“Aku Bukan Takdirmu”

“Aku Bukan Takdirmu”
Bab 10 - one night


__ADS_3

18++


Acara makan malam itu berakhir pada pukul 11 malam, semua orang sudah mulai meninggalkan tempat itu, hanya meninggalkan Woojin dan Valery yang sudah mabuk, sekeras apapun dia menahan dirinya untuk tidak minum banyak Valery selalu melanggarnya.


“berikan aku satu gelas lagi!” ucap Valery, tangannya terus mengangkat gelas yang sudah kosong.


“kau mau minum sebanyak apa lagi?”


Sebenarnya Woojin sangat ingin segera kembali ke tempat tinggalnya, tapi dia tidak mungkin meninggalkan Valery begitu saja, apalagi dia sampai pulang dengan seorang pria lain, jika itu terjadi itu akan membuatnya menjadi gila.


“Tuan Woojin? kau!”


Valery bangkit dari posisinya, dia dengan tubuh yang sempoyongan mendekati Woojin sambil membawa gelas kosong.


“Tuan Woojin! Kenapa kau jahat padaku?”


“Kau! Kau bahkan mengambil ciuman pertamaku! Kau membuatku tertekan dengan semua hal yang kamu lakukan padaku”


“Dan ingatlah satu hal jika aku tak akan pernah bersedia menjadi milikmu”


Valery menyerahkan gelas kosong itu kepada Woojin, lalu melangkah meninggalkan tempat itu dengan langkah kaki yang sempoyongan, tubuh Valery tidak mau untuk berjalan dengan benar.


“Valery!”


Woojin yang sudah muak dengan sikap Valery sejak tadi, dengan kesal dia menarik tangan Valery, lalu membalik tubuh Valery agar menghadapnya.


“lepaskan tanganku!”


Walaupun mungkin kesadaran Valery hanya tinggal sedikit, dia tidak mau membiarkan pria itu terus memaksanya, Valery sangat lelah dengan semua sikap dan perilaku Woojin yang sangat aneh.


“kau yang membuatku seperti ini Valery!”


Woojin yang sudah sangat kesal dengan semua sikap Valery selama ini, terus mengabaikannya keberadaannya sejak pagi hingga dia mabuk pun Valery masih tidak mau meminta bantuan padanya. Dengan kasar Woojin menarik tangan Valery, membawanya pergi ke hotel yang tidak jauh dari sana.

__ADS_1


“lepaskan! Tanganku sakit!”


“brengsek! Lepaskan!"


Valery terus memberontak mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Woojin, dia setiap jalan dia terus berteriak pada Woojin untuk melepaskan tangannya, sinyal alarm dalam tubuhnya memberitahu Valery jika dia akan menghadapi masalah baru.


Hingga langkah kaki mereka berhenti di depan kamar yang mungkin sudah Woojin pesan saat mereka sampai di hotel ini, dengan cepat pria itu membuka pintu kamar itu lalu menarik Valery ke dalam. Dan dengan cepat juga di mengunci pergerakan tangan Valery disisi pintu yang sudah tertutup.


“brengsek! Apa kau gila? Lepaskan!”


Dengan tatapan ketidaksukaan Valery dia tunjukan pada Woojin, pria itu terlihat sangat dingin dan juga kejam.


“teruslah memberontak! Aku menyukainya”


Woojin menyatukan bibirnya dengan bibir Valery, dia mencium bibir itu dengan sangat kasar dan juga melumatnya hingga membuat Valery sedikit kelelahan untuk bisa mencegahnya, lidahnya pun tidak mau kalah lidah itu nari dengan indah di dalam mulut Valery. Ciuman itu sangat panjang hingga menguras tenaga dan juga oksigen.


“Brengsek! Kau pria sialan!”


Telah melepaskan ciuman itu, Valery benar-benar berteriak sekencang mungkin di hadapan Woojin, bibir Valery terlihat sedikit bengkak, dan juga air mata yang memenuhi wajahnya, dengan gerakan kasar Valery mengucap bibirnya dengan tangannya.


Woojin yang sudah tidak bisa mengendalikan dirinya dengan amarah, kekesalan, dan juga gairahnya benar-benar membuatnya buta dalam kegelapan iblis. Seakan-akan jiwa Woojin telah menyatu dengan iblis.


Dengan kedua tanganya dia menggendong tubuh Valery membawa tubuh Valery menuju ranjang, tempat dimana Valery akan menyesali hidupnya yang hancur karena seorang pria yang bahkan baru dia kenal beberapa bulan yang lalu. Melempar tubuh itu keranjang dengan kasar.


“kupastikan kau akan menikmati yang satu ini” ucap Woojin yang dengan santainya membuka bajunya, menunjukan dada bidang dan setelah itu Woojin menaiki ranjang dan mulai melangkah mendekati Valery.


“Tidak! Menjauh! Kumohon aku tidak mau menghancurkan hidupku!”


Dia menggelengkan kepalanya, Valery terus melangkah mundur untuk menghindari Woojin yang sudah dekat dengannya.


“Tidak! Berhenti melangkah!”


“aku mohon lepaskan aku! Woojin ... ”

__ADS_1


Sekencang-kencangnya Valery berteriak, dia juga melempari Woojin dengan bantal yang ada di dekati, Valery mulai menangis karena tubuh berbenturan dengan pinggir ranjang tak ada tempat untuknya melarikan.


“come here Valery”


Dengan seringai yang Woojin tunjukan pada Valery yang sudah sangat ketakutan, penampilannya pun sudah tidak rapi lagi, meja yang digunakan sudah kehilangan kancing-nya karena tadi Woojin sempat merobeknya.


“Tidak!”


“Tidak Woojin”


Satu tarikan dari Woojin dapat membuat Valery terbaring di bawahnya, pria itu memegang pergelangan tangan Valery, mencegahnya untuk berhenti bergerak dan satu kaki yang berada di pertengahan kaki Valery.


“I hate You!” ucap Valery, dia benar-benar mengutuk Woojin dalam hatinya.


“No Baby, you be mine” ucap Woojin, pria itu mencoba untuk bersifat lembut pada Valery, seakan-akan mereka akan melakukannya karena cinta.


“Shit!!, I hate you brengsek!”


“kau sepertinya suka jika aku bersikap kasar Valery, baiklah bermain kasar adalah keahlianku”


Langkah selanjutnya Woojin menarik kemeja itu hingga sobek menjadi dua dan melemparkannya begitu saja, membuka celana pendek Valery dengan sudah payah karena Valery terus memberontak. Kini hanya tinggal bra dan celana dalam yang berada di dalam tubuh Valery.


“Woojin, kau benar-benar pria brengsek! Aku .... Akh ....”


Rasanya sangat sakit saat di bawah sana berusaha untuk menerobos masuk, Valery yang belum pernah merasakan itu hanya bisa menarik sprei dengan kencang mencoba melampiaskan kesakitan yang seperti membelah tubuhnya menjadi dua.


“Ah!!!!!!”


Teriakkan itu berasal dari Valery, dia menangis saat itu juga, air matanya terus mengalir membasahi rambutnya, satu-satunya harta berharganya telah direnggut dengan paksa oleh pria yang ada di hadapan, pria yang kini telah mengubah statusnya menjadi seorang wanita bukan lagi menjadi seorang gadis, pria yang sudah menghancurkan hidupnya dan akan memberikan luka pada Valery, luka yang akan terus membekas dalam hidupnya, Valery menangisi hidupnya yang kini tidak berarti lagi baginya.


ingin rasanya Valery mengambil sebuah pisau yang tidak jauh darinya, membunuh dirinya yang sudah menjadi wanita kotor, Valery bukanlah wanita yang suka bermain dalam kehidupannya, bagi Valery menghargainya hidup adalah hal yang penting.


Valery tidak mau menjadi sampah dalam kehidupannya, tapi pria ini telah mengubah-nya menjadi kotoran yang bahkan lebih menjijikan dari sampah, Valery sekarang hanya bisa terdiam, dia membiarkan pria itu terus melakukan aksinya, Valery hanya berharap mimpi buruk ini segera berakhir dan ketika dia membuka mata mimpi buruk itu telah berakhir.

__ADS_1


tapi itu bukanlah mimpi buruk, itu nyata dan itu telah terjadi, kini Valery telah melanggar janjinya yang dia buat pada orang tuanya yang sudah meninggal dan juga melanggar janjinya pada Merry yang selalu menasehati Valery untuk selalu menjaga dirinya.


__ADS_2