“Aku Bukan Takdirmu”

“Aku Bukan Takdirmu”
Bab 23 - soul pacifier


__ADS_3

'disarankan untuk membacanya saat sudah buka saja, agar tidak menganggu puasa kalian'


Woojin kembali saat hari sudah menjelang sore, banyak sekali tugas yang harus dia lakukan di setelah kembali dari kamar hotel dokter Bella, projectnya di hawaii terbengkalai begitu saja karena dirinya terlalu fokus pada sisi gelap dan sifat dominan-nya yang baru-baru ini keluar tanpa Woojin sadari.


Pria itu kembali dengan makanan yang tadi dibeli di restoran siap saji, jika dipikir-pikir Valery sudah lama tidak memakan makanan yang layak setelah apa yang terjadi pada dirinya, lagi-lagi Woojin ditampar dengan sebuah fakta jika dirinya telah menelantarkan orang lain karena dirinya.


Selama diperjalanan kembali pulang, Woojin mengirimkan beberapa pesan pada Justin yang tentu saja langsung ditanggapi oleh pria blasteran itu.


*By : Woojin 


Sesuai dengan keinginan-mu, aku akan mengikuti permainan-mu, jika kamu berhenti di jalan, maka itu aku anggap sebagai tanda jika permainan berakhir dan kamu akan kalah! 


By : Justin 


Itu bagus, akhirnya kau setuju untuk bermain kembali, tenanglah ku-pastikan jika dirimu akan kalah, dan aku yang akan memiliki Valery ….


By : Woojin 


Valery bukan barang yang bisa dimiliki oleh orang seperti dirimu, jika memang aku kalah, aku akan menjauhkan Valery dari dirimu!


By : Justin 


Apa kau mencintai-nya? 


Bukankah kamu tahu peraturan permainan ini? 


Dilarang jatuh cinta pada target yang ditetapkan! 


Mau aku kirimkan lagi peraturannya?


By : Woojin 


Buanglah khayalan itu pada otak bodohmu! 

__ADS_1


Aku tidak akan jatuh cinta pada wanita yang sudah aku tiduri*! 


*By : Justin 


Baiklah, kita bertemu di sebuah tempat yang akan aku kirim besok pagi*,


Woojin hanya membaca pesan itu, dia mencoba untuk menahan emosi untuk tidak memberikan kesempatan untuk sisi gelapnya menguasai dirinya lagi, hingga akhirnya taksi itu berhenti di rumah Woojin yang dia sewa.


Han yang ada di dalam ruangan langsung membuka pintu untuk Tuan-nya masuk, dia mengambil barang yang Woojin bawa ditangannya. 


“Valery dimana?” tanya Woojin, dia berjalan melewati ruang tamu sambil membuka jas berwarna hitamnya dan melipat kemeja putihnya sampai ke sikunya.


“Nona Valery sedari tadi di kamarnya, saya tidak tahu apa yang sedang Nona lakukan di dalam kamarnya selama Tuan pergi” ucap Han.


Woojin berjalan menaiki anak tangga dengan langkah yang begitu cepat entah kenapa perasaannya menjadi gelisah mendengar laporan dari susternya, hingga di depan pintu kamar itu Woojin mendengar suara Valery yang memukul-mukul pintu dari dalam.


“Tolong! Siapapun diluar! Tolong aku” 


“Valery apa yang terjadi?” tanya Woojin, dia menenangkan Valery dengan memberikan usap-usapan di punggung yang masih bergetar.


Hingga terpaksa Woojin mengangkat tubuh itu menuju ruangan untuk mencari ketenangan untuk Valery, wanita itu benar-benar seperti orang yang baru saja melihat hal menakutkan hingga sulit membedakan jika dirinya sudah jauh dari kamarnya.


“Woojin aku takut, aku takut, itu tidak mungkin! Aku--”


Woojin menutup mulut Valery dengan jari besarnya, menggelengkan kepalanya kepada wanita itu agar berhenti mengatakan hal yang membuatnya takut.


“jelaskan semuanya dari awal saat aku pergi”


“saat kamu pergi aku memutuskan untuk kembali kamar untuk menyelesaikan proposal yang kamu minta ulang, tapi entah kenapa aku tiba-tiba bisa tertidur di ranjang, dan aku tidak tahu itu mimpi atau bukan, aku melihat dirimu yang berada diatas tubuhku sambil mencekik diriku hingga aku sulit bernafas, lalu--”


“sudah cukup, kamu tidak perlu menjelaskan lagi, aku minta maaf untuk yang terjadi pada dirimu Valery, itu hanya mimpi saja, bagaimana jika kita makan malam” ucap Woojin, disela mengalihkan perhatikan Valery dari yang terjadi, Woojin mencoba melihat leher wanita itu yang ada sebuah tanda kemerahan di lehernya seperti baru saja di cekik oleh seseorang.


“kenapa?” tanya Valery,

__ADS_1


“tidak, seperti tanda kepemilikan yang dibuat olehku mulai menghilang”


“menyebalkan!”


Valery berjalan ke arah ruang makan yang sudah disiapkan makanan yang tadi Woojin beli, dia melihat Han yang sedang menata makanan untuk dirinya dan Woojin, tanpa menunggu lagi Valery segera menarik kursi untuk langsung menikmati makanan yang begitu menggoda untuk disentuh.


“Nona Valery” sapa Han, pria itu segera meninggalkan ruangan saat Woojin sudah berdiri di kursi yang ada di dekat Valery.


“Selamat makan” ucap Valery, dia mengambil sendok dan garpu untuk menyantap makanan yang ada di hadapannya.


Woojin hanya tersenyum melihat tingkah Valery yang seperti anak kecil padahal wanita itu usianya sudah 21 tahun, namun ketika melihat luka di leher Valery membuat Woojin tidak berdaya untuk menatapnya lagi, dia mengalihkan pandangannya pada makanan yang ada di hadapannya, sedikit demi sedikit dia menikmati makan malamnya bersama Valery yang jarang mereka lakukan tak ada percakapan apapun disana hanya ada suara benturan sendok dengan piring yang mengusir kesunyian disana.


Hingga waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, setelah selesai makan malam Woojin dan Valery menyelesaikan laporan untuk di kirim ke Grup Huang yang berada di korea, keduanya tidak menyadari jika sudah larut malam, hingga rasa kantuk mulai mendatangi Valery. Tepat ketika Woojin menatap ke arah Valery yang sedang menguap karna kantuknya, pria itu memutuskan untuk menyudahi pekerjaan ini yang seharusnya dia lakukan sendiri.


“Valery jika kamu tidak keberatan, malam ini tidurlah di kamarku” ucap Woojin, dia mendekati Valery setelah menutup laptop miliknya, membuka kacamata yang tadi dia kenakan.


“aku janji tidak akan menyakitimu” ucap Woojin lagi, dia mencoba mengusir keraguan pada diri Valery.


“baiklah”


Kini keduanya sudah berada di satu ranjang yang sama, Valery sudah lebih dahulu tidur, sedangkan Woojin. Dia masih melanjutkan tugasnya mengetik beberapa kalimat untuk membalas pesan dari temannya yang sedang mengambil ahli perusahaannya.


Setelah memastikan jika Valery benar-benar terlelap dalam tidurnya, Woojin mulai memberikan salep pada leher Valery dengan hati-hati hingga sang wanita tidak bangun karena dirinya.


“Valery, bisakah kamu memberikan hatimu padaku? Atau setidaknya bantu aku untuk menghilangkan dia, kamu tahu pertemuan yang kita yang terjadi itu bukan sebuah hal kebetulan tapi memang ada kaitannya dengan takdir yang mungkin sulit untuk dikatakan benar tapi itulah yang terjadi”


Woojin mematikan lampu kamar itu, kemudian menarik selimut untuk dirinya dan juga Valery, lalu melingkarkan tangannya di perut rata wanita itu, menariknya untuk masuk kedalam pelukannya.


Biarkan Woojin kali ini menikmati ketenangan tidur bersama Valery, tidak ada penyiksaan atau sebuah kendali dari sisi gelap, semua ini terjadi juga bukan keinginan Woojin tapi pria itu malah harus menanggung yang bukan miliknya.


Aroma tubuh Valery adalah hal penenangan jiwa yang tidak pernah bisa Woojin lupakan, dengan aroma itu saja sudah bisa membuat pria itu jatuh dalam mimpi dalam hitungan menit, padahal Woojin tipikal orang yang sulit tidur atau mudah tertidur.


note : karena ini dalam bulan suci, jadwal update dirubah jadi update jam 9 malam, biar ibadah puasa kalian tidak terganggu.

__ADS_1


__ADS_2