
Tiga sosok, dua lelaki dan satu perempuan, berjajar rapi di sebuah halaman kecil yang rapi. Mereka berdiri tegap, tidak bergerak bak patung. Bila bukan karena pakaian compang-camping dan kulit yang agak kelabu, Nanda yakin akan mengira mereka adalah manusia ...
Berdiri di depan tiga zombie level 5 ini membuat Nanda merinding. Ia agak takut, bukan karena mereka menyeramkan, tetapi ini lebih seperti insting. Bagaimanapun, ketiga zombie lebih kuat, meski mereka terlihat jinak karena perintah Ganesha, Nanda tidak bisa menahan bulu kuduknya yang berdiri.
Karena itu, Nanda berdiri agak menjaga jarak. Ia meminta Ganesha mendatangkan zombie ke sini dan tidak menyangka tiga zombie level 5 lah yang datang. Meski tubuh itu kaku, tidak bergerak si incipun, tetapi sepasang mata hitam yang penasaran tidak henti bergerak untuk memandang Nanda. Seolah-olah bertanya ... apa yang dilakukan makanan ini?
Nanda menelan liur paksa, mengabaikan perasaan ditatap sebagai makanan dan mulai menjalankan kemampuannya. Para zombie sepertinya menyadari hal ini. Mata mereka membulat, tetapi tetap tidak bergerak. Dengan patuh, ketiganya membiarkan Nanda menggunakan kemampuan air, memeriksa tubuh mereka selama hampir setengah jam ...
"Itu ... Sayang, bisakah kau memintanya untuk memakan ini?" tanya Nanda seraya mengeluarkan dendeng. Oh, Nanda ingin mengeluarkan buah, tetapi mengingat bahwa zombie adalah karnivora dan sepertinya bukan omnivora ... yah, daging yang sudah di masak, apakah mereka lebih bisa menerimanya?
Ganesha, yang sejak tadi berdiri di belakang Nanda, mendengar sosok itu memanggilnya. Pria jangkung membungkuk, sepasang iris hitam menatap sang wanita. Berkdepi dan jelas tidak mengerti apa yang diinginkan kehangatan kecilnya.
Nanda tersenyum. Ia menunjuk dendeng, membuat gerakan makan lalu menunjuk ke salah satu zombie laki-laki. "Makan, bisakah kau membuatnya memakan ini?" ulang Nanda, dengan lembut meminta. Bagaimanapun, wanita ini sudah terbiasa bersabar dengan orang lain, apa lagi dengan suaminya sendiri? Kenapa ia tidak bisa bertoleransi untuk mengulang dan menjelaskan sampai suaminya sendiri mengerti?
Ganesha mengerti. Ia menerima dendeng yang diberikan Nanda, lalu memberikan sepotong daging itu kepada salah satu zombie. Pria jangkung itu menggeram dan zombie di depannya bergerak. Mengambil dendeng dan memakannya tanpa keraguan.
Melihatnya, Nanda dengan buru-buru menggunakan kemampuan. Memeriksa tubuh zombie yang memakan dendeng. Ia bisa melihat penolakan tubuh zombie itu, jelas tidak merasa senang dengan makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Namun zombie tetap menelan. Ketika makanan masuk ... hal ajaib terjadi. Daging meleleh begitu saja, seolah terkorosi, lalu terserap ke dalam tubuh dan bercampur dengan daging dan darah hitam zombie ...
Nanda mengangkat alisnya, tetapi tetap mengamati ...
Ia satu persatu memberikan para zombie makanan sambil terus mengawasi perubahan tubuh para zombie. Hal-hal ini tidak bisa diamati dengan kasat mata. Bila bukan karena kontrol kemampuan airnya yang meningkat pesat, Nanda tidak mungkin menyadarinya. Ia bereksperimen memberikan beberapa jenis makanan. Sayuran atau daging. Digoreng, direbus atau mentah. Ia bahkan meminta Ganesha memerintahkan beberapa zombie berburu mutan, meminta ketiga kelinci percobaan untuk memakan daging mutan ...
Pengamatan selama hampir satu bulan membuat wajah Nanda berseri-seri dan merasa sangat luar biasa. Sepasang hazel itu sangat fokus, berkilau penuh dengan antusias. Benar-benar lupa dengan ketakutannya di awal. Oh, masihkah ia takut dengan penemuan baru ini?
Makanan manusia, baik sayuran atau daging, dimasak atau mentah, tidak memberikan efek negatif pada tubuh zombie. Tetapi rasanya jelas tidak enak bagi mereka. Jadi, makanan manusia bisa dimakan oleh zombie, tetapi karena tidak memiliki efek apapun ketika dimakan, zombie tidak suka memakannya.
Sebaliknya, untuk daging segar, Zombie terlihat lebih bersemangat. Mereka jelas menyukai rasanya dan dari pengamatan, Nanda menemukan bahwa darah dan daging segar juga memiliki efek yang baik bagi tubuh zombie. Daging segar mutan, mengalirkan energi dan diserap oleh tubuh zombie dengan baik. Beberapa Energi yang berlebihan, akan disimpan ke dalam nukleus ... jadi, dari sanalah sumber energi yang selama ini diperebutkan manusia. Juga, dari ini lah Nanda tahu bahwa zombie tidak hanya sekedar 'makan'. Alasan kenapa mereka tidak menyukai bangkai sudah dipastikan karena energi yag terkadung di dalam bangkai sudah tidak ada lagi.
Zombie jelas tidak memiliki persepsi rasa ... jadi, tidak peduli seenak apapun makanan dimasak, selama tidak ada kandungan energi di dalamnya, zombie akan mendefinisikan makanan itu 'tidak enak'.
"NesNesku sayang," Nanda menyeret Ganesha masuk ke dalam rumah, lalu menuntun zombie itu untuk duduk di sofa tepat di sampingnya. "Kau lapar?" tanyanya seraya mengulurkan lengannya sendiri ke arah mulut Ganesha.
Sepasang mata hitam itu berkedip. Suaminya jelas mengerti, tetapi sosok itu tidak bergerak. Menyadari ini, alis Nanda terpaut. Selama beberapa hari, ia menyadari bahwa zombie memerlukan 'makanan' agar mereka bisa bergerak ... makanan juga membuat tubuh zombie bisa lebih terkendali dan meredam dingin mereka. Tubuh zombie, secara bertahap akan tidak fleksibel dan semakin kaku bila mereka semakin lama tidak makan.
Tubuh Ganesha sangat keras dan dingin, rasanya seperti balok es batu. Bila bukan karena Nanda terbiasa membuat es dengan kemampuannya dan ia cukup kebal dengan dingin, ia yakin tidak akan tahan untuk bersentuhan kulit dengan suaminya sendiri.
"Sayang, sudah berapa lama tidak makan?" Nanda bertanya dengan sabar. Mereka sudah bersama selama satu bulan, ia juga mengajari Ganesha untuk berbicara. Beruntung, suaminya sangat pintar. Meski IQ masih sama seperti seorang anak kecil, setidaknya Ganesha sudah bisa berbicara, itu menyebabkan mereka bisa berkomunikasi dengan baik.
Ganesha merajut alisnya. Terlihat berpikir dan menghitung di dalam hati. Namun sepertinya ia tidak bisa mengingat, jadi hanya satu kata yang ke luar dari belahan bibir tipis yang pucat.
"Lama."
Suara itu berat dan serak, bernada rendah dan sangat jantan. Setiap kali mendengar suara Ganesah yang berbeda, Nanda merasa wajahnya memanas. Oh, ia suka mendengarnya. Ini sangat ... sexy. Tetapi mengingat mental suami yang seperti anak kecil, ia harus menampar wajah sendiri. Hal ini membuat hasrat sexualnya jatuh ke titik beku dalam persekian detik.
Lama ... yang entah berapa lama. Nanda mengambil kesimpulan, menghela napas dan menggelengkan kepala. Suaminya tidak makan sama sekali sejak mereka bertemu ... hal ini membuat Nada khawatir. Namun menyadari Ganesha sepertinya tidak ingin menggigitnya ...
"Sayang," dengan kemampuan angin, Nanda langsung menyayat lengannya sendiri. garis merah memanjang terlihat, lalu secara bertahap, cairan merah keluar. "Makan," ucapnya lembut lalu mengarahkan lengannya yang terluka ke mulut Ganesha.
__ADS_1
Sepasang iris hitam itu menatap Nanda, tetapi kali ini tidak menolak. Bibir yang dingin terbuka, lalu mulai menjital lengan yang berdarah. Sentuhan dingin itu membuat merinding, tetapi Nanda masih mempertahankan ekspresinya. Tersenyum lembut dan memandang setiap pergerakan Ganesha dengan teliti.
Suaminya sendiri juga memperhatikan. Ia dengan hati-hati menjilat, melihat Nanda sepertinya tidak kesakitan, agak ragu, zombie itu membuka mulutnya lalu menghisap darah yang tidak lagi keluar ... tindakannya agak hati-hati. Sepasang mata hitam tidak lepas memandang wajah Nanda. Seolah mencari tahu kapan waktunya untuk berhenti dan takut bahwa manusia perempuan ini merasa tidak nyaman.
Oh, Nanda sudah pernah mengalami tangan yang terputus dan organ tubuh yang semuanya hampir hancur dan remuk redam, tergores dengan sedikit darah yang keluar bukan masalah. Meski ia bisa merasakan beberapa virus mulai masuk dan berkeliaran di aliran darahnya, Nanda menahan virus-virus itu sambil terus melakukan regenerasi. Jangan sampai suaminya tidak kenyang hanya karena ia kehabisan darah ...
Nanda mengerjap. Mendadak menyadari bahwa darahnya menghilang lebih cepat ketimbang darahnya yang kembali. Hal ini membuat Nanda mengeluarkan nukleus dan mulai menyerap energi untuk memastikan pasokan darahnya cukup untuk membuat Ganesha kenyang. Sayangnya, ia masih kalah. Nanda bisa merasakan kepalanya yang mulai pusing dan tubuh yang kesemutan. Lalu ketika ia berkedip, langit-langit yang familier menjadi hal pertama yang dilihatnya.
Alis Nanda terajut. Ia mengubah posisi berbaring menjadi duduk, lalu menunduk memandang pakaian yang penuh dengan noda hitam berbau busuk. Nanda dengan jelas juga merasakan aroma karat di dalam mulutnya. Oh, sepertinya ia pingsan? Lalu karena kesadaran menghilang, tubuh langsung mengeluarkan virus?
Nanda menghela napas dan menatap sekelilingnya. Ia berada di kamar, jelas Ganesha lah yang membawanya ke sini. Ia juga mendapati kedua tangannya memegang beberapa nukleus berwarna biru gelap hingga ia tidak bisa menutup tangannya sendiri karena terlalu banyak nukleus yang menumpuk.
Menyimpan semua nukleus ke dalam ruangan, Nanda bangkit berdiri dan melepaskan pakaian yang melekat pada tubuh. Tanpa ke kamar mandi, ia menggunakan kemampuan air untuk membersihkan tubuhnya sendiri. Oh, ia tidak suka aroma busuk ini. Benar-benar tidak menyenangkan. Setelah selesai mandi, wanita berambut panjang mengenakan kaos dan celana jins, lalu keluar dari kamar.
"Nda," suara berat yang familier langsung mengelitik pendengaran. Sepasang mata hitam yang memancarkan kepanikan dan kecemasan menyambut pegelihatan Nanda. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya pelan. Setiap suku kata agak terbata-bata, kaku. Tetapi jelas dan dimengerti.
Nanda tidak bisa menahan senyuman. "Tidak apa-apa, sayang, aku cuma sedikit lapar" ucapnya lembut lalu mengulurkan sebelah tangan untuk mengusap kepala suaminya. Namun di detik itu juga, Nanda kaku. Pergerakannya terhenti begitu merasakan perbedaan.
Ganesha masih pucat seperti biasa, juga dengan kulit yang keras, tetapi suhu tubuhnya jelas lebih hangat. Bahkan sedikit lebih panas ketimbang suhu tubuh Nanda.
"Nda?" menyadari keanehan manusia perempuan di depannya, Ganesha kembali cemas. "Aku sudah mencari buah, Nda makan," ucapnya lalu menyerahkan beberapa mangga, pepaya, pisang ... ucapan dan tindakan Ganesha membuat Nanda kembali sadar dari lamunannya. Sepasang mata itu mengerjap, lalu beberapa saat kemudian, terkekeh dengan sesajen yang diberikan suaminya.
"Terima kasih," ucap Nanda senang seraya membawa semua buah ke ruang tamu. Nanda mengambil pisang dan memakannya tanpa ragu. "Sayang, kamu ... kamu merasa lebih hangat?" tanyanya. Tubuh Ganesha tidak lagi dingin, ini jelas efek dari darahnya. "Apakah rasanya lebih nyaman?"
Ganesha mengangguk sebagai jawaban, tetapi beberapa saat kemudian, sepasang iris gelap terlihat sedih. Sebelah tangan yang kosong digenggam, agak erat tetapi tidak membuat Nanda merasa sakit sama sekali. "Nda ... tidak ... makan ... Nda lagi," ucapnya terbata-bata.
Tidak mau meminum darahnya lagi ...
Nanda menelan pisang yang berada di dalam mulutnya. "NesNes sayang, bila tidak meminum darahku, kamu akan memakan daging mutan?"
Ganesha, tanpa ragu, mengangguk.
Nanda mengernyitkan alisnya. Ia pernah bertanya apakah Ganesha pernah memakan manusia, zombie kesayangannya ini menggelengkan kepala. Ganesha tidak pernah memakan manusia, tetapi gantinya, ia selalu makan hewan ... entah yang sudah bermutasi atau tidak. Namun energi yang terkadung di dalam hewan jelas berbeda dengan energi yang terdapat pada darah manusia yang memiliki kemampuan khusus.
"Sayang, jangan memakan hewan, lebih baik kau meminum darahku saja, okay?"
Ganesha mengernyitkan alis. "Tidak."
Menghela napas, sebelah tangan yang bebas mengusap kepala Ganesha. "Sebelumnya, NesNes sangat lapar?"
Dari suhu tubuh yang bahkan mencapai titik beku dan sekarang, Nanda bisa menebak seberapa kelaparan suaminya ini ...
Kepala itu mengangguk, lalu beberapa deitk kemudian, sepasang iris gelap terlihat sedih. "Maaf."
"Tidak apa-apa," Nanda buru-buru menyangkal. "Nah, aku pingsan karena Ganesha meminum terlalu banyak ... itu tidak berbahaya sama sekali. NesNes tidak perlu khawatir," tersenyum, wanita berambut panjang itu mecoba membujuk zombie kesayangannya. "Selama NesNes meminum darahku tidak sebanyak sebelumnya, aku tidak akan kenapa-kenapa."
Ganesha terlihat ragu. "Benarkah?"
__ADS_1
"Tentu saja," Nanda mengangguk. "Sayang, coba lihat tubuhku? Terlihat baik-baik saja kan?" ucapnya, merentangkan lengan yang semula terluka, kini bahkan tidak memperlihatkan bekas luka. Ganesha memperhatikannya, masih ragu tetapi pada akhirnya mengangguk.
"Nah, tidak apa-apa menghisap darahku, asalkan tidak terlalu banyak ... NesNes cukup meminum darahku beberapa hari sekali atau seminggu sekali, itu tidak akan membuatmu menjadi sangat kelaparan--"
"Tidak," Ganesha menyela. Kedua tangan yang masih menggenggam Nanda, agak kaku dan mengencang. "Berbahaya."
"Berbahaya?"
Ganesha mengangguk, tetapi zombie itu tidak membuka mulut untuk menjelaskan. Hal itu membuat Nandan berpikir ekstra, mencoba menerjemahkan apa maksud Ganesha berbahaya ...
"Sayang," Nanda menatap suaminya dengan serius. Ia tidak mengerti apa maksud dari berbahaya, tetapi yang pasti, ia tahu suaminya menolak. "Di luar sana, masih banyak zombie dan manusia yang lebih kuat, kau tahu itu kan?"
Ganesha mengangguk.
"Bagaimana bila mereka menyakitiku?"
Sepasang iris gelap itu langsung memerah, terlihat berbahya dan ganas. "Tidak!" ucapnya lantang. "Nda, aku. Lindungi!"
Nanda menelan liur paksa. Mencoba menahan perasaan hangat yang menggelitik hatinya. "Oh, tetapi mereka lebih kuat ... NesNes akan kalah, aku akan sakit ... ."
"Tidak!"
Alis Nanda terangkat. "Tidak?"
"Aku, lebih kuat!"
Nanda mengangguk kalem. Terlihat sangat polos dan setuju. "Ya, sayangku lebih kuat, tetapi bagaimana bila mereka lebih kuat?"
Ekspresi wajah Ganesha berubah. Mendadak ia terlihat kusut, tetapi kemarahan jelas masih terlihat.
"Nah, itu sebabnya NesNes harus lebih kuat, benar?" Tanpa ragu, Ganesha mengangguk. "Salah satu cara agar NesNes menjadi kuat, yaitu dengan meminum darahku."
Kali ini, Ganesha tidak mengangguk. Alis pria itu terpaut dengan sepasang iris yang fokus menatap Nanda. Nanda tersenyum, tidak berhenti untuk menjelaskan.
"Sayang ... darahku bisa membuatmu lebih kuat, bila kau meminumnya, kau akan lebih kuat dan bisa melindungiku, benar? Lagi pula, selama kau meminumnya tidak banyak, aku tidak apa-apa, tidak akan sakit atau terluka sama sekali," ujarnya lembut. Namun ucapan itu hanya membuat Ganesha merasa ragu, tetapi tidak bisa menyangkal. Oh, sepertinya apa yang dikatakan Nanda memang ... benar? Ia memang merasa lebih hangat dan bertenaga ketika meminum darah Nanda ... tetapi melihat Nanda pingsan, Ganesha tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
"Sayang ... kau hanya perlu meminumnya dua kali seminggu, itu tidak banyak, aku tidak akan kenapa-kenapa," Nanda tetap tidak menyerah membujuk. Nadanya sangat lembut, menggoda Ganesha dengan alunan yang sedikit memohon. "Bila NesNes lebih kuat, NesNes akan melindungiku dengan baik," tambahnya.
Zombie ini tidak langsung setuju. Ia menatap Nanda dengan ragu-ragu, berpikir selama hampir setengah jam ... penuh dengan keheningan. Nanda bahkan berhasil menghabiskan semua sesajen yang diberikan Ganesha sebelum akhirnya, zombie laki-laki itu mendadak mengangguk. "Oke."
Nanda pada awalnya tidak 'ngeh' dengan apa yang dimaksudkan suaminya dengan kata itu. Namun melihat ekspresi kusut itu ... ia langsung tahu apa maksud Ganesha. Hal itu membuatnya tertawa. Oh, sangat lama sekali memikirkan permintaannya. Tetapi mendapati bahwa Ganesha pada akhirnya menyerah, Nanda sudah cukup puas.
Masalah makanan, kini sudah terpecahkan. Masalah bahasa juga sudah diselesaikan. Meski Ganesha masih terbata-bata ketika berbicara lebih dari dua kata, tetapi itu cukup untuk kamuflase. Selama suaminya tidak buka mulut atau menggeram, tidak mungkin ada yang bisa menebak bahwa ia adalah Zombie.
Menghela napas, Nanda menatap rumah yang telah ia tempati selama sebulan. Oh, sudah waktunya untuk ke luar menuju Pangkalan yang dipimpin tentara. Bagaimanapun, ia tidak bisa dengan egois berdiam diri tanpa kabar. Keluarganya sudah dipastikan khawatir, tetapi dengan keadaan Ganesha sekarang, tidak mungkin untuk kembali ke Pangkalan 1 AD. Karena itu, lebih baik ia memberikan kabar. Oh, ia bahkan belum pernah sekalipun menghubungi Papa dan Mamanya yang berada di pangkalan yang berbeda ...
Nanda meringis. Mendadak, ia merasa sebagai anak nurhaka. Ada terlalu banyak hal terjadi, Nanda benar-benar lupa untuk menghubungi mereka ... yah, saat sampai di Pangkalan yang beroprasi di bawah kemiliteran, Nanda akan mencoba menghubung Mertuanya dan meminta mereka untuk menyampikan salam kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Semoga saja ketika ia menghubungi, keluarga Wijaya tidak mengamuk karena dirinya yang jelas-jelas kabur dari rumah ...
Ah, benar-benar. Ada terlalu banyak PR yang harus ia selesaikan.