“Aku Bukan Takdirmu”

“Aku Bukan Takdirmu”
Bab 34 - Can I be your one?


__ADS_3

Keesokan hari ….


Valery terbangun dengan perasaan yang tergesa-gesa dengan pacuan jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya, keringat dingin mulai memenuhi keningnya secara bergantian hingga menjadi tetesan yang membasahi pipi Valery, nafasnya juga tidak beraturan seperti dirinya baru saja berlari maraton, dia sampai mengambil udara sekitarnya dengan penuh nafsu.


Valery terus mengatur nafasnya berkali-kali agar dirinya sedikit merasa tenang walau sulit diakui jika mimpi kali ini lebih buruk dari mimpi-mimpi lainnya, berkali-kali Valery harus menyekat keringat dingin padahal suhu ruangan ini cukup dingin dengan AC yang selalu menyala dari malam.


Hingga 15 menit terlalu kini Valery bisa menetralkan pikirannya yang terus memutar apa yang terjadi dalam mimpi, kali ini apa lagi yang mengganggu dirinya? Mungkin sesuatu bahaya akan menimpa dirinya? Atau mungkin Valery akan berhasil ditemukan oleh pamannya lagi?


Valery memutuskan untuk menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu dia memakai sandal yang memang disediakan disana, menatap pada jam beker yang menunjukan pukul 4 pagi, bahkan akhir-akhir ini dia lebih sering tertidur lebih awal dan bangun pagi-pagi sekali, biasanya sinar matahari yang menyambut dirinya kini Valery yang menyambut kembalinya matahari.


Sebelum meninggalkan ranjang Valery menatap pada sosok yang tertidur dengan wajahnya tenangnya, Valery tidak ingin pasti kapan pria itu tidur tapi dari cara melihatnya tidur mungkin pria itu seperti baru memejamkan kedua matanya beberapa jam yang lalu.


Hubungan apa yang sebenarnya sedang terjadi?


Sebuah pertanyaan itu terlintas saat Valery menarik selimut untuk menutupi tubuh Woojin, sedih jika dikatakan mereka hanyalah hubungan seorang atasan dan asistennya, tidak ada hubungan seperti itu bukan? Tidak mungkin seorang atasan dan asistennya tidur di satu ranjang yang sama bahkan satu atap yang sama?


Valery terdiam, pikirannya terus mengajukan beberapa pertanyaan yang tidak bisa dia sampaikan pada orang lain atau pria dihadapannya. 


*Akankah ada sebuah hubungan keseriusan diantara kita?


Apakah ini akan terus terjadi sampai salah satu memutuskan untuk menyudahi ini?


Atau aku akan terus berharap tanpa ada kepastian*?


“apa yang coba kamu pikirkan Valery? Kamu hanya seorang yang sulit menjadi manusia normal”


Valery kembali melanjutkan kegiatannya untuk kembali kamarnya, dia menutup pintu kamar Woojin dengan hati-hati ketika dia hendak meninggalkan ruangan itu, lalu mulai menyalakan setiap ruangan rumah ini, rumah dengan lantai dua yang hampir mirip dengan rumah yang mereka sewa ketika di Amerika, dengan lantai Valery melangkah kembali ke kamarnya yang ada di seberang kamar Woojin.


Saat membuka pintu kamarnya hal yang pertama kali Valery lihat adalah kegelapan yang membuatnya takut untuk melangkah masuk, seingatnya dia tidak mematikan lampu kamarnya tapi kenapa ini menjadi begitu gelap bahkan lampu tidurnya tidak menyala, apakah Woojin yang mematikan? Tapi kenapa dia juga harus mematikan lampu tidurnya juga?

__ADS_1


Valery ragu untuk melangkah masuk, dia tidak mau mengambil resiko untuk mengingat apa yang terjadi pada dirinya ketika antara mimpi buruk atau nyata saat Valery merasa jika dirinya telah di cekik oleh seseorang saat lampu kamar itu begitu gelap dan bahkan tidak ada kesempatan untuk dirinya minta tolong, perasaan takut itu kembali membuat degup jantungnya berdetak lebih kencang dan juga tubuhnya yang mulai bergetar seperti Valery sedang melihat adegan itu ketika menatap kamarnya.


Dengan sudah payah Valery melangkah mundur sampai tubuhnya menabrak pintu kamar Woojin, berkali-kali Valery mencoba untuk menghentikan kepanikkan yang begitu berlebihan dan juga kekhawatiran yang membuat hatinya gelisah, tangannya mencari gagang pintu Woojin yang sulit ditemukan, dia begitu panik hingga dia merasa jika ada seseorang yang berusaha keluar dari kegelapan kamar.


“kumohon, aku takut” ucap Valery, tangan begitu sulit membuka gagang pintu karena gemetar yang tidak henti, hingga 10 detik berlalu baru Valery bisa membuka pintu kamar itu.


Saat membalik tubuhnya, dia melihat Woojin menatapnya bingung saat dirinya juga ingin membuka pintu kamar, masih dengan nafas yang tergesa-gesa Valery memeluk tubuh kekar itu tanpa menunggu Woojin bertanya, dia melampiaskan semua rasa yang ada didalam hatinya, Valery tidak peduli dengan keringat dingin yang membasahi kaos abu-abu Woojin, intinya dia butuh ke sebuah keamanan yang menjamin jika dirinya masih hidup yang bukan berada di alam mimpi atau tempat lain-lainnya.


“Valery ada apa?”


“I don't know”


“lalu kenapa tubuhmu bergetar dan juga berkeringat dingin?”


“bisakah kau diam! Aku sedang berjuang menghilangkan pikiranku dan ketakutanku”


Woojin mencoba mengerti dengan membiarkan dirinya memeluk tubuh Valery dengan erat, padahal niat awalnya dia ingin berolahraga setelah membuka pintunya dan langsung berlari sekeliling rumahnya, sudah lama Woojin tidak melakukan itu lagi setelah kejadian demi kejadian yang terus menguras otak dan juga pikirannya membuat Woojin lupa melakukan yang harus dilakukan.


Hingga butuh waktu sekitar 10 menit untuk menetralkan semua kegelisahan, ketakutan dan kekhawatiran dalam dirinya, jika dihitung ini sudah dua kali Valery merasa jika dirinya terus diawasi oleh seseorang yang tidak bisa dianggap bisa saja, semua itu terjadi semenjak Valery mulai penasaran dengan Aster, belum lagi jika dihitung dari hari dan bulan sebentar lagi akan terjadi bulan purnama, Valery butuh solusi untuk menghilangkan cahaya itu ketika bulan purnama terjadi dan dia tidak ingin semua orang tahu tentang dirinya termasuk Woojin, pria yang kini sedang memeluk tubuhnya dengan sangat erat hingga bergerak sedikitpun sulit untuk Valery.


“aku rasa ini sudah cukup”


“baiklah”


Woojin melepaskan pelukannya setelah dia yakin jika memang Valery sudah lebih tenang dari biasanya, tidak ada lagi tubuh gemetaran dan juga wajah pucat dari Valery. Woojin juga berfikir jika yang mengganggu Valery selama ini adalah sisi gelapnya, tapi itu juga belum bisa dikatakan benar.


“bisakah kamu menyalakan lampu kamarku? Aku takut kegelapan”


Woojin tersenyum dia melangkah melewati Valery, menuju kamar disebrangnya yang memang gelap gulita tak ada satu pencahayaan di dalam sana. Dia menyentuh dinding kamar mencari saklar lampu kamar Valery dan detik berikutnya lampu menyala, memperlihatkan kamar yang begitu berantakkan, seingat Woojin sebelum meninggalkan kamar ini semua tampak rapi, lalu siapa yang melakukan itu?

__ADS_1


“Valery?”


Saat Woojin membalik tubuhnya dia melihat Valery yang sudah tergeletak dilantai, dia segera berlari mendekati Valery dan mengangkat tubuh wanita itu menuju sofa kamarnya, begitu banyak kebingungan dan juga perasaan curiga memenuhi pikiran Woojin saat ini, dia tidak mengerti tentang sisi gelap dan juga keanehan Valery yang di luar perkiraannya.


“Valery bangunlah!”


“Valery! Dengarkan aku!”


Woojin terus menepuk-nepuk pipi Valery saat wanita itu belum menunjukan jika dirinya akan sadar, dia menyentuh urat nadi wanita itu yang masih berdetak dengan baik, lalu apa yang membuat wanita itu pingsan? Kenapa Woojin tidak menyadari jika wanita itu jatuh?


“Valery, apa yang terjadi?”


“kenapa aku ada disini?” tanya Valery setelah dirinya sadar dan langsung menyadari jika dirinya tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.


“kamu pingsan, apa kamu ingat apa yang membuat dirimu bisa pingsan, maksudnya saat--”


Valery menutup mulut Woojin, memerintahkan pria itu untuk berhenti berkata saat dirinya mencoba mengingat apa yang terjadi karena seperti orang yang pelupa Valery tidak apapun yang terjadi setelah dirinya memeluk tubuh Woojin, dka hanya tahu jika dirinya merasa di sekeliling tubuh seperti dilingkari oleh asap hitam dan setelah itu Valery tidak ingat apapun.


“aku tidak tahu Woojin, bisakah kita lupakan saja? Kita harus bekerja jadi biarkan aku kembali ke kamarku”


Valery bangun dari sofa dan meninggalkan Woojin disana, tapi baru saja melangkah satu senti tubuh kembali ditarik hingga rasa Valery tahu jika dirinya jatuh diatas pangkuan Woojin, pria itu memeluk perutnya dengan sangat erat membuat Valery terdiam karena tidak tahu harus melawan atau membiarkannya saja.


“kenapa Valery? aku takut saat dirimu pingsan dan setelah sadar kamu malah seperti ini? Itu melukai hatiku!”


“A-apa?”


“maksudnya, aku tidak suka kamu seperti ini Valery kamu bertindak seperti orang lain”


“lalu aku harus bagaimana? Kita bukan sepasang kekasih Woojin, jadi lepaskan aku!”

__ADS_1


'Benar, kita bukan kekasih tapi aku tahu jika kamu menyimpan saja padaku Valery dan juga ingin merasakannya juga'


Woojin membiarkan Valery lepas dari genggamannya dan membiarkan wanita itu meninggalkannya dengan perasaan yang rumit, belum ada satu kejelasan dalam hubungan yang tidak tahu kapan akan menjadi sebuah hubungan yang layak, Woojin ingin sekali mengikat wanita itu dalam hubungan yang lebih dari kekasih namun dia takut itu malah membuat mereka semakin jauh dan belum lagi akan membuat Valery berpikir jika dirinya hanya tidak ingin dirinya pergi jauh dari Woojin karena dia membutuhkannya bukan menginginkannya.


__ADS_2