Zombie

Zombie
7: Tanda-Tanda


__ADS_3

Semakin mendekati malam minggu, semakin Nanda uring-uringan. Terlebih beberapa orang sangat antusias! Mereka yang berhasil diundang, mulai PDKT ke lawan jenis, berharap datang ke pasta yang konon semi formal nan elegan.


Ini cuma pesta untuk remaja 17 tahun, apakah tidak terlalu berlebihan?! Dasar orang kaya! Ah, tidak! Tidak! Bukan itu fokusnya!


Nanda cemberut, menatap soal-soal yang ada di mejanya dengan kesal. Oh, ia jadi tidak berkonsentrasi, membuat remaja gemuk kembali membaca ulang soalnya sebelum menjawab.


"Lo mikirin apaan sih," suara Ganesha mengalun, menatap Nanda yang duduk di depannya. Remaja itu tengah menghadapi kumpulan soal di buku 'bantal' yang tebal nan keras. Terlihat serius, tetapi begitu lamban menjawab pertanyaan. "Kalo gak ngerti, bilang."


"Aduh Pak Guru, kamu perhatian banget sih," Nanda nyengir, mulai bertingkah centil di depan guru mudanya ini. Sekarang, karena tulisannya sudah cukup memuaskan, Nanda mulai berkonsentrasi belajar.


Ganesha adalah juara umum sekolah, anak itu jelas pintar. Berhubung mereka berada di satu ruangan dan sudah saling mengobrol, Nanda dengan enteng meminta pemuda itu mengajarinya.


Nanda ingat bahwa pemuda itu langsung menolaknya. Namun siapa sih Nanda? Ditolak? Ahahaha jangan harap bisa lepas! Salah satu alasan kenapa ia bisa bertahan di tengah gerombolan zombie adalah karena sifatnya yang fleksibel untuk mendapatkan sesuatu.


Jadi, Nanda tidak berhenti mengganggu Ganesha. Membuat pemuda itu marah hingga pada akhirnya menyerah. Oh, kapan lagi dapat guru geratis?


"Jam istirahat cuma 15 menit, lo kalo masih mau ngelamun, mending sekalian gak usah belajar," ujarnya, agak kesal karena Nanda tidak berkonsentrasi.


Oh, sebagai guru muda, Ganesha sangat berdedikasi. Sebenarnya, Nanda sangat mudah diajari. Pak Ganesha hanya perlu menerangkan sekali dan siswi Nanda akan mengerti. Bila si murid bingung, ia akan bertanya, memudahkan Ganesha untuk mengajar dan ikut belajar.


"Sebenernya, ada beberapa masalah."


Alis Ganesha terangkat. "Masalah di soalnya?"


"Bukan masalah soalnya kok, ni masalah populasi jomblo yang semakin berkurang."


"Huh?"


Nanda menghela napas, menyandarkan punggung ke kursi seraya memainkan pensil mekaniknya. "Nyadar gk sih? Gara-gara pesta Ratu, banyak anak-anak yang mulai nyari pacara?"


Alis Ganesha terpaut, tidak mengerti.


"Gara-gara itu, aku jadi nyadar sesuatu yang nyebelin."


Sampai dirinya mati dan menjadi zombie, Nanda masih ... jomblo.


Ini mengenaskan. Sangat. Oh, bukankah populasi perempuan saat itu sangat langka?! Satu cewek bahkan bisa punya lebih dari satu pacar?! Lalu kenapa ia masih jomblo?! KENAPA IA MATI DALAM KEADAAN PERAWAN TUA?!


Nanda benar-benar marah, tetapi ia tidak sanggup mengatakannya. Ini terlalu memalukan. Hidupnya sebagai perawan tua selama 28 tahun ... ah, bukankah seharusnya ia sudah memiliki satu atau dua anak yang lucu?


Ganesha benar-benar bingung. Wajah Nanda terlihat sangat kesal. Alisnya terpaut, ekspresinya serius. Namun perempuan itu tidak meneruskan kalimatnya, membuat sang pemuda gatal karena rasa penasaran.


"Karena lo jomblo?"


Tolong! Seseorang! JANGAN MENGATAKANNYA DENGAN JELAS!


Nanda melotot marah.


Oh, bila yang mengatakannya adalah Alex atau Yulis, Nanda masih bisa tertawa. Bagaimanapun, mereka hanya bercanda. Namun bila itu Ganesha? Hell!!! Lihat wajah serius itu! Bagaimana ia tidak sakit coba?! Bagaimana ia bisa tidak sakit?!


"Lo pengen punya pacar?" Ganesha melanjutkan, mengabaikan tatapan membunuh Nanda yang tajam. "Ya udah, kalo gitu, kita pacaran aja."


" ... ."


Hening.


Nanda mendadak syock bukan main. Namun, tidak ada debar kegembiraan, tidak ada kegugupan. Ia hanya ... hanya kaget. Terlebih wajah Ganesha masih datar dan tenang, seolah yang dibicarakannya hanyalah prihal satu ditambah satu sama dengan dua.


Nanda meringis. Alisnya mengernyit. "Nes ... ."


"Apa?"


"Kamu jomblo juga ya?"


"Ya," Ganesha, tanpa malu dan ragu, mengakui. "Kita sama-sama jomblo, ya udah, enakan pacaran aja kan? Lagian, lo kayaknya pengen banget punya cowok."


Nanda tertawa canggung. "Oh boy ... oke, aku ngerti. Kita sama-sama jomblo, tapi kalo pacaran, bukannya jadi gak konsen belajar? Secara, kita udah kelas 3 loh!"


Alis Ganesha terpaut. "Kata siapa pacaran bikin gak konsen belajar?"


"Eh? Yah ... kata orang-orang yang udah pacaran kan?"


"Itu tergantung orangnya," Ganesha mendengus. "Ada juga istilah Pacaran bisa jadi motivasi belajar."


"Oh!" senyuman lima jari merekah, Nanda benar-benar tercerahkan. "Bener juga! Bener juga! Pacaran juga bisa jadi motivasi belajar!"


"Emang."


"Ya udah, hayuk ah, kita pacaran aja, Pak Guru!"

__ADS_1


Bila pacarnya adalah Ganesha yang serius, berdedikasi tinggi mengajar, tentu saja pacaran adalah motivasi belajar! Oh, Nanda benar-benar setuju dengan pemikiran ini.


"Deal kalo kita pacaran?" Ganesha menyeringai, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


Nanda tertawa, tanpa ragu menyambutnya. "Deal!"


"Ya udah, mana nomor hp lo? Sama sosmed?"


"Ah, HPku di tas--oh ya, kita buat gak sih status ntar di sosmed kalo kita pacaran?"


"Lo mau buatnya?"


"Gak ah, males. Keliatan alay banget, lagian aku juga jarang makek sosmed."


"Ya udah, gak usah dibuat kalo gitu," Ganesha tidak ambil pusing, lalu memberikan buku dan pena ke arah Nanda. "Tulis nomor hp sama sosmed lo."


"... ."


Apakah benar, ini kasus anak SMA yang menyatakan cinta? Di mana kata-kata romantis atau senyuman malu-malu itu?!


Bu Rini, sebagai saksi bisu diantara sepasang jomblo yang kini pacaran, benar-benar dibuat melongo bego.


Sebagai seorang guru yang baik, ia seharusnya memarahi Ganesha dan Nanda. Bagaimanapun, mereka sudah kelas 3, tidak bagus pacar-pacaran. Apa lagi pacaran di Perpustakaan, berdua-duan di tempat sepi lagi! Namun, entah bagaimana, Rini justru dibuat bungkam. Ia masih merasa begitu ... takjub.


Pernyataan cinta keduanya begitu asal-asalan. Ketimbang sepakat bahwa keduanya melepas kejombloan, Rini justru seperti melihat sepasang mitra yang akhirnya memiliki kesepakatan untuk menjalankan sebuah proyek.


Menyatakan keinginannya dengan serius dan sungguh-sungguh, mencoba meyakinkan mitra yang lain bahwa resiko yang dikhawatirkan tidak akan terjadi. Lalu keduanya mencapai kesepakatan. Saling menggenggam tangan satu sama lain seraya memandang dengan senyuman puas.


Serius ...


Benarkah ini pernyataan cinta anak SMA dan bukan kesepakatan para pengusaha?!


Rini mendadak pusing. Oh, sepertinya ia sudah terlalu tua dan kolot? Tidak mampu mengikuti perkembangan zaman hingga tidak tahu bahwa sekarang, anak-anak SMA sangat serius dan harus saling menguntungkan ketika berpacaran?


Dimana puisinya? Kata-kata romantis yang membuat gemas? Debar-debar cinta yang membuat wajah memerah?!


Apakah ia harus behenti membaca novel-novel romance agar tidak terlalu banyak berpikir? Rini bingung bukan main. Pasangan baru ini benar-benar menghancurkan ekapentasinya prihal sepasang remaja yang penuh dengan gairah masa muda.


.


.


.


Bagaimanapun, ini hari jumat, besok adalah sabtu dan malamnya adalah pesta perayaan ulang tahun Ratu. Hal yang dikhawatirkannya akan terjadi ... atau, tidak terjadi?


Segala tindakan kecilnya yang berbeda akan menyebabkan perubahan masa depan. Seperti ketika ia memutuskan untuk belajar di perpustakaan, baru beberapa hari mengobrol dengan Ganesha, ia jadi pacaran dengan remaja itu.


Seingatnya, ia masih jomblo dan menjadi perawan tua bahkan sampai ia mati.


Lalu karena memilih diet dan tidak pernah lagi menumpang di mobil Alex, Luna bertingkah aneh. Anak perempuan itu biasanya tidak pernah berinisiatif mendekatinya dan mengajak mengobrol di sekolah, tetapi akhir-akhir ini Luna suka menghampirinya.


Bila hanya Luna sendiri, Nanda tidak masalah untuk akrab, tetapi masalahnya, Raja kerap mengekori Luna. Bersikap santai bersama perempuan itu tetapi diam-diam menjadi kesatria yang menjaga sang putri.


Tolong. Kalian berdua. Tidakkah sedikit saja mencoba menjaga perasaannya?!


Jadi tanpa ragu, Nanda dengan halus menolak pendekatan Luna. Masih cukup sopan dan ramah, tetapi tidak mau terlalu dekat dan akrab.


Nanda menghela napas. Menatap jalan yang sudah dihapalnya di luar kepala seraya memikirkan berbagai macam hal.


Jalanan sore agak ramai. Terlebih di jalan trotoar untuk pejalan kaki. Para kaki lima menjajakan jualannya. Cemilan, makanan tradisional, mainan, lukisan, segala hal dipamerkan untuk menarik minat pembeli.


Bila itu biasanya, Nanda akan diam-diam mampir. Membeli beberapa cemilan dalam jumlah lumayan banyak, menaruhnya di dalam ransel seraya diam-diam melemparkan jajanan yang masih panas dan fresh ke dalam ruangannya. Ruangannya memiliki kemampuan pembeku waktu. Jadi bahkan ketika es krim dimasukkan, itu akan tetap dalam keadaan utuh dan dingin seperti sedia kala meski sudah beberapa hari berlalu.


Nanda menyimpan semua jajanan itu untuk dimakan ketika ia sudah kurus. Lagipula, harga yang ditawarkan masih murah. Hanya beberapa bulan, atau mungkin tahun, harga jajanan ini akan menaik karena harga kebutuhan pokok melonjak. Nanda tidak mau gigit jari, jadi ia lebih memilih menimbun makanan untuk kesenangan di kemudian hari.


Namun hari ini, ia tidak memiliki minat untuk jajan sama sekali. Gadis gemuk itu hanya berjalan di trotoar, mengabaikan sekitarnya dan fokus untuk pulang.


Sudah hampir satu minggu ia terbangun di masa ini, beberapa perubahan mulai jelas terlihat, tetapi sebagian besar, peristiwa besar mungkin masih berlanjut. Entahlah, sulit untuk mengingat hal-hal detail ketika ia sendiri saat itu hanya peduli dengan buku ketimbang lingkungan sekitar.


Karena itulah Nanda begitu gelisah. Bila kekacauan itu terjadi di pesta, ada kemungkinan virus memang akan terjadi. Ia tidak benar-benar memiliki kesan yang kuat. Kebetulan, kekacauan pesta itu masih ada hubungan secara tidak langsung dengannya dan membuat ia merasa sangat bersalah, itu sebabnya Nanda bisa mengingat dengan jelas.


Oh, serius. Ini pertaruhan yang menyebalkan, tetapi bukankah tidak ada cara lain untuk mengecekny?


Tap.


Langkah kaki Nanda terhenti. Gadis gemuk yang semula bersemangat untuk pulang, mendadak terdiam. Terpaku di tempatnya berdiri begitu mengingat sesuatu.


Ini, bukan ingatan ketika ia masih SMA. Sebaliknya, ini adalah ingatan saat ia berada di salah satu pangkalan, ketika virus zombie telah menyebar dan ia tidak sengaja mendengar obrolan para tentara yang berpatroli.

__ADS_1


Tanda-tanda awal penyebab virus mulai terbentuk.


BODOH!!!


Nanda benar-benar mengutuk dirinya sendiri. Ia kembali berlari, sekuat tenaga untuk kembali ke rumah secepat mungkin. Kaki gemuk itu melangkah tergopoh-gopoh, gemetar ketika paru-paru terasa terbakar dan oksigen terkuras.


Namun Nanda tidak berhenti meski seragam telah basah oleh keringat. Rumahnya dekat, karenanya ia dengan percaya diri tidak beristirahat. Tetapi ketika ia sampai dan masuk ke dalam rumah, remaja gemuk kehilangan keseimbangan. Lemas bukan main dengan kedua lutut yang gemetar.


Kali ini, Nanda mengalah. Berbaring bak paus terdampar di atas ubin lantai yang dingin dan mencoba meredam debar jantung yang menggila.


Nanda akhirnya beristirahat. Namun otaknya masih aktif berpikir. Mengutuk kelalaiannya sendiri prihal hal penting yang dilupakan. Oh, bagus, ia benar-benar bodoh!


Cukup sampai pernapasannya teratur dan tidak sesak, remaja itu bangkit berdiri, duduk di sofa dan meraih sebuah koran yang setiap pagi memang selalu dilempar ke rumahnya.


Nanda membuka lembaran besar itu, membaliknya dan mulai membaca. Sepasang iris bergerak-gerak, dengan cepat membaca dengan sekilas. Lalu, sebuah judul menarik perhatian Nanda. Kata-kata itu kecil, terselip dari sekian banyak berita, tetapi itulah yang sejak tadi dicari Nanda. Sebuah judul di sudut yang bertuliskan "GLOBAL WARNING! ATMOSFER SEMAKIN MENIPIS!"


Beberapa menit membacanya, wajah itu semakin terlihat serius. Alis sang remaja terpaut, lalu akhirnya memutuskan untuk langsung masuk ke kamar. Membuka laptop dan berseluncur di internet.


Beberapa kata diketik pada tombol pencarian. Jaringan yang baik langsung memberikan banyak artikel. Berbaris mengantri ingin dibaca.


Jantung Nanda kembali berdebar tidak tenang. Firasatnya buruk, mendadak ia dilanda gelisah dan takut yang aneh. Namun Nanda tetap memaksakan diri. Menelan liur paksa lalu mulai mencari-cari beberapa hal di internet.


Namun, baru setengah jam, Nanda merasa jiwanya tersedot habis. Oh ia sudah tahu. Ia mengerti. Pengetahuan ini sukses membuat wajah sang remaja memucat.


Bencana alam besar kerap terjadi, volume air laut meningkat, garis pantai menipis, gletser di kutub utara dan selatan semakin sering terjadi ...


Nanda sangat tahu apa artinya.


Bencana Virus Zombie jelas disebabkan oleh manusia. Terjadi secara bertahap, merambat tanpa disadari oleh tangan-tangan nakal yang merusak keseimbangan alam. Mereka membuang sampah limbah ke manapun tanpa mengolahnya kembali, bersikap rakus dengan memakan hasil alam tanpa rehabilitasi, begitu serakah ingin menjangkau segala hal, tanpa ambil pusing prihal resiko jangka panjang.


Semua tindakan itu seperti balon. Sedikit demi sesikit ditiup, pelan-pelan ingin membuat balon menjadi semakin besar. Namun manusia tidak menyadari bahwa lapisa karet itu akan semakin menipis. Jadi ketika balon semakin besar dan besar ... mereka terlambat berhenti dan membuat balon itu meledak berantakan. Menyakiti dan mengguncang si peniup balon itu sendiri.


Nanda menyandarkan tubuh ke kursi, tenaganya mendadak hilang. Pikirannya terasa kosong. Tanpa sadar, kadua tangan itu gemetar.


Virus Zombie benar-benar akan menyebar.


Sekarang, Nanda 100% yakin bahwa bencana itu akan terjadi. Ini masih tanda-tanda awal, terlihat biasa, hanya seolah-olah menandakan bumi sudah terlalu tua.


Namun jelas, apa yang akan terjadi bukanlah hal yang biasa. Ketika bencana terjadi, Nanda tidak akan terkejut. Namun bagaimana dengan orang-orang di sekitarnya? Mereka jelas akan takut, panik, sedih, putus asa ...


Nanda memejamkan kedua mata. Ingatan demi ingatan bergulir di dalam kepala. Orang-orang yang menangis, marah, gila ... tidak ada hal baik apapun ketika virus menyebar. Semua keburukan manusia meningkat, keangkuhan dan egois dipukul keras. Uang yang mereka miliki tidak akan berguna kembali. Hanya makanan, insting kuat untuk bertahan hidup, akan membuat semua orang rela melakukan dan mengorbankan apapun.


Menjual diri sendiri hanya untuk sebungkus roti, atau bahkan menjual anak dan istri mereka sendiri hanya untuk beberapa bungkus mie instan ...


Sungguh menggelikan ketika manusia yang menganggap diri mereka adalah spesies yang berpendidikan dan pintar, kini akan dipukul menjadi jenis hewan tidak berakal dan bermoral.


Oh, apa perbedaan manusia dan binatang?


Hanya akal.


Lalu ketika virus menyebar ... populasi binatang berkulit manusia ini akan menyebar. Merangkak keluar dari hati nurani dan membekukan rasa kemanusiaan mereka.


Nanda sangat jelas akan hal ini. Itu sebabnya, bukan zombie, hewan atau tumbuhan mutan yang paling diwaspadainya ketika virus menyebar. Melainkan ... manusia, yang telah kehilangan hati nuraninya lah yang paling berbahaya.


Memijit pangkal hidung, dapat Nanda rasakan jantung berdegup kencang. Sesak luar biasa meremas dada, memberikan ketakutan akan pengalaman hidup yang keras nan kejam.


"Bagaimana ini ... ."


Nanda bergumam. Suaranya bak bisikan, bergetar penuh dengan emosi. Oh, sungguh, ia tidak ingin bencana itu kembali datang. Menghancurkan hati nurani, meremas populasi manusia, mencekik setiap kehidupan.


Ia sungguh tidak mau Papa dan Mamanya menderita, ia tidak mau melihat Yulis mati di depan matanya sendiri, ia tidak mau, sungguh, ia tidak mau ...


Tetapi apa yang harus ia lakukan untuk mencegahnya? Nanda tidak bodoh. Ia hanya seorang anak SMA. Tanda-tanda awal bencana hanyalah hal yang akan diabaikan banyak pihak. Mencegah hal itu terjadi bukan sesuatu yang mungkin anak SMA biasa bisa lakukan ...


Penyebaran virus diakibatkan ulah manusia yang merusak lingkungan. Mencegahnya bukan sesuatu yang mudah. Perusakan dilakukan oleh seluruh umat manusia di berbagai benua. Meski sudah ada yang berteriak prihal menjaga bumi, lindungi alam, hargai satwa ...


Namun lebih banyak pihak yang menutup mata prihal itu. Lebih banyak oknum yang menuruti keegoisannya demi kepuasan pribadinya.


Manusia ... Oh, sungguh ... manusia ... kenapa kau begitu egois?!


Nanda benar-benar ingin berteriak rasanya. Ia menggeretakkan gigi, menahan gejolak tidak menyenangkan yang sangat ingin mengamuk. Perasaan tidak bisa melakukan apapun dan putus asa ini sungguh sangat menyebalkan ...


Menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. Nanda mencoba untuk menenangkan dirinya. Tidak ... sungguh, ia tidak bisa berpikir bila berada di dalam keadaan emosional seperti ini.


Menatap layar laptop dengan kosong, lalu melirik jam yang berada di sudut bawah, Nanda menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Ia bangkit berdiri, menarik handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Pada akhirnya Nanda memilih untuk mandi untuk menenangkan tubuh dan pikirannya. Bagaimanapun, ia harus tenang. Selama ia berada di dalam keadaan kepala dingin, segala hal pasti akan terasa jauh lebih mudah.


Sekarang, yang dapat Nanda lakukan adalah merencanakan semuanya kembali, menganalisa keadaan, lalu ... mengambil keputusan.

__ADS_1


__ADS_2