
Di perjalanan menuju Grup Huang …
Valery disibukkan dengan dokumen-dokumen yang ada tandanya, hari ini Woojin akan mengikuti rapat di pagi.
harinya lalu siang hari ada pertemuan dengan perusahaan jepang untuk kontrak yang baru mereka ingin jalin dan malam hari dia harus menghadiri acara amal yang dibuat oleh salah satu yayasan yang menjadi naungan perusahaan Huang, satu demi satu Valery mencoba merapikan semua dokumen agar mudah digunakan oleh Woojin.
“Valery apa kamu akan tetap diam?” tanya Woojin di sela-sela dia sedang sibuk mengemudi mobil, sedari tadi Woojin menyadari jika hanya ada keheningan yang mereka lakukan ketika dalam perjalanan menuju kantor.
“apa? A-aku hanya sedang memeriksa dokumen ini saja, apa Tuan Woojin membutuhkan sesuatu?”
“tidak ada!”
Woojin memutuskan untuk tidak melanjutkan percakapan yang tidak tahu kemana tujuannya, dengan kesal dia melanjutkan mobilnya lebih sedikit kencang dari biasanya, hingga membuat Valery yang sedang memegang kertas berisikan jadwal hari ini berjatuhan karena terkejut dengan laju mobil yang tiba-tiba melaju cepat, dia langsung menatap pada Woojin yang terlihat sangat kesal hingga tidak mau menatap Valery.
'apa yang harus aku lakukan?'
Valery kembali mengambil tumpukkan kertas yang jatuh, dia kembali menyusunnya dan memasukkannya kedalam tas laptopnya, dan mencoba mencairkan suasana yang begitu dingin dan juga mencengkram ini.
“apa--”
“aku sedang tidak tertarik membicarakan apapun” ucap Woojin, dia memotong ucapan Valery seakan-akan dia tahu apa yang akan wanita itu katakan padanya, dia bahkan tidak sedikitpun menoleh kearah Valery walau hanya sekedar menatapnya, hanya dengan sikap Valery yang menganggapnya sebagai atasannya sudah membuat dia kesal dan bahkan malas untuk pergi ke kantornya, jika diberi pilihan dia ingin kembali ke amerika dan menikmati indahnya kehidupan di sana yang jauh berbeda dengan sekarang, Woojin juga tidak pernah berpikir jika semuanya akan berjalan tidak sesuai dengan harapannya.
“baiklah”
Valery lebih memilih untuk ikut diam, dia hanya tidak ingin membuat suasana Woojin buruk tapi itu malah terjadi sekarang, jika sudah seperti imbasnya akan terkena oleh pada karyawan yang ikut dalam rapat pagi ini.
‘mungkin dengan secangkir kopi, suasana hatinya bisa membaik’ ucap Valery pada dirinya sendiri, dia tersenyum ketika memikirkan itu jalan yang terbaik untuk solusi ini, dia mengalihkan pandangannya pada jalan kota Seoul yang sudah dipenuhi oleh para pejalan kaki atau para karyawan yang sedang menunggu bus.
Valery kembali dibuat teringat pada kenangan dirinya selalu terlibat dengan bus untuk pergi kemanapun dia tuju. Setelah mengenal Woojin dirinya tidak pernah lagi merasakan itu semua, hidupnya kini dipenuhi dengan kecukupan yang menjadi impiannya selama ini, mengingat kembali butuh perjuangan untuk sampai pada titik ini, jauh dari orang-orang memanfaatkan dirinya jauh lebih berharga dari yang lain.
Hingga tidak terasa kini mobil itu sudah memasuki bagasi kantor, Valery membuka sabuk pengaman lalu mengambil semua barang yang dia bawa dan mengikuti langkah Woojin yang ada di depan, hingga kini keduanya sedang dalam lift menuju ruangan Woojin yang kini berada di lantai 7.
“anda memiliki rapat pagi ini Tuan Woojin”
“Ya, aku tahu”
“aku akan ikut rapat kali ini”
“tidak perlu, aku akan pergi dengan Han”
Valery terdiam, mungkin cara seperti ini tidak akan mampu mengurangi suasana hatinya yang sedang kacau karenanya, Valery hanya bisa tersenyum terpaksa ketika tatapannya tidak sengaja bertemu dengan Woojin, namun detik berikut Valery kembali menatap pria itu.
“Tuan anda tidak memakai dasi?”
“aku tidak bisa memakainya”
__ADS_1
Tepat saat itu lift terbuka di depan ruangan Woojin, tanpa menunggu lama Valery segera melangkah terlebih dahulu untuk mencari dasi diruang pribadi di dalam kantor Woojin. Hal yang dilakukan Valery membuat Woojin bingung sebenarnya apa yang sedang dia lakukan dari kemarin tingkah sangat aneh dan juga mencurigakan membuat Woojin terus bertanya apa sedang pada dirinya.
Tepat ketika Woojin baru mendudukkan dirinya dibangku kantor saat itu juga Woojin melihat Valery yang kembali dengan dasi di tangannya, dia berjalan dengan cepat dengan pakaian yang begitu cantik dia kenakan. Hari ini dia memakai kemeja berwarna peach yang dimasukkan kedalam celana bahan berwarna hitam ditambah dengan jas berwarna putih, belum lagi rambut yang hanya di ikat setengah, kalung dengan liontin bulan dan terakhir sepatu heels yang sangat cocok untuk dirinya. Jika dilihat dia memang sedang bertingkah layaknya seorang secretary sesungguhnya.
“aku membawakan dasi untukmu Tuan Woojin”
“baiklah pakaikan untukku, aku tidak punya banyak waktu”
Valery mengangguk, kemudian melangkah mendekati Woojin dan sedikit menunduk untuk memasangkan dasi pada Woojin, setelah beberapa bulan tidak memakaikan dasi untuk pria itu kini rasa canggung memenuhi perasaan Valery ketika wajahnya begitu dekat dengan Woojin. Jika dilihat dari dekat tentu saja pria itu akan terlihat sangat tampan. Cukup membuat gugup Valery karena tiba-tiba dia menatap dirinya.
“a-aku akan kembali, ruang rapat anda ada dilantai 17”
Setelah selesai Valery segera menjauh dari suasana itu, dia sedikit tersenyum malu saat tidak sengaja menatap Woojin, tak lama kemudian dia melangkah meninggalkan ruangan Woojin tanpa mengucapkan satu katapun.
Selama Woojin pergi menghadiri rapat untuk terobosan baru yang ingin dilakukan untuk rencana akhir tahun, untuk pertama kalinya perusahaannya mencoba bekerja dengan para pelukis untuk membuat galeri seni di kota Seoul ini, rencana ini terjadi ketika di melihat banyak pelukis jalanan yang mempunyai bakat namun tidak bisa menyalurkan bakatnya dan ini sudah peluang untuk melahirkan para pelukis yang akan menjadi terkenal dengan kerjasama yang Woojin berikan.
Valery disibukkan dengan tugasnya untuk membuat laporan keuangan selama untuk minggu ini dan kedepannya, belum lagi dia harus membuat jadwal ulang untuk Woojin minggu depan hingga beberapa minggu kedepan, kemungkinan besar mereka akan melakukan perjalanan bisnis ke jepang walau hanya tiga hari. Kesibukkan dan juga berjalannya waktu membuat Valery lupa jika sudah memasuki waktu makan siang dan Woojin memiliki pertemuan dengan perusahan jepang.
Valery bergegas meninggalkan mejanya, dia berjalan mendekati ruangan Woojin untuk memastikan jika pria itu tidak lupa dengan jadwal siangnya, dan benar saat membuka pintu dia masih melihat Woojin yang belum bergegas pergi, Valery berjalan mendekati Woojin yang sibuk dengan ipad ditangannya. “Tuan, anda harus segera menemui para investor jepang, bukankah anda akan bertemu mereka saat makan siang?”
“aku lupa, kau ikutlah denganku”
Woojin mengambil jasnya yang tergantung dan segera memakainya, dia memimpin jalanan untuk segera meninggalkan ruangan yang tentu saja diikuti dengan Valery yang membawa semua kebutuhan pria itu seperti surat perjanjian, proposal dan tentu saja pulpen.
Ketika Woojin dan Valery melewati para karyawan yang akan menghabiskan waktu istirahat mereka untuk makan, mereka semua akan langsung terdiam ditempat hingga menunggu Woojin meninggalkan ruangan, lalu yang terjadi setelah itu mereka akan menggosipkan tentang Woojin dan Valery, entah itu tentang hubungan mereka atau tentang Valery yang menggoda Woojin untuk bisa mendapatkan posisinya yang sekarang, itu juga termasuk luka bagi Valery karena hinaan seperti itu tapi bagaimana mereka sudah memiliki pendapat seperti itu.
“I-itu apakah anda yakin Tuan? Aku belum begitu lancar dalam mengemudi, aku--”
“baiklah tidak perlu dilanjutkan”
“maaf Tuan”
Woojin segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Han, “siapkan mobil untukku”
“jika aku memiliki waktu luang, aku akan belajar dengan baik, sehingga tidak perlu memanggil Han untuk mengemudi” ucap Valery, dia tidak tahu apa yang sebenarnya dia sedang lakukan, mencoba menjadi asisten yang sempurna bukanlah suatu hal yang mudah tapi Valery hanya melakukan itu untuk masa depannya yang lebih baik.
“tidak perlu merasa bersalah seperti itu, hal yang wajar jika kamu belum menguasai itu”
Valery tersenyum ketika Woojin berbicara seperti, dia bahkan menggenggam tangan Valery ketika kedua nya akan melangkah bersama untuk keluar dari lift, walau bagasi terlihat sepi tapi tetap saja membuat Valery sedikit takut saat mereka seperti ini, dia takut rumor itu semakin membuat karyawan tidak menyukainya.
********
Di Sebuah gedung yang sudah dipenuhi dengan para Ceo atau para investor, kini sudah mulai memenuhi aula yang disiapkan untuk acara amal yang bertujuan untuk membantu para anak panti asuhan dan juga beberapa panti jompo.
Kedatangan Woojin dan Valery langsung menuai perhatian para wartawan yang laka itu memang ingin menemui Ceo dari Grup Huang yang akhir-akhir menjadi perbincangan karena rencana yang dia lakukan pada akhir tahun, dengan ragu Valery melepaskan tangannya ketika para wartawan mulai mendekati mereka dan mengajukan beberapa pertanyaan yang melibatkan hubungannya pada Woojin dan lain-lain.
__ADS_1
Woojin mengabaikan para wartawan itu, dia menarik Valery untuk segera masuk kedalam aula yang mungkin bisa sedikit membuatnya bernafas lega, Valery yang diperlakukan itu hanya bisa diam saja tanpa mengatakan apapun lagi, dia membiarkan Woojin menariknya.
Sesampainya Woojin memilih untuk mengambil meja VIP yang belum ada siapapun disana, Valery tersenyum ketika melihat pria di sampingnya terlihat terus mengatur nafasnya, jika Valery akui malam ini Woojin terlihat tampan dengan jas putih yang dia kenakan memperlihatkan sisi pangerannya yang tidak diketahui banyak orang, mungkin ini salah satu alasan kenapa wanita yang bekerja di Grup Huang saat ingin berkenalan dengannya, bagaimana tidak dia memiliki wajah tampan lalu kekayaan yang tidak ada habisnya dan tentu saja dengan reputasi yang baik.
Hal itu membuat Valery berpikir jika memang dirinya tidak pantas berada disampingnya, bahkan menjadi secretarynya merupakan satu hal yang tidak cocok untuk dirinya, Valery tidak cantik, dia juga tidak pandai dalam beberapa bahasa, belum lagi dia masih perlu banyak belajar untuk membiasakan dirinya untuk berada situasi seperti.
“apa yang sedang kamu pikirkan?”
“tidak Tuan Woojin”
“aku suka dengan gaunmu malam ini” ucap Woojin, sekesal ataupun dirinya tidak akan bisa bertahan lama ketika berada disamping Valery, dia tersenyum melihat tampilan Valery yang semakin dewasa, dia bahkan menata rambutnya yang sedikit disanggul, lalu gaun biru soft yang memancarkan keindahannya, membuat Woojin ingin sekali membawa wanita itu jauh dari para pria yang menatapnya agar hanya dialah yang bisa menikmati keindahan dan kecantikan Valery.
“setelah ini bagaimana kita makan malam di restoran cina?”
“baiklah, sudah lama aku tidak menikmati makanan cina, aku ingin ke kamar kecil dulu” ucap Valery, dia berjalan dengan anggun meninggalkan aula dan berjalan mendekati toilet walau hanya sekedar untuk merapikan penampilannya, sesampainya disana dia melihat dua orang wanita yang berdiri didepan cermin sambil merapikan penampilannya.
“aku dengar Ceo dari Grup Huang datang dengan seorang wanita” ucap wanita ber dress hitam pada temannya.
“aku dengar dia adalah secretary-nya, dia juga baru bekerja beberapa bulan lalu dan sudah bisa merasakan pergi ke berbagai tempat dengan Tuan Huang, aku rasa rumor itu benar” jawab temannya yang memakai dress merah sambil memberikan polesan bedak pada wajahnya.
Valery yang mendengar itu membuat hatinya sakit, dia tidak mengerti apa yang salah dari dirinya jika dia harus bekerja sebagai Secretary dari Ceo tampan yang menjadi incaran para kaum hawa.
“rumor yang mengatakan jika dia tidur dengan Tuan Huang untuk bisa mendapatkan posisi itu?” tanya wanita ber dress hitam.
“mungkin, ayo kita kembali”
Valery ingin sekali menangis namun dia tidak mau mengambil resiko jika dirinya habis menangis, dia segera meninggalkan toilet setelah memeriksa riasannya.
Rangkaian dan juga pertunjukan di acara itu berlalu begitu cepat, kini Woojin dan Valery sedang menuju halaman parkiran, Valery sebisa mungkin menghindari Woojin yang terus mengajaknya untuk berjalan bersama, sudah seharusnya dia bertindak sebagai asisten bukan kekasihnya.
“Tuan Woojin, kita batalkan saja makan malam kali ini, tiba-tiba aku teringat pada suatu yang harus aku kerjakan”
“tapi aku lapar”
“aku akan menyiapkan makanan untuk anda”
Woojin hanya bisa menghela nafas panjang, dia segera melajukan mobilnya meninggalkan gedung itu dan segera kembali ke rumahnya, hari ini suasana hati terus berubah-ubah membuatnya ingin sekali segera mengakhiri hari yang panjang ini, dengan kesal dia melonggarkan dasinya hingga membuatnya menjadi terlepas.
“malam ini aku juga akan tidur dikamarku” lanjut Valery dengan sedikit ragu ketika melihat apa yang terjadi pada Woojin.
“i don't care! Stop asked to nothing!”
“maafkan aku Tuan Woojin”
Valery menundukkan pandangannya, dia tahu jika hari ini dia telah melukai hati pria itu berkali-kali, tapi mau bagaimana jika memang itu ada benar jika tidak seharusnya mereka seperti ini belum lagi yang dibicarakan para wanita toilet itu terus mengganggu pikiran Valery sehingga dia harus terus menekankan hati untuk tidak terlalu memikirkan rumor atau gosip, bukankah itu resiko yang harus diterima ketika berada diposisi yang diincar banyak wanita.
__ADS_1
Note : maaf kalau cerita ini lambat dalam alurnya dan mungkin membosankan, jangan lupa untuk like dan komen untuk bab ini, happy reading all.
Salam hangat Valeryluv ❤❤