Zombie

Zombie
47: Pelelangan (1)


__ADS_3

Bangunan besar nan mewah itu terlihat ramai dipadati oleh beberapa orang yang mengantri. Bangunan bergaya Eropa begitu kokoh dan mencolok, dengan kedua pilar menyangga pada bagian depan untuk menopang langit-langit pelindung dari sengatan matahari. Beberapa pengantri mengobrol, atau mengipasi diri sendiri dan mengeluh prihal proses yang terlalu lama. Jangan salahkan proses, salahkan kenapa hari ini terlalu panas. Acara baru akan dimulai 4 jam lagi, tetapi semua orang sudah mengantri dan takut mereka akan kesulitan mencapai kursi mereka.


Untuk beberapa saat, Nanda agak tercenga dengan pemandangan di depannya. Oh, begitu banyak orang, semuanya bisa tertampung? Namun mendapatkan informasi dari udara yang berhembus, Nanda menyadari bahwa bangunan mewah ini memiliki ruang bawah tanah yang sebesar lapangan basket. Ukurannya yang mencengangkan, cukup untuk menampung hingga lebih dari seribu orang.


"Apakah kita harus mengantri?" Luna buka suara, ragu-ragu menatap antrian yang begitu panjang dan pengap. Terimpit dilautan manusia bukan sesuatu yang menyenangkan. Beberapa orang yang membentuk kelompok ini jelas merasa sungka untuk bergerak ikut mengantri.


Nanda dan Ganesah tidak pergi hanya berduaan. Mereka pergi bersama dengan kelompok Raja. Para elit ingin ikut bersenang-senang. Mumpung mereka tiket kelas 2, lebih baik memanfaatkan kesempatan. Toh siapa tahu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Meski kelompok Raja hanya ada Raja, Luna, Putra, Dwi dan Ifa, tetap saja rombongan ini merupakan rombongan elit kelompok Raja kan?


"Ini untuk kursi kelas 3," Ifa mengkerutkan alisnya, sepasang iris menatap ke tempat yang ramai, tetapi juga berkeliaran mencari sisi lain yang tidak terlalu padat. "Kita kursi kelas 2, seharusnya kursi kelas 2 dan 1 dipisah," ujarnya yakin.


"Benar, benar! Kelas satu dan kelas dua seharusnya dipisah," Putra mengangguk setuju. Matanya bergerak liar, mencari-cari celah. Sepasang mata menyipit, menggunakan kemampuannya sebaik mungkin hingga akhirnya ekspresi wajah serius itu berubah bersinar dengan wajah yang berseri-seri. "Nah! Di sana!" serunya seraya menunjuk ke sisi kiri gedung. Semua mata refleks memandang ke arah jari menunjuk, memamerkan bagian ujung gedung yang jauh lebih sepi tetapi dijaga oleh sepasang pria berotot yang terlihat kuat.


"Di sana?" Dwi ragu, tetapi Raja tidak terlalu banyak berpikir. Ia langsung berjalan menuju ke area yang titunjuk putra, membuat bawahan yang lain, mau tidak mau juga harus mengikuti. Luna yang sangat jarang ke luar, tidak henti memandang sekitarnya dengan penuh minat. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, memperhatikan sekitarnya seperti anak kecil yang penasaran dengan dunia luar. Namun kedua tangan putih itu terulur, memeluk lengan kokoh Raja, membuat ekspresi pria yang dipegang, jelas lebih lembut dan senang.


Kelompok mereka sampai di depan kedua petugas bertubuh kekar. Kedua pria itu ternyata menjaga sebuah pintu ganda yang terbuka pada sisi lain dinding. Ada orang lain yang berdiri di depan pintu. Seorang wanita cantik berpakaian formal--jelas berbeda dengan wanita penyambut tamu yang sebelumnya Ganesha dan Nanda temui.


"Halo, selamat datang. Area ini khusus untuk tamu kelas satu dan dua," wanita itu menyapa, tersenyum ramah dan jelas memperingatkan bahwa pintu hanya untuk mereka yang memiliki tiket kelas 1 dan 2.


"Kami dari kelas 2," Putra tanpa ragu buka suara. Maju kedepan dan memamerkan beberapa lembar tiket yang mereka peroleh. Matanya jelas jauh lebih cerah begitu mendengar wanita itu menjelaskan. Oh, tebakannya benar! Hal ini membuat dada Putra membusung bangga, melirik Dwi yang sempat meragukannya.


Wanita itu tidak merubah ekspresinya. Masih tersenyum dan jelas sangat profesional. "Bisa saya melihat tiketnya?"


"Tentu!"


Tanpa ragu, Putra menyerahkan tiket di tangannya untuk diperiksa. Ada 7 tiket yang diperiksa, masing-masing tiket hanya untuk satu orang. Jadi, ketika mengkonfirmasi bahwa tiket dan nomor tempat duduk itu benar, petugawa Wanita tersenyum, mempersilahkan rombongan untuk masuk ke dalam.


Begitu masuk ke dalam, mereka disambut dengan sebuah lorong panjang dengan dinding semen kelabu yang tidak di cat. Beberapa meter melangkah, seorang pria yang mengenakan setelan formal tersenyum menyambut, meminta tikte lalu dengan berbaik hati memimpin jalan. Lorong yang mereka masuki hanya selebar 2 meter, polos tanpa hiasan dengan lampu-lampu hemat energi berwarna kekuningan yang agak redup.

__ADS_1


Rombongan itu berjalan selama beberapa menit, menuruni anak-anak tangga menuju ke bawah tanah. Nanda, Putra dan Dwi yang tidak bisa diam, sesekali bertanya dengan petugas. Apakah rumah lelang ini sudah lama berdiri? Benda-benda apa yang biasanya dilelang? Bila terjadi kerusuhan, bagaimana? Apakah terjamin bahwa barang yang dilelang itu asli?


Beberapa pertanyaan dan percakapan bodoh dilontarkan, hanya untuk membunuh waktu dan mengalihkan perhatian. Namun ketika mereka sampai di ujung tangga, mata semua orang dibutakan oleh sebuah lapangan yang besar dan luas. Lapangan ini seukuran lapangan basket, tetapi area untuk menonton sangat besar dengan kursi-kursi berderat seperti tangga yang mengelilingi area dan beberapa boks khusus yang dilapisi kaca.


Petugas yang mengantar mereka tersenyum, memberikan sedikit waktu untuk terbiasa dengan pemandangan di tempat ini sebelum akhirnya mengantar semua tamu ke masing-masing kotak. Mereka memiliki 2 ruangan yang berbeda. Ganesha, Nanda dan Putra satu ruangan, tetapi Putra jelas tidak mau berpisah dari rombongan Raja. Jadi, ia dengan suka rela pergi ke kotak sebelah dan meninggalkan sepasang kekasih sendirian menikmati waktu berduaan.


Di dalam kotak, dinding-dinding terbuat dari kaca berwarna gelap. Orang-orang di luar tidak bisa melihat ke dalam, tetapi orang di dalam kotak bisa melihat ke luar. Terlebih ruangan yang diberikan tidak terlalu besar atau kecil. Ukurannya hanya sekitar 2 atau 3 meter, dengan satu set sofa dan meja. Terdapat sebuah TV di atas meja, menampilkan beberapa slide yang terus bergerak bersama dengan foto-foto barang yang akan dilelang.


Nanda dengan senang hati masuk ke dalam kotak, menjelajahi area baru itu dengan mata cokelat yang penuh dengan rasa ingin tahu. Ia duduk di sofa panjang yang empuk, menoleh menatap ruangan yang terbuat dari kaca, memandang ke atas meja di mana terdapat TV yang hidup, lalu mendongak menatap AC yang hidup.


"Benar-benar kaya," gumam Nanda. Ia menoleh menatap Ganesha yang berjalan mendekat, lalu mendapati pelayan yang mengantar telah pergi. Menutup pintu kotak dan memberikan privasi kepada kedua tamu. "Sayang, menurutmu, mereka menggunakan metode apa untuk mendapatkan listrik?"


Pria bertopeng duduk tepat di samping istrinya. Mendengar pertanyaan Nanda, membuat ia terdiam.


"Ada lebih dari 50 kotak, bila semua ruangan memiliki AC, TV dan bahkan setiap tempat disediakan lampu, menurutmu, dari mana sumber listrik mereka berasal?"


Nanda tersenyum dan Ganesha tetap hening. Tidak ada lagi yang berbicara di kotak itu begitu pertanyaan Nanda jatuh. Bagaimanapun, ia ingat tentang Pangkalan 1 AD. Di rumah Wijaya bahkan hanya memiliki lampu yang hanya akan dihidupkan pada malam hari, tetapi tempat ini jelas tidak mempermasalahkan prihal biaya listrik. Mereka memiliki sumber energi sendiri, sama halnya seperti sebuah perusahaan atau hotel yang dibangun.


Pelelangan baru akan dimulai pukul 17.00, sekarang waktu yang tertera pada layar TV masih pukul 16.03. Satu jam menunggu bukan waktu yang singkat. Berdiam diri di dalam kotak kecil bukan sesuatu yang bisa Nanda tahan. Untungnya, panitia pelelangan juga memperhatikan bahwa beberapa tamu yang datang pasti akan tiba lebih awal. Mereka juga menyediakan penjualan terpisah, dapat membeli makanan dan minuman sesuai menu--oh, apapun itu, mereka benar-benar tidak menyia-nyiakan keuntungan yang bisa didapat.


"Ada kembang tahu?" Nanda berseru, tidak percaya dengan menu yang berada di tangannya. Beberapa cemilan dan makanan pokok tertera. Isinya seperti menu biasa yang tertera pada restoran, tetapi dengan pembayaran yang selangit. Sayangnya, sebelum datang, Nanda sudah makan, jadi ia tidak berniat melirik makanan pokok dan melompat ke beberapa dessert dan cemilan.


Tetapi ia tidak menyangka akan menemukan menu Kembang Tahu. Oh, sudah berapa lama ia tidak memakan tahu lembut dengan kuah jahe itu? Nanda menelan liur paksa. Tanpa ragu memanggil seorang pelayan dan memesan seporsi kembang tahu. Meski harganya mahal, tetapi Nanda tidak kekurangan Nukleus sama sekali kan?


"Suka kembang tahu?" Ganesha bertanya, melihat wajah Nanda yang berseri-seri dan jelas bersemangat dengan manu yang baru saja dipesannya.


"Suka!" Tanpa ragu sosok wanita itu menjawab. Senyuman lima jari merekah, wajahnya memerah, tidak sabar ingin melahap kembang tahu yang sudah lama tidak pernah terecap lidah. "Rasanya enak, cocok disaat panas bila ditambah dengan es, bila tidak pakai es, itu juga cocok untuk hari dingin."

__ADS_1


Jahe yang menjadi kuah cukup untuk menghangatkan tubuh, rasanya yang manis pedas dinetralkan dengan tahu putih lembut yang cenderung tidak memiliki rasa. Dulu, Nanda sering membelinya bila gerobak penjual melewati rumah. Namun sayang, sejak kuliah dan menikah dengan Ganesha, ia jadi jarang menikmatinya.


"Sayang, dulu aku pernah mencoba membuatnya, tetapi gagal," Nanda terkikik, duduk di sofa di samping Ganesha dan menatap zombie bertopeng itu. "Karena aku tahu itu gagal, aku memberikannya kepadamu dan kau memakannya!"


Nanda tertawa bila mengingatnya. Dulu ia sangat ingin memakan kembang tahu, jadi ia mencoba membuatnya sendiri. Sayangnya, percobaan pertamanya gagal. Nanda tidak berniat memakan masakan yang tidak enak, jadi dengan iseng memberikannya ke Ganesha. Mengatakan bahwa itu buatannya sendiri dan special untuk calon suami tercinta. Siapa tahu bahwa Ganesha dengan suka rela akan benar-benar menghabiskan makanan yang gagal? Pria itu jadi terkena diare dan bolak-balik masuk WC hingga membuatnya absen selama sehari di kelas.


Tanpa sadar, setelah mengucapkan masa lalu mereka, Nanda mulai menceritakan berbagai macam hal. Dari kencan pertama mereka dimana Nanda dengan bangga menguras kantong Ganesha untuk membeli beberapa kilogram kacang, sampai ketika pertama kali ke rumah Ganesha dan dikira pembantu baru oleh Mama Ganesha karena tepat ketika Nanda datang, hari itu juga pembantu baru datang.


Nanda tidak berhenti bercerita dan Ganesha dengan baik mendengarkan. Sampai pelayan datang dan membawa pesanan, Nanda baru bisa diam dan menikmati kembang tahu dengan senang. Oh, porsi yang diberikan tidak banyak, tetapi rasanya yang enak cukup untuk Nanda merasa puas. Meski harganya mahal, setidaknya Nanda sudah cukup mengisi kerinduannya.


Lalu, satu jam berlalu begitu saja di dalam kotak.


Di tengah lapangan, seorang pria dengan rambut cokelat dan mata cokelat berdiri di sana. Tubuh yang tinggi dan wajah tampan, menjadi daya tarik tersendiri ketika ia tersenyum dengan penuh keramahan. Terlebih dengan pakaian semi formal yang dikenakan--Kaos yang dilapisi jas hitam, memberikan kesan menawan.


Pria tampan yang menjadi MC itu memegang Mic, wajahnya disorot oleh kamera--membuat ia terlihat lebih jelas pada layar besar yang terpasang di tengah-tengah lapangan. Terdapat 4 layar, masing-masing berdiri saling berhadapan agar para tamu yang ingin melelang dapat melihat dengan baik. Namun, untuk orang-orang di bangku kelas 1 dan 2, mereka masuk ke dalam kotak. Menikmati suasana dibalik layar TV yang menyiarkan langsung acara.


"Selamat datang di Pelelangan Pangkalan Hijau, sangat senang sekali kita bisa bertemu kembali pada pelelangan ini. Oh, tetapi tentu saja, seperti biasa, barang-barang yang kami lelang sudah pasti akan memuaskan kalian semua," MC itu membuka suara, nadanya jenaka, suaranya merdu dan terdengar menyenangkan, membuat Nanda diam-diam teringat dengan beberapa MC dan VJ yang biasa ia tonton di TV.


"Baiklah, kalian para orang kaya, sudah pasti tidak sabar untuk menghamburkan uang kalian. Langsung saja, saya akan memperkenalkan barang yang pertama," MC itu tersenyum, lalu seorang pria keluar, mendorong sebuah jeruji besi berisikan seekor kambing. Kambing itu hampir sebesar kuda, dengan tanduk melingkar yang kokoh dan ganas. Kemarahan jelas dipancarkan olehnya, domba berbulu hitam-putih akan menabrakkan tanduknya ke jeruji besi dan menunjukkan agresi yang berlebih. Namun tidak peduli sekuat apapun jeruji itu bergetar karena serangannya, kandang yang mengurungnya tetap kokoh menahan keberadaan kambing itu.


"Ya, hari ini kami menemukan seekor kambing," MC itu tersenyum, melirik ke arah kambing lalu menatap ke arah penonton. "Satu hal yang perlu kalian ketahui, kambing ini sudah kami periksa dan ini kambing yang bermutasi! Usianya baru satu setengah tahun dengan jenis kelamin jantan, daging yang dihasilkan tentu saja akan sangat benergi--oh, baiklah. Saya akan mulai membuka harga. Harga awal dimulai dari 15 nukleus level 2, untuk tawaran selanjutnya akan dinaikkan sebesar 1 nukleus level 2!"


MC membuka harga dan orang-orang mulai mengajukan tawarannya. Dengan cepat, harga yang semula hanya 15 nukleus level 2, menjulang menjadi 2 nukleus level 3 dan masih menaik. Oh, mengingat hewan bermutasi sangat sulit didapat, harga ini bisa dibilang seimbang. Meski rasanya tidak terlalu enak dan bisa membuat diare bagi yang tidak terbiasa, tetapi peneliti telah mengumumkan bahwa daging hewan bermutasi bisa dimakan dan cenderung menambah energi dan memperkuat tubuh.


Nanda berkedip, menonton acara pelelangan di layar TV dengan serius, sesekali ia berkomentar. Persaingan mendapatkan daging mutan sangat ketat, tetapi jelas beberapa orang di dalam kotak tidak tertarik untuk ikut bersaing. Pada akhirnya, kambing itu terjual dengan harga 10 nukleus level 3.


Lalu satu persatu, MC mulai memamerkan barang-barang yang lain di hadapan para hadirin dan salah satunya adalah kopi milik Nanda. Oh, Nanda tidak henti menyeringai ketika ternyata kopinya laku lumayan mahal. 7 nukleus level 4 dan 3 nukleus level 2, itu harga yang sangat tinggi. Namun sayangnya, seringai Nanda tidak bertahan lama. Ketika MC mengeluarkan sebuah jeruji kembali, senyuman wanita itu menjadi kaku.

__ADS_1


Di dalam kandang yang dingin dan terbuka, sosok manusia tanpa busana dirantai di dalamnya.


__ADS_2