
Tak ada cinta yang salah, tak ada pertemuan yang direncanakan dan tak ada takdir yang dibuat.
Setiap cinta selalu memberikan dua pilihan yaitu melepas atau bertahan.
Mana yang lebih menyakitkan dari keduanya?
Bertahan? Melepaskan? Semua itu tergantung pada situasi, kita tak bisa langsung memutuskan sebuah pilihan tanpa berpikir, terkadang dua hal yang berbeda bisa memiliki makna yang sama apalagi sebuah pilihan.
Valery, dia selalu mengucapkan rasa syukur dalam hati bisa kembali. Tapi perasaannya sekarang berbeda ada yang secara perlahan menghilang dalam hatinya dan kekuatan cintanya.
Mungkin ini sebuah phobia atau hanya hal lain, bohong jika Valery masih tidak memikirkan Levin yang mungkin saja sedang menyamar lagi, walau sekarang Valery tahu wajah asli Levin tapi sebelum pria itu menunjukkan wajah asli dia pernah menyamar menjadi Woojin bukan? Walau hanya tiga bulan.
Valery masih mengamati wajah Woojin yang tertidur lelap dihadapannya, setelah melewati hari yang segala kisah yang Valery ceritakan padanya kini hanya tersisa satu kisah yang belum Valery katakan, dia terlalu takut jika Woojin tidak percaya akan kisah itu, apalagi ini sudah sangat lama jauh sebelum Valery menghilang.
Tangan mungilnya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Woojin, lingkaran hitam dibawah matanya menjelaskan segala jika pria itu pasti jarang tidur secara teratur, Valery jadi berpikir apa yang pria itu katakan selama dirinya berbaring diranjang dan keseharian yang pria itu lewatkan tanpa dirinya.
“aku selalu bertanya bagimana kisah kita selanjutnya? Akankah ada sebuah kebahagia setelah ini?” ucap Valery, dia sengaja mengecilkan suaranya agara tak menganggu suasana yang tenang ini.
Belum genap setahun mengenal Woojin, rasanya sangat lama berada disisi pria itu, rasanya banyak sekali moment yang terjadi tanpa pernah Valery pikirkan, dari tujuan awal ingin mengubah kehidupannya menjadi lebih baik dirinya malah diberikan tantangan hidup yang mungkin jarang terjadi, tapi siapa sangka semua kejadian itu memberikan satu kenangan tersendiri dalam hidupnya.
Terlepas dari segala tanggung jawab yang masih menunggunya, Valery masih ingin mengulur semua itu hanya untuk tetap berada dalam pelukan hangatnya, jika memang akan segera berakhir biarkan semua ini menjadi penghantar tidurnya sebelum akhirnya Valery harus bangun lagi.
Dibalik selimut tebal dan berada didalam kedapan Woojin, segalanya memberikan emosi dalam perasaan Valery, bisakah dirinya mengatakan jika Valery sangat ingin tetap seperti ini?
Bisakah dirinya setidaknya memiliki satu anak untuk pria yang sangat dia cinta, untuk memperkenalkan pada anaknya jika dia memiliki ayah yang baik dan Valery harap bisa membuat Woojin mengerti dengan apa yang terjadi nantinya.
Valery mengekat air matanya, dia tak mau bersedih. Sekarang waktu untuk memulai kembali hubungan mereka, setidaknya sampai Valery memilih, atau sampai Valery merasa cukup bahagia.
Woojin membuka kedua matanya saat merasa Valery terlalu banyak bergerak dan sedikit menganggu tidurnya, saat menatap wajah gadis itu hanya sebuah senyuman yang dia tunjukan, rasanya Woojin seperti sedang bermimpi karena biasa ketika dia membuka mata dia hanya melihat Valery yang diam disisinya.
Tapi sekarang dirinya bisa melihat wajah itu dengan mata indahnya.
“kenapa?” tanyanya, suara itu begitu serak dan lembut membuat siapapun selalu ingin mendengarnya lagi dan lagi.
“Hm?” Valery memcoba menyembunyikan perasaannya saat ini, sebisa mungkin dirinya terlihat biasa dihadapan Woojin. “aku?”
__ADS_1
“kenapa? Kamu tidak bisa tidur?” tanya Woojin lagi, kali ini dirinya sedikit lebih manja dengan menarik tubuh Valery untuk mendekat, membenamkan wajahnya diperpotongan leher Valery.
“bagaimana aku bisa tidur jika kamu saja tidak mau melepaskanku”
“apa salah? Aku hanya memelukmu, kenapa kamu berkata seakan ingin pergi?”
Woojin sedikit menjauh tubuhnya, dia membalik tubuhnya untuk memunggungi Valery. Tidaknya seperti anak kecil yang jika permennya diambil akan marah.
Valery mendekati tubuh Woojin, meqlimngkarkan tangan mungilnya untuk memeluk tubuh Woojin dari belakang “maafkan aku”
*********
Keesokkan harinya …..
Hari ini Woojin dan sang kakek memiliki rencana untuk urusan lain sehingga saat Valery membuka kedua matanya dia tak melihat sosok Woojin disisinya.
Sekali lagi Valery masih belum terbiasa dengan situasi seperti ini, sehingga saat membuka kedua matanya dia terkadang terlihat menjaga kondisi sekitar, biasanya jika didunia ‘Shadow Soul’ saat membuka mata Valery akan menemukan sosok Levin yang entah itu sedang duduk disofa atau hanya berdiri didepan jendela.
Valery mengusap wajahnya, dia harus membuat kenangan tentang kehidupannga di dunia ‘Shadow Soul’, jika seperti ini terus Valery mungkin akan kesolulitan beradaptasi, Valerh mungkin akan menggangap Woojin seperti di dunia ‘Shadow Soul’.
Didepan wasrafel Valery mengeluarkan semua seisi perutnya, perutnya terasa begitu keram hingga membuat Valery tidak sanggup untuk berdiri. ‘aku tidak bisa terus seperti ini’
Valery menatap wajahnya dicermin dihadapannya, apa yang sekarang harus dia lakukan, faktanya dirinya hamil bukanlah masalah bagi Valery tapi itu jutru membuatnya takut jika Woojin tak mempercayainya.
Valery memang hamil sebelum dirinya masuk kedunia ‘Shadow Soul’ , dirinya mengetahui itu saat dia masuk rumah sakit sebelum bulan purnama, dokter yang memeriksa tubuhnya mengatakan jika dirinya hamil namun saat itu juga Valery memutuskan untuk menyembunyikannya dan melarang dokter itu mengatakan kebenarannya pada Woojin.
Tapi setelah itu Valery tak tahu bagaimana dengan nasib sang anak saat dirinya koma, Valery takut jika bayinya tak dapat diselamatkan, karena selama koma secara otomatis tubuh Valery tak menerima asupan makanan dan vitamin, apakah bayi itu masih bertahan?
Bisa jadi mual ini terjadi karena efek lain bukan karena dirinya hamil, ini sudah lewat tiga bulan, apakah ibu hamil masih melewati masa ini?
Saat Valery menutup pintu bathroom, tak sengaja dirinya melihat salah satu pelayan yang masuk kedalam kamarnya.
“Nona sudah bangun, aku datang kesini karena perintah Tuan Muda untuk memastikan jika Nona sudah bangun, sarapan apa yang Nona inginkan?” ucap pelayan tersebut.
Valery melepaskan tangannya yang sedang mengusap perutnya, dia harap wanita itu tak mendengar apa yang terjadi didalam sana, dengan sedikit canggung Valery menjauh dari sana “k-kemana Woojin pergi?”
__ADS_1
“Tuan Muda sedang ada urusan diluar bersama Tuan Hwang, mereka akan kembali saat makan siang”
“Oh, aku akan sarapan dengan yang kalian buat”
“baiklah, kalau begitu saya akan--”
“Tidak!! Kamu tidak perlu mengantarnya kesini, aku akan turun”
Valery kembali merasa mual, dia ingin segera membuat pelayan itu pergi dari kamarnya sebelum semuanya menjadi rumit untuk dirinya.
“baiklah, saya akan menyiapkan diruang makan” ucap pelayan tersebut, dia segera meninggalkan ruangan itu.
Valery berlari untuk mengunci kamarnya sebelum kembali berakhir didalam bathroom, jika seperti ini bagaimana dirinya bisa melakukan pengecekan, tinggal kerajaan sangatlah merepotkan daripada tinggal di lingkungan yang biasa.
“sebenarnya apa yang sedang terjadi?”
“benarkah kamu masih berada disana sayang?”
Dia memperhatikan tubuhnya yang belum menunjukan apapun, walau tampaknya Valery kehilangan banyak berat badan tapi perutnya tidak bisa berbohong walau masih kecil tapi jika Valery memakai pakaian ketak akan kelihatan perut buncitnya.
“aku harap, dia masih bertahan disini”
Setelah membersihkan dirinya, Valery lebih memilih untuk memakai gaun yang cukup lebar, dia akan mencari cara untuk keluar dari sini untuk pergi kedokter.
Note : ayo ada yang udah tahu duluan jika Valery hamil? Apakah bayi itu masih ada? Aku sih lebih penasaran dengan reaksi Woojin 😳.
Jangan lupa like dan komen untuk bab ini oke 😘
Jika kalian ada waktu luang boleh mampir kecerita aku yang lain.
Ibu muda presiden Lian
Istri Lugu presiden Han ( new story )
Angel of death or Siren Prince
__ADS_1