Zombie

Zombie
4: Boss


__ADS_3

Ruangan kelas, yang terdiri dari sederet meja dan kursi, terlihat berisik karena bel belum berbunyi. Beberapa saling mengobrol, menyalin tugas, atau dengan santai menyendiri untuk bermain ponsel.


Banyak kegiatan yang dilakukan tetapi Nanda adalah satu-satunya siswi yang merasa menarik untuk menatap sekitar tanpa melakukan apapun.


Suasana ramai yang dihuni oleh remaja, begitu berisik dan ceria ... berapa lama ia tidak melihat suasana hidup seperti ini? Mau bagaimanapun Nanda melihatnya, ia tetap merasa agak ... tidak terbiasa.


Suasana pagi begitu hangat, berisik, berantakan. Namun keributan kecil ini justru membuat Nanda tanpa sadar tersenyum.


Yulis tengah mengobrol di sudut belakang bersama dengan 2 orang. Pemuda tampan dengan tubuh jangkung dan wajah blesteran adalah pacarnya, Alex. Sementara perempuan bertubuh mungil yang mengenakan bando adalah sepupu Alex yang sangat lembut dan feminim, Luna.


Bukan hal yang aneh bila Yulis menghampiri pacarnya dan bukan hal yang aneh pula Luna berada disana bersama mereka. Bagaimanapun, Alex sudah bersikap selayaknya Kakak bagi perempuan pucat yang cantik itu, Yulis juga tidak keberatan. Sahabatnya bukan tipe pecemburu, sebaliknya, ia berteman baik dengan Luna.


Luna, huh?


Nanda bertopang dagu, menatap kelompok tiga orang melalui lirikan mata.


Luna ... perempuan pucat yang terlihat lemah tetapi memiliki penampilan rupawan ini sedikit memiliki kesan baginya. Bagaimana tidak? Yulis dan Alex selalu bersamanya karena ... yah, gadis ini sangat mudah untuk dibully.


Memiliki penampilan cantik yang menarik, terlihat lemah hingga banyak membuat anak lelaki mendekat untuk melindunginya, terlebih dengan sikap penakut dan cengeng ... beberapa gadis tidak menyukainya. Mengasingkannya dan bahkan membullynya ...


Yulis juga sangat cantik, tetapi gadis itu anak yang pemberani, sarkas, dan jelas tipe yang akan membalas dua kali lipat bila ada yang mengganggunya. Dengan sikap yang cenderung seenaknya, siapa yang berani membully gadis ini?


"Ndut, lo gak bete apa? Si Yulis dikit-dikit ama Luna mulu," dua teman yang duduk di meja depan menoleh ke belakang, menatap kelompok kecil di sudut kelas. "Yulis jelas sahabat lo, tapi si Luna dikit-dikit narik dia kemana-mana kayak Yulis babunya dia aja. Gue yang gak sedeket itu ama Yulis aja bete banget liatnya."


"Iya, gue aja bete banget, si Luna sok manja gitu. Jijik banget gue."


"Loh? Kok kalian bete?" Nanda menatap dengan wajah polos. Astaga ... apa saja yang dipelajari anak-anak SMA zaman sekarang? "Oh girls, Yulis emang sahabatku, tapi kan aku juga masih punya kalian, teman-temanku yang saanggaaat cantik!"


"Wah ... suka banget gue dengan kata-kata lo yang terakhir! Gue emang cantik, tahu kok, gak perlu lo puji."


"Hilih, ngawur! Jelas-jelas gue yang lebih cantik!"


Kedua tetangga yang duduk di meja depan pun bertengkar. Nanda tertawa melihat interaksi mereka, hingga pada akhirnya ketiga orang mengobrolkan beberapa hal sederhana prihal artis, film, lagu ... beruntung, Nanda tidak benar-benar lupa prihal yang satu ini.


"Woi, Ja! Tumben banget lo telat!"


Deg.


Jantung Nanda terasa mencelos mendengarnya. Tanpa sadar, ia menahan napas dan menatap sosok yang berdiri di ambang pintu.


Sosok pemuda dengan kulit tan berdiri di sana. Menenteng ransel dan mengenakan seragam putih abu-abu yang tertutup jaket berwarna denim. Rambut hitam dipotong cepak, begitu rapi dan pendek hingga membuat kontur wajah tegas dan maskulin tercetak. Sosok itu benar-benar menggoda, dalam balutan masa muda yang menyenangkan mata.


Itu Raja Purnama. Ya, Nanda sangat yakin ia tidak salah mengenali orang. Sosok rupawan yang selalu sukses membuat jantungnya berdegup kencang, sosok dingin yang diam-diam kerap menolongnya. Seorang pemimpin kelompok ... yang kerap ia panggil Boss.


Nanda tidak bisa menahan gejolak yang menggebu-gebu di hatinya. Sosok yang terlihat jauh lebih muda dan ekspresif tanpa tatapan tajam itu membuat jantungnya tidak henti meneriakkan antusiasime. Darah berdesir, Nanda nyaris ingin menjerit dan meneriakkan kata Boss dengan kegembiraan yang luar biasa.


Namun, di detik ia ingin melakukannya, di detik itu juga ia merasa tertampar.


Boss yang ia kenal, dengan Boss yang sekarang dilihatnya berbeda.


Nanda menelan liur paksa. Euforianya menguap begitu saja, digantikan perasaan kecewa dan ... senang?


Ia kecewa karena Nanda jelas tahu Raja yang dikenalnya sekarang tidak akrab dengannya sama sekali meski mereka teman sekelas dan ia merasa senang karena Raja yang ada dihadapannya adalah sosok yang belum tersentuh dengan darah.


Nanda menelan liur paksa. Berpura-pura hanya menatap sekilas remaja jangkung itu lalu kembali menoleh dan fokus dengan obrolan kedua teman yang berada di meja depan. Tidak ada yang menyangka bahwa dibalik kebisingan disekitarnya, remaja gemuk itu diam-diam menguping.


"Ja, lo pasti keasikan maen PUBG kan? Makanya lo telat," Yulis tertawa, menatap Raja yang melemparkan tasnya ke atas meja tepat di depan remaja cantik itu.


"Minggir ah, tempat duduk gue itu."


"Yaelah, duduk depan aja napa? C'mon Jak, gue kan pengen deket sama bebeb gue," Alex sewot. Bergerak merangkul Yulis dan sukses mendapatkan sikutan dari pacarnya.


"Jangan pegang-pegang!"


"Aduh, Beb, jangan galak-galak dong."

__ADS_1


"Bel dah bunyi, pegi sana," Raja tidak peduli. Tetap mengusir Yulis dari kursinya. Ia memang duduk semeja dengan Alex, sementara Yulis, dengan seenaknya memang kerap menjajah kursinya. "Kalo lo berdua masih mau pacaran, mending jangan di sini."


Yulis tertawa, ia tidak marah sama sekali. "Napa lo? Ngiri ya? Makanya, cepetan cari cewek sana!"


"Bener! Bener!" Alex langsung setuju. "Tuh, ada Luna tuh, jomblo juga. Kalian kan pas tuh sesama jomblo, mending jadian!"


Kali ini, Luna yang biasanya diam, bereaksi. "Apaan sih, Lex!" Ia melotot, terlihat salah tingkah dan panik. "Kita semua temenan, tahu gak! Udah kelas tiga juga, mending fokus belajar ketimbang pacaran, ah!"


Raja tidak mengatakan apapun. Ia hanya menatap Luna selama beberapa detik, sebelum akhirnya menghela napas dan menatap Yulis. "Minggir Lis, gue mau duduk."


Yulis cemberut, tetapi pada akhirnya mengalah. Nanda, yang sejak tadi menguping, merasakan sesak yang seolah mencengkram hatinya. Manahannya untuk bernapas, menusuk jantungnya hingga memberikan rasa sakit tidak menyenangkan.


Nanda melupakan sesuatu yang penting.


Boss yang ia kenal sekarang, bukanlah Boss yang tanpa perasaan dan berhati dingin. Boss yang ia lihat sekarang ... memiliki perasaan khusus pada gadis lembut dan manis bernama Luna.


Oh, sial.


Nanda tahu cintanya bertepuk sebelah tangan, ia juga sangat sadar diri bahwa Boss tidak memiliki perasaan khusus padanya selain teman dan rekan setim. Lagipula, dirinya yang sekarang sangat buruk rupa. Tidak pantas untuk mendekati Boss dan bersikap sok akrab.


Namun melihatnya langsung, menyadari perasaan khusus berlabuh kepada hati yang lain ... Nanda tidak bisa menahan diri dari kekecewaan.


Nanda menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Ia kecewa. Sangat. Tetapi ia tidak berdaya ... perasaan menyakitkan ini tumbuh dengan sendirinya. Oh, bukan salah Raja bila ia begitu menawan hingga membuatnya terjerat. Tidak ada yang bisa menahan pesona yang pria itu keluarkan kan? Jadi, Ini murni kesalahan Nanda karena sangat mudah untuk jatuh dan tenggelam.


Namun setidaknya, tubuh ini masih muda kan?


Nanda serius memandang ke depan, menatap guru yang baru saja memasuki kelas.


Bossnya adalah Bossnya, ia tidak boleh memasukkan perasaan pribadi di dalamnya. Meski mereka tidak akrab sekarang, tetapi Nanda tahu di masa depan, mereka akan memiliki banyak interaksi bersama. Bagaimanapun, pengalaman adalah guru terbaik. Lagi pula, bukan kali ini saja ia kecewa.


Ia masih cukup sabar. Pengalaman untuk mempertahankan hidupnya yang kecil mengajarkannya untuk mengedepankan kepala dingin ketimbang perasaan yang berapi-api.


Jadi, Nanda, mulai sekarang ...


Alihkan semua fokusmu untuk dirimu sendiri.


Yulis duduk satu meja dengan Nanda. Sosok cantik bak model majalah tengah merengut, berbisik-bisik ke teman sebangku sementara guru di depan kelas dengan serius masih mengajar.


Oh, ada apa dengan Nanda? Sahabatnya ini terlihat jauh lebih diam dan serius. Hal itu benar-benar tidak seru, tetapi Yulis enggan protes. Namun, ketika matanya melirik sesuatu yang tengah Nanda tulis ...


Yulis benar-benar tidak bisa menahan mulutnya.


"Ndut, tulisan lo kok kayak cacing kepanasan?"


Nanda bungkam. Pura-pura serius mencatat sementara di dalam hati tidak henti mengumpat. Oh, tidak perlu diberitahu, Nanda sudah tahu!


Remaja gemuk cukup sadar diri bahwa tulisannya mirip mantra kuno pembawa sial saking mengerikan dan sulit dibaca. TAPI!!! Jangan salahkan ia bila tulisannya jadi jelek mantar guna! Nanda sudah lama tidak menulis dan lebih sering memegang senjata, tangannya yang sekarang lembut dan lemah, jadi terasa kaku!


Beruntung saat menulis tugas, Nanda berhasil membuat tulisannya sedikit lebih baik--dengan entah yang ke-N kalinya--hingga guru tidak protes.


Tetapi untuk catatan sekarang? Ah, sialan! Bagaimana ia bisa memperhatikan bila harus mencatat cepat-cepat! Tulisan yang dibuat dengan hati-hati saja sudah untung bisa dibaca, apa lagi yang ini?


AHAHAHA sungguh, Nanda benar-benar ingin menangis. Ia bahkan tidak bisa membaca tulisan tangannya sendiri.


"Serius deh, Ndut, mending lo berenti nulis. Kasian gue ama pohon-pohon di hutan."


"Ha?" apa hubungan tulisannya sama pohon? Nanda melongo, menatap Yulis yang memasang wajah serius.


"Makin lo banyak nulis, makin tulisan lo kayak manggil setan. Tuh lihat tuh tulisan lo," Yulis menunjuk buku catatan Nanda. "Gak bisa dibaca sama sekali, beneran ngabisin kertas. Ngebuat lo jadi lebih cepet beli buku baru, terus produsen buku ngerasa minat pasar meningkat. Nah, lo udah kayak setan kan? Ngasut produsen tuk nebangin pohon di hutan? Gimanapun, kertas terbuat dari pohon dan gara-gara tulisan lo yang kayak mantra aneh, hutan jadi gundul demi produksi masal buku tulis. Nyadar gak sih lo kalo kejahatan lo tuh udah fatal banget? Berapa banyak keluarga para hewan yang kehilangan rumahnya gara-gara tindakan lo ini?"


Nanda melongo.


Nada bicara dan ucapan Yulis begitu serius dan meyakinkan. Logika disampaikan dengan narasi yang begitu panjang. Berbelit-belit hingga membuat Nanda merasa bego.


"Lis ... ."

__ADS_1


"Apa?"


"Aku baru tahu kamu kayak gini."


Remaja cantik itu menyeringai bangga. "Oh ... masa' baru nyadar? Gue kan emang kayak--"


"Orang gila gitu."


"Ahahaha tahu aja lo--EH APAAN BARUSAN LO NGOMONG?!"


"ISABELLA!"


Jantung Yulis dan Nanda sama-sama melompat mendengar teriakan dengan nada tinggi beberapa oktaf itu. Memekik, sukses membuat sport jantung seisi kelas.


Guru Fisika yang sejak tadi bersabar sudah tidak tahan. Melotot tajam ke sosok cantik yang membuat kelasnya menjadi tidak tenang. "Berenti ngobrol sama Ananda, atau keluar dari kelas!"


Wajah Yulis memerah malu. Ia tersenyum kikuk. "Maaf, Bu," ujarnya kalem, sebelum akhirnya melemparkan tatapan tajam ke arah teman sebangkunya.


Nanda nyengir, tidak merasa bersalah sama sekali. Pada akhirnya, tidak ada lagi yang bermain bisik-bisik. Nanda juga cukup kooperatif. Tidak kembali menulis catatan dan memilih untuk pelan-pelan menyalin catatan Yulisa saja.


Meski ngawur, tetapi benar kata Yulis. Lebih baik ia tidak menulis. Oh, bukan karena Nanda penganut go-green, tetapi lebih karena ia merasa percuma. Bagaimanapun, ia sudah pegal mencatat, tetapi pada akhirnya, ia justru tidak bisa membaca tulisannya sendiri. Ah, lebih baik berhenti. Ia tidak mau melakukan pekerjaan yang sia-sia.


Namun pada akhirnya, Nanda merasa ia tidak boleh terus-terusan seperti ini. Sangat merepotkan untuk tulisan ceker ayam miliknya di bangku SMA. Ia bukan anak TK yang baru memegang pensil, memalukan memiliki tulisan mengerikan. Terlebih, di SMA, ia jelas akan dibuat banyak menulis ...


Oh, Nanda tidak bisa tinggal diam. Selama sisa pelajaran, selain berkonsentrasi memperhatikan guru, remaja itu dirudung gelisah ketik menulis soal. deg-deg-degan dengan tulisan yang akan mengundang keritik guru.


Masih lebih baik bila ditegur secara privasi, tetapi akan sangat memalukan bila ditegur di depan kelas. Nanda akui ia terlihat tidak tahu malu, tetapi ia masih memiliki harga diri untuk dipertahankan.


Karenanya, Nanda tidak bisa menahan lagi.


Bak kebakaran jenggot, remaja itu langsung berlari dengan kecepatan cahaya begitu bel istirahat berbunyi. Pergi ke kantin, membeli sebotol yogurt untuk diminum sampai habis lalu kembali berlari menuju perpustakaan.


Pensil dan penghapus berada di kantong seragam. Buku tulis digulung menjadi tongkat pendek. Dengan wajah penuh tekat dan perjuangan, remaja gemuk memasuki perpustakaan.


Ia akan belajar! Oh, bukan hanya belajar untuk lulus ujian, tetapi juga belajar menulis!


Dengan tekat yang membara, Nanda menyeringai. Tersenyum menatap penjaga perpus yang berada di meja jaga.


"Kebetulan banget, Nanda, ada stok novel yang baru aja dateng sabtu kemaren," ujar Bu Rini. Tersenyum ramah dengan sosok siswi yang setiap hari pergi ke perpustakaan.


Nanda memang veteran lama. Sejak kelas 1, setiap hari ia berlari ke perpuatakaan sekolah pada bel istirahat pertama. Karenanya, Bu Rini sangat akrab dengan remaja ini.


"Aduh, Bu! Nanda lupa bawa buku yang mau dibalikin," Nanda meringis. Melihat wajah ramah Bu Rini yang penuh senyuman, remaja ini teringat bahwa ia selalu ke perpustakaan untuk mengembalikan buku lalu meminjam buku lain.


Hal ini dilakukan dengan konstan selama 3 tahun, membuat Nanda bahkan tidak mungkin untuk melupakannya.


"Santai ah, besok juga bisa Nanda balikin kan? Batas pinjam kan seminggu," ucap Rini geli. Nanda hanya nyengir mensedengarnya, lalu menulis di buku kunjungan.


"Kali ini, Nanda gak bisa minjem novel dulu ya, soalnya kan masih dalam keadaan minjem."


Nanda mengangguk patuh. "Tenang aja Bu, hari ini Nanda gak minjem buku kok, Nanda mau belajar."


Rini menyeringai. "Belajar atau buat PR?" godanya.


Remaja itu cemberut. "Ish, Ibu mah ... belajar atuh. Nanda kan dah kelas 3, mau fokus belajar."


Rini mengkulum senyumannya. "Ya udah, belajar sana. Ntar kalo ada yang gak ngerti, tanya aja sama Ibu, siapa tahu bisa Ibu jelasin."


"Beneran Bu?!"


"Iya," Rini tersenyum geli, tetapi Nanda tidak peduli. Moodnya mendadak bagus. Dengan semangat ia sedikit mengobrol dengan guru penjaga perpustakaan lalu pada akhirnya berjalan ke deretan rak buku yang berjajar rapi.


Yah ... Nanda tidak benar-benar akan belajar. Bagaimanapun, waktu istirahat jam pertana hanya 15 menit, tidak cukup untuk belajar soal. Jadi, remaja itu secara acak mengambil sebuah ensiklopedia, membawanya ke meja dan menyalin tulisan di sana dengan perlahan.


En. Beberapa menit untuk menulis. Bila tulisannya jelek, Nanda akan menghapus dan kembali menulis ulang. Setidaknya, ia akan membuat tangannya terbiasa untuk memegang pena dan pensil.

__ADS_1


__ADS_2