
Malam telah berganti dengan pagi, bulan pun bertukar dengan matahari, hari pun telah berganti dengan hari lain ...
Kemarin adalah hari yang tidak ingin Valery ingat dalam hidup, bahkan Valery juga tidak mau mengingat apa yang telah terjadi kemarin malam, seandainya itu halnya adalah mimpi buruk yang keesokan hari akan menghilang, tapi pada kenyataan itu bukanlah mimpi! Kemarin adalah hari dimana dirinya telah berubah status menjadi wanita yang sesungguh, dimana Valery tak akan dipanggil gadis lagi.
Saat membuka kedua matanya Valery hanya menatap kosong ke arah langit kamar yang berwarna abu\-abu, satu tetesan air mata membasahi sisi rambut Valery. Air mata itu terus mengalir berubah menjadi tangisan tanpa suara, Valery terus menggigit tangan agar tangisan tak terdengar.
Betapa kotornya dirinya, saat perempuan lain yang menyerahkan dirinya kepada seseorang yang sudah resmi secara hukum dan juga dihadapan Tuhan, bahkan mungkin seseorang yang mereka cintai, tapi Valery malah menyerahkan dirinya kepada seseorang yang bahkan baru dia kenal, ralat Valery di paksa menyerahkan dirinya kepada pria yang kini sedang tertidur pulas di sampingnya dengan wajah yang seperti malaikat yang memiliki sikap yang seperti dewa iblis.
Ingin rasanya Valery melompat dari hotel ini, ingin rasanya Valery segera menyusul kedua orang tuanya dan juga Merry. Tapi Valery tidak bisa bersikap egois pada dirinya sendiri, ada hal yang sangat penting yang harus dia lakukan sebelum di mati.
Valery mencoba melangkah untuk turun dari ranjang, tapi rasa sakit yang berasal dari \*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\* membuat Valery sangat sulit untuk berjalan, dengan satu helai kain yang menutupi tubuhnya, Valery terus mencoba untuk berjalan mendekati kamar mandi.
Sesampainya di dalam kamar mandi, Valery langsung menatap dirinya di depan cermin yang cukup besar, Cermin itu menampakan bayangan Valery yang terlihat sangat berantakan, dengan tubuh Valery dipenuhi dengan tanda kepemilikan yang pria itu tinggalkan di seluruh tubuhnya, bibir yang sudah membengkak, matanya yang mungkin sudah lelah karena terus mengeluarkan air mata dan juga tenggorokan yang terasa sakit karena kemarin malam Valery terus berteriak.
Bayangan kejadian tadi malam terus berputar di otak Valery tanpa henti, kejadian dimana Valery tak diberikan kesempatan untuk beristirahat ataupun mengambil nafas sejenak, Woojin terus memaksanya dan melakukannya dengan sangat kasar seakan\-akan tidak hari esok, jika dihitung mungkin mereka bermain sudah lebih dari satu jam.
Valery menjatuhkan tubuhnya ke lantai, meratapi nasib yang harus diterima untuk seumur hidupnya, nasib yang tak pernah ingin Valery tanggung sendiri.
Lagi\-lagi Valery menangis, hanya menangis yang dia bisa lakukan, marah pun tak akan mengembalikan semuanya, yang sekarang Valery harus lakukan hanya mencoba mengikhlaskan dirinya yang sudah kotor!
Valery kembali bangkit, dengan kesal dia mengusap\-usap tanda yang ada di tubuhnya dengan kasar mencoba menghilangkan tanda itu yang sangat mengganggu untuk dilihat, jika dirinya sudah kotor maka tubuhnya tak boleh terlihat kotor oleh orang lain.
“itu malah akan semakin membuatnya semakin merah Valery” ucap Woojin, pria itu kini sudah berada di belakang Valery sambil menahan tangannya untuk berhenti mengusap.
“jangan menyentuhku!”
__ADS_1
Valery mencoba melepaskan tangannya yang digenggam erat oleh Woojin, sudah cukup banyak pria itu menyentuh tadi malam! Untuk hari ini Valery tak mau disentuh olehnya ataupun bertemu dengannya.
“Valery ..”
“berhenti! Brengsek!”
Valery benar\-benar berharap jika dia bisa menghilang dari hadapan pria itu, dengan tenaga yang Valery punya dia terus mendorong tubuh Woojin yang mencoba mendekati dirinya, tanpa sadar tubuh Valery sudah berbenturan dengan shower dan membuat shower itu menyala.
Air keluar membasahi tubuh mereka, dibawah shower yang terus mengeluarkan air, Valery hanya terdiam, kenapa situasi ini terus membuatnya terluka, Valery benci saat dia harus berhadapan dengan Woojin.
“lepaskan aku Woojin! Tidakkah cukup dirimu menyentuhku tadi malam! Aku mohon! Berhentilah menyentuhku”
“Valery maafkan aku”
Dengan sangat kesal Valery memberikan tamparan yang keras di pipi kanan Woojin, dan pada akhirnya Valery menangis dihadapan pria itu untuk kesekian kalinya.
“katakan! Kenapa diam?”
“Valery, ayo kita menikah”
Satu tamparan kembali Valery berikan pada pipi kiri Woojin, itu bukanlah jawaban yang Valery dengar dari pria itu!
“apa kau gila? Menikah? Apa dengan menikah semua masalah akan selesai? Diriku tak akan sudi menikah dengan pria brengsek seperti dirimu itu!”
Dengan mata yang berkaca\-kaca Valery mencoba menatap Woojin yang hanya terdiam, tak ada penyesalan yang tersirat dalam raut wajahnya. Valery tak memperdulikan dirinya yang mulai kedinginan karena air terus membasahi dirinya.
“Valery, sebegitu bencinya dirimu padaku?” ucap Woojin, dia hanya menundukan pandangannya dari Valery, seperti Woojin sangat tidak berani menatap mata yang dipenuhi dengan kebencian terhadapnya.
__ADS_1
“apa aku terlihat seperti orang yang sangat mencintaimu? Sejak pertama kali bertemu denganmu aku sudah sangat membencimu hingga detik ini!”
Woojin tak terima jika dirinya dibenci oleh seseorang, Woojin tak akan membiarkan orang itu pergi sebelum dia menyesal telah mengatakan jika dirinya membencinya. Dengan kesal Woojin menarik dagu Valery, memaksa wanita itu untuk menatapnya.
“baiklah, Valery ingatlah dengan ucapan sekarang, semakin dirimu membencimu semakin diriku akan menyiksa dan jangan pernah berharap akan pergi dariku!”
Woojin sudah sangat muak dengan semua ini, dia pergi meninggalkan Valery begitu saja tanpa memperdulikan jika wanita itu kedinginan.
“kau pikir dirimu siapa brengsek! Aku tak akan mengingat apa yang kau ucapan! Asal kau tahu akan pergi jauh darimu hingga kau tak akan bisa menemukan diriku!”
\*\*\*\*\*\*\*
sudah setengah jam berlalu tapi Valery tak menunjukan tanda jika dirinya akan keluar dari kamar mandi.
sedari tadi suara air mengalir yang Woojin mendengar, tidak ada suara pergerakan jika seseorang sedang mandi, kecuriga ini semakin membuat Woojin merasa yakin jika Valery telah melakukan hal yang mungkin akan membahayakan dirinya.
Woojin mencoba untuk mengetuk pintu itu, untuk memastikan jika dirinya baik\-baik saja, tapi hingga ketukan yang ke tiga tak ada suara yang terdengar, tanpa ragu\-ragu Woojin segera mendobrak pintu itu dengan tenaga yang dia miliki.
dengan sekali dorong pintu kamar mandi itu langsung terbuka, memperlihatkan seorang wanita yang sudah tenggelam dalam bak mandi, seketika wajah Woojin memuncak melihat Valery yang terdiam di bak mandi dengan wajah yang sudah mulai membiru.
Woojin segera berlari mendekati Valery, dengan cepat dia mengangkat tubuh Valery yang hanya berbalut kain saja, membawanya keluar dari kamar mandi dan meletakkannya di ranjang yang masih berantakan karena aktivitas mereka tadi malam.
“Valery kumohon jangan pergi” ucap Woojin, dia sangat panik dan juga khawatir, mencoba melepas kain yang basah itu dan menggantinya dengan pakaian, setelah itu Woojin segera memanggil dokter.
“Valery, aku tak mau kehilanganmu, tetaplah bertahan”
Woojin terus mengusap\-usap tangan dan kaki Valery secara bergantian untuk mencoba mengembalikan suhu tubuh Valery, dia juga menyelimuti tubuh Valery dan mematikan pendinginan ruangan.
__ADS_1
note : jangan lupa like dan komen untuk bab ini ya 😘