
Hari ini, hari senin diawal bulan agustus, jika dilihat dari perkiraan musim, seharusnya musim panas sudah berakhir dan digantikan dengan musim yang dipenuhi dengan Crystal snow atau yang biasa di bilang butiran salju yang akan menutupi jalanan kota Soeul setiap harinya, tapi sepertinya belum ada satu-pun jika salju akan turun pada bulan ini, mungkin benar jika salju akan turun terlambat seperti yang diprediksikan oleh berita pagi ini, tidak perduli kapan salju akan turun, yang terpenting sekarang Valery harus kembali pada kehidupan lama, Ya menjadi asisten dari pria yang kemarin malam maksa dirinya untuk tidak di rumahnya.
Jika dilihat dari setial sudut rumah ini sangat berbeda saat terakhir kali Valery berkunjung kerumah Woojin, saat dalam perjalanan kerumah pria itu-pun berbeda biasa mereka mengambil jalan pusat kota untuk sampai di apartemen Woojin, kemarin Han malah membawa Valery kerumahan yang begitu jauh dari kota, jika dilihat dari luar jendela kamar Valery bisa dilihat jika ini adalah daerah yang mungkin dihuni oleh orang yang kaya dan kelas atau mungkin juga tempat tinggal para orang tua yang anaknya sangat sukses di ibukota.
Hari ini Valery bangun sangat pagi melampaui biasanya, hari ini dia akan kembali ke kantor yang akan menghabiskan satu harinya disana seperti beberapa bulan yang lalu, rasa seperti baru pertama kali akan melakukan pekerjaan, Valery di buat gugup ketika melihat dirinya yang sudah rapi dengan setelan pakaian kemeja berwarna putih dengan rok sepandeknya berwarna merah mirip sekali dengan liptisk yang Valery kenakan, dan tentu saja dengan kardigan panjang yang hampir menyampai roknya, terlihat begitu formal namun cantik untuk dirinya.
Kali ini Valery memilih untuk mengikat setengah rambutnya dengan sedikit makeup yang tebal, polesan demi polesan pada permukaan kulit wajahnya yang sedikit menghitam, lalu Valery mengambil asesoris untuk menyempurnakan penampilan, seperti yang wanita lain lakukan Valery mengambil jam tangan dan juga anting untuk dirinya.
“seperti aku perlu perawatan untuk wajahku”
Setelah memastikan semua penampilannya rapi, Valery kembali melirik pada jam tangannya yang sudah menujukan pukul 06.30 pagi, ini waktu Vakery membangunkan pria yang mungkin masih diruang kerjanya, dengan penuh keyakinan Valery berjalan menelusuri lorong rumah menuju kamar Woojin terlebih dahulu untuk menyiapkan keperluan pria itu entah seperti jas dan pakaian kerjanya, tentu juga menyiapkan air hangat untuk pria itu mandi.
Valery melakukan tugas itu sesuai dengan arahan yang di berikan Han saat kemarin malam, seharusnya sebagai asisten Woojin dia sudah mengerti segalanya tentang atasannya, karena masalah pribadi yang terus menbuat Valery sulit untuk beradaptasi antara pekerjaan dan juga perasaannya.
Tanpa ragu Valery membuka pintu kayu yang diukir dengan sangat baik, dia sedikit terkejut saat melihat Woojin yang tertidur tanpa mengunakan pakaian, padahal Valery sudah beberapa kali melihat pria itu bertelanjang dada tapi tetap saja canggung bagaimana mereka hanya atasan dan bawahan yang pernah bergulat pada satu ranjang?
'tunggu? Apa yang kau pikirkan Valery? Kau mulai lagi?
Buanglah pikiran tentang kehidupan yang berada di novel dengan dunia nyata ini'
Valery berjalan melewati Woojin yang masih tertidur tanpa mengunakan selimut hingga dada bidang terekspos begitu saja dihadapan wanita 21 tahun itu, Valery lebih memilih untuk menyiapkan air hangat terlebih dahulu sebelum membangunkan pria itu.
15 menit kemudian, Valery kembali lagi keranjang dimana Woojin masih dengan posisi yang sama tanpa berpindah satu senti pun, sebelum mendekat Valery mengambil ancang-ancang dahulu agar bisa membangunkan pria itu tanpa melakukan apapun yang membuat mereka semakin canggung karena harus tinggal bersama.
“Tuan Woojin, anda harus bangun” ucap Valery, dia sedikit menepuk pipi Woojin, dia tidak tahu cara membangun pria ini.
'haruskah aku menyiramnya dengan air?'
Valery melihat segelas air yang ada dimeja, dia segera mengambil gelas itu lalu mencelupkan tangannya disana dan memberikan siraman pada wajah Woojin melalui tangannya.
“Tuan anda harus bangun!”
“Hey! Tidak bisakah membangunkan dengan cara yang baik!”
Woojin yang baru saja mereka jika dirinya baru memejamkan matanya beberapa jam lalu kini harus dipaksa terbangun karena tetesan air yang terus menerpa wajah tampannya.
“selamat pagi Tuan Woojin, anda bisa telat jika tidak segera mandi” ucap Valery, dia menunjukan senyuman pada Woojin yang masih menatapnya dengan kesal akibat ulahnya.
“apa kau sakit?”
“tidak”
“airnya akan segera dingin Tuan”
“baiklah”
Woojin mengusap wajahnya yang basah, lalu dengan kesal turun dari ranjangnya dan berjalan meninggalkan Valery disana.
Langkah selanjutnya, Valery langsung memilihkan pakaian yang akan Woojin kenakan mulai dari kemeja putih, rompi hitam, jas abu-abu dan dasi hitam, Valery meletakan semua itu pada ranjang Woojin yang sudah dia rapikan terlebih dahulu.
“kamu sedang bertingkah sebagai siapa? Istriku atau asistenku?” ucap Woojin.
Baru saja Valery keluar dari kamar Woojin segera di tarik oleh pria itu yang membuat dirinya harus berhadapan dengan Woojin yang baru saja selesai mandi, untung saja pria itu memakai kimono yang tidak akan membuat pakaian Valery basah, pria itu begitu kencang hingga tidak ada jarak yang memisahkan mereka berdua. Situasi yang membuat Valery canggung sekaligus membunuh dirinya dengan jantung yang berpacu lebih kencang dua kali lipat. Jika seperti ini mungkin wanita itu akan mudah terkena serangan jantung mendadak.
“apa yang anda katakan Tuan Woojin? Aku asisten anda” ucap Valery, dia mencoba untuk terlihat baik didepan pria itu agar dia mau melepaskan dirinya.
“setelah kembali aku pikir hubungan kita akan lebih dekat, tapi kamu bertingkah seperti kita bertemu diawal, aku benci ketika kamu berbicara formal seperti itu!”
__ADS_1
“kita tidak memiliki hubungan apapun kecuali hubungan antara Ceo dengan Secretary, aku akan membuatkan sarapan untuk anda, jadi aku permisi dulu Tuan Woojin”
Namun seperti Woojin tidak suka dengan sikap formal yang Valery lalukan, dia mendorong Valery yang membuat gadis itu terjatuh diranjang dengan tumpukan pakaian yang sudah dia siapkan, lalu tak lama Woojin melangkah menaiki ranjang lebih tetapnya menaiki tubuh Valery.
“tidak ada seorang Ceo dengan Secretary-nya tidur bersama seperti ini, kamu milikku Valery”
“aku bukan barang Tuan, tidak ada yang bisa memiliki diriku, jadi biarkan Secretary-mu ini pergi dan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dikantor, hari ini akan menjadi hari yang sibuk untukku”
Valery mendorong tubuh kekar itu sampai menjauh dari tubuhnya, dia kembali merapikan pakaian Woojin yang berantakan dan melangkah meninggalkan ruangan itu.
“apa yang membuat dirinya menjadi seperti itu?” tanya Woojin saat Valery sudah kembali menutup pintu kamarnya, dia menatap bingung pada pakaian yang ada diharapannya dan juga dia sedikit merasa jika Valery mengubah pakaian.
********
“ini laporan yang anda butuhkan Tuan Woojin, sesuai dengan permintaan anda” ucap Valery.
Dia kini mencoba untuk tersenyum ketika Woojin memberikan tatapan tajam padanya, kenapa rasa hari ini begitu berat untuk Valery? Apa ada yang aneh dengan dirinya? Dia hanya ingin menjadi secretary seperti yang lainnya, dia tidak ingin di istimewahkan atau di bedakan dengan lainnya karena dirinya pernah tidur dengan pria itu.
“bagus, makan siang?”
“apa?”
“makan siang di luar atau memesan?”
“Tuan Woojin ingin memesan makanan untuk makan siang?”
“kita yang akan makan siang bersama Valery”
“Oh itu, aku ada banyak pekerjaan yang belum sempat aku selesai saat aku meninggalkan kantor ini, jadi aku akan memesan makan untuk anda, jika tidak ada hal yang perlu disampaikan aku izin pamit Tuan Woojin”
“aku belum menyuruhmu meninggalkan ruanganku Valery” ucap Woojin, dia meletkan laporan itu dimejanya, lalu menatap Valery yang berhenti didepan pintu sebelum tangan itu sampai menyentuh gagang pintu.
“anda membutuhkan sesuatu?”
“dirimu”
“aku sangat sibuk untuk sekedar menganggu anda Tuan Woojin, menu makan siang apa yang ada inginkan istalia,cina atau lainnya”
“kaulah menu makan siangku!”
“Oh baiklah, makanan korea”
Valery kembali menarik gagang pintu setelah memberikan salam perpisahan pada Woojin dan melangkah keluar kembali pada ruangannya yang ada didepan ruangan Woojin.
Woojin yang hanya bisa melihat aktivitas Valery melalui cela-cela jendela yang tidak terlalu besar, seperti wanita itu memang disibukan dengan segala pekerjaan yang ada dihadapannya entah itu layar monitor atau telpon yang terus berdering.
“apa yang membuat dia seperti itu?”
Lagi-lagi Woojin mengajukan pertanyaan yang sama sangat dia menatap Valery yang jauh darinya, Woojin memutuskan untuk menghubungi Han dan menyuruh pria itu untuk keruangannya.
“anda membutuhkan sesuatu Tuan Huang?” tanya Han, saar dirinya akan melangkah mendekati Woojin dengan pakaian yang serba hitam itu.
“apa ada yang aneh sangat Valery kembali kemarin? Maksudku saat gadis itu kembalu keapartemennya untuk mengambil barang?”
“seperti tidak ada Tuan, Secretary Valery tidak ada hal aneh yang terjadi padanya kemarin hanya saja kemarin didalam mobil menuju rumah anda, Nona terlihat murung dan juga melamun untuk waktu yang lama sambil memeluk buku yang ada ditangannya” ucap Han
“kamu bisa kembali”
__ADS_1
“baik” ucap Han, dia membungkukkan badannya pada Woojin dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu dengan setiap ketukan sepatu hitamnya yang memancarkan aura yang tegas dan juga gagah.
“buku?”
Woojin mencoba mengingat kapan Valery mulai menyukai buku saat mereka bersama?
“Ya! Dia memegang buku saat didalam pesawat”
Mengabaikan segala kebingungan dan anehan yang terjadi pada Valery, membuat Woojin melupakan jika dirinya begitu banyak pekerjaan dan juga tumpukan kertas yang ada dihadapannya yang harus segera dia beri tanda tangan atau membawa semu laporan keuangan grup Huang selama dirinya tidak ada disini.
Kedua sibuk dengan urusan dan tugasnya masing-masing, mereka melewatkan makan siang mereka tanpa disadari oleh keduanya, hingga malam-pun datang tanpa diketahui oleh Valery maupun Woojin, para karyawan lain sudah mulai meninggalkan kantor tapi Valery masih sibuk mengentik sesuatu di keyboard ditangannya, dia bekerja begitu keras hari ini hingga tidak menyadari jika perutnya juga butuh asupan.
“sudahlah, tinggalkan itu dan pulang bersamaku” ucap Woojin, dia menarik tangan Valery menjauh dari keyboard yang terus menimbulkan suara, lalu menarik wanita itu untuk menjauh dari kursi dan meja kerjanya, manarik tangan wanita itu menuju keluar dari gedung yang hampir gelap karena jam sudah menunjukan pukul 10 malam.
“Tuan Woojin, anda ini kenapa?” tanya Valery saat mereka sudah di dalam lift, dia menyentuh pergelangan tangannya yang sudah mati rasa karena cengkraman yang begitu kuat yang Woojin berikan padanya.
“bukankah aku yang seharusnya bertanya pada dirimu seperti itu? Kamu kenapa Valery? Buku apa yang kau baca hingga membuat dirimu seperti itu?” ucap Woojin, seperti biasanya pria itu akan melontarkan banyak pertanyaan tanpa adanya jeda, dia meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Valery.
“buku? Aku tidak mengerti Tuan Woojin, seharian ini aku hanya disibukan dengan kertas dan layar monitor, mana mungkin aku sempat menyentuh buku apalagi membukanya”
“kalau begitu apa yang membuat dirimu seperti ini?”
“aku? Aku tidak berubah, aku hanya bersikap prosesional saja sebagai Secterary anda”
“Valery-- sial!”
Woojin menarik kepala Valery lalu menyatukan kedua bibir mereka begitu saja, saaf lift sedang membawa mereka menuju lantai dasar atau bagasi mobil, tidak ada ciuman liar yang biasa mereka lalukan ketika nafsu diatas segalanya, ini hanya sebuah penyatuan yang Woojin buat. Hanya beberapa mereka menyatukan bibir mereka dan selebihnya hanya ada kebingung dari wajah Valery kala Woojin mulai menjauh dirinya.
Hingga tepat saat Valery merasa tenang lift terbuka dan memperlihatkan garasi mobil yang hanya sedikit pencahayaannya, Valery yang melihat itu sedikit ragu untuk melangkah keluar dari lift, karena sejujurnya dia juga merupakan orang takut akan tempat yang sepi dan juga gelap seperti ini.
“Valery apa yang kamu pikirkan?”
“A-aku--”
“take my hand now” ucap Woojin, dia mengulurkan tangan pada Valery, dia mengerti jika gadis itu ketakutan dengan suasana yang begitu mencengkram bagi mereka berdua.
“Valery?”
“baiklah”
Valery berjalan bersampingan dengan Woojin, walau tangan pria itu sudah menyentuh tangannya tapi entah kenapa rasa seperti ada yang sedang mengawasi mereka dari jauh, sambil didalam mobil Valery langsung menutup kedua matanya untuk berhenti memikirkan hal aneh yang kini sering menghantui mimpinya.
“aku disini Valery”
Dengan cepat, Woojin meninggalkan garasi mobil dan mencari tempat yang penuh dengan cahaya akan lampu jalanan, mereka melewati jalan kota Seoul yang belum sepi dari para pejalanan kaki.
“apa yang membuat dirimu takut?” tanya Woojin disela-sela dirinya dengan tangan harus mengemudi dan tangan lainnya menyentuh tangan Valery.
“aku hanya teringat dengan kejadian saat seseorang mencekik diriku, malam itu, semua gelap--”
“sudah, jangan dipikirkan kamu hanya lelah saja, malam ini kita bisa tidur bersama, aku janji tidak akan melakukan apapun”
“terimakasih”
Seiring bangunan yang mereka lewati dan juga cahaya lampu jalanan membuat perasaan Valery merasa lebih baik dari sebelumnya, tidak pernah dirinya begitu takut akan sesuatu seperti ini tapi tadi Valery merasa jika mereka benar-benar diawasi dari kejauhan dengan mata yang begitu tajam, jika di pikir apa hal yang terus menganggu Valery selama ini?
Dari kejadian dikolam berenang, dikamar dan juga Woojin, sebuah ini seperti punya kaitannya namun Valery tidak tahu apa itu ikatan yang terjadi pada dirinya Woojin atau orang lain.
__ADS_1