“Aku Bukan Takdirmu”

“Aku Bukan Takdirmu”
Bab 43 - Full Moon “tears and hurt”


__ADS_3

jika hidup ini penuh dengan air mata dan luka, mana yang akan kamu pilih sebagai jalan hidupmu?


Akankah kesempatan kedua selalu menjadi harapan?


Atau kematian selalu menjadi pilihan pertama?


Lalu bisakah seseorang dikatakan mampu jika dia berhasil hidup bergandengan tangan dengan luka? 


24 jam berlalu begitu saja kini hari sudah berganti dan cuaca sudah menunjukan akan segera malam, tak tanda kehidupan dalam diri seorang Valery yang belum ada kejelasan sama sekali, wanita itu berbaring diranjang rumah sakit dengan semua alat yang hampir menempel pada tubuh kurusnya, semua itu dilakukan agar tubuh kurus itu tidak terus menurunkan suhu tubuhnya yang sudah setara dengan bongkahan batu es di kutup selatan, secara perlahan jika ini terjadi pada manusia itu akan mengubah tubuh mereka menjadi lebih kebiruan namun itu tidak berlaku pada Valery.


Tubuh wanita tampak normal seperti biasanya, orang lain tidak akan tahu jika wanita yang berbaring disana sedang berjuang menyelamatkan hidupnya yang terus direnggut oleh waktu, antara sadar dan tidak sadar Valery tidak bisa melakukan apapun saat dirinya mencoba membuka kedua matanya secara terpaksa, diranjang itu berkali-kali Valery memberikan sinyal jika ini bukanlan hal yang dia butuhkan sekarang, seharusnya Valery tidak disini. Semua alat ini tidak akan membantu apapun pada Valery.


Karena sesuai teori Hwando, Valery lebih memilih jalan ini untuk menghadapi ’full moon’  yang akan terjadi 6 jam lagi, dengan membiarkan suhu tubuhnya turun dengan kekuatan Aster yang sudah Valery simpan, dengan begini darahnya akan berhenti mengalih bersama dengan jantungnya yang akan terus lambat berdetak. Jika berhasil Valery akan kembali mengalami masa krisis untuk menormalkan tubuhnya, dalam beberapa hari wanita itu akan hanya berbaring tanpa bisa mengerakkan tubuhnya atau sekedar untuk membuka matanya, atau bisa dikatakan koma.


Dengan tenaga yang terkuras habis dan waktu yang terus berjalan,Valery berusaha melepaskan semua alat ditubuhnya yang terasa begitu menyakitkan jika dilepaskan secara terpaksa, dan mungkin bisa menimbulkan bahaya yang lainnya. Entahlah yang terpenting dari segalanya Valery harus pergi sejauh mungkin dari tempat serba putih ini. Secara kasat mata bisa dilihat jika fisik Valery mulai berubah seperti yang pernah terjadi sebelumnya.


Rambut yang sudah mulai berganti warna menjadi abu-abu, dengan kelopak mata yang kini berganti warna menjadi biru gelap. Kulitnya kini berubah menjadi lebih bening dan sangat putih, bisa dikatakan Valery sedang mengalami klamufase menjadi seorang AfroChild yang sesungguhnya, dalam beberapa jam lagi Valery akan terlihat sangat cantik dengan gaun putih bagaikan seorang malaikat tanpa sayap.


Bukankah sangat berat jika malam ini Valery lewati sendiri?


Setelah semua alat rumah sakit yang kini tergeletak dilantai, dan Valery yang susah payah untuk membimbing tubuhnya agar tidak jatuh saat akan melangkah mendekati jendela yang terbukadan cukup untuk Valery jangkau. Dari luar jendela langsung di hubungkan kesebuah hutan yang hanya perlu menyebrang untuk sampai kesana.


Jika tidak ada tempat yang sangat gelap untuk bersembuyi, maka hutan bukanlah pilihan yang salah untuk menghadapi ‘Full Moon’ yang akan terjadi 4 atau 3 jam lagi. Itu berarti sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, dengan pakaian rumah sakit yang mulai bertukar dengan gaun putih, Valery mencoba menaiki jendela ruangan UGD yang jika kita melompat dari kesana mungkin akan membuat tubuhnya terkilir jika pendaratan yang tidak tepat.


“aku harus bisa bertahan, ayo Valery kau yang memilih jalan ini kau juga yang harus menyelesaikan juga” ucap Valery pada dirinya sendiri sebagai motivasi untuk terus melakukan hal yang belum pernah dilakukan, mungkin setelah melewati semua ini Valery hanya berharap orang baik yang akan mau menemukan dirinya dan menampung dirinya untuk beberapa hari.


Valery mengangkat gaunnya setelah dia dapat melompat dengan baik dari jendela, gaun itu terlalu panjang jika Valery biarkan terseret dan bersentuhan dengan tanah. Secara sekilas bisa dilihat mahkota mulai muncul di kepala Valery dengan liontin moon, dengan kaki yang tanpa alas Valery melangkah menyusuri jalanan yang akan langsung bertemu dengan jalan raya, Valery bersyukur jika jalanan sedang tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang disana.

__ADS_1


Valery harus memastikan sesuatu jika tidak banyak orang yang berada di dekatnya, dia tidak mau mengambil resiko akan bertemu dengan orang-orang suruhan Pamannya, mungkin sekarang Aster di dalam tubuhnya sedang melakukan persiapan untuk proses pertumbuhannya, bisa dirasakan jika Aster itu menyerap kekuatan Valery yang tersisa dan mulai bersinar.


Setelah sampai disana Valery dikejutkan karena itu bukan sebuah hutan melainkan itu adalah taman kota yang memang memiliki banyak pohon tinggi. Tak banyak waktu yang tersisa jika Valery ke area yang cukup jauh dari sini, mau tidak mau Valery terpaksa memilih untuk melangkah kedalam taman kota yang sudah sepi. Hari juga sudah mulai gelap dan Valery harus segera bersembunyi kedalam taman kota yang mungkin terdapat tempat yang sangat gelap disana.


“Valery!” 


Terdengar samar-samar suara seseorang yang memanggilnya dari sebrang jalan sana, Valery tahu jika itu suara Woojin namun semua rencana akan gagal jika dia membiarkan pria itu mengikutinya, Valery terus berlari walau kakinya mulai terluka karena menginjak beberapa serpihan kayu, dia terus berlari kedalam taman kota yang terdapat banyak pohon didalamnya. Hingga akhirnya Valery terjatuh karena gaunnya tersangkut pada rantai pohon yang sudah jatuh.


“Ayolah, aku mohon!” ucap Valery sambil menarik gaun putih yang sangat sulit untuk dilepaskan, dengan terpaksa dia menyobek gaun itu dan segera bersembunyi dibawah pohon yang cukup tua dan besar, dia mencoba mengunakan Aster untuk mengelabui orang lain tidak melhatnya dengan ilustrasi yang Valery buat.


“Valery, aku tahu jika kamu bersembunyi tapi bisakah biarkan aku ikut bersamamu?” ucap Woojin, padahal pria itu berada tetap di belakang pohon dimana Valery berada, namun dengan ilustrasi yang Valery buat dia tidak bisa melihat pohon besar itu.


“aku tidak tahu apa yang terjadi … tapi tolong pergi Valery”  


“aku akan mengatakan semua Valery tentang hidupku dan juga perasaanku” ucap Woojin dengan sedih, dia terlalu bodoh jika dia membiarkan Valery pergi begitu saja. Tak lama kemudian Han sang asisten datang menemui Woojin untuk membawanya pergi dari taman kota yang sudah beberapa tahun ditutup karena tidak lagi terawat.


“Tuan Huang, mungkin Nona Valery pergi kearah lain, bukankah anda mengatakan jika Nona Valery takut akan kegelapan? Wanita itu tidak akan memungkin pergi kesini” 


“maafkan aku Woojin, aku tidak bisa melibatkan dirimu tentang hidupku! Biarkan semua ini menjadi rahasia untukku” 


Sekarang Valery hanya bisa bersembunyi disana, tubuhnya sudah mulai melemas jika dipaksakan untuk berjalan. Valery menglihat jam tangan yang sudah menujukan pukul 7 malam, tinggal satu jam lagi untuk menuju penderitaan yang tidak pernah Valery bayangkan akan terjadi, biasanya jika ‘Full Moon’ terjadi Valery akan melakukan hal aneh entah itu mendekati banyak pria hingga membuat mereka gila.


“aku harus bertahan!” 


Seperti yang tertulis dalam buku tua, bunga Aster yang terletak di belakang punggung Valery secara perlahan akan mengeluarkan cahaya jika Valery merawatnya dengan baik tapi jika Aster menunjukan akan mati cahaya itu akan mudah redup dan terus menyakiti sang pemilik. Kini Aster sudah mulai mengambil alih tubuhnya sesuai dengan detik yang terus melangkah menuju jam 8.


Valery merintih kesakitan saat sang Aster berusaha untuk mengeluarkan cahaya namun tak bisa, hingga rasanya tidak mampu bagi Valery untuk tidak meringkuk di tanah sambil memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Suhu dingin ditubuhnya terus turun hingga Valery tidak bisa merasakan jari tangannya atau kakinya yang mulai membeku. “help me!”

__ADS_1


Valery untuk sesaat merasakan jika dirinya seperti dibuat mati namun detik berikutnya Valery dipaksa untuk bangun lagi dari kematiannya “akhhh!! It Hurt!”  


Saat Valery membuka kedua matanya hal pertama yang dia lihat adalah kegelapan yang tidak ada cahayanya disetiap dia melihat kearah lain, semua ini bukan hal hanya yang dapat dikatakan baik bagi Valery tapi sebaliknya ketakutan mulai menyeliputi Valery. Wanita itu begitu takut akan kegelapan namun kini dia dihadapkan dengan semua ketakutannya. 


Siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan dirinya?


Detik berikutnya ada suara seperti klakson mobil yang langsung menatapkan dirinya dihadapan Valery seperti akan menabrak dirinya, melihat hal itu tentu saja Valery menghindar namun tubuhnya tertabrak dengan pohon yang ada dibelakang tubuhnya hingga Valery sadar jika dirinya tidak pergi kemana-mana dan hanya terjebak dalam ilustrasi lain.


“akh!!! Sakit!!!”  ucap Valery tepat ketika jam sudah menunjukan pukul 8 malam saat itu juga Aster mulai melakukan pertumbuhan yang tentu saja langsung gagal, berkali-kali cahaya itu kembali redup, namun berkali-kali juga Valery merasakan jika dirinya seperti dimasukan kedalam sungai yang sangat dingin hingga mampu mematikan saraf tubuhnya secara berulang kali.


Proses kesakitan ini akan terus berlangsung selama 5 jam, itu berarti setiap rasa sakit yang Valery lakukan akan setimpal dengan pemotongan usianya menjadi lebih cepat yaitu 5 tahun yang berarti setiap satu jamnya setara dengan satu tahub usianya. Air mata Valery mulai membasahi pipinya secara bergantian, di dalam taman kota ini hanya akan terdengar sebuah siksaan yang begitu menyakitkan namun tidak dapat di tolong.


“kamu harus kuat! Ingat satu hal dengan imbalan kehidupan di masa yang akan datang Valery, jika waktu yang sekarang kamu miliki tidak dapat bersama dengan orang yang kamu cintai maka jangan sampai di kehidupan selanjutnya kamu kehilangan dirinya”  ucap Valery untuk dirinya sendiri dimasa yang sulit ini, dia terus membiarkan Aster menguras semua tenaga yang dia milik, walau mungkin Valery akan muntah darah sekalipun dia tidak akan membiarkan Aster itu tumbuh.


‘Woojin aku mencintaimu untuk yang sekarang dan dikehidupan selanjutnya, jika aku tidak hidup lagi setelah Full Moon ini berakhir maka tunggulah aku hingga 1500 tahun lagi’ 


Valery tersenyum di saat darah mulai keluar dari dalam mulutnya hingga mengotori gaun putih itu, baru satu jam berlalu rasanya Valery sudah seperti tidak bisa merasakan tubuhnya mampu, rasanya suhu dingin ditubuhnya dan rasa terbakar di punggungnya terus menghancurkan pikiran dan jiwanya, hingga Valery kembali terbaring di tanah dengan tangan yang terus menarik rumput untuk melampiaskan rasa sakit ini. “Tell me!”


Selanjutnya Valery merasa jika jantungnya mulai lambat berdetak hingga semua pergerakkan tubuhnya tak lagi menjadi rasa sakit yang baru, hingga akhirnya Valery terbatuk dengan darah yang berhamburan kesegala arah, seberapa keras untum bangkit tetap saja tubuh kurus itu akan kembali tumbang dengan wajah yang terbentur tanah hingga membuat darah mengalir dari hidung Valery.


“aku sudah tidak sanggup lagi” ucap Valery, dia melihat tangannya yang dipenuhi dengan tanah dan juga darah, kukunya yang menghitam sebagai petanda jika Aster itu akan segera mati, urat-urat ditubuhnya juga ikut menghitam seperti memang akan segera mati, Valery yakin jika sekarang dirinya sudah bisa berhasil menghentikan pertumbuhan Aster.


“kita akan segera berpisah sepertinya” 


Air mata kembali mengalir, bukan rasa sakit yang membuat Valery terus menangis tapi air mata ini adalah rasa kesedihannya yang tidak mampu menerima jika kenangan bersama Woojin akan berjalan secara singkat akan segera berakhir, seperti kata buku tua itu jika Aster mati Valery tidak akan bisa hidup normal, tubuhnya akan rentan sakit dan juga akan mudah sakit. Dia juga tidak bisa terlalu lama terpapar sinar matahari atau terlalu lama didalam ruangan yang sangat dingin.


Waktu terus berjalan, rasa sakit yang Valery rasakan terus berlangsung dan semakin buruk saja, tubuhnya tidak secantik seperti AfroChild saat menghadapi Full Moon, wanita itu dipenuhi dengan darah dan juga warna hitam, Hingga akhirnya penderitaan itu berakhir saat waktu sudah menujukan pukul 1 dini hari.

__ADS_1


Saat itu juga Valery menutup kedua matanya dengan tenang dan perasaan lega yang begitu luar biasa dia rasakan.


Note : bagaimana pendapat kalian untuk bab ini? Silahkan tuliskan dikomen ya 😘 maaf ya kalo misalnya masih ada kekurangan dalam penulisan bab ini. maaf telat update juga karena aku baru nulis pagi ini, dan minta crazy up maaf ya aku gk bisa karena cerita ini benar-benar aku tulis dadakan gk bisa aku persiapkan banyak bab untuk sekali up 🙏


__ADS_2