
Lembab, dengan langit yang tertutup awan kelabu membuat suasana menjadi suram nan gelap. Udara dingin kerap berhembus, menghanyutkan berbagai aroma busuk yang mencekik pernapasan. Gedung-gedung pencakar langit yang semula berdiri kokoh dan elegan, kini lebih terlihat seperti gedung pembuatan film horror.
Beberapa properti telah hancur berantakan. Kaca-kaca jendela banyak yang pecah, memberikan serpihan berantakan pada bagian luar atau dalam. Lantai yang semula selalu bersih, kini sangat kotor dengan beberapa organ tubuh manusia terlihat berserakan. Noda percikan darah gelap seolah tidak ingin melewatkan suasana. Menempel pada dinding dan lantai--apapun itu, asalkan meninggalkan jejak kematian.
Sudah berapa lama aku tidur?
Perempuan berusia 24 tahun berdiri malas di lantai 5 balkon hotel. Sosok cantik dengan tinggi 160cm itu mengenakan piyama kuning polos, sangat seralas dengan kulitnya yang seputih pualam. Helai rambut panjangnya yang ikal mencapai dada, terurai dan menari dipermainkan angin.
Wajah berbingkai helai gelap sangat rupawan. Alisnya melengkung lembut, tersulam sempurna ketika dipadukan dengan sepasang iris sewarna kayu yang bulat dan hangat. Hidungnya bengir, kontur wajahnya kekanakan. Terlebih dengan sepasang bibir kemerahan yang penuh selayaknya bibir bayi, Ananda Sartika lebih terlihat seperti remaja 16 atau 17an ketimbang perempuan berkepala dua.
Bertopang dagu, sepasang iris merunduk, menatap adegan berdarah di jalan yang terlihat kacau dan berantakan.
Dari lantai 5 balkon yang memamerkan hampir semua hal yang ada di sekitarnya, sepasang hazel dengan mudah memandang banyak tubuh manusia yang bergerak kaku, menggeram dari tenggorokan mereka dan berjalan seolah tidak memiliki arah.
Namun, beberapa toko dan rumah yang terlihat tertutup rapat, dikerumuni oleh masa yang berpakaian kotor dan bahkan memiliki banyak noda darah. Beberapa teriakan kerap terdengar dari dalam rumah, atau beberapa tempat di mana mobil berhenti dan terkepung oleh banyak sosok-sosok pemakan daging.
Zombie.
Nanda mengidentifikasikan semua manusia yang berjalan kaku itu adalah zombie. Mayat hidup yang mampu berjalan, kehilangan akal untuk terus memakan daging segar dan tidak mengenal rasa kenyang.
Nanda menghela napas berat. Perempuan cantik itu menoleh ke kanan dan ke kiri dimana balkon kedua tetangganya, terlihat sosok manusia yang menggeram ke arahnya. Mencoba menggapai-gapai dengan kedua tangan tetapi tidak bisa karena tubuh yang terlalu kaku.
Jarak antara satu balkon ke balkon yang lain sekitar 2 meter, tetapi ketinggian balkon yang mencapai dada, sudah cukup mencegah zombie untuk menyerangnya. Namun tetap saja, mendengar suara geraman dan napas bau yang berhembus membuat alis Nanda mengernyit tidak nyaman.
Melambaikan jemari putih yang lentik, udara tipis yang dipadatkan bersiul rendah. Lalu dalam beberapa detik, kepala zombie yang berada di balkon kanan dan kirinya terputus dari leher--bergulir jatuh ke bawah dari lantai 5, bersama tubuh yang kini turut tertarik garvitasi bumi dan tidak kembali bergerak di lantai balkon.
Alis Nanda mengernyit, menatap jemari putihnya dengan sepasang hazel bulat yang terlihat kebingungan.
Tenaga yang dimilikinya terlalu ... besar. Nanda agak kaget karena dengan mudah, ia memutuskan kepala zombie. Oh, apakah karena ini adalah zombie pada awal virus menyebar, mereka semua lemah dan mudah untuk dihadapi? Atau karena sebelumnya, ia memiliki kemampuan? Lalu karena kemampuan fisik dan mentalnya tinggi, kekuatan pengendalinya juga tinggi?
Nanda menghela napas. Apapun itu, yang pasti ini adalah hal yang bagus. Sosok rupawan itu dengan gemulai berbalik, masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu balkon. Melepaskan pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi, jemari lentik bergerak. Sebuah air mancur jatuh di atas kepala begitu saja. Membasahi tubuh berkulit putih yang mungkin, hampir 2 minggu tidak mandi.
Nanda memperkirakan selama 2 minggu ia tidak sadarkan diri. Ponselnya mati karena kehabisan daya, ruangannya sudah tidak memiliki listrik, lingkungan damai yang ia kenal, kini berubah menjadi nuansa kelam kekacauan. Jadi, dengan petunjuk waktu yang tidak terlalu jelas, Nanda memperkirakan bahwa ia sudah 2 minggu lebih tidak sadarkan diri.
Oh, umumnya, pengguna kemampuan hanya akan pingsan terserang demam selama 2 atau 3 hari, tetapi ia ... yah, jelas alasannya karena Nanda terbangun memiliki 2 kemampuan. Udara dan Air. Lebih mengagumkannya lagi, kemampuannya sangat ... kuat. Seolah-olah ia telah mempelajarinya selama beberapa tahun dan bukan baru memilikinya beberapa menit yang lalu.
Tanda-tanda awal Virus akan menyebar telah terjadi setahun yang lalu. Ketika setiap negara di dunia, secara bersamaan, mengalami musim panas yang panjang. Tidak ada hujan selama setahun, banyak tumbuhan dan hewan mati, perekonomian anjlok dan pemerintah benar-benar tenggelam di dalam lautan kekacauan.
Lalu mendadak, setiap negara mendapatkan tamu yang tak terduga.
Awan, yang semula seolah malu untuk menunjukkan tanda-tanda hujan dan hanya berkumpul di lautan, mendadak berubah haluan dan berjalan tertiup angin untuk menghampiri banyak tanah kering.
Semua orang bersorak bahagia, terlebih ketika hujan yang dirindukan jatuh menyentuh permukaan bumi, semua orang dapat merasakan rinai lembut diiringi dengan angin yang berhembus dingin.
Selama satu minggu lebih, hujan mengguyur setiap negara. Oh, tidak ada yang merasa aneh dengan ini, terlebih ketika hujan hanya berupa rintik selama lebih dari seminggu. Tidak ada yang merasa terganggu dengannya, hujan ini sungguh sangat ramah hingga membuat orang-orang tetap bisa beraktivitas dengan lancar.
Sayangnya, tidak ada yang menyadari inilah awal mula virus menyebar.
Setelah hujan selama lebih dari seminggu, orang-orang mulai terkena demam. Awalnya, mereka akan menganggapnya santai. Perubahan iklim akan membuat kekebalan tubuh menurun, flu adalah penyakit yang tidak serius. Namun, tidak akan ada yang pernah menyangka bahwa demam tinggi itulah awal dari tanda bahwa virus telah masuk dan bergerak di tubuh manusia.
Virus-virus itu hidup dan berkumpul di air hujan yang mengalir. Semua orang, yang tanpa ragu meminum air hujan tanpa dimasak dalam jumlah yang banyak, tidak diragukan lagi akan berubah menjadi zombie. Berbanding terbalik dengan orang-orang yang memasaknya lebih dahulu, mereka masih memiliki kemungkinan untuk terbangun sebagai pengguna kemampuan.
Nanda, yang telah menyadari prihal virus, telah membuat persiapan matang. Ia memperkuat rumahnya, memasang jeruji besi pada jendela dan pintu. Beruntung, ruang yang dimilikinya semakin luas dan berkembang sesuai dengan kemampuan fisiknya yang meningkat, jadi timbunan harta yang selama bertahun-tahun dikumpulkan hingga membuat ruangannya penuh sesak, kini berguna. Ia bisa makan kapanpun ia mau, tanpa harus keluar dari rumah.
__ADS_1
Tepat ketika hujan akhirnya berhenti, Nanda berlari ke luar rumah. Membawa motor dengan kecepatan penuh menuju pusat kota dan menginap di hotel.
Namun ia tidak pernah menyangka akan terkena demam. Nanda yakin ia ketat dengan makanan yang dikonsumsi, tetapi siapa yang akan menyangka bawah ia masih agak ceroboh? Oh, benar-benar sial. Pada akhirnya ia terkurung di dalam hotel dan baru sadarkan diri pada hari ini.
"Masih ada gak ya," Nanda menghela napas kecewa. Agak khawatir bahwa waktu membuat harta benda yang diinginkannya menghilang. Oh, bukankah ketika bangun, ia sudah menjerit senang? Ia mendapatkan dua kemampuan, lalu lebih dari itu ... ruangannya menjadi tidak terbatas. Sangat luas hingga membuatnya mulai beepikir ingin menimbun berbagai macam hal lebih banyak.
Mengeluarkan satu set pakaian dari dalam ruangannya, Nanda tidak membuang-buang waktu kembali.
Pakaian yang dikenakannya serba hitam. Sepatu kets berwarna hitam, celana jins hitam, jaket hitam, masker hitam dan topi hitam. Nanda langsung memasang tudung jaket, membuat ia sangat tertutup dan tidak dikenali. Selayaknya ninja versi modern yang ingin beraksi.
Kepala menoleh, sepasang iris menatap ke luar balkon, menemukan suasana teduh dan suram langit terlihat lebih ... gelap. Oh, sepertinya sudah sore.
Kembali berjalan ke luar balkon, udara dingin kembali menerpa. Sepasang mata mengerjap, menatap suasana kacau selayaknya film horror di bawah sana.
Nanda, menyadari bawah semakin kuat ia, pandangannya semakin jelas. Ia bahkan bisa melihat jelas dalam keadaan remang-remang dan sekarang, Nanda yakin ia pasti bisa melihat di kegelapan! Jelas, kegelapan, sekarang bukanlah sesuatu yang akan melemahkannya.
Mengenakan sarung tangan kulit berwarna hitam, tubuh berbalut jaket itu melompat dari balkon. Tanpa ragu mendarat di balkon bawahnya, mendarat dengan kedua kaki, lalu kembali melompat ke bawah.
Satu persatu, dengan lincah dan tanpa jeda, tubuh itu seolah-olah seringan udara. Mendarat dengan mulus pada setiap pijakan hingga pada akhirnya, kedua kaki menyentuh tanah.
Tepat ketika Nanda berlari di atas tanah, para zombie yang semula terlihat buta, mendadak bergerak ke arahnya. Ikut mengejar dengan kaki-kaki kaku dan tubuh yang membusuk. Namun, beberapa zombie terlihat tidak terlalu kaku. Mampu untuk berlari mencoba menyusul tubuh daging segar yang bergerak.
Nanda mengernyitkan alis. Mengeluarkan sepasang samurai dan menebas semua zombie yang berada di jangkauan serangnya. Kaki jenjang itu sedikitpun tidak berhenti. Berlari dan melompat di tengah jalan yang penuh dengan kendaraan rusak dan berdebu.
Potongan-potongan tubuh yang berserakan, mayat yang tidak lagi lengkap, darah yang menodai sekitarnya. Pemandangan mengerikan itu tidak membuat Nanda terpengaruh. Ia masih berlari dan menebas, melompat dan menyerang. Hingga pada akhirnya, tubuh serba hitam itu sampai di sebuah gedung besar yang sangat ia kenali.
Nanda tidak bisa menahan diri dari menyeringai. Ia tidak menunda waktu kembali. Dengan bersemangat menggunakan samurai di kedua tangan dan menyerang zombie yang menghalangi langkahnya. Sesekali ia menggunakan kekuatan angin dan airnya, agak terengah-engah karena jumlah zombie yang memang jauh lebih banyak. Beruntung, ia berhasil masuk dan jumlah zombie pada bagian dalam gedung lebih sedikit ketimbang zombie di luar.
Ruangan besar dengan lantai marmer yang ia masuki jelas dalam keadaan berantakan. Beberapa toko terlihat masih tertutup oleh jeruji besi. Kotor dan agak rusak, tetapi masih dalam keadaan utuh. Hal ini membuat Nanda menyeringai.
Mall besar ini, belum dimasuki satupun pencuri.
Jantung Nanda berdegup kencang, euforia memuncak. Tanpa menunda waktu, kilau samurai terlihat, membuat jeruji kini rusak. Mempermudah Nanda untuk menyelinap masuk dan mulai menjarah semua hal yang berada di dalamnya tanpa ragu.
Mencuri? Oh, terserah orang lain ingin mengatakan apa, tetapi yang pasti, Nanda tahu hukum tidak akan berlaku kembali. Orang-orang akan melakukan hal yang serupa dengan apa yang dilakukannya sekarang. Itu sebabnya, sebelum ia di dahului orang lain, Nanda akan mengambil start terlebih dahulu.
Inilah alasan kenapa ia mati-matian berlari dan menginap di hotel yang berada tepat di tengah kota. Padahal jelas, saat virus menyebar, kota adalah tempat yang paling berbahaya.
Semakin banyak populasi manusia, maka akan semakin banyak zombie berkeliaran. Namun Nanda tidak peduli. Hotel tempat ia menginap adalah hotel yang dekat dengan 3 mall!!
AHAHAHA 3 MALL SAUDARA-SAUDARA!
Nanda benar-benar senang sekarang. Terlebih kemampuan ruangnya berkembang dengan ekstream, membuatnya tanpa ragu, menguras semua makanan, obat, berbagai peralatan dan pakaian. Nanda bahkan juga membuka gudang, memindahkan semuanya ke dalam ruang pribadinya sendiri.
Karena tindakannya yang efisien dan ia hanya perlu menyentuh benda untuk memasukkannya ke dalam ruangannya, dalam waktu 3 jam ia sudah menguras isi Mall sampai bersih.
Nanda terkikik senang. Keluar dari mall tepat ketika malam telah beranjak. Lalu seperti yang ia kira, matanya memiliki pengelihatan malam.
Perbedaan malam dan siang hanya masalah warna. Nanda mampu melihat sejelas siang hari, hanya bedanya ... semuanya terlihat abu-abu. Warna yang tercetak dari tidak adanya cahaya membuat ia seperti menonton film jadul hitam-putih.
Berlari menuji Mall selanjutnya, sosok serba hitam merasa tidak memerlukan istirahat. Staminanya masih terjaga dengan baik selama ia tidak menggunakan kemampuan air dan anginnya dengan sering. Terlebih, 2 minggu tertidur sudah cukup membuatnya menabung energinya sendiri.
Sampai di Mall kedua, Mall kali ini lebih kecil, tidak sebesar Mall sebelumnya dan lebih sedikit Zombie. Nanda tidak ragu menerobos masuk. Malakukan hal yang serupa dengan menjarah semua isi Mall. Kali ini, ia hanya memerlukan waktu 2 jam tanpa hambatan.
__ADS_1
Namun, ketika ingin mencapai mall ketiga, Nanda merasa agak ragu. Bagaimanapun, Mall ke-3 juga termasuk hotel dan apartemen berbintang. Jauh lebih mewah, besar dan ... lebih aman. Terlebih terdapat tembok kokoh yang mengelilingi area bangunan, sangat sempurna untuk menjadi tempat aman bila mengingat pintu gerbang yang terbuat dari baja ...
Nanda curiga bahwa masih banyak manusia hidup di sana. Bahkan ketika Nanda di dalam hotelnya sendiri, ia sempat melihat di salah satu balkon, sepasang kekasih berada di dalam ruangan. Masih hidup tetapi jelas dalam keadaan kurus dan menderita.
Nanda bukan orang baik, sepasang kekasih itu jelas hanya akan merepotkannya. Jadi ia dengan enteng kembali melompat sebelum sepasang kekasih itu menyadari keberadaannya.
Namun sekarang ... mall ke-3?
Nanda mengekrutkan alis, diam-diam masih berlari mendekati gedung Mall yang menjulang tinggi dan terlihat kokoh. Namun, dari jauh Nanda sudah tahu bahwa perkiraannya benar.
Dari cahaya yang terlihat, jelas terdapat listrik di sana dan berarti ... banyak manusia hidup. Nanda bahkan yakin itu sudah menjadi pangkalan!
Nanda tidak ragu langsung merubah pakaiannya. Ia menggunakan celana pendek selutut, dengan kaos putih bergambar kartun. Ransel besar berisi makanan dan minuman tersemat di punggung. Rambut panjang langsung dikuncir satu asal-asalan. Lalu dengan sengaja, Nanda menyerang beberapa zombie dan membuat darah mereka memercik ke arahnya. Ia bahkan tidak ragu mengambil tanah, mengoleskannya ke beberapa bagian tubuh, terutama wajahnya.
Ia akan berubah menjadi zombie karena virus?
Oh, selama darah zombie tidak termakan atau terkena luka yang terbuka, manusia tidak akan berubah menjadi zombie. Bagaimanapun, virus hanya terkandung di dalam darah dan air liur zombie, tidak di bagian tubuh dimana hanya bersentuhan kulit sudah membuat seseorang berubah.
Merasa cukup, Nanda kembali berlari mendekati gedung pencakar langit itu. Namun baru beberapa meter darinya, Nanda mendapati bahwa bangunan mall sekaligus apartemen dan hotel ini dikelilingi oleh lapisan jeruji besi dan banyak tentara bersenjata berpatroli.
Perkiraannya benar. Bangunan ini diubah menjadi pangkalan. Nanda tidak terlalu ingat prihal kehidupan sebelumnya setelah bertahun-tahun hidup dalam keadaan damai, tetapi secara garis besar, ia masih mengingat beberapa hal yang penting.
Seperti misalnya, militer sangat mementingkan manusia hidup dan membunuh sebanyak mungkin zombie.
Karena itu, tanpa ragu Nanda mencengkram erat tongkat baseball yang berada di tangannya, menarik napas dalam-dalam, lalu ... berlari!
"AAAAAA!!! TOLOONNGG!!!"
Teriakan membahana mengalun, memecahkan keheningan dari kegelapan. Beberapa tentara pada awalnya tidak menyadari, sampai simpang siur mereka mendengar suara melengking seorang perempuan yang berteriak.
Salah seorang tentara terkejut. Cepat-cepat memasang teropong malam dan mendapati seseorang tengah dikejar oleh beberapa zombie yang mampu berlari ...
"Ada seseorang yang dikejar! Cepat lindungi dia! Cepat!" Seorang tentara memberikan aba-aba, berteriak memberitahu rekannya. Dengan cepat, pesan disampaikan. Para tentara bersenjata bergerak, menembaki zombie yang mampu bergerak cepat di dalam kegelapan.
"Ah! Ah! Jangan tembak aku! Jangan tembak aku!" perempuan itu histeris. Jatuh terjerambat ke atas tanah lalu melindungi kepala dengan kedua tangannya.
Tindakan itu menolong para tentara, membuat mereka dengan mudah menembaki semua zombie yang mendekati perempuan itu. Tepat ketika tidak ada zombie yang mengejar kembali, tentara langsung berlari mendekati sang perempuan. Meraih dan mencoba menenangkannya.
"Dek, dek, udah aman, gak ada zombie lagi," salah satu tentara meraih bahu Nanda, dengan lembut membantunya untuk duduk.
Perempuan itu dengan linglung menatap sekitarnya, terlihat panik dan bingung dengan suasana yang mendadak terang. Namun, tubuh yang kotor masih gemetar hebat. Terlihat sangat ketakutan dengan napas yang terengah-engah.
"Dek, kamu bisa jalan?" tentara itu bertanya dengan lembut, terlihat sangat sabar menanti reaksi perempuan yang terlihat masih remaja. Namun sosok itu hanya menatap mata tentara yang berbicara dengan ketakutan, sebelum pada akhirnya, beberapa detik kemudian, menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Kalo gitu, Kakak gendong ya Dek, maaf ... ."
Dengan hati-hati, tentara itu bergerak, membopong Nanda dengan mudah dan membawanya menuju gedung yang jauh lebih aman.
Beberapa tentara menatap prihatin ke arah perempuan yang masih memeluk erat tongkat baseballnya seolah-olah ia belum merasa aman sama sekali. Remaja itu terlihat sangat waspada, menatap sekitarnya tanpa henti seolah-olah sedang mencari sesuatu yang berpotensial membahayakan hidupnya.
Oh, sungguh, seandainya para tentara tahu bahwa Nanda mencengkram erat tongkat baseballnya karena mencoba menahan euforianya dan berdecak kagum memandang sekeliling pangkalan yang terlihat terang dan mewah ...
Ahahaha! sepertinya ia tidak salah memilih tempat menetap sementara!
__ADS_1