
Suara geraman silih berganti terdengar. Sahut menyahut di udara yang memancarkan aroma busuk mencekik pernapasan. Diantara gedung-gedung bertingkat yang kokoh, terlindung di dalam bayang-bayang malam dan hanya bersinarkan cahaya bulan, kedua sosok berpakaian serba hitam berlari bersama. Melewati beberapa zombie, beriringan dengan kecepatan yang setara, menuju ke arah selatan.
Dengan pengelihatan malam, Nanda dengan jelas melihat kekacauan sekitarnya. Kota ini sudah diserang oleh zombie, begitu banyak zombie tetapi begitu banyak bahan makanan. Pada akhirnya, ia tidak bisa menahan diri dari perasaan serakah. Menarik Ganesha untuk berhenti di beberapa mall dan toko, mencuri semua persediaan dan hal-hal yang mungkin berguna. Ia bahkan menemukan pom bensin, mengisi persediaan sampai penuh hingga tidak bisa menahan diri dari menyeringai puas.
Sekarang, ia sangat kaya. Nanda tidak berhenti terkikik di tengah malam, melantunkan suara menakutkan di tengah geraman zombie. Ganesha yang tidak henti diseret ke sana dan ke mari hanya tersenyum. Senang melihat Nanda terlihat bahagia. Ia bahkan tanpa ragu ikut berkontribusi menjarah. Mengambil apapun yang diingin manusia perempuan ini dan memasukkan semua hal ke dalam ruangannya sendiri.
Sepasang manusia-zombie yang sangat serakah, benar-benar menghisap habis semua harta yang penuh zombie dalam satu malam.
Tap.
Nanda menghentikan langkahnya, tindakan itu juga dilakukan Ganesha. Karena terlalu asik menjarah, mereka jadi kehabisan waktu. Tanpa sadar, matahari mulai muncul, jadi keduanya berhenti tepat di sebuah rumah sederhana penuh debu yang tertutup rapat.
"Istirahat?" tanya Ganesha. Nadanya datar, tetapi penuh dengan pengertian. Nanda adalah manusia, ia memerlukan istirahat.
Nanda mengangguk, senyuman lima jari merekah di bibir. "Kita istirahat di sini dulu," setujunya lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Pintu yang tidak terkunci, terbuka begitu saja. Pemandangan berantakan penuh debu menyambut mata. Ganesha, tanpa mengatakan apapun, melangkah ke depan Nanda.
Dengan suara Wush diiringi angin kencang, Nanda berkedip dan mendapati ruangan menjadi begitu bersih, tanpa noda dan ... tidak ada barang apapun yang tersisa. Semuanya jelas dilemparkan ke luar oleh Ganesha. Di detik berikutnya, lantai memiliki lapisan karpet bulu yang lembut dan hangat, bersamaan dengan sebuah kasur empuk yang menempel dengan dinding.
Nanda terkekeh. Ia langsung memeluk leher Ganesha dan berjinijit. "Sayang, kamu benar-benar membuatku lebih jatuh cinta!" ujarnya lalu mencium pipi sang suami dan berlari melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Bibir tipis itu melengkung membentuk senyuman, menatap manusia perempuan yang begitu aktif dan ceria. Hal ini membuatnya merasa lebih bahagia.
Mengganti pakaiannya menjadi piyama, Nanda tidak malu sama sekali ditonton oleh sepasang mata hitam. Oh, apa itu malu? Ganesha suaminya sendiri!
"Sayang, apakah pangkalannya benar-benar ada?" Nanda agak ragu, seraya duduk di atas kasur. Ia mengeluarkan sebungkus nasi uduk dan mulai sarapan. Zombie, yang masih mengenakan jaket dan celana hitam itu melepaskan sepatunya, lalu duduk di lantai tepat di sebelah kasur.
"Ya," Ganesha menjawab, suaranya cenderung rendah dan dalam. "Masih agak jauh ... Pangkalan kecil, tetapi banyak tentara."
Nanda mengangguk. Sejujurnya, ia tidak tahu arah. Ia hanya mengandalkan informasi yang diberikan Ganesha dari para zombie. Zombie yang levelnya lebih rendah memiliki loyalitas mutlak dari zombie yang berlevel tinggi.
Setiap malam, mereka akan keluar untuk melakukan perjalanan, melewati kota yang memiliki jumlah zombie terbanyak. Pangkalan kecil menjadi tujuan keduanya, tetapi pangkalan kecil ini harus terhubung dengan militer. Saat ini, tujuan utama Nanda adalah pergi ke pangkalan kecil yang terhubung dengan militer, lalu mencari Pamannya, suami Erica, Harry.
Nanda tidak tahu apakah Pamannya yang menjadi zombie, masih berada di Pangkalan Mall Bintang atau tidak, tetapi melihat Ganesha bisa memiliki kesadaran, ia benar-benar berharap bisa menemukan Pamannya dan dengan pengendalian Ganesha, pelan-pelan pamannya akan memiliki kesadaran.
Menatap zombie berwajah pucat yang duduk di lantai, Nanda memperhatikan pria yang begitu sempurna itu. Secara kasar, Ganesha sangat tampan. Terlebih dengan tubuh yang proporsional dan tinggi mencapai190cm. Dengan kulit yang sangat pucat, ia lebih terlihat seperti vampire ketimbang zombie. Memancarkan aura yang memukau dan menggoda.
Namun sayangnya, sejak berhasil berkomunikasi, Nanda harus menerima kenyataan bahwa ... Ganesha melupakan semuanya. Suaminya, sedikitpun tidak mengingat apapun sejak ia menjadi zombie. Sosok ini hanya tahu ia harus mencari sesuatu, karena itulah Ganesha berkeliaran. Saat ia menemukan Nanda, Ganesha dengan jujur mengatakan bahwa Nanda adalah Kehangatan Kecil yang dicarinya
Nanda buru-buru menyelesaikan sarapannya. Ia lalu menggeser tubuh, menepuk-nepuk sisi kosong di sebelahnya. "Sayang, temani aku tidur?"
Ganesha tidak menjawab, tetapi langsung bergerak. Ia mendekati Nanda, lalu dengan perlahan berbaring tepat di samping manusia perempuan itu. Nanda tidak menghilangkan kesempatan. Ia langsung menempel dengan suaminya. Merasakan sentuhan kulit yang keras dan hangat yang menyapa indranya. Samar, ia juga mencium aroma busuk bangkai.
Mendadak, hatinya terasa teriris. Nanda memeluk Ganesha, membenamkan wajah ke dada bidang sang suami. Oh, ia tidak ingin menyesali apapun. Menyesal hanya akan membuatnya merasa buruk. Ia hanya bisa terus melangkah, menerima bahwa Ganesha kini melupakan semua kenangan mereka dan bukan lagi manusia.
Karena Ganesha melupakan semua kenangannya selama menjadi manusia, maka ia tidak akan berusaha membuat Ganesha mengingatnya. Ia akan menerima Ganesha yang sekarang. Biarkan Ganesha menerima ingatan barunya. Setidaknya, Ganesha yang sekarang, tidak akan pernah mengenal kata ditinggalkan kembali.
"Sayang ... ."
__ADS_1
Ganesha membalasnya dengan gumaman.
"Aku tidak akan meninggalkanmu."
Ganesha diam.
"Kau juga tidak boleh meninggalkanku."
Kali ini, Nanda dengan jelas merasakan sentuhan tangan yang hangat mengusap kepalanya. Perlahan dengan lembut dari kepala lalu turun hingga ke punggung, seolah mencoba menenangkan hatinya yang mendadak begitu gelisah.
"Ya," suara berat terdengar, memberikan getaran pada dada bidang yang hangat. "Aku tidak akan meninggalkan Nda."
.
.
.
Melaju dengan kencang, kendaraan roda empat itu melindas genangan air hingga membuat percikan besar yang menodai tubuh mobil. Hummer, yang bergoyang di jalan tidak rata, terlihat liar dan menakutkan, menembus hutan, menderum memecahkan kesunyian ruang lingkup pepohonan yang tinggi menjulang.
Beberapa saat kemudian, hummer mulai melambat saat melihat sebuah dinding besi yang menjulang tinggi. Dinding itu tidak semegah dinding pada pangkalan 1 dan 2, tetapi itu cukup untuk memberitahukan bahwa ada tempat berlindung yang relatif aman dari incaran para zombie di sini. Karena itu, begitu melihat barisan beberapa mobil yang dengan tertip mengantri, hummer turut mengikuti antrian untuk masuk ke dalam Pangkalan.
Sepasang hazel menatap sekelilingnya. Meski ia masih berada pada antrian, bagian luar dinding pangkalan juga terbilang ramai bak pasar. Banyak orang-orang berkeliaran, kurus, sakit-sakitan dan sangat menyedihkan. Wajah mereka kusam, tubuh mereka kotor. Beberapa orang yang mengantri bahkan ada yang keluar dari dalam mobil mereka, menghampiri beberapa kerumunan, menunjuk beberapa wanita kurus berwajah kotor selayaknya memilih barang di pasar, lalu menarik mereka memasuki mobil.
Pemandangan ini membuat Nanda cemberut. "Sayang," mencuci pengelihatannya dengan wajah Ganesha, perasaan Nanda jauh lebih baik. "Suamiku memang yang tertampan, oh, bagaimana bila ada wanita lain yang melihat ketampatanan suamiku ini?" Nanda berujar dengan ekspresi dan nada melankolis.
Deg.
Nanda tidak pernah menyangka ucapan main-mainnya akan ditanggap serius oleh Ganesha. Dalam hitungan detik, wajahnya terasa panas, malu luar biasa dengan ucapan frontal yang terasa menggelitik hati. Astaga ... beberapa bulan perjalanan berdua, Nanda menemukan IQ Ganesha semakin meningkat. Suaminya mulai bisa membalas ucapannya hingga sukses membuat jantungnya melompat-lompat.
"Sayang! Jangan mengatakan itu!" Wajah Nanda memanas. Ia dengan semangat langsung mencium bibir Ganesha, lalu dengan cepat kembali ke posisi di kursi mengemudi. "Bagaiamna bila aku semakin mencintaimu? Kau mau bertangung jawab? Oh! Sayangku sangat kejam!" ujarnya galak, lalu meraih lengan Ganesha dan dengan gemas mengigitnya.
Pria dengan setelan jaket dan kaos itu tersenyum. Ia membiarkan Nanda menggigit sesukanya. Itu tidak sakit sama sekali, malah terasa geli dan menggelitik. Oh, ia sudah terlalu terbiasa dengan mulut murahan Nanda yang suka melemparkan kata-kata ceroboh dan secara ajaib, Ganesha sangat suka mendengarnya. Ia hanya merasa ... hal ini sangat normal. Kehangatan kecilnya memang harus bertingkah seperti ini.
Namun beberapa detik kemudian, Nanda terbatuk, mulutnya memuntahkan darah hitam--sukses menghancurkan suasana harmonis ...
"Sayang, tidak bisakah kau mengendalikan virus di dalam tubuhmu? Baunya tidak enak," Nanda menggerutu, mengelap mulutnya dengan tisue lalu membuang ke luar jendela. Oh, selalu seperti ini. Bila ia menggigit kulit Ganesha, akan selalu ada virus yang bergerak memasuki tubuhnya melalui mulut. Sepertinya semakin tinggi level, semakin banyak virus di dalam tubuh. Bahkan kulit juga beracun! Bukankah seharusnya virus hanya ada pada air liur zombie?
Ganesha merasa bersalah. Kehangatan kecilnya selalu muntah darah setiap kali menggigit atau ia gigit. Sebenarnya, zombie ini sendiri juga memikirkan hal yang sama, tetapi setiap kali ia mencoba, tetap tidak berhasil. Ini bukan hal yang mudah, jelas ia memerlukan peningkatan level agar bisa mengendalikan virus ini ...
Beruntung, sekarang ia sudah terbiasa melihat Nanda muntah darah. Hal ini tidak membahayakan manusia perempuan, justru baik karena mengeluarkan racun dari tubuh. Itu sebabnya, ia tidak lagi panik.
Mengeluarkan setoples kacang, Nanda mulai memakan kacang seraya dengan sabar menunggu antrian. Beberapa peristiwa, sepasang hazel itu tangkap selama mengantri. Sekarang, untuk masuk ke Pangkalan, mereka harus menyetor dengan nukleus atau bahan makanan. Dengan pengelihatan yang cukup tajam dan pendengaran yang baik, Nanda berkonsentrasi memilah-milah obrolan yang mengandung beberapa informasi.
Akhir-akhir ini, krisis air dan makanan semakin mencekik. Para peneliti menemukan bahwa air dan tanah telah tercemar oleh virus, beberapa tentara mengeluh bahwa hanya dengan bantuan kemampuan air, tanah dan kayu saja mereka bisa bertahan untuk tetap hidup. Bahkan sayuran dan buah-buahan liar yang tumbuh di hutan, akan menyebabkan diare bila dikonsumsi. Hewan-hewan raksasa dan tumbuhan aneh juga mulai bermunculan, menyebabkan dunia di luar dinding menjadi semakin tidak aman. Para jenius di lab masih melakukan penelitian untuk memurnikan tanah dan air. Hanya pangkalan yang memiliki pengguna kemampuan air, tanah dan kayu saja yang cenderung aman dari krisis kelaparan.
__ADS_1
Menghela napas, Nanda menatap setoples kacang yang ia jadikan cemilan. Oh, ia tidak merasakan itu sama sekali mengingat banyaknya persediaan di dalam ruangan. Ia juga merupakan pengguna kemampuan air, jadi masalah air bersih juga bukan masalah untuknya. Namun mendengarkan gosip ini, membuat Nanda menyadari bahwa ia sangat tidak berbaur dan beradaptasi ...
Menguap, Nanda menyimpan kacangnya kembali lalu memajukan mobil. Beberapa saat kemudian, ia menurunkan jendela kaca dan menatap seorang Tantara berwajah galak yang menatap dingin. Ada sekitar 5 orang pria bersenjata, mereka tanpa basa-basi memandang wajah Nanda dan Ganesha, lalu seolah mencari orang lain, menatap ke dalam hummer.
"Kalian hanya berdua?"
Nanda mengangguk. "Ya."
"Satu orang 5 nukleus level 1," tanpa basa-basi, pria itu memberitahukan biaya masuk. Nanda juga terlalu malas untuk mengulur waktu. Ia merogoh saku jaket, mengambil nukleus dari dalam ruangannya, lalu memberikan 10 kristal berwarna putih kepada petugas.
Pria itu menghitung. Setelah mendapati bahwa jumlahnya pas, ia mengangguk ke rekannya, lalu kembali menatap Nanda. "Parkirkan kendaraan di sana," sosok itu menunjuk ke lapangan dimana beberapa mobil terparkir rapi. Wilayah itu berada di luar tembok, dengan pagar kayu sebagai pembatas. "Lalu lakukan pemeriksaan tubuh di sana, bila aman, kau bisa melakukan pendaftaran."
Nanda menatap tempat untuk pemeriksaan tubuh. Itu adalah sebuah tenda sederhana, beberapa orang berbaris. Terbagi menjadi dua kelompok. Laki-laki dan perempuan. Pemeriksaan dilakukan hanya untuk memastikan di tubuh tidak terdapat luka bekas gigitan. Bila tidak ada bekas gigitan, mereka akan aman untuk masuk.
Mengangguk mengerti, Nanda kembali menatap petugas. "Terima kasih," lalu melajukan mobilnya dengan perlahan dan memarkirkannya ke lapangan. Ada petugas yang mengarahkan mobil, memastikan agar setiap mobil yang terparkir tersusun dengan baik.
Saat Nanda dan Ganesha ke luar dari mobil dan ikut berbaris untuk pemeriksaan, keduanya sangat mencolok. Pasalnya, tubuh mereka bersih dengan pakaian yang rapi dan sederhana. Dengan lingkungan seperti ini, keduanya jelas terlihat berbeda. Beberapa pasang mata menatap dengan rakus. Hanya sekali pandang, sudah cukup memberitahukan semua orang bahwa sepasang perempuan dan lelaki ini bukan orang yang sederhana.
Pemeriksaan tidak berlangsung lama. Setengah jam kemudian, mereka selesai mengantri dan melakukan pemeriksaan dengan seksama. Sepasang suami istri ini lalu berjalan beriringan. Bergandengan tangan menuju ke area yang ditunjuk oleh tentara. Kali ini, mereka masih harus mengantri. Satu persatu memasuki sebuah lorong dimana seorang petugas bertugas untuk mencatat.
"Nama lengkap?" tanpa melihat ke arah Nanda sama sekali, pria yang mengetik di layar komputer bertanya dengan nada yang kasar. Ia terlihat terburu-buru, tidak sedikitpun ingin berbasa-basi seolah-olah sangat sibuk. Tindakan itu membuat alis Nanda terangkat.
"Ananda Sartika."
Pria itu langsung menatap Nanda sekilas, lalu kembali menatap layar komputer. Suara ketikan terdengar nyaring. "Pengguna kemampuan atau tidak?"
"Tidak."
Tak.
Suara tekanan 'Enter' nyaring terdengar, lalu mesin printer mulai bergerak. Mencetak sebuah kartu berwarna putih dengan nama dan jenis kelamin. Pria itu memberikannya kepada Nanda, lalu tanpa sungkan mengusirnya untuk lanjut mencetak data Ganesha.
Berbeda dengan Nanda, Ganesha menjawab ia memiliki kemampuan. Ia langsung disuruh untuk menunjukkan kemampuannya. Pria itu memilih untuk menggunakan kemampuan petir, lalu sosok jangkung mendapatkan sebuah kartu identitas berwarna biru sebelum diusir pergi.
"Sangat diskriminasi. Aku yakin warna yang berbeda, akan mendapatkan hak yang berbeda," Nanda menggerutu, masuk ke dalam mobil dan menatap Ganesha yang ikut masuk ke dalam hummer. Pria pucat itu tidak mengatakan apapun, hanya menatap kartunya bolak-balik lalu menyerahkan kepada Nanda. Nanda menerimanya, mengernyitkan alis lalu melajukan mobil menuju ke sebuah pintu besi yang lain.
Di sana, tidak ada antrian, itu sebabnya ia langsung menyerahkan kartu identitas kepada petugas dan menerima senyuman ramah petugas pria itu. "Oh, selamat datang di pangkalan kami. Di sini, untuk setiap pengguna, memiliki hak untuk memiliki sebuah kamar dan geratis makan selama 2 hari. Untuk mendapatkan kunci, Anda bisa pergi ke bagian administrasi."
Benar-benar mendapatkan hak yang berbeda ...
Nanda cemberut di dalam hatinya, tetapi senyuman di wajah kecil itu mengembang. Terlihat manis dan menyenangkan. "Waah ... keren!" pujinya. "Pangkalan ini sangat ramah dengan pengguna kemampuan, sayangnya kami tidak bisa berlama-lama. Kami memiliki urusan dengan atasan Anda."
Petugas itu terlihat bingung mendengarnya. "Atasan kami?"
Kali ini, Nanda yang memberikan ekspresi bingung. "Tidakkah kau melihat nama kami? Ganesha Wijaya dan Ananda Sartika? Kami sepasang suami istri, seharusnya Ayahku, Wijaya, sedang mencari kami, tidakkah pihak militer mendapatkan perintah?"
__ADS_1
Senyuman petugas itu menghilang. Dengan mata yang menyipit dan hati-hati, ia menatap Ganesha dan Nanda, terlihat mencoba memastikan. Pada akhirnya, sosok itu mengangguk. Sikapnya tidak lagi ramah, tetapi sangat serius, meminta kedua tamu, untuk memberikannya tumpangan setelah meminta rekannya yang lain menggantikan posisinya.
Nanda tidak keberatan. Ketiga orang memasuki Pangkalan, berjalan melewati jalan becek dimana banyak tenda-tenda didirikan. Semua hal terlihat berantakan, terlihat tidak terlalu berbeda dengan kondisi di luar pangkalan, tetapi setidaknya, di sini semua orang memiliki tempat berteduh dari hujan dan panas matahari. Jelas, pemimpin tentara di sini, tidak terlalu memperdulikan kondisi pangkalan yang menyedihkan.