“Aku Bukan Takdirmu”

“Aku Bukan Takdirmu”
Bab 26 - The Eternal


__ADS_3

Keesokan harinya …


Pagi-pagi sekali Woojin membuka keduanya matanya sebelum matahari menampakkan dirinya di langit, dengan perasaan yang begitu gelisah ketika dia harus terduduk diranjangnya dengan nafas yang terengah-engah seperti baru saja berlari maraton, dengan keringat yang membasahi dingin yang bermunculan di kening membuat satu fakta jika pria itu baru saja mengalami mimpi buruk dan saat ini kondisinya masih syok.


Dengan wajah yang terlihat tidak percaya dengan apa yang terjadi pria itu menatap pada dinding jam yang menunjukan pukul 3 pagi, ini terlalu pagi untuk dirinya terbangun dan juga tidak bisa membuatnya kembali tertidur, selalu saja terjadi ketika Woojin akan melakukan semua permainan, kehidupannya akan selalu dipermainan oleh mimpi dan sisi gelapnya yang seakan membuat dirinya akan jatuh dalam dunia kegelapan.


Mimpi yang sudah tidak pernah lagi datang dalam kehidupan setelah 3 tahun tapi kini akan menjadi mimpi yang akan terus menghantui malam-malam panjang Woojin setiap harinya, Woojin mengusap wajahnya dengan kesal sambil mengibaskan selimut dan berjalan ke arah keluar kamar.


Secara otomatis lampu-lampu yang Woojin lewati menyala, memberikan penerangan pada rumah itu, tanpa memakai pakaian pria itu berjalan menuruni anak tangan menuju dapur untuk menghilangkan kehausan yang melanda dirinya.


Dalam kegelapan dapur dari kejauhan Woojin bisa melihat jika ada seseorang yang sedang membuka kulkas, dengan cara penasarannya dia berjalan mendekati seseorang itu. 'seharusnya jika ada orang, lampu dapur akan menyala bukan?'


Saat tubuhnya sudah berada dibelakang seseorang itu Woojin baru bisa mengenali jika itu adalah Valery.


“apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Woojin, dia menunduk untuk melihat apa yang gadis itu lakukan.


Valery yang sedang sibuk memilih makan untuk dirinya merasa terkejut saat mendengar suara seseorang dari belakang tubuhnya, dengan keberanian yang dia miliki, Valery memberanikan diri untuk membalik tubuhnya dan berapa kaget dirinya melihat seorang Woojin yang ada didahapan tanpa menggunakan pakaian? 


“aku--aku--hanya ingin makan” ucap Valery, sedikit mengalihkan pandangannya dari Woojin yang begitu dekat dengan dirinya, di pagi yang begitu sejuk kenapa harus ditanpa dengan memandangan seperti ini? Valery hampir lupa cara bernafas saat melihat tubuh bidang Woojin yang begitu mengiurkan untuk di abaikan.


“kamu terbangun?” tanya Woojin, dia menyadari jika Valery cukup canggung dengan dirinya yang tidak memakai pakaian, dia sudah terbiasa tidur tanpa memakai pakaian dan juga sudah terbiasa saat berkeliling rumahnya tanpa memakai pakaian, kebiasaan itu cukup sulit untuk dihilangkan.


“Ya, akhir-akhir aku sering terbangun seperti orang yang kagetkan” 


Valery memutuskan mengambil air mineral untuk menghilangkan rasa hausnya setelah melihat Woojin, lalu meneguknya sangat cepat sampai dalam 1 menit air mineral itu habis dengan dirinya.


“bagaimana itu bisa terjadi?”


“aku juga tidak tahu, aku ingin kembali kekamar”


Namun belum juga wanita itu mrngangkat kakinya, Woojin mengangkat tubuhnya dan menaruh di meja makan, pria itu memberikan tatapan tajamnya pada Valery yang terdiam, entah apa yang membuat pria begitu kesal saat Valery memutuskan untuk meninggalkannya.


“apa kamu seperti dibangunkan oleh seseorang?”


“Ya, tapi aku selalu tidak bissa melihat siapa seseorang itu”


Woojin terdiam untuk sesaat, dia memikirkan kejadian ini yang tidak bisa dia mengerti lagi, kenapa sisi gelapnya begitu terobsesi pada Valery? Dan kenapa sisi gelap itu juga nenganggu dirinya? Bukankah ini sudah keterlaluam untuk di analisis dalam ilmu manusia.

__ADS_1


“kamu baik-baik saja? Kamu juga biasanya tidak terbangun sepagi ini?”


“aku bermimpi buruk”


Saat mendengarkan pertanyaan itu secara reflex Woojin melangkah mundur, sehingga membuat Valery bingung apa yang terjadi dengan dirinya, wanita itu memilih untuk turun dan mendekati Woojin yang seperti ketakukan.


“tenanglah itu hanya mimpi buruk, bagaimana jika aku buatkan teh untuk menenangkan pikiranmu” 


Secara tiba-tiba Woojin menarik tubuh Valery hingga membuat gadis itu masuk kedalam pelukkannya, dari jarak yang begitu dekat Valery merasa jika pria itu sedang ketakutan karena tubuhnya begitu gemeteran dan juga dingin karena keringat yang terus membasahi tubuhnya.


“biarkan seperti untuk beberapa saat”


******


Hari sudah menunjukan pukul 7 pagi, semua orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, seperti Woojin dengan Bella yang sibuk merancang rencana untuk hari ini, karena tadi Justin memberikan pesan padanya untuk memulai misi pertamanya.


Misi pertamamu, untuk misi lainnya akan aku kirim setelah menurutku misi pertama berhasil.


Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mengajak Valery untuk ketempat yang belum dia kunjungi di sini, saat itu tinggalkan dia di sana pada saat kalian akan makan siang. (aku harap kamu mengerti apa itu maksudku, biarkan wanita itu untuk pulang sendiri!)


“kenapa aku tidak mengerti dengan misi yang justin berikan?” tanya Dokter Bella saat melihat email yang diberikan Justin pada Woojin yang seperti kesannya sangat aneh dan biasa.


Setelah sepakat dengan rencana yang telah mereka buat, Woojin memutuskan untuk pergi ke kamar Valery untuk mengajak wanita itu berbicara dan mengatakan jika dirinya akan mengajaknya pergi.


“Valery?” tanya Woojin saat dirinya sudah berada didepan pintu kamar wanita itu.


“Ya, kamu butuh sesuatu?”


“Tidak, aku hanya ingin mengajakmu pergi sesuatu tempat”


“baiklah, aku perlu bersiap-siap” ucap Valery, wanita itu segera menutup pintu itu, berlari kecil mendekati lemari pakaiannya, hanya drngan sikap dan berkata Woojin membuat hati begitu senang, membuat dirinya tidak sabar untuk mengetahui kemana mereka pergi.


Butuh sekitar 45 menit untuk dirinya merias dirinya, memilih pakaian yang akan dia kenakan, hingga setelah memastikan jika pakaiannya layak Valery berjalan menuruni anak tangan dan berjalan mendekati Woojin yang sedang menunggu dirinya diruang tamu.


Tepat saat Valery berdiri dihadapan Woojin, pria itu tersenyum pada dirinya yang mungkin mengatakan jika dirinya sangat menyukai penampian Valery, hal membuat dirinya malu saat ini dia jadi mengingat saat kejadian tadi pagi didapur.


“Ayo?”

__ADS_1


Woojin mengulurkan tangannya untuk mengandengnya sambil membawa wanita itu keluar dari rumahnya, sekua hal yang dilakukan Woojin begitu manis membuat Valery sedikit canggung berada didekatnya, wanita itu malah memiiki untuk melangkah sendirian.


Selama di perjalanan menuju tempat yang masih dirahasiakan, hanya ada keheningan disana. Valery terlalu canggung untuk membalas pertanyaan yamg di ajukan oleh Woojin, pemandangan diluar lebih menarik perhatiannya. 


Hingga mereka mobil itu mulai memasuki perhutanan yang jalanan mulai mengecil, saat itu Woojin memutuskan memakirkan mobil di lahan yang cukup lusa.


“kita tidak bisa lagi masuk kedalam”


Woojin membuka sabuk pengamannya, dia segera membuka bagasi mobilnya dan mengeluarkan sepeda yang memang sudah dia siapkan sebelum mereka berangkat, ini memang rencana Woojin agar Valery bisa kembali menggunakan sepeda.


“sepeda?” tanya Valery.


“Ya, kita akan bersepeda, bukan ini sangat bagus?”


Valery hanya bisa terdiam ini saat jauh berbeda dengan yang ada didalam pikirannya, Valery berfikir mereka akan pergi ketempat yang ramai dengan banyak orang, tapi seperti itu hanya harapan yang tidak tercapai, Valery cukup kecewa dengan ini.


Setelah selesai mengeluarkan dua sepeda dengan ban yang begitu tipis, Woojin mendekati Valery yang terlihat murung seperti wanita itu tidak begitu menyukainya, dengan santai pria itu mengikat rambut Valery yang seperti mulai tidak terawat.


“ini akan sangat menyenangkan”


Dengan sepeda yang terus mengenelusi hutan pohon pinus itu akhirnya mereka berhenti disebuah danau yang begitu tenang, dengan pemandangan yang disebrang adalah perkotakan, di sini begitu tenang dengan udara yang begitu sejuk.


Setelah memakirkan sepeda mereka, Woojin mengajak Valery untuk duduk dijempatan yang ada di danau sana, sebenarnya tepat ini belum pernah Woojin datangi dia hany mengikuti saran dari Dokter Bella.


“kamh menyukainya? Tempat ini begitu tenang untuk menghilangkan kepenatan”


“Ya, tempat yang cukup bagus, kamu sering kesini?”


“Tidak, hanya beberapa kali saja”


Setelah itu hanya ada keheningan di antara keduanya, walau tempat ini begitu hening tapi cukup indah untuk di nikmati berdua, Valery tersenyum saat menyadari sidah saast lama dirinya tidak merasa tenang seperti ini, apalagi sekarang dia sudah mulai menyimpan hatinya pada pria disampingnya walau kenyataan pahit yang harus di terima jika mereka bukanlah bukan kekasih atau memiliki hubungan lainnya.


Hingga wasktu berlalu begitu cepat hingga tidak terada waktu sudah menunjukan waktu makan siang, saat itu juga Woojin menerima panggilan masuk dari Dokter Bella yang menandakan jika dirinya harus meninggalkan Valery sendirian disini, dengan berat hati Woojin meninggalkan Valery begitu saja dengan sepedanya.


“apa sepupunya begitu penting untukmu Woojin?” tanya Valery saat dia melihat Woojin yang begitu terburu-buru pergi saat menerima panggilan dari sepupunya, pria itu bahkan seperti tidak menganggap keberadaan Valery, dia pergi begitu saja tanpa berkata satu pun pada Valery, lagi-lagi hatinya seperti di lukai oleh pisau yang tajam.


Valery hanya bisa tersenyun sedih, beberapa detik kemudian wanita itu mulai menangis, entah apa yang membuatnya begitu sedih dan rasanya begitu sakit untuk di katakan.

__ADS_1


Dengan sabar Valery menunggu kembali Woojin hingga waktu sudah menunjukan pukul 4 sore, kesabaran yang Valery tahan akhirnya wanita itu menyerah dan kembali pulang dengan GPS ponselnya, padahal Valery berharap pria itu memberikan kabar padanya jika dia tidak akan kembali tapi seperti itu hanya harapan omong kosong saja.


__ADS_2