
Kegelapan telah memeluk sisi lain bumi, menciptakan bintang dan bulan yang bersinar dalam gulita. Tidak membiarkan pemandangan indah langit malam terhalangi, tidak ada awan di atas langit. Memamerkan cakrawala sehitam tinta dengan taburan titik cahaya lembut.
Udara dingin menerpa, mengirim informasi pada setiap hembusannya. Baik suara atau bau, dihantar dengan baik. Suasana terlihat begitu tenang hingga membuat semua orang lengah. Indra yang tidak peka menganggap malam ini adalah malam yang baik. Karenanya, kelengahan ini dimanfaatkan sosok serba hitam untuk bergerak bebas.
Tubuh itu lincah, bergerak tanpa suara. Memanfaatkan kemampuan air dan angin, ia memanipulasi semua hal di sekitar dan menyatu di dalam kegelapan. Tidak ada yang menyadari pergerakan itu, tetapi bukan berarti sosok itu akan menurunkan kewaspadaan.
Melangkah cepat seolah dikejar oleh kematian, Nanda merasakan adrenalin berdesir pada setiap pembulu darah. Ia harus segera pergi sekarang, atau tidak akan ada kesempatan lagi di masa depan.
Nanda tahu, Sinta dengan sengaja menunggu. Iparnya bahkan bertanya secara blak-blakkan. Karena itu, diam-diam Nanda waspada. Pertanyaan Sinta tidak sesederhana itu untuk dijawab atau hanya sekedar obrolansantai. Dari percakapan, wanita ini menyadari bahwa Sinta, Bima dan Ayahnya, mungkin sedang membuat persiapan agar Nanda bergerak tidak terlalu dalam. Kemampuan pertahanan dirinya baik dan bukan sebuah rahasia bahwa kemampuan menyelinapnya, pasti juga akan diperhatikan.
Sebelum keluarganya membuat pertahanan yang lebih baik untuk mengawasi setiap pergerakan, Nanda akan lebih dahulu pergi. Melarikan diri ke luar tembok dan mencari Ganesha. Toh ia sudah belajar cukup di rumah sakit dan militer. Tiga bulan, adalah batas waktu untuk bersabar di balik tembok. Semakin lama waktunya di sini, semakin gelisah ia. Tetapi bila memikirkan persiapan matang dan keterampilan yang bertujuan untuk menyelamatkan Ganesha ... Nanda masih bisa sedikit menahan diri.
Lalu malam ini, adalah watu yang tepat.
Menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan. Nanda berlari di dalam kegelapan. Menyelinap di rimbun pepohonan. Ia, berencana untuk memanjat tembok. Memang terdengar konyol dan mustahil mengingat tinggi yang menjulang, tetapi kemampuan untuk memanipulasi udara dan air, mempermudah pelariannya hanya dengan sesikit memutar otak.
Terlebih selama beberapa bulan di sini, Nanda tidak menganggur. Ia tahu tempat-tempat dimana tembok tidak terlalu diperhatikan. Masalahnya adalah jarak tembok terlalu jauh. Memerlukan waktu beberapa jam untuk terus berlari sekuat tenaga.
Oh, secepat apapun ia berlari, meski telah menambahkan kemampuan angin untuk mengurangi gesekan, kecepatannya tidak bisa mengalahkan cheetah yang berlari. Karena itu, ditengah perburuan waktu, Nanda berhasil sampai ke tembok sekitar 2 jam kemudian. Hal ini membuat napasnya terengah-engah. Berlari tanpa henti selama 2 jam bukan batasnya, tetapi siapapun pasti akan berkeringat dan mulai kehabisan napas bila tanpa henti bergerak sekuat tenaga dalam kurun waktu yang tidak bisa dibilang singkat.
Memejamkan mata dan mendengar suara yang dihantarkan angin, Nanda memastikan tidak ada satupun orang berpatroli di daerah ini. Setelah beberapa detik di dalam keheningan, helaan napas lega terlontar. Oh, tempat ini memang area terlemah di dalam penjagaan. Bagaimanapun, kebanyakan tentara berpatroli pada pintu-pintu dan sudut tembok. Karena itulah, setitik kecil di dalam kegelapan malam, sudah pasti terlewatkan di pengelihatan mereka.
Tidak menunda waktu, Satu persatu, sebuah balok es keluar dari dinding merah. Bertingkat membentuk tangga yang mudah untuk diinjak. Nanda menyeringai di dalam hati. Mencampur udara dan air untuk membentuk entitas es yang kokoh, kemampuan Nanda semakin lama semakin meningkat. Ia tidak lagi mudah merasa lelah ketika menggunakan kekuatannya.
Tepat ketika semua es telah membentuk tangga sampai ke atas tembok, Nanda langsung menaikinya dengan cepat. Tidak lupa, ia juga menghancurkan es saat kaki tidak lagi menapak. Ketika sampai di atas tembok, Nanda dengan cepat melewati ketebalan 5 meter di atas tanah dan melompat turun di balik tembok.
Oh, beberapa tentara juga berpatroli di atas tembok. Hal ini menjadi area berbahaya karena cahaya bulan dan bintang, membuat area menjadi titik pengawasan yang mudah dilihat. Karenanya Nanda lebih cepat bergerak melewati tembok. Bahkan setelah ia berhasil melompat dengan lancar dan tanpa suara sama sekali, Nanda tidak mengurangi kewaspadaan.
Ia kembali berlari dengan sekuat tenaga menjauh dari tembok saat kaki menapak di tanah. Tanpa menoleh ke belakang, di dalam kegelapan, sosok serba hitam memanjat pohon, lalu melompat dari satu pohon ke pohon yang lain selayaknya monyet yang bermain sirkus. Tidak ada keraguan pada setiap lompatan, memastikan bahwa kakinya telah menapak, dengan kekuatan yang pas, ia akan kembali melompat.
Tentara tidak hanya ditempatkan pada bagian dalam, tetapi juga luar tembok sebagai pertahanan pertama. Karena itu, begitu ke luar, Nanda memanfaatkan kemampuan angin untuk menghindari patroli. Meski ia jadi cenderung berputar-putar dan menghabiskan sebagian energi untuk terus menghindar, tetapi secara bertahap, Nanda menyadari bahwa ia semakin jauh dari tembok dan semakin jauh dari area pengawasan.
Nanda mendongak. Napasnya terengah-engah dengan dada yang naik-turun dengan cepat. Langit semakin terang. Perempuan yang mengenakan pakaian serba hitam dengan mudah menebak bahwa keluarganya akan mulai curiga karena ia tidak memiliki pergerakan untuk keluar dari kamar. Nanda tidak bodoh. Ada tentara di lingkungan mansion yang akan memberikan laporan kapan ia ke luar dari bangunan mewah itu. Karenanya, ketika semua orang telah bangun dan Ayah atau kedua kakak iparnya menerima laporan ... mereka pasti akan langsung mengecek kamar.
Menyadari tidak ada siapapun dan ia sudah cukup jauh, Nanda mengeluarkan motor trail dan mengenakan helm. Tanpa mengganti pakaian sama sekali, ia memutar gas dan dengan auman singkat, motor melaju dengan kecepatan tinggi di area hutan yang berliku dan tidak rata.
__ADS_1
.
.
.
Memastikan bahwa arah yang dipilih benar, meski agak memuatar bahkan menjadi lebih jauh dari tujuan, Nanda tidak mempermasalahkan sama sekali. Toh yang penting ia sudah ke luar. Tujuan pertama adalah kembali ke kota di mana Mall Bintang berada. Tempat, ia pertama kali memasuki pangkalan dan bertemu dengan Erica. Oh, bukan karena Nanda ingin menemui ajalnya ke tempat dimana zombie berkerumun, tetapi kota itu menjadi tempat dimana tim Ganesha diserang.
Lebih baik ia kembali ke sana, mengumpulkan petunjuk dan mulai mencari suaminya.
Berbeda ketika ia datang ke Pangkalan 1 dan sering dikejar oleh mutan, ketika Nanda ke luar dari hutan, ia beberapa kali bertemu dengan zombie yang berkeliaran. Semuanya adalah zombie level 3 atau 4, tetapi entah bagaimana, mereka tidak mendekati Nanda sama sekali. Sebaliknya, zombie-zombie itu seolah menghindar begitu bertemu dengannya seolah tahu bahwa Nanda lebih kuat dari mereka ...
Sepertinya, insting mereka cukup tajam, lebih memilih menyelamatkan nyawa ketimbang menyerang. Entah karena memang level Nanda sekarang sudah jauh lebih tinggi hingga menganggap level 4 zombie cenderung lemah, atau karena mereka menemukan hal lain yang lebih menarik dan mudah untuk ditangani ...
Diam-diam Nanda mencatat hal-hal evolusi zombie di dalam hatinya. Semakin tinggi level, jelas IQnya juga lebih berkembang. Sudah cukup memiliki kebijaksanaan untuk memilih. Nanda agak kagum. Bila Zombie semakin cerdas, maka, dalam level tertentu ... apakah mereka akan berhenti memakan daging dan menjadi seperti manusia biasa? Sebenarnya, Zombie bukan hanya memakan manusia, tetapi semua makhluk yang berdaging dan memancarkan panas kehidupan. Tetapi karena zombie yang memakan manusia menjadi pemandangan yang memberikan kesan tak terlupakan, orang-orang cenderung menganggap zombie hanya memakan daging manusia.
Memberhentikan motor, Nanda langsung menyimpan kendaraan dan helm ke dalam ruang, lalu mulai mengganti pakaian menjadi pakaian kasual yang kumal dan tidak mencolok. Oh, langit sudah berada di puncak. Ia tidak tidur sama sekali, jadi ketika menemukan tempat yang dirasa cocok, Nanda langsung memilih untuk berhenti.
Melompat ke atas pohon dengan batang yang sangat tebal, dengan mudah wanita itu berkamuflase diantara rimbun dedaunan. Ia mengeluarkan makanan dan menikmati makan siang di bawah keheningan yang nyaman. Dengan teduh pepohonan dan hembusan angin yang lembut, wanita yang mengkuncir satu rambutnya itu menyandarkan punggung ke pohon.
Namun bila itu berlanjut bahkan sampai sebulan, tubuhnya tidak mampu untuk menanggung. Karena itu, dalam sehari, Nanda bahkan hanya bisa tidur selama satu jam sebelum akhirnya terbangun dengan tubuh penuh keringat dingin. Ketika ia sibuk dengan aktivitas, menguras kemampuan fisik dan otak, Nanda bisa tidur nyenyak. Tanpa mimpi sama sekali selama 3 jam sebelum akhirnya terbangun secara alami.
Karena ia belum tidur sama sekali, berlarian dan tidak henti menggunakan kemampuan, Nanda secara bertahap mulai mengantuk ketika telah menemukan lingkungan yang menurutnya aman. Tanpa sadar, sepasang hazel mulai menyipit sebeluma akhirnya, kelopak mata yang berat membuat Nanda secara alami tertidur.
Srak!
Gelombang suara yang dihantarkan melalui udara, terdengar jelas oleh Nanda. Di dalam kegelapan, meski ia tidur, wanita ini sedikitpun tidak melonggarkan kewaspadaan. Begitu ia mendapati beberapa suara kehidupan di sekitar, Nanda lebih memilih untuk membiarkan dan tetap memejamkan kedua mata. Ia tidak bergerak, masih dengan rileks di dalam keadaan semi tertidur.
Ada serangga, beberapa hewan kecil yang tidak bermutasi, zombie, juga ... sekelompok manusia.
Mereka terdiri dari tiga orang, berjarak jauh dari pohon tempat Nanda tertidur dan sedang bertarung dengan beberapa zombie liar. Nanda tidak berniat memperhatikan, tetapi udara tidak henti memberikan informasi pergerakan semua hal dalam rentan jarak beberapa kilometer di sekitarnya. Suara-suara itu membentuk konsep visual di dalam kepala, terutama bila Nanda memejamkan mata. Rasanya seperti melihat garis-garis putih membentuk sebuah gambar pada kanvas hitam.
3 orang, menghadapi satu zombie level 3. Beruntung, ketiganya adalah pengguna kemampuan, jadi ketika main keroyok, zombie level 3 pada akhirnya kalah setelah beberapa jam saling menyerang. Namun bukan berarti sekelompok manusia tidak mengalami kerugian. Mereka menang dengan susah payah, babak belur, menerima luka-luka dari pertarungan sangit yang sangat berisik. Beruntung, tidak ada yang terkena gigitan.
Mungkin karena terlalu lelah, atau mungkin karena memang tidak tahu jalan, ketiganya tertatih-tatih berjalan ke arah yang berbeda dari mereka muncul. Mereka berjalan menuju pohon besar tempat Nanda tidur. Hal ini membuat sang wanita menguap, tidak membuka mata sama sekali dan mengeluarkan sebuah topeng berwajah iblis dari ruang dimensi. Tanpa ragu mengenakannya di wajah, Nanda tetap merilekskan tubuh. Oh, ia masih perlu untuk 'tidur'.
__ADS_1
Ketiga sosok dewasa, yang terdiri dari satu perempuan dan dua lelaki itu tidak berhenti menuju pohon raksasa. Sebaliknya, ketika jarak mereka hanya tinggal beberapa meter dari pohon, ketiganya memilih berhenti. Beristirahat untuk saling mengobati sebelum akhirnya dengan cemas mengobrol. Topik obrolan sangat sederhana dan langsung.
Mereka salah arah dan kini ... tersesat.
Sambil beristirahat, ketiga orang mulai berunding prihal arah. Nanda mengabaikan ketiga orang itu. Ia masih dengan nyaman 'tertidur' dengan damai. Entah sudah berapa lama. Ketika tubuhnya sudah cukup baik dan bernergi, sepasang hazel kembali terbuka.
Deg.
Punggung Nanda langsung menegap. Mendadak, ia merasakan langkah kaki yang berat dan pernapasan yang ringan. Tanpa ragu Nanda kembali memejamkan mata, fokus mendengarkan. Beberapa detik kemudian, alisnya mengernyit begitu menyadari bahwa yang berjarak beberapa kilometer dari pohon adalah seekor Harimau. Harimau zombie dengan ketinggian sekitar 1 meter ...
Perbedaan antara hewan mutan dan hewan zombie, sama seperti perbedaan zombie dan pengguna kemampuan. Perbedaan yang paling penting adalah, hewan mutan akan berubah ukuran tubuh dan kecerdasan mereka, tetapi hewan zombie lebih seperti bangkai berjalan yang jauh lebih agresif dan menyeramkan ketimbang zombie manusia.
Nanda menelan liur paksa. Ia langsung mengeluarkan sepasang pedang dari dimensi ruang dan bersiap untuk bertarung.
Harimau zombie ini berada pada level 5 dan setiap langkah, dengan pasti menuju ke pohon tempatnya berada. Jelas, pengguna kemampuan yang kuat jauh lebih menggoda ketimbang tiga orang lemah yang terluka. Sama seperti nukleus zombie yang kuat akan menarik minat manusia, pemilik kemampuan yang kuat juga akan lebih menarik minat zombie. Karena itulah, Nanda langsung mengetahui target dari Harimau ini adalah dirinya sendiri.
Melompat dari batang pohon, tindakan Nanda yang begitu tiba-tiba membuat kaget ketiga manusia yang sedang beristirahat. Tidak menyangka akan ada orang lain di dekat mereka.Tidak membiarkan ketiganya sempat berpikir apakah ia manusia atau zombie, Nanda menyipitkan mata menatap ketiga orang yang terluka dan babak belur.
"Pergi dari sini," peringatnya dengan suara renda, lalu melemparkan perban dan obat luka kepada ketiganya. Tanpa mengatakan apapun kembali, Nanda langsung berlari menjauh. Tindakan mangsa yang mendadak bergerak, memicu Harimau Zombie untuk segera mengejar. Makhluk itu mengaum, memekakan telinga dan mengirimkan peringatan akan bahaya keberadaannya.
Auman yang besar itu membuat ketiga manusia merinding ketakutan. Mendadak, mereka menyadari peringatan yang diberikan manusia bertopeng iblis tadi. Oh, apakah akan ada pertarungan yang besar? Ketiga orang memucat membayangkannya, tetapi mereka tidak tahu harus menuju ke mana. Terlebih orang tadi dengan cepat berlari. Melompati satu pohon ke pohon yang lainnya dengan mudah dan fleksibel.
"****!" seorang pria mengumpat. "Dia melarikan diri sendiri!" geramnya marah.
"Dia memberikan kita obat, jangan menuduh sembarangan," sosok yang lain buru-buru mengambil perban dan obat yang baru saja dilemparkan sosok bertopeng menyeramkan itu. "Cepat bangun, kita harus pergi dari si--"
Ucapan tertahan. Ketiga orang yang semula ingin bergerak melarikan diri, mendadak membeku begitu mendapati sosok setinggi satu meter berlari dengan cepat ke arah mereka. Harimau, dengan bulu loreng hitam-kuning terlihat sangit dan ganas. Langkah kakinya begitu pasti dan kuat. Menapak di tanah dan tidak mengurangi kecepatan seolah-olah ketiga manusia yang berada di jalur lintasannya tidak ada sama sekali.
Momentum Harimau begitu luar biasa. Bukan hanya bertubuh kuat, tetapi juga memancarkan aroma bangkai yang mencekik. Keberadaannya seolah memperingati siapapun untuk berlari, tetapi ketiga manusia bahkan tidak mampu untuk bergerak.
Begitu ketiga manusia sadar dari rasa takut akan kematian, tubuh mereka terasa lemah. Setiapsensi terasa selembut gel, membuat tubuh jatuh ke atas tanah. Tanpa sadar, mereke gemetar, merasakan tekanan udara yang berat dan juga momentum kuat yang seolah mencekik pernapasan.
Harimau itu ... harimau itu melewati mereka?
"Apa ... apa itu tadi?" satu-satunya perempuan gemetar hebat. Ia tahu, itu bukanlah harimau biasa. Harimau itu berbeda. Begitu ganas, begitu menakutkan. Namun beberapa detik kemudian, ketiganya mendadak menyadari sesuatu.
__ADS_1
Oh, bukankah arah Harimau itu pergi ... adalah arah orang bertopeng tadi pergi?