
Saat matahari belum sepenuhnya muncul, Nanda sudah membuka mata. Udara dingin pagi hari menyelinap dari jendela mobil yang terbuka, membuat wanita berambut panjang mereasa nyaman. Perpaduan antara dingin dan embun di pagi hari adalah energi yang paling kaya dan mudah diserap ke tubuh. Inilah salah satu alasan ia sangat menyukai pagi hari.
Ganesha juga mengetahui manfaat ini, kerena itu, ia menurunkan kedua jendela mobil dan membiarkan tubuh Nanda terus menghisap energi di sekitarnya selayak spons yang menyerap air.
"Pagi," suara Nanda agak serak, menyapa sosok yang pertama kali terlihat saat sepasang hazel terbuka. Wanita itu tidak langsung bangun dari tubuh keras Ganesha. Masih tetap bermalas-malasan seraya menguap.
"Pagi," sang suami membalas. Tanpa ragu mengalirkan air hangat ke mulut Nanda dan membuat wanitanya tidak lagi kehausan.
Tidak ada lagi yang berbicara. Nanda sudah terbiasa dengan pelayanan zombie kelas atas ini. Ia juga tahu bahwa suaminya ternyata memiliki kemampuan mengcopy kemampuan lain yang dilihatnya. Sejauh ini, Ganesha hanya bisa menampung 8 kemampuan; Api, Air, Udara, Tanah, Kayu, Es, Petir, dan Dimensi Ruang. Ganesha harus melepaskan satu kemampuan bila ingin mengcopy kemampuan yang baru.
Satu persatu, orang-orang di pangkalan mulai bangun. Ketika menyadari bahwa matahari secara perlahan naik dan energi yang diserap sudah lebih dari cukup, Nanda bangun dari tubuh Ganesha. Ia melompat ke luar dari hummer. Berdiri dengan kedua kaki lalu mulai merenggangkan tubuh.
Seluruh tubuh Nanda terasa kaku dan pegal-pegal. Yah ... bagaimanapun, selama lebih dari 6 jam tidak berganti posisi dan tidak bergerak, mustahil bahwa tidak akan ada masalah pada tubuhnya. Tubuh Ganesha sekeras batu, tetapi hangat dan nyaman. Namun tetap saja akan membuatnya terbangun dalam keadaan pegal. Beruntung, Nanda memiliki kemampuan penyembuhan diri yang baik, bila tidak, pegal" pasti akan bertahan sampai sore.
Setelah merenggangkan tubuh selama beberapa menit, ia mera lebih baik. Rileks dan lentur. Terbebas dari belenggu kesakitan ketika bergerak. Suasana romantis tentu saja akan hilang bila ia jujur mengatakan perbuatan baik suaminya sangat mengganggu otot-otot tubuhnya yang menua--oke, Nanda memilih bungkam.
Yah ... posisi tidur ala drama-drama tv yang sangat romantis dan menyentuh, adalah salah satu faktor terbesar pasangan akan menderita keram dan ketidak harmonisan tubuh ketika bangun. Jangan percaya TV atau novel, bila dibiarkan seperti itu dalam waktu beberapa jam saja, Nanda yakin mereka pasti akan dibuat menderita.
Menatap sekeliling, Nanda mendapati suasana sudah mulai hidup. Beberapa orang berlatih, atau membuat kelompok untuk bergosip. Namun fokus Nanda adalah beberapa anak kecil yang begitu kurus dan kotor. Semua anak terlihat lesu. Menempel dengan orang tua mereka dan hanya tiga anak saja yang masih bisa berlari-lari dan saling mengejar satu sama lain.
Menghitung jumlah total anak kecil di kelompok ini, Nanda mendapati bahwa hanya ada 8 anak kecil dan dua batita saja di sini. Entah benar-benar anak kecil atau batita, tubuh mereka semua yang kurus hingga terlihat seperti lapisan kulit dan tulang membuatnya merasa tidak nyaman.
Mengambil sebungkus biskuit susu yang berada di dalam mobil, Nanda lalu berjongkok di dekat hummer, menunggu ketika sepasang anak kecil berlari dengan liar tanpa tentu arah. Ketika mendapati kedua anak lelaki dan perempuan itu berlari ke arah hummer, senyuman Nanda mengembang.
"Hey, Dek," Nanda memanggil, menatap sepasang anak kecil yang langsung menghentikan permainan mereka begitu mendapati seseorang memanggil. Senyuman di wajah kotor keduanya memudar. Sepasang mata cengkung saling memandang dengan ragu. "Ssst, sini," Nanda kembali memanggil, kali ini menunjukkan sebungkus biskuit susu yang masih utuh dan berkedip misterius, berpura-pura bahwa barang yang diasembunyikan ini adalah harta berharga .
Kedua pasang mata berubah cerah, tetapi gerakan Nanda menyuarakan bahwa ini adalah rahasia. Hati-hati, anak lelaki dan perempuan itu menatap sekelilingnya, mendapati bahwa semua orang dewasa sibuk dengan urusan masing-masing, keduanya belari menghampiri perempuan asing yang sangat cantik.
"Ada apa Kak?" anak perempuan memberanikan diri. Bertanya lebih dulu dengan suara kecil.
Nanda tersenyum lembut, memamerkan sebungkus biskuit susu di depan keduanya. Mata keduanya lebih cerah. Dengan rakus menatap biskuit dan bahkan menelan liur ketika melihat gambar merk yang berada di bungkusan itu. Benda di tangan kakak perempuan ini benar-benar menggoda.
Meski hanya sebungkus, tetapi jumlah di dalam biskuit susu terbilang banyak. Entah ada berapa keping, melihat ukurannya saja, sudah cukup membuat kedua anak kecil merasakan perut mereka menggerutu. Berdemo agar kepingan biskuit yang enak masuk ke mulut mereka.
"Kalin mau?"
Kedua kepala kecil mengangguk penuh antusias.
Nanda terkekeh. "Kakak akan memberikannya, tetapi ada syarat."
Sepasang kembar lelaki dan perempuan langsung terlihat ragu. Mereka saling pandang. Bagaimanapun, mereka sudah belajar dari pengalaman. Mereka tidak bisa benar-benar mempercayai orang asing. Berpindah dari satu pangkalan ke pangkalan lain, dengan mata mereka sendiri, mereka melihat orang dewasa menyiksa anak-anak kecil ...
"Kakak akan memberikan ini, tetapi kalian harus berjanji membagikan ini dengan anak-anak yang lain juga."
"Eh?" Keduanya bingung. Agak tidak percaya dengan apa yang didengar.
Nanda dengan sabar kembali mengulang. "Kalian bisa memiliki ini, kalian boleh memakannya, tetapi ... kalian harus berjanji untuk membagikan biskuinya ke teman-teman kalian, termasuk adik-adik yang di sana," Nanda tersenyum, menunjuk kedua batita yang masih digendong ibu mereka masing-masing.
"Itu ... cuma itu Kak?" Anak lelaki terlihat ragu.
Nanda tertawa dan mengangguk. "Tentu, hanya itu syaratnya. Nah, kalian mau janji?" tangan kanan terangkat, memamerkan jari kelingking. Senyuman di wajah kecil itu melebar, memamerkan sepasang lesung pipi yang memberikan kesan ramah dan menyenangkan.
Wajah kedua anak kecil itu memerah. Keduanya tersenyum lebar dan secara bergantian, mengaitkan jari kelingking mereka ke Nanda. "Kami janji Kak!"
Sangat menyadari ketidak sabaran sepasang anak kecil itu, Nanda menyerahkan bungkus biskuit. Keduanya bersorak bahagia. Mengucapkan terima kasih dan mulai berlarian penuh semangat menuju ke teman-temannya. Langsung saja, sepasang anak perempuan dan lelaki dikerumuni oleh 8 anak kecil. Namun keduanya tidak langsung memberikan ketika membuka biskuit. 10 anak kecil berjalan menghampiri batita yang masih digendong, memberikan biskuit kepada dua batita kurus dan kotor.
Setelah memberikan kepada kedua batita, 10 anak-anak mulai saling menyerbu sebungkus biskuit. Mengambil sebanyak mungkin di kedua tangan mereka yang kotor. 10 anak mendapatkan jumlah yang berbeda, tetapi jelas tidak ada yang memprotes dengan ketidak adilan itu. Bagaimanapun, yang terkuat mendapatkan yang terbanyak. Bila mereka ingin mendapatkan jatah yang lebih banyak, mereka harus lebih gesit dan kuat ketimbang yang lain.
"Lapar?" Ganesha yang sejak tadi berdiri di belakang Nanda, mendadak bersuara setelah melihat adegan itu. Nanda terkekeh, berbalik dan masuk ke dalam hummer tanpa mengatakan apapun. Ganesha mengikuti, ikut masuk dan tanpa ragu menutup pintu dan jendela.
__ADS_1
"Anak-anak itu sangat menyedihkan," mengeluarkan semangkuk bubur kacang, Nanda memakannya. Tubuh Ganesha yang lebih besar cenderung bersandar, agak menutupi wanitanya yang sedang sarapan. Orang-orang di kelompok ini hanya makan sekali sehari, tetapi Nanda tidak mungkin mau mengikuti ritmen ini. Meski ia bahkan bisa tidak makan selama beberapa hari, tetapi kebiasaan makan 3 kali sehari sekali plus cemilan tidak bisa dengan mudah dihilangkan. Karena itu, keduanya harus bersembunyi ketika makan.
"Itu sebabnya memberikan mereka biskuit?"
Nanda mengangguk, menghabiskan sarapan dalam waktu tercepatnya. "Ya, tetapi aku tidak bisa selalu memberikan mereka makanan dengan cuma-cuma."
"Hmm?"
Nanda terkekeh. Ia mencuci bersih mangkuk, menaruhnya kembali ke dalam ruangannya, lalu meminum seteguk air. "Lihat saja nanti, sayangku pasti akan mengerti."
Ganesha tidak mengatakan apapun kembali. Ia memilih untuk menurut dan melihat apa yang mungkin terjadi.
Tok. Tok. Tok.
Ganesha dan Nanda sama-sama menoleh. Sosok wanita berdiri di samping pintu Nanda, terlihat ragu dan cemas, mengetuk kaca dengan lembut. Wanita itu sangat mencolok dengan tubuh bersih dan terlihat lebih berisi. Ia berbeda dari yang lain, jelas diurus dengan baik dan tidak kekurangan makanan sama sekali. Sosok itu mundur beberapa langkah menjauhi hummer begitu menyadari dua orang di dalam sedang menatap. Agak kikuk, wanita cantik itu meremas kedua tangannya bergantian saat melihat Nanda keluar dari hummer.
"Halo, Kakak! Ada apa?" Nanda tersenyum ramah, menatap wanita bertubuh mungil yang lebih pendek darinya. Dalam sekali pandang, Nanda langsung mengenali siapa wanita ini. Teman SMA sekaligus sosok yang ia hindari, Luna.
"Halo, namaku Luna," Luna memperkenalkan dirinya. Sepasang iris menatap sosok yang lebih tinggi. Perempuan ini sangat ekspresif, terlihat imut dengan senyuman lebar dan sepasang lesung pipi yang menghiasi. Sekali pandang, kesan ramah membuat semua orang nyaman untuk bergaul. "Itu ... terima kasih udah ngasih biskuit untuk anak-anak tadi."
"Ah?" Nanda mengerjap, menatap polos ke arah Luna.
"Biskuit yang kamu kasih tadi ... orang tua anak-anak itu ingin berterima kasih, jadi mereka memintaku untuk mewakili rasa terima kasih mereka."
Nanda terkekeh. "Oh ... itu cuma biskuit Kak," ucapnya ringan.
"Tapi tetap saja, mereka sangat senang," Luna mengkulum senyuman. "Nah, boleh Kakak tahu siapa namamu?"
Untuk apa bertanya bila sudah tahu?
Nanda menahan diri untuk tidak mengatakannya. Luna jelas dirawat dengan baik, terlihat tidak pernah menderita sama sekali dengan tubuh yang masih terlihat bagus dan enak dilihat. Jelas posisinya tinggi di sini. Mungkin, Luna sudah menjadi pacar Raja? Bagaimanapun, Raja bahkan sampai rela ikut kuliah di luar negri untuk menyusul Luna, bagaimana mungkin sekarang keduanya tidak bersama padahal jelas satu kelompok?
"Namaku Nanda," Nanda tetap memperkenalkan diri. Tersenyum ramah dan diam-diam memperhatikan apa yang teman semasa SMAnya ini inginkan.
"Ahahaha ... Nama Nanda kan banyak Kak, memang nama Nanda pasaran sih."
Ahahaha ... sialan! Ia mengejek namanya sendiri pasaran! Nanda sakit hati, ia tahu namanya pasaran, tetapi sungguh, deledek orang lain bahwa namanya pasaran dengan mengucapkannya sendiri itu benar-benar berbeda sensasi!
"Nama Nanda itu bagus, makanya banyak orang yang mau pakai nama Nanda untuk anak mereka," Luna menyangkal dengan lembut. Membela nama Nanda hingga membuat si empunya nama meringis sedih di dalam hati.
"Benar, benar," Nanda mengangguk setuju. "Nama Nanda memang nama yang bagus, contohnya aku. Namaku Nanda, dan aku cantik, manis dan imut, walau namaku pasaran, setidaknya wajahku tidak pasaran."
Menggelengkan kepala seraya tersenyum geli, Luna benar-benar merasa terhibur dengan tingkah remaja di depannya. "Oh ya, Nanda dan ... umn suamimu," Luna melirik ke arah mobil, agak canggung mengatakan kata 'suami'. "Sudah sarapan? Bila belum, bagaimana bila ikut dengan Kakak?"
" ... ." Aku baru saja selesai sarapan, Kakak. Kamu benar-benar terlambat menawarkan!
Namun entah bagaimana Nanda merasa seperti anak kecil polos yang tidak mengenal kekejaman dunia, sedang dirayu oleh penjahat dengan sebuah permen ... Oke. Lupakan. Sejak kapan ia polos?
"Aish ... Kakak telat," Nanda agak menggerutu. "Aku dan Kak Ganesha sudah sarapan."
"Ah? Sudah ya?" Luna jelas terlihat kecewa. Namun pada akhirnya ia tetap tersenyum. "Sarapan apa? Lain kali gimana kalau--"
"Luna!"
Ucapan terhenti. Seorang pria memanggil dari kejauhan, berdiri tepat di samping Caravan. Luna dan Nanda sama-sama menoleh, sosok itu melambai, lalu membuat gerakan agar si empunya nama mendekat. Wanita berambut bob itu menghela napas, kembali menatap Nanda dan tersenyum meminta maaf.
"Oke, kalau gitu Kakak kembali ke mobil Kakak dulu, kalau ada apa-apa atau ada yang mau ditanya, Nanda tinggal ketuk saja mobil yang di sana," Luna menunjuk ke satu-satunya Caravan, sukses membuat Nanda berdecak iri di dalam hati.
"Siap Kak!" Membuat pose hormat ala Tentara, Nanda memasang ekspresi serius. "Kalau ada apa-apa, aku akan tanya ke Kakak!"
__ADS_1
Luna tertawa. "Bagus, kalau begitu Kakak kembali dulu, bye," ujarnya geli lalu melambai dan agak berlari kecil menuju caravan. Nanda menghela napas, masuk kembali ke dalam hummer dan menatap Ganesha dengan cemberut.
"Tidak bisakah kita mencuri Caravannya?"
Ganesha terdiam selama beberapa detik, sebelum akhirnya menjawab dengan suara rendah yang sangat serius. "Mau mencurinya atau mencari yang lebih baik?"
Mengambil susu dari dimensi ruang dan meminumnya, Nanda menyandarkan tubuh ke kursi. "Perlu berapa lama mencuri dan perlu berapa lama untuk mencari yang lebih bagus?"
Sang suami terkekeh. Ia mengusap kepala istrinya dengan lembut. "Bila benar-benar ingin mencurinya, malam ini bisa aku lakukan atau nanti siang."
Nanda diam, memandang serius Caravan yang terparkir beberapa meter dari hummer tempatnya. Mobil Caravan itu panjang dan hitam, bagian dalamnya agak sempit ... "Cari yang lebih baik saja. Bagaimanapun, aku adalah anak baik yang penyabar," putusnya.
Mencuri Caravan milik Raja dan Luna, itu terdengar sangat jahat. Meski Raja adalah mantan Bossnya dan Luna adalah teman sekelas, tetapi ia tidak berhutang apapun kepada mereka. Keduanya sudah berubah, bukan sepasang anak SMA yang dulu dikenal. Terdengar sangat kejam bila mereka yang jelas diundang dengan tangan terbuka justru diam-diam merampok.
"Benar-benar tidak ingin mengambil dari mereka?"
Nanda cemberut, melotot menatap suaminya. "Sayang, kamu sudah janji kan? Katanya mau ambil yang lebih bagus? Lebih mewah? Pokoknya lebih dari caravan yang di sana? Bila Caravannya lebih bagus, kenapa aku tidak bisa bersabar?"
"Yah ... aku akan segera mencarinya."
"Tidak akan mencuri dari kelompok ini?"
Ganesha mengkulum senyumannya. "Tidak."
.
.
.
Melangkah memasuki mobil, sosok jangkung bertopeng duduk pada kursi co-pilot. Perempuan yang akan menjadi supir menoleh, menatap suaminya yang baru saja diundang untuk memasuki Caravan. Mereka mengundang Ganesha untuk ikut berdiskusi. Untungnya, tujuan perjalanan mereka menuju pangkalan Hijau searah dengan Negara Z.
Namun sayangnya, Pangkalan Hijau berjarak masih sangat jauh, itu sebabnya mereka perlu menjelaskan beberapa hal. Dari peta yang terentang, mereka mulai menjelaskan tempat-tempat yang akan menjadi pemberhentian. Salah satu anggota kelompok Raja yang memiliki kemampuan 'Arah', tidak akan pernah salah dalam menentukan arah ketika melihat peta. Ia tahu dengan pasti yang mana utara dan selatan tanpa kesalahan. Karena itu, kelompok Raja dengan percaya diri masih menerima permintaan Ganesha dan Nanda.
Lagipula, mereka memberikan 3 kondisi yang baik.
Satu, selama perjalanan, Ganesha akan memusnahkan zombie terkuat bila kelompok diserbu oleh zombie. Dua, untuk makanan, Ganesha dan Nanda akan mencari sendiri dan tidak akan mengambil dari kelompok. Tiga, bila mereka sampai ke pangkalan, Ganesha akan memberikan 10 nukleus biru gelap(level 4).
Nanda bersiul di dalam hati ketika menyadari pertukaran warna nukleus. Di kehidupan sebelumnya, Nanda hanyalah seorang pengguna kemampuan ruang yang bertanggung jawab sebagai pemegang senjata. Jadi, ia tidak benar-benar memerlukan nukleus mengingat makan, minum dan pakaian ia hanya tinggal mengatakan dan anggota akan menyediakan. Ia juga bukan tipe yang suka berbelanja, jadi sampai ia tiba di sebuah Pangkalan dan akhirnya mengerti pertukaran nukleus dengan baik, Nanda harus menahan diri agar tidak berteriak senang.
1 nukleus biru muda(level 2) seharga 10 nukeus putih(level1).
1 nukleus biru(level 3) bernilai 10 nukelsu muda.
1 nukleus biru gelap(level4), seharga 50 nukleus biru.
Lalu bila mereka menemukan nukleus hitam ...
Nanda terkikik di dalam hati, tetapi wajahnya yang terlihat polos tidak mengungkapkan isi hatinya yang ditumbuhi bunga-bunga uang.
"Pergi ke pinggir kota?" ucap Nanda seraya menghidupkan hummer dan mulai memanaskan mobil. Sudah ada aba-aba bahwa 5 menit lagi mereka akan mulai berangkat. Semua orang di luar mobil berlarian masuk ke dalam mobil. Para pengguna kemampuan tanah berdiri di pinggir dinding, bersiap untuk meruntuhkan dinding tanah yang mereka buat.
"Ya," Ganesha mengangguk. Tahu bahwa istirnya menguping.
Pinggir kota ...
Mereka akan pergi ke pinggir kota ...
Mata Nanda cerah. Wajah kecil itu memerah. Melihatnya, Ganesha mendengus geli. "Malam ini pergi?"
__ADS_1
"Tentu saja!"
Ganesha terkekeh. Oh, merampok sumber daya kota sepertinya mulai mendarah daging pada istirnya yang serakah. Ganesha tidak bisa menolak. Salah siapa bahwa kota akan menjadi tempat 'kaya' yang selalu membuat Istrinya bahagia? Sejujurnya, semua hal di dalam ruang dimensi Ganesha sudah penuh dan tidak mampu menampung hal-hal kembali, tetapi ruang milik istrinya seolah-oleh seperti lubang hitam. Menghisap apapun dengan rakus dan tidak memiliki batas, sama persis seperti sifat Istrinya, yang tidak pernah puas untuk berhenti merampok.