
Setelah menghabiskan waktu libur dirumah dengan berbagai kegiatan dan juga waktu istirahat yang cukup, keesokan hari Valery akan kembali memulai hari dimana disibukkan dengan pekerjaan kantor yang tidak akan ada habisnya, walau rasanya masih berat untuk meninggalkan ranjang tapi manusia membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sampai maut menjemputnya.
Hari sudah menunjukan pukul 5.30 pagi, sebagai asisten Woojin urusan atasanya lebih diutamakan daripada dirinya bukan? Bagaimanapun juga Valery tidak bisa menolak, menyiapkan segala kebutuhan Woojin sudah menjadi tugasnya jika Valery tidak melakukannya darimana wanita itu bisa menghasilkan uang.
Sesampainya dikamar Woojin yang di penuhi dengan warna abu-abu dan hitam itu membuatnya akan terlihat sangat gelap jika hanya lampu tidur saja yang menyala, dari luar kamar bisa dilihat jika pria itu masih tertidur lelap di ranjang besarnya, Valery menekan skalar lampu utama dan detik berikutnya ruangan itu sudah terang.
Dengan langkah yang pelan, Valery mendekati lemari milik Woojin yang tinggi secara dengan tinggi badannya, mencari jas dan pakaian apa yang akan Valery berikan pada Woojin untuk di kenakan hari ini, dia melihat seluruh isi lemari yang pakaiannya tidak pernah memiliki warna lain selain hitam,putih, silver, biru dark dan juga coklat.
‘Haruskah aku menyarankan pria itu untuk membeli pakaian?’
‘tunggu? Apa yang kau pikirkan Valery? Kau punya hak apa untuk menyarankan pria itu?’
Setelah melakukan perdebatan antara pikiran dan hatinya, pilihan Valery jatuh pada jas berwarna hitam dengan sedikit dibagian kerak berwarna putih, lalu dia memilih kemeja sutra berwarna biru gelap dan dasi perpaduan antara warna merah dan putih. Kemudian waktunya Valery untuk memilih jam tangan dan juga sepatu untuk Woojin.
Semua sudah dia siapkan dan Valery letakan di sofa milik Woojin, kini hanya tinggal membangunkan pria itu untuk segera mandi dan Valery bisa menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua, baru saja dia berhenti di tepi ranjang Woojin wanita itu dibuat ragu untuk membangunkannya, pasalnya wajah tenang itu membuat Valery tidak mampu untuk menganggu tidur nyenyaknya.
“aku selalu berhadap jika hatimu hanya milikku, aku juga berhadap akhir yang bahagia bersamamu tapi rasanya itu hanya akan menjadi harapan yang tidak bisa tersampaikan”
Apa yang Valery katakan? Kenapa bisa dirinya berkata seperti itu? Semua ini seakan-akan menandakan sesuatu yang akan terjadi pada mereka, seperti akan ada sebuah perpisahan yang menguras air mata dan juga rasa sakit yang terlalu dalam, seperti yang sudah dikatakan dalam buku tua itu jika umur manusia Aster tidak akan bertahan lama dan begitu banyak larangan.
Setelah berpikir panjang tadi malam Valery sudah memutuskan untuk memakai ‘Teori Hwando’ untuk menghadapi bulan purnama yang akan terjadi pada hari rabu dan pukul 8 malam sampai jam 1 dini hari, walau resiko dari ‘Teori Hwando’ begitu banyak kerugian yang akan Valery tanggung sendiri tapi daripada memaksa Woojin untuk terlibat dalam segalanya, Valery lebih memilih untuk membiarkan dirinya saja yang terluka, mungkin setelah bulan purnama berakhir kematian mungkin akan segera menjemput Valery dalam beberapa tahun kedepan.
Tak apa jika memang Valery harus mati, setidaknya saat dia pergi Valery tidak melukai siapapun atau membuat orang laian berasa sedih dengan kepergiaannya, memikirkan semua ini membuat Valery tak kuasa untuk tidak meneteskan air matanya, dia begitu mencintai Woojin namun tidak bisa melakukan apapun selalu mencintainya secara diam-diam seperti ini.
Dengan cepat dia menyekat air matanya yang bisa mengenai Woojin yang ada di dekatnya, jika sudah seperti ini seharusnya Valery tidak boleh bersedih bukan? Dia seharusnya menikmati waktu-waktu yang tersisa ini. Dengan membuat banyak kenangan dalam hidupnya atau setidaknya membuat kenangan manis bersama Woojin walau hanya terjadi sekali dalam hidupnya.
“Woojin bangunlah!”
“Woojin, kamu harus segera bangun! Pagi ini para pelukis akan melakukan rapat denganmu!”
“Ya, aku tahu Valery aku mendengarmu!”
__ADS_1
“bagus, aku akan menyiapkan air hangat untukmu”
Woojin yang baru saja bangun dan ingin melihat wajah cantik Valery hanya bisa mengerutkan bibirnya ketika dia tidak dapat melihat Valery yang sudah meninggalkan dirinya sendirian diranjang. Mau tidak mau Woojin harus turun dari ranjang besarnya dan berjalan mendekati bathroom untuk membersihkan dirinya.
Sesampaikan bathroom, Woojin diberikan pemandangan yang indah dengan melihat Valery yang kebasahan karena tubuhnya yang terjatuh kedalam bak mandi, dari kemeja putih dan rok pendeknya bisa terlihat jelas tubuh seksi yang sudah lama tidak dia lihat akhir-akhir ini, dengan hanya memakai handuk kimono Woojin melangkah masuk kedalam dan mengunci pintu bathroom.
“Woojin? Kenapa kamu masuk kedalam?” tanya Valery yang terlihat begitu panik, telinga Valery masih normal dia bisa mendengar dengan jelas jika seseorang telah menutupi pintu dan menguncinya, awalnya Valery hanya ingin menyiapkan air hangat untuk Woojin namun tubuhnya tidak menyadari jika lantainya begitu licin hingga membuat tubuhnya jauh kedalam bak mandi dan membuat tubuhnya basah.
“jika kamu ingin mandi bersamamu katakan saja Valery”
“apa kau gila? Aku sudah mandi untuk apa aku mandi lagi!”
“lain kali jangan pakai kemeja putih! Aku tidak menyukainya” ucap Woojin dia membuka handuk kimononya dan berjalan ke sisi untuk menyiram tubuhnya dengan shower, dia tidak memperdulikan Valery yang terlihat begitu terkejut dengan tubuh telanjangnya.
Dengan begitu gugup Valery mencoba keluar dari bak mandi, dengan menutupi tubuhnya yang begitu terlihat seperti dirinya tidak memakai pakaian, Valery memarahi dirinya yang bodoh telah memilih kemeja putih untuk pakaiannya kali ini, namun baru dia ingin meninggalkan kabar mandi tangannya ditarik hingga rasanya Valery bisa merasakan jika tubuhnya terbentur oleh dinding bathroom.
Air yang keluar dari shower membasahi kedua orang yang terdiam, Valery begitu ragu untuk membuka matanya walau rasanya mungkin kini pria dihadapannya sedang menatap dirinya dengan mata biru dan tajam.
“Valery ...”
Woojin menatap Valery dengan tatapan entah itu tidak suka diabaikan atau perasaan lainnya, dia menarik tubuh Valery kedalam pelukkannya. Membuat tubuh keduanya menempel dengan terhalangan pakaian Valery.
“Valery”
“bukalah matamu”
Secara perlahan Valery membuka kedua matanya dengan hati-hati, hal pertama yang dia lihat adalah wajah Woojin yang bahas karena air shower yang terus keluar, entah kenapa semua ini menjadi canggung untuk Valery dan membuat dirinya sulit untuk membuatnya jauh dari genggaman Woojin yang terlalu kuat.
“jika kita seperti ini terus, kamu bisa sakit Woojin”
“aku ingin dirimu Valery”
__ADS_1
“tunggu! Woojin aku tidak ma--”
Sudah terlambat bagi Valery untuk menghentikan Woojin, bisa dirasakan jika pria itu sudah tidak bisa menahan dirinya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, sudah beberapa minggu juga mereka tidak melakukannya, tapi bukan itu yang Valery maksud! Seharusnya pria itu bisa saja menyewa salah satu wanita di klub malam bukan?
Valery benar-benar berada dikuasa Woojin, pria itu terus menuntunnya untuk terus ikut dalam permainannya, Valery benar-benar tidak bisa berkutip ketika sikap dominan Woojin telah menguasai suasana didalam bathroom, tak Valery sadari jika pakaiannya sudah lepas dari tubuhnya. Sentuhan demi sentuhan Woojin berikan pada Valery hingga tidak ada kata penolakan untuknya.
“woojin ...”
Dipagi yang baru saja matahari menunjukan sinarnya, Valery harus membuat dirinya tertahan lama didalam bathroom untuk memuaskan segala kebutuhan Woojin walau dia juga sendiri membutuhkannya, bertukar desahan dibawah air shower yang dingin tidak membuat kedunya merasa kedinginan malah sebaliknya bathroom itu teras begitu panas hingga rasanya Valery tidak mampu untuk mengerakan tubuhnya lagi.
Acara mandi bersama yang terjadi begitu tiba-tiba membuat keduanya lupa jika waktu sudah menunjukan pukul 7.30 pagi, padahal hari ini adalah hari senin seharusnya keduanya berangkat lebih awal untuk memulai lagi pekerjaan yang tertunda selama dua hari itu.
Tak lama kemudian Valery keluar dari bathroom dengan kimono milik Woojin, padahal dia sudah melakukan kegiatan itu beberapa kali tapi tetap saja rasanya akan sakit jika langsung dipaksa untuk berjalan apalagi dipaksa untuk bekerja, dengan kesal dia mengumpat nama Woojin berkali-kali dalam hatinya, lain kali dia harus lebih berhati-hati lagi kedepannya hingga dirinya tidak kembali terjebak dalam rayuan Woojin.
“pinggangku” dengan lemas Valery kembali kedalam kamarnya untuk kembali memakai pakaian kerjanya yang tentu saja dia tidak akan memilih warna putih, sedang Woojin pria itu begitu bahagia ketika kakinya melangkah keluar dari bathroom, seperti rasanya pria itu kembali mendapatkan kuatannya dan juga semangat untuk melewati hari-hari beratnya.
******
“kamu yakin membiarkan kedua kancing kemejamu terbuka?” tanya Woojin, disela-sela dirinya disibukkan dengan mengemudi di jalanan kota Seoul yang mulai macet karena mereka berangkat begitu siang dan juga terlambat.
Valery yang sedang memainkan ponselnya segera memeriksa apa yang terjadi, tepat ketika kaca makeup-nya mengarah pada kerak kemeja yang terbuka memperlihatkan tanda kepemilikan yang begitu banyak diarea leher hingga tulang selangkangannya, dengan kesal dia menatap Woojin dengan tatapan tajamnya, padahal dia sudah banyak mengoleskan bedak disana tapi tetap saja masih keliatan.
“kau sengaja?”
“tidak, aku hanya tidak mau kau terlalu mengekspos tubuhmu saja” ucap Woojin dengan wajah senangnya, dia bahkan lebih banyak tersenyum hari ini.
“kau membuatku kesulitan Woojin, aku bahkan sekarang sulit untuk--”
“sulit untuk apa?”
“lupakan saja!”
__ADS_1
Valery terpaksa mengambil syal yang selalu dia siapkan didalam tasnya, hari ini akan terlihat sangat aneh jika dirinya tiba-tiba memakai syal bukan? Bahkan model yang dia kenakan hari ini sangat tidak cocok di kombinasi oleh syal tapi daripada menyebarkan rumor yang tidak ada habisnya lebih baik Valery memilih menutupinya saja.