
"Kak Ifa! Kak Ifa!"
Baru saja rombongan yang bertugas untuk mengumpulkan bahan kembali ke kelompok non-tempur, Nanda keluar dari hummer. Melompat-lompat meneriakkan nama Ifa seraya berlari mendekati wanita berwajah jutek itu. Senyuman si kuncir satu melebar, dengan sepasang iris hazel yang berkilau penuh semangat.
"Apa?" alis Ifa terpaut, menatap bocah yang berteriak-teriak seperti anak ayam mencari induknya.
"Kakak, Kakak, aku punya bisnis untukmu," terlihat tidak sabar, Nanda langsung mengucapkan apa yang ingin dikatakannya. "Kami sudah berbicara dengan Kak Raja, katanya, bila Kak Ifa setuju, dia tidak masalah sama sekali."
"Setuju apanya?" Ifa menatap bingung perempuan yang sedikit lebih pendek darinya sebelum akhirnya menatap sekeliling, menemukan satu persatu, kelompok yang baru saja datang dari pemburuan bahan keluar dari mobil mereka masing-masing.
"Kakak mau menggunakan kemampuan Kakak untuk kami?" kata 'kami' jelas merujuk kepada Ganesha dan Nanda. "Tenang Kak! Kami akan bayar Kakak untuk sekali menggunakan kemampuan Kakak. Itu sebabnya, kubilang ini bisnis. Kakak kerja tidak geratisan, tapi akan dapat upah sesuai dengan jasa yang diberikan."
Kerja sesuai dengan upah yang diberikan?
Sebelah alis Ifa terangkat, kembali fokus menatap perempuan yang menjadi lawan bicara. "Berapa upahnya?" tanyanya. "Tapi kuperingatkan, aku cuma bisa mengisi paling banyak 2kg dan tidak lebih dari itu. Dalam sehari, aku tidak bisa melakukan banyak hal sekaligus, perlu jeda selama beberapa jam untukku memulihkan tenaga," Ifa memperingatkan, memperjelas bahwa kemampuannya terbatas dan tidak mau dipaksa untuk melakukan pekerjaan ekstra.
Nanda terkekeh. "Kami cuma dua orang, seberapa sering yang bisa kami minta coba?" ucapnya geli. Oh, 2kg sudah lebih dari cukup. Beberapa makanan dan minuman yang sudah kadaluarsa, yang sengaja dipungut untuk kamuflase, setidaknya akan berguna berkat Ifa. "Kami akan membayar nukleus level 2 untuk sekali menggunakan kemampuan Kakak, bagaimana? Satu nukleus level 2 per 2 kg."
Ifa tidak langsung menjawab. Ia agak kaget dengan upah yang diberikan. Nukleus level 2 untuk sekali menggunakan kemampuannya, upah itu bahka dua kali lebih besar dari gajinya setiap kali menggunakan kemampuan untuk kelompok. Namun, bila memikirkan kemampuan pria bertopeng yang kuat, nukleus level 2 pasti bukan apa-apa.
"Oke," pada akhirnya, Ifa setuju. Toh, Bossnya sudah setuju dan hal ini menguntungkannya, untuk apa lagi ia menolak? Mumpung ada cara untuk mengumpulkan uang, Ifa tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. "Kapan mulainya?"
"Sekarang bisa?" wajah Nanda berseri-seri, menatap Ifa dengan senyuman secerah matahari. Hal itu menyilaukan, membuat Ifa ingin mundur selangkah dengan kehangatan yang menyengat pengelihatan. Oke, itu hanya imajinasi, tetapi Nanda memang terlalu cerah untuk didekati. Ifa tidak mau terlalu dekat dengan bocah ababil ini walau anak ini jelas menguntungkannya dari segi finansial.
Oh, kelompok Raja baru saja datang, mereka masih akan melakukan diskusi kecil prihal pembagian nukleus dan bahan. Masih ada pria tua yang akan bergerak mendekati Dwi untuk mengambil alih semua bahakan makanan. Jadi, Ifa tidak akan menggunakan kemampuannya sampai sore nanti ketika semua orang akan mulai mempersiapkan bahan makanan untuk makan malam. Lagipula, ia akan mendapatkan nukleus level 2, itu lebih dari cukup untuknya mengembalikan energi.
"Oke," sekali lagi, Ifa setuju--sukses membuat Nanda dengan bersemangat menarik lawan bicaranya menuju hummer miliknya. Wanita berkuncir satu membuka pintu belakang, masuk ke dalamnya dan bersimpuh di atas kursi. Tubuh berlapis jaket meraih ke bagian belakang hummer, mengambil setumpuk berbagai jenis makanan yang sudah kadaluarsa dan memamerkannya tepat di depan Ifa.
Ifa tercenga, irisnya menemukan banyak makanan yang berada di depan matanya sendiri. Lalu ia melirik ke bagian belakang mobil yang memang menumpukkan berbagai macam jenis makanan. Namun apa yang Nanda pilih adalah semua sayuran, daging dan buah-buahan yang membusuk dan bahkan berjamur. Juga beberapa biskuit susu dan susu kotak ...
"Apakah ini sudah cukup 2kg?" tanya Nanda penasaran.
Ifa mengekatup rapatkan mulutnya. Ia mengerti kenapa Nanda dan Ganesha menjadi hot topic sebagai orang kaya dan bahkan, beberapa anggota kelompoknya memiliki niat merampok mereka. Bila bukan karena Ganesah sangat kuat dan mereka masih sayang nyawa, Ifa yakin sepasang suami-istri ini sudah menjadi mangsa semua orang di kelompok ini.
"Ini lebih dari 2kg," Ifa menjawab dengan jujur. Ia menatap buah dan sayuran yang menumpuk. "Buah-buahan dan daging lebih berat," jelasnya. 2kg yang dimaksud Ifa adalah ketika semua bahan makanan berubah menjadi segar. Tentu saja berarti berat mereka akan bertambah. Jadi apa yang dimasukkan harus kurang dari 2kg.
"Oh, benar juga!" seolah lupa akan sesuatu yang penting, ucapan Ifa mencerahkannya. "Kakak hitung saja nanti kena berapa kg. Kakak bisa melakukannya sekarang kan? Pertama ubah buah-buahan ini, lalu sayuran ini, lalu daging, setelahnya makanan-makanan yang ini."
Mendengarkan deskripsi Nanda, Ifa benar-benar gatal ingin mengetuk kepala hitam itu. Oh, anak ini sungguh ingin memeras tenaganya!?
"Nanda," memilih bersabar, Ifa mengucapkan nama Nanda dan hampir menggeretakkan giginya. "Untuk apa kau mengubah sayuran? Beberapa sayuran yang kau pilih akan layu kurang dari 24 jam bila tidak dikonsumsi. Terlebih kau tidak punya pendingin," peringatnya, melirik bayam dan kangkung milik Nanda.
__ADS_1
Tentu saja bisa dimasukkan ke dalam ruanganku ..
Nanda tidak mungkin memberitahu alasannya. Dengan memasang wajah kecewa, wanita berkuncir satu menatap setumpuk sayuran dan buah. Ia ingin mencicipi buah-buahan, tetapi mengingat Ifa tidak bodoh untuk langsung menerima begitu saja tanpa memperhatikan ... yah, ia masih harus sangat berhati-hati dengan Ifa.
Kemampuan ruang milik Ganesha hanya kemampuan ruang biasa, tidak memiliki kemampuan untuk membekukan waktu sama seperti Nanda. Jadi, begitu banyak makanan kadaluarsa untuk kamuflase di dalam ruangan suaminya. Nanda bermaksud memanfaatkan Ifa untuk sedikit demi sedikit, mengubah makanan di ruangan suaminya menjadi segar hingga bisa dipindahkan ke dalam ruangannya sendiri.
Pada akhirnya, Nanda tetap membuat sayur, buah-buahan, daging dan beberapa makanan kecil lainnya menggunakan kemampuan 'penyegar' Ifa. Total semuanya adalah 20kg, Sepuluh kali Ifa bolak-balik mengisi. Sekali menggunakan kemampuannya, wanita berwajah galak itu akan mulai berkeringat dingin. Beruntung Nanda langsung membayar. 10 nukleus level 2, tetapi karena sepuluh kali menggunakan kemampuan, Ifa terpaksa menyerap nukleus level 2 sampai habis hingga hanya menyisakan 6 nukleus level 2.
"Terima kasih Kak!" Nanda berucap senang, melambai menatap Ifa yang berbalik dan mengabaikan. Benar-benar tidak sabar untuk pergi karena masih ada kelompok Raja yang masih harus diurus. Nanda tidak peduli dengan pengabaian Ifa, ia berbalik dan menatap senang dengan setumpuk makanan yang sudah segar. Diam-diam, wanita itu memasukkan semua sayuran, daging dan buah-buahan ke dalam ruangannya, hanya menyisakan beberapa bungkus roti dan makanan instan lainnya yang baru disegarkan.
"Sayang, sekarang aku mengerti kenapa kelompok Raja sering memakan makanan vegetarian," ucapnya seraya menyusun beberapa makanan yang baru saja disegarkan. Oh, melihat reaksi Ifa yang langsung berkeringat dingin ketika selesai menggunakan kemampuannya, jelas kemampuan ini menguras banyak tenaga. Bila hanya sayuran yang menjadi makanan pokok, itu bukan masalah sama sekali untuk 2kg sayuran yang diolah untuk dikonsumsi satu kelompok.
Namun, Ifa sangat cepat pulih ketika menyerap nukleus. 10 kali bolak-balik, hanya memakan waktu kurang dari 2 jam, padahal sebelumnya, Ifa jelas memperingatkannya bahwa ia perlu beristirahat selama beberapa jam setiap kali selesai menggunakan kemampuannya ...
Berarti selama ini, Ifa tidak menyerap nukleus? Apakah jumlah nukleus yang diberikan Raja tidak sebanding dengan pekerjaannya hingga Ifa sendiri enggan menggunakan nukleusnya?
"Yah, bagaimanapun mereka harus berhemat," ucap Ganesha seraya masuk ke dalam hummer. Hemat tenaga dan hemat bahan makanan. Nanda bersenandung setuju.
"Oh ya sayang, bagaimana dengan Raja?" Nanda menoleh, selesai membereskan makanan, ia berpindah dari kursi belakang dan duduk di kursi pengemudi.
"Yah ... dia berkata ingin menitip beberapa senjata api dan beras, mereka akan membelinya dari kita," ucap Ganesha. Bagaimanapun, mereka tidak bisa seenaknya untuk pergi, jadi setelah mereka sampai, Ganesha menghampiri Raja dan mengatakan akan pergi menuju kota untuk mengumpulkan bahan.
Perjanjian bahwa mereka tidak akan memakan makanan dari kelompok Raja masih berlaku, karena itu Raja tidak keberatan. Namun ia cukup terkejut bahwa dua orang akan memasuki kota sendirian. Itu jelas sangat berbahaya, tetapi Ganesha menjelaskan ia hanya akan pergi ke pinggir kota, mencari mini market atau sebangsanya dan segera kembali.
Hari ini, kelompok raja kekurangan bahan makanan tetapi mereka mendapatkan banyak nukleus, karena itu Raja memutuskan untuk membeli beras, senjata dan bensin yang Ganesha temukan nanti. Ganesha setuju, setelah mereka menegosiasikan prihal harga, Ganesha kembali dan menemukan istrinya menonton Ifa yang sedang 'menyegarkan' makanan mereka.
"Mau pergi sekarang?" Nanda memakan apel, menatap suaminya dengan mood yang baik.
Ganesha mengangguk. Semakin cepat, semakin baik. Lagipula ia masih punya hutang untuk menemukan Caravan untuk istrinya, jadi keduanya mulai menjalankan Hummer. Keluar dari dinding tanah dan melajukan kendaraan roda empat dengan kecepatan maksimum.
"Mereka benar-benar pergi hanya berdua?"
Sosok yang duduk di samping jendela, menatap ke arah hummer yang melaju tanpa ragu keluar dari dinding tanah. Dalam beberapa detik, kemampuan Tanah kembali membenarkan dinding, mencegah zombie yang mendekat untuk masuk ke dalam pangkalan sementara mereka.
"Ya," Raja menjawab, meminum segelas kopi yang berada di meja. Ia duduk berhadapan dengan Luna, menikmati makan malam berdua. Masing-masing memiliki makanan yang jauh lebih baik. Sepiring nasi dengan sayur dan irisan-irisan sosis.
"Pria bernama Ganesha ... ," alis Luna terpaut, masih menatap ke luar jendela lalu menoleh menatap Raja. "Dia benar-benar melindungi Nanda?"
Kali ini Raja tidak menjawab. Ia balas menatap Luna, memperhatikan wanita mungil yang selama ini menjadi obsesinya. Sejujurnya, ia sangat iri dengan kemampuan Ganesha. Bila ia sekuat Ganesha, Raja bisa membawa Luna kemanapun, bahkan ke medan perang, ia bisa melindungi Luna dan menjamin wanitanya akan tetap aman tanpa goresan. Namun bila mengingat kinerja Nanda ketika ikut dengan kelompok mereka ...
"Dia bisa memegang senjata," akhirnya Raja buka suara. Artinya adalah Nanda, mampu untuk melindungi dirinya sendiri meski tanpa Ganesha berada di sekitarnya.
__ADS_1
Meski Raja berada di garis depan, orang-orang yang berada di sekitar Nanda dengan mudah melihat bagaimana Nanda memegang pistol di tangannya, terutama Dwi yang tidak henti berceloteh bahwa pasangan Ganesha, sangat nyaman untuk dibawa karena bisa menjaga dirinya sendiri. Mengetahui bahwa Nanda akan ikut kelompok Raja untuk mengumpulkan bahan, Dwi adalah orang yang paling gugup dan panik. Namun untungnya, semua ketakutan yang ia pikirkan tidak terjadi sama sekali.
"Nanda bisa menggunakan senjata?" Luna jelas sangat kaget dengan informasi itu. Bagaimanapun, sikap ceria remaja itu tidak terlihat seperti seseorang yang berbahaya.
Raja tidak berkomentar. Sebaliknya, ia tidak terkejut. Oh, bagaimana bisa seorang perempuan bertahan sebaik itu bila tidak memiliki kemampuan bertahan hidup yang baik? Meski ia berdiri berdampingan dengan Ganesha, Raja tahu bahwa tidak setiap saat pria itu berada di samping Nanda dan anak itu juga sangat jelas dengan statusnya.
"Luna, apakah kau ingin belajar menggunakan senjata lagi?" tanya Raja.
Wanita itu tidak langsung menjawab pertanyaan Raja, sebalinya, ia menunduk dan mulai memakan makan malamnya. Oh, bukan berarti Luna belum pernah memegang senjata, ia pernah memegang pistol. Mencoba untuk menggunakannya dan berlatih. Namun selalu gagal hingga kedua tangannya yang putih dengan mudah memerah dan melepuh. Hal itu akhirnya membuat Luna menyerah, pasrah bahwa ternyata ia memang tidak berbakat untuk memegang senjata api.
Raja tidak keberatan apakah Luna bisa bertarung atau tidak, itu sebabnya pria ini tidak memaksa Luna begitu sang wanita menyerah untuk belajar menembak. Luna hanya perlu berada di sisinya. Makan dengan baik, tidak terluka sama sekali dan tetap berada di tempat yang aman.
Namun melihat Ganesha dan Nanda, memberikan perasaan yang mengganggu Raja.
Bila Luna bisa memegang senjata, bila Luna bisa sedikit melindungi dirinya sendiri, bukankah Luna bisa ikut dengannya ke garis depan? Mereka tetap akan bisa bersama, tidak perlu berpisah setiap kali Raja pergi untuk mengumpulkan bahan.
"Bagaimana bila berlatih pedang?" Luna akhirnya buka suara. Ia menaruh sendok dan garpu, selesai menghabiskan makan malamnya. Sepasang iris menatap pria yang duduk tepat di depannya. "Aku tidak berbakat memegang senjata api ... bagaimana dengan pedang?"
Raja tersenyum mendengarnya. Tanpa ragu ia mengangguk. "Oke," setujunya. "Nanti kita beli pedang, ketika sampai di Pangkalan Hijau, aku akan mencari orang yang ahli dalam berpedang untuk melatihmu."
Luna tidak bereaksi untuk sementara waktu. Ia menatap Raja selama beberapa detik, lalu memalingkan wajah menatap ke arah jendela. Raja tidak mempermasalahkan pengabaian itu. Ia bangkit berdiri, mengambil piring yang sudah kosong dan bergerak untuk mencucinya.
Orang-orang yang berada di luar caravan sudah membuat api. Mereka berbondong-bondong memasak, saling bekerja sama untuk membuat makan malam sementara Raja dan Luna sendiri sudah selesai makan malam. Ada yang memotong sayur, mencuci, dan seorang pengguna kemampuan air dengan pasrah mengisi ember terus menerus.
Suasana di luar sangat sibuk. Orang-orang bagian Non-tempur sangat sadar diri bahwa mereka tidak bisa makan bila tidak bekerja. Itu sebabnya, bahkan anak-anak, ikut membantu selama proses membuat makan malam. Entah itu mencuci piring, atau membantu mengumpulkan bahan-bahan apa saja yang akan digunakan.
Melihat kesibukan di luar sana, bukannya Luna tidak ingin bergabung. Namun ia sudah cukup sering mendengar semua cemooh dan pandangan yang tidak bersahabat dari kelompok ini. Mereka semua menganggap Luna pelacur, sangat pintar memilih Raja sebagai prianya.
Tidak ada yang peduli apakah Luna mengenal Raja sebelum atau sesudah virus zombie menyebar, mereka hanya tahu bahwa Luna adalah wanitanya Raja. Tidak ada yang boleh mengganggunya, jadi tidak ada setupun yang berani untuk menyuruh atau bahkan menyakiti Luna di dalam kelompok ini meski mereka tidak menyukai keberadaan perempuan ini.
Luna mengkatup rapatkan bibirnya.
Nanda jelas sama sepertinya ... tetapi kenapa perlakuan orang-orang berbeda? Nanda dengan mudah berbaur. Ia bisa menarik anak-anak untuk bermain dengannya, ia bahkan bisa menarik Ifa untuk mendapatkan bantuannya. Lalu kenapa Luna tidak bisa? Kenapa ia masih dikucilkan oleh orang lain? Ia bahkan ditatap seolah-olah keberadaannya adalah sampah! Bagaimana bisa perlakuan orang-orang ini sangat berbeda padahal jelas bahwa Nanda sama sepertinya! Bergantung dengan yang kuat, hanya mengandalkan pria untuk melayaninya ...
Tetapi kenapa perlakukan semua orang kepada Nanda berbeda? Kenapa? Padahal anak itu bahkan baru satu malam berada di kelompok ini? Kenapa?
Luna benar-benar tidak mengerti. Pertanyaan demi pertanyaan di dalam kepalanya membuat ia merasa sangat marah. Namun wajah itu masih terlihat tanpa ekspresi. Seseorang yang sedang asik menonton orang-orang di luar sana dan tidak memiliki emosi yang bergejolak sama sekali. Hanya tangan kiri yang berada di atas pangkuannya yang menunjukkan emosi sebenarnya. Terkepal erat hingga memperlihatkan buku-buku jari. Mencoba meredam perasaan marah yang seolah ingin menghancurkan apapun di sekitarnya.
a/n:
well ... ak baru nyadar kan kalo gk pernah gmbar nesnes n nanda wkwkwk nah berikut sketsa Nanda ma abang nesnes~ .
__ADS_1