Zombie

Zombie
2: Pembersihan


__ADS_3

Setelah puas menangis entah untuk berapa lama, Nanda merasa lebih tenang. Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Perasaan sesak yang semula menindihnya kini menghilang, digantikan keringanan yang membuatnya jauh lebih rileks.


Lalu, sepasang iris gelap kembali menatap kamar yang berantakan. Suasana terasa hening, tetapi itulah hal yang diperlukan untuk memikirkan semuanya. Nanda boleh larut di dalam kebahagiaan, tetapi bukan berarti ia akan tenggelam di dalamnya.


Memikirkan segala hal secara perlahan, Nanda masih tidak mengerti kenapa ia bisa kembali ke masa lalu setelah ia mati. Oh, bagaimana bisa ia dengan yakin menganggap pengalaman 4 tahunnya sebagai kenyataan? Padahal jelas ia dalam keadaan baru saja bangun dari tidur? Jawabannya sangat mudah.


Kemampuan ruang Nanda masih ada.


Alis Nanda terpaut. Keberadaan ruang yang hanya bisa ia akses dengan mudah dirasakan. Ini seperti menggerakkan tangan dan kaki--keberadaan ruangnya seperti anggota tubuhnya sendiri.


Ia memiliki ruangan magis yang mampu menampung apa saja kecuali makhluk hidup. Itu seperti sebuah ruangan kosong yang siap untuk diisi dengan apapun. Dimensi tersendiri dimana hanya Nanda seorang yang bisa mengakses untuk menaruh dan mengambil barang di dalamnya.


Sungguh sangat praktis.


Keberadaan ruang ini, dengan ukuran sekitar 5x5 meter dengan isi penuh dengan senjata api, pisau, samurai dan berbagai senjata lainnya sudah cukup menjadi pemberitahuan bahwa ia memang kembali ke masa lalu.


Ukuran ruang dan bahkan isinya, sama persis dengan apa yang Nanda ingat. Jadi, ia tidak cukup bodoh untuk bersikap sombong bahwa semua pengalaman mengerikan itu adalah mimpi.


Menghela napas berat, Nanda memijat pangkal hidung yang terasa berdenyut. Oh, bila melihat tanggal, sekitar 7 tahun lagi, virus akan aktif dan menyerang manusia dengan agresif.


Semua orang yang terkena Virus tidak selalu menjadi zombie, beberapa beruntung terbangun dengan kemampuan ajaib. Seperti dirinya, Nanda yang terinfeksi virus justru memiliki kemampuan ruang. Padahal ia sangat sadar bahwa tubuh remajanya ini, belum terserang virus. Lalu bagaimana mungkin kemampuan ruangnya bisa mengikuti?


Nanda bingung bukan main. Hal ini bukan hal yang bisa ia bahas dengan santai sambil minum kopi. Ia juga tidak mungkin membicarakannya dengan orang lain bila tidak mau dikira gila. Oh, pada akhirnya, ia tetap tidak bisa menyimpulkan apapun?


Nanda mendengus kesal. Sepasang iris menatap ruangan berantakan yang merupakan kamarnya, lalu ia menunduk menatap tangan gempal yang lemah ...


Nanda tidak tahu apakah 7 tahun lagi, virus akan menyebar atau tidak. Namun yang pasti, ia merasa sangat tidak nyaman dengan fisik dan lingkungan ini.


Ia sudah cukup muak dengan lingkungan yang selalu menyebarkan aroma busuk. Selalu ada tinja dan pesing seseorang di sudut-sudut ruangan, atau aroma bangkai yang menjadi sisa korban para zonbie. Namun sekarang ... bukankah ia bisa menikmati lingkungan yang bersih?


Nanda mengkulum senyumannya. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju gorden yang tertutup. Bias cahaya matahari terlihat menyelinap, jelas, di luar, matahari sudah cukup tinggi untuk memulai segala aktifitas.


Srak!


Kain berwarna biru lembut itu digeser, menyebabkan cahaya matahari langsung masuk dan menyinari kamarnya. Nanda menyipitkan mata, nyaris dibutakan oleh cahaya yang menyerang retina. Namun ia bisa merasakan kehangatan seolah membelai kulit--memberikan perasaan nyaman yang seolah juga merembas ke dalam hatinya.


Tangan gempal bergerak untuk mendorong lapisan kaca hingga udara pagi, dengan membabi buta berhembus masuk. Membelai kulit, memberikan kesejukan dan udara pagi yang masihlah cenderung segar ...


Nanda terkekeh. Perasaan damai yang dengan halus memeluknya membuat remaja berambut panjang merasa lebih nyata.


Dari lantai dua kamarnya, Nanda bisa melihat halaman depan. Beberapa orang pada hari minggu cenderung ramai. Keluar dari rumah mereka dan berjalan santai di jalan trotoar. Wajah-wajah itu penuh senyuman, saling menyapa atau bahkan membentuk kelompok untuk bergosip. Oh, kegiatan santai dan sederhana yang benar-benar ... membuatnya rindu.


Nanda menghela napas. Ia berbalik dan menatap kamar yang begitu berantakan ...


Okay. Sepertinya, hal pertama yang harus ia lakukan adalah membersihkan kamarnya. Oh, selama 4 tahun ia sudah cukup muak dengan lingkungannya yang kotor dan sekarang ... yah, ia jadi sangat merindukan tempat yang lebih bersih dan rapi.


.


.


.


Menghabiskan waktu untuk membersihkan kamar, hanya untuk melakukan kegiatan sederhana ini, Nanda mendapati tubuhnya basah oleh keringat. Oh, apakah ini bisa dibilang berolahraga? Sosok gemuk itu tertawa miris.

__ADS_1


Kegiatan ini sangat sederhana, tetapi ia sudah agak lelah. Jelas tubuh ini cenderung lebih banyak bermalas-malasan, jarang bergerak dan ... yah, banyak memakan cemilan.


Semua simpanan cemilan, Nanda lempar ke dalam ruangannya. Beberapa buku novel dan komik sudah diatur ulang. Oh, sekarang Nanda ingat. Ia terlalu gila membaca novel dan komik, membuatnya lebih suka berada di rumah dan bermalas-malasan di dalam kamar.


Yah ... jelas, kebiasaan hidupnya harus dirubah. Nanda tidak tahan dengan tubuhnya yang lemah, jadi ia memutuskan untuk melakukan diet yang sehat, mengembalikan kembali tubuhnya yang ringan dan fleksibel dalam bergerak.


Menatap kembali kamar yang sudah bersih, Nanda benar-benar puas. Ia tanpa ragu masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Menggosok tubuhnya sedemikian rupa dan menikmati guyuran air hangat yang meluncur dari shower.


Karena terlalu lama sudah tidak menikmati tubuh yang bersih dan air panas yang mengalir, Nanda tanpa sadar berlama-lama di dalam kamar mandi hingga membuat jemarinya keriput.


Hingga ketika ia baru keluar dari dalam kamar mandi, Nanda mendapati sosok wanita setengah baya yang berada di ruang tamu. Menoleh ke arahnya dengan pandangan luar biasa.


"Da, kamu mandi?!"


Ucapan wanita itu jelas sindiran. Nanda sangat sadar diri bahwa di hari biasa, ia akan mandi sekali sehari dan pada hari libur, ia juga cenderung meliburkan diri dari mandi.


Namun, remaja itu tidak bisa bereaksi. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat, menatap tidak percaya kepada sosok yang ... oh, berapa lama ia merindukannya? Wanita cerewet yang telah membesarkan dan merawatnya ini?


"Ma?" suara Nanda serak. Hal itu membuatnya menelan liur paksa--mati-matian mencoba menahan gemuruh dan panas pada matanya. Ia ingin berlari mendekati wanita itu, memeluk dan menciumnya. Memberitahukan betapa ia merindukannya, betapa ia menyesal tidak pernah menjadi anak yang berbakti, betapa ia ... oh, apa yang harus dilakukannya? Ia sangat ingin berkeluh kesah, menangis dan melampiaskan semua emosinya.


"Da?" menyadari ada yang salah dengan putrinya, Dewi menatap Nanda dengan cemas. Wanita yang terlihat seperti awal 30an itu terlihat terlalu muda untuk memiliki seorang anak sebesar Nanda. Namun wajahnya memang baby face, terlebih dengan usaha butik yang ia miliki, bukan salahnya bila ia terlihat sangat cantik dan fationable.


Menarik napas dan menghembuskannya, Nanda mencoba menyingkirkan sesak yang meremas dada. Ia memaksakan senyuman, terkekeh lalu dengan ringan melemparkan tubuhnya untuk duduk di atas sofa.


"Kapan Mama pulang? Ga bawa oleh-oleh tuk Nanda?" tanyanya, agak cemberut begitu menyadari wanita itu datang tanpa membawa bingkisan.


"Heh, Mama pegi kerja, bukan jalan-jalan!" Dewi melotot galak, lalu mendengus kesal karena keluhan anaknya. Oh, mungkin hanya perasaannya saja. Nanda tidak kenapa-napa. "Tumben mandi, biasanya Mama suruh juga masih ogah-ogahan."


"Nanda lagi mood," jawabnya enteng. "Eh, Ma, Running Mechine kemaren ditaro di mana?"


Nanda ingat Mamanya suka berolahraga tetapi tidak sempat untuk keluar, ia sibuk dengan butik. Pagi pergi dan sore pulang, bahkan beberapa kali sebulan harus pergi ke luar kota. Jadi, alat fitnes hanya bisa digunakan pada sore hari atau malam.


"Ha? Ada di belakang kan?" Dewi bingung bukan main. "Masa' Da gak liat?" mendadak, wanita itu mulai panik, bangkit berdiri dan hendak berjalan ke belakang rumah. Balkon yang menjadi tempat jemuran dan juga menaruh alat fitnes merupakan ruangan setengah terbuka. Meski terdapat dinding setinggi 2 meter, tetapi tidak menjamin semua aman.


"Masa' sih?" Nanda memasang ekspresi serius. Pura-pura ragu dengan ucapan Mamanya. Ia mengekori wanita itu, seraya berjinjit-jinjit melihat ke depan.


Dewi masih mengomel, hatinya resah. Cepat-cepat melewati dapur dan membuka gembok pintu belakang. "Ini kenapa pintu masih digembok? Kamu pasti belum ngecek kan!"


Tuduhan itu jelas benar, tetapi Nanda memasang ekspresi polos. Buru-buru membela diri. "Kan biasanya Bi Yati yang buka tuk ngejemur baju, ngapain Nanda buka pintu belakang?"


Mengetahui sifat anaknya yang kerap mengurung diri di dalam kamar, pilihan untuk tetap mengunci pintu belakang memang hal yang baik. Apa lagi bila rumah hanya berpenghuni makhluk ini. Dewi semakin merasa putrinya sangat bermasalah bila harus ditinggal sendiri.


Ceklek.


Pintu terbuka, halaman belakang yang berlantai semen terpampang dengan penutup pada bagian atas. Terdapat tali jemuran, mesin cuci di sudut dan sebuah alat fitnes.


"Tuh ada!" sepasang mata menatap menuduh ke arah Nanda. "Jelas-jelas segede gitu masa' gak keliatan?"


"Ehehehe ... ," Nanda nyengir, tidak menjawab sama sekali. Tidak mungkin ia nengakui bahwa ia memang tidak tahu kan? Sangat sulit memikirkan hal-hal detail. Bila bukan karena ia membersihkan kamar, Nanda pasti sudah lupa bahwa saat remaja, ia menyukai membaca komik dan novel romance.


"Ngapain nanyain alat fitnes?" Dewi kembali buka suara, menatap ragu ke arah putrinya. "Kamu mau diet?"


Ekapresi Dewi ketika menanyakan pertanyaan terakhir seolah-olah bertanya 'Kamu bisa terbang?'. Oh, sangat imposibel hingga seperti menanyakan warna kepada orang buta.

__ADS_1


Nanda meringis. Apakah saat remaja ia begitu ... bebal? Sungguh, ia tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengarnya. "Yah ... nyobain aja dulu lah, Ma."


Bila ia menjawab dengan keyakinan dan ketegasan bahwa ia ingin diet, Nanda, 100% yakin Mamanya tidak akan percaya.


Dewi mengangkat alisnya mendengar jawaban itu. Ia jelas meremehkan, tetapi tetap tidak bisa menahan senyuman di bibirnya. "Okay, Da coba-coba aja dulu, kalo berhasil turun 5kg, Mama tambahin uang jajannya."


Mamanya jelas mencoba menambah motivasi Nanda. Oh, apakah dulu ia begitu keras kepala tidak mau diet dan ketika akhirnya berinisiatif sendiri, Mamanya takut ia akan berubah pikiran?


"Serius, Ma?" Nanda mencoba bekerja sama. Menyeringai menatap Ibunya. "Kalo berhasil turun 5kg, beneran bakal dapet duit lebih?"


"Iyalah, kapan Mama bohong?" Dewi mendengus, lalu menambahkan. "Tapi Da gak boleh pakek obat loh, atau nyoba-nyoba alat yang gak sehat. Mama maunya Da kurus bukan dengan cara instan."


Nanda nyengir. Ia berencana diet karena ingin tubuh yang kuat dan fleksibel, jelas sesuatu yang tidak bisa didapat dengan instan.


"Okay! Mama udah janji loh ya!"


"Iya, iya, Mama janji," Dewi menggelengkan kepala dengan geli. "Da udah sarapan?"


Nanda langsung memasang ekspresi memelas seraya memegang perutnya. "Belum," keluhnya manja.


"Ya udah, mau Mama buatin nasi goreng atau mau Mama temenin makan di luar?"


"Makan nasi goreng!"


Dewi tersenyum geli. Sejujurnya, ia lelah karena baru saja pulang dari luar kota dan ingin tidur, tetapi mendapati anaknya baru saja mandi dan bahkan memiliki niat untuk diet ... oh, siapa yang menyuruh anaknya begitu manis seperti ini?


Nanda terkekeh. Ia dengan patuh mengikut Mamanya pergi ke dapur. Membantu untuk mengiris bawang merah dan bawang putih, mempersiapkan bumbu untuk membuat Nasi Goreng. Tindakan sederhana itu sukses membuat Dewi terdiam untuk beberapa saat. Wanita itu menoleh, menatap remaja gemuk yang bersenandung dan mengecek nasi di dalam magic jer.


Sejak kapan Nanda bisa memasak?


Dewi sangat tahu dengan putrinya. Tidak ada orang lain yang lebih mengenali Ananda Sartika selain dirinya sendiri. Ia mungkin memang jarang berada di rumah, tetapi matanya tidak pernah lepas mengawasi pertumbuhan putrinya. Terlebih pada masa-masa pubertas seperti ini, dimana menjadi cikal bakal pembentukan karakter dan rasa pensaran dengan segala hal. Nanda kerap menceritakan apapun kepadanya, bersikap manja dan bahkan mengeluhkan segala hal.


Namun ...


"Da, kamu bisa masak?"


Nanda yang tengah mengeluarkan nasi dan mendinginkannya menghentikan pergerakan. Kepala menoleh, menatap ibunya dengan bingung. Namun beberapa detik kemudian, ia menyadari kesalahn fatal apa yang diperbuatnya. Sukses membuat jantungnya terasa mencelos begitu menyadari tindakannya sendiri.


Oh, bukankah ia yang masih SMA, tidak bisa memasak sama sekali?! Bahkan memasak mie instan?!


"Ya bisa lah!" Nanda cepat-cepat menjawab. Nadanya penuh dengan kepercayaan diri, mencoba mengaburkan kegugupan yang membuat jantungnya berdetak cepat. "Cuma nasi goreng kan? Gampang!" ucapnya sombong.


"Oh ya?" Dewi menatap putrinya dengan ragu. "Yakin itu bisa dimakan?"


Nanda cemberut. Ia langsung melotot galak ke arah wanita cantik itu. "Ya udah kalo gak percaya, Mama aja yang masak," gerutunya lalu berjalan menuju meja dan duduk manis di sana.


Dewi tertawa. Oh, ia hanya bertanya dengan santai, tetapi anaknya sudah merajuk? "Ya udah, Mama aja yang masak. Masih lebih enak masakan Mama kan? Lagian kamu pergi ke dapur, nanti yang ada malah ngancurin dapur."


"Mama!"


"Ahahaha ... iya, iya."


Bibir remaja itu manyun, ekspresinya masih terlihat kesal. Namun diam-diam, Nanda menghela napas lega di dalam hati. Oh, sungguh, benar-benar nyaris ...

__ADS_1


__ADS_2