
Saat malam harinya …
Woojin masih setia menunggu Valery untuk membuka kedua matanya pria itu tampak frustasi melihat Valery yang seperti ini, tapi di sisi lain ada perasaan senang mengetahui fakta jika wanita yang sedang berbaring di ranjang mulai menaruh hatinya pada pria brengsek seperti dia.
Setidaknya sisi gelap itu tidak meninggalkan tanda kepimilikan di tubuh Valery, “aku tidak pernah berfikir pertemuan kita yang tidak disengaja malah membuat kita berdua terjebak di sini”
Hari sudah menunjukkan pukul 11 malam tapi Valery belum juga membuka kedua matanya, mungkin ini efek kelelahan, seharian wanita sudah menghabiskan banyak energinya saat mereka mengendarai sepeda dan saat dia kembali energinya kembali dipaksa keluar untuk hal yang di luar kemampuannya, wanita itu juga belum makan apapun kecuali saat pagi harinya dan ini sudah malam itu berarti Valery sudah melewatkan makan siang dan makan malam.
“baiklah beristirahatlah dengan baik, aku akan kembali nanti” ucap Woojin.
Dia menarik selimut menutupi tubuh Valery kemudian mematikan lampu dan sebelum pergi memberikan satu kecupan di kening pucat itu, namun saat melangah tangan Woojin di tahan oleh jemari mungil itu dan lemas Valery membuka kedua matanya.
“kamu ingin kemana?” tanya Valery, suara yang begitu serak dan dengar tidak berdaya itu membuat Woojin menatapnya dengan sedih, tangan Valery begitu dingin saat mengenggam tangan Woojin, bahkan wajah itu terlihat sangat pucat dari sebelumnya.
“tidak, aku ada disini untukmu Valery”
Woojin memutuskan untuk duduk ditepi ranjang, membantu wanita itu untuk bersandar di dinding ranjang, baru kali ini Woojin melihat sisi lemah Valery yang tidak pernah gadis itu tunjukan sebelumnya biasanya hanya ada wajah kesal dan sedih yang wanita itu tunjukan padanya.
“kamu ingin makan?”
“aku ingin memasak untukku, bolehkah?”
“boleh kamu ingin aku masakan apa?”
“sup ayam”
“itu mudah kamu beristirahatlah, saat makanan sudah siap aku akan menghantarnya kesini”
“aku ingin melihatmu masak”
Woojin tidak punya pilihan untuk bisa memaksa Valery tetap beristirahat, dengan tubuh kekarnya Woojin menggendong tubuh Valery yang semakin kurus saja, seperti Woojin memang harus memperhatikan kesehatan wanita itu, dia terus berjalan menelusuri lorong rumah menuju dapur yang ada di lantai satu.
“Woojin, jika aku pergi apakah kamu akan merindukan-ku?” tanya Valery di sela-sela dirinya yang sedang menatap wajah Woojin dari dekat ini, rasanya hari ini begitu berat untuk Valery lalu belum lagi rasanya raga ini sudah tidak mampu untuk menampung dirinya lagi.
“apa yang kamu bicara? Kamu tidak akan bisa pergi jauh dariku Valery!”
“kamu tidak pernah berubah”
__ADS_1
“untuk dirimu aku tidak pernah berubah Valery”
“senang mendengarnya”
“kamu duduk disini dulu, tidak perlu ikutan memasak”
Woojin mendudukan Valery di kursi, lalu dia membuka kulkas untuk mencari bahan-bahan yang dibutukan untuk membuat sup ayam, kali ini dia juga butuh sayuran untuk memberikan asupan yang baik untuk Valery, dia terlalu memikirkan masalahnya sampai melupakan jika dia harus menjaga wanita itu agar tetap sehat dan juga jauh dari kata tekanan mental.
Dia mengeluarkan bahan-bahannya, kemudian mencucinya dengan air dan satu persatu memotongnya didepan Valery yang sedari tadi menatapnya tanpa mengalihkan pandangannya, Valery begitu menikmati waktu yang ada seperti dirinya benar-benar akan pergi keesokan harinya.
Beberapa menit kemudian hanya terdengar suara pisau dan talenan yang saling bertabrakan satu sama lain, Woojin begitu serius hingga dirinya seperti seorang chef profesional dengan bayaran begitu tinggi, semua gerakkan yang dia lakukan bagaikan penari bagi Valery dia sampai tidak sadar jika dirinya hanya menatap pria itu.
“minumlah susu coklat hangat ini” ucap Woojin, disela kesibukannya dia masih sempat membuatkan susu coklat untuk Valery, suatu hal yang belum pernah dia lihat sebelumnya, dengan senang Valery menerima susu coklat yang memang tidak panas, pria itu tahu standar untuk ukuran susu hangat.
Pria itu kembali lagi ke ruangan dapurnya yang sudah seperti tempat dia menumpahkan keahliannya, selain membuat sup ayam Valery bisa menebak jika pria membuat menu makan lainnya.
Hingga 10 menit berlalu, susu coklat yang ada di tangan Valery sudah hampir habis dan Woojin baru menyelesaikan kegiatannya, pria itu sedang menyajikan masakannya di meja makan dan membuat semua sajian begitu cantik untuk dilihat.
“cobalah, maaf jika masakanku kurang enak seperti yang direstoran” ucap Woojin, dia menyerahkan semangkuk sup ayam dan sepiring nasi untuk Valery.
“tidak enak ya?” tanya Woojin, dari ekpresi Valery yang berikan membuat pria itu mengerti.
“bukan, masakanmu mengingatku pada seseorang, masakan yang sangat aku rindukan, terimakasih Woojin kamu membuat aku kembali mengingat masakan itu” ucap Valery, dia tersenyum pada Woojin lalu mulai menikmati sup ayam itu dengan lahap hingga membuat Woojin tersenyum bahagia.
“makanlah yang banyak, jangan lupa dimakan sayuran” ucap Woojin, hanya dengan melihat Valery pria itu sudah merasa kenyang padahal dia sama seperti Valery yang belum makan siang dan makan malam.
“kamu tidak makan?”
“tidak”
“kamu harus merasakan masakanmu juga Woojin ini sangat enak dan sayang jika hanya aku yang menikmatinya” ucap Valery, dia bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati pria itu untuk membuka mulutnya agar menerima suapan darinya.
“Valery--”
“anak pintar, makanlah sendiri”
Saat Valery ingin kembali kekursi tiba-tiba Woojin menarik tubuhnya membuat gadis itu jatuh di pangkuan pria itu, Valery sudah terbiasa dengan sikap pria itu jadi dia hanya bisa menurut dan melingkarkan tangannya di perpotongan leher itu.
__ADS_1
“aku lapar, aku ingin dirimu” ucap Woojin, dia membelai sela-sela rambut Valery yang begitu lembut dan harum, dia sangat pandai merawat rambutnya.
“aku bukan makan”
“aku tahu, tapi kamu lebih menggoda dari makan”
Detik berikutnya Woojin menyatukan kedua bibir mereka, dia mencoba mengecap sup ayam yang masih tersisa di mulut Valery, menarik gadis itu lebih dekat lagi hingga Valery bisa merasakan benda yang begitu keras disana.
Ciuman yang berlangsung begitu lama hingga harus di lepas karena memang manusia butuh oksigen untuk bernafas bukan? Dengan wajah yang begitu sayup dan juga penuh dengan semu merah Valery hanya bisa mengalihkan pandangannya, entah kenapa ciuman itu terus membuatnya candu hingga sulit untuk di hindari, belum lagi kini Woojin mulai mencium area leher-nya yang membuat Valery semakin memiringkan kepalanya hingga memberi Woojin kesempatan untuk memperdalam langkahnya.
"“Woo..jin”
“katakan-lah Valery”
“bagimana... jika ...kita pindah… kekamar Ahk...” ucap Valery, begitu sulit untuk dirinya berbicara disela-sela gairah yang begitu mengebu-gebu dirinya.
Woojin mengerti, dia mengangkat tubuh Valery tanpa melepaskan ciuman mereka berjalan dengan tubuh Valery yang melintar di tubuh kekarnya, Woojin terlalu terburu-buru memutupi pintu dan segera menghempaskan tubuh Valery di ranjang miliknya.
Dia melepaskan semua pakaiannya dan berjalan mendekati Valery yang hanya terdiam sambil mengigit bibir bawahnya, membuat diri Woojin tidak sabar.
“Woojin pelan-pelan-lah, dengarkan aku! Jangan mencoba mengalihkan pandanganmu dan dengarkan suaraku” ucap Valery, dia menahan wajah Woojin untuk menatap dirinya, memastikan jika pria itu menginginkan dirinya karena hatinya bukan karna nafsu.
“Valery buat aku tetap sadar, aku ingin benar-benar sadar saat melakukannya” ucap Woojin, tangannya sibuk membuka satu persatu pakaian yang masih melekat ditubuh.
Tiba-tiba turun hujan yang begitu lebat sehingga suhu menjadi begitu dingin, di ruangan yang redup akan cahaya dan dinginnya suhu tidak mempengaruhi dua orang yang saling menyatu dibalik selimut tebal yang menutupi tubuh telanjang mereka.
Desahan dan guncangan terus terdengar diruangan itu hingga ranjang pun tidak malah kalah untuk ikut berbunyi, malam yang begitu panjang untuk Valery lewati dari biasanya, namun malam ini begitu indah untuk dirinya, secara sadar dia menikmati sentuhan demi sentuhan yang Woojin berikan, dia hanya bisa melampiaskan semuanya dengan menarik sprei dan sesekali menjambak surai hitam itu.
Satu malam lagi yang mereka lewatkan dengan indah, setidaknya Woojin sadar dalam melakukan hal ini hingga akhirnya dia bisa mengalahkan sisi gelapnya yang seperti terus mencoba membuat Woojin tak sadar, tapi Woojin menepiskan dengan yakin jika dia melakukannya atas dasar dia ingin Valery bukan ingin menyakitinya.
“terimakasih Valery” ucap Woojin saat pelepasan yang baru saja, dia mengecup kening Valery begitu lama dan menarik wanita itu tubuh masuk dalam pelukannya.
Note : maaf kalo bab ini rasanya kurang, jangan lupa mandi ya 😊 like dan komen untuk bab ini.
See you …
Cerita ini akan update 2 hari sekali ya, jika aku tidak sibuk hehehehe
__ADS_1