
“tidak!”
Setelah selesai memberikan hansaplast pada kening pria menyebalkan itu, Valery meninggalkannya begitu saja di sana, Valery masih marah pada sikap pria itu, bagaimana bisa pria itu terus menciumnya, itu hampir membuat Valery gila.
“Hei! Valery kau masih marah padaku?”
Woojin yang tidak ingin di tinggal segera mengejar Valery yang belum jauh.
“setidaknya beritahu apa yang harus aku lakukan, agar kamu memaafkanku”
Valery mendengar itu langsung menghentikan langkahnya dan berbalik arah, “berhenti menciumku! Aku bukan kekasihmu atau pun wanita murahan yang bisa dengan mudah kau ajak tidur, jadi sekarang bersikaplah seperti kau adalah atasanku dan aku adalah bawahanmu!”
“jadi kau ingin aku bersikap seperti atasanmu baiklah, jangan menyalahkan tentang hal itu!” ada sebuah seringai muncul di sudut bibir Woojin, pria itu melangkah mendahului Valery.
Entah kenapa perubahan yang terjadi pada Woojin langsung membuat tubuh Valery gemetar, sikap dingin itu, 'apakah aku salah bicara?'
Waktu sudah mulai mendekati sore hari, Valery tidak punya banyak waktu untuk makan siang, karena tepat pukul empat sore dia sudah harus kembali. Jadi Valery memilih untuk membeli hamburger lalu memakannya di perjalanan.
Kini Valery sedang di dalam taksi menuju lokasi selanjutnya yaitu pantai Hawaii, ponsel terus berdering membuat acara makan siangnya sedikit terganggu.
Valery : “Ya, ada apa Tuan Woojin?”
Woojin : “cepatlah kembali!”
Valery : “aku sedang ... ”
Panggilan itu terputus, sepertinya Woojin benar-benar bersikap seperti atasannya, Valery hanya bisa mengangkat bahunya dan melanjutkan acara makan siang yang sempat tertunda.
Kini sampailah Valery di pantai Hawaii, butuh waktu yang cukup lama untuk bisa sampai kesini, karena macet Valery sampai menghabiskan waktu 45 menit dalam perjalanan, Valery menghela nafas dia maaih bisa datang tepat waktu.
__ADS_1
Langkah kaki Valery langsung menuju ruangan meeting, tapi saat membuka ruangan itu tidak ada satupun orang sana.
“kenapa aku bisa lupa! Bukankah sekarang jadwalnya berkunjung ke proyek hotel”
Setelah menutup pintu ruangan Meeting, Valery bisa merasakan jika pria itu kini sedang berada di belakang tubuhnya, menatapnya dengan tatapan dinginnya. Dengan ragu-ragu dia membalikkan tubuhnya menghadap pria itu yang sedang melipat kedua tangannya di dadanya.
“kapan kau akan bersikap profesional nona Valery? Harus di ingatkan berapa kali, untuk sering membuka emailmu? Cepat yang lain sudah menunggu”
Woojin pergi begitu saja, dia tidak memberikan kesempatan Valery untuk menjelaskan semua, memberikannya begitu banyak pertanyaan tapi dia juga tidak mau mendengar jawaban.
Tak ingin membuat semuanya menjadi berantakan, Valery hanya bisa mengikuti semua hal yang Woojin perintahkan, jika Woojin menantang Valery untuk bersikap profesional maka Valery akan menunjukannya sampai pria itu puas dengan sikap profesionalnya.
Waktu terus berjalan, detik menjadi menit, menit menjadi jam, hingga pukul sudah menunjukan di mana matahari akan menenggelamkan dirinya dan bergantian dengan bulan.
Pekerjaan Valery sudah selesai, dia pun juga sudah berganti pakaian dengan pakaian pakain pantai tapi Valery tidak memakai biniki, Valery memakai celana pendek dan kaos putih yang dimasukan kedalam celana, dengan rambut yang dibiarkan tergurai.
Duduk di hamparan pasir putih di iringi dengan angin yang menyejukan, membuat suasana hati Valery menjadi lebih baik, ditambah dengan suara gelombang laut membuat pikirannya menjadi lebih tenang, dan ditambah lagi dengan menunggu sang matahari terbenam membuat semua ini semakin indah.
“apa kau tidak ingin pulang?” tanya Woojin, pria itu sudah tidak memakai seragam kantornya.
“aku akan kembali nanti, aku ingin melihat matahari terbenam, jadi kamu bisa pulang duluan”
Bukannya pulang, Woojin malah memilih untuk duduk di samping Valery.
“kenapa?” tanya Valery, dia bingung pria yang ada di samping, sikap sangat tentramen sekali, kadang dia akan bersikap seperti atasannya, kadang seperti baik dan kadang seperti pria mesum.
“menjagamu, jangan salah paham, kau adalah asistenku, aku juga punya tanggung jawab untuk menjagamu”
Momen yang ditunggu pun terjadi, matahari mulai menenggelamkan dirinya, Valery menikmati setiap detik yang dia lewati, dia merekam semuanya dalam ponselnya.
__ADS_1
Woojin yang melihat sikap tenang Valery membuatnya ikut tenang dalam ketenangan suasana di sana, 'wanita sangat cantik jika sedang seperti ini'. Woojin pun ikut tersenyum sangat Valery tersenyum lepas melihat matahari yang sudah terbenam.
“ayo kembali, tadi para investor mengajakku untuk makan malam, mereka juga berpesan untuk mengajakmu juga” ucap Woojin, dia mengulurkan tangannya kepada Valery.
“baiklah”
bukannya menerima uluran tangan itu, Valery memilih untuk bangun sendiri dan mengabaikan Woojin begitu saja, dia berjalan kembali sendiri tanpa menoleh ke arah Woojin walaupun hanya sekedar mengajaknya pergi bersama, dia benar-benar mengabaikannya sejak dia duduk di sampingnya.
Para investor dan karyawan sangat menikmati makan malam yang memang sudah mereka berencana untuk merayakan project hotel yang sudah berjalan 50%, menu utama dalam makan malam ini adalah seafood, dan juga tentu saja dengan beberapa botol alkohol dan wine.
Valery memang sangat menyukai wine tapi jika dia terlalu banyak meminum, dia akan kehilangan kendali, Valery akan mengeluarkan semua emosi yang dia simpan dan itu pasti akan menghancurkan reputasinya.
Valery yang sudah sampai ke tempat makan malam hanya bisa diam di depan pintu, begitu banyak minum yang seakan-akan mengoda Valery untuk meminumnya, dengan susah payah Valery menelan air liurnya, tenggorokannya terasa begitu kering.
“kau menghalangi orang lain, untuk masuk!”
Suara dingin Woojin menerpa telinga Valery, pria menyebalkan itu kini sudah berada di belakang tubuh Valery.
Valery yang merasa ini segera meninggalkan tempat itu, tapi entah kenapa saat melangkah sapatu yang dia pakai talinya terputus dan membuatnya terjatuh kebelakang dan dengan sigap Woojin memegang tubuh Valery. Tatapan mereka bertemu, mata Valery melihat mata Woojin seperti mata seseorang yang dia kenal, mata itu ... Mata seseorang yang sangat ....
“kamu tidak apa-apa Valery?” tanya Woojin, pria itu melepaskan tubuh Valery dan membantunya merapikan tali sepatu yang terbuka.
“Eh.. Tuan tidak usah melakukan itu, aku baik-baik saja, apakah anda tidak malu dilihat oleh mereka”
Valery yang tidak bisa menerima perlakukan itu dengan cepat Valery mengambil alih tali sepatunya yang dipegang oleh Woojin. Namun Woojin pun tidak mau kalah dan terus mempertahankan, dengan kesal Valery melepas sepatu, lalu meninggalkannya di sana.
Valery berjalan mendekati para investor yang sedang menikmati makan malam dengan diiringi lagu yang biasa dimainkan saat di pantai, dia menarik salah satu kursi dan ikut bergabung bersama mereka, malam ini Valery ingin membebaskan dirinya dari beban hidup dan juga masalahnya, tapi dia juga harus mengendalikan dirinya untuk tidak meminum banyak alkohol.
Tak lama kemudian juga Woojin ikut bergabung dengan mereka, dia mengambil tempat di samping Valery yang masih kosong, salah satu investor mengajak semua orang untuk bersulang untuk pencapaian proyek hotel mereka.
__ADS_1
Semua orang menikmati pesta makan malam itu dengan sangat meriah, Valery pun sangat bahagia, dia sana dia lebih banyak tertawa dan tersenyum, seperti seseorang yang berbeda dari Valery yang biasa, mereka seperti melihat sisi keceriaan dan kebahagian Valery. Dan Woojin, pria itu hanya menatap Valery dengan raut wajah yang serius, dia sedang mengamati sikap Valery yang sebenarnya.