“Aku Bukan Takdirmu”

“Aku Bukan Takdirmu”
Bab 15 - old friend


__ADS_3

Sore hari .....


Valery membuka kedua matanya, dia merasa jauh lebih baik dari sebelumnya, tubuhnya juga terasa lebih ringan dan rileks, dia menatap pada ruangan yang dia tempati, ini adalah kamar yang beberapa hari tidak dijumpai.


jika dihitung sudah seminggu Valery berada di amerika, hidup disini membuatnya merasa aman jauh dari pamannya, setidaknya dia hidup disini bisa membuat Valery tanpa memikirkan ketakutan saat pamannya akan menghancurkan hidupnya.


dia mengambil ponselnya yang tak jauh darinya, melihat di layar ponselnya sudah menunjukan pukul empat sore waktu amerika, di layar ponsel banyak sekali pesan yang dikirimkan dari teman kuliah Valery ataupun teman SMAnya.


Valery membaca satu persatu pesan yang dikirim teman, sampai ada satu nomor yang tidak dikenali, dengan penasaran dia membaca pesan itu.


By : XXXXXX


Valery, ini justin, kamu apa kabar?


beberapa hari yang lalu aku seperti melihatmu, di pantai Hawaii apa itu benar?


Valery terdiam, dia seperti pernah mengingat siapa pria yang bernama Justin itu, tapi Valery lupa dengan bentuk wajahnya, Valery terus mencoba untuk mengingatnya, sampai Valery membuka galeri, menjadi foto-foto masa di bangku SMA atau kuliah.


tangan berhenti pada saat dia melihat sebuah foto dimana dia berfoto dengan salah satu kakak kelas yang sudah wisuda dibangku kuliah, Ya itu adalah foto dirinya dengan Justin! pria yang sangat Valery kagumi saat masih di dunia perkuliahan.


'bagaimana kakak Justin bisa mendapatkan nomorku? setelah kelulusannya aku tak pernah memberikan nomor teleponku?' ucap Valery yang kebingungan saat dia mengingat masa lalunya.


Justin, dia adalah pria yang populer di kalangan adik kelas atau pun angkatannya, dia pria yang sangat baik, dia selalu ramah pada setiap orang, dia juga sangat pandai bermain basket dan piano, dia blasteran korea dan inggris.


Valery jadi malu mengingat masa lalu yang begitu culun, Valery yang di masa kuliah sangat berbeda dengan yang sekarang, dulu hal yang tak pernah membiarkan rambutnya terurai, gadis yang selalu dikuncir dua dan satu kacamata yang tak pernah lepas darinya, dengan penampilan yang culun itu, Valery tak berani untuk berdekatan dengan kakak Justin, dia hanya mengagumi sosok Justin dalam diam.


By : Valery


aku memang sedang di amerika


kabarku baik, bagaimana dengan kakak Justin? dan bagaimana kakak bisa memiliki nomor ponselku?


Valery cukup bingung untuk membalas apa? ini pertama kalinya di begitu gugup untuk membalas pesan pada pria yang dia kagumi dulu, beberapa menit kedua ponsel Valery berdering kembali.


By : XXXXXXXX


Wah .... aku pikir aku salah lihat, kamu sangat berbeda aku sampai bingung, kamu semakin cantik ..... apa kamu sedang berlibur?


kabarku baik, sekarang aku tinggal di amerika


Valery tersipu malu saat membaca pesan dari Justin, sekarang dia sangat pandai memuji orang lain, dengan cepat tangan Valery membalas pesan Justin.


By : Valery


hahaha .... Kakak Justin, sekarang pandai menggoda orang lain?

__ADS_1


wah ... pantas saja, apa menyenangkan tinggal di amerika?


aku sedang ada pekerjaan disini, satu minggu lagi aku akan kembali ke Korea.


saat sedang asik membalas pesan Justin, tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu kamar Valery.


“Valery? apa kamu sudah bangun?” ucap Woojin


“Valery? apa kamu mendengar-ku?” tanya Woojin.


mau tidak mau Valery harus membukakan pintu kamar itu, tapi kakinya sedang sakit?


“Ya, aku sudah bangun! apa yang ingin kamu sampaikan?”


“kamu harus meminum obatmu? aku sudah menyiapkan bubur untukmu, bolehkah aku masuk?”


“Ya”


setelah mendengar jawaban Valery, Woojin langsung membuka pintu kamar itu yang memang tak terkunci, dia berjalan mendekati Valery sambil membawa bubur yang ada di tangannya.


“maaf jika rasanya kurang enak, itu karena aku baru pertama kali membuatnya” ucap Woojin, dia memberikan nampan pada Valery.


“baiklah, aku akan meninggalkanmu, jika ada sesuatu katakan saja, aku akan kembali nanti saat kau sudah selesai makan, bagaimana kakimu?”


“terimakasih, kaki masih sakit untuk digerakkan”


suara dering pesan masuk berasal dari ponsel Valery lagi, Valery yang baru saja ingin mencoba bubur buatan Woojin, memutuskan untuk membalas pesan dulu baru melanjutkan makannya.


By : XXXXXXXX


oh ... kamu sedang bekerja, kupikir kamu berlibur dengan kekasihmu ....


aku hanya memuji saja, aku tak pandai menggoda orang lain ....


cukup menyenangkan tinggal disini, lain kali mampirlah ke cafeku yang tak jauh dari pantai Hawaii  - Justin


By : Valery


baiklah aku akan mampir ke cafe, beritahu aku alamatmu


aku iri pada dirimu ...


By : Justin


aku akan mengirimkannya, senang bisa berbicara denganmu, lain kali kita harus bertemu ...

__ADS_1


sampai jumpa ...


Valery tak membalas pesan terakhir dari Justin, dia tahu jika pria itu sedang sibuk, jadi Valery memutuskan untuk melakukan kegiatan makan yang sempat tertunda.


satu suapan masuk kedalam mulut Valery, yang pertama kali rasa adalah rasa hambar yang sangat tak enak di dalam mulutnya, Valery ingin menyudahi makannya namun dia tak tega saat memikirkan Woojin yang betapa sulitnya membuat bubur.


Jadi Valery memutuskan untuk makan beberapa sendok bubur itu, lalu setelah itu dia meminum obat yang sudah disediakan di nampan, cukup banyak kapsul yang harus diminum.


setelah selesai saat Valery ingin turun dari ranjangnya untuk membersihkan dirinya, tiba-tiba kakinya terasa begitu sakit saat melangkah, seperti Valery luka jika kakinya sedang sakit.


“akh ... kakiku”


Soojin yang sedang ada di ruangan tamu, terkejut mendengar teriakkan yang berasal dari kamar Valery, dengan cepat dia bergegas menuju kamar Valery.


saat sampai Woojin diberikan pemandangan dimana Valery yang tergeletak di lantai.


“bukankah aku sudah bilang! jika membutuhkan sesuatu panggil aku? apa sulitnya untuk memanggilku?”


Woojin mengangkat tubuh Valery, meletakkannya di ranjang, lalu menatapnya dengan tatapan yang dingin.


“aku hanya lupa, jika kakiku sedang sakit”


tiba-tiba Woojin menarik kaki kanan Valery, dia mencoba untuk memeriksa kondisi kakinya yang terkilir.


“ini mungkin akan terasa sakit”


entah apa yang dilakukan Woojin pada kaki Valery.


“akh ... sakit” ucap Valery yang merintih kesakitan.


“cobalah untuk berdiri” ucap Woojin.


tangan membantu Valery untuk bangun dengan pelan-pelan, mencoba untuk Valery memastikan apakah kakinya sudah tidak sakit lagi atau masih sakit.


“bagaimana?” Woojin bertanya.


“Wah ... kau hebat, kakiku sudah tidak terasa sakit lagi, terima kasih”


sangking senangnya Valery sampai memeluk tubuh Woojin, hal itu terjadi secara reflek, dan Woojin hanya bisa terdiam saat Valery memeluknya sampai melompat-lompat.


“Valery, hati-hati kakimu bisa terkilir lagi” ucap Woojin, pria itu melepaskan pelukannya.


“maaf”


dengan wajah yang merasa malu Valery menundukkan pandangan, bagaimana dia bisa melakukan hal itu. suasana menjadi canggung, keduanya hanya terdiam dan saling mengalihkan pandangan masing-masing.

__ADS_1


“seperti aku harus memesan makan malam untuk kita”


__ADS_2