
Valery terbangun dengan perasaan sedih, ada sisa-sisa air mata di sudut matanya, entah kenapa tangisan itu seperti nyata namun dia tidak bisa melakukan apapun disana, hanya terbaring lemas dan hanya bisa mendengar suara-suara samar dari sosok yang tiga bulan sudah lama tidak dia temui.
Valery bisa merasakan jika tangannya baru saja digenggam oleh tangan hangat Woojin nyata bukan tangan dari tiruan Woojin. Entah itu sebuah mimpi yang terasa nyata atau Woojin berusaha membantunya kembali ke dunia, untuk saat ini Valwry tidak bisa memastikan sesuatu itu namun dia bersyukur masih bisa merasakan tangan itu walau tidak bisa melihat wajahnya.
Didalam dunia ilustrasi ini semua yang mustahil akan menjadi kenyataan, maka dari itu Valery tidak bisa membedakan mana yang memang kesebuah tanda dari Woojin dan mana yang hanya dibuat-buat oleh pria yang indentitasnya masih menyawar menjadi Woojin.
Jika dihitung tinggal dua hari lagi menuju ke sebuah pernikahan yang sebaenarnya tidak ingin Valery lakukan, dia takut semua akan memburuk jika dirinya hanya diam di dunia ilustrasi tanpa bisa melakukan apapun, tidak ada cela baginya untuk melakukan hal nekad untuk mencurigai Woojin tiruan itu, jika pria itu terus bersikap baik dan selalu bisa menahan dirinya untuk tidak marah maka Valery tidak bisa melakukan apapun sampai hari itu tiba.
Jam baru menunjukan pukul 5 pagi, itu berarti dalam beberapa jam lagi Woojim tiruan akan menjemputnya dan mereka akan melakukan proses memilihan gaun pengantin untuk dirinya dan juga jas untuk dirinya. Valery tahu itu karena sebelum tidur kedua orangtuanya akan mendatangi kamar dan bercerita banyak hal tentang mereka yang sangat bertentangan dengan faktanya. Sang ibu memberitahu dirinya jika besok Woojin akan datang dan membawanya pergi.
Antara bingung dan malas membuat Valery hanya diam diranjangnya tanpa mau melakukan apapun entah itu sekedar bangun dari ranjangnya atau pergi melangkah ketempat lain, jika dilihat dari ke seluruhan kamar ini sangat mirip dengan kamar Valery saat dirinya usinya 14 tahun, kamar yang sedetikpun tidak pernah lepas dengan aneka pernak-pernik bintang.
Dengan pikiran kosong wanita itu menatap keatas atap kamarnya yang di tempeli oleh stiker bintang berwarna biru, ini memang kamarnya saat masa muda namun kini rasanya sangat asing dan berbeda dari sebelumnya, jauh dengan kehidupan sebelumnya.
Setiap satu menit berlalu saat itu juga selalu terdengar helaan nafas panjang yang Valery lakukan, kini dia mendapatkan segalanya tanpa perlu melakukan apapun namun semua ini malah membuat dirinya menjadi mudah bosan dan seperti kehilangan gairah hidupnya.
“aku ingin bertemu denganmu Woojin, aku ingin melihatmu memarahiku saat aku kita sedang bertengkar, aku aku--”
Hanya dengan memikirkan sosok yang selalu dia harapkan bisa bertemu ketika membuka kedua matanya sudah membuat Valery menangis saat sosok itu seperti muncul dalam pandangannya, sudah tiga bulan berlalu dan setiap detik yang terlewatkan tidak pernah Valery lepaskan untuk tidak memikirkan Woojin.
Aster dalam tubuhnya sudah mati, hanya tinggal menunggu waktu yang menjawab semua pertanyaan ini, namun kenapa kita harus berpisah? Valery bahkan tidak bisa menatap mata itu sebelum akhirnya dia terjebak didunia ilustrasi ini, setiap memont mereka yang masih tertanam di pikiran selalu membuat Valery ingin sekali melakukan semua cara untuk bisa bertemu dengannya.
Setelah beberapa menit berpikr, Valery memiliki sebuah rencana begitu saja didalam pikirannya, jika dia hidup di dunia ilustrasi pasti salah satu dari mereka akan memiliki gambar bunga Aster ditubuhnya, dan hal yang harus Valery lakukan adalah memeriksa orang terdekatnya yang mungkin saja memang orang itu yang membawa Valery kedunia ini.
Sesuai rencana orang pertama yang akan dia lihat adalah Woojin tiruan, karena hari ini mereka akan memilih pakaian pernikahan mereka itu bisa jadi satu kesempatan bagi Valery untuk memastikan jika pria itu termasuk seorang Afro atau Aster manusia, jika dia Afro dibelakang punggungnya akan ada tanda bunga Aster yang berwarna hitam dan ukurannya lebih besar dari milik Valery sebelumnya.
Karena mereka akan bertemu pukul 8 pagi, itu berarti sekarang Valery harus berdandan sebelum dia bertemu dengan pria itu.
__ADS_1
Dua jama berlalu begitu saja, kini Valery sudah memakai pakaian musim dingin karena hari ini tiba-tiba salju turun dan membuat Valery sedih dengan satu janji yang dulu dia buat untuk merayakan hari natal bersama Woojin namun kini dia malah akan bersama dengan orang lain untuk melewati malam natal dan pergantian tahun.
“apa yang ibu buat untuk sarapan hari ini?” tanya Valery seperti beberapa hari yang lalu dia sekarang lebih sering menyapa sang ibu dan ayahnya, dia terus bersikap seperti anak baik untuk kedua orangtua ilustrasinya.
“kesukaanmu, kapan Woojin menjemputmu?”
“sebentar lagi dia akan datang, apakah ibu senang aku akan menikah?”
“ibu? Valery orangtua mana yang tidak bahagia melihat anaknya akan segera menikah, apalagi Woojin adalah pria yang baik”
Valery memilih diam, dia mengambil roti dihadapannya lalu membawanya pergi, dia berjalan kearah ruang tamu untuk menghindari percakapan yang sama sekali tidak ingin dia dengar. Dan benar saja saat Valery ingin mendudukan dirinya disofa suara mobil didepan rumahnya membuat dirinya harus pergi dari rumah itu.
“ibu! Aku pergi, Woojin sudah menjemputku” ucap Valery, dia segera keluar dengan roti ditangannya.
“aku suka dengan pakaianmu hari ini, kamu terlihat sangat cantik” ucap Woojin, dia langsung mendekati Valery untuk memberikan satu kecupan di bibirnya namun baru saja ingin menarik Valery lebih dahuly menolaknya dan memilih untuk segera masuk mobil.
Levin hanya bisa diam, dia kembali masuk kedalam mobil dan duduk di samping Valery yang sedang menikmati roti tanpa apapun. Dua hari lagi dia akan melampiaskan semua perasaan kesal atau amarahnya pada wanita itu dan membuat dirinya tidak akan ingat dengan pria bernama “Woojin” hanya akan ada Levin di dalam kehdupannya. Tak menunggu lama Levin segera menyalakan mesin mobilnya dan segera meninggalkan rumah Valery.
Selama diperjalanan tak ada pembicaran disana, Valery terlalu sibuk melihat jalanan kota yang sudah dipenuhi dengan salju, semua orang yang berada diluar seperti sangat menyukai cuaca hari ini yang begitu dingin hingga rasanya membuat Valery malas berada diluar rumah, dia lebih suka menikmati secangkir susu hangat sambil membaca buku didekat jendela, suatu hal yang sering dia lakukan saat masih kecil.
Hingga akhirnya mereka berhenti disebuah butik pakaian pegantin dipusat kota, untuk sesaat Valery terdian melihat butik bertuliskan ‘the weeding dream’ ini adalah tempat dimana Valery berharap bisa memilih gaun pernikahan disini saat dirinya sedang berjalan-jalan sebelum dirinya mengenal Woojin, mungkin sudah beberapa tahun yang lalu, hingga lamunannya harus terhenti saat Levin menarik tangan Valery untuk segera masuk kedalam butik tersebut.
Kedatangan mereka tentu saja langsung diberi sambutan oleh pelayan dan memilik butik, Valery hanya mengikuti langkah dimana sang pemilik mengajaknya ke sebuah ruangan yang dipenuhi dengan berbagai jenis pakaian pengantin dari berbagai warna, entah kenapa saat sampai diruangan itu mata Valery tertuju pada gaun pengantin berwarna hitam yang sepenuhnya mengekspos punggungnya dan dipenuhi dengan bulu. Valery yakin jika gaun itu akan dia kenakan nanti melihat bagaimana Woojin begitu menyukai gaun itu.
“Valery kemarilah” ucap Levin, pria itu menarik Valery untuk mendekati gaun hitam yang memang sebelumnya sudah Levin siapkan untuk Valery karena bagi Levin warna hitam adalah warna kemenangan untuknya, Dia memerintahkan Valery untuk segera memakai gaun itu.
“bukankah gaun pengantin biasanya berwarna putih yang melambangkan kesucian?” tanya Valery, dari sinilah dia mulai mengerti jika pria itu benar-benar hanya Woojin tiruan karena sebelumnya Woojin asli tidak pernah menyukai Valery memakai gaun hitam.
__ADS_1
“warna tidak akan melibatkan apapun dalam prrnikahan Nona, semua orang tidak akan perduli dengan apa yang Nona pakai, intinya pernikahan harus terjalin karena sebuah cinta” ucap sang pemilik butik dengan suara lembut dan sopannya.
“tunggu apa lagi, ayo ganti sayang” ucap Levin, dia mendorong Valery untuk masuk kedalam ruang ganti, “kau membutuhkan bantuan?”
Valery terdiam, dia harus bagaimana untuk bisa melihat punggung pria itu tanpa membuatnya curiga, dia begitu lama berpikir hingga lupa untuk menganti pakaiannya yang membuat Levin terpaksa masuk kedalam ruang ganti.
“apa yang kamu pikirkan?” tanya Levin, pria itu sedang memegang jas setelan yang berwarna sama dengan Valery.
Melihat Woojin tiruan masuk dengan pakaian membuat Valery berpikrir jika dia bisa membiarkan Levin berganti pakaian dengannya, itu bisa menjadi satu kesempatan untuknya membuktikan jika Woojin tiruan itu pasti seorang Afro yang memiliki kekuatan Asters yang hebat, dengan santai Valery berjalan mendekati Levin.
“seperti aku kesulitan untuk berganti pakaian, bisakah kamu membantuku?” tanya Valery, dia sedang dalam mode wanita manja saat ini.
Levin yang mendengar itu hanya bisa menunjukan seringai walau hanya sesaat, dia meletakkan pakaian ditangannya dan segera mendekati Valery untuk membantu wanita itu “apa yang harus aku lakukan?”
“pegang gaun ini” ucap Valery, setelah memberikan gaunnya Valery mulai melepaskan pakaiannya satu persatu didepan yang tentu saja dia sangat gugup namun jika dia tidak melakukan ini, sampai kapanpun dia tidak akan bisa bertemu dengan Woojin dan mendekatkan kehidupan yang sesungguhnya, sampai hanya meninggalkan pakaian dalamnya Valery baru meminta gaunnya di Levin dan tanpa perasaan takut dia memakai gaun itu.
Levin mendekati Valery setelah menahan semua gairah untuk membuat Valery tidak berada dibawahnya, dia menarik resleting gaun itu tanpa menunggu Valery meminta bantuan padanya, dari cermin dia bisa melihat jika gaun pengantin itu begitu cocok dengan Valery, Levin meletakkan kedua tangannya di perut Valery yang bermaksud untuk memeluk wanita itu dari belakang, sebelum berkata dia menyempatkan untuk mengecup punggung Valery yang tidak tertutupi apapun. “aku sangat menyukai gaun ini, membuatku semakin tidak sabar untuk menikahimu”
Dan Valery, tentu saja dia sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan pria itu namun jika ingin semua rencana berjalan lancar maka Valery harus memberikan semua itu, tak lama dia melepaskan pautan tangan Woojin tiruan dan menghadap kearahnya “aku juga ingin segera menikah denganmu Woojin, bagaimana kamu memakai pakaianmu, aku akan membantumu”
Levin mengangguk, dia sedikit menjauh untuk mengambil pakaiannya lalu kembali mendekati Valery yang selalu tersenyum padanya, tanpa menunggu lama Levin segera membuka pakaian bagaian atasnya yang langsung memperlihatkan tubuh bagaian atas yang begitu terbentuk dengan sangat baik, dibagaian dadanya ada sedikit luka bekas seperti tergores.
Valery yang melihat itu tentu saja kaget, Woojin tidak memiliki luka apapun ditubuhnya dan hal itu semakin yakin jika pria dihadapannya orang lain yang memakai wajah Woojin. Dia memberikan kemeja putih pada Levin, membantu pria itu untuk memakainya dan tepat ketika pria itu berbalik ada tanda Aster dengan warna hitam dibagian kiri bahunya, lagi-lagi Valery dibuat terkejut sekaligus takut akan faktanya jika dirinya benar-benar berhadapan langsung dengan seorang Afro setelah sekian lama tidak melihat mereka.
Sangking gugup dan gemetarnya Valery hampir saja menjauhkan pakaian ditangannya, dia sedikit mundur dari pria yang sedang memakai jas hitamnya didepan cermin, tanpa berpikir panjang Valery segara keluar dari ruangan itu, dia tidak ingin memikirkan semua ini.
Dia pikir orangtuanya-lah yang seorang Afro, namun jika itu adalah Woojin teruan apa yang harus dia lakukan?
__ADS_1