
Tidak pernah memutuskan untuk tinggal permanen di Pangkalan 2 AD, tepat sebelum Nanda, Erica dan para kurcaci pergi, Nanda memberikan dua kunci rumah kepada Bobi, Ken, dan Genta. Ia juga memberikan beberapa nukleus transparan kepada ketiganya. Jumlah nukleus yang diberikan cukup untuk membayar sewa rumah selama dua bulan ke depan hingga untuk bulan pertama, mereka bisa memikirkan secara perlahan untuk kehidupan mereka sendiri.
"Kak ... ini ... ini terlalu banyak," Genta benar-benar malu menerima 10 nukleus. Berbeda dengan Ken dan Bobi, ia tidak tahu bagaimana harus menerimanya. Bobi dan Ken bisa mengolah untuk keluarga mereka, tetapi Ken ... oh, ia sudah tidak memiliki keluarga lagi dan hanya tinggal di keluarga Bobi. Haruskah ia menyerahkan sebagian untuk keluarga Bobi?
"Simpan untuk keperluan nanti," Ken menyikut, memelototi Genta yang memerah malu karena diberikan nukleus. Oh, ayolah! Kenapa harus merasa sungkan dengan Kak Nanda!? Bukankah ini seperti mendapatkan uang lebaran? "Siapa tahu cukup untuk modal cari pacar," tambahnya jenaka.
Nanda tertawa. "Nah, siapa tahu bisa juga untuk jadi mas kawin!"
"Kak!" Genta melotot. "Gue miskin banget ngasih calon cuma segini!" Bahasa keseharian langsung keluar, sukses membuat ketiga orang berseru dan kembali mengejek.
Perpisahan yang dilakukan bukan dengan kesedihan, tetapi diakhiri dengan senyum dan tawa. Toh mereka pasti masih akan bertemu, tidak perlu merasa sedih atau bahkan sungkan. Bila ada kesempatan, mereka bisa saling mengunjungi satu sama lain.
Duduk di dalam hummer bersama dengan sejumlah besar rombongan, mobil pick-up sudah diberikan kepada trio pemuda. Sekarang, setelah perpisahan, sudah waktunya untuk perjalanan panjang menuju Pangkalan 1 AD. Menyadari bahwa ia akan pergi ke Pangkalan dimana keluarganya berada, Nanda tidak bisa menahan degup cepat pada jantungnya. Ia terlalu bersemangat. Sangat. Hingga ia tidak bisa merasa sabar dan agak kesal dengan kecepatan rombongan yang terasa selambat kura-kura.
"Untung aku yang mengemudi," Erica tersenyum kecil, mengejek Nanda yang tidak henti terlihat gatal ingin menggantikan posisi Erica. Nanda jelas akan langsung menginjak gas agar mereka bisa bergegas dan maju menuju Pangkalan 1 AD tanpa memikirkan rombongan yang mengantar.
"Sangat lambat," Nanda cemberut.
"Tetapi aman."
"Cukup kita sendiri, itu sudah cukup aman."
"Jangan berbicara omong kosong."
Nanda bungkam. Ia tahu bahwa ucapannya benar, tetapi mengucapkannya secara langsung, jelas sangat tidak sopan. Beruntung bahwa mereka berada di mobil sendiri, tidak ada orang luar sama sekali dan para kurcaci, asing mengobrol di belakang.
"Te."
"Hmm?"
Nanda menatap ke luar jendela, ekspresinya serius. "Pohon di luar warna hijau."
"Batang pohon warnanya cokelat," Erica langsung menanggapi. Masih fokus dengan mengemudi dan tahu bahwa keponakannya tengah dilanda derita hingga menjadi error. Karena perjalanan terlalu membosankan dan ia tidak ingin Nanda yang membawa mobil, wanita berambut pendek ini masih menanggapi ucapan rancu keponakannya.
"Yah ... batangnya cokelat, tetapi daunnya hijau. Hijau dengan berbagai warna. Hijau muda, hijau tua, atau ada yang menguning juga."
Erica mengangguk. Menyetujuinya dan tidak benar-benar mendengarkan.
"Langit warnanya biru, itu karena lapisan demi lapisan pelindung dari ozon. Oh, coba kalau tidak ada, warnanya pasti hitam."
"Ya, ya, lalu kita semua mati karena tidak ada lapisan pelindung dan tidak bisa bernapas."
Nanda menggerutkan alis. Wajah itu masih sangat serius. "Terus apa gunanya baju astronot?"
Erica memutar bola matanya. "Baju astronot tidak dijual bebas."
"Oh, iya. Benar."
Hening.
"Te."
"Ya?"
"Aku melihat Ayam dengan warna bulu pink."
".... ."
Ucapan Nanda kali ini membuat hummer yang semula ramai, mendadak hening. Oh, meski Nanda terus menerus mengatakan hal-hal tidak penting yang dilihatnya seperti pohon, batu atau langit, tetapi apa yang mulutnya keluarkan adalah sebuah kejujuran. Karena itu, ketika suara wanita mengatakan ayam berbulu pink ... mereka tidak bisa menahan diri dari rasa penasaran. Benar-benar percaya dengan apa yang Nanda katakan.
Seolah tidak menyadari perubahan suasana di sekitarnya, sepasang hazel bergerak, mengikuti sesuatu di balik pepohonan rimbun. Matanya menyipit. Tanpa sungkan Nanda langsung membuka dashbor dan mengeluarkan pistol.
"Ayam raksasanya mendekat!"
Tepat ketika suara Nanda jatuh, beberapa detik kemudian walkie-talkie di mobil berbunyi. Menyuarakan peringatan bahwa ada makhluk tidak dikenal mendekat. Diantara para pengguna kemampuan, ada seorang pengguna kemampuan melihat jauh yang bertugas untuk memantau sekitar, itu sebabnya, ketika pemberitahuan muncul, semua orang mulai bersiaga untuk sebuah pertarungan.
Hewan Mutan.
Satu kata itu muncul di dalam kepala. Meski Nanda tahu bahwa Hewan dan tumbuhan akan bermutasi, tetapi ia tidak menyangka akan menemukan hewan mutan secepat ini. Yah ... rasa daging hewan mutan tidak seenak daging biasa, tetapi nutrisinya jauh lebih banyak, cenderung memuaskan energi di dalam tubuh ketimbang menggoyangkan lidah.
Sangat disayangkan bahwa hewan dan tumbuhan mutan, untuk tahap awal, akan menyebabkan diare dan bahkan memicu alergi pada tubuh. Perlu adaptasi untuk memakannya. Karena itu, pada awalnya, orang akan menganggap hewan dan tumbuhan mutan beracun, padahal sebaliknya, nutrisi pada tumbuhan dan hewan mutan terlalu besar sehingga tidak boleh bagi manusia untuk memkan terlalu banyak.
"Petok! Petok!"
Mata Nanda cerah. Sepasang hazel menemukan beberapa ekor ayam, dengan bulu berwarna biru tua dan sedikit warna merah muda pada bagian lehernya. Ada sekitar 5 ekor ayam dengan tinggi sekitar 2 meter. Kemunculannya yang mendadak, sukses membuat beberapa tentara memucat ngeri. Namun mereka tidak lengah sama sekali. Selayaknya orang-orang yang terbiasa dengan pertempuran, hujan peluru langsung meyerang ayam mutan. Menciptakan keributan petokan ayam dan kepakan sayap yang merontokkan bulu-bulu.
__ADS_1
Ayam-ayam itu marah. Kelima monster berpetok ria seraya mulai mengamuk di dekat rombongan. Lima ayam sekaligus menyerang, mengorbakan sebuah mobil yang tercabik-cabik oleh cakar ayam yang mampu menembus baja. Namun jumlah peluru dan lemparan beberapa hal dari para pengguna kemampuan terlalu banyak. Hal ini membuat ayam raksasa yang agresif, pada akhirnya mati setelah hampir lebih dari 1 jam berjuang mencoba melawan.
"Ini sangat aneh," Dimas menatap ayam raksasa dengan penuh minat. Ia belum pernah melihat ayam sebesar ini. "Bawa satu, sisanya tinggalkan," ucapnya. Berniat untuk menyerahkan ayam raksasa ke lab yang berada di Pangkalan 1 AD. Pengetahuan baru ini juga mungkin bisa meningkatkan kerja sama antara Pangkalan. Yah ... ia ingin membawa semua, tetapi ukuran ayam terlalu besar dan mereka juga kehilangan satu mobil. Keberadaan ayam ini benar-benar menghabiskan ruang mereka.
"Ayam-ayam itu tidak bisa dimakan?" tanya Erica ketika Dimas berjalan melewati mobilnya. Sejak tadi ia hanya menonton, tertarik dengan Ayam berbulu Pink yang dikatakan Nanda. Para kurcaci juga penasaran dan begitu melihat hewan itu, mata mereka cerah. Hal yang mereka semua pikirkan adalah ... Ayam panggang.
Bisakah daging ayam itu dimakan?
Dimas tertawa. "Yah ... saya tidak tahu, tetapi ayam ini akan dibawa ke lab untuk diteliti. Bila memang bisa dimakan, lain kali kita bisa berburu untuk mendapatkannya. Kemungkinan, ayam besar ini tidak hanya ada satu di hutan."
Ukurannya tidak normal dan tenaganya juga tidak normal, Dimas tidak mau mengambil resiko karena memakan daging ayam ini.
Erica mengangguk mengerti sementara lima anak yang mendengarnya menghela napas kecewa. Oh, seandainya bisa dimakan, mereka bisa mencicipi masakan Erica! Dengan ukuran sebesar itu, mereka akan sangat puas makan daging segar! Sudah berapa lama mereka tidak makan ayam bakar? Sudah lama sekali sampai-sampai mereka tidak ingat lagi!
Setelah memasukkan Ayam raksasa ke dalam truk dan membekukannya untuk mencegah pembusukan, rombongan mobil tertara kembali berjalan membelah hutan. Setelah terjadinya keributan prihal Ayam raksasa, anak-anak yang duduk di belakang mulai bergosip kembali. Menceritakan ulang ayam raksasa berbulu pink. Mereka mulai berimajinasi.
"Mungkin, nanti akan ada Kelinci dengan sayap naga?"
"Atau ikan lele yang sebesar gedung?"
"Hewan-hewan menjadi raksasa, bagaimana bila mereka yang menganggap kita makanan?"
"Kalau begitu, kita duluan yang harus memakan mereka!"
"Kak Erica akan memasaknya, pasti rasanya akan enak sekali."
"Benar, kata Om Dimas, itu masih diteliti, bila benar bisa dimakan, bukankah kita akan makan enak terus?"
"... ."
Anak-anak ini benar-benar menjadi tukang makan. Nanda bersumpah bahwa kelima kurcaci ini dijamin tidak bisa lepas dari Erica karena masakannya. Oh, sepertinya istilah mencuri hati seseorang dengan makanan memang bukan hanya hisapan jempol.
Setelah berjalan selama beberapa jam, sudah waktunya untuk beristirahat makan. Sama seperti ketika mereka berjalan menuju Pangkalan 2, distribusi makanan berasal dari truk yang membawa bahan makanan dan dibagikan secara merata. Menunggu saat-saat ini, Nanda dengan senang hati ke luar dari mobil.
"Mau ke mana?" tanya Erica bingung. Nanda sedikitpun belum menyentuh makan siang yang dibagikan dan sudah keluar dari mobil begitu saja.
"Aku mules," Nanda nyengir. "Tante mau ikut?"
Erica memandang keponakannya dengan jijik.
Nanda tertawa, dengan santai ia berjalan memasuki hutan menuju semak-semak. Terdiam selama beberapa saat, wanita berkuncir mendengarkan angin, memastikan seorang pengguna kemampuan melihat jauh tidak memperhatikannya ... oh, orang itu memang sedang lengah. Mengobrol dengan tentara yang lain di balik truk--tidak sedang menghadapnya.
Sayang sekali menyia-nyiakan daging segar!
Nanda tertawa senang di dalam hati. Beruntung, kecepatan konvoi terbilang lamban. Jadi, hanya perlu 10 menit berlari, ia kembali ke lokasi yang dituju.
Mayat ayam masih di tanah, mengeluarkan darah yang sudah mulai mengering ...
Yah ... siapa yang menyuruh ia memiliki kemampuan air?
Tidak berhenti menyeringai, Nanda menggunakan kemampuan air dan anginnya. mencabuti bulu-bulu ayam, lalu mencuci ayam hingga bersih. Ketika akhirnya keempat ayam raksasa benar-benar mirip seperti ayam potong yang sudah digunduli dengan bersih, Nanda memasukkannya ke dalam dimensi ruang.
OH, IA BENAR-BENAR PUAS!
Nanda tidak berhenti tertawa dengan panen hari ini. Ketika orang-orang menyadari betapa bermanfaatnya daging dan sayuran mutan, mereka pasti menyesal! Daging mutan tidak mudah untuk didapat. Bukan hanya karena mereka pandai bersembunyi, tetapi juga kekuatan mereka sangat kuat. Terutama untuk hewan-hewan karnivora yang akan jauh lebih agresif dan kerap menyerang manusia ...
Yah, pada saat itu, manusia juga sudah berevolusi menjadi lebih kuat.
Kembali dengan kecepatan tercepat, Nanda mendekati hummer tepat ketika melihat Erica keluar dari mobil. Wanita itu mengkerutkan kening, menatap Nanda yang tidak henti menyeringai puas.
"Bukan diare kan?" tanyanya curiga.
"Bukan," Nanda menggelengkan kepala. Masuk ke dalam hummer dan memakan roti yang menjadi makan siang. "Sudah beberapa hari tidak keluar soalnya."
Erica mengernyitkan alis, tetapi tidak mengatakan apapun. Beberapa menit kemudian, walkie-talkie berbunyi. Perjalanan akan dilanjutkan. Setelah memastikan semua orang berada di mobil dan tidak ada yang tertinggal, mereka mulai berjalan. Namun, baru beberapa menit deru mobil terdengar, punggung Nanda menegang.
"Tante, siap-siap bertempur," ujarnya singkat lalu mengeluarkan pistol dari dalam dashbor.
Saat kata-kata itu keluar, seruan terdengar. "SEMUANYA MENAMBAH KECEPATAN!"
Dalam hitungan detik, mobil di depan menambah kecepatan, membuat Erica menginjak gas dalam-dalam. Suara tembakan silih berganti terdengar, bersamaan dengan guncangan kecil yang menakutkan. Erica tidak berani menoleh, tetapi wajah Nanda sudah memucat.
"Wow!" anak-anak berseru kagum. Lima kurcaci menoleh ke belakang, menatap banyak ayam raksasa berlari mendekat dengan panik. Mereka bahkan tidak ragu menginjak mobil di depannya hingga penyok dan meledak.
"Banyak ayam!"
__ADS_1
"Kak! Bisakah kita mengambilnya satu?"
Sebelum kita mengambilnya, tidakkah kita akan menjadi makanannya?!
Nanda benar-benar panik. Menghadapi 5 ayam, rombongan ini sudah pasti bisa, tetapi menghadapi lebih dari selusin ayam raksasa dengan cakar yang mampu merobek besi ... Astaga! Apakah ini balas dendam dari ayam-ayam yang sebelumnya dibunuh!? Nanda tidak pernah tahu bahwa para ayam sekarang memiliki rasa solidaritas antar sesama!
Ini benar-benar tidak lucu! Ketika Nanda saat kecil suka mengejar ayam, sekarang ia yang dikejar-kejar ayam!
"Tante, ganti posisi!" Nanda menelan liur paksa. Ia tidak bisa membiarkan orang lain tahu prihal kemampuannya. Karena itu, tanpa sungkan mereka berganti posisi. Nanda menjadi supir dan Erica, dengan kemampuan apinya, tidak henti melemparkan bola api ke belakang. Namun, entah bagaimana, bola api terlihat tidak berpengaruh sama sekali dengan ayam-ayam itu. Api terlihat membakar, tetapi ketika sayap ayam merah muda mengepak, api akan padam.
"Hebat! Bulunya tahan api!" Leo berujar kagum.
"Bila kita bisa mengambil bulunya, apakah berarti kita bisa berjalan di api?" Raga menanggapi--terlihat serius menganalisa. Nanda yang mendengarnya menghela napas kecewa.
Sial! Ia mencabut semua bulu pada ayam kalkunnya ...
Bila tahu bahwa bulunya juga sangat bermanfaat, Nanda tidak akan sungkan mengumpulkan bulu-bulu itu juga.
"PETOK!"
Suara ayam semakin nyaring terdengar, bersamaan dengan teriakan dan kekacauan di belakang. Tembakan dan juga bom dilontarkan, tetapi seolah tidak menyerah, segerombol ayam tetap kukuh mengejar. Beberapa mobil sudah rusak parah, bahkan banyak yang tertinggal di belakang dan meledak. Entah berapa korban yang disebabkan ayam-ayam ini ...
Sepertinya, mereka sangat marah? Ayam Merah Muda ini sangat dendam karena temannya dibunuh? Beruntung, tepat ketika Nanda berpikir bahwa ayam-ayam ini tidak akan menyerah sampai semua pasukan musnah, segerombolan ayam berhenti mengejar. Mereka terlihat lelah tetapi romongan tentara tidak henti menginjak gas--kabur secepat dan sejauh mungkin sebelum para ayam menyerang kembali.
Takut bahwa ayam-ayam itu menyusul karena bangkai ayam yang mereka bawa, Dimas tanpa sungkan menyuruh orang-orang membuang bangkai ayam besar itu, lalu meninggalkan area secepat mungkin sebelum segerombolan ayam merah muda kembali muncul untuk menyerang.
Mereka sudah sangat merugi dengan kehilangan banyak mobil pada hari pertama pergi, Dimas tidak mau mengambil resiko nyawa. Karena itu, pada malam hari, mereka semua berkumpul di api unggun, mendiskusikan rencana ke depan.
"Saya memiliki tiga opsi. Pertama, kita kembali ke Pangkalan 2 untuk menambah personil dan perlengkapan, Opsi ke dua, kita akan melewati kota yang berarti harus menghadapi zombie dan opsi terakhir ... ," Dimas menatap semua orang yang selamat. "Kita tetap melajutkan untuk melewati hutan dengan resiko, ada hewan lain yang akan menyerang."
Semua orang bergumam mendengarnya. Secara garis besar, mereka memiliki dua pilihan. Kembali atau tetap melanjutkan. Misi mereka bukan hanya untuk mengantar Nanda dan rombongan dengan selamat, tetapi juga membawa pulang beberapa bahan yang dijanjikan oleh Pangkalan 1.
"Bila kita kembali, bukankah di belakang masih ada Ayam raksasa menunggu?" salah satu tentara bersuara, cukup besar untuk didengar yang lain. Hal itu memicu beberapa diskusi.
"Apakah kembali melewati jalan kota?"
"Bukankah sama saja? Masih harus keluar dari hutan ... bagaimana bila masih bertemu dengan monster?"
"Bagaimana bila kita tetap lanjutkan saja? Hewan itu hanya ingin mengusir kita karena berada di wilayahnya ... bukankah biasanya hewan-hewan memiliki daerah tertitorial mereka sendiri?"
Suasana rapat tidak terlalu bagus. Hanya dengan memanfaatkan api unggun sebagai penerang, di malam yang gulita, tepat di tengah hutan, segerombolan pria dan beberapa orang wanita mulai berdiskusi. Saling menyanggah dengan intens, dengan keras kepala menganggap ide mereka adalah yang terbaik.
Ini menyangkut nyawa banyak pihak, bukan hanya satu atau dua orang manusia. Sebuah kelompok yang mencoba mencapai konsensus bersama agar bisa menemukan kemungkinan yang paling kecil memiliki resiko kehilangan nyawa.
Pada akhirnya, setelah malam semakin larut, semua orang sepakat untuk melanjutkan perjalanan. Mereka sudah tahu resiko untuk kehilangan nyawa. Setidaknya, bila mereka berhasil sampai ke Pangkalan 1 lebih cepat, misi mereka selesai dan dapat pulang dengan baik dengan rombongan Pangkalan 1 AD yang mengawal.
Nanda menghela napas. Ia kembali ke hummer dan melihat sebuah tenda kecil. Di dalamnya, lima kurcaci tertidur pulas, sementara Erica berdiri. Menyandarkan punggung ke hummer yang dingin dan kotor.
"Tante tidak mengantuk?" tanya Nanda. Sosok yang dipanggil Tante menggelengkan kepala. "Kalau begitu aku tidur dulu, Tante yang berjaga," ujarnya lalu membuka pintu mobil. Namun, sebelum Nanda menutup kembali pintu, ia mendengar Tantenya memanggil.
"Nda."
"Ya?" Nanda mengubah posisi kursi, membuatnya lurus hingga ia bisa berbaring.
"Kamu bisa menolong mereka."
Pergerakan Nanda terhenti begitu mendengarnya. Suara Erica seperti bisikan, tetapi sangat jelas untuk didengar. Nadanya datar, seolah tidak memiliki emosi, tetapi Nanda sangat jelas bahwa Erica ... kecewa.
Ia jelas bisa menolong orang lain, tetapi ia tidak melakukannya.
Satu kalimat yang dilontarkan Erica sangat sederhana, tetapi membuat sepasang hazel kehilangan kecerahan. Tantenya, seolah tidak mengharapkan tanggapan apapun, hanya ingin mengucapkan kalimat ini. Wanita itu tidak lagi bersandar di hummer. Memilih untuk pergi dan berpatroli dengan beberapa tentara lainnya tanpa berniat mengetahui reaksi keponakannya sendiri.
'Kamu bisa menolong mereka.'
Kata-kata itu terngiang, bagaikana bisikan kematian. Memberikan perasaan dingin seolah menampar wajah. Bila orang lain yang mengatakan, Nanda tidak akan memikirkan, tetapi yang berucap adalah Tantenya ... keluarganya sendiri. Ia cukup sadar diri bahwa tindakan ini sangat kejam. Jahat. Nanda jelas bisa menolong mereka, tetapi lebih memilih membiarkan. Menonton dan berpura-pura lemah.
Bila ia menolong, berarti ia akan mengeskpose kemampuan. Nanda sungguh tidak mau orang-orang tahu bahwa ia sangat kuat. Ia tidak mau orang-orang akan mulai bergantung padanya dan berpikir bahwa ia berhati malaikat. Rela membuang-buang tenaga hanya untuk menyelamatkan mereka. Lalu ketika ia tidak berhasil menyelamatkan salah satu rekan ... mereka akan menyalahkannya, menganggap bahwa ia dengan sengaja tidak menolong.
Bagaimanapun, pada khidupan sebelumnya, Nanda sudah melihat kematian lebih dari sekali, hampir setiap hari, itu membuat ia menjadi mati rasa. Setiap orang memiliki tanggung jawab menjaga nyawa mereka masing-masing, bukan menyerahkannya dan bergantung kepada pertolongan orang lain.
Bagaimanapun semua orang akan menganggap setiap nyawa sangat berharga, tetapi bagi Nanda, hanya nyawa orang-orang yang ia sayangi saja yang berharga. Ia akan menutup mata kepada orang asing, tetapi untuk sosok yang ia sayangi, Nanda tidak ragu untuk menolong.
Namun ... tidak semua orang mengerti itu. Tidak semua orang mengerti pemikirannya. Tidakkah mereka tahu bahwa pandangan kepada orang yang lebih kuat, mata yang seolah mengatakan nyawa mereka akan selamat hanya karena mengikut orang kuat, itu hanya membuat seseorang terbebani dengan harapan-harapan yang tidak pasti? Nanda tidak suka beban itu, ia tidak suka ketika orang lain dengan egois menganggapnya alat perlindungan utama.
Manusia memang egois dan Nanda sendiri juga merasa dirinya egois. Mementingkan pemikiran sendiri ketimbang orang lain, bergerak tanpa mau memperdulikan pendapat siapapun. Ya, ia memang egois. Sangat. Tetapi hal itu juga yang menyadarkan bahwa ia sendiri juga adalah ... manusia.
__ADS_1
'Kamu bisa menolong mereka.'
Ya. Tentu saja. Tetapi maaf, aku tidak mau.