
Valery tertidur dengan posisi dirinya yang berada ditepi ranjang menghadap kearah lampu tidur dan jam yang audah menujukan pukul 11 malam, setelah Woojin pergi rasa kantuk belum juga menghampiri Sona saat ini juga, dia masih memberikan kesempatan pada matanya untuk terus terbuka walau sebenarnya dalam pikiran dia ingin sekali memejamkan kedua matanya.
Valery juga tidak memperdulikan buku tua itu yang tergeletak dilantai dengan pecahan vas yang masih ada disana, rasanya Valery terlalu takut walau sudah melihat buku itu tertutup rapat. Tapi dia tidak mau mengambil resiko jika pagi harinya terjadi suatu entah itu dirinya atau Woojin yang menginjak serpihan pecahan Vas bunga itu.
Dengan malas Valery mengibaskan selimut yang tado menutupi tubuhnya, lalu kemudian dia memakai sandal yang bermotip kelinci itu, kemudian dia mengambil tong sampah dan mulau mengambil satu persatu pecahan Vas bunga, hingga saat tangan Valery mengambil serpihan yang ada di atas buku itu tiba-tiba tangannya tergores hingga mengeluarkan darah dan menyentuh kampul buku tua itu.
Detik berikut, cahaya keluar dari motif bunga aster di sampul tua itu yang membuat Valery sedikut memundurkan langkah, namun apa yang terjadi benar-benar diluar dugaan Valery karena buku tua itu terbuka sendiri didalamnya dengan cahaya yang semakin redup.
Halaman-pun berhenti pada halaman ke 125 dan cahaya juga berhenti secara bersamaan dengan berakhirnya terbukanya buku. Valery yang melihat itu hanya bisa terdiam dan juga secara perlahan mendekati buku itu walau dia masih sedikit ketakutan untuk melihat apa yang tertulis dihalaman 125 itu.
Tak memperdulikan luka dijari telunjuknya Valery malah mengambil buku tua itu untuk membaca apa yang dimasuk dengan ‘Teori Hwando’
Halaman 125 - 130 ‘Teori Hwando’
Teori Hwando yang berarti satu, Teori ini diawal dari bahasa Afro leluhur yang sudah menjadi Teori tertua dan paling terkuat dalam hubungan Aster, manusia, bulan purnama dan juga kematian.
‘Teori Hwando’ memiliki makna lain jika di artikan dalam bahasa manusia yang berarti pintu terakhir, Teori ini bisa menjadi jalan terakhir untuk Aster manusia yang tidak mampu lagi untuk menanggung Aster didalam tubuhnya, seperti yang dikatakan pada Afro Chlid jika Aster manusia tidak bisa mati dengan cara sengaja yaitu seperti membunuh diri dan lain-lainnya.
Dalam Teori ini mengatakan jika Aster manusia bisa melewati bulan purnama tanpa melakukan hubungan intim dengan manusia atau para Afro, ada cara yang bisa dilakukan jika bulan purnama terjadi dalam waktu yang begitu dekat, dengan cara membuat suhu tubuh turun begitu drastis yang berarti melakukan penghentian untuk Aster melakukan pertumbuhan didalam tubuh. Jika aliran darah berhenti selama bulan purnama maka Aster tidak akan bercahaya dan juga tidak membuatnya tumbuh lagi yang itu berarti dalam hitungan lima tahun kedepan Aster akan mati begitu saja.
Sama seperti Teori lain, Jika Aster mati maka itu berarti manusia itu juga akan ikut mati bersama Aster karena keduanya sudah seperti satu jantung. Tidak ada solusi untuk menghindari kematian bagi Aster manusia karena sudah menjadi takdir dan satu hukuman.
Didalam Teori Hawando mengatakan jika Aster manusia mati, dia akan diberikan kesempatan untuk hidup sebagai manusia murni setelah menunggu seratus tahun jika didunia Aster manusia memiliki seorang yang dia cintai dan rela melakukan ikatan darah dengan Aster manusia maka kesempatan untuk hidup menjadi manusia murni akan semakin besar ketimbang terlahir menjadi AfroChild.
Dalam kata lain dari ikatan darah adalah seorang yang begitu mencintai Aster manusia dan rela hidup sendiri setelah Aster manusia mati, keduanya juga akan diberikan kesempatan untuk bertemu lagi ketika terjadi renkarnasi telah seribu tahun, ikatan darah itu adalah melakukan sebuah ritual menumpahkan darah pada tanda Aster ditubuh manusia itu, pada saat Aster manusia akan mendekati kematiannya.
Halaman 130 ‘Teori Hwando’
Jika Aster manusia mau mencoba Teori ini tentu saja banyak resiko yang akan ditanggung olehnya, entah itu usia yang dipotong semakin cepat, lalu melemahnya sistem tubuhnya, dan juga kematian yang akan segera merenggut Aster manusia.
Itu merupakan satu alasan kenapa banyak Aster manusia yang lebih memilih untuk mati lebih awal walau akhirnya tidak semua bisa terlahir kembali menjadi manusia.
__ADS_1
Jadi dalam Teori Hwando mengatakan jika para Aster manusia harus lebih mempertimbangankan lagi kehidupan mereka untuk kedepannya dalam menghadapi bulan purnama dan ancaman lainnya.
Setelah itu Valery hanya bisa kembali merenungkan semua hal yang akan dia pilih ketika bulan purnama terjadi nanti, setiap Teori memiliki keuntungan dan juga resiko yanh berbeda-beda, jika Valery lebih memilih membiarkan Aster dipunggungnya menyala saat bulan purnama terjadi bukankah itu sama saja dengan membiarkan para Afro Dark mengincarnya?
Belum lagi sang paman yang mungkin saat ini akan mengerahlan seluruh bawahannya untuk mencari keberadaan Valery.
Lalu jalan apa yang akan Valery gunakan?
Mencari gua yang tidak tahu dimana lokasinya?
Atau meminta Woojin melakukan hubungan intim dengan saat bulan purnama?
Atau memilih untuk Teori Hwando?
Satu kali lagi Valery dibuat merasa jika hidupnya tidak ada yang begitu berarti untuk dilalui begitu saja, Valery berhadap bisa menemukan solusi untuk Aster walau rasanya sangat mustahil untuk ditemukan, bahkan Teori yanh ditulis dalam buku tua itu saja tidak bisa memberikan Valery jalan keluar untuk semua masalah Aster ini, pada akhirnya hanya kematian yang menjadi satu jalan pintas untuk Valery mengakhiri semua penderitaannya.
“aku harus bagaimana? Ibu? Ayah? Tidak kalian beri aku satu solusi untuk masalah ini? Aku takut! Aku sendirian tanpa bisa melakukan apapun! Tidak ada tempat bagiku untuk membagi luka dan penderitaan ini”
*******
Berita pagi ini mengatakan jika akan ada cuaca buruk yang terjadi pada hari ini hingga menjelang sore nanti, cuaca kali ini akan terjadi hujan deras di ikuti dengan angin topan yang bisa menerbangkan barang hingga jauh dari tempat semula, seperti yang dikatakan oleh lamaran cuaca hari ini hujan akan turun saat matahari akan menampakkan dirinya. Dan benar saja ketika Woojin membuka kedua matanya, pria itu bisa melihat tetesan hujan yang mengubah kaca jendelanya jadi berembun dan buram untuk dilihat.
Dari dalam kamar yang didominasi oleh warna abu-abu dan hitam bisa dilihat jika Woojin sangat menyukai hujan yang membuat siapapun akan lebih melekat dengan ranjang dan selimut, membuat semua orang enggan untuk melangkah jauh dari ranjang kesayangan mereka.
Dari jam yang ada di dekatnya bisa dilihat jika hari sudah menujukan pukul 7.30 pagi, setelah meregangkan otot-otot tubuhnya, Woojin segera menuju bathroom untuk sekedar membersihkan wajah dan lain-lainnya.
Setelah 10 menit, Woojin keluar dengan kaos putih dan calana bahan berwarna coklat, tentu saja dengan sendal rumahan yanh memang sudah menjadi satu kebiasaannya dirumah, dengan handuk kecil yang melilit dilehernya Woojin berjalan keluar kamarnya. Tujuan awalnya keluar dari kamarnya tentu saja untuk melihat wanita yang tdiur disebrang kamarnya.
Tak menunggu lama Woojin segera membuka pintu kamar Valery yang memang tidak pernah dikunci oleh wanita itu selama tinggal disini, tetap ketika pintu kamar terbuka tatapan Woojin langsung tertuju pada Valery yang tertidur dilantai dengan pakaian tipisnya, Woojin yang melihat itu segera mendekati Valery yang kini suhu tubuhnya sudah melewati batas normal suhu manusia.
“Valery apa yang terjadi?”
__ADS_1
Setelah meletakkan Valery kembali keranjangnya dan meletakkan kain dikening yang sudah direndam air hangat, Woojin lebih memilih untuk tetap disamping wanita yang belum tersadar dari tidurnya, dengan wajah yang cemas dan juga sedih Woojin hanya bisa berharap Valery berhenti untuk melakukan hal dapat melukai dirinya sendiri, hingga saat ini Woojin masih belum mampu untuk menceritakan segalanya pada Valery namun dia juga ingin mengetahui apa yang Valery sembunyikan dari dirinya.
“Valery, sebenarnya aku ingin sekali menjelaskan perasaanku padamu, tapi takdir kita yang tidak pernah memberikan kesempatan untukku mengatakannya, kenapa begitu sulit untuk kita walau nyatanya kita tetap bersama”
“jika saat itu kita tidak bertemu, akankah di kehidupan selanjutnya kita bisa bertemu?”
Hujan masih tetap turun walau banyak orang yang berharap akan segera berakhir, tapi seperti yang dikatakan Woojin jika kita tidak bisa memprediksikan apapun yang akan terjadi entah itu sore hari nanti, atau esok hari atau bahkan beberapa tahun kedepan, itu semua sudah menjadi garis takdir yang tidak bisa dirubah namun takdir bisa diubah tergantung dari setiap lamgkah yang kita ambil.
“Woojin?” ucap Valery, dia mencoba untuk memahami apa yang terjadi pada dirinya, dia sampai menyentuh kain yang ada dikening dan berusaha untuk duduk.
“tidak Valery, kamu harus istirahat”
Dengan lembut Woojin mendorong tubuh Valery untuk kembali berbaring diranjangnya. Kemudian dia juga kembali membasahi kain itu dengan air hangat dan kembali meletakkan dikening Valery.
“kamu demam karena infeksi ditanganmu, tanganmu tergorek begitu dalam hingga mengeluarkan banyak darah”
Valery terdiam untuk sesaat, dia ingat jika tadi malam dia melupakan tangannya yang terluka dan lebih fokus membaca buku tua itu hingga akhirnya dia tertidur dilantai dengan luka yang tidak di obati.
“kamu ingin makan bubur? Tadi aku sempat membuatnya ketika kamu belum tersadar”
“baiklah, aku rasa tubuhku butuh asupan”
“aku akan kembali 5 menit lagi”
Valery hanya mengangguk ketika Woojin mulai meninggalkan kamarnya dengan wadah air hangat, setelah pintu tertutup Valery memutuskan untuk melihat kamarnya yang tampak rapi, tidak ada lagi darah dilantai dan juga pecahan vas bunga disana, lalu pikiran Valery kembali memaksa untuk menemukan buku tua yang tidak ada dimanapun, dia begitu terkejut hingga memaksakan dirinya untuk turun dari ranjang dan mencari dimana buku tua itu berada.
“bukankah aku menyuruhmu untuk beristirahat? Kenapa kau malah turun dari ranjang!” ucap Woojin, dia sudah kembali denngan nampan ditangannya.
“apakah kamu memindahkan buku tua dengan sampul bergambar bunga?”
“buku? Saat aku kesini, aku tidak melihat ada buku tua dengan sampul bunga, dilantai hanya ada darah dan juga pecahan Vas bunga”
__ADS_1
“Ha, mungkin aku lupa, boleh aku langsung memakannya?” tanya Valery, dia berjalan mendekati Woojin untuk mengambil nampan yang ada ditangannya.
Setelah itu sama seperti yang terjadi pada seseorang jika mereka sedang demam, Valery dipaksa untuk beristirahat dan Woojin yang sibuk merawat dirinya.