Zombie

Zombie
14: Peraturan


__ADS_3

"Dek, kamu tinggal di sini dulu selama 24 jam, ntar kalo udah, kamu bisa keluar, terus ngelakuin pendataan."


Salah satu tentara yang dengan baik hati menggendong Nanda, memberitahu dengan lembut ketika ia menurunkannya.


Mereka saat ini berada di ruangan mirip penjara. Lorong panjang, dengan jeruji besi pada kanan dan kirinya memberitahu bahwa ini adalah ruangan isolasi. Beberapa orang terlihat di dalam penjara, duduk dengan lesu atau beberapa saling mengobrol bersama. Setiap ruang penjara, hanya menyisakan ruangan kecil yang selebar 3 meter, jelas hanya untuk menempatkan masing-masing satu atau dua orang.


Nanda tidak keberatan sama sekali dibawa ke tempat ini. Ia hanya diam, menurut ketika tentara memasukkannya ke dalam penjara dan mengunci pintu.


Tidak ... ia tidak dipenjara sama sekali. Nanda tahu para tentara melakukan hal yang benar. Mereka hanya mengisolasi, melihat apakah para pendatang terkena virus atau tidak. Bila dikurung selama 24 jam tidak membuat mereka menunjukkan tanda-tanda menjadi zombie, maka mereka bisa masuk ke dalam pangkalan.


Ini hanya tindakan pencegahan dan perlindungan, sesuatu yang benar untuk dilakukan. Itu sebabnya Nanda tidak merasa marah atau khawatir karena mendadak digiring ke penjara.


Oh, ia hanya perlu bertahan selama 24 jam, jadi tanpa ragu, Nanda melepaskan ranselnya lalu berbaring di atas lantai dingin untuk tidur ...


Yah ... terus berlari dan melompat bak monyet lepas, juga perlu tenaga. Lagipula ia juga harus menata ulang ruangannya. Jadi, dengan enteng Nanda berbaring dan memejamkan mata. Dengan kekuatan mental melihat isi ruangannya, ia mulai menyusun semua hal di dalam tanpa harus masuk kedalam ruangannya.


.


.


.


Klang!


Suara pintu besi yang didorong sukses membuat kedua mata Nanda terbuka. Wanita itu melirik ke samping, menemukan bahwa seorang pemuda lusuh dibawa keluar dari dalam penjara dalam keadaan tidak sadarkan diri. Para tentara yang membawanya juga dengan waspada menutup mulut pria itu dengan plester sebelum membopongnya seperti karung beras, lalu keluar dari dalam penjara.


Nanda mengerjap beberapa kali, menatap menarik tentara yang bekerja dengan cepat. Beberapa Tentara turut menoleh ke arahnya, memperhatikan sekilas dengan dingin--sebelum akhirnya memalingkan wajah.


Pandangan mata yang tajam, gelap dan tanpa perasaan seperti itu, jelas pandangan orang-orang yang terbiasa dengan pembunuhan dan kematian. Sosok-sosok tanpa belas kasihan yang tidak akan tergerak oleh apapun dan hanya menilai sesuatu secara rasional atau bahkan seperti mesin yang hanya akan bergerak melakukan perintah.


Nanda jelas tentang orang-orang seperti ini. Seiring waktu, ketika yang terkuatlah yang akan bertahan, jumlah orang-orang seperti ini akan semakin banyak. Hidup akan lebih keras dan persaingan kian ketat dan kejam.


Sepasang mata kembali terpejam. Nanda, kali ini tidak menyusun ruangannya kembali. Sebaliknya, ia diam-diam memikirkan sahabatnya, Isabella Yulis.


Yulis ada di kota ini, itu sebabnya Nanda dengan gila menginjak gas dan memilih untuk pergi ke kota ini dengan harapan, juga dapat bertemu Yulis dan putranya. Inilah alasan terbesar ia tidak ragu masuk ke dalam pangkalan. Harapan bahwa sahabatnya masih hidup sangatlah besar ...


Alis Nanda terpaut. Sesak luar biasa seolah meremas jantungnya. Sakit dan tidak nyaman ketika banyak efek kupu-kupu yang telah terjadi--merusak takdir yang ia ketahui.


Di kehidupan dulu, Luna keluar dari SMA, tetapi di kehidupan ini, Luna tidak keluar dari sekolah. Alex yang seharusnya kuliah, justru masuk TNI. Yulis, baik dulu maupun sekarang, tetap saja sama. Ia mengikuti Nanda, mengambil Universitas yang berada di kota ini, bukan di luar kota.


Lalu untuk Raja ...


Kehidupan dulu, Raja justru masuk ke tes Polisi, tetapi di kehidupan ini, Raja mengikuti Luna. Masuk ke universitas luar negri dan keduanya tidak pernah terdengar kembali kabarnya.


Segala hal telah banyak berbuah dan tidak berada di dalam jalur yang Nanda ketahui. Semuanya, ada yang berubah menjadi lebih baik, atau bahkan lebih buruk. Namun satu-satunya penyesalan Nanda adalah Alex.


Pria yang selalu murah senyum itu meninggal tahun lalu, jauh lebih cepat ketimbang ia memilih untuk menjadi seorang Mahasiswa dan pengusaha. Setidaknya, Alex di kehidupan lampaunya meninggal ketika melindungi Yulis. Namun di kehidupan ini ... Alex pergi lebih cepat, meninggalkan Yulis yang baru ia nikahi beberapa bulan dan bayinya yang belum dilahirkan ...


Sekarang Yulis menjadi ibu tunggal. Rencana awal Nanda adalah menyikat semua harta sambil mencari keberadaan Yulis. Namun siapa yang menyangka bahwa ia akan tertidur dalam jangka waktu yang lama? Ia tidak tahu bagaimana kabar Yulis dan anaknya. Bahkan kedua orang tuanya sendiri ...


Namun Yulis adalah istri dari veteran Tentara, keselamatannya jelas akan diprioritaskan. Terlebih ia adalah seorang ibu dengan seorang batita kecil. Sayangnya, perawatan itu hanya berlaku bila Yulis ditemukan oleh tentara. Bila sahabatnya ditemukan oleh kelompok lain? Atau mungkin ... Yulis dan putranya tidak selamat?


Clang!


"Bangun."


Nanda kembali membuka kedua matanya. Dengan mudah, ia melihat seorang tentara perempuan berdiri di luar jeruji besi. Jelas sengaja membuat keributan untuk membangunkannya.


Nanda menatap selama beberapa detik, lalu tubuh itu merubah posisinya. Ia duduk, menatap ke arah wanita asing itu dengan menyelidik.


Seolah terbiasa dengan tatapan seperti itu, sang Wanita mengabaikan Nanda. Wajahnya masih tanpa ekspresi ketika membuka pintu yang dikunci.


"Udah 24 jam, kamu bisa keluar sekarang."


Suara perempuan itu sangat tegas, seolah tidak memiliki ruang untuk bernegosiasi apapun. Nanda tidak mempermasalahkan sikap tidak ramah itu. Tanpa mengatakan apapun, ia bangkit berdiri. Meraih ransel dan mengenakannya, lalu berjalan di belakang tentara wanita yang menuntunnya.


Keduanya keluar dari bangunan satu lantai bobrok yang dibuat sebagai penjara, menuju ke gedung besar pencakar langit yang berdiri kokoh bak pilar yang kuat. Itu adalah Mall mewah sekaligus Apartemen yang sangat ingin Nanda jarah.


Sayangnya, ia tidak memiliki niat itu kembali.

__ADS_1


Menaiki tangga satu persatu menuju pintu kaca yang terbuka lebar, sepasang hazel menemukan Hall besar, dengan banyak orang berlalu-lalang. Oh, seandainya orang-orang tidak berpakaian kumal dan banyak tentara berkeliaran, Nanda akan mengira ini adalah Mall pada hari libur. Padat akan aktivitas dan ramai oleh suara-suara. Namun sayangnya, ekspresi setiap orang yang dilaluinya tidak semeriah keberadaan kerumunan itu.


Semua orang berwajah suram, murung dan melakukan sesuatu tanpa senyuman. Pandangan orang-orang waspada melihat sekitarnya, seolah takut seseorang akan mencuri harta mereka. Bahkan anak-anak kecil yang sedang bermain, terlihat berusaha agar tidak menimbulkan keributan. Tidak berlarian atau mencoba berisik seolah tahu bahwa mereka harus menahan diri bila ingin diperlakukan dengan baik.


Toko-toko yang seharusnya berisi barang tertentu, kini ditempati beberapa orang. Tidak sesuai dengan fungsinya, setiap sekat toko menjadi tempat dimana orang-orang berbagai usia berkumpul bersama, duduk di atas lapisan tipis kain atau bahkan berbaring di lantai marmer secara langsung.


Kebanyakan orang di Hall bertubuh kurus, kumal dan kotor. Jelas kekurangan gizi. Namun Nanda berpura-pura tidak memperhatikan mereka. Hanya melirik sekilas, tetapi cukup untuk melihat keputusasaan orang-orang ini.


"Kak, sekarang tanggal berapa?" tanya Nanda--akhirnya buka suara ketika tentara yang mengantarnya terlihat tidak ingin menjelaskan apapun.


Tentara itu melirik singkat Nanda, lalu kembali menatap ke depan. "20 Maret."


20 Maret ... ini sudah masuk bulan Maret?! Oh astaga ... ia tidur selama 3 minggu dan bukan 2 minggu?! Nanda benar-benar syock. Pikirannya kusut. Namun kakinya tetap melangkah mengikuti tentara dengan ekspresi datar, seolah tidak terpengaruh dengan informasi yang baru saja ia dapatkan.


3 minggu ... bagaimana keadaan Mamanya? Ia meninggalkan wanita itu seorang diri di rumah yang terkunci rapat. Dengan meninggalkan banyak makanan dan surat, Nanda percaya Dewi akan terbangun sebagai pengguna kekuatan. Bagaimanapun, fisik wanita itu sendiri cenderung kuat dan ia juga ketat agar Mamanya tidak mengkonsumsi air hujan. Nanda juga percaya, hal pertama yang dilakukan Ganesha ketika menyadari ada sesuatu yang tidak beres adalah mencarinya ke rumah. Itu sebabnya ia tidak masalah meninggalkan Mamanya.


Namun tetap saja ... 3 minggu hilang, Nanda bisa membayangkan betapa gilanya Ganesha akan mencarinya. Sungguh, bertahun-tahun bersama, Nanda sangat mengetahui sikap Ganesha. Pria itu memang terlihat cuek, tetapi sebenarnya sangat perhatian dan bahkan cenderung posesif. Bahkan ketika Nanda berkumpul untuk mengurus klub yang dibuatnya, Ganesha akan cenderung gelisah. Oh, bila bukan karena kesibukan suaminya, Nanda yakin Ganesha akan selalu ikut dengannya untuk kegiatan klub.


Yah ... sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur, ia tetap akan melalukan rencana awalnya. Biarkan Ganesha kebakaran jenggot, sekali-kali membuat suaminya gila juga terkadang perlu.


Keduanya berjalan melewati Hall, lalu naik dari tangga menuju lantai dua. Ketika Nanda melihat suasana yang berada di lantai 2, ia mengerjap beberapa kali.


Berbeda dengan lantai 1 yang suram, lantai 2 cenderung ramai dan benar-benar hidup. Beberapa tentara berkeliaran, tetapi banyak warga sipil yang membentuk kelompok untuk saling berdiskusi dan bercengkrama. Bahkan hampir semua area, sejauh mata Nanda memandang, orang-orang menggelar kain dan menjajakan barang-barang mereka.


Ini sangat mirip pasar, tetapi sayangnya Nanda tidak berhenti di sini. Tentara wanita itu membawanya ke area lantai 3.


Area lantai 3 terlihat sedikit lebih tenang. Di sini beberapa warga sipil membentuk barisan antrian untuk beberapa toko yang telah disulap menjadi kantor. Beberapa plank bertuliskan masing-masing fungsi terpampang pada beberapa area di lantai 3.


Tempat Penyewaan kamar dan area berjualan, tempat pendaftaran pekerjaan di luar tembok, tempat pendaftaran pekerjaan di dalam tembok, tempat pertukaran, dll.


Lantai 3 benar-benar berubah menjadi area perkantoran dimana semua hal dimanagement. Lalu tentara wanita membawa Nanda ke area registrasi masuk. Di sana, antrian tidak terlalu panjang.


"Terima Kasih," Nanda berujar ketika melihat wanita itu hendak pergi. Sosok itu hanya menoleh, mengangguk singkat, lalu benar-benar berbalik untuk pergi.


Nanda tidak mempermasalahkan tingkah itu. Ia masih fokus mengantri seraya memperhatikan sekitarnya. Terutama, orang-orang yang satu barisan dengannya dan berada di depan sana.


Banyak orang yang telah melakukan pendaftaran, akan bertanya apakah ada nama kerabat mereka. Wanita cantik yang menjadi costumer service mengatakan bahwa selama mereka membayar, mereka akan berusaha mencari nama dari tumpukan data untuk mengecek apakah memang ada atau tidak orang yang dicari di pangkalan ini.


Banyak yang menyerah prihal itu. Memilih untuk berbalik dan mencari keluarga mereka sendiri dengan mengelilingi area pangkalan.


"Halo, bisa sebutkan nama lengkap, umur, dan status?" wanita registrasi yang duduk dibalik meja komputer berujar ramah, siap mengetik untuk menginput data.


"Ananda Sartika, 16 tahun, pelajar."


Suara ketikan terdengar, lalu beberapa detik kemudian, wanita itu menyerahkan selembar kertas karton seukuran kartu nama yang telah di print dan diberikan cap kepadanya. Terdapat barcode pada lembar kertas itu.


"Ini identitas Anda, untuk informasi lebih lanjut, silahkan berjalan ke bagian informasi," ujarnya seraya menunjuk ke area dimana beberapa meja tersusun rapi dengan orang-orang yang terlihat menjelaskan sesuatu kepada para pendatang baru.


Nanda mendekati tempat itu dan menemukan satu meja kosong. Ia duduk di sana dan disambut oleh seorang pria tua yang ramah.


"Halo, boleh saya melihat kartu identitas Anda?"


Nanda tanpa ragu menyerahkannya dan sosok itu mengscan kartunya. Suara Bip terdengar dan ia bisa menebak bahwa identitasnya terpampang dibalik layar komputer itu.


"Ananda ya?" Nanda mengangguk. "Karena baru memasuki pangkalan hari ini, saya akan langsung saja menjelaskan."


"Bagi pendatang, makanan geratis hanya diberikan untuk 2 hari pertama, hanya untuk sarapan dan makan malam. Setelah 2 hari, makanan harus dibayar dengan poin. Untuk mendapatkan poin, kamu bekerja atau menukar barang yang kamu miliki ke bagian penukaran barang. Untuk tempat tinggal, ada area bawah lantai 1 dan basemant yang geratis, kau bisa mengurusnya di lantai 1 dengan tentara yang bertugas. Mereka akan mengantarmu ke area yang masih kosong. Tetapi bila ingin tempat yang lebih baik, ada kamar yang dibayar perhari, kau bisa mengurusnya di sana, bagian penyewaan."


Pria tua itu menunjuk ke satu arah dimana beberapa orang terlihat mengantri panjang.


"Apakah ada pertanyaan?"


Pria itu mengakhiri penjelasan singkatnya, memberikan Nanda ruang untuk bertanya. Tanpa ragu, ia menanyakan hal yang sangat ingin diketahui.


"Aku mencari kakakku, di mana area untuk mencari seseorang?" oh, akan sangat aneh bila ia mengaku sahabat Yulis kan?


"Kamu bisa bertanya pada saya, saya akan mencari datanya di database kami, tetapi Anda harus membayar 10 poin."


"Bila aku tidak memiliki poin?"

__ADS_1


"Anda bisa menukar dengan beras 2kg."


Akan sangat aneh bila di dalam tasnya memiliki beras ... yah, di dalam ruangannya memiliki banyak makanan dan bahkan beberapa ton beras, tetapi ia akan dicurigai bila memang benar-benar memilikinya.


"Bisa dengan hal lain? Aku memiliki 2 bungkus kapas dan beberapa obat."


Petugas itu tidak langsung menolak. "Boleh saya melihatnya?"


Tanpa ragu Nanda mengeluarkan 2 bungkus kapas, sebotol alkohol dan sekotak plester penurun panas.


"Ini lebih dari cukup," petugas itu tanpa ragu mengambil sebungkus kapas dan sebotol alkohol. "Sisanya Anda bisa menyimpannya atau menukarnya dengan poin."


Sangat jujur ...


Nanda puas dengan petugas ini. Jelas, ia tidak mencoba mengambil keuntungan dari ketidak tahuan pengungsi baru.


"Bisa aku menukar poin di sini?"


"Ya," pria itu mengangguk. "Apakah semuanya mau diubah menjadi poin?"


Nanda mengangguk dan tanpa menunda waktu, pria itu memanggil tentara yang lewat. Menyerahkan barang dan meminta ke bagian penukaran poin. Tentara langsung pergi menjalankan perintah sementara pria tua itu kembali di depan komputer, mengetikkan nama lengkap Yulis dan membiarkan komputer mencari nama itu.


"Maaf, nama itu tidak ada di dalam database kami," setelah beberapa menit, pria itu bersuara. "Apakah ada nama lain yang ingin dicari?"


Nanda terdiam selama beberapa detik. "Apakah keluarga militer juga termasuk ke dalam pencarian nama itu?"


Pria itu mengangguk. "Nama yang diberikan bukan hanya untuk pengungsi, tetapi juga militer dan kerabatnya yang berada di pangkalan ini."


Dengan kata lain, Yulis tidak ada di pangkalan ini ... oh, Nanda tidak bisa menahan diri dari kecewa. Tujuannya datang adalah untuk menemukan sahabatnya, bukan berlindung.


"Apakah nama mereka akan tetap ada di pangkalan bila mereka sudah meninggalkan pangkalan?"


"Sistem akan otomatis menghapus data bila tidak ada pembaruan aktivitas selama lebih dari 2 minggu dari pemilik akun. Jadi, bila data sudah terhapus, mereka harus melakukan registrasi ulang."


Pembaruan aktivitas, Nanda bisa menebak bahwa yang dimaksud adalah penambahan dan pengurangan poin. Setiap akun memiliki poin tertentu ...


"Bisa kau memberitahuku bila ada seseorang bernama Isabella Yulis datang?"


Pegawai itu tersenyum. "Tidak, tetapi kami bisa memberitahunya keberadaanmu bila dia bertanya tentangmu."


Nanda canggung. Ia tidak tahu apakah Yulis akan mencarinya atau tidak bila untuk mendapatkan informasi haruslah membayar. Apalagi 10 poin ... bila dilihat dari apa saja yang diambil petugas, jumlah itu terbilang besar.


Nanda menghela napas di dalam hati lalu mendapati tentara yang bertugas menukar barangnya telah kembali. Sosok itu membungkuk, membisikkan sesuatu, lalu berdiri tegak di belakang Petugas.


"Dari barang-barang itu, Anda menukar 45 poin. 10 poin diambil untuk informasi jadi total sekarang poin adalah 35. Untuk mengecek poin, setiap lantai memiliki scan, Anda bisa mengeceknya di sana."


Petugas itu mengembalikan karton kertas seukuran kartu nama ke tangan Nanda.


"Aku mengerti."


"Sebelum itu, boleh saya bertanya?" Nanda hanya diam, menatap petugas itu untuk meneruskan kalimatnya. "Dari mana Anda mendapatkan barang-barang itu? Maaf bila terkesan menyelidiki, tetapi kami memerlukan banyak alkohol dan beberapa keperluan medis, jadi kami memerlukan informasi."


Nanda 100% yakin militer sudah bergerak untuk menjarah beberapa hal di sekitar pangkalan tetapi masih belum berani untuk menyerbu tempat beresiko seperti Mall dan juga rumah sakit.


Oh, ini di tengah kota yang berarti populasi zombie sangatlah banyak. Untuk mereka yang tidak mengerti bagaimana zombie bisa mendeteksi keberadaan manusia, akan menganggap zombie punya indra keenam dan cenderung mengerikan.


Padahal zombie mendeteksi manusia dari panas dan suara. Mereka bisa merasakan suhu tubuh makhluk hidup dalam rentan jarak tertentu. Namun bila keberadaan mereka terhalang dinding atau dalam jarak sekitar 3 atau 4 meter dan tidak berisik, zombie akan berubah menjadi buta dan hanya mendengar suara yang cenderung besar sebagai tujuan perjalanan mereka.


Lalu pengguna kekuatan, seperti dirinya, cenderung memiliki suhu tubuh yang rendah. Itu sebabnya hanya zombie yang berjarak dekat saja yang akan menyadari keberadaannya. Namun, premis ini hanya berlaku untuk zombie level rendah. Bila zonbie telah berevolusi, mereka bahkan bisa mendeteksi keberadaan manusia meski mereka berada di balik beton.


Sayangnya, Nanda tidak ingin membocorkan informasi yang dimilikinya ini bila tidak mau dicurigai.


"Aku mengambilnya di beberapa rumah kosong."


Petugas itu terlihat terkejut mendengarnya, tetapi beberapa detik kemudian mengerti. Oh, akan aneh bila sosok ini berani mencuri di tempat-tempat besar yang berkemungkinan menyimpan banyak zombie.


"Oke, terima kasih infonya," petugas itu tersenyum. Mengangguk ke arah Nanda. Nanda juga tidak berlama-lama kembali. Langsung berjalan ke area pertukaran dan berniat menukar pakaian dan beberapa makanan yang dimilikinya.


Nanda tidak ingin memperlakukan dirinya dengan mengenaskan. Jadi ia berencana untuk mengambil kamar untuk beberapa hari ke depan seraya menunggu Yulis. Sayangnya, menyewa kamar memerlukan poin dan ia masih harus bersikap rendah dan tak terlihat bila ingin bergerak dengan bebas.

__ADS_1


Yah ... itu berarti, ia harus bekerja.


__ADS_2