ke rumah seraya berteriak.
"Mama! Mama! Papa pulang!" Teriakan penuh antusias memenuhi ruangan yang terang, membuat Arjuna menghela napas memandang ruangan bersih dan rapi yang sangat dirindukan.
"Sayang, aku pul--"
"Oh? Cowok itu inget pulang?"
Senyuman Arjuna membeku. Jantungnya terasa mencelos mendengar nada dingin dari istrinya. Tanpa sadar, ia berkeringat dingin.
Dewi baru keluar dari dapur, membawa mangkuk besar berisikan nasi uduk yang masih mengepulkan asap. Sosok cantik dengan helai ikal menjuntai melewati bahu menatap pria yang tersenyum kaku di ambang pintu.
"Mama! Lihat Ma! Banyak oleh-oleh!" Nanda cuek bebek, masih dengan semangat menaruh berbagai bungkusan di meja ruang tamu dan membongkarnya.
Seperti kata Papa, memang banyak cemilan. Terutama coklat, makanan manis kesukaan Nanda. Beberapa baju dan perhiasan si anak abaikan, ia tidak tertarik dengan hadiah untuk Mamanya. Lebih fokus untuk beberapa kotak cemilan yang terlihat menggunung.
Oh! Sudah berapa tahun ia tidak melihat semua cemilan mewah ini?!
Nanda benar-benar ingin menangis rasanya. Ketimbang perhatian untuk Papanya yang menderita karena disambut perang dingin Mamanya, remaja gemuk lebih suka memandang semua cemilan hadiah dari Arjuna.
__ADS_1
Arjuna hanya pulang beberapa bulan sekali, tetapi sekali ia kembali, pria itu akan membawa banyak cemilan yang enak! Semua yang dibeli adalah yang terbaik. Jadi, secara insting, hal pertama ketika menyambut Papanya adalah oleh-oleh.
Menaruh kembali semua kotak cemilan ke dalam kantung pelastik, Nanda berlari seraya menenteng miliknya ke dalam kamar. Oh, kebiasaan menumpuk makanan tidak bisa dilepaskan. Namun bedanya, kali ini bukan kamar yang menjadi gudang makanan, tetapi ruang miliknya yang menjadi kulkas rahasia.
Nanda bukan anak yang tidak peka. Papa dan Mama memerlukan ruang untuk berduaan dan menyambut cinta. Bila di depannya, Papa cenderung menahan diri. Bertingkah lembut nan sok bijaksana. Namun bila hanya berduaan dengan Mama? Oh, ilmuan genius itu akan menjadi BUCIN!!!!
Nanda cukup mual bila mengingat kemarin tidak sengaja mendengar suara Papa dan Mamanya saling mengirim suara. Bagaimana Papa memuji dan melemparkan semua kata-kata manis untuk membujuk Mama yang merajuk.
Dari itu, Nanda 100% sadar dari mana gen mulutnya yang cenderung murahan berasal.
Setelah melemparkan semua cemilan ke dalam ruang miliknya, Nanda berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Papanya adalah seorang ilmuan, tentu saja ia sangat genius kan? Jadi, Nanda tidak mau menyia-nyiakan keberadaannya. Ia ingin bertanya beberapa hal untuk menguatkan teorinya. Hal ini juga akan menjadi pengaruh besar untuk keputusannya ke depan.
.
.
.
Setelah mandi dan wangi, tiga anggota keluarga berkumpul di meja makan. Dari rona tipis di pipi Mama, wanita itu jelas telah diluluhkan dan terlihat sangat bahagia.
Papa tidak tinggal diam. Dengan senyuman yang elegan, sosok tampan itu mengambilkan nasi untuk diisi ke mangkuk Mama, menuangkan segelas susu ke gelas Mama, berniat menyuapi Mama ... lalu mendapati pelototan tajam dari Mama.
Oh, bila tidak mendapatkan peringatan itu, Nanda yakin Papa benar-benar akan menyuapi Mama. Bertingkah sebagai suami yang sangat berdedikasi tinggi merawat istri yang sakit-sakitan nan lemah. Sayangnya, Mama tidak sakit sama sekali, apa lagi lemah.
Dengan keberadaan kedua orang tua yang terlihat muda dan lebih terlihat seperti pasangan yang baru menikah, Nanda yang seperti latar belakang mencoba menghibur hatinya sendiri.
Dulu sekali, Nanda pernah mengira ia adalah anak pungut. Bagaimana tidak? Dengan Ayah dan Ibu yang sangat cantik dan tampan, bagaimana bisa Nanda terlihat jelek dan mengerikan?
Padahal, semua hanyalah ilusi. Kebetulan saja ia sedang berada di puncak hormon pertumbuhan. Ditambah dengan kebiasaan banyak ngemil, jarang mandi dan malas, bagaimana bisa itu tidak berpengaruh pada tubuhnya?
Tidak ada perempuan yang cantik bila ia sendiri malas mengurus tubuhnya sendiri.
"He,eh," Nanda mengangguk. "Tapi baru seminggu, jadi belum keliatan hasilnya."
"Gak apa, pelan-pelan aja, asal dilakuin dengan rajin, pasti bakal keliatan," Dewi menimpali, takut putrinya mulai bosan dan tidak sabar. "Lagian, wajah Nanda udah mulai bersih tuh. Jerawat-jerawatnya mulai kempis dan berkurang."
Nanda nyengir. "Nanda makin cantik?"
"Tentu," Dewi tanpa ragu memuji. "Ntar Mama pesenin beberapa masker tuk ngilangin komedo dan mutihin kulit kalo semua jerawatnya udah mulai beneran ilang."
Remaja gemuk itu semakin bersemangat. Oh, investasi dari orang tua tidak boleh di sia-siakan!
"Oh ya, Papa tadi bilang mau buat Nanda belajar ilmu bela diri, serius Pa?" Nanda merubah topik, menatap penuh harap kepada Papanya.
"Ilmu bela diri?" alis Dewi terpaut. "Jangan ah, Nanda udah kelas 3 dan lagi, dia juga lagi diet jadinya sering olahraga. Gimana kalo sampe kecapean? Gak ada waktu untuk konsen belajar?"
"Ya kalo gitu, Nanda belajar ilmu bela dirinya pas udah ujian aja," Nanda buru-buru menyela. Ucapan Mama adalah mutlak, Papa 100% tunduk dengan keputusan Mama. "Udah selesai ujian kan bakal libur panjang."
"Ya udah, pas Nanda udah selesai ujian aja daftar ikut kegiatan ilmu bela diri. Tapi sekarang, Nanda gak mau ikut les?" Arjuna menatap anak semata wayangnya. "Nanda udah kelas 3, nanti mau ambil jurusan apa? Mau masuk Universitas mana?"
"Di sekolah udah ada les tambahan Pa, gak perlu lagi les," Nanda langsung menolak. Lebih dari 8 jam belajar, otaknya bisa rusak karena diperas untuk selalu berpikir. "Nanda mau masuk jurusan Pendidikan! Univeraitasnya terserah, yang penting masih di kota ini."
"Pendidikan?" Dewi menatap putriny dengan tidak percaya. Baru kali ini ia mendengarnya. Bukankah Nanda suka membaca dan menggambar? Ia kira, putrinya akan mendaftar jd pustakawan, atau mengambil DKV atau design fation ...
"Nanda ingin jadi guru SD?" Arjuna menebak dan dibalas cengiran remaja itu.
"Yup!" Nanda mengangguk tanpa ragu. "Gak apa kan kalo Nanda pengen jadi guru?"
Arjuna terdiam selama beberapa detik, sebelum akhirnya menyadari bahwa sepasang mata itu menatap dengan khawatir. Jelas takut bahwa keinginannya akan ditentang. Hal itu membuatnya melirik ke samping, menatap Dewi yang kini menghela napas.
"Kenapa Nanda pengen jadi guru?" tanya Dewi serius. "Nanda gak mau jadi pelukis? Atau designer kayak mama? Jadi pustakawan? Novelis? Komikus?"
__ADS_1
Bukannya Dewi menentang, tetapi ia sangat menyadari hobi anaknya. Nanda tidak terlalu suka di tempat yang ramai, anak itu suka membaca buku, menggambar, tenggelam ke dalam dunianya sendiri. Hal baiknya, gadis itu bukan tipe penyendiri dan tahu kapan harus memisahkan diri dari dunia hingga tidak mempengaruhi lingkungan pertemanannya.
Itu sebabnya, Dewi takut bahwa Nanda akan menyesal di tengah jalan.
"Itukan hobi Ma, bukan cita-cita," Nanda cemberut. "Nanda pengen jadi guru SD soalnya liat kalo perkembangan zaman mulai ancur. Makanya, Nanda pengen ngedidik anak-anak biar dari kecil, mereka udah punya kebiasaan baik. Kayak buang sampah pada tempatnya, suka kebersihan, gak nyakitin hewan ... pola pikir dari kecil yang dibentuk kan pasti bakal berpengaruh pas mereka gede nanti."
Arjuna tersenyum mendengarnya. "Karena Nanda ngerasa kalo anak-anak muda mulai gak bermoral?"
Nanda menghela napas. "Bukan remaja aja Pa, tapi juga orang dewasa. Apa lagi pengusaha. Papa kan peneliti tuh, pasti sadar juga kalo bumi makin kotor. Pencemaran lingkungan lah, satwa yang diburu masal, atau bahkan pembangunan yang menguras daerah hijau."
Sosok gemuk itu menunduk, menatap nasi uduk dengan kesal. "Rasanya, yang disebut tempat paru-paru dunia itu sebenernya cepat atau lambat bakal ilang dari dunia kalo kayak gini terus. Pohon tuk tumbuh perlu berapa tahun? Tapi manusia banyak menebang ... kalini bukan tuk bangun rumah, tapi ngambil tanah. Nah, kalo tanah-tanahnya udah dicaplok, pohonnya mau tumbuh dimana lagi? Udah pohon lama tumbuh, tempatnya tuk tumbuh diambil pula."
Hening.
Tidak ada yang berbicara sama sekali ketika Nanda selesai mengungkapkan pikirannya. Nada anak itu sangat polos, mengeluh dan jelas peduli dengan lingkungan. Namun Arjuna tahu dengan pasti keseriusan masalah yang diucapkan oleh putri semata wayangnya.
Hal ini juga menjadi masalah setiap negara, tetapi sayangnya, keegoisan dan keserakahan manusia adalah monster yang menakutkan. Tidak bisa dengan instan diberhentikan begitu saja. Dengan uang tutup mulut dan beberapa celah dari peraturan pemerintah, beberapa perusahaan besar dengan sewenang-wenang memanfaatkan tempat. Merugikan lingkungan sekitar hanya demi keuntungan beberapa pihak.
"Makanya Nanda pengen jadi guru biar bisa buat anak-anak sadar dan tumbuh untuk menyukai alam?" Dewi akhirnya buka suara. Tersenyum bangga menatap anaknya.
"Yup!" Nanda mengangguk. "Makanya Nanda mau daftar jurusan keguruan sekolah dasar, Mama sama Papa setuju kan?"
"Tentu," tersenyun geli, Dewi langsung menyanggupi. "Tapi jadi guru gak mudah loh."
"Woah, tenang Ma! Nanda kan suka anak kecil dan penyabar, cocok lah jadi guru!"
"Nanda suka anak kecil?" mata Arjuna berbinar. "Nanda mau adek baru--ugh!" sang Papa meringis. Melirik ke istrinya dan mendapatkan pelototan marah.
Nanda pura-pura buta, mengabaikan adegan pertengkaran pasuri yang dua bulan tidak bertemu. Oh, tenang, ia sudah ada pacar, jadi tidak perlu merasa kesal melihat pasangan mabuk asmara di depannya.
"Oh ya Pa, kayak laut yang udah kecemar sama limbah, ada kemungkinan hewan di dalam laut bakal berevolusi?" Nanda bertanya, kembali mengalihkan topik pembiacraan.
Senyuman sang Papa mengembang. "Teori evolusi memang mengatakan bahwa faktor seleksi alam dan perubahan sifat turunan atau gen adalah penyebab utama terjadinya evolusi. Tetapi semua itu dilakukan secara bertahap, tidak mungkin mendadak dan langsung terjadi."
"Misalnya, Nanda taro racun ke dalam aquarium, semua ikan yang biasa hidup di air bersih di dalamnya pasti bakalan langsung mati semua. Nah, kalo gk ada yang hidup, gak bakal berevolusi kan? Tapi ... kalo misalnya Nanda gak naro apa-apa, biarin aquarium kotor, belum tentu semua ikan mati? Babarapa mungkin akan hidup, tetapi mereka gak bisa disebut berevolusi, mereka beradaptasi dengan lingkungan."
"Hmm ... ," alis Nanda terpaut.
"Gini, misalnya buaya. Dulu, buaya berukuran sangat besar, seukuran rumah atau bahkan lebih. Tapi kenapa ia menjadi lebih kecil? Ada banyak faktor. Misalnya di lingkungannya yang dulu, banyak monster yang lebih besar, memakan buaya raksasa dan ternyata yang kecil, lebih lama bertahan hidup karena lebih lincah untuk melarikan diri dan pintar bersembunyi."
"Nah, buaya yang lebih kecil lama-lama menikah, menurunkan gen kecilnya keketurunannya, buaya yang memiliki gen lebih besar lebih banyak mati hingga pada akhirnya punah, menyisakan hanya gen kecil yang lebih kuat untuk bertahan hidup melawan seleksi alam. Hal ini, bisa dibilang evolusi karena buaya besar sudah musnah oleh seleksi alam dan hanya menyisakan keturunan buaya yang lebih kecil untuk terus hidup dan meneruskan generasinya."
"Jadi ... evolusi terjadi begitu lama? turun temurun dan mastiin kalo gk ada lagi yang sama lagi kayak keturunan nenek moyangnya?"
Arjuna mengangguk. "Benar. Tapi mereka masih membawa sebagian besar sifat nenek moyangnya. Hal itu juga yang membuat peneliti bisa bedain beberapa fosil dinosaurus dan mengaitkannya dengan hewan-hewan yang sekarang."
"Terus kalo misalnya mereka berubah karena faktor lingkungan? Misalnya kena bahan kimia terus masih hidup ... ."
"Oh, Papa tahu," Pria itu tersenyum. "Itu mutasi, bukan evolusi," anak perempuannya suka membaca novel, bagaimana ia bisa tidak menebak jalan berpikirnya? "Perubahan sifat karena faktor lingkungan, memaksa suatu organisme untuk beradapatasi atau secara tidak langsung, sifat suatu kimia mulai masuk dan mempengaruhi tubuh," senyuman Arjuna semakin mengembang. "Percayalah Nak, keinginan untuk bertahan hidup, terkadang memiliki kekuatan yang sulit untuk dibayangkan."
Nanda bungkam mendengarnya. Bibirnya terkatup rapat. Evolusi memerlukan sebuah proses yang panjang dan memakan waktu ...
"Pa, bila misalnya hewan dan tumbuhan semuanya bermutasi, lingkungan juga sudah sangat berubah ... lalu manusia akan menjadi apa?"
Alis Arjuna terangkat. "Ada dua kemungkinan. Manusia akan ikut bermutasi, lalu secara bertahap mulai berevolusi. Atau yang kedua, manusia akan punah. Gak akan ada lagi di bumi."
"Serem!"
Arjuna tertawa, tetapi tidak mengatakan apapun. Dewi sudah tidak tahan lagi, pada akhirnya mengalihkan topik pembicaraan dengan beberapa hal yang lebih ringan.
Di atas meja yang hangat dan penuh canda tawa. Meja dipenuhi oleh aroma makanan yang menggoda. Tidak ada yang tahu bahwa ada debar kegelisahaan berdetak. Mencengkram paru-parunya hingga membuat jemari gemetar.
Sejak manusia mengenal industri, belajar membuang sampah sembarangan, mengenal kimiawi berbahaya ...
__ADS_1
Sudah berapa lama waktu berlalu?