
Jam kantor sudah menunjukan pukul tiga sore yang menandakan jika pekerjaan hari ini sudah berakhir, Valery yang hari ini tak terlalu banyak menerima pekerjaan, dia segera merapikan meja kerjanya dan bergegas pergi ke cafe Justin yang tak jauh dari kantornya.
Sebelum dia pergi meninggalkan ruangannya, dia melirik ke arah ruangan Woojin yang tampak sepi karena sedari makan siang pria itu pergi dan belum juga kembali, setelah memastikan penampilannya tapi, Valery segera meraih tas dan ponselnya, lalu melangkah keluar ruangannya.
Disepanjang jalan menuju lift Valery terus mengetik sesuatu di layar ponselnya, hingga saat pintu lift yang terbuka, dia fokus pada ponselnya.
Tak lama kemudian Valery segera melangkah meninggalkan gedung pencakar langit itu, dia mengikuti setiap petunjuk arah melalui GPS yang diberikan oleh Justin, dia melewati beberapa gedung yang cukup jauh dari tempat kerja-nya.
Hingga akhirnya dia menemukan titik lokasi cafe Justin yang ternyata tempat yang dulu pernah Valery singgah, pantas saja jika Justin berkata seperti itu karena sebelumnya memang mereka pernah bertemu namun tak saling menyadari, bukan hanya Valery saja yang tak menyadari itu.
Dengan ragu-ragu dia membuka pintu Cafe itu, melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam yang tampaknya sepi dari pengunjung, saat disini sedang mencari keberadaan Justin, pria itu muncul secara tiba-tiba dihadapannya.
Justin : "Hai Valery”
Valery : “Hai juga Justin”
Justin : “sudah lama menunggu?”
Valery : “Ah, tidak aku baru saja tiba disini, apa kita akan berbicara dengan bahasa korea atau bahasa inggris?”
Justin : “aku masing bisa berbahasa korea Valery, bagaimana jika kita ngobrolnya di sana saja, tak baik berbicara di depan pintu masuk”
Valery : “baiklah, aku pikir karena kamu sekarang di amerika, kamu akan terbiasa berbicara bahasa inggris”
Justin : “Ya, memang tapi akhir-akhir ini banyak pelangganku yang berasal dari korea juga”
Justin dan Valery berjalan mendekati kemeja yang berada di pojok ruangan dan di dekat jendela, Valery terus menundukan pandangan, sudah bertahun-tahun tidak bertemu tapi pria yang ada di hadapannya masih sama seperti dulu tampan dan juga baik hati.
Justin lebih dahulu membiarkan Valery untuk duduk lebih dahulu baru dia mengambil duduk dihadapan Valery.
Justin : “apa sulit menemukan lokasi cafeku?”
Valery : “Tidak, cukup mudah menemukannya, aku tidak tahu jika kamu tertarik untuk membuka Cafe?”
__ADS_1
Justin : “aku sangat menyukai biji kopi, aku merenungkan segala hal hingga memutuskan untuk membuka Cafe”
Valery : “tapi kenapa sampai ke amerika?”
Justin : “kebetulan pamanku memiliki toko Cafe di amerika, jadi aku memutuskan untuk meneruskan Cafe ini”
Valery : “Oh, aku sangat menyukai rancangan Cafe ini, membuat rasa nyaman dan juga tenang”
Justin : “ini semua di rancang oleh bibiku, Oh Ya, Valery kamu ingin meminum sesuatu?”
Valery : “apa saja, asalkan bukan Coffe pahit, karena aku tidak bisa meminumnya”
Justin : “baiklah, tunggulah sebentar”
Valery hanya mengangguk sebagai jawabannya, dia menatap punggung Justin yang kini berjalan ke arah kasir.
Sesekali Valery melihat ke arah luar jendela, banyak sekali orang yang sedang berjalan menikmati indahnya sore hari dengan cahaya matahari yang tak terlalu panas seperti biasanya, mereka semua pasti berjalan menuju ke pantai untuk menikmati sejuknya angin pantai dan menunggu terbenamnya matahari.
Valery : “Vanilla Latte? Bagaimana kamu bisa tahu aku menyukai ini?”
Justin : “benarkah? Baguslah kalau kamu menyukainya, itu berarti pilihanku tak salah”
Valery : “boleh aku mencobanya?”
Justin : “kenapa tidak, itu sudah menjadi milikmu”
Valery : “terimakasih”
Dengan senang Valery minum Vanilla Latte yang diatasnya terdapat banyak topping di sana, ada Ice Cream, butiran kacang dan juga Coklat.
Valery : “ini sangat enak, aku suka rasanya yang manisnya sangat pas”
Justin : “kamu sangat lucu Valery, aku tidak menyangka jika kamu akan berubah”
__ADS_1
Valery : “Aku berubah?”
Justin : “dulu kamu sangat pemalu, bahkan berbicara denganku, kamu selalu menundukan pandanganmu dan dimana kacamata yang selalu menempel itu? Dan juga rambut yang selalu dikuncir dua itu?”
Valery : “suatu hari manusia pasti akan berubah, entah penampilan maupun sifatnya, tapi seberubah apapun diriku, aku tetaplah Valery yang dulu”
Justin : “aku selalu menyukai apa adanya dirimu, Ah itu maksudku aku selalu senang dengan penampilanmu yang sekarang ataupun dulu”
Valery : “kapan kamu mulai mengambil alih Cafe ini?”
Justin : “mungkin tiga tahun yang lalu, saat ibuku meninggal, dan aku lebih memilih untuk tinggal bersama paman dan bibi, daripada ikut dengan ayahku”
Valery : “maaf, aku salah mengajukan pertanyaan”
Justin : “tidak apa-apa Valery, kamu bekerja sebagai apa?”
Valery : “aku bekerja sebagai sekretaris, aku disini hanya menemani atasanku, kita sedang menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan disini”
Justin : “wah, itu kabar yang baik, pasti sangat menyenangkan”
Valery : “Ya, aku sangat menyukai pekerjaanku, namun aku tak menyukai atasanku”
Justin : “pasti karena pria itu sangat dingin dan juga pemaksa”
Valery : “Ya, aku tak menyukai sifatnya yang sering berubah-ubah, seperti aku harus pulang”
Justin : “baiklah, dimana rumahmu aku akan mengantarmu”
Valery : “rumahku cukup jauh dari sini, aku tak ingin merepotkanmu, aku masih bisa naik taksi”
Justin : “tidak masalah untukku, bisakah kamu menunggu sebentar aku akan berganti baju”
Tak lama setelah menunggu Justin menganti baju, kini Valery dan Justin sedang dalam perjalanan kembali ke rumah Valery
__ADS_1